Anda di halaman 1dari 61

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dizaman sekarang ini pendidikan telah mengalami perkembangan yang sangat

pesat, hal ini mengakibatkan persaingan yang sangat ketat dibidang pendidikan, untuk

menghadapinya diperlukan kualitas pendidikan yang bermutu dan semakin meningkat.


Tujuan pendidikan adalah tercapainya perubahan-perubahan perilaku peserta didik

meliputi ranah kognitf (pengetahuan), ketrampilan (psikomotorik) dan sikap (afektif)

setelah menyelesaikan kegiatan pengajaran di sekolah. Adapun tujuan pendidikan yang

tercantum dalam Undang-Undang Sistem pendidikan Nasional No. 20 adalah:


Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar

dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,

bangsa dan Negara.


Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh peserta didik untuk

meningkatan potensi sumber daya manusia melalui kegiatan pembelajaran yang

mencakup kegiatan belajar oleh peserta didik dan kegiatan pembelajaran oleh

pendidik.
Peningkatan sumber daya manusia akan terwujud jika menempatkan pendidikan

sebagai sarana pemacu dan sarana alat bantu pendidikan akan memiliki arti dan tujuan

yang relevan dengan pembangunan dan kualitas yang baik dalam proses maupun

hasilnya. Penggunaan media dalam proses pembelajaran merupakan salah satu upaya

meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhir dapat meningkatkan kualitas

hasil belajar para peserta didik. Dengan menggunakan media pembelajaran dalam

1
proses belajar mengajar akan diperoleh manfaat antara lain pengajaran akan lebih baik,

menarik perhatian siswa dan materi akan lebih mudah dipaham oleh peserta didik.
Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut tentunya telah diupayakan oleh

berbagai pihak yang terkait dan saling bekerjasana untuk melakukan pembaharuan di

bidang pendidikan. Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka

meningkatkan mutu pendidikan antara lain melalui berbagai pendidikan dan pelatihan

kualifikasi guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pembelajaran,

perbaikan sarana dan prasarana pendidikan lainnya.


Upaya peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan menjadi

salah satu tuntutan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Titik berat penyelenggaraan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu pendidikan.

Untuk memperoleh hasil pendidikan yang maksimal maka peningkatan mutu

pendidikan harus dilaksanakan secara terus menerus, terencana, dan bertahap.


Peningkatan mutu dan kualitas pendidikan tidak hanya dilihat dari proses

pembelajarannya. Orbana (dalam Muslihati, 2005:1) mengungkapkan bahwa salah

satu sebab belum tercapainya tujuan pendidikan, terutama terletak pada inti

pembelajaran yang belum banyak melibatkan siswa secara aktif. Inti pembelajaran

yang dimaksud adalah pemilihan dan penerapan model pembelajaran, penguasaan

materi pembelajaran dan interaksi siswa dengan siswa serta interaksi siswa dengan

guru. Proses pembelajaran di kelas memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya

pencapaian tujuan pembelajaran. Guru hendaknya dapat memilih dan menentukan

model pembelajaran yang sesuai dengan materi atau bahan ajar yang akan diberikan

pada siswa. Pemilihan dan penentuan model pembelajaran yang sesuai dengan

karakteristik materi atau bahan ajar yang akan diajarkan diharapkan akan

memudahkan siswa untuk memahami materi yang diajarkan dan pembelajaran

2
menjadi lebih bermakna bagi siswa. Dengan diterapkannya variasi pembelajaran

diharapkan dapat melibatkan guru dan peserta didik dalam proses belajar mengajar

yang menimbulkan kemauan, semangat, dan mampu memecahkan masalah

pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajarnya.


Dalam pembelajaran Akuntansi, dimana akuntansi merupakan pengetahuan yang

mempunyai peran sangat besar dalam kehidupan sehari-hari maupun pengembangan

ilmu pengetahuan, diperlukan tingkat pemahaman dan ketelitian yang tinggi dari

peserta didik.

Oleh karena itu perlu dikembangkan model belajar yang melibatkan siswa lebih

aktif dalam proses belajar mengajar, apalagi dalam mengerjakan akuntansi, siswa

harus dapat aktif sehingga dapat memahami materi yang diajarkan sehingga tujuan

pengajaran akuntansi tercapai. Model pengajaran yang baik adalah model yang

mampu mengantarkan siswa dalam berbagai macam kegiatan, dalam hal ini siswa

harus diberi kesempatan untuk melatih kemampuannya, misalnya menyelesaikan

kasus-kasus, tugas-tugas pelajaran akuntansi yang diberikan guru.

Dari berbagai model pembelajaran, terdapat model pembelajaran yang tepat dan

sesuai dengan karakteristik mata pelajaran akuntansi dan peningkatan hasil belajar

salah satunya adalah project based learning. Model project Based learning merupakan

model pengajaran yang berkarakteristik adanya permasalahan nyata sebagai konteks

untuk para peserta didik belajar, berpikir kritis, ketrampilan memecahkan masalah dan

memperoleh pengetahuan secara langsung terhadap permasalahn sehari-hari.


Hasil belajar akuntansi yang diperoleh peserta didik Kelas XII SMK Mutiara Baru

Kota Bekasi belum cukup memuaskan, hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya nilai

ulangan harian maupun nilai ulangan tengah semester. Rendahnya nilai tersebut

3
disebabkan beberapa hal antara lain: 1. Mata Pelajaran akuntansi dianggap sulit dan

membosankan, 2. Kurang menariknya proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru,

3. Kurangnya keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran dan mungkin masih

banyak lagi factor penyebab rendahnya hasil belajar tersebut

Dari uraian di atas ditemukan permasalahan hasil belajar akuntansi. Oleh karena

itu peneliti memandang perlu melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh Model

Pembelajaran Project Based Learning Dan Kepercayaan Diri Terhadap Hasil Belajar

Akuntansi .

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, perlu diidentifikasi masalah-masalah

yang berhubungan dengan hasil belajar akuntansi sebagai berikut: Apakah dalam

belajar akuntansi siswa menggunakan buku paket akuntansi sebagai sumber belajar ?

Apakah ada kemauan siswa yang tinggi dalam mempelajari akuntansi ? Apakah pola

pembelajaran dikelas sudah maksimal ? Apakah materi pembelajaran produktif pada

kompetensi keahlian akuntansi membuat anak merasa sulit ? Apakah model

pembelajaran yang digunakan guru bersifat konvensional (ceramah, Tanya jawab dan

pemberian tugas) ? Apakah kompetensi keahlian akuntansi kurang relevan dalam

praktek kehidupan dunia industri ? Apakah ada upaya peningkatan yang optimal pada

kepercayaan diri siswa dalam proses pembelajaran praktik kompetensi akuntansi ?

Apakah lingkungan sekolah mendukung proses pembelajaran pada kompetensi

akuntansi ? Apakah model pembelajaran project based learning dapat meningkatkan

hasil belajar akuntansi ? Apakah kepercayaan diri siswa dapat mempengaruhi dan

meningkatkan hasil belajar akuntansi ? Apakah ada pengaruhnya model project based

learning dan kepercayaan diri siswa terhadap hasil belajar akuntansi ?

4
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka peneliti membatasi dalam

penelitian ini pada pengaruh model pembelajaran project based learning dan

kepercayaan diri terhadap hasil belajar akuntansi SMK Mutiara Baru Kota Bekasi

Tahun Pelajaran 2014 2015.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang, identifikasi malasah dan pembatasan masalah

tersebut di atas maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:


1. Apakah terdapat perbedaan antara hasil belajar akuntansi yang dibelajarkan

dengan menggunakan model Project based learning dengan yang dibelajarkan

menggunakan model pembelajaran secara langsung ?


2. Apakah terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan kepercayaan

diri terhadap hasil belajar akuntansi ?


3. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar akuntansi yang dibelajarkan dengan

menggunakan model project based learning dan yang dibelajarkan dengan

menggunakan pembelajaran secara langsung pada siswa yang memiliki

kepercayaan diri tinggi ?


4. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar akuntansi yang dibelajarkan dengan

menggunakan model project based learning dan yang dibelajarkan dengan

menggunakan pembelajaran secara langsung pada siswa yang memiliki

kepercayaan diri rendah ?

E. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini berguna untuk:
1. Memberikan bahan masukan dalam pengembangan ilmiah teknologi pendidikan,
2. Menambah pengetahuan pembelajaran tentang pentingya model pembelajaran,
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi kepala sekolah untuk memperhatikan hasil

belajar akuntansi siswa kelas XII SMK Mutiara Baru Kota Bekasi

5
4. Sebagai bahan pertimbangan bagi Kepala Dinas Pendidikan dalam membuat

kebijakan,
5. Bagi siswa untuk lebih mudah menerima pembelajaran mata pelajaran akuntansi,
6. Untuk dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi peneliti berikutnya untuk

melakukan penelitian lebih lanjut.

BAB II
KAJIAN TEORETIK, KERANGKA BERPIKIR
DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Kajian Teoretik
1. Pengertian Hasil Belajar Akuntansi
a. Pengertian Akuntansi
Pengertian akuntansi menurut American Accounting Association ( AAA ).

Akuntansi itu merupakan : Proses mengidentifikasikan, mengukur dan

melaporkan informasi akuntansi, untuk memungkinkan adanya penilaian dan

keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi

tersebut .1

Akuntansi adalah seni dalam mengukur, berkomunikasi dan

menginterpretasikan aktivitas keuangan. Secara luas, akuntansi juga dikenal

sebagai "bahasa bisnis". Akuntansi bertujuan untuk menyiapkan suatu laporan

keuangan yang akurat agar dapat dimanfaatkan oleh para manajer, pengambil

kebijakan, dan pihak berkepentingan lainnya, seperti pemegang saham,

1 Sumarso, Pengantar Akuntansi, (Jakarta, Gramedia, 2003) h.4

6
kreditur, atau pemilik. Pencatatan harian yang terlibat dalam proses ini dikenal

dengan istilah pembukuan.2

Akuntansi adalah pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian

mengenai informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak dan

pembuat keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di

dalam perusahaan, organisasi, dan lembaga pemerintah. Akuntansi adalah seni

dalam mengukur, berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas keuangan.

Secara luas, akuntansi juga dikenal sebagai "bahasa bisnis".Akuntansi

bertujuan untuk menyiapkan suatu laporan keuangan yang akurat agar dapat

dimanfaatkan oleh para manajer, pengambil kebijakan, dan pihak

berkepentingan lainnya, seperti pemegang saham, kreditur, atau pemilik.

