Anda di halaman 1dari 41

Kata pengantar

Puji syukur kehadiran TUHAN YANG MAHA ESA atas segalah


rahmatnya sehingga makalah yang berjudul halusinasi ini dapat tersusun
hinga selesai

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah


pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca dan teman-teman , untuk
kedepanya dapat memperbaiki bentuk maupun menmbah isi makalah agar
lebih baik lagi

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin


masih banyak kekurangan dalam makalan ini , oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

KABANJAHE ,APRIL 2017

{ HENDRONI FADLI .SIMATUPANG}

1
K
A
T
P
E
N
D
A
F
T
A
R
I
S
D
F
A
RG
A
N
T
IS
B
A
IBA
R


P


E
N
D
L
A
T


H
AI
L
M
A
N
A
H
U
L
R
B
EA
N
KG


.1
B
AC
IA
.B.
M
T
U
D
E
F S
A
L
H
J
N
N
I
S








.
1
2
ICT
O
.D
JE
E
N
P
R
O
T L
G
S
-
J.F
E
N
T
M
AI
S
D
A
R
J
S
L
AN
T
A
N
I
Y
H
D
A
H
H
L
U
L
U
S
S
I
N
A
I
N
A
S
I


.

3
5
7
B
A
IAG
HP
N
.
S
U
A
P A
L
H
N
E
K
MN
K
E
P
D
I
N
R
A
W
T
A
N

.
8
.B
IC
D
.E
IFD
L
F
M
P
S
T E
N
T
I
A
S
K
O
R
L
A
S
A
UA
S
K
E
M
P
D
H
F
I
L
M
E
N
TL
A
Y
E
N
U
K
R
U
I
S
P
O
S

A
L
M
A
S
I


K
I
T




.
.1
5
1
6
7
9
G
.HK
E
M2
B
T
NH
A
IS
KP
E
R
S
I
A
O
NP
N
G
P
U
L
A
N
G
2
3
.6
BAB I

3
PENDAHULUAN

A. Latarbelakang

Halusinasi merupakan gangguan persepsi panca indra tanpa adanya rangsangan


dari luar yang dapat meliputi semua penginderaan dimana terjadi pada saat
kesadaran individu itu penuh atau baik

B. Masalah

a. Bagaimana konsep dari halusinasi ?

b. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada klien dengan Halusinasi ?

C. Tujuan

a. Untuk mengetahui konsep dari halusinasi itu sendiri

b. Mengetahui asuhan keperawatan yang diberikan terhadap klien dengan


Halusinasi

BAB II

4
TINJAUAN TERITIS

A. Definisi
Halusinasi adalah gangguan persepsi panca indra tanpa adanya
rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua penginderaan dimana terjadi
pada saat kesadaran individu itu penuh atau baik (DepKes RI, 1998)
Halusinasi ialah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca
indera seorang pasien, yang terjadi dalam kehidupan sadar atau bangun,
dasarnya mungkin organik, fungsional, psikopatik ataupun histerik (Maramis,
2005).
Kemudian Sunaryo (2004) menjelaskan bahwa halusinasi merupakan
bentuk kesalahan pengamatan tanpa pengamatan objektivitas penginderaan dan
tidak disertai stimulus fisik yang adekuat.

B. Etiologi
1. Faktor Predisposisi
a. Biologis, lesi pada area frontal, temporal dan limbic, gangguan otak
(kerusakan otak, keracunan zat halusinogenik), genetik
b. Neurotransmiter, abnormalitas pada dopamin dan serotonin
c. Psikologis, Teori psikodinamik untuk terjadinya respon neurobiologist
yang maladaptive
d. Sosiobudaya, Stress yang menumpuk dapat menunjang awitan
skizofrenia
2. faktor presipitasi
Secara fisik klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah
adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak
berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian induvidu terhadap stressor
dan maslah koping dapat mengindikasi kemungkinnan kekambuhan
(kelliat,2006).
Faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah :
a. biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur
proses informasi serta abnomalitas pada mekanisme pintu masuk dalam
otak akibat ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus
yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
b. Sterss lingkungan
Ambang toleransi terhadap sress yang berinteraksi terhadap stresor
lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan prilaku.
c. sumber koping.

5
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi
stressor.

C. Jenis - jenis dan Tanda Halusinasi


1. Halusinasi Pendengaran
Halusinasi pendengaran adalah ketika mendengar suara atau kebisingan,
paling sering mendengar suara orang. Suara berbentuk kebinsingan yang
kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan
sampai ada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami
halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa
klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.
(stuart,2007)
a. Data Objektif
1) Bicara atau tertawa sendiri.
2) Marah-marah tanpa sebab
3) Mengarahkan telinga kea rah tertentu
4) Menutup telinga
b. Data Subjektif
1) Mendengar suara atau kegaduhan
2) Mendengar suara yang mengajak bercakap cakap
3) Mendengar suara yang menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya

2. Halusinasi Penglihatn
Halusinasi pengelihatan adalah stimulus visual dalam bentuk kilatan
cahaya, gambar geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau
kompleks. Bayangan biasa yang menyenangkan atau menakut ksn seperti
melihat monster. (stuart,2007)
a. Data Objektif
1) Menunjuk-nunjuk ke arah tertentu
2) Ketakutan Kepada sesuatu yang tidak jelas
b. Data Objektif
1) Melihat bayangan, sinar bentuk geometris, bentuk kartun, melihat
hantu atau monster.
3. Halusinasi Penghidu
Halusinasi Penghidu adalah membaui bau-bauan tertentu seperti bau
darah, urin, dan feses umumnya bau-bauan yang tidak menyenang kan.
Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang , atau dimensia.
(stuart,2007)

a. Data Objektif

6
1) Menghidu sedang membaui bau-bauan tertentu
2) Menutup hidung
b. Data Subjektif
1) Membaui bau-bauan seperti bau darah, urin, feses kadang-kadang
bau itu menyenangkan
4. Halusinasi Pengecap
Halusinasi pengecap adalah Merasa mengecap rasa seperti rasa darah,
urin atau feses. (stuart,2007)
a. Data Objektif
1) Sering meludah
2) Muntah
b. Data Subjektif
1) Merasakan rasa seperti darah, urin atau feses

