Anda di halaman 1dari 5

Post Balance Sheet Event dan Contingent Liabilities and Assets

Asriana Eka Putri / 1306395193

Post Balance Sheet Event dan Subsequent Events

Periode Post-Balance Sheet adalah periode pengecekan sebagai bagian


dari substative testing agar auditor dapat melihat permasalahan yang
lebih harus diperhatikan di akun-akun laporan keuangan. Post Balance
Sheet harus dikerjakan dalam periode substative testing dan diperiksa
pada laporan balance sheet dan profit or loss. Post Balance Sheet erat
kaitannya dengan subsequent events suatu event, favorable dan
unfavorable yang dapat terjadi antara balance sheet date dan waktu
ketika financial statement ditentukan untuk diissue dua event yang bisa
di identifikasi antara lain:

a. Kondisi evidence yang ada ketika tanggal jatuh tempo balance sheet
b. Kondisi indikatif yang terjadi setelah tanggal jatuh tempo balance
sheet.

Dengan mengambil contoh pengaplikasian sesuai dengan IAS 10, maka


asumsikan kita memiliki operating profit sebesar 100000. Lalu kita
melakukan pencatatan sesuai dengan tanggalan event yang terjadi
seperti berikut:

23 Januari Memasukkan 100000 ke Catatan: -


2012 dalam likuidasi
18 Feb Terjadi kebakaran di gudang Catatan:
2012 yang menyebabkan - Kebakaran = peristiwa
hilangnya inventory sebesar indikatif dan tidak
250000; auditor juga terduga
menemukan error dalam - Penemuan error
pengalokasian overhead menjadi overstated
sehingga kehilangan akibat menjadi catatan post
kebakaran overstated event yang material
500000 related ke profit
16 Mar Perusahaan dituntut Catatan: later
2012 konsumer karena kerusakan
barang dari pabrik
7 Apr 1012 Perusahaan menjual head Catatan: tidak berbuhungan
office seharga historical cost, dengan post event balance
profit 2000000 date.
30 Jul 2012 Pemerintah melarang Immediate effect dari
penjualan barang saleability produk itu sendiri.
perusahaan
Penjelasan terkait peristiwa di tanggal-tanggal berikut hubungannya
dengan post-balance sheet event:

a. 23 Januari auditor harus mengetauhui probabilitas event ini untuk


terjadi karena likuidasi ini terjadi sebelum selesainya pekerjaan di
lapangan.
b. 18 februari Tanggal ini merupakan periode dimana draft laporan
keuangan sudah disiapkan. Terjadinya kebakaran yang
menyebabkan kerugian inventory mengharuskan auditor untuk
menanyakan detail terkait inventory tersebut dan estimasi NRV nya,
selain itu kesalahan overstated akibat salah alokasi dalam inventory
dapat menyebabkan keraguan dalam integritas kerja manajemen,
c. 16 Maret Event ini terjadi setelah komisaris telah menanda tangani
laporan keuangan tetapi belum dikirim kepada shareholders. Dalam
hal ini auditor harus melakukan ketiga hal dibawah ini menurut ISA
560:
a. Diskusi dengan pihak manajemen dan pihak terkait
pemerintahan
b. Menentukan apakah laporan keuangan membutuhkan
amandemen atau tidak
c. Apabila iya, maka menanyakan kepada manajemen
bagaimana keputusan yang terbaik yang dapat diambil untuk
menjelaskan permasalahan ini di laporan keuangan.
Setidaknya ada dua kemungkinan yang bisa diambil oleh
manajemen:
1. Membuat amandemen laporan keuangan. Mereka aka membuat
laporan keuangan baru dan mendata tangani laporan tersebut di
tanggal yang baru. Konsekuensi yang dihadapi auditor adalah
mereka harus membuat laporan audit yang baru dengan
tambahan prosedur audit lebih baru lagi.
2. Tidak membuat amandemen laporan keuangan. Maka auditor
harus membuat qualified opinion atau adverse opinion.
d. 7 April Event ini terjadi ketika laporan keuangan sudah diserahkan
shareholders maka auditor harus prosedur yang sama dengan event
sebelumnya atau auditor dapat memberikan saran untuk membawa
AGM untuk menginformasikan shareholders terkait non adjusting
event tersebut.
e. 30 Juli Auditor yang tidak menyangka peristiwa ini akan terjadi
namun apabila pertimbangan peristiwa ini dapat terjadi maka ia
harus mendiskusikan permasalahan ini dengan manajemen untuk
mengambil tindakan.

