Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Kurikulum dapat dikategorikan kedalam empat kategori umu yaitu: subjek akademis,
humanistik, rekontruksi social dan teknologi . Masing-masing kategori memiliki perbedaan
dalam hal apa yang harus diajarkan, oleh siapa diajarkan, kapan, dan bagaimana
mengerjakannya.
Konsep kurikulum subjek akademik, disisi lain dipandang sebagai wahana untuk
mengendalikan mata pelajaran yang akan dipelajari oleh peserta didik Konsep kurikulum
humanistik lebih mengarah pada kurikulum yang dapat memuaskan setiap individu, agar
mereka dapat mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan potensi dan keunikan masing-
masing. Adapun konsep kurikulum rekonstruksi sosial tidak sekedar nenekankan pada pada
minat individu, tetapi juga pada kebutuhan sosialnya. Konsep kurikulum teknologi member
pandangan bahwa kurikulum harus dibuat sebagai suatu proses teknologi untuk dapat
memenuhi keinginan pembuat kebijakan.

B. Rumusan masalah.
1. Apa pengertian kurikulum subjek akademis?
2. Apa pengertian kurikulum humanistik?
3. Apa pengertian kurikulum rekonstruksi sosial?
4. Apa pengertian kurikulum teknologi ?

C. Tujuan penulisan.
1. Untuk mengetahui dan mampu memahami apa itu kurikulum subjek akademis.
2. Untuk mengethaui dan mampu memahami tentang kurikulum humanistik.
3. Untuk mengetahui dan mampu memahami kurikulum reskontruksi sosial.
4. Untuk mengetahui dan mampu memahami kurikulum teknologi.

BAB II

MACAM-MACAM MODEL KONSEP KURIKULUM.

A. Kurikulum subjek akademis.


Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan.Belajar adalah berusaha menguasai
ilmu sebanyak-banyaknya. Orang yang berhasil dalam belajar adalah orang yang menguasai
seluruh atau sebagian besar isi pendidikan yang diberikan atau yang disiapkan oleh guru.
Karena kurikulum sangat mengutamakan pengetahuan maka pendidikannya sangat bersifat
intelektual, nama-nama matapelajaran yang menjadi isi kurikulum hampir sama dengan nama
disiplin ilmu, seperti bahasa dan sastra, geografi, matematika, ilmu kealaman, sejarah dsb.
Sekurang-kurangnya ada tiga pendekatan dalam perkembangankurikulum subjek
akademis yaitu:
1. Melanjutkan pendekatkan struktur pengetahuan.
2. Studi yang bersifat integratif.
3. Pendekatan yang dilaksanakan pada sekolah sekolahfundamentalis.

a. Ciri-ciri kurikulum subjek akademis.


Kurikulum subjek akademis mempunyai beberapa ciri-ciri berkenaan dengan
tujuan, metode, organisasi isi dan evaluasi. Tujuan kurikulum subjek akademis adalah
pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan
proses penelitian. Metode yang banyak digunakan dalam kurikulum subjek akademis
adalah metode ekspositori dan inquiri. Sedangkan pola organisasi isi (materi
pelajaran) kurikulum subjek akademis antara lain:
1. Correlated curriculum
2. Unified atau concentrated curriculum
3. Integrated curriculum
4. Problem solving curriculum.

Tentang kegiatan evaluasi kurikulum subject akademis menggunakan bentuk


evaluasi yang bervariasi disesuaikan dengan tujuan dan sifat mata pelajaran.
b. Pemilihan disiplin ilmu.
Masalah besar yang dihadapi oleh para pengembang kurikulum subjek
akademis adalah bagaimana memilih mata pelajaran dari sekian banyak disiplin ilmu
yang ada. Ada beberapa saran untuk mengatasi masalah tersebut yaitu:
1. Mengusahakanadanya penguasaan yang menyeluruh dengan menekankan pada
bagaimana cara menguji kebenaran atau mendapatkan pengetahuan.
2. Mengutamakan kebutuhan masyarakat ( social utility).
3. Menekankan pengetahuan dasar.

c. Penyesuaian mata pelajaran dengan perkembangan anak.


Para pengembang kurikulum subjek akademis, lebih mengutamakan penyusunan
bahan secara logis dan sistematis dari pada menyelaraskan urutan bahan dengan
kemampuan berfikir anak. Mereka umunya kurang memperhatikan bagaimana siswa
belajardan lebih mengutamakan susunan isi yaitu apa yang diajarkan. Proses belajar yang
ditempuh oleh siswa sama pentingya dengan penguasaan konsep, prinsip-prinsip dan
generalisasi.
Untuk mengatasi kelemahan diatas dalam perkembangan selanjutnya dilakukan
bebrapa penyempurnaan , pertama untuk mengimbangi penekanannya pada proses
berfikir, kedua adnya upaya-upaya untukmenyesuaikan pelajaran dengan perbedaan
individu dan kebutuhan setempat, ketiga pemanfaatan fasilitas dan sumber yang ada pada
masyarakat.
B. Kurikulum Humanistik.
Kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistik.
Kurikulum ini berdasarakan konsep aliran pendidikan pribadi ( personalized education) yaitu
john dewey (progressive education) dan J.J Rousseau (romantic education).Aliran ini lebih
memberikan tempat utama kepada siswa. mereka bertolak dari asumsi bahwa anak/siswa
adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan. Ia adalah subjek yang menjadi pusat
kegiatan pendidikan.
Pendidikan humanistic menekankan peranan siswa.Pendidikan merupakan suatu
upaya untuk menciptakan situasi yang permisif, rileks, dan akrab. Oleh karena itu, peranguru
yang diharapkan adalah sebagai berikut:
1. Mendengar pandangan realitas peserta didik secara komprehensif.
2. Menghormati individu peserta didik,
3. Tampil alamiah, otentik, tidak dibuat-buat.
a. Karakteristik kurikulum humanistik.
Kurikulum humanisik mempunyai beberapa karakteristik berkenaan dengan
tujuan, metode, organisasi isi dan evaluasi. Menurut para humanis kurikulum
berfungsi menyediakan pengalaman atau pengetahuan berharga untuk
membantumemperlancar perkembangan pribadi murid. Bagi mereka tujuan
pendidikan adalah proses perkembangan pribadi yang dinamis yang diarahkan pada
pertumbuhan, integritas, dan otonomi kepribadian, sikap yang sehat terhadap diri
sendiri, orang laindan belajar.
Kurikulum humanistik menuntut hubungan emosional yang baik antara guru
dengan murid.Dalam evaluasi kurikulum humanistic berbeda dengan yang biasa.
Model lebih mengutamakan proses daripada hasil.

b. Kelemahan kurikulum humanistik.


1. Keterlibatan emosional tidak selamanya berdampak positif bagi
perkembangan individual peserta didik.
2. Meskipun kurikulum ini sangat menekankan individu peserta didik, pada
kenyataannya di setiap program terdapat keseragaman peserta didik.
3. Kurikulum ini kurang memperhatikan kebutuhan masyarakat secara
keseluruhan.
4. Dalam kurikulum ini, prinsip-prinsip psikologis yang ada kurang
terhubungkan.

C. Kurikulum Rekontruksi Sosial


kurikulum rekontruksi sosial berbeda dengan model-model kurikulum lainnya.
Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problema-problema yang dihadapinya dalam
masyarakat.Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional.Menurut mereka
pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi, kerjasama.
Kerjasama atau interaksi bukan hanya terjadi antara siswa dengan guru, tetapi juga antara
siswa dengan siswa, siswa dengan orang-orang di lingkungannya, dan dengan sumber belajar
lainnya. Melalui interaksi dan kerjasama ini siswa berusaha memecahkan problema-problema
yang dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.
Pandangan rekonstruksi sosial di dalam kurikulum dimulai sekitar tahun 1920-an.
Harold Rug mulai melihat dan menyadarkan kawan-kawannya bahwa selama ini terjadi
kesenjangan antara kurikulum dengan masyarakat. Ia menginginkan para siswa dengan
pengetahuan dan konsep-konsep baru yang diperolehnya dapat mengidentifikasi dan
memecahkan masalah-masalah sosial.
Theodore Brameld, pada awal tahun 1950-an menyampaikan gagasannya tentang
rekonstruksi sosial. Dalam masyarakat demokratis, seluruh warga masyarakat harus ikut serta
dalam perkembangan dana pembaharuan masyarakat. Untuk melaksanakan hal itu sekolah
mempunyai posisi yang cukup penting.Sekolah bukan saja dapat membantu individu
mengembangkan kemampuan sosialnya, tetapi juga dapat membantu bagaimana
berpartisipasi sebaik-baiknya dalam kegiatan sosial.
1. Desain kurikulum rekonstruksi social
Ciri dari desain kurikulum ini adalah,
a. Asumsi
b. Masalah-masalah sosial yang mendesak
c. Pola-pola organisasi

2. Komponen-komponen kurikulum rekonstruksi sosisal


a. Tujuan dan isi kurikulum
b. Metode
c. Evaluasi

3. Kegiatan yang dilakukan dalam kurikulum iniantara lain melibatkan,


a. Survei kritis terhadap suatu masyarakat
b. Studi yang melihat hubungan antara ekonomi lokal dengan ekonomi
nasional atau internasional
c. Studi pengaruh sejarah dan kecenderungan situasi ekonomi lokal
d. Uji coba kaitan praktik politik dengan perekonomian
e. Berbagai pertimbangan perubahan politik
f. Pembatasan kebutuhan masyarakat pada umumnya