5. Halusinasi Perabaan
Halusinasi Perabaan adalah mengalami nyeri atau ketidak nyamanan
tanpa stimulus yang jelas. Rasa tesentrum listrik yang datang dari tanah,
benda mati atau orang lain. (stuart,2007)
a. Data Objektif
1) Menggaruk-garuk permukaan kulit
b. Data Subjektif
1) Menyatakan ada serangga di permukaan kulit.
2) Merasa tersengat listrik
6. Halusinasi seksual
Persepsi tentang alat genital yang palsu, penderita merasa adanya
sensasi luar biasa pada alat genitalnya.
7. Halusinasi kinesti
Persepsi palsu pada seseorang setelah mengalami operasi besar/
mayor.
8. Agnosia
Gangguan persepsi yang ditandai dengan ketidakmampuan mengenal
dan menginterpretasikan kesan sensorik.

D. Proses Terjadinya Halusinasi


Halusinasi berkembang melalui emat fase, yaitu sebagai berikut :
1. Fase Pertama
Disebut juga dengan fase comporting yaitu fase yang menyenangkan.
Pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik.
Karakteristik : Klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan,
rasa bersalah, kesepian yang memuncak, dan tidak dapat diselesaikan. Klien
melamun dan memikirkan hal-hal yang menyenangkan, cara ini hanya
menolong sementara.

7
Perilaku klien : tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai,
menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, respons verbal yang
lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya, dan suka menyendiri.

2. Fase Kedua
Disebut dengan fase condemming atau ansietas berat yaitu halusinasi
menjadi menjijikkan, termasuk dalam psikotik ringan.
Karakteristik : pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan,
kecemasan meningkat, malamun dan berfikir sendiri menjadi dominan.
Mulai dirasakan adanya bisikan yang tidak jelas. Klien tidak ingin orang lain
tahu, dan ia tetap dapat mengontrolnya.
Perilaku klien : meningkatnya tanda tanda system saraf otonom
seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Klien asyik dengan
halusinasinya dan tidak bisa membedakan realitas.
3. Fase Ketiga
Adalah fase controlling atau ansietas berat yaitu pengalaman sensori
menjadi berkuasa. Termasuk kedalam gangguan psikotik.
Karakteristik : bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol,
menguasai dan mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya
terhadap halusinasinya.
Perilaku klien : kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian
hanya beberapa menit atau detik. Tanda-tanda fisik berupa klien berkeringat,
tremor, dan tidak mampu mematuhi perintah.
4. Fase Keempat
Adalah fase conquering atau panic yaitu klien lebur dengan
halusinasinya. Termasuk dalam psikotik berat.
Karakteristik : halusinasinya berubah menjadi mengancam,
memerintah, dan memarahi klien. Klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang
control, dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di
lingkungan.
Perilaku klien : Perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri,
perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau kakatonik, tidak mampu
merespons terhadap perintah kompleks, dan tidak mampu berespons lebih
dari satu orang.

E. Pohon Masalah

8
Resiko Perilaku
Kekerasan

Gangguan Persepsi
Core Problem
Sensori : Halusinasi
Penglihatan dan
Pendengaran

Isolasi Sosial :
Menarik Diri

Gangguan Konsep
diri : Harga Diri
Rendah

Pohon masalah terdiri dari masalah utama, penyebab, dan akibat. Masalah utama adalah
prioritas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki oleh klien. Umumnya,
masalah utama berkaitan erat dengan alasan masuk atau keluhan utama. Penyebab
adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan penyebab masalah
utama. Masalah ini dapat pula disebabkan oleh salah satu masalah yang lain, demikian
seterusnya. Akibat adalah adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang
merupakan efek atau akibat dari masalah utama.

F. Penatalaksanaan

1. Penderita per Individu

2. Farmakotherapi ( anti psikotik ) harus ditinjang oleh psikoterapi seperti


Klorpromazin 150 600 mg / hari, Haloperidol 5 15 mg / hari, Porpenozin
12 24 mg / hari dan Triflufirazin 10 15 mg / hari. Obat dimulai dengan
dosis awal sesuai dengan dosis anjuran, dinaikkan dosis tiap 2 minggu dan
bisa pula dinaikkan sampai mencapai dosis ( stabilisasi ) , kemudian
diturunkan setiap 2 minggu sampai mencapai dosis pemeliharaan.
Dipertahankan 6 bulan 2 tahun ( diselingi masa bebas obat 1 2 hari /

9
minggu ). Kemudian tapering off, dosis diturunkan tiap 2 4 minggu dan
dihentikan.

3. Satu macam pendekatan terapi tidak cukup, tujuan utama perawatan dirumah
sakit adalah ikatan efektif antara pasien dan system pendukung masyarakat.
( Arif Mansjoer, 1999 : 2000 ).

G. Asuhan keperawatan

1. Pengkajian

Menurut Stuart dan Laraia pengkajian merupakan tahapan awal dan


dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas
pengumpulan data dan perumusan kebutuhan, atau masalah klien. Data yang
dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Data
pengkajian kesehatan jiwa dapat dikelompokkan menjadi faktor predisposisi,
faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping, dan
kemampuan koping yang dimiliki klien (Keliat, 2005).

