Anda di halaman 1dari 34

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Embriologi
Prostat merupakan salah satu dari organ genitalia maskulin. Tahapan
pembentukan prostat diawali dengan pembentukan uretra yang terbentuk dari
mesoderm(stroma) dan endoderm(epitel). Pada bulan ke-3 uretra pars prostatika
berdiferensiasi menonjol menembus jaringan mesenkim. Diferensiasi tersebut
berkembang dari invaginasi epitelial dari sinus urogenital posterior dengan bantuan
enzim 5alpha-reduktase merubah testosteron (androgen) menjadi DHT. DHT
merangsang maturasi menjadi glandula prostat. Glandula prsostat terus bekembang
hingga saat lahir masih dalam ukuran kecil dan berkembang seiring dengan
pertambahan usia dimana bergantung faktor hormonal.(2,3)

Gambar 1. Embriologi prostat

3.2 Anatomi
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak di
sebelah inferior buli-buli dan membungkus uretra posterior. Prostat berbentuk
seperti pyramid terbalik dan merupakan organ kelenjar fibromuskuler yang
mengelilingi uretra pars prostatica.(2,3) Bila mengalami pembesaran organ ini
menekan uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urin keluar
dari buli-buli. Prostat merupakan kelenjar aksesori terbesar pada pria; tebalnya
2 cm dan panjangnya 3 cm dengan lebarnya 4 cm, dan berat 20 gram. Prostat
mengelilingi uretra pars prostatika dan ditembus di bagian posterior oleh dua
buah duktus ejakulatorius.(1,2)
Gambar 2. Anatomi Prostat
Secara histologi prostat terdiri atas 30-50 kelenjar tubulo alveolar yang
mencurahkan sekretnya ke dalam 15-25 saluran keluar yang terpisah. Saluran ini
bermuara ke uretra pada kedua sisi kolikulus seminalis. Kelenjar ini terbenam
dalam stroma yang terutama terdiri dari otot polos yang dipisahkan oleh jaringan
ikat kolagen dan serat elastis.(3) Otot membentuk masa padat dan dibungkus oleh
kapsula yang tipis dan kuat serta melekat erat pada stroma. Alveoli dan tubuli
kelenjar sangat tidak teratur dan sangat beragam bentuk ukurannya, alveoli dan
tubuli bercabang berkali-kali dan keduanya mempunyai lumen yang lebar, lamina
basal kurang jelas dan epitel sangat berlipat-lipat. Jenis epitelnya berlapis atau
bertingkat dan bervariasi dari silindris sampai kubus rendah tergantung pada
status endokrin dan kegiatan kelenjar. Sitoplasma mengandung sekret yang
berbutir-butir halus, lisosom dan butir lipid. Nukleus biasanya satu, bulat dan
biasanya terletak basal. Nukleoli biasanya terlihat ditengah, bulat dan kecil. (2,3)

Gambar 3. Anatomi Kelenjar Prostat Potongan Longitudinal

Batas-batas prostat (2,3)

2
a. Batas superior : basis prostat melanjutkan diri sebagai collum vesica urinaria,
otot polos berjalan tanpa terputus dari satu organ ke organ yang lain.
b. Batas inferior : apex prostat terletak pada permukaan atas diafragma
urogenitalis. Uretra meninggalkan prostat tepat diatas apex permukaan
anterior.
c. Anterior : permukaan anterior prostat berbatasan dengan simphisis
pubis, dipisahkan dari simphisis oleh lemak ekstraperitoneal yang terdapat
pada cavum retropubica(cavum retziuz). Selubung fibrosa prostat dihubungkan
dengan permukaan posterior os pubis dan ligamentum
puboprostatica. Ligamentum ini terletak pada pinggir garis tengah dan
merupakan kondensasi vascia pelvis.
d. Posterior : permukaan posterior prostat berhubungan erat dengan
permukaan anterior ampula recti dan dipisahkan darinya oleh septum
retovesicalis (vascia Denonvillier). Septum ini dibentuk pada masa janin oleh
fusi dinding ujung bawah excavatio rectovesicalis peritonealis, yang semula
menyebar ke bawah menuju corpus perinealis.
e. Lateral : permukaan lateral prostat terselubung oleh serabut anterior m.
levator ani waktu serabut ini berjalan ke posterior dari os pubis. Ductus
ejaculatorius menembus bagian atas permukaan prostat untuk bermuara pada
uretra pars prostatica pada pinggir lateral orificium utriculus prostaticus
Kelenjar prostat terbagi atas 5 lobus : (1,2)
a. Lobus medius
b. Lobus lateralis (2 lobus)
c. Lobus anterior
d. Lobus posterior
5 zona pada kelenjar prostat: (1,2)
a. Zona Anterior atau Ventral .
Sesuai dengan lobus anterior, tidak punya kelenjar, terdiri atas stroma
fibromuskular. Zona ini meliputi sepertiga kelenjar prostat.
b. Zona Perifer
Sesuai dengan lobus lateral dan posterior, meliputi 70% massa kelenjar
prostat.Zona ini rentan terhadap inflamasi dan merupakan tempat asal karsinoma
terbanyak.
c. Zona Sentralis.

