Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki beraneka ragam
kebudayaan dari setiap daerahnya. Dalam sejarah hidup manusia sejak zaman
nenek moyang, hingga kini pengolahan lahan sudah menjadi salah satu tradisi
kebudayaan yang secara turun-temurun diwariskan kepada generasi penerus.
Pengolahan lahan bertujan untuk menghasilkan bahan makanan baik berupa ketela,
padi, sagu, dan jagung. Di Timor, tradisi kebudayaan ini pun selalu diwariskan, mulai
dari membersihkan lahan, menanam sampai memanen.
Pulau Timor secara keseluruhan, merupakan suatu daratan yang pada
umumnya terdiri dari padang-padang sabana dan steppa yang luas dengan deretan
bukit, gunung, hutan-hutan primer dan sekunder. Karena letaknya dekat dengan
Australia, maka Timor sangat terpengaruh angin kering yang dengan kencangnya
menghembus dari benua itu, yang menyebabkan musim kemarau selama delapan
bulan yang sangat kering dengan perbedaan suhu yang sangat besar antara siang
dan malam. Pada musim itu pemandangan di Pulau Timor tampak kering dengan
ternak yang mati karena kepanasan dan kehausan. Sebaliknya pada musim hujan
yang hanya berlangsung selama empat bulan angin basah menghembus dari
penjuru barat dan mengubah dataran Timor menjadi suatu daerah yang mengandung
banyak hujan , sungai-sungai mengalir deras dan tanaman menjadi subur.
Karena pengaruh musim yang tidak tetap dan sering berubah-ubah dengan
musim kemarau yang sangat panjang maka tidaklah mudah untuk mengolah lahan di
Timor.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini yaitu, bagaimana
pengaruh kebudayaan terhadap pengolahan lahan di Timor?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui pengaruh kebudayaan
terhadap pengolahan lahan di Timor.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengaruh kebudayaan terhadap pengolahan lahan di Timor

1
Terdapat beragam bentuk mata pencaharian yang dilakukan oleh masyarakat
Timor. Seperti dalam hal pertanian, dimana mata pencaharian dari sebagian besar
orang Timor yang bermukim di daerah pedesaan adalah bercocok tanam di lading,
terkecuali daerah Belu Selatan, dimana orang di daerah tersebut sudah mulai
mengusahakan sawah.
Jenis tanaman yang ditanam di ladang adalah jagung, yang merupakan
makanan pokok, padi darat, ubi kayu, keladi, labu, sayur-sayuran, dan ada juga yang
menanam kacang hijau, jeruk, kopi, tembakau, bawang, dan kedelai.
Tanah yang akan dijadikan ladang biasanya ada dua macam yakni tanah hutan dan
tanah datar yang berumput. Untuk tanah hutan, penggarapannya dilakukan dengan
menebang pohon-pohon serta membersihkan semak-semak belukar, lalu
membakarnya. Kemudian setelah itu, lalu digarap dengan cangkul maupun
membajaknya.
Dalam pekerjaan penggarapan biasanya dilakukan oleh satu keluarga-batih,
kadang-kadang dibantu oleh beberapa keluarga-batih yang lain, yang masih
mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat. Kemudian bila keluarga-batih yang
telah membantu tadi membutuhkan pertolongan untuk pekerjaan yang serupa, maka
ia wajib untuk menolongnya. Begitu pula halnya pada waktu panen.
Bila tanah telah dikerjakan, maka bibit tanaman mulai disebarkan pada permulaan
musim hujan yakni biasanya pada bulan November sampai Desember.
Pekerjaan lelaki biasanya adalah membersihkan dan membakar hutan, atau
mengerjakan tanah, membuat pagar, menyiangi tanaman. Sedangkan pekerjaan si
istri adalah menanami bibit tanaman kadang-kadang dengan bantuan suaminya,
serta menuai hasil tanaman.
Berikut ini merupakan penjelasan mengenai kebudayaan pengolahan lahan
dari beberapa daerah dan suku yang ada di pulau Timor;
1. Suku Boti
Masyarakat Suku Boti merupakan petani yang berladang di tanah
kering dan tandus. Mereka bertani/berladang dengan cara menebas dan
membakar. Hasil pertanian mereka merupakan kebutuhan pokok untuk
mereka sendiri secara subsisten.
Awal mereka bercocok tanam ialah dengan menebang hutan.
Kemudian tebasan hutan tersebut dibakar untuk membuat lahan agar bersih
dari sisa tebasan. Setelah lahan bersih, dilakukan penanaman seperti padi.
Baru setelah panen mereka mengadakan panen pertama dan panen terakhir.
Kondisi alam yang kering membuat hasil pertanian mereka gagal
untuk dipanen. Pemujaan terhadap roh Uis Pah (Dewa Bumi) dengan hasil
pertanian memiliki hubungan yang erat. Ketika panen dirasa gagal, pemujaan
terhadap Uis Pah pun dilakukan. Roh ini dianggap mempunyai kekuatan alam