D. kurikulum Teknologi
Di kalangan pendidikan, teknologi sudah dikenal dalam bentuk pembelajaran berbasis
komputer, sistem pembelajaran individu, kaset atau video pembelajaran.Banyak pihak yang
kurang menyadari bahwa teknologi sangat membantu menganalisi masalah kurikulum, dalam
hal pembuatan, implementasi, evaluasi dan pengelolaan instruksional/pembelajaran.
Persepektif teknologi sebagai kurikulum ditekankan pada efektifitas program metode
dan material/bahan untuk mencapai suatu manfaat dan keberhasilan. Teknologi
mempengaruhi kurikulum dalam dua cara yaitu aplikasi dan teori.
Pada tahun 1960, B. F. Skimmer menganjurkan efesiensi dalam belajar, yaitu cara
mengajar yang memberikan lebih banyak subjek kepada peserta didik .Efesiensi ini adalah
tahapan belajar melalui terminal perilaku tertentu. Berdasarkan hal ini, teknologi
mengembangkan aturan-aturan untuk membangun kurikulumdalam bentuk latihan
terprogram.
Ciri-ciri kurikulum teknologis
1. Tujuan. Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi yang dirumuskan dalam
bentuk perilaku.
2. Metode. Metode yang merupakan kegiatan pembelajaran sering dipandang
sebagai proses mereaksi terhadap perangsang-perangsang yang diberikan dan
apabila terjadi respon yang diharapkan maka respon tersebut diperkuat.
3. Organisasi bahan ajar. Bahan ajar atau isi kurikulum banyak diambil dari disiplin
ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan suatu
kompetensi.
4. Evaluasi. Kegiatan evaluasi dilakukan pada setiap saat, pada akhir suatu pelajaran,
suatu unit ataupun semester.
Teknologi berperan dalam meningkatkan kualitas kurikulum, dengan mamberi
kontribusi mengenai keefektifan intruksional, tahapan intruksional, dan memantau
perkembangan peserta didik.Oleh karenanya sangat beralasan bahwa dewasa ini semakin
banyak kurikulum efektif yang selaras dengan perkenbangan teknologi.Meskipun biaya yang
dikeluarkan dalam pengembangan kurikulum teknologi ini cukup besar, tapi sebanding
dengan nilai yang didapat dan pembelajaran bagi para siswa saat model ini diterapkan.
Salah satu kelemahan kurikulum teknologi ini adalah kurangnya perhatian pada
penerapan dan dinamika inovasi. Model teknologi ini hanya menekankan pengembangan
efektifitas produk saja, sedangkan perhatian untuk mengubah lingkungan yang lebih luas,
seperti organisasi sekolah, sikap guru, dan cara pandang masyarakat sangat kurang.
A. Simpulan.
Kurikulum yang digunakan dalam lingkungan pendidikan dapat berupa realisasi dari masing-masing model
kurikulum hal dapat disesuaikan berdasarkan kebijakan yang diputuskan pemerintah dalam usaha meningkatkan kualitas
pendidikan.
Kebijakan kurikulum yang ada dapat berdasarkan kepada satu model kurikulum atau berdasarkan gabungan dari
setiap model kurikulum yang tercermin dari landasan filosofis, tujuan, materi, kegiatan belajar, mengajar dan smapai kepada
evaluasi.
Porsi dari setiapkurikulum yang digunakan pada setiap jenjang pendidikan tidak sama, porsi penggunaan
kurikulum harus disesuaikan dengan karakterisitik dari setiap jenjang pendidikan, baik itu pendidikan dasar, pendidikan
menengah, maupun pendidikan tinggi dan penyesuaian juga harus dilakukan terhadap karakter perkembangan pesertadidik.
Pendidikan tinggi juga memiliki porsi yang berbeda terhadap penggunaan setiap kurikulum yang didasarkan pada
output pendidikan yang diharapkan dan ini terjadi pada pendidikan vokasional, pendidikan profesi, dan pendidikan
akademik.

DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, oemar. 2007. Dasar-dasar pengembangan kurikulum. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya.
Syaodih, sukmadinata, nana. 2008. Pengembangan kurikulum . bandung: PT Remaja
rosdakarya.
Nana syaodih sukmadinata. 1998. Prinsip dan landasan
pengembangankurikulum. Jakarta: PT Rosdakary

RANGKUMAN KONSEP TEKNOLOGI

Leave a comment Posted by fachriars on August 29, 2011

1. Percepatan Teknologi
Beberapa definisi

Teknologi adalah suatu cabang antropologi budaya yang berhubungan dengan studi
terhadap kebudayaan materi. Hal ini lebih dimaksudkan sebagai proses-proses manusia dalam
menangani dan mengendalikan lingkungan fisiknya.

Jadi perubahan teknologi berarti perubahan dalam pola tingkah manusia yang berhubungan
dengan industri, transportasi, ilmu-ilmu dan seni ekstrasi. Seringkali diperluas lagi sampai
pada ilmu-ilmu biologi seperti halnya pertanian dan pengobatan. Dapatlah dikatakan secara
umum bahwa teknologi mencakup ilmu-ilmu terpakai. Percepatan kebudayaan tampak paling
nyata dalam hubungan antara ruang lingkup dengan teknologi.

Sejuta tahun percepatan pada effisiensi alat potong

Percepatan yang nyata ini dapat dinyatakan menjadi istilah kuantitatip bila efisiensi alat
potong diukur dengan lima criteria, yaitu :

Ketajaman dari sisi potong.

Daya tahan.

Diferensiasi dan spesialisasi.

Keefektipan alat dalam memotong benda.

Penggunaan tenaga pembantu.

2. Percepatan penguasaan alam oleh manusia

Masa kebudayaan manusia prasejarah terbagi menurut benda dan teknik yang digunakan
dalam membuat alat-alatnya. Jaman batu tua ditandai dengan peralatan dari batu yang
diruncingkan secara primitip (chipping). Jaman batu, batu merupakan jaman peralatan dari
batu yang diruncingkan dengan cara menggerindra. Jaman tembaga, kuningan, dan besi
menunjukan bahan yang dipakai untuk membuat alat, dari jenis tenaga yang digunakan
sebagai penggerak.

Di jaman batu tua, tenaga yang dipakai menggerakan alat sepenuhnya dari tenaga otot
manusia. Alat pelempar tombak yang muncul pada jaman Magdalenia merupakan suatu alat
lain untuk menambah tenaga bagi persenjataan saat itu. Penjinakan hewan dan perbudakan
manusia merupakan perkembangan lebih lanjut dari masa tenaga otot.

Orang romawi kuno menggerakan roda gigi dengan memakai kuda, tenaga budak, dan
mungkin juga tenaga air.

Sedangkan bangsa Anglo Saxons sebelum tahun 500 Masehi melakukan penggilingan biji-biji
hasil pertaniannya dengan tenaga keledai.

Percepatan pada pertambahan umur manusia


Empat ribu tahun yang lalu di Yunani, ketika alat-alat besi menggantikan kedudukan alat-alat
kuningan, panjang umur rata-rata setiap bayi yang lahir adalah 18 tahun. 2000 tahun
kemudian di Romawi rata-ratanya 22 tahun, suatu pertambahan sekitar 0.02 tahun per 10
tahun.

Kroeber mengatakan bahwa ilmu pengetahuan berkembang secara alamiah. Tetapi bila ilmu
pengetahuan berkembang maka berarti pertambahan percepatan akan terjadi pada setiap
bidang ilmiah. Tidak hanya pada teknologi saja tetapi juga pada semua bidang kerja manusia
dalam mencapai tujuannya.

3. Percepatan kemampuan untuk membunuh dan merusak.

Percepatan dalam perluasan daerah pemusnahan.

Ukuran kuantitatip yang paling cocok untuk kemampuan merusak dapat dilihat sejak
masa pra sejarah. Disini akan digunakan istilah record breaking range of projectiles, yaitu
jarak tempuh terjauh dari alat perusak, yang dapat merusak kehidupan, dari tempat
peluncuran kesasaran. Istilah daerah pemusnahan berarti luas daerah maksimum dari
kehidupan dan benda-benda di dalamnyayang rusak karena peluncuran alat tersebut.

Percepatan perkembangan pada alat bidik

Disamping jarak kemampuan dari peluncur peluru untuk merusak, masih ada segi
lainnya. Efektivitas dari peluncuran tersebut dapat diukur dengan faktor-faktor berikut :

Jarak tempuh dan luas daerah pemusnahannya

Ketelitian untuk mengenai sasaran

Banyaknya (dalam berat) peluru yang dapat dibawa dan ditembakkan pada suatu
sasaran dalam waktu tertentu

Daya pemusnahan per ton peluru

Kecepatan dan faktor lain untuk mengatasi intersepsi.

Besarnya tonase yang dapat diluncurkan

Dari 5 dimensi peluncuran yang merusak, kita telah membicarakan 2 hal yaitu : jarak
dan bias daerah pemusnahannya serta ketelitian untuk mencapai sasaran. Dimensi ketiga
adalah tentang banyaknya ton peluru yang dapat diarahkan pada sasaran.

Perkembangan dari daya bunuh peledak

Dimensi keempat dari perusakan adalah daya pemusnahan dari setiap ton peledak.
Sudah tentu maksudnya untuk membunuh dan menghancurkan. Jauh sebelum dunia
ketentaraan mengenal TNT, ahli-ahli kimia telah mengembangkan jenis peledak seperti air
raksa fulminate (tahun 1800), kapas letus (tahun 1838), dan gelatin letus (tahun 1875).
Bahan-bahan ini mengungguli bahan-bahan peledak yang pernah dibuat sebelumnya.

Perang radiologi, kimia, dan bakteri

Yang masih dekat dengan kemajuan pada bom atom dan hidrogen adalah
pengembangan debu radioaktif, yang telah memperlihatkan kemampuan lebih dari bomnya
sendiri. Bahkan bom Cobalt Hipotesis merupakan sejenis radioaktif yang mampu
memusnahkan segenap kehidupan di dunia ini.

Kemampuan atas Intersepsi

Empat faktor pertama sebagai ukuran kemampuan merusak dari benda-benda yang
diledakkan, yaitu jarak, ketelitian mencapai sasaran, tonase dan daya ledak, menunjukan
kecenderungan yang terus menaik. Faktor kelima adalah kemampuan untuk mengatasi
intersepsi.

Akibat peperangan

Pada perang dunia I, pesawat Zeppelin menjatuhkan benda-benda ledak di London, dan
pesawat-pesawat Sekutu menjatuhkan bom-bom di kota-kota negara Jerman. Akibatnya,
setiap 3 dan 100.000 penduduk di kedua negara itu meninggal. Pada perang dunia II, bom-
bom V mengakibatkan banyak kematian di kota-kota negara Inggris, dan pembom Sekutu
menghancurkan kota-kota Jerman dengan bom TNT dan bom api. Akibatnya 300 dari setiap
100.000 penduduk meninggal.

4. Mengapa terjadi percepatan perkembangan kebudayaan?

Pertama, telah ditunjukan bagaimana percepatan telah terjadi pada peningkatan effisiensi alat-
alat potong yang berlangsung lebih dari 1 juta tahun.

Kedua, dibahas bagaimana percepatan terjadi pada kemampuan manusia menguasai


lingkungan fisiknya.

Ketiga, telah diperlihatkan percepatan pada pertambahan kecepatan gerak manusia.

Keempat, diikhtisarkan percepatan pada pertambahan umur manusia.

Kelima, tentang ilustrasi dan percepatan non teknologi pada perubahan kebudayaan.

Keenam, telah diuraikan berbagai aspek dari percepatan kemampuan manusia untuk
membunuh dan merusak.

Hal-hal yang diperbincangkan diatas tidaklah menunjukan pertambahan kemampuan manusia


dalam mencapai tujuan kebendaannya.