Pencatatan harian yang terlibat dalam proses ini dikenal dengan istilah

pembukuan. Akuntansi keuangan adalah suatu cabang dari akuntansi dimana

informasi keuangan pada suatu bisnis dicatat, diklasifikasi, diringkas,

diinterpretasikan, dan dikomunikasikan. Auditing, satu disiplin ilmu yang

terkait tapi tetap terpisah dari akuntansi, adalah suatu proses dimana pemeriksa

independen memeriksa laporan keuangan suatu organisasi untuk memberikan

suatu pendapat atau opini - yang masuk akal tapi tak dijamin sepenuhnya -

mengenai kewajaran dan kesesuaiannya dengan prinsip akuntansi yang

berterima umum dan praktisi akuntansi3

b. Pengertian Hasil Belajar

2 Zaid Ar Rasyid, Wikipedia: 8 Oktober 2012

3 Zaid Ar Rasyid, Wikipedia: 8 Oktober 2012.

7
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui

interaksi dengan lingkungan. (Hamalik Pemar : 2001) Menurut pengertian ini

belajar merupakan suatu proses yakni suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau

tujuan.
Belajar dibatasi dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama Belajar

adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat

latihan dan pengalaman. Rumusan kedua Belajar ialah proses memperoleh

respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus. James Patrick Chaplin

dalam Dictionary of Psychology: 1985.


Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat

fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini

berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat

tergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di

sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarga.4 Belajar atau learning,

adalah perubahan yang secara relative berlangsung lama pada perilaku yang

diperoleh dari pengalaman pengalaman. Belajar merupakan salahsatu bentuk

perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Belajar mem-

bantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungan.5


Yang menjadi hasil dari belajar bukan penguasan hasil latihan melainkan

perubahan tingkah laku. Karena belajar merupakan suatu perubahan tingkah

laku, maka diperlukan pembelajaran yang bermutu yang langsung

menyenangkan dan mencerdaskan siswa.

4 Muhibbin Syah, M.Ed. Psikologi Pendidikan. hal.89

5 Zikri Neni Iska. Psikologi. hal.76

8
Menurut Gagne (1984), belajar didefinisikan sebagai proses dimana suatu

organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman. 6 Menurut James

O.Wittaker, Belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku

ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.7

Masalah belajar adalah masalah bagi setiap manusia, dengan belajar

manusia memperoleh keterampilan, kemampuan sehingga terbentuklah sikap

dan bertambahlah ilmu pengetahuan. Jadi hasil belajar itu adalah suatu hasil

nyata yang dicapai oleh siswa dalam usaha menguasai kecakapan jasmani dan

rohani di sekolah yang diwujudkan dalam bentuk raport pada setiap semester.

Untuk mengetahui perkembangan sampai di mana hasil yang telah dicapai

oleh siswa dalam belajar, maka harus dilakukan evaluasi. Untuk menentukan

kemajuan yang dicapai maka harus ada kriteria (patokan) yang mengacu pada

tujuan yang telah ditentukan sehingga dapat diketahui seberapa besar pengaruh

strategi belajar mengajar terhadap keberhasilan belajar siswa. Keberhasilan

dalam belajar menurut W. Winkel (dalam buku Psikologi Pengajaran 1989:82

adalah keberhasilan yang dicapai oleh siswa, yakni adalah Hasil belajar siswa

di sekolah yang mewujudkan dalam bentuk angka.

Menurut Winarno Surakhmad (dalam buku, Interaksi Belajar Mengajar,

(Bandung: Jemmars, 1980:25) mengemukakan, bahwa keberhasilan dalam

belajar yang dilakukan oleh siswa bagi kebanyakan orang berarti ulangan, ujian

6 http://whandi.net/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat &id=41, 25 Januari 2009

7 Drs. Wasty Soemanto, M.Pd. Psikologi Pendidikan, hal.104

9
atau tes. Maksud ulangan tersebut ialah untuk memperoleh suatu indek dalam

menentukan keberhasilan siswa.

c. Hakikat Hasil Belajar Akuntansi


Dari definisi belajar dan hasil belajar di atas, maka dapat diambil

kesimpulan bahwa keberhasilan belajar adalah hasil belajar yang dicapai siswa

dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan

pembentukan tingkah laku seseorang, menambah pengetahuan dan kecakapan

hidup. Hasil belajar akuntansi merupakan seni belajar yang memberikan

ketrampilan khusus dalam mencatat dan menyusun laporan keuangan suatu

perusahaan. Hal ini dibuktikan dari hasil akhir dari pembelajaran akuntansi

adalah laporan keuangan (financial statement). Laporan keuangan disajikan

dengan maksud memberikan informasi mengenai posisi harta, utang, dan

modal serta perolehan laba atau rugi yang menunjukkan hasil aktivitas yang

terjadi dalam rumah tangga perusahaan dan membantu pimpinan dalam

pengambilan keputusan.

2. Model Project Based Learning


a. Pengertian Model
Secara umum atau luas model atau metodik berarti ilmu tentang jalan yang

dilalui untuk mengajar kepada anak didik supaya dapat tercapai tujuan belajar

dan mengajar. Prof. Dr.Winarno Surachmad (1961), mengatakan bahwa model

mengajar adalah cara-cara pelaksanaan dari pada murid-murid di sekolah.


Pasaribu dan Simanjutak (1982), mengatakan bahwa model adalah cara

sistematik yang digunakan untuk mencapai tujuan. Jadi model pelajaran adalah

suatu cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan.
b. Pengertian Project Based Learning

10
Project based learning adalah pembelajaran memberikan berbagai

situasi masalah yang autentik danbermakna, berfungsi sebagai batu loncatan

untuk investigasi dan penyelidikan. Maka diharapkan Project Base Learning

adalah akan membantu siswa untuk mengembangkan ketrampilan berpikir

dan mengatasi masalah, mempelajari peran orang dewasa dan menjadi

pelajar yang mandiri.

H.S. Barrows (1982), sebagai pakar PBL menyatakan bahwa definisi

PBL adalah sebuah model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip

bahwa masalah (project) dapat digunakan sebagai titik awal untuk

mendapatkan atau mengintegrasikan ilmu (knowledge) baru.


Project based learning adalah model belajar yang menggunakan

masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan

pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara

nyata. Pengertian project based learning menurut para ahli yang lain:

Project based learning adalah pembelajaran sistematik yang mengikutkan

siswa dalam pembelajaran pengetahuan dan keahlian yang kompleks,

pertanyaan yang authentic dan perangan produk dan tugas. (University of

Nottingham, 2003)8. Project based learning adalah pendekatan

komprehensif untuk pengajaran dan pembelajaran yang dirancang agar

peserta didik melakukan riset terhdap permasalahan nyata.9

8 ----------- 2003, PBEL. Project Based learning in Engenerring. Dalam University of Nottingham Subject Area
( 0nline ). http. www.pble.ac.uk.

9 Blumenfeld et al (1991). Motivating Project based learning. Sustaining the Doing Supporting the learning. Dalam
Education online http: //www.informaword.com

11
Ada beberapa hal yang termasuk kategori umum dalam penerapan

proyek untuk siswa meliputi pengembangan ketrampilan, meneliti

permasalahan dan menciptakan solusi. Pada model pembelajaran project

based learning siswa dilibatkan dalam memecahkan masalah yang

ditugaskan, memberikan leluasa kepada siswa untuk aktif membangun dan

mengatur pembelajaran dan dapat menjadikan siswa yang bertindak realitis

dan percaya diri.


Model pembelajaran berbasis proyek atau project based learning

adalah penggunaan proyek sebagai model pembelajaran. Para siswa belajar

secara nyata seolah-olah ada didunia nyata yang dapat menghasilkan

produk secara realities.


Penggunaan model pembelajaran berbasis proyek atau project based

learning memberikan suatu alternative yang berbeda. Dari pengalaman

terdapat dua dimensi untuk menggolongkan alternative project based

learning yaitu penyesuaian tugas dan pembelajaran pegetahuan yang

pokok, manajemen proyek dan pembelajaran ketrampilan secara umum.

Langkah-langkah Model Project Based Learning

Project based learning berlangsung dalam enam fase, yaitu:

Fase 1.Pengajuan permasalahan. Soal yang diajukan seperti

dinyatakan sebelumnya harus tidak terstrktur dengan baik, dalam arti untuk

penyelesaiannya diperlukan informasi atau data lebih lanjut, memungkinkan

banyak cara atau jawaban, dan cukup luas kandungan materinya.

Fase 2. Apa yang diketahui dari permasalahan? Dalam fase ini

setiap anggota akan melihat permasalahan dari segi pengetahuan yang telah

12
dimiliki sebelumnya. Kelompok akan mendiskusikan dan menyepakati

batasan-batasan mengenai permasalahan tersebut, serta memilah-memilah

isu-isu dan aspek-aspek yang cukup beralasan untuk diselidiki lebih lanjut.

Analisis awal ini harus menghasilkan titik awal untuk penyelidikan dan

dapat direvisi apabila suatu asumsi dipertanyakan atau informasi baru

muncul kepermukaan.

Fase 3. Apa yang tidak diketahui dari permasalahan? Disini anggota

kelompok akan membuat daftar pertanyaan-pertanyaan atau isu-isu

pembelajaran yang harus dijawab untuk menjelas permasalahan. Dalam

fase ini, anggota kelompok akan mengurai permasalahan menjadi

komponen-komponen, mendiskusikan implikasinya, mengajukan berbagai

penjelasan atau solusi, dan mengembangkan hipotesis kerja. Kegiatan ini

seperti fase brainstorming dengan evaluasi; penjelasan atau solusi dicatat.

Kelompok perlu merumuskan tujuan pembelajaran, menentukan informasi

yang dibutuhkan, dan bagaimana informasi ini diperoleh.

Fase 4. Alternatif Pemecahan. Dalam fase ini anggota kelompok akan

mendiskusikan, mengevaluasi, dan mengorganisir hipotesis dan mengubah

hipotesis. Kelompok akan membuat daftar Apa yang harus dilakukan?

yang mengarah kepada sumberdaya yang dibutuhkan, orang yang akan

dihubungi, artikel yang akan dibaca, dan tindakan yang perlu dilakukan oleh

para anggota. Dalam fase ini anggota kelompok akan menentukan dan

mengalokasikan tugas-tugas, mengembangkan rencana untuk mendapatkan

informasi yang dibutuhkan. Informasi tersebut dapat berasal dari dalam

13
kelas, bahan bacaan, buku pelajaran, perpustakaan, perusahaan, video, dan

dari seorang pakar tertentu. Bila ada informasi baru, kelompok perlu

menganalisa dan mengevaluasi reliabilitas dan kegunaannya untuk

penyelesaian permasalahan yang sedang dihadapi.

Fase 5. Laporan dan Presentasi Hasil. Pada fase ini, setiap kelompok

akan menulis laporan hasil kerja kelompoknya. Laporan ini memuat hasil

kerja kelompok dalam fase-fase sebelumnya diikuti dengan alasan mengapa

suatu alternatif dipilih dan uraian tentang alternatif tersebut. Pada bagian

akhir setiap kelompok menjelaskan konsep yang terkandung dalam

permasalahan yang diajukan dan penyelesaian yang mereka ajukan.