2
terhadap cuaca. Karena Uis Pah merupakan penguasa bumi menurut
kepercayaan setempat.
Dalam hal pekerjaan, mereka tidak akan lepas dari kepercayaan yang
mereka anut. Apa yang mereka kerjakan selalu berhubungan dengan roh
yang mereka sembah. Adapun doktrin kerja yang mereka junjung ialah
meup on ate, tah in usif (bekerja seperti hamba, makan seperti raja).
Mereka bekerja keras untuk menikmati hasil bumi dalam alam yang tidak
selalu memberikan hasil bumi yang baik. Alamnya dikaruniai Tuhan yang
mereka sebut sebagai Uis Neno harus dipelihara dengan bekerja mengola
alam dengan cara bertani dan mengolah hasil bumi. Karena itu hampir semu
peralatan kehidupan mereka bahan-bahannya dibuat dari alam dan dikerjakn
dengan tangan.

2. Daerah Timor Tengah Selatan


Daerah Timor Tengah Selatan (TTS) di dominasi oleh suku Dawan
yang pada umumnya mempunyai calendar of ivent (jadwal peristiwa) yang
berkaitan dengan mata pencaharian masyarakat setempat terutam bercocok
tanam atau bertani. Kalender ini disesuaikan dengan musim dan iklim
setempat.
Bulan pertama pada kelender tersebut dimulai pada bulan Agustus
(bulan sedap) atau Fun Meup Lele (bulan pembukaan kerja kebun baru).
Pembukaan kerja kebun baru harus mendapatkan izin Tobe melalui upacara
pemotongan hewan.
Bulan September atau Taek Neno Hau Anela yaitu melakukan
pekerjaan yang belum selesai pada bulan Agustus. Kadangkala pada musim
ini orang mulai memetik bawang dan ketumbar. Bulan Oktober masyarakat
mulai memetik padi di kali (sungai) besar, sedangkan petani lading siap
menanam padi. Bulan November disebut Fun Senat, yaitu waktu menanam
padi. Sebelum menanam sawah dirancah oleh sapi. Setelah itu, dilakukan
upacara adat sembelih hewan oleh tuan kebun yang biasa disebut Sifo Nofu
atau pendinginan kebun baru pada bulan Desember.
Pada bulan Januari biasa disebut Fun Hoe Nata atau Fun Tofas
adalah masa dimana menyiangin kebun. Bulan Februari merupakan bulan
tersibuk dan bulan penuh harapan karena disaat tanaman mulai berbunga,
mulai mengeluarkan bulir di ladang atau di sawah. Pada saat itu orang
beristirahat dan mengenang aneka dongeng sekitar asal usul padi, jagung
dengan kata-kata penghormatan terhadap tanaman yang dibawakan oleh
nenek-nenek kepada anak cucunya. Masa ini disebut masa Nuun atau Nuan.

3
Bulan Maret, jagung muda sudah dapat di petik. Musim ini disebut
Fun Mile atau bulan penuh kegembiraan. Dan diadakan upacara jagung
muda. Setiap suku membawa stu ikat jagung kerumah adat dan seikat lagi ke
kuburan. Sementara jagung muda direbus di rumah adat, para tua adat
mengusap alat pertanian dan peralatan tenun dengan beberapa ungkapan
untuk pria yaitu; usapi anakku bersama tajak dan parangnya supaya lading
yang dikerjakannya membuahkan hasil berlimpah. Dan untuk wanita usapi
anakku bersama pemintal benangnya supaya bisa berputar dengan lancer.
Upacara ini disebut Ntuis atau Tin.
Setelah itu ada upacara panen padi. Sebelum menuai, petani masuk
ketengah dua rumpun padi yang diikat bersilang sambil berdoa, setelah itu
panen dilakukan. Hasilnya dibawah ke pondok untuk di injak. Bulan April
adalah waktu petani untuk mengikat panenjagung kering (Nak Ba Pena).
Bulan Mei adalah musim tanam sawah di tepi kali (sungai) besar. Bulan juni
melanjutkan pekerjaan dan bulan Juli (Fun Feset) merupakan masa membuat
pesta

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pulau Timor secara keseluruhan, merupakan suatu daratan yang pada
umumnya terdiri dari padang-padang sabana dan steppa yang luas. Letaknya dekat
dengan Australia, sehingga Timor sangat terpengaruh oleh angin kering yang
membuat dataran Timor menjadi kering dan angin basah menghembus dari penjuru
barat dan mengubah dataran Timor menjadi suatu daerah yang mengandung banyak
hujan.
Terdapat beragam bentuk mata pencaharian yang dilakukan oleh masyarakat
Timor yaitu pertanian, dimana mata pencaharian dari sebagian besar orang Timor
yang bermukim di daerah pedesaan adalah bercocok tanam di ladang, terkecuali

4
daerah Belu Selatan, dimana orang di daerah tersebut sudah mulai mengusahakan
sawah.
Jenis tanaman yang di tanam adalah bahan makanan pokok dan palawija.
Setiap daerah di pulau Timor mempunyai kebiasaanya masing-masing dalam
mengolah lahan sesuai dengan tardisinya.