Untuk dapat menjaring data yang diperlukan umunya, dikembangkan


formulir pengkajian dan petunjuk teknis pengkajian agar memudahkan
dalam pengkajian. Isi pengkajian meliputi :

a. Identitas klien
b. Keluhan utama atau alasan masuk
c. Faktor predisposisi
d. Aspek fisik atau biologis
e. Aspek psikososial
f. Status mental
g. Kebutuhan persiapan pulang
h. Mekanisme koping
i. Masalah psikososial dan lingkungan
j. Pengetahuan
k. Aspek medik

10
Kemudian data yang diperoleh dapat dikelompokkan menjadi dua
macam sebagai berikut :
a) Data objektif ialah data yang ditemukan secara nyata. Data ini
didapatkan melalui observasi atau pemeriksaan langsung oleh
perawat.
b) Data subjektif ialah data yang disampaikan secara lisan oleh klien
dan keluarga. Data ini diperoleh melalui wawancara perawat
kepada klien dan keluarga. Data yang langsung didapat oleh
perawat disebut sebagai data primer, dan data yang diambil dari
hasil catatan tim kesehatan lain sebagai data sekunder.
Perawat dapat menyimpulkan kebutuhan atau masalah klien dari
kelompok data yang dikumpulkan. Kemungkinan kesimpulan adalah
sebagai berikut :
a) Tidak ada masalah tetapi ada kebutuhan
1. Klien tidak memerlukan peningkatan kesehatan, tetapi
hanya memerlukan pemeliharaan kesehatan dan
memerlukan tindak lanjut secara periodik karena tidak ada
masalah serta klien telah mempunyai pengetahuan untuk
antisipasi masalah.
2. Klien memerlukan peningkatan kesehatan berupa upaya
prevensi dan promosi, sebagai program antisipasi
terhadap masalah.
b) Ada masalah dengan kemungkinan
1. Resiko terjadi masalah karena sudah ada faktor yang
dapat menimbulkan masalah.
2. Aktual terjadinya masalah disertai data pendukung.

c) Data yang diperoleh kemudian dikelompokkan dan perawat


langsung merumuskan masalah keperawatan dan masalah
kolaboartif. Menurut FASID pada tahun 1983 dan INJF di

11
tahun 1996, umumnya sejumlah masalah klien saling
berhubungan serta dapat digambarkan sebagai pohon masalah
(Keliat, 2005).

3. Diagnosa keperawatan

a. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi Penglihatan dan Pendengaran

b. Isolasi Sosial : Menarik Diri

c. Gangguan Konsep diri : Harga diri rendah

d. Resiko Perilaku Kekerasan

4. Rencana tindakan keperawatan

Dx: Gangguan persepsi sensori halusinasi

Tujuan umum: klien tidak mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan

Tujuan Khusus :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Intervensi :

a. Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan menggunakan/


komunikasi terapeutik yaitu sapa klien dengan ramah, baik secara
verbal maupun non verbal, perkenalkan nama perawat, tanyakan
nama lengkap klien dan panggilan yang disukai, jelaskan tujuan
pertemuan, jujur dan menepati janji, bersikap empati dan menerima
klien apa adanya.

b. Dorong klien mengungkapkan perasaannya.

c. Dengarkan klien dengan penuh perhatian dan empati.

2. Klien dapat mengenal halusinasinya.

12
Intervensi :

a. Intervensi :

b. Adakan kontak sering dan singkat.

c. Observasi segala perilaku klien verbal dan non verbal yang


berhubungan dengan halusinasi.

d. Terima halusinasi klien sebagai hal yang nyata bagi klien, tapi tidak
nyata bagi perawat.

e. Diskusikan dengan klien situasi yang menimbulkan dan tidak


menimbulkan situasi.

f. Diskusikan dengan klien faktor predisposisi terjadinya halusinasi.

3. Klien dapat mengontrol halusinasi.

Intervensi :

Diskusikan dengan klien tentang tindakan yang dilakukan bila


halusinasinya timbul

4. Klien dapat memanfaatkan obat dalam mengontrol halusinanya.

Intervensi :

a. Diskusikan dengan klien tentang cara memutuskan halusinasinya.


b. Dorong klien menyebutkan kembali cara memutuskan halusinasi.
c. Berikan reinforcement positif atas keberhasilan klien
menyebutkan kembali cara memutuskan halusinasinya.

5. Klien mendapat sistem pendukung keluarga dalam mengontrol


halusinasinya.

Intervensi :

a. Diskusikan dengan klien tentang cara memutuskan halusinasinya.

13
b. Dorong klien menyebutkan kembali cara memutuskan halusinasi.

c. Berikan reinforcement positif atas keberhasilan klien menyebutkan


kembali cara memutuskan halusinasinya.

d. Diskusikan dengan klien tentang obat untuk mengontrol halusinasin

1. Kaji kemampuan keluarga tentang tindakan yg dilakukan dalam merawat


klien bila halusinasinya timbul.
2. Diskusikan juga dengan keluarga tentang cara merawat klien yaitu jangan
biarkan klien menyendiri, selalu berinteraksi dengan klien, anjurkan kepada
klien untuk rajin minum obat, setelah pulang kontrol 1 x dalam sebulan.

5. Implementasi

a. Strategi pelaksanaan klien

Sp pasien:

- SP 1 Pasien : Membantu pasien mengenal halusinasi (isi, frekuensi,


waktu), mengajarkan bahwa suara itu tidak nyata, bagaimana respon
dia, bsagaimana respon orang lain ketika halusinasinya timbul,
menjelaskan cara-cara mengontrol halusinasi, mengajarkan pasien
mengontrol halusinasi dengan cara pertama: menghardik halusinasi.

- SP 2 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara


kedua:bercakap-cakap dengan orang lain

- SP 3 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara


ketiga: melaksanakan aktivitas terjadwal

- SP 4 Pasien: Melatih pasien menggunakan obat secara teratur

b. Strategi pelaksanaan keluarga

14
SP 1 Keluarga : Pendidikan Kesehatan tentang pengertian halusinasi,
jenis halusinasi yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi dan
cara-cara merawat pasien halusinasi.

