Anda di halaman 1dari 34

Asuahan Keperawatan pada pasien jiwa dengan waham

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Krisis multidimensi telah mengakibatkan tekanan berat pada sebagian masyarakat

dunia umumnya dan Indonesia khususnya. Masyarakat yang mengalami krisis ekonomi

tidak saja mengalami gangguan kesehatan fisik tapi mengalami gangguan kesehatan mental

psikiatri yang dapat menurunkan produktivitas kerja dan kualitas hidup.

Dalam rangka mencapai tujuan nasional tersebut diselenggarakan pembangunan

nasional, pembangunan kesehatan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional yang

diarahkan guna mencapai kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi

semua penduduk (Depkes RI 1992).

Skizofrenia adalah salah satu jenis gangguan jiwa psikosa fungsional dengan gejala

pecahnya unsur-unsur kepribadian yang timbul pada usia kurang dari 45 tahun.

Dengan menerapkan asuhan keperawatan pada perubahan proses pikir diintegrasikan secara

komprehensip pada program asuhan klien diharapkan klien dan keluarganya secara

mungkin dapat berperan serta dalam Self Care dan Family Support.
B. Tujuan

Adapun tujuan dari laporan pelaksanaan asuhan keperawatan ini adalah :

1. Tujuan Umum

a. Untuk memperoleh pengalaman secara nyata dalam upaya asuhan keperawatan.

b. Mampu melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung dan komprehensip

meliputi aspek biopsikososial.

2. Tujuan Khusus

a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan perubahan prose pikir waham

kebesaran akibat skizofrenia residual.

b. Mampu mendokumentasikan rencana asuhan keperawatan pada klien dengan

perubahan proses pikir waham kebesaran akibat skizofrenia residual.

c. Mampu melakukan rencana keperawatan sampai dengan evaluasi.

C. Metode Penulisan

Dalam laporan ini penulis menggunakan metode deskriptif yang berbentuk studi kasus.

Adapun teknik pengumpulan data yaitu dengan menggunakan data sebagai berikut:

1. Wawancara

Yaitu pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab yang ditujukan kepada klien,

keluarga dan tenaga yang terkait.

2. Observasi

Yaitu pengumpulan data dengan melihat secara langsung pada klien yang dikaji dan untuk

mengetahui perkembangan klien.

3. Studi Dokumentasi
Yaitu cara pengumpulan data dengan cara mempelajari dan mengumpulkan semua

dokumentasi serta data yang ada kaitannya dengan diri klien, status dan kesehatan medis.

4. Studi literatur

Yaitu penulis mempelajari semua buku yang membahas permesalahan yang akan dibahas

dalam memperkuat teori.

D. Sistematika Penulisan

Laporan ini disusun secara sistematik yang terdiri dari empat bab yaitu:

Bab I : Pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah, tujuan penulisan,

metode penulisan dan sistematika penulisan.

Bab II : Tinjauan teotitis yang mencakup pengertian, rentang respon, psikodinamika

dampak, pengkajian, rencana dan tindakan keperawatan serta evaluasi.

Bab III : Tinjauan kasus yang mencakup pengkajian rencana keperawatan, catatan

tindakan dan evaluasi Pada Klien Tn M Dengan Perubahan Proses Pikir Waham Kebesaran

di Ruang Elang RSJP Cimahi.

Bab IV : Kesimpulan dan saran yang merupakan kesimpulan dari pelaksanaan asuhan

keperawatan dari formulasi saran yang bersifat membangun terhadap kesenjangan pada

pelaksanaan Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Tn Joki ginting Dengan Perubahan

Proses Pikir Waham Kebesaran


BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. PROSES TERJADINYA MASALAH

Orientasi realitas adalah ketidakmampuan individu membedakan rangsangan

internal : fikiran, perasaan, sensasi, somatic, dan rangsangan eksternal seperti bunyi situasi

alam sekitar (tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan) (Stuart and Sunden, 1995).

Gangguan orientasi realitas dibagi menjadi dua yaitu waham dan halusinasi. Waham

adalah kepercayaan yang benar-benar salah dan berfikir yang sesuai dengan orang lain dan

kontradiksi dengan realitas sosial (Stuart and Sunden, tahun 1995 hal 146).

