Anda di halaman 1dari 14

Memahami Politik Persahabatan Jacques Derrida

POLITIK PERSAHABATAN
Konsep Derrida tentang Politik
Yon Wiryono
I. Catatan Awal

Jacques Derrida (1930-2004) terkenal dengan teori dekonstruksi yang


digagasnya. Banyak pihak memandang dekonstruksi sebagai corak berpikir
yang nihilistik dan menganggapnya sebagai bentuk intellectual
gimmick belaka. Namun, dekonstruksi sama sekali bukan bagian dari
nihilisme naif yang selalu menafikan kebenaran. Dekonstruksi justru
bergerak melampaui nihilisme menuju makna dan kebenaran yang paling
dalam. Karena itu, petualangan dekonstruksi bersama Derrida adalah
pengembaraan bersama realitas (Derrida menyebutnya teks), mengalir
bersama teks sambil menikmati indahnya arus teks. Teks demikian akan
tampak bagaikan medan yang menjanjikan tantangan dalam penjelajahan
sejati menuju ruang-ruang makna yang paling dalam. Namun, kita kemudian
tak akan pernah sampai pada ruang makna, selain hanya bisa bersulang
dalam bayang-bayang sambil meniti jejak-jejak makna.

Tulisan ini menghadirkan dekonstruksi Derrida atas politik. Sejumlah butiran


makna pemikirannya yang kontroversial, unik dan menarik selalu
dikonstruksi dalam dekonstruksi. Tidak heran kalau pemikirannya selalu
aktual dan menjadi alternatif bagi bertakhtanya makna-makna baru yang
segar dan provokatif pada segala konteks kehidupan. Demikian pun dalam
dunia politik, dekonstruksi menyajikan perpektif yang lebih tajam dan radikal
terhadap pelbagai problem dan idelologi politik saat ini. Tanggapan kritis-
dekonstruktif Derrida atas politik diuraikan dalam bukunya yang terkenal The
Politics of Friendship (Politik Persahabatan). Tulisan ini bertujuan untuk
memahami dan memperkenalkan Politik Persahabatan Derrida.
II. Mendekonstruksi Politik

Semangat Dekonstruksi

Dekonstruksi dapat dipandang sebagai tantangan terhadap totalitas


makna, penafsiran, atau pengetahuan yang terlembagakan dalam sejarah,
institusi sosial, kultur, politik dan pelbagai realitas yang dinamakan Derrida
sebagai teks (segala sesuatu adalah teks). Dari sudut pandang ini,
dekonstruksi dapat dianggap sebagai sebuahhermeneutika radikal.[1] Ia
menyajikan tafsiran atas kenyataan, tetapi tidak pernah berpretensi
menjadikan tafsir itu satu-satunya pusat kebenaran atau pemilik otoritas
kebenaran. Tafsiran itu berasal dari kepekaan akan adanya perbedaan yang
mencirikan realitas (teks) yang ada.

Dekonstruksi selalu terjadi dalam teks. Teks adalah universum tanpa


batas; sebuah bentangan pemaknaan yang menghampar, bertaut tanpa
akhir, jalin-menjalin, melimpah-ruah ke segala penjuru, terus menerus dan
mengalir tiada henti. Yang terbaca di sana adalah gerak tak berarah yang
bergulir dari satu medan ke medan baru, menerabas batas dan menembus
ruang yang tersembunyi. Gerak sebuah teks tidak mempunyai awal dan tak
kunjung final, sebuah gerak menjelajah yang tak punya tujuan pasti kecuali
seperti mengikuti arah mata angin yang tak selamanya tetap.

Dalam kerangka inilah sebuah teks tidak pernah berpretensi hadir


sebagai sesuatu yang bulat dan selesai. Di sana, ada proses yang tak
kunjung selesai dan tak pernah menemukan format rumusan akhir yang
mutlak. Itulah semangat dekonstruksi, semangat mencari kebenaran dan
makna tanpa akhir. Dalam semangat yang sama, Derrida mencoba
memahami dan berpikir ulang tentang apa itu politik dan bagaimana terlibat
di dalamnya. Dalam usaha itu, Derrida memperbaharui dan memperkaya
orientasi politiknya melalui dekonstruksi filsafat politik Carl Schmitt dan
gagasan persahabatan menurut Aristoteles.
Mendekonstruksi Filsafat Politik Carl Schmitt