Provision, Contingent Liabilities dan Assets

Provisions
Provision sering diguanakan oleh perusahaan untuk menututpi big loss
yang dimiliki perusahaan atau biasa disebut dengan income smoothing.
Namun, provision memiliki no obligation dimana hal tersebut
menghilangkan big bath accounting. Pada kenyataannya
pengaplikasiannya sangat tidak berhubungan dengan fair value
accounting namun provision sering dilakukan untuk memuat manajemen
terlihat baik pada subsequent years. IAS 37 menyebutkan bahkan
provision perlu dilakukan apabila suatu entitas memiliki present
obligation.

Present obligation terjadi karena past event dan memerlukan beberapa


judgment sebelum dilakukan asersi. Auditor mungkin untuk meminta legal
advice untuk meminta saran terkait hukum yang dilakukan terkait
provision. Auditor juga perlu diskusi terkait dengan teknologi dan
ekspetasi dengan expert di dalam dan luar perusahaan.Apabila jelas
terbukti ada obligasi terkait event yang membutuhkan provision maka
auditor membutuhkan evidence untuk mendukung estimasi seperti clean
up cost dan melihat apakah apa yang diestimasi oleh perusahaan tersebut
reliable.

Untuk memenuhi criteria completeness, provision harus sepenuhnya


dilakukan pengakuan sesuai dengan IAS 37 atau FRS 12 dimana disana
dijelaskan bahwa perusahaan harus mengakui clean up cost dan biaya
yang timbul akibat property dan health of third parties harus dipisahkan.

Contingencies

Contingent liabilities memiliki dua pengertian, antara lain:

a. Kemungkinan obligasi yang timbul dari past event yang


keberadaannya dapat dibuktikan dengan kejadian satu atau lebih
uncertain future events yang tidak sepenuhnya tanggung jawab
entitas.
b. Obligasi sekarang yang muncul akibat past event tapi tidak diakui
karena: tidak probable sehingga transfer economic benefit
diperlukan atau jumlah obligasi tidak dapat diukur dengan sufficient
realibility.

Contingent Asset muncul akibat past event yang kehadirannya hanya


dapat di konfirmasi dengan kejadian maupun bukan kejadian satu atau
lebih yang tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab entitas.

Perlakuan akuntansi terhadap contigencies cukup rumit. Akan menjadi


permasalahan bagi auditor karena aspek ketidakjelasan dan kejelasan dari
probabilitas remote ke probable. Hal ini menjelaskan perlakuan yang
dilakukan adalah dengan post balance sheet review yang menjelaskan
existence dan nature dari contigencies. Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam pekerjan auditor terkait contigencies:

1. Dewan Komisaris diharapkan mempertimbangkan estimasi dari hasil


dan efek financial contigencies uptodate untuk menyetujui laporan
keuangan
2. Dewan Komisaris harus mereview peristiwa yang terjadi setelah
tanggal balance sheet untuk menyetujui akun-akun tersebut.
3. Perlakuan akuntansi terkait contigencies bergantung dengan
expected outcome dan nature nya.

IAS 37 tidak mengijinkan contigencies liabilities untuk diakui karena


mereka tidak seharusnya menjadi subjek adjustment di financial
statement. Namun, contigent liabilities dapat di asersi secara berkontinu
untuk menentukan transfer economic benefits menjadi probable untuk
diakui sebagai provision. Apabila transfer economic benefitnya remote
maka contigency tidak diperlukan untuk dilakukan pengakuan. IAS 37
menjelaskan deskripsi contigent liability:

a. Memiliki estimasi efek finansial


b. Memiliki indikasi uncertainties terkait jumlah dan timing dari outflow
c. Kemungkinan untuk adanya reimburstment.

Ketiga hal tersebut menjelaskan pada manajemen dan auditor untuk


mengasersi derajat dari probabilitas dan kemampuan contigent liability
untuk memiliki hasil transfer economic benefits (remote, probable, dan
ditengah-tengah). Sehingga manajemen dan auditor harus membuat
keputusan terkait probabilitas yang dimiliki contigencies tersebut apakah
virtually certain atau probable. Contingent asset yang secara realisasi
mungkin dan tidak boleh diakui.

Kesulitan yang mungkin dihadapi adalah fakta bahwa non-receipt grant


dapat mempengaruhi status going concern dari perusahaan dan auditor
dapat memperhatikan untuk memperlakukan suatu item menjadi aset
yang sesungguhnya dan menjadi salah satu bagian untuk
mengembangkan balance sheet sehingga auditor harus kembali
mendikusikan hal ini kepada manajemen dan pihak perusahaan. Apabila
setelah berdiskusi jelas bahwa kesempatan untuk mendapatkan
permintaan dimana tidak menjadi virtually certain dan di past event
adalah probable maka disclosure dibutuhkan. Pengakuan dibutuhkan
untuk menjelaskan aplikasian dan jumlah yang di applied, pengakuan
tidak boleh memberikan misleading impression dari kemungkinan
permintaan yang dapat diberikan.