3
Lokasi terletak antara kedua duktus ejakulatorius, sesuai dengan lobus tengah
meliputi 25% massa glandular prostat.Zona ini resisten terhadap inflamasi.

Gambar 4. Posisi Zona Perifer dan Transisional


d. Zona Transisional.
Zona ini bersama-sama dengan kelenjar periuretra disebut juga sebagai kelenjar
preprostatik. Merupakan bagian terkecil dari prostat, yaitu kurang lebih 5% tetapi
dapat
melebar bersama jaringan stroma fibromuskular anterior menjadi benign prostatic
hyperpiasia (BPH).

e. Kelenjar-Kelenjar Periuretra
Bagian ini terdiri dan duktus-duktus kecil dan susunan sel-sel asinar abortif
tersebar sepanjang segmen uretra proksimal.

Aliran darah prostat


Merupakan percabangan dari arteri pudenda interna, arteri vesikalis inferior
dan arteri rektalis media. Pembuluh ini bercabang-cabang dalam kapsula dan
stroma, dan berakhir sebagai jala-jala kapiler yang berkembang baik dalam
lamina propria. Pembuluh vena mengikuti jalannya arteri dan bermuara ke pleksus
sekeliling kelenjar. Pleksus vena mencurahkan isinya ke vena iliaca interna.
Pembuluh limfe mulai sebagai kapiler dalam stroma dan mengikuti pembuluh
darah dan mengikuti pembuluh darah. Limfe terutama dicurahkan ke nodus iliaka
interna dan nodus sakralis. Persarafan prostat berasal dari pleksus hipogastrikus
inferior dan membentuk pleksus prostatikus. Prostat mendapat persarafan
terutama dari serabut saraf tidak bermielin. Beberapa serat ini berasal dari sel
ganglion otonom yang terletak di kapsula dan di stroma. Serabut motoris, mungkin

4
terutama simpatis, tampak mempersarafi sel- sel otot polos di stroma dan kapsula
sama seperti dinding pembuluh darah.(3)

Fisiologi

Sekret kelenjar prostat adalah cairan seperti susu yang bersama-sama sekret
dari vesikula seminalis merupakan komponen utama dari cairan semen. Semen
berisi sejumlah asam sitrat sehingga pH nya agak asam (6,5). Selain itu dapat
ditemukan enzim yang bekerja sebagai fibrinolisin yang kuat, fosfatase asam,
enzim-enzim lain dan lipid. Sekret prostat dikeluarkan selama ejakulasi melalui
kontraksi otot polos. kelenjar prostat juga menghasilkan cairan dan plasma
seminalis, dengan perbandingan cairan prostat 13-32% dan cairan vesikula
seminalis 46-80% pada waktu ejakulasi. Kelenjar prostat dibawah pengaruh
Androgen Bodies dan dapat dihentikan dengan pemberian Stilbestrol.(1,3)

3.3 Definisi

Benign Prostat Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak adalah salah
satu penyakit degeneratif pria yang sering dijumpai, berupa pembesaran dari kelenjar
prostat yang mengakibatkan terganggunya aliran urine dan menimbulkan gangguan
miksi.(3,4)

Gambar 5. Normal Prostat dan Prostat yang membesar

3.4 Epidemiologi
BPH merupakan tumor jinak yang paling sering pada laki-laki, insidennya
berhubungan dengan usia. Prevalensi histologis BPH meningkat dari 20% pada laki
berusia 41-50 tahun, 50% pada laki usia 51-60 tahun hingga lebih dari 90% pada laki
berusia diatas 80 tahun. Meskipun bukti klinis belum muncul, namun keluhan

5
obstruksi juga berhubungan dengan usia. Pada usia 50 tahun + 25% laki- laki
mengeluh gejala obstruksi pada saluran kemih bagian bawah, meningkat hingga usia
75 tahun dimana 50% laki-laki mengeluh berkurangnya pancaran atau aliran pada saat
berkemih.(5)

Gambar 6. Angka Kejadian BPH Berdasarkan Usia di Beberapa Negara


Berdasarkan epidemiologi, pada pasien ini terkena BPH pada laki-laki
usia 76 tahun.