Waham adalah suatu kepercayaan yang salah atau bertentangan dengan kenyataan

dan tetap pada pemikiran seseorang dan latar belakang sosial budaya (Rowlis, tahun 1991,

hal 167).

Waham adalah bentuk lain dari proses kemunduran pemikiran seseorang yaitu

dengan mencampuri kemampuan pikiran untuk diuji dan dievaluasi secara nyata (Judith

Herber).

Waham adalah keyakinan tentang suatu pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan

dan tidak cocok dengan intelegensia latar belakang biarpun dibuktikan kemustahialn hal itu

(WF Maramis, tahun 1991, hal 147).


Waham somatic adalah keyakinan tentang (sebagian) tubuhnya yang tidak benar, contohnya

ususnya sudah busuk, otak sudah cair dan ada seekor kua dalam perutnya

Tipe-tipe waham yaitu :

a. Menurut Haber (tahun 1997 hal 723) :

1. Ideas of referens seseorang merasa bahwa kejadian situasi atau interaksi secara langsung

berhubungan dengan dirinya.

2. Delusion of percution : keyakinan sesorang bahwa orang lain merusak berbuat kerusakan

pada dirinya.

3. Delusion of grandeus : keyakinan seseorang bahwa dia maha kuasa dan mempunyai

kekuatan super.

4. Somatik delusion.

b. Menurut Doengus (tahun 2000 hal 205) :

1. Eromati : waham tentang seseorang yang mencintai orang lain yang statusnya lebih

tinggi.

2. Grandues : waham tentang kekuatan pengetahuan diidentifikasikan khusus atau

hubungan khusus dengan orang yang terkenal.

3. Jealous : seseorang merasa bahwa partner sexnya tidak setia.

4. Persecutori: keyakinan seseorang bahwa orang lain merusak atau berbuat jahat pada

dirinya.

5. Somatik : waham karena adanya beberapa penyakit fisik atau munculnya keabnormalitas

fisiknya.
c. Menurut Raulins (tahun 1993, hal 107) :

1.delusion of persicution : keyakinan seseorang bahwa orang lain akan berbuat jahat pada

dirinya.

2.Delusion of gerndeoues : keyakinan seseorang bahwa dirinya mempunyai kekuatan luar

biasa.

3.Delusion of control : keyakinan seseorang bahwa dirinya tindakan dan pikirannya di

kontrol oleh orang lain dan kekuatan eksternal.

4. Delusion of referens : keyakinan seseorang bahwa kejadian atau situasi secara langsung

yang berhubungan dengan diri dalam berinteraksi.

5. Somatik delusion : keyakinan seseorang bahwa tubuhnya berubah dan berespon dengan

cara yang tidak disadari dengan realita.

6.Thought brood costing : keyakinan seseorang bahwa pikirannya dapat di dengar orang

lain walau ia tidak membicarakannya.

d. Menurut W.F Maramis (tahun 1991, hal 117)

1. Waham kejar : pasien yakin bahwa ada komplotan yang sedang menggangu bahwa ia

ditipu, dimata-matai atau kejelekannya dibicarakan banyak orang.

2.Waham somatic: keyakinan tentang (sebagian) tubuhnya yang tidak benar, contohnya

usunya sudah membusuk, otak sudah cair, ada seekor kuda dalam perutnya.

3.Waham kesabaran : yakin ia mempunyai kekuatan, pendidikan, kepandaian atau

keyakinan yang luar biasa misalnya bahwa dialah ratu adil, dapat membaca fikiran orang

lain, mempunyai puluhan rumah dan mobil.


4.Waham keagamaan: waham dengan tema keagamaan.

5.Waham dosa : keyakinan bahwa ia telah berbuat dosa atau kesalahan yang besar yang

tidak dapat diampuni atau bahwa ia bertanggung jawab dalam suatu kejadian yan tidak baik

misalnya kecelakaan keluarga, karena fikiran yang tidak baik.

6.Waham pengaruh : yakni bahwa fikiran emosi perbuatannya diawasi atau dipengaruhi

oleh orang lain suatu kekuatan yang aneh.