Sifat Penemuan

Suatu hal nyata pada percepatan perkembangan kebudayaan adalah bahwa setiap penemuan
merupakan kombinasi baru dari elemen-elemen lama. Sebagai contoh, sebuah pesawat
terbang merupakan kombinasi dari layang-layang, kincir angin, motor bakar, seorang pilot
dan atmosfir.

Pertambahan elemen yang dapat dikombinasikan

Penemuan-penemuan tertentu dapat merupakan sumber yang subur untuk penemuan-


penemuan lain, misalnya api menyebabkan orang dapat memasak, memanaskan timah,
mencairkan logam, membuat gelas dan mengembangkan berbagai reaksi kimia. Setiap
penemuan ini di kemudian hari merupakan nenek moyang dan turunannya yang sangat
banyak.

Penyebaran yang semakin cepat

Dengan adanya kemudahan dan cukupnya komunikasi, maka penyebaran berlangsung


semakin cepat. Bertambah cepatnya perpindahan kebudayaan diperlihatkan dengan 3 contoh
di bawah ini :

Tahun Penemuan Tingkat penyebaran

(mil pertahun)

16000 SM Jambangan 0,23


1440 M Percetakan 12, 50
1925 M Insulin 12.000

Tabel ini menunjukan bahwa pembuatan jambangan jaman Neolitikum awal, di Eropa,
memakan waktu 400 tahun untuk menyebar sejauh 100 mil dari suatu masyarakat, ke
masyarakat lain.

Penemuan semakin berdaya mampu

Ketika pesawat terbang diketemukan manusia telah menambah kecepatannya ratusan mil per
jam. Ini lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan manusia tak berkendaraan.

Cara penemuan yang semakin efisien

Ilmu pengetahuan merupakan pensistematisan dan peningkatan efisiensi dari proses yang
dikerjakan. Prinsip dasar dicari dengan tujuan untuk mengurangi percobaan,
mengkombinasikan hal yang tidak berguna.

Pengertian Kurikulum Menurut Para Ahli. Kata kurikulum berasal dari bahasa
Latin currere, yang berarti lapangan perlombaan lari. Kurikulum juga bisa berasal dari kata
curriculum yang berarti a running course, dan dalam bahasa Prancis dikenal
dengan carter berarti to run (berlari). Dalam perkembangannya (BMPM, 2005: 1).

Menurut J. Galen Sailor dan William M Alexander (1974: 74) mengatakan bahwa
curriculum is defined reflects volume judgments regarding the nature of education. The
definition used also influences haw curriculum will be planned and untilized. Kurikulum
merupakan nilai-nilai keadilan dalam inti pendidikan. Istilah tersebut mempengaruhi terhadap
kurikulum yang akan direncanakan dan dimanfaatkan.

The curriculum is that of subjects and subyek matter therein to be thought by teachers and
learned by students (Galen). Kurikulum merupakan subyek dan bahan pelajaran di mana
diajarkan oleh guru dan dipelajari oleh siswa.

Secara terminologi, kurikulum berarti suatu program pendidikan yang berisikan berbagai
bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancangkan
secara sistematika atas dasar norma-norma yang berlaku dan dijadikan pedoman dalam
proses pembelajaran bagi pendidik untuk mencapai tujuan pendidikan (Dakir, 2004: 3).
Kurikulum itu memuat semua program yang dijalankan untuk menunjang proses
pembelajaran. Program yang dituangkan tidak terpancang dari segi administrasi saja tetapi
menyangkut keseluruhan yang digunakan untuk proses pembelajaran.

Menurut Suryobroto dalam bukunya Manajemen pendidikan di Sekolah (2002: 13),


menerangkan, bahwa kurikulum adalah segala pengalaman pendidikan yang diberikan oleh
sekolah kepada seluruh anak didiknya, baik dilakukan di dalam sekolah maupun di luar
sekolah (Suryobroto, 2004: 32). Nampaknya Suryobroto memandang semua sarana prasarana
dalam pendidikan yang berguna untuk anak didik merupakan kurikulum.

Menurut pendapat Ali Al-Khouly kurikulum di artikan sebagai perangkat perencanaan dan
media untuk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang
diinginkan (Ali Al-Khouly).

Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan. Kurikulum dan
pendidikan adalah dua hal yang sangat erat kaitannya, tidak dapat dipisahkan satu sama yang
lain (Nurgiantoro, 1988: 2). Nurgiantoro menggarisbawahi bahwa relasi antara pendidikan
dan kurikulum adalah relasi tujuan dan isi pendidikan. Karena ada tujuan, maka harus ada
alat yang sama untuk mencapainya, dan cara untuk menempuh adalah kurikulum.

Awal sejarahnya, istilah kurikulum bisa dipergunakan dalam dunia atletik curere yang berarti
berlari. Istilah ini erat hubungannya dengan kata curier atau kurir yang berarti penghubung
atau seseorang yang bertugas menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Seseorang kurir
harus menempuh suatu perjalanan untuk mencapai tujuan, maka istilah kurikulum kemudian
diartikan orang sebagai suatu jarak yang harus ditempuh (Nasution, 1989: 5). Istilah tersebut
di atas mengalami perpindahan arti ke dunia pendidikan. Sebagai contoh Nasution
mengemukakan bahwa pengertian kurikulum yang sebagaimana tercantum dalam Webters
International dictionary; Curriculum course a specified fixed course of study, as in a school
or college, as one leading to a degree. Maksudnya, kurikulum diartikan dua macam, yaitu
pertama sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari siswa di sekolah atau di
perguruan tinggi untuk memperoleh ijazah tertentu. Kedua, sejumlah mata pelajaran yang
ditawarkan oleh sesuatu lembaga pendidikan atau jurusan.

Secara singkat menurut Nasution kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk
melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau
lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya (Nasution, 1989: 5).

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan di sana dijelaskan, bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (BSNP,
2008: 6).

Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka penulis dapat simpulkan bahwa kurikulum
adalah seperangkat isi, bahan ajar, tujuan yang akan ditempuh sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidika

Komponen-Komponen Kurikulum

Posted on 22 Januari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT 53 Komentar

Oleh : Akhmad Sudrajat

Kurikulum memiliki lima komponen utama, yaitu : (1) tujuan; (2) materi; (3) strategi,
pembelajaran; (4) organisasi kurikulum dan (5) evaluasi. Kelima komponen tersebut
memiliki keterkaitan yang erat dan tidak bisa dipisahkan.

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan tentang masing-masing komponen tersebut.

A. Tujuan

Mengingat pentingnya pendidikan bagi manusia, hampir di setiap negara telah mewajibkan
para warganya untuk mengikuti kegiatan pendidikan, melalui berbagai ragam teknis
penyelenggaraannya, yang disesuaikan dengan falsafah negara, keadaan sosial-politik
kemampuan sumber daya dan keadaan lingkungannya masing-masing. Kendati demikian,
dalam hal menentukan tujuan pendidikan pada dasarnya memiliki esensi yang sama. Seperti
yang disampaikan oleh Hummel (Uyoh Sadulloh, 1994) bahwa tujuan pendidikan secara
universal akan menjangkau tiga jenis nilai utama yaitu:

1. Autonomy; gives individuals and groups the maximum awarenes, knowledge, and
ability so that they can manage their personal and collective life to the greatest
possible extent.

2. Equity; enable all citizens to participate in cultural and economic life by coverring
them an equal basic education.

3. Survival ; permit every nation to transmit and enrich its cultural heritage over the
generation but also guide education towards mutual understanding and towards what
has become a worldwide realization of common destiny.)

Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas
dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistrm Pendidikan Nasional, bahwa :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab..
Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik,
selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin
dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu.

Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat
satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum
pendidikan berikut.

1. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan,


kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti
pendidikan lebih lanjut.

2. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,


kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti
pendidikan lebih lanjut.

3. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan,


pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan
mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler;
yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di
setiap sekolah atau satuan pendidikan.

Berikut ini disampaikan beberapa contoh tujuan kurikuler yang berkaitan dengan
pembelajaran ekonomi, sebagaimana diisyaratkan dalam Permendiknas No. 23 Tahun 2007
tentang Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar :

1. Tujuan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP/MTS

Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan


lingkungannya

Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri,
memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial

Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan

Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam


masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

2. Tujuan Mata Pelajaran Ekonomi di SMA

Memahami sejumlah konsep ekonomi untuk mengkaitkan peristiwa dan masalah


ekonomi dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi dilingkungan individu,
rumah tangga, masyarakat, dan negara

Menampilkan sikap ingin tahu terhadap sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan
untuk mendalami ilmu ekonomi
Membentuk sikap bijak, rasional dan bertanggungjawab dengan memiliki
pengetahuan dan keterampilan ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi yang
bermanfaat bagi diri sendiri, rumah tangga, masyarakat, dan negara

Membuat keputusan yang bertanggungjawab mengenai nilai-nilai sosial ekonomi


dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun internasional

3. Tujuan Mata Pelajaran Kewirausahaan pada SMK/MAK

Memahami dunia usaha dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi di


lingkungan masyarakat

Berwirausaha dalam bidangnya

Menerapkan perilaku kerja prestatif dalam kehidupannya

Mengaktualisasikan sikap dan perilaku wirausaha.

4. Tujuan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMK/MAK

Memahami konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan


lingkungannya

Berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, memecahkan masalah, dan keterampilan
dalam kehidupan sosial

Berkomitmen terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan

Berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk di


tingkat lokal, nasional, dan global.

Tujuan-tujuan pendidikan mulai dari pendidikan nasional sampai dengan tujuan mata
pelajaran masih bersifat abstrak dan konseptual, oleh karena itu perlu dioperasionalkan dan
dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran merupakan
tujuan pendidikan yang lebih operasional, yang hendak dicapai dari setiap kegiatan
pembelajaran dari setiap mata pelajaran.

Pada tingkat operasional ini, tujuan pendidikan dirumuskan lebih bersifat spesifik dan lebih
menggambarkan tentang what will the student be able to do as result of the teaching that he
was unable to do before (Rowntree dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 1997). Dengan kata
lain, tujuan pendidikan tingkat operasional ini lebih menggambarkan perubahan perilaku
spesifik apa yang hendak dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran. Merujuk pada
pemikiran Bloom, maka perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam aspek
kognitif, afektif dan psikomotor.