Misalnya, rumus apa yang mereka gunakan. Laporan ini kemudian

dipresentasikan dan didiskusikan dihadapan semua siswa.

Fase 6. Pengembangan Materi. Dalam fase ini guru akan

mengembangkan materi yang akan dipelajari lebih lanjut dan mendalam dan

memfasilitasi pembelajaran berdasarkan konsep-konsep yang diajukan oleh

setiap kelompok dalam laporannya.

Dalam menggunakan model pemberian proyek ini ada beberapa

langkah yang harus di lalui oleh guru terhadap siswa :

Rumuskan permasalahannya dengan jelas

Lakukan pembagian tugas serta deskriosi dari masing-masing tugas itu

Buat jadwal kegiatan sesuai dengan waktu yang disediakan

Rumuskan apa yang diharapkan diperoleh dari setiap kegiatan

14
Buat kesimpulan menyeluruh

Usahakan supaya hasil dari proyek itu dmeningkatkan

keterampilaniketahui banyak orang (pameran, disajikan dan lain-lain).

Dalam perencanaan model proyek terdapat tiga hal yang perlu

dipertimbangkan :

Kemampuan Pengelolaan, jika sisa diberikan kebebasan yang luas,

mereka akan mendapatkan kesulitan dalam memilih topik yang tepat.

Mereka mungkin memilih topik yang terlalu luas sehingga sedikit

informasi yang dapat ditemukan. Mereka mungkin juga kurang tepat

untuk memperkirakan waktu pengumpulan data dan penulisan

laporan.

Relevansi, guru harus mempertimbangkan pengetahuan, keterampilan,

dan pemahaman pada pembelajaran agar proyek dijadikan sebagai

sumber bukti.

Keaslian, guru perlu mempertimbangkan seberapa besar petunjuk atau

dukungan yang telah diberikan pada siswa.

Kelebihan Model Project based learning

Dapat merombak pola pikir anak didik dari yang sempit menjadi lebih

luas dan menyeluruh dalam memandang dan memecahkan masalah

yang dihadapi dalam kehidupan.

Melalui model ini, anak didik dibina dengan membiasakan

menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan terpadu,

yang diharapkan praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.

15
Pengetahuan yang diperoleh fungsional.

Anak-anak belajar bersungguh-sungguh dalam bekerja bersama.

Anak-anak bertanggung jawab penuh pada pekerjaannya

Kekurangan Model Project based laearning

Kurikulum yang berlaku di negara kita saat ini, baik secara vertikal

maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan model ini.

Organisasi bahan pelajaran, perencanaan, dan pelaksanaan model ini

sukar dan memerlukan keahlian khusus dari guru, sedangkan para

guru belum siap untuk ini.

Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai kebutuhan anak
didik, cukup fasilitas, dan memiliki sumber-sumber belajar yang
diperlukan.

Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan


pokok unit yang dibahas.

Model pembelajaran berbasis proyek selalu dimulai dengan

menemukan apa sebenarnya pertanyaan mendasar, yang nantinya akan menjadi

dasar untuk memberikan tugas proyek bagi siswa (melakukan aktivitas). Tentu

saja topik yang dipakai harus pula berhubungan dengan dunia nyata.

Selanjutnya dengan dibantu guru, kelompok-kelompok siswa akan merancang

aktivitas yang akan dilakukan pada proyek mereka masing-masing. Semakin

besar keterlibatan dan ide-ide siswa (kelompok siswa) yang digunakan dalam

proyek itu, akan semakin besar pula rasa memiliki mereka terhadap proyek

16
tersebut. Selanjutnya, guru dan siswa menentukan batasan waktu yang

diberikan dalam penyelesaian tugas (aktivitas) proyek mereka.

Dalam berjalannya waktu, siswa melaksanakan seluruh aktivitas mulai

dari persiapan pelaksanaan proyek mereka hingga melaporkannya sementara

guru memonitor dan memantau perkembangan proyek kelompok-kelompok

siswa dan memberikan pembimbingan yang dibutuhkan. Pada tahap

berikutnya, setelah siswa melaporkan hasil proyek yang mereka lakukan, guru

menilai pencapaian yang siswa peroleh baik dari segi pengetahuan (knowledge

terkait konsep yang relevan dengan topik), hingga keterampilan dan sikap yang

mengiringinya. Terkahir, guru kemudian memberikan kesempatan kepada

siswa untuk merefleksi semua kegiatan (aktivitas) dalam pembelajaran berbasis

proyek yang telah mereka lakukan agar di lain kesempatan pembelajaran dan

aktivitas penyelesaian proyek menjadi lebih baik lagi.

Selama berlangsungnya proses belajar dengan model project based

learning siswa akan mendapat bimbingan dari guru atau fasilitator. Secara

umum peran fasilitator adalah memantau dan mendorong kelancaran kerja

kelompok serta melakukan evaluasi terhadap efektifitas proses belajar

kelompok. Untuk lebih rincinya peran fasilitator adalah sebagai berikut:

Mengatur kelompok dan menciptakan suasana yang nyaman.


Mengecek dan memastikan bahwa setiap kelompok telah memiliki seorang anggota

yang bertugas membaca materi, sedangkan temean-temannya yang lain

mendengarkan dari seorang anggota yang bertugas membaca materi dan mencatat

materi yang penting-penting selama berlangsungnya diskusi.

17
Memberikan materi dan informasi pada saat yang tepat sesuai dengan

perkembangan kelompok.
Memastikan bahwa setiap sesi diskusi kelompok diakhiri dengan evaluasi diri.
Menjaga agar kelompok terus memusatkan perhatian pada pencapaian tujuan.
Memonitor jalannya diskusi dan membuat catatan tentang berbagai masalah yang

muncul dalam proses belajar serta menjaga agar proses belajar berlangsung terus,

agar tahapan belajar tidak ada yang terlewati, dan agar setiap tahapan dilalui

dengan urutan yang tepat.


Menjaga motivasi siswa dengan mempertahankan unsure tantangan dalam

penyelesaian tugas dan memberikan pengarahan untuk mendorong siswa keluar

dari kesulitannya.
Membimbing proses belajar siswa dengan mengajukan pertanyaan yang tepat pada

saat yang tepat. Pertanyaan yang diajukan hendaknya pertanyaan terbuka yang

mendorong siswa mencari pemahaman yang lebih mndalam tentang berbagai

konsep, ide, penjelasan, sudut pandang dan lain-lain.


Mengevaluasi kegiatan belajar siswa, termasuk partisipasinya dalam proses

kelompok. Setiap siswa dipastikan terlibat dalam proses kelompok dan berbagai

pemikiran dan pandangan.


Mengevaluasi penerapan model project based learning yang telah dilakukan.

Karakteristik model project based learning meiliki pengaruh pada tingkatan

yang berbeda dari proses pembelajaran, seperti kurikulum, manajemen,

insfrastruktur, desain proyek, desan penilaian, dukungan bagi siswa dan

bimbingan, mnajemen kelas dan organisasi. Sedangkan menurut Batalia, Hadi

(2005), cirri-ciri project based learning antara lain adalah:

1. Desain Proyek
Tahap desain proyek adalah tahap perancangan yang sangat penting.

Salah perancangan dari aktifitas proyek akan meyebabkan dampak yang tidak

18
baik pada proses belajar siswa. Pengajar menggambarkan isi, mengatur

pertanyaan, hasil pembelajaran, material pendukung dan strategi penilaian.


Beberapa aspek dari desain proyek dielenggarakan oleh tim pengajar

dengan disiplin ilmu yang sesuai, mencakup:


a. Isi (contant), yaitu pengajar menentukan topic apa yang tercakup pada

proyek. Proyek yang baik adalah yang sesuai dengan lintas disiplin

ilmu.
b. Hasil pembelajaran, didefinisikan sasaran dan obyektifitas pengukuran

hasil pembelajaran sangat diperlukan. Para pengajar harus menandai

pengetahuan pokok dan ketrampilan yang akan diperoleh siswa,

menguraikan ketrampilan umum yang ditargetkan oleh proyek. Sasaran

hasil pembelajaran harus dipetakan keaktifitas proyek.


c. Titik focus, untuk memotivasi siswa dan memperoleh keterlibatanya

secara penuh, proyek harus dibuat menantang dan berhubungan dengan

permasalahan hidup nayata. Pengajar harus menentukan dan mengatur

pertanyaan yang akan dihadapi siswa dan mendorong siswa untuk

menyelesaikan permasalahan.
d. Aktifitas, dalam aktifitas belajar siswa diharuskan terlibatkan langsung

dalam kegiatan yang realitis yang meliputi aktifitas penyidikan, riset,

pemecahan masalah.
e. Model, pengajar juga menentukan cara untuk menerapkan proyek

organisasi kelas dan kelompok, pelatihan, material pendukung, prosedur

umpan balik dan sumber daya.


f. Penilaian, setrategi untuk mengevaluasi hasil yang dicapai siswa harus

ditentukan. Penilaian sendiri dan tim ahli mempunyai suatu peran

penting dalam pendekatan model project based learning.


2. Monitoring dan Pengendalian

19
Sebelum menjalankan aktifitas siswa, pengajar terlebih harus mengatur

kelas, membentuk kelompok, menugaskan pekerjaan, mengorganisir pelatihan

dan jadwal aktifitas. Setelah tugas proyek diberikan dan ketika siswa

melaksanakan tugas proyek, pengajar harus memonitoring pelaksanaan tugas

proyek, kemajuan, mengkoordinir aktifitas.

Siswa harus menyediakan sarana, mengakses dokumen dan melayani

secara individu maupun kelompok. Siswa juga harus melaksanakan monitor

terhadap kerja kelompok, agar tidak terjadi konflik interpersonal dan kegiatan

tugas proyek dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

3. Support
Penerapan model project based learning dalam pembelajaran biasanya

memberikan instruksi secara tidak langsung. Pengajar dapat memulai dengan

instruksi langsung terbatas pada hal-hal yang bersifat mendasar. Pengajar

menyiapkan dan menyediakan selebaran tugas, menyediakan sarana material

yang lain seperti ceramah, memberi contoh, memberi semangat kepada siswa

dalam mengerjakan tugas proyek. Pengajar selalu mensuport dan membimbing

siswa dalam setiap kegiatan.


4. Penilaian
Untuk melihat hasil belajar siswa dengan menggunakan model proyek

based learning perlu diadakan penilaian. Penilaian harus disatukan dalam

aktitifitas proyek.
5. Umpan Balik
Umpan balik adalah sesuatu yang pokok dalam model project based

learning. Umpan balik dapat dimulai dari para pengajar, pelatih, siswa dan lain-

lain. Para pengajar harrus mengorganisir prosedur umpanbalik. Siswa dan

pengajar dapat memberikan umpan balik mengenai perencanaan, organisasi,

20
support dan penialaian proyek. Presentasi dan diskusi merupakan sarana yang

baik untuk menjadi umpan balik.