7.Waham nilistic : yakni bahwa dunia ini sudah hancur atau bahwa ia sendiri dan orang lain

sudah mati.

8.Tingkah laku yang dipengaruhi oleh waham, karena waham maka ia berbuat tingkah laku

yang demikian.
RENTANG RESPON NEUROBIOLOGIS

Respon adaptif Respon maladaptive

- Pikiran logis - pikiran kadang menyimpang - kelainan pikiran/delusi

- persepsi akurat - ilusi - waham

- emosi konsisten - reaksi emosional berlebihan - halusinasi

dengan berlebihan

- perilaku sesuai - perilaku ganjil/tidak lazim - ketidakmampuan untuk

mengalami emosi

- hubungan sosial - menarik diri - ketidakteraturan

perilaku

B. MEKANISME TERJADINYA WAHAM

Waham terbentuk atas dasar faktor emosi, maka waham takkan dapat diubah oleh

alasan-alasan akal fikiran untuk memenuhi kebutuhan jiwa tersebut. Gambaran waham

terlihat menurut kesulitan-kesulitan menurut individu sebelum sakit berupa harapan-

harapan yang mengecewakan perasaan inadekuat, perasaan dibenci orang lain dan

sebagainya.
C. FAKTOR PREDISPOSISI

a.Faktor perkembangan

Hal ini tidak terjadi ketidakmampuan individu dalam menyelesaikan tugas-tugas

perkembangan.

b.Faktor lingkungan

Faktor lingkungan yang therapeutik sering mengancam dan menimbulkan cemas

berkepanjangan sehingga individu mengisolasi diri dari lingkungan eksternal.

c.Interaksi

Individu dalam berinteraksi dengan orang lain mengalami gangguan.

D. FAKTOR PRESIPITASI

Merupakan serangkaian kejadian yang menimpa manusia di dalam menjalani hidupnya

dapat menjadi faktor pencetus timbulnya waham.

Adapun faktor pencetus meliputi :

a. faktor internal.

Karena merasa gagal kehilangan sesuatu yang bermakna.

b. Faktor eksternal

Ada trauma atau serangan fisik, kehilangan hubungan dengan orang lain yang berarti.

E. PENGKAJIAN / KARAKTERISTIK PERILAKU

- Menolak makan.

- Tidak ada perhatian terhadap perawatan diri.


- Ekspresi muka sedih / gembira, ketakutan.

- Gerakan tidak terkontrol.

- Mudah tersinggung.

- Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan.

- Tidak membedakan antara yang nyata dengan yang tidak nyata.

- Menghindar dari orang lain.

- Mendominasi pembicaraan.

- Berbicara kasar.

- Menjalankan kegiatan keagamaan secara berlebihan atau sama sekali tidak melaksanakan.

F. DIAGNOSA KEPARAWATAN

1. Potensial menarik diri dari orang lain atau lingkungan.

2. Gangguan hubungan sosial : bermusuhan, manipulasi, ketakutan.

3. Potensial gangguan nutrisi: pemasukan tidak sesuai kebutuhan.

4. Gangguan perawatan diri.

G. TUJUAN

1.Pasien tidak melukai diri sendiri, orang lain atau lingkungan.

2.Pasien mampu membina dan mempertahankan hubungan akrab dengan orang lain tanpa

perasaan tertekan atau terancam.

3.Pasien dapat mempertahankan keseimbangan nutrisi, cairan dan eliminasi.

4.Pasien dapat melaksanakan perawatan diri secara mandiri.


H. TINDAKAN KEPERAWATAN

1.Psikoterapeutik

a.Bina hubungan saling percaya

-Perhatikan pasien saat bicara tanpa meremehkan.

-Dengar pernyataan pasien tentang wahamnya, tanpa menyetujui atau menentangnya.

-Bicara saat terbuka dan tidak berbisik-bisik, tidak menggunakan kata-kata sindiran.

b.Bantu pasien meningkatkan harga dirinya.

-Libatkan pasien dalam kegiatan individu dan kelompok.

-Beri pasien kegiatan sesuai dengan minat dan kemampuannya.

-Beri reinforcement atas keberhasilan yang dicapai klien.

c.Bantu pasien menemukan koping konstruktif dalam penyelesaian masalah.