Menurut Carl Schmitt, landasan semua politik adalah pemisahan


tegas antara teman dan musuh politik. Tidak ada politik tanpa musuh. Politik
menjadi mungkin karena kehadiran sosok musuh.[2] Tidak adanya
perbedaan antara teman dan musuh dalam politik tidak lagi disebut politik
(non-politik).Kehilangan sosok musuh menjadi lonceng kematian politik,
menyebabkan musnahnya politik itu sendiri, Di sini, politik selalu
mengandaikan kehadiran oposisi dan antagonisme dalam struktur teman-
musuh. Fakta antagonisme itu akan melahirkan polemik yang menciptakan
ketegangan dan konflik teman-musuh politik. Dengan itu,Schmitt bermaksud
menjelaskan hubungan ontologi teman-musuh sebagai esensi substansial
politik. Menurutnya, secara harafiah, politik perlu dan cukup ditandai dengan
diferensi teman-musuh. Dalam oposisi dimaksud, Schmitt menunjukkan
identifikasi musuh (permusuhan) sebagai permulaan politik. Di sini, yang
penting untuk Schmitt adalah penamaan dan proses pengenalan musuh.
Keputusan politik dimulai saat mengenal musuh atau mengidentifikasi
musuh.[3]

Dari pemikiran Schmitt di atas, Derrida membuat analisis dekonstruktif


yang menarik. Ia memulai dekonstruksinya dengan bertanya, apakah
mungkin ada politik tanpa musuh, politik di antara teman-teman? Meski itu
tidak mungkin, namun bagi Derrida, ketidakmungkinan mesti dilihat sebagai
dasar kemungkinannya. Menurut Derrida, segala sesuatu menjadi mungkin.
Yang mungkin (the imposible) dan yang tak mungkin (the imposible)
bukanlah dua hal yang bertentangan secara total. Dalam kerangka demikian,
konsep politik yang dilandasi dengan persahabatan; politik di antara teman-
teman menjadi mungkin. Kondisi kemungkinan ini menjadi pintu masuk
dekonstruksi pemikiran Schmitt. Menurut Derrida, konsep Schmitt tentang
politik yang dilandasi permusuhan berpotensi menciptakan perang. Bahkan,
Schmitt mengusulkan politik sebagai perang dan perang sebagai
politik. Perang itu adalah pemanifestasian tokoh teman dan musuh. Dunia
tanpa politik adalah sebuah dunia di mana kemungkinan perang sama sekali
tidak ada, sebuah dunia yang benar-benar tenang. Bagi Schmitt, dunia
model demikian akan menjadi dunia tanpa perbedaan teman- musuh dan
oleh karena itu menjadi dunia tanpa politik. Dengan kata lain, politik tidak
ada tanpa diferensi teman-musuh.

Derrida melihat dampak lanjut dari pemisahan teman-musuh dalam


bentuk perang. Perang itu akan melibatkan teman-musuh dengan pelbagai
sentiment dan kepentingan yang diperjuangkan. Ketegangan dan tabrakan
kepentingan dengan mudah melahirkan konflik yang berujung pada tindak
kekerasan, intimidasi dan represif. Rahim politik demikian akan terbiasa
melahirkan banyak tindakan destruktif. Derrida melihat adanya potensi
kekerasan yang lahir dari diferensi teman-musuh. Perang bukan saja menjadi
konflik simbolis, melainkan menjadi kemungkinan nyata dari kematian.
Perang identik dengan kematian. Maka, perang dalam politik identik dengan
kematian politik. Pada titik ini, pertanyaan Derrida kembali hadir, apakah
mungkin ada politik tanpa pembedaan teman-musuh, politik tanpa
identifikasi musuh? Dengan pertanyaan demikian, Derrida hendak
menyelidiki kemungkinan Politik Persahabatan, politik di antara teman-
teman, politik yang dimulai dengan persahabatan. Untuk tujuan ini, Derrida
membaca konsep persahabatan Aristoteles, mendekonstruksinya demi
mengkonstruksi sebuah landasan politik pada persahabatan.