Kegiatan siswa dalam model project based larning

Kegiatan yang dilakukan para siswa dalam model proect based learning

adalah siswa bekerja bersama tugas yang diberikan pengajar agar aktif. Siswa

dapat bekerja secara individu maupun kelompok. Dalam banyak kasus siswa

mengerjakan proyek secara bersamaan didalam kelompok kecil. Ada dua jenis

kelompok dalam kegiatan siswa yaitu kelompok on campus dan kelompok off

campus. Kelompok on campus, siswa dapat bertemu secara fisik, tidak

memerlukan alat bantu komunikasi canggih, tetapi memerlukan koordinasi

kerja. Sedangkan kelompok off campus, siswa memerlukan komukasi luas

untuk mengerjakan tugas secara kolaboratif. Oleh karena itu siswa memerlukan

fasilitas synchronous dan acychronous sebagai tambahan terhadap koordinasi

kerja. Kegiatan siswa dapat dikelompokkan menjadi aktifitas invidu, aktifitas

dalam kelompok, dan aktifitas antar kelompok.

a. Secara Individual
Setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dalam suatu

kelompok, kemampuan yang berbeda-beda pula dalam pendekatan belajar dan

penyelesaian tugas.
Sepanjang mengerjakan proyek, tiap siswa melaksanakan aktifitas

sebagai berikut:
Memvisualisasikan proyek dan mencari tugas yang akan dikerjakan.
Mengatur jadwal.
Mengorganisir materi pembelajaran.
Menata dokumen.
Mengirimkan pesan kepada pengajar.
b. Secara kelompok

21
Aktifitas secara kelompok berarti setiap siswa harus melakukan

kegiatan proyek secara bersama-sama dengan yang lain, bekerja sama yang

dapat berwujud seperti:


Diskusi.
Melakukan editing dokumen secara bersama-sama.
Sinkronisasi komunikasi.
Menata dokumen kelompok.
Talk scheduling.
Fear assement.
c. Antar Kelompok
Dalam menyelesaikan tugas proyek dapat dikerjakan dengan kerja

proyek antar kelompok satu dengan kelompok lain. Contoh kerja antar

kelompok ini adalah:


Presentasi.
Fear reviews.
Memberikan kontribusi pada forum diskusi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan

model project based learning adalah suatu model pembelajaran yang

didominasi dalam keterlibatnya oleh siswa baik secara individu maupun

kelompok dengan memperhatikan langkah-langkah pengerjaan proyek hingga

menghasilkan suatu kesimpulan sesuai dengan realitas yang nyata. Penerapan

motede project based learning dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah

yang tepat akan member banyak manfaat bagi siswa antara lain: kemampuan

memecahkan masalah, bekerja sama, berpikir, kemampuan berkomunikasi,

menghitung, memanfaatkan waktu dan kemampuan menginformasikan.

c. Hakikat Model Pembelajaran Langsung


Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang

menekankan pada penguasaan konsep dan/atau perubahan perilaku dengan

mengutamakan pendekatan deduktif dimana pembelajaran berpusat pada

22
guru. Model pengajaran langsung merupakan salah satu model pengajaran

yang dirancang khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang

pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan

baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah (Kardi dan Nur, 2000: 5).

Adapun yang dimaksud dengan pengetahuan deklaratif (dapat diungkapkan

dengan kata-kata) adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan

prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.


a. Macam-macam model pembelajaran langsung
a. Ceramah merupakan suatu cara penyampaian informasi dengan

lisan dari seorang kepada sejumlah pendengar.


b. Praktek dan latihan merupakan teknik untuk membantu siswa agar

dapat menghitung dengan cepat yaitu dengan banyak latihan dan

mengerjakan soal.
c. Ekspositori merupakan suatu cara penyampaian informasi yang

mirip dengan ceramah, hanya saja frekuensi pembicaraan guru

lebih sedikit.
d. Demonstrasi merupakan suatu cara penyampaian informasi dengan

ceramah dan ekspositori, hanya saja frekuensi pembicaraan guru

lebih sedikit dan siswa lebih banyak dilibatkan.


e. Questioner merupakan suatu cara menyampaikan informasi dengan

cara mengisi lembaran-lembaran yag berisi pilihan-pilihan.


f. Mencongak merupakan suatu cara penyampaian informasi dengan

melihat bahan atau buku dan menyalinya.


b. Ciri-ciri model pembelajaran langsung
a. Transformasi dan ketrampilan secara langsung
b. Pembelajaran berorientasi pada tujuan tertentu
c. Proses pembelajaran didominasi oleh guru
d. Lingkungan belajar yang telah terstruktur
e. Lebih mengutamakan keluasan materi ajar dari pada proses

terjadinya pembelajaran

23
f. Materi ajar bersumber dari guru.
c. Tahapan model pembelajaran langsung
Tahapan atau sintaks model pembelajaran langsung menurut Bruce dan

Weil (1996), sebagai berikut:

a. Orientasi.

Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, akan sangat

menolong siswa jika guru memberikan kerangka pelajaran dan

orientasi terhadap materi yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk

orientasi dapat berupa: (1) kegiatan pendahuluan untuk mengetahui

pengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki

siswa; (2) mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pelajaran;

(3) memberikan penjelasan/arahan mengenai kegiatan yang akan

dilakukan; (4) menginformasikan materi/konsep yang akan

digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran;

dan (5) menginformasikan kerangka pelajaran.

b. Presentasi.

Pada fase ini guru dapat menyajikan materi pelajaran baik berupa

konsep-konsep maupun keterampilan. Penyajian materi dapat

berupa: (1) penyajian materi dalam langkah-langkah kecil sehingga

materi dapat dikuasai siswa dalam waktu relatif pendek;(2)

pemberian contoh-contoh konsep; (3) pemodelan atau peragaan

keterampilan dengan cara demonstrasi atau penjelasan langkah-

langkah kerja terhadap tugas; dan (4) menjelaskan ulang hal-hal

yang sulit.

24
c. Latihan terstruktur.

Pada fase ini guru memandu siswa untuk melakukan latihan-

latihan. Peran guru yang penting dalam fase ini adalah memberikan

umpan balik terhadap respon siswa dan memberikan penguatan

terhadap respon siswa yang benar dan mengoreksi respon siswa

yang salah.

d. Latihan terbimbing.

Pada fase ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk

berlatih konsep atau keterampilan. Latihan terbimbing ini baik juga

digunakan oleh guru untuk mengases/menilai kemampuan siswa

untuk melakukan tugasnya. Pada fase ini peran guru adalah

memonitor dan memberikan bimbingan jika diperlukan.

e. Latihan mandiri.

Pada fase ini siswa melakukan kegiatan latihan secara mandiri, fase

ini dapat dilalui siswa jika telah menguasai tahap-tahap pengerjaan

tugas 85-90% dalam fase bimbingan latihan.

Di lain pihak, Slavin (2003) mengemukakan tujuh langkah dalam

sintaks pembelajaran langsung, yaitu sebagai berikut.

a. Menginformasikan tujuan pembelajaran dan orientasi pelajaran

kepada siswa. Dalam tahap ini guru menginformasikan hal-hal yang

harus dipelajari dan kinerja siswa yang diharapkan.

25
b. Me-review pengetahuan dan keterampilan prasyarat. Dalam tahap

ini guru mengajukan pertanyaan untuk mengungkap pengetahuan

dan keterampilan yang telah dikuasai siswa.

c. Menyampaikan materi pelajaran. Dalam fase ini, guru

menyampaikan materi, menyajikan informasi, memberikan contoh-

contoh, mendemontrasikan konsep dan sebagainya.

d. Melaksanakan bimbingan. Bimbingan dilakukan dengan

mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menilai tingkat

pemahaman siswa dan mengoreksi kesalahan konsep.

e. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih. Dalam tahap

ini, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih

keterampilannya atau menggunakan informasi baru secara individu

atau kelompok.

f. Menilai kinerja siswa dan memberikan umpan balik. Guru

memberikan reviu terhadap hal-hal yang telah dilakukan siswa,

memberikan umpan balik terhadap respon siswa yang benar dan

mengulang keterampilan jika diperlukan.

g. Memberikan latihan mandiri. Dalam tahap ini, guru dapat

memberikan tugas-tugas mandiri kepada siswa untuk meningkatkan

pemahamannya terhadap materi yang telah mereka pelajari.

26
Kelebihan model pembelajaran langsung:

a. Dengan model pembelajaran langsung, guru mengendalikan isi

materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga

dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai

oleh siswa.

b. Dapat diterapkan secara efektif dalam kelas yang besar maupun

kecil.

c. Dapat digunakan untuk menekankan poin-poin penting atau

kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi siswa sehingga hal-hal

tersebut dapat diungkapkan.

d. Dapat menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan informasi dan

pengetahuan faktual yang sangat terstruktur.

e. Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan

keterampilan-keterampilan yang eksplisit kepada siswa yang

berprestasi rendah.

f. Dapat menjadi cara untuk menyampaikan informasi yang banyak

dalam waktu yang relatif singkat yang dapat diakses secara setara

oleh seluruh siswa.

27
g. Memungkinkan guru untuk menyampaikan ketertarikan pribadi

mengenai mata pelajaran (melalui presentasi yang antusias) yang

dapat merangsang ketertarikan dan dan antusiasme siswa.

h. Ceramah merupakan cara yang bermanfaat untuk menyampaikan

informasi kepada siswa yang tidak suka membaca atau yang tidak

memiliki keterampilan dalam menyusun dan menafsirkan

informasi.

i. Secara umum, ceramah adalah cara yang paling memungkinkan

untuk menciptakan lingkungan yang tidak mengancam dan bebas

stres bagi siswa. Para siswa yang pemalu, tidak percaya diri, dan

tidak memiliki pengetahuan yang cukup tidak merasa dipaksa dan

berpartisipasi dan dipermalukan.

j. Model pembelajaran langsung dapat digunakan untuk membangun

model pembelajaran dalam bidang studi tertentu. Guru dapat

menunjukkan bagaimana suatu permasalahan dapat didekati,

bagaimana informasi dianalisis, dan bagaimana suatu pengetahuan

dihasilkan.

k. Pengajaran yang eksplisit membekali siswa dengan cara-cara

disipliner dalam memandang dunia (dan) dengan menggunakan

perspektif-perspektif alternatif yang menyadarkan siswa akan

keterbatasan perspektif yang inheren dalam pemikiran sehari-hari.