SP 2 Keluarga: Melatih keluarga praktek merawat pasien


langsung dihadapan pasien

SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga

6. Evaluasi

a. Evaluasi pasien

Asuhan keperawatan klien dengan halusinasi berhasil jika klien


menunjukkan kemampuan mandiri untuk mengontrol halusinasi dengan
cara yang efektif yang dipilihnya. Klien juga diharapkan sudah mampu
melaksanakan program pengobatan berkelanjutan mengingat sifat
penyakitnya yang kronis
Evaluasi asuhan keperawatan berhasil jika keluarga klien juga
menunjukkan kemampuan menjadi sistem pendukung yang efektif untuk
klien mengatasi masalah gangguan jiwanya. Kemampuan merawat di
rumah dan menciptakan lingkungan kondusif bagi klien di rumah
menjadi ukuran keberhasilan asuhan keperawatan, di samping
pemahaman keluarga untuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai
jika muncul gejala-gejala relaps.

b. Evaluasi keluarga

15
Keluarga merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan
asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi. Dukungan keluarga
selama pasien di rawat di rumah sakit sangat dibutuhkan sehingga pasien
termotivasi untuk sembuh. Demikian juga saat pasien tidak lagi dirawat
di rumah sakit (dirawat di rumah). Keluarga yang mendukung pasien
secara konsisten akan membuat pasien mampu mempertahankan
program pengobatan secara optimal. Namun demikian jika keluarga tidak
mampu merawat pasien, pasien akan kambuh bahkan untuk
memulihkannya lagi akan sangat sulit. Untuk itu perawat harus
memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar keluarga
mampu menjadi pendukung yang efektif bagi pasien dengan halusinasi
baik saat di rumah sakit maupun di rumah.

Tindakan keperawatan yang dapat diberikan untuk keluarga pasien


halusinasi adalah:

1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien

2) Berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis


halusinasi yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi, proses
terjadinya halusinasi, dan cara merawat pasien halusinasi.

3) Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara


merawat pasien dengan halusinasi langsung di hadapan pasien

4) Buat perencanaan pulang dengan keluarga

16
BAB III

APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Nn.AR dengan halusinasi di


ruang cendrawasih

1. FORMAT PENGKAJIAN

RUANG RAWAT: Ruang Cenderawasih TANGGAL RAWAT: 3 April 2017

A. IDENTITAS KLIEN

Inisial : Nn.AR Tanggal Pengkajian : 6 April 2017

Umur : 25 tahun No. RM : 001/RSEB/RM/2017

Informan : Ny.N

B. ALASAN MASUK RUMAH SAKIT

Pasien masuk RS 2 hari yang lalu, pasien sering menjerit berkata tidak dan pergi
sambil menutup telinganya kemudian menangis. Pasien berteriak dan ketakutan. Ia
berkata ada seseorang yang ingin membunuhnya. Keluarga sudah membawa pasien
tersebut ke dukun untuk diobati tetapi pengobatan itu tidak berhasil.

C. FAKTOR PREDISPOSISI

1. Pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu? Ya Tidak

2. Pengobatan sebelumnya?

Berhasil Kurang Berhasil Tidak Berhasil

3. Penganiayaan Pelaku/Usia Korban/Usia Saksi/Usia

Aniaya Fisik 2

Aniaya Seksual 2
3

Penolakan

17
KDRT

Tindakan Kriminal

Penjelasan no.1,2,3 : Pasien tidak pernah mengalami gangguan jiwa di masa


lalu. Pasien pernah mengalami aniaya fisik (korban
pemerkosaan) pada usia 23 tahun. Dan pasien pernah
mengalami aniaya seksual (korban pemerkosaan) pada
usia 23 tahun.

Masalah Keperawatan : Gangguan konsep diri :Harga Diri Rendah

4. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa? Ya Tidak

Hubungan Keluarga Gejala Riwayat Pengobatan/Perawatan

Masalah Keperawatan : -

5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan : Pasien mengatakan sering


diintip oleh teman lelaki saat ia berada di dalam kamar mandi sekolah pada
saat ia duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Masalah Keperawatan : Berduka disfungsional, Harga Diri Rendah (HDR)

D. MASALAH FISIK

1. Tanda Vital TD: 100/80 mmHg N: 100 x/menit

RR: 24 x/menit T: 36,70 C

2. Ukur TB: 165 cm BB: 47 kg

3. Keluhan Fisik Ya Tidak

Jelaskan : Pasien sering mengeluh sakit pada alat kelaminnya saat


BAK dan sering mengeluh gatal pada alat kelaminnya
pada saat malam hari sehingga pasien takut dan malu
untuk berinteraksi dan takut untuk diketahui oleh orang
lain.

18
Masalah Keperawatan : Harga Diri Rendah, Isolasi Sosial.

E. PSIKOSOSIAL

1. Genogram (3 Generasi)

Keterangan: : Laki-laki

: Perempuan

: Pasien (25 tahun)

: Garis Perkawinan

: Garis Keturunan

Jelaskan : Komunikasi pada keluarga pasien (Nn.An) tidak efektif.


Setiap anak AR mendapatkan masalah, ia tidak pernah
mau untuk menceritakan masalah kepada orang tuanya
maupun kepada saudara kandungnya. Ia biasanya hanya
memendamnya sendiri. Bila ada masalah dalam keluarga,
biasanya tidak dibicarakan kepada seluruh anggota
keluarga. (buat yang tinggal satu rumah dengan garis
putus2)

Masalah Keperawatan : Komunikasi inefektif.