-Bersama klien mengidentifikasikan masalah yang dihadapi.

-Tanyakan cara yang dilakukan untuk mengatasi masalahnya.

-Bicarakan manfaat dari cara tersebut.

-Bersama pasien mencari alternatif cara penyelesaian masalah.

-Beri dorongan kepada pasien untuk memilih cara yang tepat.

2.Lingkungan terapeutik

a.Ciptakan lingkungan fisik yang dapat menguatkan realita.

b.Ciptakan lingkungan sosial

c.Beri pujian atas keberhasilan klien.


3.Kegiatan hidup sehari-hari.

a.Bimbing pasien memenuhi mempertahankan kebutuhan nutrisi.

b.Bimbing pasien mempertahankan keseimbangan aktivitas istirahat tidur.

c.Bimbing pasien melakukan perawatan diri.

4.Somatik

Beri obat sesuai ketentuan.

a.Memberikan obat dengan mempertahankan lima benar dalam prinsip pemberian obat.

b.Bujuk pasien bila menolak minum obat.

c.Ajak pasien berbicara menyakinkan bahwa obatnya sudah dimakan.

d.Beri pujian atas kerjasama klien.

5.Pendidikan kesehatan.

a.Bantu pasien mengenali wahamnya.

b.Ikutsertakan keluarga mengatasi masalah klien.


I. EVALUASI

1.

a.Ekspresi wajah klien tampak tenang

b.Perilaku dan emosi pasien terkontrol.

c.Pasien berespon sesuai stimulus eksternal.

2.

a.Pasien dapat berespon secara non verbal.

b.Pasien dapat berinteraksi dengan perawat.

c.Pasien dapat berinteraksi dengan pasien lain.

d.Pasien dapat berinteraksi dengan perawat.

3.

a.Pasien dapat menghabiskan porsi makan / minum yang diberikan.

b.Berat badan pasien meningkat sesuai kriteria.

4.

a.Pasien dapat mandi sendiri dua kali sehari.

b.Gigi, rambut, mulut.


BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

PADA Tn.JOKI GINTING PERUBAHAN PROSES PIKIR :

WAHAM KEBESARAN

I. Identitas.

a. Identitas klien.

Nama : Tn. M

Umur : 40 Tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Pendidikan : SPMA

Pekerjaan :-

Agama : Islam

Alamat : Sukajadi Bandung

Status perkawinan : Belum kawin

Tgl masuk : 01 01 2003

Tgl pindahan : 07 03 2003

Tgl pengkajian : 4 Maret 2003

No. CM : 011803

Dx. Medis : Schizoprenia


b. Identitas Penanggung Jawab.

Nama : Tn. H.D. Rojak

Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Pekerjaan : Purnawirawan TNI-AD

Alamat : Sukajadi Bandung

Hub. dengan klien : Kakak klien

II. Alasan Masuk Rumah Sakit.

Klien dibawa ke RSJP Cimahi dengan alasan klien berbicara kacau, bingung, mudah lupa,

keluyuran klien juga pernah membanting radio 1 kali, klien gelisah. Sulit tidur dan

berbicara sendiri. Pada saat dikaji : klien dapat diajak berbicara kooperatif.

Bila diajak bicara klien suka ngawur, mudah lupa pada hal-hal yang baru saja dibicarakan.

Pembicaraan ngawur dan tidak rasional. Klien selalu mengatakan bahwa dirinya bisa

melakukan apa saja, klien mampu menyembuhkan segala penyakit, hiperaktivitas.

Masalah keperawatan :

Waham kebesaran

Gangguan komunitas verbal.


III. Faktor Predisposisi.

1.Klien mengalami sakit jiwa sejak tahun 1999 dan dirawat di RSJP Cimahi sebanyak 3

kali.

Masalah keperawatan : respon pasca trauma.

2.Pengobatan sebelumnya telah berhasil

3.Tidak ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.

4.Klien tidak pernah mengalami riwayat aniaya fisik, seksual maupun kekerasan dalam

keluarga.

5.Klien pernah mengalami masa lalu yang tidak menyenangkan. Yaitu pada usia 17 tahun

pernah diberi narkoba oleh teman-temannya di Jakarta.