28
l. Model pembelajaran langsung yang menekankan kegiatan

mendengar (misalnya ceramah) dan mengamati (misalnya

demonstrasi) dapat membantu siswa yang cocok belajar dengan

cara-cara ini.

m. Ceramah dapat bermanfaat untuk menyampaikan pengetahuan yang

tidak tersedia secara langsung bagi siswa, termasuk contoh-contoh

yang relevan dan hasil-hasil penelitian terkini.

n. Model pembelajaran langsung (terutama demonstrasi) dapat

memberi siswa tantangan untuk mempertimbangkan kesenjangan

yang terdapat di antara teori (yang seharusnya terjadi) dan

observasi (kenyataan yang mereka lihat).

o. Demonstrasi memungkinkan siswa untuk berkonsentrasi pada

hasil-hasil dari suatu tugas dan bukan teknik-teknik dalam

menghasilkannya. Hal ini penting terutama jika siswa tidak

memiliki kepercayaan diri atau keterampilan dalam melakukan

tugas tersebut.

p. Siswa yang tidak dapat mengarahkan diri sendiri dapat tetap

berprestasi apabila model pembelajaran langsung digunakan secara

efektif.

29
q. Model pembelajaran langsung bergantung pada kemampuan

refleksi guru sehingga guru dapat terus menerus mengevaluasi dan

memperbaikinya.

Kekurangan Model Pembelajaran Langsung:

a. Model pembelajaran langsung bersandar pada kemampuan siswa

untuk mengasimilasikan informasi melalui kegiatan mendengarkan,

mengamati, dan mencatat. Karena tidak semua siswa memiliki

keterampilan dalam hal-hal tersebut, guru masih harus

mengajarkannya kepada siswa.

b. Dalam model pembelajaran langsung, sulit untuk mengatasi

perbedaan dalam hal kemampuan, pengetahuan awal, tingkat

pembelajaran dan pemahaman, gaya belajar, atau ketertarikan

siswa.

c. Karena siswa hanya memiliki sedikit kesempatan untuk terlibat

secara aktif, sulit bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan

sosial dan interpersonal mereka.

d. Karena guru memainkan peran pusat dalam model ini, kesuksesan

strategi pembelajaran ini bergantung pada image guru. Jika guru

tidak tampak siap, berpengetahuan, percaya diri, antusias, dan

terstruktur, siswa dapat menjadi bosan, teralihkan perhatiannya,

dan pembelajaran mereka akan terhambat.

30
e. Terdapat beberapa bukti penelitian bahwa tingkat struktur dan

kendali guru yang tinggi dalam kegiatan pembelajaran, yang

menjadi karakteristik model pembelajaran langsung, dapat

berdampak negatif terhadap kemampuan penyelesaian masalah,

kemandirian, dan keingintahuan siswa.

f. Model pembelajaran langsung sangat bergantung pada gaya

komunikasi guru. Komunikator yang buruk cenderung

menghasilkan pembelajaran yang buruk pula dan model

pembelajaran langsung membatasi kesempatan guru untuk

menampilkan banyak perilaku komunikasi positif.

g. Jika materi yang disampaikan bersifat kompleks, rinci, atau

abstrak, model pembelajaran langsung mungkin tidak dapat

memberi siswa kesempatan yang cukup untuk memproses dan

memahami informasi yang disampaikan.

h. Model pembelajaran langsung memberi siswa cara pandang guru

mengenai bagaimana materi disusun dan disintesis, yang tidak

selalu dapat dipahami atau dikuasai oleh siswa. Siswa memiliki

sedikit kesempatan untuk mendebat cara pandang ini.

i. Jika model pembelajaran langsung tidak banyak melibatkan siswa,

siswa akan kehilangan perhatian setelah 10-15 menit dan hanya

akan mengingat sedikit isi materi yang disampaikan.

31
j. Jika terlalu sering digunakan, model pembelajaran langsung akan

membuat siswa percaya bahwa guru akan memberitahu mereka

semua yang perlu mereka ketahui. Hal ini akan menghilangkan rasa

tanggung jawab mengenai pembelajaran mereka sendiri.

k. Karena model pembelajaran langsung melibatkan banyak

komunikasi satu arah, guru sulit untuk mendapatkan umpan balik

mengenai pemahaman siswa. Hal ini dapat membuat siswa tidak

paham atau salah paham.

l. Demonstrasi sangat bergantung pada keterampilan pengamatan

siswa. Sayangnya, banyak siswa bukanlah pengamat yang baik

sehingga dapat melewatkan hal-hal yang dimaksudkan oleh guru.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model

pembelajaran langsung adalah sebuah model pembelajaran yang

dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang

berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan

prosedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan secara

bertahap, pembelajaran langsung melalui berbagai pengetahuan

secara aktif untuk mengenalkan siswa kepada materi pelajaran yang

akan diajarkan.

3. Kepercayaan Diri
a. Pengertian Kepercayaan Diri

32
Kepercayaan diri atau rasa percaya diri merupakan hal yang sangat

penting dimiliki oleh setiap manusia. Percaya diri merupakan salah satu aspek

kepribadian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Orang yang

percaya diri yakin atas kemampuan mereka sendiri serta memiliki pengharapan

yang realistis, bahkan ketika harapan mereka tidak terwujud, mereka tetap

berpikiran positif dan dapat menerimanya.

Menurut Thantaway dalam istilah Bimbingan dan Konseling

(2005:87), percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang

yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan

sesuatu tindakan. Orang yang tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif,

kurang percaya pada kemampuannya, karena itu sering menutup diri.

Percayaan diri merupakan suatu keyakinan dan sikap seseorang

terhadap kemampuan pada dirinya sendiri dengan menerima secara apa

adanya baik positif maupun negatif yang dibentuk dan dipelajari melalui

proses belajar dengan tujuan untuk kebahagiaan dirinya. Seseorang yang

percaya diri dapat menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang sesuai dengan

tahapan perkembangan dengan baik, merasa berharga, mempunyai

keberanian, dan kemampuan untuk meningkatkan prestasinya,

mempertimbangkan berbagai pilihan, serta membuat keputusan sendiri

merupakan perilaku yang mencerminkan percaya diri (Lie, 2003).

Percaya diri adalah modal dasar seorang manusia dalam memenuhi

berbagai kebutuhan sendiri. Seseorang mempunyai kebutuhan untuk

kebebasan berfikir dan berperasaan sehingga seseorang yang mempunyai

33
kebebasan berfikir dan berperasaan akan tumbuh menjadi manusia dengan

rasa percaya diri. Salah satu langkah pertama dan utama dalam membangun

rasa percaya diri dengan memahami dan meyakini bahwa setiap manusia

memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kelebihan yang ada

didalam diri seseorang harus dikembangkan dan dimanfaatkan agar menjadi

produktif dan berguna bagi orang lain (Hakim, 2002).

Faktor yang mempegaruhi terbentuknya kepercayaan diri

Kepercayaan diri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat

digolongkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan factor eksternal:

a. Faktor internal, meliputi:

1. Konsep diri. Terbentuknya keperayaan diri pada seseorang diawali

dengan perkembangan konsep diri yang diperoleh dalam pergaulan

suatu kelompok. Menurut Centi (1995), konsep diri merupakan

gagasan tentang dirinya sendiri. Seseorang yang mempunyai rasa

rendah diri biasanya mempunyai konsep diri negatif, sebaliknya orang

yang mempunyai rasa percaya diri akan memiliki konsep diri positif.

2. Harga diri. Meadow (dalam Kusuma, 2005 ) Harga diri yaitu penilaian

yang dilakukan terhadap diri sendiri. Orang yang memiliki harga diri

tinggi akan menilai pribadi secara rasional dan benar bagi dirinya serta

mudah mengadakan hubungan dengan individu lain. Orang yang

mempunyai harga diri tinggi cenderung melihat dirinya sebagai

individu yang berhasil percaya bahwa usahanya mudah menerima

orang lain sebagaimana menerima dirinya sendiri. Akan tetapi orang

34
yang mempuyai harga diri rendah bersifat tergantung, kurang percaya

diri dan biasanya terbentur pada kesulitan sosial serta pesimis dalam

pergaulan.

3. Kondisi fisik. Perubahan kondisi fisik juga berpengaruh pada

kepercayaan diri. Anthony (1992) mengatakan penampilan fisik

merupakan penyebab utama rendahnya harga diri dan percaya diri

seseorang. Lauster (1997) juga berpendapat bahwa ketidakmampuan

fisik dapat menyebabkan rasa rendah diri yang kentara.

4. Pengalaman hidup. Lauster (1997) mengatakan bahwa kepercayaan

diri diperoleh dari pengalaman yang mengecewakan adalah paling

sering menjadi sumber timbulnya rasa rendah diri. Lebih lebih jika

pada dasarnya seseorang memiliki rasa tidak aman, kurang kasih

sayang dan kurang perhatian.

b. Faktor eksternal meliputi:

1. Pendidikan. Pendidikan mempengaruhi kepercayaan diri

seseorang. Anthony (1992) lebih lanjut mengungkapkan bahwa tingkat

pendidikan yang rendah cenderung membuat individu merasa dibawah

kekuasaan yang lebih pandai, sebaliknya individu yang pendidikannya

lebih tinggi cenderung akan menjadi mandiri dan tidak perlu

bergantung pada individu lain. Individu tersebut akan mampu

memenuhi keperluan hidup dengan rasa percaya diri dan kekuatannya

dengan memperhatikan situasi dari sudut kenyataan.

35
2. Pekerjaan. Rogers (dalam Kusuma,2005) mengemukakan bahwa

bekerja dapat mengembangkan kreatifitas dan kemandirian serta rasa

percaya diri. Lebih lanjut dikemukakan bahwa rasa percaya diri dapat

muncul dengan melakukan pekerjaan, selain materi yang diperoleh.

Kepuasan dan rasa bangga di dapat karena mampu mengembangkan

kemampuan diri.

3. Lingkungan dan Pengalaman hidup. Lingkungan disini merupakan

lingkungan keluarga dan masyarakat. Dukungan yang baik yang

diterima dari lingkungan keluarga seperti anggota kelurga yang saling

berinteraksi dengan baik akan memberi rasa nyaman dan percaya diri

yang tinggi. Begitu juga dengan lingkungan masyarakat semakin bisa

memenuhi norma dan diterima oleh masyarakat, maka semakin lancar

harga diri berkembang (Centi, 1995).

Macam-Macam Percaya Diri

Berikut ini ada beberapa istilah yang terkait dengan

persoalan pede/percaya diri yaitu ada empat macam, yaitu :

1. Self-concept : bagaiman Anda menyimpulkan diri anda secara

keseluruhan, bagaimana Anda melihat potret diri Anda secara

keseluruhan, bagaimana Anda mengkonsepsikan diri anda secara

keseluruhan.