Mendekonstruksi Konsep Persahabatan Aristoteles

Aristoteles mendeskripsikan manusia sebagai makluk politik. Manusia tidak


mampu merealisasikan secara penuh segala potensi tanpa hidup dalam
suatu asosiasi moral dan politik dengan orang lain. Manusia secara natural
membentuk sebuah polis,berdiam di dalamnya, dan mampu mencapai
tujuan naturalnya dalam sebuah komunitas politik (Negara). Manusia
mewarisi kodrat alamiah untuk membentuk kehidupan bersama, dan
sebaliknya kehidupan bersama tersebut merupakan sesuatu yang baik
secara natural sehingga menarik setiap orang untuk bergabung di dalamnya.
Aristoteles menulis: Tak seorang pun memilih seluruh dunia untuk dihuni
sendirian, sebab manusia adalah makhluk politik dan memiliki kodrat untuk
hidup bersama dengan orang lain.[4] Karena itu, doktrin manusia sebagai
makhluk politik menunjukkan kodrad manusia (individu) yang membutuhkan
kehadiran orang lain untuk hidup secara baik dan bahagia. Dengan
demikian, kehadiran orang lain mengharuskan individu untuk membangun
kerja sama dan persahabatan dalam membentuk kehidupan bersama
dimaksud. Dengan kata lain, persahabatan menjadi salah satu aspek penting
dalam kehidupan bersama sebuah komunitas politik.

Dalam ruang lingkup sebuah komunitas politik, Aristoteles melihat


persahabatan sebagai kebajikan yang sangat penting dalam membentuk
kehidupan bersama. Namun, dalam kenyataannya, persahabatan yang
terbentuk itu sarat dengan motivasi-motivasi tertentu yang
melatarinya. Menurut Aristoteles, ada tiga alasan (motivasi) dalam menjalin
persahabatan, yakni kenikmatan (hedonic/pleasure), kegunaan (utility), dan
keutamaan (arete/virtue).[5] Persahabatan yang didasarkan pada kegunaan
adalah persahabatan yang dibangun atas dasar manfaat. Orang akan
meninggalkan persahabatan kalau hubungan itu pada akhirnya tidak
bermanfaat (berguna) atau tidak lagi mendatangkan keuntungan.
Selanjutnya, persahabatan demi kesenangan berdasar pada apa yang
menyenangkan dan dengan itu menemukan kegembiraan yang diharapkan.
Persahabatan jenis ini cepat runtuh ketika kesenangan yang diharapkan itu
tidak tercapai. Persahabatan ini memiliki kesamaan dengan persahabatan
karena kegunaan.

Selain kedua jenis persahabatan di atas, bentuk persahabatan yang


sempurna adalah persahabatan yang dimotivasi oleh dan demi kebajikan
(kebaikan) itu sendiri.[6]Kebaikan bukan hanya dilihat sebagai motivasi,
melainkan juga tujuan yang hendak dicapai dalam persahabatan. Jenis
persahabatan ini adalah bentuk tertinggi persahabatan. Kebaikan menjadi
motivasi sekaligus tujuan persahabatan. Yang baik menjadi hal mulia yang
mesti dikejar dan diperjuangkan. Menurut Aristoteles, persahabatan
berdasarkan kebajikan tidak memiliki hubungannya dengan politik. Ia
melihat persahabatan yang didasarkan pada utilitas atau kegunaan sebagai
persahabatan politik. Selanjutnya, ia melihat persahabatan yang didasarkan
pada kesenangan sebagai tingkat persahabatan yang lebih rendah, karena
hanya bertujuan untuk mencari kesenangan.

Dalam kerangka dasar pemikiran Aristoteles, Derrida membuat


perbandingan dengan pemikiran politik kontemporer. Konsep persahabatan
tampaknya menjadi marginal dan bukan lagi termasuk dalam wilayah politik.
Persahabatan lebih tepat masuk dalam wilayah agama dan moral. Terhadap
hal itu, Derrida berikhtiar menggali dan mengangkat lagi gagasan politik
klasik yang bisa menjamin masa depan politik dewasa ini. Bagi Derrida,
sebagaimana yang diuraikan Aristoteles, persahabatan justru menjadi bagian
penting dalam bangunan politik. Dengan kata lain, persahabatan adalah
landasan politik, bukan permusuhan seperti yang dipikirkan Schmitt. Politik
sebetulnya dimulai dengan kerja sama dan persahabatan demi membentuk
dan menata komunitas politik yang terarah pada cita-cita kebaikan bersama.