Masalah keperawatan : respon pasca trauma.


IV Pemeriksaan Fisik.

1. Tanda Vital

TD = 120/90 mmHg R = 22 x/mnt

N = 88 x/mnt S = 370 C

2. Ukuran

TB : 165 cm

BB : 50 Kg

3. Keluhan Fisik

Klien tidak pernah mempunyai keluhan dalam hal fisik

V. Psikososial

1. Genogram
Klien merupakan anak ke dua dari empat bersaudara. Orang yang terdekat dengan klien

selain orang tua adalah kekasihnya. Didalam keluarga tidak ada yang mengalami sakit jiwa

selain klien. Hubungan klien dengan tetangganya terjalin dengan baik.

2. Konsep Diri

1) Citra tubuh

Pada saat dikaji klien mengatakan tidak merasa minderengan keadaan tubuhnya, klien

menyukai seluruh bagian tubuhnya

2) Identitas diri

Pada saat klien dikaji klien mengatakan bahwa status dan posisi klien sebelum dirawat

klien bekerja sebagai buruh di penggilingan padi. Klien puas dengan kedudukannya sebagai

anak karena dapat membantu ayahnya bekerja.

3) Peran

Pada saat dikaji klien mengatakan bahwa diri klien sebagai anak kedua dari empat

bersaudara sehari-hari bekerja sebagai buruh dan klien merasa senang terhadap apa yang

telah dikerjakan.

4) Ideal Diri

Pada saat dikaji klien mengatakan bahwa dirinya mempunyai keinginan untuk

menjadi seorang ustad dan klien sering menganggap dirinya hebat, mampu menyembuhkan

segala macam penyakit tanpa obat. Klien berharap cepat sembuh dari sakitnya dan diterima

di masyarakat. Klien ingin menolong orang dengan menyembuhkan sakit setelah dia

sembuh.
5) Harga diri

Pada saat dikaji klien mengatakan tidak merasa malu dengan kondisinya saat ini.

Klien yakin cita-citanya akan berhasil

Masalah keperawatan : gangguan konsep diri, ideal diri yang tidak realistis.

3. Hubungan sosial

Pada saat dikaji klien mengatakan bahwa orang yang berarti dalam hidupnya adalah ayah,

ibu, adik dan kekasihnya. Jika ada masalah klien mengadu dan meminta bantuan pada

kedua orang tuanya.

Sebelum sakit klien tidak pernah aktif dalam kegiatan dalam masyarakat, karena ada

hambatan yaitu klien terlalu meninggikan dirinya dan berbicara kacau.

Masalah keperawatan :

Kerusakan komunikasi verbal

Kerusakan interaksi sosial.

4. Spritual.

a.Nihil dan keyakinan


Pada saat dikaji klien mengatakan bahwa dirinya beragama islam dan mempunyai

keyakinan bahwa penyakitnya akan sembuh.

b. Kegiatan /ibadah sebelum sakit

Pada saat dikaji klien mengatakan jarang sholat. Sebelum sakit klien jarang iktu keagamaan

di mesjid

Masalah keperawatan :

Distress spiritual.

VI Status Mental

1. Penampilan

Pada saat dikaji klien tampak rapi, klien selalu menyisir rambutnya. Klien ganti baju 2 hari

sekali dan penggunaannya sesuai.

Masalah keperawatan : tidak ada masalah

2. Pembicaraan

Pada saat dikaji klien berbicara agak cepat dan mampu memulai percakapan dengan

perawat.

Masalah keperawatan : tidak ada masalah.

Pada saat dikaji klien suka berbicara ngawu. Klien sering mendominasi pembicaraan.

Pembicaraan klien tidak realistis.

Masalah keperawatan : kerusakan komunikasi verbal

3. Aktivitas motorik.
Pada saat dikaji klien tidak tampak lesu dan kadang-kadang gelisah. Klien tidak

tampak adanya : agitas, tiki grimasen, tremor, kompulsif. Klien sering melakukan aktivitas

yang berlebihan/ hiperaktivitas.

Klien sering mengikuti kegiatan direhabilitasi psikomotor seperti : olahraga bulu

tangkis. Selain itu klien sering mengikuti kegiatan yang ada di ruangnya seperti

membereskan sehabis makan.