2. Konsep Diri

19
a. Gambaran diri : Pasien merasa jijik dengn dirinya, ia merasa kotor dan
merasa tidak berguna lagi ia hidup di dunia ini.

b. Identitas diri : Menyadari bahwa ia terlahir sebagai wanita.

c. Peran : Pasien merasa sedih karena semenjak kejadian tersebut


pasien berhenti kuliah karena merasa malu dengan
teman-temannya.

d. Ideal diri : Pasien bercita-cita ingin menjadi seorang guru SMA.

e. Harga diri : Semenjak kejadian tersebut keluarga pasien jarang


mengajak pasien untuk berkomunikasi.

Masalah Keperawatan: Pasien mengalami gangguan gambaran diri, peran, ideal


diri, dan gangguan harga diri rendah.

3. Hubungan Sosisl

a. Orang yang berarti: Ayah dan ibu.

b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat (dirumah dan di RS):

Di lingkungan masyarakat: Pasien dulu aktif di lingkungan di


masyarakat, pasien tergabung dalam Remaja Islam masjid.
Di Lingkungan Rumah Sakit: Pasien mau mengikuti kegiatan kelompok
yang diadakan oleh perawat seperti TAK.

c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain (di rumah dan di RS):

Di lingkungan masyarakat: Pasien merasa sulit untuk berkomunikasi


dengan orang lain karena pasien merasa malu dan jijik dengan dirinya
dan merasa semua orang membencinya.
Di lingkungan rumah sakit: Pasien merasa sulit untuk berinteraksi
dengan pasien lain dan petugas kesehatan karena pasien merasa malu.

Masalah Keperawatan : Harga Diri Rendah dan Isolasi Sosial.

4. Spiritual

20
a. Nilai dan Keyakinan : Pasien menganut agama islam.

b. Kegiatan ibadah : (di rumah dan di RS)

Pada saat sebelum kejadian pemerkosaan pasien sangat tekun beribadah


namun setelah kejadian itu pasien kadang-kadang beribadah dan kadang-
kadang tidak.

Pada saat dirumah sakit pasien tidak pernah sholat sehingga pasien
merasa gelisah dan tidak tenang

Masalah Keperawatan : Distress spiritual.

F. STATUS MENTAL

1. Penampilan Tidak Rapi Penggunaan pakaian Cara berpakaian

tidak sesuai seperti biasanya

Jelaskan : pakaian pasien tidak rapi, letak kancing tidak benar, dan
pakaiannya kusut.

Masalah Keperawatan : defisit perawatan diri

2. Pembicaraan

Cepat Keras Gagap Agitasi

Apatis Lambat Membisu Tidak mampu memulai

Pembicaraan

Jelaskan : pasien tampak tegang saat berbicara, mata melotot


tertuju pada satu titik, lalu tiba-tiba pasien menjerit
sambil menutup telinga.

Masalah Keperawatan : kerusakan komunikasi verbal (agitasi), halusinasi

3. Aktifitas Motorik


21
Tik Grimsen Tremor Kompulsif

Jelaskan : mata tampak melotot dan tertuju pada satu titik dan
pasien tampak terlihat ketakutan.

Masalah Keperawatan : Halusinasi penglihatan

4. Alam perasaan

Sedih Ketakutan Putus asa Khawatir Gembira berlebihan

Jelaskan : Pasien tampak ketakutan sambil menutup mata dan


telinga serta mengatakan tidak, bahkan pasien sampai
menangis.

Masalah Keperawatan : Gangguan alam perasaan : ketakutan.

5. Afek

Datar Tumpul Labil Tidak sesuai

Jelaskan : Pasien kadang tampak diam dan tiba-tiba menjerit


dengan mata melotot dan gerakan tangan seperti
menghalau sesuatu.

Masalah Keperawatan : Gangguan alam perasaan :labil.

6. Interaksi selama wawancara

Bermusuhan Tidak kooperatif Mudah tersinggung

Kontak mata kurang Defensif Curiga

Jelaskan : Pasien tampak tidak kooperatif ketika menjawab


pertanyaan dari perawat, pasien menutup mata dan
menutup telinga.

Masalah Keparawatan : Kerusakan komunikasi verbal.

7. Persepsi halusinasi

22
Pendengaran Penglihatan Perabaan

Pengecapan Penghidu

Jelaskan : Kapan terjadinya,respon pasien terhadap kita saat terjadi


halusinasi, frekuensi halusinasi, lamanya halusinasi, isi
halusinasi, fase halusinasi

pasien tampak ketakutan sambil menutup telinga dan


memandang pada satu titik lalu berkata tidak dan
pergi. Tangan pasien seperti menghalau sesuatu yang
ada di depannya.

Masalah Keperawatan : Halusinasi pendengaran dan penglihatan.

8. Proses pikir


Sirkumstansial Tangensial Kehilangan asosiasi

Flight of idea Blocking Pengulangaan pembicaraan/

Preservasi

Jelaskan : Ketika menjawab pertanyaan perawat pasien terlihat


berbelit-belit (tujuannya sampai) dalam menjawab
pertanyaan perawat

Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir

9. Isi pikir

Obesesi Phobia Hipokondria

Depolarisasi Ide yang terkait Pikiran magis

Waham

Agama Somatik Kebesaran Curiga

Nihilistik Sisip pikir Siar pikir Kontrol pikir

23
Jelaskan : pasien tampak ketakutan dengan mata melotot pada satu
titik dan menutup telinga. Dan pasien terlihat curiga
terhadap perawat yang mencoba berinteraksi dengannya

Masalah Keperawatan : Halusinasi penglihatan dan pendengaran.

Waham curiga

10. Tingkat kesadaran



Bingung Sedasi Stupor

Disorientasi

Waktu Tempat
Orang

Jelaskan : Pasien selalu salah menyebutkan nama orang yang


ditunjuk oleh perawat

Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir

11. Memori

Gangguan daya ingat jangka panjang Gangguan daya ingat jangka pendek

Gangguan daya ingat saat ini

Jelaskan : Ketika ditanya oleh perawat terhadap aktivitas yang baru


saja dilakukan pasien tidak ingat

Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir.