Dalam bingkai ide dasar itu, Derrida mendekonstruksi motivasi persahabatan


dalam konteks politik. Berbeda dengan Aristoteles, motivasi persahabatan
dalam politik sebetulnya bukan dilandasi oleh kegunaan, melainkan lebih
dari itu, dan sejatinya, oleh dan demi kebaikan (kebajikan). Selanjutnya,
Derrida menolak pemikiran Aristoteles yang melihat persahabatan atas
dasar kebajikan tidak memiliki hubungan dengan politik. Justru sebaliknya,
persahabatan dalam politik yang dibangun atas alasan kegunaan, bukan
demi kebajikan, akan menimbulkan banyak ketimpangan politik. Kenyataan
ini tampak jelas dalam realitas politik masa kini yang kian menancapkan
akarnya dalam-dalam. Kenyataan politik kepentingan (vested interest),
politik uang (money politics), politik suap (KKN) dan berbagai jenis politisasi
menjadi persoalan klasik politik persahabatan yang dibangun pada fundasi
utilitas. Dari kenyataan demikian, Derrida hendak melampaui konsep
persahabatan Aristoteles. Derrida menggagas Politik Persahabatan, politik
yang didasarkan pada kebajikan atau keutamaan persahabatan. Dengan itu,
tujuan politik searah dengan tujuan sejati persahabatan; politik menjadi
persahabatan dan persahabatan menjadi politik.

III. Politik Persahabatan

Teman dan Persahabatan Versi Derrida

Derrida mendeskripsikan teman sebagai: The friend is the person who


loves before being the person who is loved: he who loves before being the
beloved, and perhaps (but this is something else, even though the
consequence follows) he who loves before being loved. [7] Bagi Derrida,
teman adalah orang yang mencintai sebelum dicintai. Teman yang
mencintai tidak menuntut dicintai sebelum mencintai. Ia mencintai tanpa
mesti dicintai. Pernyataan demikian ditegaskan Derrida: It is more
worthwhile to love than to be loved. [8] Di sini, mencintai lebih
berguna daripada dicintai. Alasannya, mencintai adalah sebuah tindakan
aktif, dalamnya manusia mengambil inisiatif untuk mencintai.

Dalam konteks persahabatan, Derrida menulis As for friendship, it is


advisable to love rather than to be loved. Di sini, Derrida sekali lagi
menekankan aspek cinta dalam aktus mencintai daripada dicintai.
Pemikiran ini mempunyai implikasi penting dalam Politik Persahabatan
Derrida. Menekankan tindakan mencintai tanpa menuntut dan
memperhitungkan faktor resiprokalitas sangat bermakna dalam konteks
diferensi politik teman-musuh. Alasannya cukup sederhana, cinta model
demikian tidak menutup kemungkinan bahwa yang dicintai itu adalah
musuh politik. Cinta dan persahabatan demikian memungkinkan Politik
Persahabatan.

Diferensi Teman dan Musuh Politik dalam Politik Persahabatan

Sebagaimana yang dijelaskan Schmitt, realitas politik selalu dibentuk


dalam struktur teman-musuh politik. Kita sulit membayangkan sebuah
tatanan politik tanpa diferensiasi teman-musuh. Hemat saya, pemikiran
politik Schmitt tidak dapat diganggu gugat. Schmitt membahasakan secara
gamblang realitas politik. Bahkan, secara radikal Schmitt menyatakan politik
sebagai perang dan perang sebagai politik. Dengan itu, perbedaan dan
keberadaan musuh dan teman menjadi kriteria utama dalam percaturan
politik. Politik tanpa diferensi teman-musuh belum cukup disebut politik.
Perbedaan ini lebih disebabkaan oleh variasi pandangan, semangat serta
visi-misi perjuangan kelompok politik.