Masalah keperawatan : resiko tinggi cedera.

4. Alam perasaan

Pada saat dikaji klien tidak tampak : sedih, putus asa dan gembira yang berlebihan. Klien

juga tidak menunjukkan adanya ketakukan dan kekhawatiran

Masalah keperawatan : tidak ada masalah.

5. Afek

Pada saat dikaji, sesuai hasil observasi terlihat emosi yang sesuai dengan stimulus yang

ada. Seperti contoh: bila klien diberi stimulus yang menyenangkan. Seperti bercanda klien

memperlihatkan roman muka yang gembira.

Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan.

6. Interaksi selama diwawancarai

Pada saat dikaji klien dapat diajak bekerja sama oleh perawat. Kontak mata mau menatapa

alwan berbicara, tidak menunjukkan rasa curiga dan bermusuhan.

Masalah keperawatan : tidak ada masalah.


7. Persepsi

Pada saa dirumah klien sering mendengarkan suara bisikan almarhum kakeknya.

Pada saat dikaji suara-suara itu tidak muncul lagi

Masalah keperawatan : resiko tinggi perubahan sensori persepsi halusinasi dengar tujuan

pembicaraan/sirkumtansial.

Klien sering berbicara ngawaur dan jawaban yang diberikan sering tidak sesuai dengan

kenyataan dan pertanyaan. Klien selalu mengulang-ngulang pembicaraan dan pembicaraan

selalu meloncat dari suatu topik ke topik lain.

Masalah keperawatan : perubahan proses pikir.

9. Isi pikir

Pada saat dikaji klien tampak gejala obsesi. Klien selalu ingin pulang dan ingin bertemu

dengan keluarganya. Klien ingin dijenguk keluarganya. Dalam pikiran klien selalu bisa

menyembuhkan penyakit tanpa obat.

Masalah keperawatan : perubahan proses pikir.

Waham :

Pada saat dikaji klien selalu mendominasi pembicaraan. Klien mempunyai keyakinan

bahwa ia orang hebat. Mampu melakukan apa saja diantaranya menyembuhkan segala

penyakit tanpa obat.

Masalah keperawatan : perubahan proses pikir waham kebesaran.


10. Tingkat kesadaran

Pada saat dikaji klien tampak bingung dan kacau. Klien tidak mengalami stupporr. Klien

tidak mengalami disorientasi waktu dan tempat. Tetapi klien mengalami disorientasi orang.

Masalah keperawatan : perubahan proses pikir.

11. Memori

Pada saat dikaji klien dapat mengingat kejadian yang baru saja terjadi/daya ingat saat ini.

Dari hasil observasi klien tidak mampu mengingat kejadian yang lebih dari seminggu/daya

ingat jangka pendek dan klien juga tidak mengingat kejadian yang lebih dari sebulan/daya

ingat jangka panjang.

12. Tingkat konsentrasi dan berhitung

Klien mampu berkonsentrasi dan berhitung saat wawancara dan kegiatan dilakukan.

Contohnya : saat diwawancara perhatian klien tidak mudah dialihkan. Saat diberi

pertanyaan [(5 x 5)+25]: 5 = berapa ? jawabannya 10.

Masalah keperawatan : tidak ada masalah.

13. Kemampuan penilaian

Pada saat dikaji klien mampu mengambil keputusan sederhana.

Contohnya : bapak mau mandi dulu sebelum makan atau makan dulu sebelum mandi ?

setelah diberi penjelasan klien mampu mengambil keputusan.

Masalah keperawatan : tidak ada masalah.


14. Daya tarik diri

Pada saat dikaji klien selalu mengingkari penyakit yang diderita. Klien tidak menyadari

gejala penyakit pada dirinya dan selalu berkeinginan untuk pulang.

VII.Kebutuhan Persiapan Pulang

1.Makan

a. Pada saat pengkajian frekuensi makan 3x/hari, jumlah 1 porsi.

Variasi : sayur + nasi + buah + lauk + snack

b. Klien mampu makan secara mandiri tanpa bantuan petugas, makan disiapkan petugas

dan alat makan dibersihkan petugas

Masalah keperawatan : tidak ada masalah.

