Anda di halaman 1dari 5

9

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Dalam melakukan percobaan asas black diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Asas Black

Jenis ML Ma Mk TL T Tc cL ca Ck
(gr) (gr (gr ( ( ( (kal/g (kal/g (kal/
Logam
) )

Alumu- 21 10 60 81, 27 29,5 0,214 1 18


nium 0 5
Tembaga 60,7 10 60 80 27 32 0,093 1 18
0

Keterangan :
ML = massa logam (gram)
Ma = massa air (gram)
Mk = massa kalorimeter (gram)
T = suhu logam (
L

Ta = suhu air (
Tc = suhu campuran (
cL = kalor jeis logam (kal/g
c = kalor jenis air (kal/g
a

Ck = kapasitas kalor kalorimeter (kal/

B. Pembahasan
10

Dalam termodinamika erat kaitannya dengan suhu dan kalor. Salah satu
hukum atau asas dalam termodinamika adalah asas black. Menurut asas black
apabila ada dua benda yang suhuya berbeda kemudian disatukan atau
dicampur maka akan terjadi alira kalor dari benda yang bersuhu tinggi
menuju benda yang bersuhu rendah. Aliran ini akan berhenti sampai terjadi
keseimbangan termal (suhu kedua benda sama). Secara sistematis dapat
dirumuskan :
Q lepas = Q terima
Pada persamaan tersebut yang melepas kalor adalah benda yang suhunya
tinggi, sedangkan yang menerima kalor adalah benda yang suhunya rendah.

Dalam melakukan percobaan asas black, pertama-tama menyiapkan alat dan


bahan. Memanaskan air secukupnya menggunakan teko listrik hingga pas.
Sambil menunggu air panas, memasukkan air sebanyak 100 ml atau 100 gram
kedalam labu Erlenmeyer. Memasukkan air dingin ke dalam kalorimeter

kemudian megukur suhu airnya dan diperoleh suhu air sebesar 27 .

Menimbang kedua logam menggunakan neraca ohaus dan diperoleh massa


alumunium sebesar 21 gram dan massa tembaga sebesar 60,7 gram untuk
massa calorimeter sudah tertera sebesar 60 gram. Setelah air panas
memasukkan air ke dalam gelas ukur sebanyak 150 ml, kemudian
memasukkan logam alumunium menggunakan penjepit. Mengukur suhu
alumunium menggunakan thermometer, setelah suhu terukur dengan cepat
dan hati-hati memasukkan logam kedalam calorimeter kemudian mengaduk
dan mengamati perubahan suhunya. Suhu yang terukur adalah suhu
campuran. Melakukan langkah yang sama untuk logam tembaga.

Setelah mendapat data hasil percobaan dengan menggunakan asas black,


menghitung Q lepas dan Q terima pada masing-masing logam. Pada logam

alumunium dengan menggunakan rumus Q = m.c. T diperoleh hasil

sebesar 233,688 kal. Pada percobaan yang menerima kalor ada dua yaitu air
dan kalorimeter. Dengan menggunakan rumus yang sama pada Q lepas dan

ditambah dengan Ck . T maka diperoleh hasil yaitu 295 kal. Pada logam
11

tembaga diperoleh kalor lepas yaitu sebesar 270,96 kal dan kalor yang
diterima sebesar 590 kal.

Dari percobaan yang telah dilakukan diketahui zat yang melepas kalor adalah
zat dengan suhu yang lebih tinggi yaitu logam alumunium dan tembaga
sedangkan zat yang menerima kalor adalah zat yang memiliki suhu lebih
rendah yaitu air dan kalorimeter. Pada mulana logam memiliki suhu yang
tinggi setelah dimasukkan kedalam air dan kalorimeter suhunya menurun,
sedangkan air dan calorimeter yang awalnya memiliki suhu rendah setelah
dimasukkan logam suhunya meningkat dan pada ahirnya suhu kedua zat
sama.

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa yang


mempengaruhi banyaknya kalor adalah massa zat atau benda, kalor jenis
benda dan perubahan suhu. Pada percobaan massa logam mempengaruhi
kalor dimana logam yang memiliki massa yang lebih banyak maka akan
menghasilkan kalor yang lebih banyak juga. Massa aluminium adalah 21
gram sedangkan massa logam tembaga yaitu 60,7 gram sehingga kalor yang
dihasilkan lebih banyak tembaga daripada alumunium yaitu 270,96 kal
sedangkan kalor yang dihasilkan dari logam alumunium sebesar 233,688 kal.
Hal tersebut juga berlaku pada kalor yang diterima dimana kalor yang
diterima pada logam tembaga lebih besar dari pada logam alumunium yaitu
sebesar 590 kal. Faktor kedua yang mempengaruhi kalor adalah kalor jenis
zat. Pada percobaan diketahui kalor jenis logam lebih kecil yaitu (alumunium