Pada intinya, Derrida tidak menafikan adanya perbedaan kelompok


dalam percaturan politik. Derrida sebetulnya hendak mendekonstruksi
konstruksi dasar politik antara teman dan musuh yang sarat dengan
permusuhan. Derrida bertanya, Apakah kita bisa memiliki teman yang
secara politik adalah musuh?[9] Hemat saya, pertanyaan ini adalah jendela
menuju pemahaman Politik Persahabatan; politik di antara teman-teman.
Derrida menunjukkan bahwa politik tidak (harus) dimulai dengan identifikasi
musuh, tetapi dengan identifikasi teman yang menjunjung tinggi cinta dan
persaudaraan dalam bingkai persahabatan. Derrida hendak
menjungkirbalikkan logika politik permusuhan menurut Schmitt. Bagi
Derrida, politik, sesuai dengan tujuannya, mesti menjujunjung tinggi nilai-
nilai dan motivasi demi kebaikan (kebajikan) yang menjadi tujuan dari politik
itu sendiri. Derrida mengutamakan sebuah politik persahabatan, bukan
permusuhan. Ia hendak mengubah pemahaman dasar politik dalam bingkai
pengelompokan teman-musuh, menjadi politik dalam bingkai
pengelompokan teman-teman politik. Sebab, pengelompokan teman-musuh
dalam politik akan menciptakan permusuhan dan perang yang bukan
menjadi esensi dari politik.

Mencintai Musuh, Mencintai Teman

Politik yang dibangun dalam bingkai permusuhan (teman-musuh) selalu


memungkinkan lahirnya perang. Dalam pengertian Derrida, perang pada
dasarnya bertujuan untuk mematikan musuh.[10] Perang dalam konteks
politik adalah upaya mematikan musuh-musuh politik. Perang pada
hakikatnya tidak dibenarkan (buruk), baik dalam pandangan moral, agama,
maupun kebaikan universal. Perang adalah kejahatan melawan
kemanusiaan. Bagi Derrida, perang dalam arti yang tepat adalah perang
antarnegara, perang mutlak yang melanggar semua hukum dan
mengimplikasikan adanya musuh absolut (permusuhan mutlak).[11] Dengan
demikian, perang tidak dibenarkan dalam politik teman-musuh karena
berkaitan dengan permusuhan yang melawan perdamaian dan kebaikan
bersama.

Berbanding terbalik dengan perang, tujuan politik adalah demi


kebaikan. Tujuan itu sama dengan tujuan persahabatan. Perang hanyalah
manifestasi dari permusuhan dan kebencian. Maka, perang antara teman
dan musuh politik tidak menjamin tujuan sejati politik. Bagi Derrida, perang
selalu menciptakan perpecahan antara teman dan musuh politik. Perang
bukanlah tujuan atau materi dari politik, melainkan sebagai sebuah
kemungkinan nyata. Kemungkinan itu menjadi konsekuensi yang mungkin
dalam realitas politik. Konsekuensi itu akan diminimalisir dengan
membangun persahabatan. Dengannya, politik itu menjadi politik
persahabatan, dalamnya musuh politik dipandang sebagai teman.[12]

Dengan itu, musuh dalam pengertian ini adalah teman yang hadir
sebagai sosok pesaing.[13] Musuh bukanlah lawan politik melainkan
kelompok orang yang memiliki perbedaan perjuangan politik. Percaturan
politik memungkinkan setiap orang berhak memiliki keberbedaaan
pandangan. Apa yang dikatakan sebagai musuh politik adalah teman yang
harus dicintai dan dihormati. Terhadap hal ini, Derrida menulis The enemy
in the political sense need not be hated personally, and in the private sphere
only does it make sense to love ones enemy, that is, ones
adversary. [14] Dengan itu, Derrida menekankan relasi musuh-teman politik
dalam kerangka persababatan (teman dengan teman). Derrida tidak
menafikan realitas politik teman-musuh. Sebab, dalam konteks keberbedaan
pandangan politik, segala kemungkinan bisa terjadi. Teman bisa saja menjadi
musuh politik seseorang. Dalam konteks demikian, orang bisa menjadi
sahabat (amicus) dan bisa menjadi musuh (hostis). Namun demikian,
diferensi teman-musuh politik tidak mempengaruhi jalinan persahabatan.
Musuh dan teman politik dilihat sebagai teman yang saling mencintai.