2.BAB/ BAK

Pada saat pengkajian klien mampu untuk BAK/BAB secara mandiri tanpa bantuan perawat.

Klien mampu mengguankan WC dan membersihkan diri dan merapikan pakaian. Setelah

BAB/BAK.

Masalah keperawatan : tidak ada masalah.

3.Mandi

Pada saat pengkajian, frekuensi 2x/hari, cara mandi memakai gayung, gosok gigi 2x/hari.

Cuci rambut 1hari sekali.

Klien mampu mandi secara mandiri tanpa bantuan perawat.

Masalah keperawatan : tidak ada masalah.


4.Berpakaian

Klien mampu berpakaian secara mandiri, tanpa bantuan perawat.

Penampilan dan dandanan rapi dan sesuai.

Frekuensi ganti : 2 hari sekali

Masalah keperawatan : tidak ada masalah.

5.Istrahat tidur

Tidur malam : 21.00 s/d 05.00 WIB

Tidur siang : 14.00 s/d 16.00 WIB

Kegiatan sebelum dan sesudah tidur.

05.00 WIB : klien bangun pagi

07.00 WIB : klien makan pagi

07.30 WIB : klien kerehabilitasi

11.00 WIB : mandi siang

12.00 WIB : makan siang

14.00 WIB : tidur siang

17.0 WIB : makan sore


21.00 WIB : tidur malam

Masalah keperawatan : tidak ada masalah.

6.Penggunaan obat

Halloperidol 5 mg 3 x 1 tab

Trihexyphenidil 2 mg 3 x 1 tab

Persidal 1 x 1tab

Chlorpromazine 100 mg 1 x 1 tab

7.Pemeliharaan kesehatan

Dalam memelihara kesehatannya klien harus selalu minum obat secara teratur.

8.Aktivitas di rumah

Klien mampu mengolah dan menyajikan makanan, merapikan rumah (menyapu, mengepel)

9.Aktivitas di luar rumah

Klien mampu berbelanja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

Klien mampu mengendarai kenderaan bermotor

VIII. Masalah Keperawatan

1. Respon pasca trauma

2. Kerusakan komunikasi verbal

3. Gangguan konsep diri : ideal diri yang tidak realistis

4. Kerusakan interaksi sosial


5. Distress spritual

6. Perubahan proses pikir

7. Waham kebesaran

8. Resiko tinggi cedera

9. Resiko tinggi perubahan sensori persepsi halusinasi dengar.

IX. Analisa Data

No Data Senjang Masalah


1 DS : Klien mengatakan pernah diberi narkoba Respon pasca

oleh teman-temannya di desa bukit trauma

tahun.2015

DO : Klien tampak berbicara kacau, linglung,

pelupa, bingung.

2 DS : Klien mengatakan bahwa dirinya adalah Kerusakan

orang hebat. komunikasi verbal

Klien mengatakan bahwa dirinya mampu

melakukan apa saja termasuk

menyembuhkan segala macam penyakit

tanpa obat.

DO : - Pembicaraan klien ngawur

- Kalau berbicara mendominasi

pembicaraan
- Ungkapan klien tidak sesuai dengan

realita

3 DS : Gangguan konsep

- Klien mengatakan bahwa dirinya adalah diri ideal diri tidak

orang hebat realistis

DO : - Klien melakukan apa saja

Isi pembicaraan klien terlalu tinggi

Ungkapan klien tidak realistis

4 DS : Kerusakan

Klien mengatakan bahwa dirinya tidak unteraksi sosial

pernah aktif dalam kegiatan di masyarakat

Klien tampak kurang berinteraksi dengan

DO : orang-orang di sekitarnya selama dirawat

Klien tampak kurang berinteraksi dengan

orang-orang di sekitarnya selama dirawat

5 DS : Distress spiritual

Klien mengatakan bahwa dirinya jarang

DO : dalam menjalankan sholat 5 waktu

Klien jarang sholat

6 DS : Perubahan proses

- Klien mengatakan saya sudah sembuh, pikir


saya sudah boleh pulang

- Klien mengatakan bahwa dirinya orang

hebat, mampu menyembuhkan segala

DO : penyakit

- Sirkumtansial

- Klien berbicara ngawur

- Jawaban klien tidak sesuai kenyataan dan

apa yang ditanyakan.