12. Tingkat konsentrasi dan berhitung

Mudah beralih Tidak mampu berkonsentrasi Tidak mampu

berhitung sederhana

Jelaskan : saat ditanya pasien tidak mampu berkonsentrasi. Pasien


terlihat bingung dan menggeleng.

Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir.

24
13. Kemampuan penilaian

Gangguan ringan Gangguan bermakna

Jelaskan : pasien masih dapat melakukan kegiatan sehari-


hari seperti makan dan minum sendiri (jika
diberikan pertanyaan mis. Apakah mau mandi dulu
apa mau makan dulu).

Masalah Keperawatan : gangguan proses pikir.

14. Daya tilik diri

Mengingkari penyakit yang diderita Menyalahkan hal-hal di luar dirinya

Jelaskan : pasien menyalahkan orang tuanya yang tidak mau


mendengarkan dan membantu menyelesaikan
masalahnya. Pasien juga menyalahkan laki-laki yang
telah memperkosanya karena kasus perkosaan itu
menyebabkan dia merasa kehilangan masa depannya.

Masalah Keperawatan : Isolasi sosial : menarik diri

G. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG (dikaji kemampuan pasien selama di RS)

1. Makan dan minum

Bantuan minimal Bantuan Total

Jelaskan : Pasien masih dibantu dalam hal menyiapkan makan dan


minum namun dapat makan dan minum sendiri.

Masalah Keperawatan : -

2. BAB/BAK

Bantuan minimal Bantuan Total

25
Jelaskan : Pasien dapat melakukan BAB/BAK tanpa bantuan orang
lain

Masalah Keperawatan : -

3. Mandi

Bantuan minimal Bantuan Total

Jelaskan : Pasien dapat mandi sendiri tanpa bantuan dari orang lain

Masalah Keperawatan : -

4. Berpakaian/berhias

Bantuan minimal Bantuan Total

Jelaskan : Pasien masih di bantu untuk menyisir rambut.

Masalah Keperawatan : Deficit perawatan diri (berhias).

5. Istirahat dan tidur

Tidur siang lamanya: 1 jam

Tidur malam lamanya: sulit, sering mendengar suara-suara yang ingin


membunuhnya.

Kegiatan sebelum/sesudah tidur: membaca doa.

Jelaskan : Tidur siang lamanya 1 jam, saat tidur malam pasien


mengalami kesulitan untuk tidur dan sering mendengar
suara-suara yang ingin membunuhnya, kegiatan yang
dilakukan pasien sebelum tidur yaitu membaca doa.

Masalah Keperawatan : Gangguan pola tidur.

6. Penggunaan obat

Bantuan minimal Bantuan Total

Jelaskan : Pasien selalu diingatkan untuk minum obat.

26
Masalah Keperawatan : Ketidakefektifan penatalaksanaan program teraupetik.

Dikaji kemampuan pasien yang dapat dilakukan di rumah :

7. Pemeliharaan kesehatan Ya Tidak

Perawatan lanjutan

Sistem pendukung

Jelaskan : Pasien dapat mengatasi halusinasinya dengan bantuan keluarga

Masalah Keperawatan : -

8. Kegiatan di dalam rumah Ya Tidak

Mempersiapkan makanan

Menjaga kerapian rumah

Mencuci pakaian

Pengaturan keuangan

Jelaskan : Pasien tidak dapat melekukan kegiatan didalam rumah


seperti mencuci pakaian dan mengatur keuangan.

Masalah Keperawatan : -

9. Kegiatan di luar rumah Ya Tidak


Belanja

Transportasi

Jelaskan : Pasien dapat berbelanja namun dengan melihat catatan belanja


dan pasien dapat menggunakan transportasi (angkutan umum)
untuk berbelanja

Masalah Keperawatan : -

27
H. MEKANISME KOPING

Adaptif Maladaptif

Bicara dengan orang lain Minum alkohol

Mampu menyelesaikan masalah Reaksi lambat/berlebih

Teknik Relokasi Bekerja berlebihan

Aktivitas konstruktif Menghindar

Olahraga Mencederai diri

Lainnya ........... Lainnya ..............

28
DATA MASALAH/DIAGNOSA KEPERAWATAN
SUBJEKTIF
- Pasien mengatakan bahwa Gangguan persepsi sensori: halusinasi
ada orang yang akan (pendengaran dan penglihatan)
membunuhnya.
- Pasien mengatakan bahwa ia
melihat segerombolan laki-
laki yang datang
menghampirinya dan akan
memperkosanya.
- Pasien mengatakan bahwa ia
merasa ketakutan.

OBJEKTIF
- Pasien tampak ketakutan
- Pasien menutup kedua
telinga sambil berkata
tidak dan pergi.
- Bibir pasien tampak gemetar
- Pasien tampak berkeringat
- Pandangan tertuju pada satu
titik.
- Pasien menggerakan tangan
seperti mengusir sesuatu

SUBJEKTIF
Pasien mengatakan bahwa Isolasi Sosial : Menarik Diri
hidupnya sudah tidak
berguna lagi dan kotor
setelah diperkosa.
Pasien mengatakan bahwa
sering merasakan kesepian
dan ditolak oleh orang tua
maupun saudara-saudaranya.
Pasien mengatakan bahwa
hubungannya dengan orang
lain tidak ada gunanya.

OBJEKTIF 29
Pasien tidak mau bicara.
Pasien menyendiri dan ridak
Jelaskan : Ketika sedang menghadapi masalah pasien lebih sering
menghindar dan melupakan masalah tersebut.

Masalah Keperawatan : Koping individu inefektif.