Lebih jauh lagi, dengan mengutip dari beberapa ahli, Nana Syaodih Sukmadinata (1997)
memberikan gambaran spesifikasi dari tujuan yang ingin dicapai pada tujuan pembelajaran,
yakni :
1. Menggambarkan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh peserta didik, dengan : (a)
menggunakan kata-kata kerja yang menunjukkan perilaku yang dapat diamati; (b)
menunjukkan stimulus yang membangkitkan perilaku peserta didik; dan (c)
memberikan pengkhususan tentang sumber-sumber yang dapat digunakan peserta
didik dan orang-orang yang dapat diajak bekerja sama.

2. Menunjukkan perilaku yang diharapkan dilakukan oleh peserta didik, dalam bentuk:
(a) ketepatan atau ketelitian respons; (b) kecepatan, panjangnya dan frekuensi
respons.

3. Menggambarkan kondisi-kondisi atau lingkungan yang menunjang perilaku peserta


didik berupa : (a) kondisi atau lingkungan fisik; dan (b) kondisi atau lingkungan
psikologis.

Upaya pencapaian tujuan pembelajaran ini memiliki arti yang sangat penting.. Keberhasilan
pencapaian tujuan pembelajaran pada tingkat operasional ini akan menentukan terhadap
keberhasilan tujuan pendidikan pada tingkat berikutnya.

Terlepas dari rangkaian tujuan di atas bahwa perumusan tujuan kurikulum sangat terkait erat
dengan filsafat yang melandasinya. Jika kurikulum yang dikembangkan menggunakan dasar
filsafat klasik (perenialisme, essensialisme, eksistensialisme) sebagai pijakan utamanya maka
tujuan kurikulum lebih banyak diarahkan pada pencapaian penguasaan materi dan cenderung
menekankan pada upaya pengembangan aspek intelektual atau aspek kognitif.

Apabila kurikulum yang dikembangkan menggunakan filsafat progresivisme sebagai pijakan


utamanya, maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada proses pengembangan dan
aktualisasi diri peserta didik dan lebih berorientasi pada upaya pengembangan aspek afektif.

Pengembangan kurikulum dengan menggunakan filsafat rekonsktruktivisme sebagai dasar


utamanya, maka tujuan pendidikan banyak diarahkan pada upaya pemecahan masalah sosial
yang krusial dan kemampuan bekerja sama.

Sementara kurikulum yang dikembangkan dengan menggunakan dasar filosofi teknologi


pendidikan dan teori pendidikan teknologis, maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada
pencapaian kompetensi.

Dalam implementasinnya bahwa untuk mengembangkan pendidikan dengan tantangan yang


sangat kompleks boleh dikatakan hampir tidak mungkin untuk merumuskan tujuan-tujuan
kurikulum dengan hanya berpegang pada satu filsafat, teori pendidikan atau model kurikulum
tertentu secara konsisten dan konsekuen. Oleh karena itu untuk mengakomodir tantangan dan
kebutuhan pendidikan yang sangat kompleks sering digunakan model eklektik, dengan
mengambil hal-hal yang terbaik dan memungkinkan dari seluruh aliran filsafat yang ada,
sehingga dalam menentukan tujuan pendidikan lebih diusahakan secara bereimbang. .

B. Materi Pembelajaran

Dalam menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar tidak lepas dari filsafat dan teori
pendidikan dikembangkan. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa pengembangan
kurikulum yang didasari filsafat klasik (perenialisme, essensialisme, eksistensialisme)
penguasaan materi pembelajaran menjadi hal yang utama. Dalam hal ini, materi pembelajaran
disusun secara logis dan sistematis, dalam bentuk:

1. Teori; seperangkat konstruk atau konsep, definisi atau preposisi yang saling
berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan
menspesifikasi hubungan hubungan antara variabel-variabel dengan maksud
menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.

2. Konsep; suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-kekhususan,


merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.

3. Generalisasi; kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari


analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.

4. Prinsip; yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan
hubungan antara beberapa konsep.

5. Prosedur; yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang
harus dilakukan peserta didik.

6. Fakta; sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri dari
terminologi, orang dan tempat serta kejadian.

7. Istilah, kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam
materi.

8. Contoh/ilustrasi, yaitu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk
memperjelas suatu uraian atau pendapat.

9. Definisi:yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam
garis besarnya.

10. Preposisi, yaitu cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam
upaya mencapai tujuan kurikulum.

Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat progresivisme lebih memperhatikan


tentang kebutuhan, minat, dan kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, materi pembelajaran
harus diambil dari dunia peserta didik dan oleh peserta didik itu sendiri. Materi pembelajaran
yang didasarkan pada filsafat konstruktivisme, materi pembelajaran dikemas sedemikian rupa
dalam bentuk tema-tema dan topik-topik yang diangkat dari masalah-masalah sosial yang
krusial, misalnya tentang ekonomi, sosial bahkan tentang alam. Materi pembelajaran yang
berlandaskan pada teknologi pendidikan banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah
diramu sedemikian rupa dan diambil hal-hal yang esensialnya saja untuk mendukung
penguasaan suatu kompetensi. Materi pembelajaran atau kompetensi yang lebih luas dirinci
menjadi bagian-bagian atau sub-sub kompetensi yang lebih kecil dan obyektif.

Dengan melihat pemaparan di atas, tampak bahwa dilihat dari filsafat yang melandasi
pengembangam kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan materi pembelajaran,.
Namun dalam implementasinya sangat sulit untuk menentukan materi pembelajaran yang
beranjak hanya dari satu filsafat tertentu., maka dalam prakteknya cenderung digunakan
secara eklektik dan fleksibel..

Berkenaan dengan penentuan materi pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan


Pendidikan, pendidik memiliki wewenang penuh untuk menentukan materi pembelajaran,
sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang hendak dicapai dari setiap
kegiatan pembelajaran. Dalam prakteknya untuk menentukan materi pembelajaran perlu
memperhatikan hal-hal berikut :.

1. Sahih (valid); dalam arti materi yang dituangkan dalam pembelajaran benar-benar
telah teruji kebenaran dan kesahihannya. Di samping itu, juga materi yang diberikan
merupakan materi yang aktual, tidak ketinggalan zaman, dan memberikan kontribusi
untuk pemahaman ke depan.

2. Tingkat kepentingan; materi yang dipilih benar-benar diperlukan peserta didik.


Mengapa dan sejauh mana materi tersebut penting untuk dipelajari.

3. Kebermaknaan; materi yang dipilih dapat memberikan manfaat akademis maupun


non akademis. Manfaat akademis yaitu memberikan dasar-dasar pengetahuan dan
keterampilan yang akan dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pendidikan lebih
lanjut. Sedangkan manfaat non akademis dapat mengembangkan kecakapan hidup dan
sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

4. Layak dipelajari; materi memungkinkan untuk dipelajari, baik dari aspek tingkat
kesulitannya (tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit) maupun aspek kelayakannya
terhadap pemanfaatan materi dan kondisi setempat.

5. Menarik minat; materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi
peserta didik untuk mempelajari lebih lanjut, menumbuhkan rasa ingin tahu sehingga
memunculkan dorongan untuk mengembangkan sendiri kemampuan mereka.

Terlepas dari filsafat yang mendasari pengembangan materi, Nana Syaodih Sukamadinata
(1997) mengetengahkan tentang sekuens susunan materi pembelajaran, yaitu :

1. Sekuens kronologis; susunan materi pembelajaran yang mengandung urutan waktu.

2. Sekuens kausal; susunan materi pembelajaran yang mengandung hubungan sebab-


akibat.

3. Sekuens struktural; susunan materi pembelajaran yang mengandung struktur materi.

4. Sekuens logis dan psikologis; sekuensi logis merupakan susunan materi pembelajaran
dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan, dari yang sederhana menuju kepada
yang kompleks. Sedangkan sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan menuju
bagian-bagian, dan dari yang kompleks menuju yang sederhana. Menurut sekuens
logis materi pembelajaran disusun dari nyata ke abstrak, dari benda ke teori, dari
fungsi ke struktur, dari masalah bagaimana ke masalah mengapa.
5. Sekuens spiral ; susunan materi pembelajaran yang dipusatkan pada topik atau bahan
tertentu yang populer dan sederhana, kemudian dikembangkan, diperdalam dan
diperluas dengan bahan yang lebih kompleks.

6. Sekuens rangkaian ke belakang; dalam sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah
akhir dan mundur kebelakang. Contoh pemecahan masalah yang bersifat ilmiah,
meliputi 5 langkah sebagai berikut : (a) pembatasan masalah; (b) penyusunan
hipotesis; (c) pengumpulan data; (d) pengujian hipotesis; dan (e) interpretasi hasil tes.

7. Dalam mengajarnya, guru memulai dengan langkah (a) sampai (d), dan peserta didik
diminta untuk membuat interprestasi hasilnya (e). Pada kasempatan lain guru
menyajikan data tentang masalah lain dari langkah (a) sampai (c) dan peserta didik
diminta untuk mengadakan pengetesan hipotesis (d) dan seterusnya.

8. Sekuens berdasarkan hierarki belajar; prosedur pembelajaran dimulai menganalisis


tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kemudian dicari suatu hierarki urutan materi
pembelajaran untuk mencapai tujuan atau kompetensi tersebut. Hierarki tersebut
menggambarkan urutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik,
berturut-berturut sampai dengan perilaku terakhir.

C. Strategi pembelajaran

Telah disampaikan di atas bahwa dilihat dari filsafat dan teori pendidikan yang melandasi
pengembangan kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan tujuan dan materi
pembelajaran, hal ini tentunya memiliki konsekuensi pula terhadap penentuan strategi
pembelajaran yang hendak dikembangkan. Apabila yang menjadi tujuan dalam pembelajaran
adalah penguasaan informasi-intelektual,sebagaimana yang banyak dikembangkan oleh
kalangan pendukung filsafat klasik dalam rangka pewarisan budaya ataupun keabadian,
maka strategi pembelajaran yang dikembangkan akan lebih berpusat kepada guru. Guru
merupakan tokoh sentral di dalam proses pembelajaran dan dipandang sebagai pusat
informasi dan pengetahuan. Sedangkan peserta didik hanya dianggap sebagai obyek yang
secara pasif menerima sejumlah informasi dari guru. Metode dan teknik pembelajaran yang
digunakan pada umumnya bersifat penyajian (ekspositorik) secara massal, seperti ceramah
atau seminar. Selain itu, pembelajaran cenderung lebih bersifat tekstual.

Strategi pembelajaran yang berorientasi pada guru tersebut mendapat reaksi dari kalangan
progresivisme. Menurut kalangan progresivisme, yang seharusnya aktif dalam suatu proses
pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Peserta didik secara aktif menentukan materi
dan tujuan belajarnya sesuai dengan minat dan kebutuhannya, sekaligus menentukan
bagaimana cara-cara yang paling sesuai untuk memperoleh materi dan mencapai tujuan
belajarnya. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mendapat dukungan dari kalangan
rekonstruktivisme yang menekankan pentingnya proses pembelajaran melalui dinamika
kelompok.