= 0,214 (kal/g dan tembaga = 0,093 (kal/g daripada kalor jenis

air ( 1 (kal/g . sehingga kalor yang dilepaskan lebih sedikit daripada

kalor yang diterima karena air adalah salah satu zat yang menerima kalor dari
logam. Semakin besar kalor jenis benda semakin besar kalor dan sebaliknya.
Faktor ketiga yang mempengaruhi kalor adalah perubahan suhu. Semakin
besar perubahan suhu semakin besar kalor. Pada percobaan logam alumuium
pada kalor lepas perubaan suhu lebih besar daripada perubahan suhu pada
kalor terima. Pada percobaan asas black menggunakan logam tembaga pada
12

kalor lepas perubahan suhu lebih besar daripada pada kalor terima yaitu

sebesar 48 . Sehingga dapat diketahui yang mempengaruhi kalor ada

tiga yaitu massa zat, kalor jenis zat dan perubahan suhu.

Percobaan asas black yang telah dilakukan memiliki tujuan antara mengetahui
benda mana yang melepas kalor dan yang menerima kalor merumuskan asas
black dan mengetahui faktor yang mempengaruhi kalor. Berdasarkan
percobaan yang telah diketahui bahwa benda dengan suhu yang lebih tinggi
(logam alumuium dan tembaga) yang akan melepas kalor dan benda dengan
suhu yang lebih rendah yang akan menerima kalor (air dan kalorimeter). Asas
black dalam percobaan tidak ditemukan secara pasti namun pada percobaan
dengan menggunakan logam alumunium nilai kalor lepas hampir mendekati
sama dengan kalor terima, sehingga dapat menjadi pertimbangan untuk dapat
merumuskan asas black. Dari percobaan juga diketahui bahwa terdapat faktor
yang mempengaruhi kalor antara lain massa zat, kalor jenis zat dan perubahan
suhu. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa percobaan menjawab
tujuan percobaan.

Setelah melakukan percobaan diketahui bahwa nilai kalor lepas tidak sama
dengan kalor terima. Dalam keadaan sebenarnya memang tidak ada sistem
yang benar benar sempurna. Penggunaan asas black didasarkan pada
pendekatan empirik. Jumlah kalor yang dilepas dan diterima sebenarnya tidak
sama karena dipengaruhi oleh lingkungan dan menurut logika nilai kalor
lepas sebenarna lebih banyak dari kalor yang diterima karena pada saat
memberikan kalor pada benda yang bersuhu rendah maka kalor berkurang
karena menguap dan pengaruh lingkungan sekitar.

Dalam kehidupan sehari hari penerapan megenai asas black sangat banyak
ada disekitar kita. Misalnya, saat kita membuat teh atau kopi dengan
menggunakan air panas dan air dingin untuk menghasilkan suhu minuman
yang tidak terlalu panas atau dingin sehingga suhu minuman menjadi hangat.
Selain itu, saat kita menggenggam panci yang memiliki suhu hangat maka
lama kelamaan tangan kit akan menjadi hangat. Dalam hal ini panci melepas
kalor sehingga kalor berpindah dari panci ke tangan yang menyebabkan
13

tangan menjadi hangat begitu juga panci setelah melepaskan kalor ke tangan
maka suhu panci yang panas akan turun hingga suhu tangan dan suhu panci
sama. Saat kita di dalam ruangan yang ber AC suhu badan kita menjadi
dingin dan setelah keluar ke ruangan dengan suhu yang hangat lama
kelamaan suhu bandan kita kembali normal. Dalam hal ini panas dari
lingkungan memberikan kalor ke tubuh kita sehingga tubuh kita menjadi
hangat dan dalam keadaan normal kembali.

Faktor yang menghambat percobaan antara lain lingkungan. Lingkungan


dalam hal ini adalah lingkungan yang yang dapat mempengaruhi suhu baik
suhu logam maupun suhu air yang diukur. Sehingga dapat mempengaruhi
hasil pengukuran menggunakan termometer. Saat menimbang massa logam
juga diperlukan pemahaman dan tingkat ketelitian yang akurat dikarenakan
neraca yang digunakan memiliki sedikit kerusakan dalam menentukan titik
nolnya. Campur tangannya lingkungan dalam percobaan menyebabkan hasil
percobaan tidak sesuai dengan asas black dimana kalor yang dilepas akan
sama dengan kalor yang diterima dalam keadaan sistem tertutup.