2. Self-esteem : sejauh mana Anda punya perasaan positif terhadap diri

Anda, sejauhmana Anda punya sesuatu yang Anda rasakan bernilai atau

36
berharga dari diri Anda, sejauh mana Anda meyakini adanya sesuatu

yang bernilai, bermartabat atau berharga di dalam diri Anda.

3. Self efficacy : sejauh mana Anda punya keyakinan atas kapasitas yang

Anda miliki untuk bisa menjalankan tugas atau menangani persoalan

dengan hasil yang bagus (to succeed). Ini yang disebut dengan general

self-efficacy. Atau juga, sejauhmana Anda meyakini kapasitas anda di

bidang anda dalam menangani urusan tertentu. Ini yang disebut dengan

specific self-efficacy.

4. Self-confidence: sejauhmana Anda punya keyakinan terhadap penilaian

Anda atas kemampuan Anda dan sejauh mana Anda bisa merasakan

adanya kepantasan untuk berhasil. Self confidence itu adalah

kombinasi dari self esteem dan self-efficacy (James Neill, 2005)

Berdasarkan paparan tentang percaya diri, disimpulkan

bahwa percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis seseorang,

dimana individu dapat mengevaluasi keseluruhan dari dirinya sehingga

memberi keyakinan kuat pada kemampuan dirinya untuk melakukan

tindakan dalam mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya.

Akibat Kurang Percaya Diri

Ketika ini dikaitkan dengan praktek hidup sehari-hari, orang yang

memiliki kepercayaan diri rendah atau telah kehilangan kepercayaan,

cenderung merasa / bersikap sebagai berikut :

b. Tidak memiliki sesuatu (keinginan, tujuan, target) yang diperjuangkan

secara sungguh sungguh.


c. Tidak memiliki keputusan melangkah yang decissive (ngambang)

37
d. Mudah frustasi atau give-up ketika menghadapi masalah atau kesulitan
e. Kurang termotivasi untuk maju, malas-malasan atau setengah-setengah
f. Sering gagal dalam menyempurnakan tugas-tugas atau tanggung jawab

(tidak optimal)
g. Canggung dalam menghadapi orang
h. Tidak bisa mendemonstrasikan kemampuan berbicara dan kemampuan

mendengarkan yang meyakinkan


i. Sering memiliki harapan yang tidak realistis
j. Terlalu perfeksionis
k. Terlalu sensitif (perasa)

Sebaliknya, orang yang mempunyai kepercayaan diri bagus, mereka

memiliki perasaan positif terhadap dirinya, punya keyakinan yang kuat atas

dirinya dan punya pengetahuan akurat terhadap kemampuan yang dimiliki.

Orang yang punya kepercayaan diri bagus bukanlah orang yang hanya

merasa mampu (tetapi sebetulnya tidak mampu) melainkan adalah orang

yang mengetahui bahwa dirinya mampu berdasarkan pengalaman dan

perhitungannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri adalah

kondisi mental seseorang yang memberikan keyakinan dan kemampuan

sendiri untuk melakukan suatu tindakan berdasarkan pengalaman yang

disertai dengan hasil yang nyata.rcaya diri

B. Kerangka Berpikir
1. Perbedaan Hasil Belajar Akuntansi yang Dibelajarkan Menggunakan
Model Problem Based Learning dengan yang Dibelajarkan
Menggunakan Model Pembelajaran Langsung

38
Hasil belajar akuntansi merupakan hasil kompetensi yang diperoleh

siswa melalui berbagai rangkaian kegiatan dan pengalaman belajar yang

dilalui.
Setiap siswa mempunyai kompetensi dasar berbeda dan harus

dikembangkan, maka hasil belajar akuntansi setiap siswa baik secara

psikomotorik maupun kognitif akan berpengaruh terhadap bagaimana seorang

guru dalam menyampaikan model pembelajarannya secara sistematik,

menarik dan menyenangkan.


Model pembelajaran project based learning merupakan salah satu model

alternative yang dapat membangkitkan semangat dan gairah belajar siswa,

sehingga siswa dapat beraktifitas secara aktif, mampu dan terampil

menciptakan, inovasi bagi dirinya maupun bagi orang lain. Sedangkan model

pembelajaran secara langsung keaktifan lebih banyak berpusat kepada

seorang guru dibandingkan kegiatan pada siswa.


Dari uraian di atas maka dapat diduga hasil belajar akuntansi yang

dibelajarkan dengan menggunakan model project based learning lebih unggul

dibandingkan dengan yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran

langsung.
2. Pengaruh Interaksi Antara Model Pembelajaran dan Kepercayaan Diri

Terhadap Hasil Belajar Akuntansi


Model pembelajaran berbasis proyek (project based learning) adalah

sebuah model pembelajaran yang menggunakan proyek (kegiatan) sebagai

inti pembelajaran. Dalam kegiatan ini, siswa melakukan eksplorasi, penilaian,

interpretasi, dan sintesis informasi untuk memperoleh berbagai hasil belajar

(pengetahuan, keterampilan, dan sikap).

39
Sehubungan dengan kegiatan pembelajaran berbasis proyek ini

diperlukan sikap mental yang kuat, mandiri dan percaya diri. Dengan sikap

percarya diri akan memberikan suasana belajar yang lebih menyenangkan

sehingga siswa dapat dengan mudah melakukan kegiatan pembelajaran.


Berdasarkan uraian di atas diduga terdapat interaksi antara model

pembelajaran proyek based learning dan kepercayaan diri terhadap hasil

belajar akuntansi.

3. Perbedaan Hasil Belajar yang Dibelajarkan Menggunakan Model


Project Based Learning dengan yang Dibelajarkan Menggunakan Model
Pembelajaran Langsung pada Siswa yang Mempunyai Kepercayaan Diri
Tinggi

Pada dasarnya kepercayaan diri merupakan sikap percaya diri yaitu

keadaan pemikiran seseorang yang dihadirkan melalui perbuatan. Seseorang

dapat lebih percaya diri apabila ia memiliki tujuan dalam hidupnya.

Kepercayaan diri akan berpengaruh terhadap hasil belajar dalam proses

kegiatan pembelajaran.
Penggunaan model pembelajaran proyek based learning merupakan

salah pilihan, usaha dan upaya untuk meningkatkan hasil belajar akuntansi.

Namun usaha dan upaya ini tidak akan berhasil jika tidak didukung oleh

kemampuan siswa dengan meningkatkan sikap percaya diri yang tinggi.


Dengan demikian, maka dari uraian di atas diduga siswa yang

mempunyai kepercayaan diri tinggi yang mendapat perlakuan dengan

menggunakan model pembelajaran project based learning lebih unggul dari

pada yang menggunakan model pembelajaran langsung.

40
4. Perbedaan Hasil Belajar yang Dibelajarkan Menggunakan Model
Project Based Learning dengan yang Dibelajarkan Menggunakan Model
Pembelajaran Langsung pada Siswa yang Mempunyai Kepercayaan Diri
Rendah

Sikap percaya diri merupakan kemampuan seseorang yang mendasar

terhadap suatu kegiatan. Sikap percaya diri menjadi salah satu penyebab

suatu kegiatan yang dilakukan.

Penerapan sikap kepercayaan diri kepada siswa merupakan sesuatu

yang harus ada pada diri siswa. Sebaik apapun model pembelajaran yang

diterapkan dalam proses belajar mengajar tidak akan berhasil jika siswa

memiliki sikap kepercayaan diri rendah. Rendahnya sikap kepercayaan diri

ini akan berdampak pada hasil belajar siswa.


Dalam proses pembelajaran, guru juga mempunyai tugas untuk

mendasain proses pembelajaran yang baik agar dapat menyetuh langsung

kepada siswa. Namun demikian kepercayaan diri siswa sangat diutamakan

dari pada dengan pembelajaran secara langsung yang berpusat pada guru.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, disuga siswa yang mempunayai

kepercayaan diri rendah yang mendapat perlakuan dengan menggunakan

model pembelajaran project based learning lebih unggul dari pada yang

menggunakan model pebelajaran langsung.

C. Pengajuan Hipotesis

Berdasarkan landasan teoretik dan kerangka brepikir sebagaimana disebutkan di

atas, maka peneliti merumuskan hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

41
1. Hasil Belajar Akuntansi yang Dibelajarkan Menggunakan Model Project Based

Learning lebih unggul disbanding dengan yang Dibelajarkan Menggunakan Model

Pembelajaran Langsung.
2. Terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran Project Based Learning dan

model pembelajaran langsung dengn hasil belajar akuntansi.


3. Hasil Belajar yang Dibelajarkan Menggunakan Model Project Based Learning lebih

unggul dibandingkan dengan yang Dibelajarkan Menggunakan Model

Pembelajaran Langsung pada Siswa yang Mempunyai Kepercayaan Diri Tinggi.


4. Hasil Belajar yang Dibelajarkan Menggunakan Model Project Based Learning lebih

unggul dibandingkan dengan yang Dibelajarkan Menggunakan Model

Pembelajaran Langsung pada Siswa yang Mempunyai Kepercayaan Diri Rendah.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian

42
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas, yaitu model project based

learning dan kepercayaan diri, serta hasil belajar akuntansi sebagai variabel terikat.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah:


1. Terdapat perbedaan hasil belajar akuntansi yang dibelajarkan dengan

menggunakan model project based learning dengan siswa yang dibelajarkan

menggunakan model pembelajaran langsung.


2. Terdapat interaksi antara model project based learning dan kepercyaan diri

terhadap hasil belajar akuntansi.


3. Terdapat perbedaan hasil belajar akuntansi yang dibelajarkan dengan model

project based learning dan yang dibelajarkan dengan pembelajaran langsung

pada siswa yang memiliki kepercayaan diri tinggi.


4. Terdapat perbedaan hasil belajar akuntansi yang dibelajarkan dengan model

project based learning dan yang dibelajarkan dengan pembelajaran langsung

pada siswa yang memiliki kepercayaan diri rendah.

B. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini akan dilaksanakan di SMK Mutiara Baru

Kecamatan Rawalumbu Kota Bekasi.


2. Waktu Penelitian
Adapun kegiatan penelitian dilaksanakan kurang lebih 4 bulan dari bulan

Agustus 2014 sampai dengan Oktober 2014.