Pembelajaran cenderung bersifat kontekstual, metode dan teknik pembelajaran yang


digunakan tidak lagi dalam bentuk penyajian dari guru tetapi lebih bersifat individual,
langsung, dan memanfaatkan proses dinamika kelompok (kooperatif), seperti : pembelajaran
moduler, obeservasi, simulasi atau role playing, diskusi, dan sejenisnya.
Dalam hal ini, guru tidak banyak melakukan intervensi. Peran guru hanya sebagai fasilitator,
motivator dan guider. Sebagai fasilitator, guru berusaha menciptakan dan menyediakan
lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. Sebagai motivator, guru berupaya
untuk mendorong dan menstimulasi peserta didiknya agar dapat melakukan perbuatan belajar.
Sedangkan sebagai guider, guru melakukan pembimbingan dengan berusaha mengenal para
peserta didiknya secara personal.

Selanjutnya, dengan munculnya pembelajaran berbasis teknologi yang menekankan


pentingnya penguasaan kompetensi membawa implikasi tersendiri dalam penentuan strategi
pembelajaran. Meski masih bersifat penguasaan materi atau kompetensi seperti dalam
pendekatan klasik, tetapi dalam pembelajaran teknologis masih dimungkinkan bagi peserta
didik untuk belajar secara individual. Dalam pembelajaran teknologis dimungkinkan peserta
didik untuk belajar tanpa tatap muka langsung dengan guru, seperti melalui internet atau
media elektronik lainnya. Peran guru dalam pembelajaran teknologis lebih cenderung sebagai
director of learning, yang berupaya mengarahkan dan mengatur peserta didik untuk
melakukan perbuatan-perbuatan belajar sesuai dengan apa yang telah didesain sebelumnya.

Berdasarkan uraian di atas, ternyata banyak kemungkinan untuk menentukan strategi


pembelajaran dan setiap strategi pembelajaran memiliki kelemahan dan keunggulannya
tersendiri.

Terkait dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, belakangan ini mulai muncul konsep
pembelajaran dengan isitilah PAKEM, yang merupakan akronim dari Pembelajaran Aktif,
Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Oleh karena itu, dalam prakteknya seorang guru
seyogyanya dapat mengembangkan strategi pembelajaran secara variatif, menggunakan
berbagai strategi yang memungkinkan siswa untuk dapat melaksanakan proses belajarnya
secara aktif, kreatif dan menyenangkan, dengan efektivitas yang tinggi.

D. Organisasi Kurikulum

Beragamnya pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya


keragaman dalam mengorgansiasikan kurikulum. Setidaknya terdapat enam ragam
pengorganisasian kurikulum, yaitu:

1. Mata pelajaran terpisah (isolated subject); kurikulum terdiri dari sejumlah mata
pelajaran yang terpisah-pisah, yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan
dengan mata pelajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan
tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan peserta didik, semua
materi diberikan sama

2. Mata pelajaran berkorelasi; korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi


kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Prosedur yang
ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna
memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.

3. Bidang studi (broad field); yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan
beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan
dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. Salah satu mata pelajaran
dapat dijadikan core subject, dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core
tersebut.
4. Program yang berpusat pada anak (child centered), yaitu program kurikulum yang
menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata pelajaran.

5. Inti Masalah (core program), yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah,
dimana masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu, dan mata
pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya
memecahkan masalahnya. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau
analisisnya diberikan secara terintegrasi.

6. Ecletic Program, yaitu suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi
kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik.

Berkenaan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, tampaknya lebih cenderung


menggunakan pengorganisasian yang bersifat eklektik, yang terbagi ke dalam lima kelompok
mata pelajaran, yaitu : (1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; (2) kelompok
mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; (3) kelompok mata pelajaran ilmu
pengetahuan dan teknologi; (4) kelompok mata pelajaran estetika; dan (5) kelompok mata
pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan

Kelompok-kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam sejumlah


mata pelajaran tertentu, yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah. Di samping itu,
untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan lokal serta untuk
kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik disediakan kegiatan pengembangan
diri.

E. Evaluasi Kurikulum

Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian terbatas, evaluasi
kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan
yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sebagaimana dikemukakan
oleh Wright bahwa : curriculum evaluation may be defined as the estimation of growth and
progress of students toward objectives or values of the curriculum

Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk
memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator
kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga relevansi,
efisiensi, kelaikan (feasibility) program. Sementara itu, Hilda Taba menjelaskan hal-hal yang
dievaluasi dalam kurikulum, yaitu meliputi ; objective, its scope, the quality of personnel in
charger of it, the capacity of students, the relative importance of various subject, the degree
to which objectives are implemented, the equipment and materials and so on.

Pada bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum
sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah evaluasi tersebut
ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen
tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah satu komponen kurikulum penting yang
perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa.

Agar hasil evaluasi kurikulum tetap bermakna diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu.


Dengan mengutip pemikian Doll, dikemukakan syarat-syarat evaluasi kurikulum yaitu
acknowledge presence of value and valuing, orientation to goals, comprehensiveness,
continuity, diagnostics worth and validity and integration.

Evaluasi kurikulum juga bervariasi, bergantung pada dimensi-dimensi yang menjadi fokus
evaluasi. Salah satu dimensi yang sering mendapat sorotan adalah dimensi kuantitas dan
kualitas. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi diemensi kuantitaif berbeda dengan
dimensi kualitatif. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi dimensi kuantitatif, seperti
tes standar, tes prestasi belajar, tes diagnostik dan lain-lain. Sedangkan, instrumen untuk
mengevaluasi dimensi kualitatif dapat digunakan, questionnare, inventori, interview, catatan
anekdot dan sebagainya

Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan
pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hasil-
hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para
pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem
pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan.

Hasil hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan
para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta
didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian
serta fasilitas pendidikan lainnya. (disarikan dari Nana Syaodih Sukmadinata, 1997)

Selanjutnya, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan tiga pendekatan dalam


evaluasi kurikulum, yaitu : (1) pendekatan penelitian (analisis komparatif); (2) pendekatan
obyektif; dan (3) pendekatan campuran multivariasi.

Di samping itu, terdapat beberapa model evaluasi kurikulum, diantaranya adalah Model CIPP
(Context, Input, Process dan Product) yang bertitik tolak pada pandangan bahwa keberhasilan
progran pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti : karakteristik peserta didik dan
lingkungan, tujuan program dan peralatan yang digunakan, prosedur dan mekanisme
pelaksanaan program itu sendiri. Evaluasi model ini bermaksud membandingkan kinerja
(performance) dari berbagai dimensi program dengan sejumlah kriteria tertentu, untuk
akhirnya sampai pada deskripsi dan judgment mengenai kekuatan dan kelemahan program
yang dievaluasi. Model ini kembangkan oleh Stufflebeam (1972) menggolongkan program
pendidikan atas empat dimensi, yaitu : Context, Input, Process dan Product. Menurut model
ini keempat dimensi program tersebut perlu dievaluasi sebelum, selama dan sesudah program
pendidikan dikembangkan. Penjelasan singkat dari keempat dimensi tersebut adalah, sebagai
berikut :

1. Context; yaitu situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenis-jenis tujuan dan
strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam program yang bersangkutan,
seperti : kebijakan departemen atau unit kerja yang bersangkutan, sasaran yang ingin
dicapai oleh unit kerja dalam kurun waktu tertentu, masalah ketenagaan yang dihadapi
dalam unit kerja yang bersangkutan, dan sebagainya.

2. Input; bahan, peralatan, fasilitas yang disiapkan untuk keperluan pendidikan, seperti :
dokumen kurikulum, dan materi pembelajaran yang dikembangkan, staf pengajar,
sarana dan pra sarana, media pendidikan yang digunakan dan sebagainya.
3. Process; pelaksanaan nyata dari program pendidikan tersebut, meliputi : pelaksanaan
proses belajar mengajar, pelaksanaan evaluasi yang dilakukan oleh para pengajar,
penglolaan program, dan lain-lain.

4. Product; keseluruhan hasil yang dicapai oleh program pendidikan, mencakup : jangka
pendek dan jangka lebih panjang.

PENGERTIAN DAN PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ORANG DEWASA (POD)


(Makalah Pengembangan Masyarakat)
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar adalah proses menjadi dirinya sendiri bukan proses untuk dibentuk menurut kehendak
orang lain, membawa esadaran yang lain bahwa kegiatan belajar harus melibatkan individu
atau client dalam proses pemikiran: apa yang mereka inginkan, apa yang dilakukan,
menentukan dan merencanakan serta melakukan tindakan apa saja yang perlu untuk
memenuhi keinginan tersebut. Inti dari pendidikan adalah menolong orang belajar bagaimana
memikirkan diri mereka sendiri, mengatur urusan kehidupan mereka sendiri untuk
berkembang dan matang, dengan mempertimbangkan bahwa mereka juga sebagai makhluk
sosial.

Pada dasarnya orang dewasa memiliki banyak pengalaman baik dalam bidang
pekerjaannya maupun pengalaman lain dalam kehidupannnya. Tentu saja untuk menghadapi
peserta pendidikan yang pada umumnya adalah orang dewasa dibutuhkan suatu strategi dan
pendekatan yang berbeda dengan "pendidikan dan pelatihan" ala bangku sekolah, atau
pendidikan konvensional yang sering disebut dengan pendekatan Pedagogis. Dalam praktek
"pendekatan pedagogis" yang diterapkan dalam pendidikan dan pelatihan seringkali tidak
cocok. Untuk itu, dibutuhkan suatu pendekatan yang lebih cocok dengan "kematangan",
"konsep diri" peserta dan "pengalaman peserta". Di dalam dunia pendidikan, strategi dan
pendekatan ini dikenal dengan "Pendidikan Orang Dewasa".