Untuk menerangkan hal itu, Derrida menulis Converts the enemy in


to the friend: you must love your enemies.[15] Musuh diubah menjadi
teman dengan cara mencintai. Musuh harus dicintai, karena ia sebetulnya
adalah teman. Bagi Derrida, mengutip Aristoteles, keduanya adalah One
soul in twin bodies, [16] Meski terikat dalam struktur politik teman-musuh,
keduanya dipersatukan dalam relasi cinta. Cinta itu lahir dari dalam diri
sendiri dan bermuara pada diri yang lain, sekalipun ia adalah musuh. Dengan
itu, apa yang dijelaskan Derrida The enemies I love are my friends,
[17] menjadi inti yang paling fundamental dalam bingkai politik teman-
musuh.

Prinsip Fundamental Politik Persahabatan

Derrida menggagas Politik Persahabatan tidak hanya dalam struktur politik


teman-musuh. Persahabatan memiliki implikasi yang luas, seluas politik dan
sistem-sistemnya. Demikianpun juga Politik Persahabatan bukan sebuah
sistem politik baru yang bersaing dengan demokrasi. Politik Persahabatan
hanyalah sebuah perspektif baru dalam memandang dan terlibat dalam
politik. Lebih tepatnya, Derrida menulis Friendship at the principle of the
political, to be sure, but then and to this very extent friendship beyond
the political principle-[18] Dalam penjelasan itu, Derrida memaknai
persahabatan, pada tempat pertama, sebagai prinsip politik, serentak
melampaui prinsip politik itu sendiri. Melampaui dalam hal ini dimaksudkan
untuk mengokohkan fundasi persahabatan dalam politik.

Derrida mengembangkan landasan persahabatan dengan mengutip


Immanuel Kant dan Levinas. Derrida mengutip Kant There is no friendship
without the respect of the other. The respect of friendship is certainly
inseparable from a morally good will.[19] Mengikuti Kant, Derrida
menegaskan sikap respek terhadap yang lain dalam persahabatan. Dalam
perpektif Kant, hal demikian adalah kehendak baik secara moral.Kant
menetapkan sikap respek kepada yang lain sebagai prinsip dasar
persahabatan. Selanjutnya, sikap respek belum cukup menjamin
persahabatan sejati. Menurut Kant,Friendship supposes both love and
respect. It must be equal and reciprocal: reciprocal love, equal
respect. [20] Selain sikap respek, persahabatan mesti dilengkapi dengan
tindakan cinta: cinta timbal balik, dan sikap respek yang bersifat setara.

Selain itu, Derrida membaca teks etika Levinas dalam membangun basis
persahabatan. Pemikiran Derrida dan Levinas memiliki kedekatan dalam
memandang dan memperlakukan yang lain. Levinas dan Derrida sama-
sama mempresentasikan etika respect and responsibility for the other.
[21] Namun, perbedaan keduanya akan terlihat pada implikasi pemikiran
masing-masing. Levinas melihat hal itu sebagai prinsip etis (ethical
principle), namun Derrida melalui pembacaan dekonstruktifnya, mengantar
prinsip etis itu ke dalam prinsip politik (political principle). Namun, Derrida
mengembangkan prinsip tanggung jawab terhadap yang lain Levinas
dalam konsepnya infinite responsibility (tanggung jawab yang tak terbatas).
[22] Di sini, Derrida sebetulnya menegaskan tanggung jawab bukan hanya
dalam konteks terhadap yang lain, melainkan mesti menjadi prinsip dasar
dalam setiap konteks kehidupan, termasuk dalam politik. Tanggung jawab itu
sangat dituntut terlebih dalam membuat keputusan politik (political
decision) yang menjamin kesejahteraan dan kebaikan bersama.

Bagi Derrida, komunitas politik yang dilandasi dengan persahabatan


(komunitas teman-teman) membentuk dalam dirinya sebuah tatanan
persahabatan universal. Dalam bahasa Kant, tatanan itu akan tercapai dalam
sebuah prinsip umum kesetaran: All men are represented here as if they
were brothers under one father who wills the happiness of
all [23] Persahabatan universal mengandaikan semua manusia adalah
saudara, seolah-olah mereka adalah saudara di bawah satu ayah yang
menghendaki kebahagiaan untuk semua. Derrida mengambil alih ide
persaudaraan universal Kant dalam cita-cita persahabatan universal. Bagi
Derrida, ayah yang menghendaki kebaikan bersama itu adalah ayah
universal (universal father) yang mencintai demi kebaikan bersama.