Penelitian ini dilaksanakan dalam jangka waktu 4 bulan, yaitu bulan

Agustus hingga Oktober 2013. Waktu penelitian terinci pada tabel di bawah ini.
Tabel .1
JADWAL PENELITIAN

N Nama
Bulan Ket.
o. Kegiatan
Juli Agst Se Ok No De

43
p t p s

1 Survei
. lapangan

2 Penyusunan
. Proposal

Seminar dan
3 Minggu
revisi Ke-1 atau
. Ke-2
proposal

Penelitian
Minggu
4 dan
ke-3 atau
. pengolahan
ke-4
data

Sidang,
5 revisi dan Jadwal
. penyelesaian Fleksibel
thesis

C. Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan

foctorial 2 x 2 Group Design yang membandingkan dua model pembelajaran yaitu model

project based learning dan model pembelajaran langsung dan kepercayaan diri. Adapun

desain foctorial 2 x 2 disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 2. Pola Eksperimen dengan Rancangan Group Faktorial 2 x 2

44
Model Pembelajaran

(A)
Model Project Based Model Pembelajaran
Learning (A1) Langsung (A2)

Kepercayaan Diri (B)


Kepercayaan Diri Tinggi (B1) A1 B1 A2 B1

Kepercayaan Diri Rendah (B2) A1 B2 A2 B2

Keterangan

A1 : Siswa yang dibelajarkan dengan model project based learning

A2 : Siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung

B1 : Siswa yang memiliki kepercayaan diri tinggi

B2 : Siswa yang memiliki kepercayaan diri rendah

A1B1 : Hasil belajar akuntansi yang dibelajarkan dengan model project based

learning pada siswa yang memiliki kepercayaan diri tinggi.

A2B1 : Hasil belajar akuntansi yang dibelajarkan dengan model pembelajaran

langsung pada siswa yang memiliki kepercayaan diri tinggi.

A1 B2 : Hasil belajar akuntansi yang dibelajarkan dengan model project based

learning pada siswa yang memiliki kepercayaan diri rendah

45
A2B2 : Hasil belajar akuntansi yang dibelajarkan dengan model pembelajaran

langsung pada siswa yang memiliki kepercayaan diri rendah.

D. Populasi dan Sampel


1. Populasi Penelitian
Dalam penelitian ini populasi dibagi menjadi populasi target dan

populasi terjangkau. Populasi target penelitian adalah seluruh siswa akuntansi

SMK Mutiara Baru Kota Bekasi dengan jumlah 106 siswa. Populasi terjangkau

pada penelitian ini adalah siswa kelas XII Akuntansi SMK Mutiara Baru kota

Bekasi tahun pelajaran 2014 - 2015 dengan jumlah 51 siswa yang terbagi

dalam 2 kelas.
2. Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan adalah siswa kelas XII Akuntansi SMK Mutiara

Baru Kota Bekasi sebanyak 2 (dua) kelas yang berjumlah 51 siswa. Teknik

sampel yang digunakan adalah Proportionate Startified Random Sampling

(Sugiyono). Dengan penggunaan sampel yang demikian, maka peneliti

memberi hak yang sama kepada setiap subjek untuk memperoleh kesempatan

dipilih menjadi sampel.


Menurut Popham bahwa di dalam penentuan kelompok itu

menggunakan 27% dari semua testee.10 Pemilahan tersebut sejalan pula dengan

pendapat Guilford.11
Berdasarkan ketentuan pemilahan melalui 27% dari semua testee, maka

komposisi sampel pada tiap-tiap kelas yaitu untuk kelas eksperimen terdiri dari

10 W James Popham, Modern Educational Measurement (Englewood Cliff N.J.:Prentice Hall,Inc,1981), h.296

11 J.Guilford, Psychometric Method (New York: McGraw-Hill Book Company,Inc,1945), h.425

46
27% siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan 27% siswa yang

memiliki motivasi belajar rendah, begitu juga kelas kontrol terdiri dari 27%

siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan 27% siswa yang memiliki

motivasi belajar rendah.


Karakteristik responden pada dua kelas tersebut adalah sama, namun

kemampuan antar kelas berbeda, sehingga dari dua kelas itu diberi perlakuan

yang berbeda. Satu kelas A sebagai kelas eksperimen diberi perlakuan dengan

model pembelajaran project based learnig dan kelas B sebagai kelas kontrol

diberi perlakuan dengan model pembelajaran langsung.


E. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian dengan dua cara yaitu

menggunakan tes dan lembar observasi untuk mengukur hasil belajar akuntansi. Tes

yang diberikan berupa soal pilihan ganda dengan skor benar 1 dan skor salah 0,

kemudian digabungkan dengan skor penilaian praktek pada lembar observasi

dengan kriteria penilaian skor 3 adalah kompeten, skor 2 adalah kurang kompeten,

dan skor 1 adalah tidak kompeten. Sedangkan angket digunakan untuk

mengungkap data tentang kepercayaan diri siswa dengan menggunakan skala likert

seperti tampak pada table berikut:


Tabel 3. Skala jawaban pada Skala Likert

No Pernyataan positif Skor Pernyataan Negatif Skor

.
1 Sangat Setuju Sekali 5 Sangat Setuju Sekali 1
2 Sangat Setuju 4 Sangat Setuju 2
3 Kurang Setuju 3 Kurang Setuju 3
4 Tidak Setuju 2 Tidak Setuju 4
5 Sangat Tidak Setuju 1 Sangat Tidak Setuju 5

Variabel-variabel yang diteliti

47
Dalam penelitian ini variable-variabel yang digunakan terdiri dari variable variabel

terikat (Y), variable bebas. Variabel terikat yaitu hasil belajar akuntansi. Variabel in

yang diamati dan diukur untuk mengetahui efek variable bebas. Sedangkan variabel

bebas yaitu 1. variabel eksperimental yaitu variable perlakuan model pembelajaran

project based learning, 2. variabel moderatorterdiri variable perlakuan terhadap

kepercayaan diri tinggi dan perlakuan terhadap kepercayaan diri rendah, 3. variable

atribut/control yaitu variable perlakuan model pembelajaran langsung.

1. Variabel Hasil Belajar Akuntansi


a. Definisi Konseptual
Hasil belajar akuntansi merupakan tingkat penguasaan siswa dalam

pembelajaran akuntansi setelah mengikuti proses kegiatan pembelajaran yang

meliputi aspek kognitif, yaitu pengetahuan (C-1), pemahaman (C-2),

penerapan (C-3), Analisis (C-4), sintesis (C-5), dan evaluasi (C-6) yang

mencakup materi pembelajan membuat laporan keuangan.


b. Definisi Operasional
Secara oprasional, hasil belajar akuntansi adalah skor yang didapat siswa

setelah diberikan tes hasil belajar akuntansi merupakan tingkat penguasaan

siswa dalam pembelajaran akuntansi setelah mengikuti proses kegiatan

pembelajaran yang meliputi aspek kognitif, yaitu pengetahuan (C-1),

pemahaman (C-2), penerapan (C-3), Analisis (C-4), sintesis (C-5), dan evaluasi

(C-6) yang mencakup materi pembelajaran membuat laporan keuangan.


Instrumen berbentuk soal pilihan ganda yang berjumlah 30 butir soal

dengan 5 alternatif jawaban, yang terdiri dari satu jawaban harapan dan 4

jawaban pengecoh. Jawaban yang benar diberi skor 1 dan jawaban yang salah

diberi skor 0.
c. Kisi-Kisi Instrumen
Tabel 4 Kisi-Kisi Instrumen Hasil Belajar Akuntansi

48
Aspek yang Dinilai
Variabel Indikator
C1 C2 C3 C4 C5 C6
Hasil Menjelaskan pengertian 1,2

Belajar laporan keuangan 3-7

Akuntansi Menyebutkan macam- 8-10


macam laporan keuangan 11-14
Mengidentifikasi unsur-
1518
unsur laporan keuangan 19-25 26-28
Menentukan jenis laporan 2930
keuangan
Menyebutkan bentuk-
bentuk laporan keuangan
Membuat dan menyusun
laporan keuangan
Menganalisa laporan
keuangan

d. Kalibrasi Hasil Belajar Akuntansi


Untuk menguji keabsahan (validitas) dan kehandalan (realibilitas) butir-butir

instrumen yang dipergunakan dalam penelitian ini, dilakukan uji coba instrument

terhadap 30 siswa kelas XII AK SMK Mutiara Baru Kota Bekasi.

1. Validitas
Validitas instrument diuji dengan menggunakan statistik korelasi biserial

titik atau point Biserial Correlation (rpbis) dan untuk mengetahui keandalan

(reliabilitas) butir soal pada tes formatif akuntansi yang diujikan pada penelitian

ini terhadap kelas XII SMK Mutiara Baru Kota Bekasi dilakukan dengan Formula

Kuder Richardson-20 (KR-20,1937) yang disebut juga koefisien a-20

(Cronbach,1951) serta dibantu dengan menggunakan SPSS 16.0 for windows.


Rumus :

49
J
1
Pi (Pi )
J 1 S 2 x
KR-20 =
Dimana :
Pi = Proporsi subjek yang mendapat skor 1 pada butir I yaitu banyaknya subjek

mendapat skor 1 dibagi dengan banyaknya seluruh subjek.


2
S x = Varians skors tes X
J = Banyaknya butir tes, dalam hal ini adalah banyaknya butir tes

2. Reliabilitas
Untuk menguji reliabilitas instrument digunakan rumus Koefisien Product

Moment dan uji realibilitas dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach serta

dibantu dengan SPSS 16.0 for window.

50
Rumus Koefisien Product Moment:

xy x y
rxy n
x 2
y
2

x y
2 2

n n

Dimana :
rxy = Korelasi antara skor amatan tes x dan skor amatan tes y
x = Jumlah skor amatan pada tes x
y = Jumlah skor amatan pada tes y
x2 = Jumlah kuadrat skor amatan pada tes x
y2 = Jumlah kuadrat skor amatan pada tes y
xy = Jumlah hasil kali skor amatan pada tes x dengan skor amatan pada tes y
n = Banyaknya subyek

2. Variabel Model Project Based Learning


a. Definisi Konseptual
Penerapan model Project Based Learning dalam proses belajar mengajar

merupakan suatu model pembelajaran yang dapat mengembangkan

pengetahuan dan ketrampilan siswa, dimana siswa terlibat dalam merancang

aktivitas dan memecahkan permasalahan baik individu maupun kelompok

dengan memperhatikan langkah-langkah pengerjaan proyek hingga

menghasilkan kesimpulan yang nyata.


b. Definisi Operasional
Penggunaan model Project Based Learning adalah skor yang diperoleh

dari angket yang digunakan dalam pembelajaran berdasarkan model Project

Based Learning dapat memperjelas pesan yang disampaikan, dapat

meningkatkan dan mengarahkan perhatian peserta didik, dapat mengatasi

keterbatasan peserta didik yang pasif.

c. Skenario Model Pembelanjaran


Perlakuan dalam penelitian ini adalah pelaksanaan eksperimen dalam

bentuk pemebrian pembelajaran dengan model pembelajaran project based

51
learning di satu kelompok dan dengan model pembelajaran langsung

dikelompok yang lain. Semua anggota kelompok memiliki kesempatan yang

sama untuk memperoleh model tersebut.