II. PENDIDIKAN ORANG DEWASA (ANDRAGOGI)

A. Pengertian Andragogi

Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan
agogos berarti memimpin. Dapat juga dikatakan bahwa andragogi merupakan suatu ilmu
(science) dan seni (art) dalam membantu orang dewasa belajar (Knowles:1980). Sedangkan
istilah lain yang sering dipergunakan sebagai perbandingan adalah "pedagogi", yang ditarik
dari kata "paid" artinya anak dan "agogos" artinya membimbing atau memimpin. Maka
dengan demikian secara harafiah "pedagogi" berarti seni atau pengetahuan membimbing atau
memimpin atau mengajar anak.

a. Perbedaan antara anak-anak dan dewasa dapat ditinjau dari 3 hal yaitu :
Usia, individu yang berumur lebih dari 16 tahun dapat dikatakan sebagai orang dewasa dan
kurang dari 16 tahun masih disebut anak-anak.
b. Ciri psikologis, individu yang dapat mengarahkan diri sendiri, tidak selalu tergantung
dengan oranglain, bertanggung jawab, mandiri, berani mengambil resiko, mampu mengambil
keputusan merupakan ciri orang dewasa.
c. Ciri biologis, individu dikatakan dewasa apabila telah menunjukkan tanda-tanda kelamin
sekunder.

Karena pengertian pedagogi adalah seni atau pengetahuan membimbing atau mengajar anak
maka apabila menggunakan istilah pedagogi untuk kegiatan pelatihan bagi orang dewasa
jelas tidak tepat, karena mengandung makna yang bertentangan. Pada awalnya, bahkan
hingga sekarang, banyak praktek proses belajar dalam suatu pendidikan yang ditujukan
kepada orang dewasa, yang seharusnya bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara yang
pedagogis. Dalam hal ini prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak
dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pendidikan bagi orang dewasa.

Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan
dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah
kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan
merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu.

Beberapa defenisi Pendidikan Orang Dewasa, menurut para ahli:

1. UNESCO (Townsend Coles, 1977), pendidikan orang dewasa merupakan keseluruhan


proses pendidikan yang diorganisasikan, apa pun isi, tingkatan,metodenya baik formal dan
tidak, yang melanjutkan maupun yang menggantikan pendidikan semula di sekolah, akademi
dan universitas serta latihan kerja, yang membuat orang yang dianggap dewasa oleh
masyarakat mengembangkan kemampuannya, memperkaya pengetahuannya, meningkatkan
kualifikasi teknis atau profesionalnya, dan mengakibatkan perubahan pada sikap dan
perilakunya dalam perspektif rangkap perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi
dalam pengembangan sosial, ekonomi dan budaya yang seimbang dan bebas. Definisi diatas
menekankan pencapaian perkembangan individu dan peningkatan partisipasi sosial.

2. Bryson, menyatakan bahwa pendidikan orang dewasa adalah semua aktifitas pendidikan
yang dilakukan oleh orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari yang hanya menggunakan
sebagian waktu dan tenaganya untuk mendapatkan tambahan intelektual.

3. Reeves,et al, pendidikan orang dewasa adalah suatu usaha yang ditujukan untuk
pengembangan diri yang dilakukan individu tanpa paksaan legal, tanpa usaha menjadikan
bidang utama kegiatannya.
B. Karakteristik Andragogi atau Pendidikan Orang Dewasa
Adapun karakteristik dari andragogi atau pendidikan orang dewasa adalah sebagai berikut :
1. Memiliki lebih banyak pengalaman hidup.
2. Memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar. Orang dewasa termotivasi untuk belajar
karena ingin memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan berprestasi secara personal,
keputusan dan perwujudan diri.
3. Banyak peranan dan tanggung jawab yang dimiliki. Menimbulkan persaingan terhadap
permintaan waktu antar setiap peranan yang ia miliki. Menyebabkan keterbatasan waktu
untuk belajar. Penting bagi pendidik orang dewasa untuk memiliki sensitifitas dan memahami
adanya persaingan penggunaan waktu.
4. Kurang percaya diri atas kemampuan diri yang mereka miliki untuk belajar kembali.
Kepercayaan kepercayaan yang tidak benar tentang belajar, usia lanjut dan faktor fisik juga
dapat meningkatkan ketidakpercayaan diri orang dewasa untuk kembali belajar.
5. Pengalaman dan tujuan hidup orang dewasa lebih beragam daripada para pemuda. Dan hal
ini dapat dijadikan suatu kekuatan yang positif yang dapat dimanfaatkan melalui pertukaran
pengalaman dikalangan pembelajar orang dewasa.
6. Makna belajar bagi orang dewasa. Belajar adalah suatu proses mental yang terjadi dalam
benak seseorang yang melibatkan kegiatan berfikir. Bagi pendidikan orang dewasa melalui
pengalaman-pengalaman belajar makna belajar diberikan.

C. Tujuan Pendidikan Orang Dewasa


Pendidikan Orang Dewasa umumnya memiliki sasaran kelompok orang dewasa yang
beraneka ragam, baik usianya, tingkat pendidikannya. Lingkungan sosialnya, pelajarannya
dan lain-lain. Misalnya pendidikan keaksaraan Functional (Functional Literacy program)
warga belajrnya orang dewasa yang masuk buta huruf dan sering terdiri ekonominya msikin.
Sedang Pendidikan kepelatihan di industri / perkantiran warga belajarnya adalah para pekerja
maupun sifat yang umumnya tingat pendidikannya cukup tinggi dn kondisi ekonominya
cukup baik.
Tujuan POD dengan demikian beraneka ragam sesuai dengan permasalahannya , dan
sasarannya. Secara umum terdapat beberapa tujuan. Houle (1972), menggambarkan enam
orientasi yang dipegang oleh pendidik orang dewasa, yaitu:
1. Memusatkan pada tujuan.
2. Memenuhi kebutuhan dan minat.
3. Menyerupai sekolahan.
4. Menguatkan kepemimpinan.
5. Mengembangkan lembaga pendidikan orang dewasa.
6. Meningkatkan informalisasi.
Bergeivin mengemukakan tujuan pendidikan orang dewasa sebagai berikut:
1. Membantu pelajar mencapai suatu tingkatan kebahagiaan dan makna hidup.
2. Membantu pelajar memahami dirinya sendiri, bakatnya, keterbatasannya dan hubungan
interpersonalnya.
3. Membantu mengenali dan memahami kebutuhan lifelong education.
4. Memberikan kondisi dan kesempatan untuk membantu mencapai kemajuan proses
pematangan secara spiritual, budaya, fisik, politik dan kejujuran.
5. Memberikan kemampuan melek huruf, keterampilan kejujuran dan kesehatan bagi orang
dewasa yang sebelumnya tidak memiliki kesempatan untuk belajar.

D. Beberapa Asumsi Dasar dan Implikasinya

1. Konsep Diri
Konsep diri yang dimiliki orang dewasa berbeda dengan konsep diri anak. Jika konsep diri
anak bahwa dirinya tergantung dengan orang lain. Maka, konsep diri orang dewasa adalah
tidak lagi tergantung namun, telah dapat mengambil keputusan, mampu mengatur diri sendiri.
Oleh sebab itu, orang dewasa perlu perlakuan yang sifatnya menghargai, terkhusus pada
pengambilan keputusan. Orang dewasa juga akan menolak apabila kondisi belajar berbeda
dengan konsep diri yang ia miliki. Orang dewasa telah mempunyai kemauan sendiri
(pengarahan diri) untuk belajar.

Implikasi :

a. Iklim belajar diciptakan sesuai dengan keadaan orang dewasa. Seperti : ruangan, kursi,
meja dan sejenisnya disusun sesuai keinginan orang dewasa. Dengan demikian diharapkan
terciptanya kenyamanan belajar.
b. Pelajar dilibatkan dalam proses merancang perencanaan belajar.
c. Pelajar diikutsertakan dalam mendiagnosa kebutuhan belajar. Mereka akan lebih terlibat
dan termotivasi untuk belajar jika hal yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan mereka.

2. Pengalaman
Perbedaan pengalaman yang dimiliki merupakan akibat dari masa mudanya.
Seiring berjalannya waktu maka pengalaman yang dimilikinya pun semakin banyak.

Implikasi
a. :Proses belajar lebih ditekankan pada metode yang menyaring pengalaman mereka, seperti
melalui diskusi kelompok, metode kasus, metode insiden kritis, simulasi dll. Dengan
demikian akan lebih banyak keterlibatan diri pada proses belajar.
b. Penekanan pada proses belajar aplikasi praktis. Untuk memberikan pengenalan konsep baru
pengajar memberikan penjelasan melalui pengalaman yang berasal dari pelajar itu sendiri.

3. Orientasi Terhadap Belajar

Orang dewasa cenderung mempunyai perspektif untuk secepatnya mengaplikasikan apa yang
telah mereka pelajari. Pendidikan bagi orang dewasa dipandang sebagai suatu proses untuk
meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah hidup yang ia hadapi.

Implikasi :

a. pendidik berperan sebagai pemberi bantuan kepada pelajar dewasa bukan sebagai guru
yang mengajar materi.
b. Kurikulum POD tidak berorientasi pada mata pelajaan tertentu, tetapi berorientasi pada
masalah. Karena orang dewasa berorientasi pada masalah maka pengalaman belajar yang
dirancang didasarkan pada masalah dan hal yang menjadi bahan perhatian mereka juga.