ANALISA DATA

I. ASPEK MEDIK

Diagnosa medis : Skizofrenia

Terapi medik : Dengan pemberian psikofarmakoterapi. Yaitu dengan menggunakan


obat-obatan anti psikotik yaitu:

golongan butiroferon: Haloperidol, Haldol, Serenace, Ludomer. Pada kondisi


akut biasanya diberikan dalam bentuk injeksi melalui Intramuskular (IM)
dengan dosis 3x5 mg. Pemberian injeksi biasanya cukup 3x24 jam. Setelah klien
diberikan obat per oral 3x1,5 mg atau 3x5 mg.

Golongan fenotiazine: Chlorpromazine/ Largactile/ Promactile. Biasanya


diberikan per oral. Pada kondisi akut biasanya diberikan 3x100 mg. Apabila
kondisi sudah stabil, dosis dapat dikurangi 1x100 mg pada malam hari saja.

J. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN


1. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Penglihatan dan Pendengaran

2. Isolasi Sosial : Menarik Diri

3. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah

30
4. Resiko Perilaku Kekerasan

5. Defisit Perawatan diri

6. Regimen perawatan tidak efektif

7. Distress spiritu

K. POHON MASALAH (buat cabang dari masalah keperawatan yang terdapat di


pengkajian)

Resiko Perilaku
Kekerasan

Gangguan Persepsi
Core Problem
Sensori : Halusinasi
Penglihatan dan
Pendengaran

Isolasi Sosial :
Menarik Diri

Gangguan Konsep
diri : Harga Diri
Rendah

L. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi Penglihatan dan Pendengaran

2. Isolasi Sosial : Menarik Diri

3. Gangguan Konsep diri : Harga diri rendah

4. Resiko Perilaku Kekerasan

31
1. ANALISA DATA

Diagnosa Perencanaan
Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasiona
Keperawatan
Gangguan Tujuan umum:
persepsi Klien dapat
sensori; berhubungan
Halusinasi dengan orang lain
Pendengaran untuk mencegah
dan timbulnya
penglihatan halusinasi. -Ekspresi wajah 1. Bina hubungan saling 1. H
Tujuan khusus: bersahabat, klien nampak percaya dengan klien dengan percaya
1. Klien dapat tenang, mau berjabat menggunakan/ komunikasi interaks
membina hubungan tangan, membalas salam, terapeutik yaitu sapa klien klien.
saling percaya. mau duduk dekat perawat. dengan ramah, baik secara
verbal maupun non verbal,
perkenalkan nama perawat,
tanyakan nama lengkap klien
dan panggilan yang disukai,
jelaskan tujuan pertemuan,
jujur dan menepati janji,
bersikap empati dan menerima
klien apa adanya.
2. Dorong klien 2. Me
mengungkapkan perasaannya. yang dia
3. Dengarkan klien dengan 3. Ag
penuh perhatian dan empati. diperha

-Klien dapat membedakan


antara nyata dan tidak 1. Adakan kontak sering dan 1. Me
2. Klien dapat nyata. singkat. kosong

32
mengenal menyeb
halusinasinya. halusina
2. Observasi segala perilaku 2. Halu
klien verbal dan non verbal terlebih
yang berhubungan dengan interven
halusinasi. 3. Me
3. Terima halusinasi klien klien d
sebagai hal yang nyata bagi klien.
klien, tapi tidak nyata bagi
perawat. 4. Pera
4. Diskusikan dengan klien memban
situasi yang menimbulkan dan melakuk
tidak menimbulkan situasi. keperaw
5. Diskusikan dengan klien 5. Den
faktor predisposisi terjadinya faktor
halusinasi. memban
-Klien dapat menyebutkan mengon
3. Klien dapat tindakan yang dapat
mengontrol dilakukan apabila 1. Me
halusinasi. halusinasinya timbul. 1. Diskusikan dengan klien yang
. tentang tindakan yang mengon
-Klien akan dapat dilakukan bila halusinasinya
menyebutkan cara timbul.
memutuskan halusinasi 1.
yaitu dengan melawan pengeta
suara itu dengan 1. Diskusikan dengan klien cara
mengatakan tidak mau tentang cara memutuskan halusina
mendengar, lakukan halusinasinya. 2. Has
kegiatan : 2. Dorong klien menyebutkan bukti d
menyapu/mengepel, kembali cara memutuskan atas apa

33
minum obat secara teratur, halusinasi. 3. Meni
dan lapor pada perawat 3. Berikan reinforcement klien
pada saat timbul halusinasi. positif atas keberhasilan klien
menyebutkan kembali cara
4. Klien dapat -Klien mau minum obat memutuskan halusinasinya.
memanfaatkan obat dengan teratur.
dalam mengontrol 1.
halusinanya. 1. Diskusikan dengan klien pengeta
tentang obat untuk mengontrol fungsi o
halusinasinya. agar k
5. Klien mendapat -Klien mendapat sistem obat sec
sistem pendukung pendukung keluarga.
keluarga dalam 1. Me
mengontrol 1. Kaji kemampuan keluarga yang
halusinasinya. tentang tindakan yg dilakukan keluarga
dalam merawat klien bila klien.
halusinasinya timbul.
2. Diskusikan juga dengan 2.
keluarga tentang cara merawat pengeta
klien yaitu jangan biarkan tentang
klien menyendiri, selalu klien.
berinteraksi dengan klien,
anjurkan kepada klien untuk
rajin minum obat, setelah
pulang kontrol 1 x dalam
sebulan.