Ayah itu diterjemahkan dalam identitas Politik Persahabatan pada


komunitas yang menekankan tiga poin penting, yakni kesetaraan (equality),
persaudaraan dan demokrasi.[24] Derrida merangkum ketiga poin itu dalam
bingkai demokrasi. Derrida menulis, There is no democracy without respect
for irreducible singularity or alterity, there is no democracy without the
community of friends[25] Derrida secara cukup gamblang menegaskan
tidak adanya demokrasi (politik) tanpa sebuah komunitas teman /
persahabatan. Hemat saya, Derrida mengembangkan Politik Persahabatan-
nya dalam kerangka demokrasi. Sebagai konsekuensi dari dekonstruksi,
Derrida menyebut demokrasi sebagai yang akan datang (Democracy to
Come). Pemenuhan demokrasi itu terjadi selalu dalam waktu yang akan
datang. Ia akan tetap tinggal sebagai kerinduan yang selalu diperjuangkan
oleh teman-teman demokrasi (democratic friends). Di sini, Politik
Persahabatan; politik di antara teman-teman, senantiasa berada pada proses
penantian aktif melalui perjuangan demokrasi, meski tidak akan pernah
sampai pada penyempurnaannya.

IV. Catatan Akhir

Dalam catatan akhir pada ulasannya tentang Politik Persahabatan, Derrida


bertanya: When will we be ready for an experience of freedom and equality that
is capable of respectfully experiencing that friendship, which would at last be just,
just beyond the law, and measured up against its measurelessness? (Kapan kita
akan siap untuk sebuah pengalaman kebebasan dan persamaan yang mampu
menaruh respek terhadap pengalaman persahabatan, yang berakhir pada keadilan,
keadilan yang melampaui hukum, yang dikehendaki dan tak dapat
diukur?) [26] Pertanyaan ini merupakan ungkapan kerinduan akan sebuah dunia
yang lebih baik, dunia tempat bertumbuh dan berseminya kebebasan, persamaan
hak, kesederajatan, persahabatan, persaudaraan dan keadilan. Dunia itu adalah
dunia yang diwarnai oleh Politik Persahabatan dan perwujudan demokrasi yang
sesungguhnya.

[1] Muhamad Al-Fayyadl, Derrida, (Yogyakarta: LKiS, 2005), p.172.


[2] Jacques Derrida, The Politics of Friendship, penterj. George Collins (London: Versho, 2005), p.
84.
[3] Ibid., p. 83.

[4] Aristoteles, Sebuah Kitab Suci Etika, Nicomachean Ethics, Penterj. Embun Kenyowati
(Jakarta: Penerbit Teraju, 2004), p. 205.
[5] Ibid., p. 209.

[6] Ibid., p. 212.

[7] Derrida, The Politics of Friendship, Op. Cit., p. 9.

[8] Ibid., p. 7.
[9]A Discussion with Jacques Derrida, Centre for Modern French Thought, University of Sussex, 1
December 1997, Geoffrey Bennington, Transcribed by Benjamin Noys.http://www.livingphilosophy.org/Derrida-
politics-friendship.htm. Updated 11/04/2003 11:37:43 Hydra Design: Peter Krapp All rights reserved 1995-
2003. The politics of friendship. (Online), diakses 22 Februari 2011.

[10] Derrida, The Politics of Friendship, Op. Cit., p. 133.

[11] Bdk. Ibid., p. 146.

[12] Ibid., p.129.

[13] Ibid.,p. 85.

[14] Ibid., p. 88.

[15] Ibid., p. 59.

[16] Ibid., p. 177.

[17] Ibid., pp. 32-33.

[18] Ibid., p. 183.

[19] Ibid., p. 252.

[20] Ibid., p. 253

[21]Joshua Andresen , Deconstruction, Normativity, and Democracy to Come, Philosophy Today,


(Summer, 2010), 105-106.
[22] Ibid., p. 104.

[23] Derrida, The Politics of Friendship, Op. Cit., p. 261.

[24] Ibid., p. 99.

[25] Ibid., p. 22.

[26] Ibid., p. 306.