E. Prinsip Pendidikan Orang Dewasa


Pendidikan orang dewasa memiliki 10 Prinsip yang dapat menciptakan suasana pembelajaran
yang efektif dan efisien. 10 Prinsip tersebut, yaitu :
1. Prinsip kemitraan
Prinsip kemitraan menjamin terjalinnya kemitraan di antara pengajar dan pelajar. Dengan
demikian pelajar tidak diperlakuan sebagai murid tetapi sebagai mitra
belaajar sehingga hubugan yang mereka bangun bukanlah hubungan yang bersifat
memerintah, tetapi hubungan yang bersifat membantu, yaitu pengajar akan berusaha
semaksimal mungkin untuk membantu proses belajar pelajarnya.
2. Prinsip pengalaman nyata
Prinsip pngalaman nyata menjamin berlangsungnya kegiatan pembelajaran pendidikan orang
dewasa terjadi dalam situasi kehidupan yang nyata. Kegiatan pembelajaran pendidikan orang
dewasa tidak berlangsung di kelas atu situasi yang simulative, tetapi pada situasi yang
sebenmarnya.
3. Prinsip kebersamaan
Prinsip kebersamaan menuntut digunakannya kelompok dalam kegiatan pembelajaran
pendidikan orang dewasa untuk menjamin adanya interaksi yang maksimal di antara peserta
dengan difasilitasi pengajar.
4. Prinsip partisipasi
Prinsip partisipasi adalah untuk mendorong keterlibatan pelajar secara maksimal dalam
kegiatan pembelajaran orang dewasa, dengan fasilitas dari pengajar. Dalam kegiatan
pembelajaran pendidikna orang dewasa semua pesrta harus terlibat atau mengambil bagian
secara aktif dari seluruh proses pembelajarn mulai dari perencanaan,pelaksanaan, dan
evaluasi pembelajaran.
5. Prinsip keswadayaan
Prinsip keswadayaan merupakan prinsip yang mendorong kemandirian pelajar dalam upaya
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pendidikan orang dewasa bertujuan untuk
menghasilkan manusia yang mandiri yang mampu melakukan peranan sebagai subyek atau
pelaku. Untuk itulah diperlukan prinsip keswadayaan.
6. Prinsip kesinambungan
Prinsip yang menjamin adanya kesimambungan dari materi yang dipelajari sekarang dengan
materi yang telah dipelajari di masa yang lalu dan dengan materi yang akan dipelajari di
waktu yang akan datang. Dengan prinsip ini maka akan
terwujud konsep pendidikan seumur hidup (life long education) dalam pendidikan orang
dewasa.
7. Prinsip manfaat
Prinsip manfaat menjamin bahwa apa yang dipelajari dalam pendidikan orang dewasa adalah
ssesuai dengan kebutuhan yang dirasakan oleh pelajar. Orang dewasa akan siap untuk belajar
manakala dia menyadari adanya kebutuhan yang harus dipenuhi. Kesadaran terhadap
kebutuhan ini mendorong timbulnya minat untuk belajar, dan karena rasa tanggung jawabnya
sebagai orang dewasa maka timbul kesiapanya untuk belajar.
8. Prinsip kesiapan
Prinsip kesiapan menjamin kesiapan mental maupun kesiapan fisik dari pelajar untuk dapat
melakukan kegiatan pembelajaran. Orang dewasa tidak akan dapat melakukan kegiatan
pembelajaran manakala dirinya belum siap untuk melakukannya, apakah itu karena belum
siap fisiknya atau belum siap mentalnya.
9. Prinsip lokalitas
Prinsip lokalitas menjamin adanya materi yang dipelajari bersifat spesifik local. Generalisasi
dari hasil pembelajaran dalm pendidikan orang dewasa akan sulit dilakukan. Hasil pendidikan
orang dewasa pada umumnya merupakan kemampuan yang spesifik yang akan dipergunakan
untuk memecahkan masalah pelajar pada tempat mereka masing-masing, pada saat sekarang
juga. Kemampuan tersebut tidak dapat diberlakukan secara umum menjadi suatu teori, dalil,
atau prinsip yang dapat diterapkan dimana saja, dan kapan saja. Hasil pembelajaran sakarang
mungkin sudah tidak dapat lagi dipergunakan untuk memecahkan masalah yang sama dua
atau tiga tahun mendatang. Demikian pula hasil pembelajaran tersebut tidak dapat
diaplikasikan dimana saja, tetapi harus diaplikasikan di tempat pelajar sendiri karena hasil
pembelajaran tersebut diiproses dari pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh pelajar.
10. Prinsip keterpaduan
Prinsip keterpaduan menjamin adanya integrasi atau keterpaduan materi pendidikan orang
dewasa. Rencana pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa harus meng-cover materi-
materi yang sifatnya terintegrasi menjadi suatu kesatuan meteri yang utuh, tidak partial atau
terpisah-pisah.
Prinsip Belajar Untuk Orang Dewasa Menurut Hommonds
Terdapat 4 prinsip belajar yang dapat digunakan untuk mempercepat proses perubahan
perilaku pelajar, yaitu :

1. Prinsip latihan (praktik)


Ketika kita telah menerima materi dan melakukan aktifitas yang konkrit dan juga yang tidak
nyata seperti aktifitas penggunaan indera, susunan syaraf dan pusat susunan syaraf. Pelajar
akan terdorong untuk mengaplikasikan ilmu yang ia terima sebelumnya. Hal ini akan
mempercepat perkembangan dan perubahan kualitas pelajar.

2. Prinsip hubungan
Kejadian atau pengalaman dimasa lampau dapat dijadikan pedoman untuk meramalkan akibat
atau hasil yang akan mungkin akan terjadi dari suatu proses. Menghubungkan pengalaman
baru dengan pengalaman terdahulu.
3. Prinsip akibat
Dalam pendidikan orang dewasa, emosi, perasaan, lingkungan belajar, hingga pendidik yang
memberikan materi sangat mempengaruhi keberhasilan atau tidak tercapainya keberhasilan
dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, sangat diperlukan pendidik yang peka terhadap
kepuasan pelajar yang berkaitan dengan segala hal yang berkaitan dengan proses belajar
pendidikan orang dewasa. Dengan adanya kepuasan diharapkan pelajar dapat mencapai
keberhasilan dan tujuan pembelajaran.

4. Prinsip kesiapan
Kesiapan diri pelajar akan menentukan manfaat yang dapat diperoleh dari proses belajar.
Baik fisik maupun mental pembelajar sangat mempengaruhi proses pembelajaran. Dengan
adanya kesiapan mental dan fisik diharapkan pelajar dapat mencurahkan seluruh perhatiannya
pada materi yang sedang dihadapi. Dengan demikian diharapkan, pelajar dapat
memaksimalkan usaha pencapaian dan dapat mengatasi rintangan belajar, agar dapat
berprestasi.

III. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan Orang Dewasa adalah suatu proses dimana orang-orang yang sudah memiliki
peran sosial sebagai orang dewasa melakukan aktivitas belajar yang sistematik dan
berkelanjutan dengan tujuan untuk membuat perubahan dalam pengetahuan, sikap, nilai-nilai,
dan keterampilan.
2. Tujuan pendidikan orang dewasa, yaitu:memusatkan pada tujuan, memenuhi kebutuhan dan
minat, menyerupai sekolahan, menguatkan kepemimpinan, mengembangkan lembaga
pendidikan orang dewasa, meningkatkan informalisasi.
3. Prinsip pendidikan orang dewasa yaitu : Prinsip kemitraan, pengalaman nyata,
kebersamaan, partisipasi, keswadayaan, kesinambungan, manfaat, kesiapan, lokalitas, dan
keterpaduan
DAFTAR PUSTAKA
Pengertian Strategi Pembelajaran Orang Dewasa

Pembelajaran merupakan suatu proses dimana perilaku diubah, dibentuk atau dikendalikan.
Bila istilah pembelajaran digunakan untuk menyatakan suatu fungsi, maka tekanannya
diletakan pada aspek-aspek penting tertentu (seperti motivasi) yang diyakini untuk membantu
menghasilkan belajar. Jadi arti pembelajaran adalah suatu prubahan yang dapat memberikan
hasil jika (orang-orang) berinteraksi dengan informasi (materi,kegiatan, pengalaman).
Definisi lain pembelajaran adalah upaya yang direncanakan dan dilaksanakan dengan sengaja
untuk memungkinkan terjadinya kegiatan belajar pada diri warga belajar.

Strategi merupakan sarana organisasi yang digunakan untuk mencapai tujuannya. Strategi
pembelajaran adalah sarana atau cara bagaimana agar pembelajaran berlangsung secara
efektif sehingga tercapai tujuan belajar yang diinginkan.

Pembelajara orang dewasa adalah pembelajaran untuk memahami orang dewasa dalam
belajar dengan kondisi optimum bagi orang dewasa tersebut. Smith (1982) mengungkapkan
ada enam mengenai pembelajaran bagi orang dewasa ini, yaitu :

1. Belajar berlangsung sepanjang hayat, hidup berarti belajar, belajar dapat dikehendaki
namun dapat juga tanpa dikehendaki. Kita belajar banyak melalui proses sosialisasi,
sejak dari pengasuhan keluarga, pengaruh teman sebaya, pekerjaan, permainan, wajib
militer dan media masa.

2. Belajar merupakan suatu proses yang bersifat pribadi dan alamiah, tidak seorang pun
yang dapat melakukan belajar untuk kita.

3. Belajar mencakup perubahan, sesuatu yang ditambahkan atau dikurangi. Perubahan-


perubahan mungkin kecil sekali pada masa dewasa.

4. Belajar dibatasi oleh tingkat perkembangan manusia. Belajar mempengaruhi dan


dipengaruhi oleh perubahan biologis dan fisik dalam kepribadian, nilai peranan dan
tugas yang biasanya terjadi sepanjang rentang kehidupan normal.

5. Berkaitan dengan pengalaman dan mengalami, Belajar adalah mengalami, yaitu


berinteraksi dengan lingkungan. Belajar adalah melakukan.

6. Belajar mengandung intuitif. Pengetahuan dapat muncul dari kegiatanbelajar itu


sendiri. Intuisi dinamankan pengetahuan yang tidak dapat ditemukan.
Karakteristik Orang Dewasa

Proses belajar bagi orang dewasa memerlukan kehadiran orang lain yang mampu berperan
sebagai pembimbing belajar bukan cenderung digurui, orang dewasa cenderung ingin belajar
bukan berguru. Orang dewasa tumbuh sebagai pribadi dan memiliki kematangan konsep diri,
mengalami perubahan psikologis dan ketergantungan yang terjadi pada masa kanak-kanak
menjadi kemandirian untuk mengarahkan diri sendiri, sehingga proses pembelajaran orang
dewasa harus memperhatikan karakteristik orang dewasa.

Karakteristik orang dewasa menurut Knowles (1986) berbeda asumsinya dibandingkan


dengan anak-anak. Asumsi yang dimaksud adalah:

1. Konsep dirinya bergerak dari seorang pribadi yang bergantung ke arah pribadi yang
mandiri

2. Manusia mengakumulasi banyak pengalaman yang diperolehnya sehingga menjadi


sumber belajar yang berkembang

3. Kesiapan belajar manusia secara meningkat diorientasikan pada tugas perkembangan


peranan sosial yang dibawanya.

4. Persfektif waktunya berubah dari suatu pengetahuan yang tertunda penerapannya


menjadi penerapan yang segera, orientasi belajarnya dari yang terpusat pada pelajaran
beralih menjadi terpusat pada masalah.

Dari asumsi tentang konsep diri tersebut mengandung implikasi mengenai pembelajaran
orang dewasa yaitu :

1. Terciptanya suasana belajar yang menyenangkan

2. Terjadinya multi komunikasi

3. Peran serta warga belajar harus diutamakan

4. Pendapat orang dewasa harus dihormati

5. Belajar orang dewasa bersifat unik, subyektif, dan lokalitas

6. Rasa saling mempercayai antara pendidik dan terdidik

7. Orang dewasa mempunyai tingkat kecerdasan yang berbeda

8. Orang dewasa belajar igin mengetahui arti dirinya dalam kelompok belajar

9. Membangkitkan motivasi yang berasal dari dalam dirinya sendiri.

Berpusat pada karakteristik orang dewasa tersebut, maka akan mempengaruhi aspek-aspek
pembelajaran orang dewasa antara lain mengenal kurikulum atau materi, metode, media,
sumber belajar, dan setting pembelajaran.
Kurikulum dalam kegiatan belajar orang dewasa harus disusun berdasarkan kebutuhan yang
terkait dengan pelaksanaan tugas peran sosial mengenai permasalahan kehidupan yang secara
kongkrit dihadapi oleh warga belajar, bukan disusun atas dasar urutan logik mata pelajaran.