2. CATATAN PERKEMBANGAN

34
No Tanggal Diagnosa Tujuan Implementasi Evaluasi
Keperawatan

1. 6-4-2010 Gangguan Tujuan umum:


persepsi Klien dapat
sensori: berhubungan dengan
Halusinasi orang lain untuk
Pendengaran mencegah timbulnya
dan halusinasi.
penglihatan Tujuan khusus:
1. Klien dapat 1. Membina hubungan saling S:
membina hubungan percaya dengan klien dengan - Klien menjawab
saling percaya. menggunakan/ komunikasi - Klien menyebu
terapeutik yaitu sapa klien nama panggilann
dengan ramah, baik secara - Klien men
verbal maupun non verbal, mendengar
perkenalkan nama perawat, mengancam akan
tanyakan nama lengkap klien - Klien Pasien
dan panggilan yang disukai, melihat segerom
jelaskan tujuan pertemuan, datang mengha
jujur dan menepati janji, memperkosanya.
bersikap empati dan O:
menerima klien apa adanya. - Klien sudah
2. Mendorong klien menatap perawat
mengungkapkan - Klien tidak la
perasaannya. lain.
3. Mendengarkan klien A:
dengan penuh perhatian dan - Klien mampu
empati. saling percaya de
- Klien mam
perasaannya.

35
P:
Pasien:
- Klien mengula
dilakukan berdas
harian yang t
perawat.
Perawat :
- Mengevaluasi
2. Klien dapat dilakukan dan m
mengenal tindakan selanjut
halusinasinya. 1. Mengadakan kontak sering
dan singkat. S:
2. Mengobservasi segala - Pasien
perilaku klien verbal dan non halusinasinya
verbal yang berhubungan pedengaran dan p
dengan halusinasi. - Pasien menyeb
3. Menerima halusinasi klien ia melihat segero
sebagai hal yang nyata bagi datang mengha
klien, tapi tidak nyata bagi memperkosanya
perawat. yang mengancam
4. Mendiskusikan dengan - Pasien dapat m
klien situasi yang (seberapa serin
menimbulkan dan tidak halusinasi, yaitu
menimbulkan halusinasi. - Pasien menyebu
5. Mendiskusikan dengan menyebabkan
klien faktor predisposisi yaitu saat dia sen
terjadinya halusinasi. - Pasien menga
yang digunakan
halusinasi yait
halusinasinya de

36
dan mengusirny
pergi.
O: -
A:
- Klien mampu m
P:
Pasien :
- Menganju
menginga
yang me
halusinasi
- Klien me
telah d
jadwal k
telah dibu
Perawat :
3. Klien dapat Mengevaluasi
mengontrol dilakukan dan m
halusinasi. tindakan selanjut
. 1. Mendiskusikan dengan klien mengontrol
klien tentang tindakan yang
dilakukan bila halusinasinya S: - Klien
timbul yaitu: O:
- Mengajarkan klien - Klien
cara menghardik menghard
halusinasi - Klien
- Mengajarkan klien dengan o
untuk berbincang- pasien lai
bincang dengan orang - Klien me
lain dll.

37
- Mengajarkan klien A: Klien mampu
untuk melakukan
aktivitas, seperti P:
menyapu, mengepel Pasien :
lantai dll. Klien mengulan
dilakukan (berl
halusinasi) berda
harian yang t
4. Klien dapat perawat.
memanfaatkan obat Perawat:
dalam mengontrol Mengevaluasi
halusinanya. 1. Mendiskusikan kepada dilakukan dan m
klien tentang penggunaan tindakan selanjut
obat untuk mengontrol
halusinasi, meliputi: 4 Benar S:
(Benar obat, dosis, waktu, - Klien me
cara penggunaan), indikasi pengguna
obat, efek samping obat. Benar.
- Klien men
- Klien da
samping o
O: Klien men
benar
A: Klien mampu
dengan mengkon
P:
Pasien :
Menganjurkan k
5. Klien mendapat tentang pengg
sistem pendukung memasukkan ja

38
keluarga dalam jadwal kegiatan h
mengontrol 1. Mengkaji kemampuan bersama perawat
halusinasinya. keluarga tentang tindakan yg Perawat :
dilakukan dalam merawat Mengevaluasi
klien bila halusinasinya dilakukan dan m
timbul. tindakan selanjut
2. Mendiskusikan juga
dengan keluarga tentang cara S:
merawat klien yaitu jangan - Keluarga
biarkan klien menyendiri, yang ha
selalu berinteraksi dengan merawat k
klien, anjurkan kepada klien - Keluarga
untuk rajin minum obat, mengatas
setelah pulang kontrol 1 x mengalam
dalam sebulan - Keluarga
menganju
mengguna
mengontr
O:
- Keluarga
mendukun
- Keluarga
klien men
A:
Keluarga menduk
perawatan klien d
P:
Keluarga :
Menganjurkan
klien dalam meng

39
Perawat :
Mengevaluasi
dilakukan dan m
tindakan selanjut

Lampiran

Format pengkajian Asuhan keperawatan jiwa

Petunjuk pengisian format pengkajian asuhan keperawatan jiw

BAB IV

PENUTUP
A. Kesimpulan
Halusinasi ialah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indera
seorang pasien, yang terjadi dalam kehidupan sadar atau bangun, dasarnya mungkin
organik, fungsional, psikopatik ataupun histerik.
B. Saran
Sebagai perawat baiklah kita untuk lebih mengkaji lebih dalam mengenai asuhan
keperawatan pada klien dengan peritonitis agar kita dapat mengangkat diagnosa
diagnosa yang akan di ambil demi kualitas asuhan keperawatan di lapangan dan demi
membangun kualitas keberasilan dari asuhan keperawatan.

40
DAFTAR PUSTAKA

Boyd, M.A &Ningart,M.A.1998. Psychiatric Nuersing cotemporary practice ,edisi 9 th


.philadelphis ; Lippincott Raven pudlisrs.Carpenito ,L.J,1998 .Buku Saku Diagnosa
keperawatan {terjemahan } .Edisi 8,Jakarta ;EGC.

Kliat ,B.A.1997. Proses Keperawatan

Kesehatan jiwa .Jakatar ; EGC

Keliat,B,A.1999. prose keperawatan

Kesehatan jiwa .Jakarta ;EGC.

Keliat ,B.A.2006 .Proses keperawata kesehatan jiwa. Jakarta ;EGC.

41