- Pembicaraan meloncat dari satu topk ke

satu topik lain.

- Obsesi

- Klien tampak bingung, mengalami

disorientasi orang.

- Klien tidak mengingat kejdian yang

terjadi minggu terakhir dan lebih dari 1

bulan.

- Klien sering mengingatkan penyakit yang

7 DS : dideritanya. Waham kebesaran

Klien mengatakan bahwa dirinya orang

DO : hebat, mampu menyenbuhkan semua


penyakit tanpa obat.

- Klien mendominasi pembicaraan

- Klien berbicara ngawur

8 DS : - Berbicara hal-hal yang tinggi Resiko tinggi

cedera

DO : - Klien mengatakan selalu ingin

melakukans semua aktivitas

- Kegiatan yang dilakukan klien berlebihan

9 DS : - Hiperaktivitas Resiko tinggi

perubahan sensori

DO : Klien mengatakan dulu pernah mendengar persepsi halusinasi

bisikan dari almarhum koleganya dengar

Klien tidak tampak melamun dan tidak

bicara sendiri

X Pohon Masalah
Kerusakan Komunikasi Verbal. Effect

Gangguan Konsep Diri : Ideal diri yang tidak realistis Etiologi

XI Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham kebesaran

2. Perubahan proses pikir : Waham kebesaran berhubungan dengan ideal diri yang tidak

realistis

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah melaksanakan asuhan keperawatan pada joki ginting dengan perubahan proses pikir

: waham kebesaran , maka penulis menyimpulkan sebagai berikut:

1. Dalam pengkajian perlu kemampuan mengumpulkan data dan penganalisaan yang

tepat didasari teori yang ada sehingga dapat merumuskan masalah dan diagnosa

keperawatan yang tepat. Dari pengkajian didapatkan masalah utama perubahan proses pikir

waham kebesaran.

2. Diagnosa keperawatan yang terkait dengan masalah klien Joki ginting adalah :

a. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan proses pikir : waham

kebesaran.

b. Perubahan proses pikir : waham kebesaran berhubungan dengan ideal diri yang tidak

realistis.
3. Pada tahap perencanaan, peran perawat sangat penting dalam menentukan rencana

tindakan sesuai dignosa keperawatan yang sesuai. Adapun perencanaan yang dilakukan

pada klien Tn. M meliputi : psikoterapeutik, lingkungan terapeutik, kegiatan hidup sehari-

hari, somatik, pendidikan kesehatan.

4. Pada pelaksanaan perawat dapat melaksanakan rencana yang disusun bila memiliki

kemampuan profesional dan interpersonal. Agar kebutuhan klien dapat terpenuhi

diperlukan dukungan fasilitas, partisipasi aktif klien dan keluarga.

5. Pada evaluasi, perawat dapat melakukan proses yang berkelanjutan untuk menilai

efek dari tindakan perawat pada klien. Evaluasi ini dilakukan secara terus menerus dalam

bentuk SOAP
B. Saran

Saran yang diajukan penulis berupa saran yang bersifat membangun dan bermanfaat bagi

pengembangan pelayanan keperawatan sebagai berikut :

1. Untuk mendapatkan data yang akurat, dalam pengkajian perlu kerjasama yang baik

antara perawat, klien, keluarga, antara lain membina hubungan saling percaya.

2. Dalam merumuskan diagnosa keperawatan perlu diperhatikan masalah keperawatan

yang muncul.

3. Dalam menyusun rencana keperawatan, sebaiknya rencana dibuat sesuai kebutuhan

dan masalah yang sedang dihadapi dengan memprioritaskan diagnosa keperawatan yang

muncul.

4. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan, sebaiknya perawat berpedoman pada

standar asuhan keperawatan jiwa yang dibakukan.


DAFTAR PUSTAKA

Keliat, BA, 1998, Proses keperawatan Kesehatan Jiwa, EGC, Jakarta.

Maramis W.F, 1990, Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University, Press Surabaya

Maslim Rusdi, 2001, Buku Saku Diagnosa Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ-

III, Jakarta.

Tim Keperawatan Jiwa, 1999