Materi pembelajaran orang dewasa disusun berdasarkan kebutuhan belajar. Kebutuhan belajar
dapat didefinisikan sebagai kesenjangan antara kebutuhan sekarang dengan kebutuhan yang
diharapkan. Oleh karena itu sarana untuk menentukan kebutuhan belajar adalah menyusun
suatu model belajar orang dewasa dan mengungkap kesenjangan antara kebutuhan sekarang
dengan kebutuhan yang diharapkan.

Metode dan teknik pembelajaran memegang peranan penting dalam menyusun strategi dan
pelaksanaan kegiatan belajar membelajarkan . Metode dan teknik pembelajaran orang dewasa
akan dibahas tersendiri.

Model-model Pembelajaran Orang Dewasa

Sesuai dengan karakteristik orang dewasa, maka pembelajarannya juga memerlukan


karakteristik yang khusus. Ada beberapa model pembelajaran yang cocok digunakan untuk
pembelajaran orang dewasa yaitu :

a. Model Pembelajaran Daur Pengalaman Berstruktur dan Analisis Peranan

Model pembelajaran ini menggunakan pendekatan partisipatori andragogi melalui daur


pengalaman struktur. Model pembelajaran ini merupakan proses membantu belajar orang
dewasa secara analisis dan partisipasif melalui tahap-tahap :

1. Pengenalan dan penghayatan terhadap masalah dan kebutuhan peningkatan mutu


program dan kemampuan petugas menurut pandangan peserta

2. Pengungkapan masalah/kebutuhan peningkatan mutu program dan kemampuan


petugas menurut pandangan peserta

3. Pengolahan masalah dan kebutuhan peningkatan mutu program dan kemampuan


petugas oleh peserta bersama fasilitator atau narasumber.

4. Penyimpulan cara pemecahan masalah dan pemenuhan kebutuhan penigkatan mutu


program dan kemampuan petugas oleh peserta bersama fasilitator

5. Penyerapan dan penerapan cara-cara peningkatan mutu program dan kemampuan


petugas dalam penyelenggaraan program.'

Merujuk pada model pembelajaran daur


pengalaman berstruktur untuk analisis peran peserta dapat menggunakan metode ATMAP
(Arah, Terapan, Masalah dan Peran). Pembelajaran dengan metode ATMAP adalah upaya
peningkatan kemampuan analisis dan sekaligus penghayatan peserta terhadap perannya
dalam menyelenggarakan program dalam masyarakat. Aplikasi metode ATMAP dalam daur
pengalaman berstruktur adalah sebagai berikut :

1. Arah program dan arah tugas


Arah program berkenaan antara lain tujuan kegiatan, cara pelaksanaan dan cara penilaian dari
program yang diselenggaraka pada masyarakat. Arah tugas peserta berkenaan tugas pokok,
rincian kegiatannya dan proses pelaksanaannya. Metode pembelajaran ini antara lain sajian
arah, telaah kaus, curah pendapat, ceramah, tanya jawab, dan metode lain yang sesuai.

2. Terapan program dan tugas


Terapan program artinya cara pelaksanaan program menurut arah yang telah ditetapkan baik
yang sudah diwujudkan maupun yang diperkirakan. Terapan tugas artinya cara pelaksanaan
tugas yang telah ditetapkan. Terapan program dan terapan tugas dikaitkan dengan situasi dan
kondisi wilayah, tempat serta fasilitas pendukungnya. Metode pembelajaran untuk ini antara
lain menggunakan curah pendapat, diskusi, telaah terapan,kerja kelompk,dan metode lain
yang sesuai.

3. Masalah Terapan Program dan Terapan Tugas


Masalah terapan program adalah masalah-masalah yang muncul atau yuang diperkirakan
akan muncul baik internal maupun eksternal. Masalah terapan tugas artinya masalah
kemampuan petugas dalam melaksanakan tugasnya yang berkaitan dengan terapan program
baik yang muncul atau yang diperkirakan akan muncul (internal maupun eksternal). Metode
pembelajaran ini antara lain curah pendapat, telaah kasus, diskusi kelompok (pleno), telaah
banding, telaah lapangan, kerja kelompok dan metode lain yang sesuai.

4. Alternatif Pemecahan Masalah Terapan Program dan Terapan Tugas


Alternatif pemecahan masalah terapan program artinya gagasan-gagasan cara pemecahan
masalah yang telah dianalisis baik untuk sekarang ataupun yang akan datang terutama
terhadap masalah internal. Alternatif pemecahan masalah terapan tugas artinya gagasan-
gagasan cara peningkatan kemampuan petugas sesuai dengan tuntutan terapan program baik
untuk sekarang maupun untuk yang akan datang terutama yang bersifat internal. Metode
pembelajaran untuk ini adalah telaah kasus, diskusi, telaah banding, kerja kelompok dan
metode lain yang sesuai.

5. Peran Petugas
Peran petugas artinya peran dan kemampuannya melaksanakan program serta pemecahan
masalahnya, untuk sekarang maupun yang akan datang. Metode pembelajaran untuk ini harus
ditekankan kepada belajar, praktek dan bekerja melalui metode diskusi, kerja kelompok atau
individual, simulasi, bermain peran dan metode lain yang sesuai.

b. Model Pembelajaran Latihan Penyelidikan (Inguiry Training Model)

Latihan penyelidikan sebagai salah satu model pembelajaran meliputi lima fase yaitu :

1. Menghadapkan peserta belajar untuk berkonfrontasi dengan situasi teka-teki

2. Fase operasional pengumpulan data untuk verifikasi, meminta peserta belajar


menanyakan serangkaian serangkaian pertanyaan untuk dijawab oleh fasilitator
dengan "ya" atau "tidak" dan menyelenggarakan serangkaian eksperimen mengenai
lingkungan situasi masalah.

3. Operasi pengumpulan data untuk eksperimentasi


4. Peserta belajar menyadap informasi dari pengumpulan data mereka dan menjelaskan
masalah sebaik mungkin.

5. Fasilitator dan peserta belajar bekerja sama menganalisis strategi satu sama lain.
Tekanan di sini ialah pada konsekuensi strategi tertentu. Analisis ini berusaha
membantu peserta belajar lebih terarah dalam mengajukan pertanyaan dan mengikuti
rencana: Pengadaan fakta, Menentukan apa yang relevan, Menyiapkan konsep
penjelasan atau hubungan.

c. Model Pembelajaran Advance Organizer

Advance Organizer ialah materi pengenalan yang disajikan lebih dahulu dari tugas
pembelajaran yang tingkat abstraksinya lebih tinggi dibandingkan dengan tugas pembelajarn
itu sendiri. tujuannya ialah untuk menjelaskan, mengintegrasikan, dan menghubungkan
materi dalam tugas pembelajaran dengan materi yang telah dipelajari lebih dahulu, disamping
juga untuk membantu peserta belajar membedakan materi baru dari materi pembelajaran
yang telah diberikan. Organisasi yang paling efektif adalah materi yang menggunakan
konsep, istilah dan dalil yang telah dikenal oleh warga belajar termasuk juga ilustrasi dan
analogi.

Bahan pembelajaran dapat berupa artikel dalam koran atau majalah dan jurnal, ceramah
bahkan dapat juga film. Tugas pembelajaran bagi peserta belajar ialah untuk menghayati
informasi, untuk mengingat gagasan sentral dan mungkin juga fakta kunci. Sebelum
memperkenalkan materi pembelajaran kepada peserta belajar hendaknya fasilitator
menyiapkan materi perkenalan dalam bentuk Advance Organizer berupa lampiran yang dapat
digunakan untk mengaitkan data baru yang relevan.

Advance Organizer pada umumnya didasarkan pada konsep dan hukum/aturan suatu disiplin.
Sebagai contoh suatu pelajaran atau uraian mengenai sistem kasta di India dapat didahului
dengan organizer yang didasarkan pada konsep stratifikasi sosial. Biasanya organizer
dikaitkan dengan materi yang bersifat aktual atau kurang abstrak dibandingkan dengan yang
mendahuluinya. Organizer timbul dari hubungan secara integral dengan materi pembelajaran.
Organizer dapat juga digunakan secara kreatif untuk menyiapkan persfektif baru.

Pembelajaran model Advance Organizer dapat diterapkan melaluibeberapa fase yaitu :

1. Penyajian Advance Organizer meliputi kegiatan : Menjelaskan tujuan satuan


pelajaran, Menyajikan organizer, Mendorong timbulnya kesadaran akan pengetahuan
dan pengalaman yang relevan dengan latar belakang peserta belajar.

2. Penyajian materi tugas pembelajaran; Menyusun urutan logis materi pelajaran bagi
warga belajar, Membina perhatian warga belajar, Menyiapkan bahan organiser yang
bersifat eksplisit.

3. Memperkuat organisasi kognitif : Menggunakan prinsip-prinsip rekonsiliasi secara


terintegrasi, Mengintegrasikan pembelajaran penerimaan aktif,Memperoleh
pendekatan kritis terhadap pengetahuan yang dipelajari.
d. Model Pembelajaran Pemerolehan Konsep

Pembelajaran model pemerolehan konsep mencakup penganalisisan proses berpikir dan


diskusi menganai atribut peroleha konsep. Selanjutnya terhadap variasi pada model dasar
yang melibatkan lebih banyak peserta belajar berpartisipasi dan mengendalikan diskusi serta
lebih banyak materi yang kompleks. Kelaziman diantara materi ini merupakan aplikasi dari
teori tentang konsep. Inilah yang membedakan antara model perolehan konsep yang asli
dengan perlombaan menebak. Model ini mengandung nilai aplikasi yang penting dan
langsung kepada pembelajaran sebagai berikut :

1. Dengan memahami hakikat dari konsep dan kegiatan yang bersifat konseptual
fasilitator dapat menetapkan secara lebih baik apabila peserta belajar memperoleh
pengertian suatu konsep

2. Fasilitator dapat mengenal strategi pengkategorisasian yang digunakan warga belajar


dan membantu mereka menggunakannya secara lebih efektif.

3. Fasilitator dapat memperbaiki kualitas pembelajaran untuk mempelajari konsep


dengan menggunakan model pembelajaran tentang hakikat proses perolehan konsep.