Rencana tindakan eksperimen dilaksanakan dengan tahapan sebagai

berikut;
1. Peneliti terdiri dari dua orang guru mata pelajaran akuntansi, kepala

sekolah dan wakil kepala sekolah mendiskusikan model project based

learning yang akan dilaksanakan pada pembelajaran membuat laporan

keuangan di kelas XII. Akhirnya disepakati bahwa kelas XII AK 1

sebagai kelas eksperimen dan kelas XII AK 2 sebagai kelas kontrol.

Disepakati pula guru mata pelajaran akuntansi yang bertindak sebagai

guru model.
2. Peneliti dan model mendiskusikan tentang hal-hal yang esensial

berkaitan dengan strategi pembelajaran project based learnig.


3. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk kelas

eksperimen dan kelas kontrol.

d. Kalibrasi Model Project Based Learning


Penggunaan instrument model Project Based Learning dengan

menyusun instrument skala likert dengan lima pilihan jawaban dan soal

sebanyak 30 butir. Proses dimulai dari uji coba intrumen terhadap 30 siswa

kelas XII Akuntansi SMK Mutiara Baru Kota Bekasi.

1. Validitas
Validitas instrument diuji dengan menggunakan koefisien korelasi

antara skor butir dengan skor total dengan teknik korelasi Point Biserial

terhadap semua butir instrument. Dengan kriteria pengujian yaitu

membandingkan antara r hitung (berdasarkan hasil perhitungan) dengan r tabel

52
berdasarkan taraf a = 0,10 dengan n = 30. Jika r hitung lebih besar atau

sama dengan r tabel (r hitung r tabel), maka instrument dianggap valid,

sebaliknya jika r hitung lebih kecil dari r tabel (r hitung < r tabel), maka

instrument dianggap tidak valid. Instrumen yang dianggap tidak valid ini tidak

dapat digunakan lagi.

2. Reliabilitas
Untuk mentukan reliabilitas instrument digunakan rumus Alpa Cronbach.

Adapun rumusnya sebagai berikut:


b
k
(
r = ( k1 1 )
Keterangan:
r = Koefisien reliabilitas instrument alpha Cronbach
k = Banyaknya butir pertanyaan
b = Total varian butir
= Total varian
3. Variabel Kepercayaan Diri
a. Definisi Konseptual
Kepercayaan diri merupakan suatu kondisi mental seseorang yang akan

melahirkan sikap, keyakinan dan kemampuan diri sendiri untuk melakukan suatu

tindakan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diwujud dengan karya nyata.


b. Definisi Operasional
Kepercayaan diri adalah skor yang diperoleh siswa dalam menjawab

instrument penelitian jenis angket dengan lima pernyataan sikap. Dengan

mengggunakan skala 1 samapi 5 alternatif pilihan jawaban yaitu Sangat Setuju

(SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS).

c. Kisi-kisi Instrumen Kepercayaan Diri


Tabel 6. Kisi-kisi Instrumen Kepercayaan Diri

No. Indikator No. Pertanyaan Jumlah


1. Berpikir positif 1 s/d 5 5

53
2. Optimis 6 s/d 10 5
3. Bersikap tenang 11 s/d 15 5
4. Mandiri 16 s/d 20 5
5. Tanggung jawab 21 s/d 25 5
6. Realistis 26 s/d 30 5
Jumlah 30

d. Kalibrasi Kepercayaan Diri


1. Validitas
Validitas instrument diuji dengan menggunakan koefisien korelasi antara

skor butir dengan skor total dengan teknik korelasi Point Biserial terhadap

semua butir instrument. Dengan kriteria pengujian yaitu membandingkan

antara r hitung (berdasarkan hasil perhitungan) dengan r tabel berdasarkan taraf

a = 0,10 dengan n = 30. Jika r hitung lebih besar atau sama dengan r tabel (r

hitung r tabel), maka instrument dianggap valid, sebaliknya jika r hitung

lebih kecil dari r tabel (r hitung < r tabel), maka instrument dianggap tidak

valid. Instrumen yang dianggap tidak valid ini tidak dapat digunakan lagi.
2. Reliabilitas
Untuk mentukan reliabilitas instrument digunakan rumus Alpa Cronbach.
Adapun rumusnya sebagai berikut:
b
k
(
r = ( k1 1 )
Keterangan:
r = Koefisien reliabilitas instrument alpha Cronbach
k = Banyaknya butir pertanyaan
b = Total varian butir
= Total varian
F. Teknik Analisa Data
Data yang diperoleh dari hasil jawaban responden melalui instrument, akan diolah

dengan menggunakan perhitungan statistic. Secara garis besar langkah-langkah yang

ditempuh dalam menganalisa data adalah sebagai berikut:


a. Mengecek kelengkapan angket yang telah diisi oleh responden.
b. Memberikan skor pada lembar jawaban angket.

54
c. Mengola data dengan uji statistika.
d. Menguji hipotesis berdasarkan hasil pengolahan data.
1. Uji Normalitas Data
2. Uji Homogenitas Varians
3. Uji Tingkat Kesukaran Soal Obyektif
4. Uji Daya Pembeda Soal Obyektif

G. Hipotesis Statistik

1. Ho : A1 = A2
H1 : A1 > A2
2. Ho : Int. A X B = 0
H1 : Int A X B > 0
3. Ho : A1 B1 = A2B1
H1 : A1 B1 > A2B1
4. Ho : A1 B2 = A2B2
H1 : A1 B2 > A2B2

Keterangan:
A1 : Skor rata-rata kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model
pembelajaran project based learning
A2 : Skor rata-rata kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model
pembelajaran langsung
A1B1 : Skor rata-rata kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model
pembelajaran project based learning yang memiliki kepercayaan
diri tinggi
A2B1 :Skor rata-rata kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model
pembelajaran langsung yang memiliki kepercayaan diri tinggi
A1 B2 : Skor rata-rata kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model
pembelajaran project based learning yang memiliki kepercayaan diri
rendah
A2 B2 : Skor rata-rata kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model
pembelajaran langsung yang memiliki kepercayaan diri rendah

55
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Malik, I, (1995), Pembelajaran pada Pendidikan Orang Dewasa, Bandung, Cipta
Intelektual.

Ade Sanjaya. 2011. Hasil Belajar, (Online), (http://www.sarjanaku.com /2011/02/ Hasil-


belajar.html, Diakses 13 Agustus 2014).

Agus, Syarif, (2014), Pengantar Keuangan dan Akuntansi, Bandung: HUP

Airlangga A dan Cathalina Tri, (2004), Psikologi Belajar, Semarang: UNNES

Ali, M. Guru dan Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo. 1993.

Arief Furchan. 2007. Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka


Belajar.

56
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta, PT.Rineka
Cipta,2002)

Annurahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Bahrudin, dan Wahyuni NE, (2007), Teori Belajar dan Pembelajaran.Yogyakarta: Arruz
Media.

Bambang Warsita. 2008. Teknologi Pembelajaran Landasan & Aplikasinya. Jakarta:


Rineka Cipta.

Batatia, Hadj,(2005), A Model for on Inovative Project Based Learning Management


system For Engineering Educations.

Betty Koesnina, 2007), Akuntansi, Depok: Arya Duta.

Blumenfeld et al. (1991), Motivating Project Based Learning The Doing, Supporting The
Learning. Online tersedia: www.inforword.com/smpp/content.

Budiyono. 2004. Statistika Untuk Penelitian. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Dalyono, (2001), Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.

Danim. 2001. Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga


Kepandidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.

Departemen Pendidikan Nasional, (2003), Pendekatan Kontekstual, Jakarta: Departemen


Pendidikan Nasional.

Dimyati dan Mujiono, (2009), Belajar dan Pembelajaran ,Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful Bahri, (1999), Psikologi Belajar , Jakarta,Rineka Cipta.

57
Hakim, Lukmanul, (2009), Perencanaan Pembelajaran, Bandung: CV Wacana Prima,
2009.

Hamalik, Oemar, (1990), Psikologi Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Hasbullah, (2006), Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo.

Hernomo, (2006), Menjadi Guru Yang Mau dan Mampu Mengajar Secara Kreatif,
Bandung: MLC.

Iru,La dan La Ode Safiun Arihi, ( 2012), Analisis Penerapan Pendekatan, Model, Stategi
dan Model-Model Pembelajaran,Yogyakarta:Multi Presindo,2012.

Isjoni. 2011. Project Based Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Islamuddin, Haryu, (2012), Psikologi pendidikan ,Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Maltiby, (1995), Educational Psychology: An Austalian and New Zealand Perspective,


Sydney; Jhon Willey dan sons.

Mardapi, Djemari, Pengukuran Penilaian dan Evaluasi Pendidikan, Yoyakarta, Nuha


Litera, 2012.

M. Atwi, Suparman, Desain Instruksional, Jakarta: Universitas Terbuka.

Mohamad Nur. 2008. Project Based Learning. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika
Sekolah UNESA.

58
Moh. Uzer Usman, (1995), Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muhtar. Pedoman Bimbingan Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PGK & PTK
Dep.Dikbud.1992

Muhammad Baitul Alim. 2009. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Anak, (Online),

Narsoyo, Tedjo, (2007), Statistika untuk Psikologi Pendidikan, Bandung: Refika Aditama.

Oemar Hamalik. 2004. Proses Belajar mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Prof. Dr. Sugiyono, Model Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, kualitatif dan R
& D, (Bandung: Alpabeta)

Ratna Wilis Dahar. 2011. Teori-teori Belajar & Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.

Reikson Panjaitan. 2008. Project Based Learning tipe NHT, (Online),

Ridwan, (2008), Metode dan Teknik Menyusun Tesis, Bandung: Alfabet.

Rizky. 2010. Teknik Sampling dan Sample, (Online), (http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/


teknik-sampling-dan-sample, Diakses 20 Agutus 2014).

Santrock, John W.. 2004. Psikologi Pendidikan. Terjemahan oleh Tri Wibowo. 2008.
Jakarta: Kencana.

59
Singarimbun. 1982. Model Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.

Soemanto W, (1998), Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiyono. 2001. Metode Penelitian Kuantitatif ( Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R


& D), Bandung: CV Alfabeta.

Sudjana, Nana dan Ibrahim, (1989), Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung: Sinar
Baru Algesindo.

Sudjana, Nana, (1995), Tuntunan Penulisan Karya Ilmiah, Bandung: Sinar baru Algesindo.

Sugiyono. 2007. Model Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

________. 2008. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta

Suharsimi Arikunto. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Sumarso, 2003, Pengantar Akuntansi, Jakarta: Gramedia.

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang System Pendidikan Nasional, Jakarta:


Depdiknas.

Winarini Wilman Dahlan Mansoer. 2004. Hubungan Kecerdasan Emosional dan Hasil
Belajar. Dalam Reni Akbar Hawadi (Ed.), Akselerasi. Jakarta: Grasindo.

Yurisa. 2010. Model Project Based Learning Tipe STAD, (Online), (http:// yuriwsa. files.

60
61