3.5 Etiologi
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya
hiperplasia prostat; tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat
erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging
(menjadi tua) . Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya
hiperplasia prostat jinak adalah : (1) Teori Dihidrotestosteron, (2) Adanya
ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron, (3) Interaksi antara sel stroma dan sel
epitel prostat, (4) Berkurangnya kematian sel (apoptosis), dan (5) Teori Stem sel.(4,5)
Teori dihidrotestosteron
Dihidrotestosteron atau DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting pada
pertumbuhan sel- sel kelenjar prostat. Dibentuk dari testosteron di dalam sel prostat
oleh enzim 5-reduktase dengan bantuan koenzim NADPH. DHT yang telah
terbentuk berikatan dengan reseptor androgen (RA) membentuk kompleks DHT-RA

6
pada inti dan sel selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang menstimulasi
pertumbuhan sel prostat.(4)
Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa kadar DHT pada BPH tidak jauh berbeda
dengan kadarnya pada prostat normal, hanya saja pada BPH, aktivitas enzim 5-
reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Hal ini
menyebabkan pada BPH lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih
banyak terjadi dibandingkan dengan prostat normal.(4)
Ketidakseimbangan antara estrogen testosterone
Pada usia yang semakin tua, kadar testosterone menurun, sedangkan kadar estrogen
relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen : testosterone relatif meningkat.
Telah diketahui bahwa estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi
sel- sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitifitas sel- sel prostat terhadap
rangsangan hormon androgen, meningkatkan jumlah reseptor androgen, dan
menurunkan jumlah kematian sel- sel prostat (apoptosis). Hasil akhir dari semua
keadaan ini adalah, meskipun rangsangan terbentuknya sel- sel baru akibat
rangsangan testosterone menurun, tetapi sel sel prostat yang telah ada mempunyai
umur yang lebih panjang sehingga massa prostat jadi lebih besar.(4)
Interaksi stroma-epitel
Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat
secara tidak langsung dikontrol oleh sel- sel stroma melalui suatu mediator (growth
factor) tertentu. Setelah sel- sel stroma mendapatkan stimulasi dari DHT dan
estradiol, sel- sel stroma mensintesis suatu growth factor yang selanjutnya
mempengaruhi sel- sel stroma itu sendiri secara intrakin dan autokrin, serta
mempengaruhi sel- sel epitel secara parakrin. Stimulasi itu menyebabkan terjadinya
proliferasi sel- sel epitel maupun stroma.(4)
Berkurangnya Kematian Sel Prostat
Program kematian sel ( apoptosis ) pada sel prostat adalah mekanisme fisiologi untuk
mempertahankan homeostasis kelenjar prostat. Pada apoptosis terjadi kondensasi dan
fragmentasi sel yang selanjutnya sel sel yang mengalami apoptosis akan
difagositosis oleh sel sel di sekitarnya kemudian didegradasi oleh enzim lisosom.
Pada jaringan normal, terdapat keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan
kematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai pada prostat dewasa,
penambahan jumlah sel sel prostat baru dengan yang mati dalam keadaan seimbang.
Berkurangnya jumlah sel sel prostat yang mengalami apoptosis menyebabkan

7
jumlah sel sel prostat secara keseluruhan menjadi meningkat sehingga menyebabkan
pertambahan massa prostat.(4)
Teori Sel Stem
Untuk mengganti sel sel yang telah mengalami apoptosis, selalu dibentuk sel sel
baru. Di dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitu sel yang mempunyai
kemampuan berproliferasi sangat ekstensif. Kehidupan sel ini sangat tergantung pada
keberadaan hormon androgen, sehingga jika hormon ini kadarnya menurun seperti
yang terjadi pada kastrasi, menyebabkan terjadinya apoptosis. terjadinya proliferasi
sel sel pada BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatan aktivitas sel stem sehingga
terjadi produksi yang berlebihan sel stroma atau sel epitel.(4)

3.6 Patofisiologi
Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional, sedangkan
pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer. Pertumbuhan kelenjar ini
sangat bergantung pada hormon testosteron, yang di dalam sel- sel kelenjar prostat
hormon akan dirubah menjadi metabolit aktif dihidrotestosteron (DHT) dengan
bantuan enzim 5 reduktase. Dihidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu
m-RNA di dalam sel- sel kelenjar prostat untuk mensintesis protein growth factor
yang memacu pertumbuhan kelenjar prostat.(5,6)
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan
menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan
intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan urine, buli- buli harus berkontraksi lebih kuat
guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan
anatomik buli- buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula,
sakula, dan divertikel buli- buli. Perubahan struktur pada buli- buli tersebut, oleh
pasien dirasakan sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower
urinary tract symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala prostatimus. (4,5)
Tekanan intravesika yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian buli- buli tidak
terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat
menimbulkan aliran balik urine dari buli- buli ke ureter atau terjadi refluks vesiko-
ureter. Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter,
hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal. (6)

8
Hiperplasia Prostat

Penyempitan lumen uretra posterior

Tekanan intravesika meningkat

Buli-buli: Ginjal dan ureter:
Hipertrofi otot detrusor Refluks VU
Trabekulasi Hidroureter
Selula Hidronefrosis
Divertikel buli-buli Gagal ginjal

Bagan1. Pengaruh Hiperplasia prostat Pada Saluran Kemih

Hidronefrosis

Hidroureter
Hipertofi otot

Benigna prostat
hiperplasi
Gambar 7. Penyulit hyperplasia prostat pada saluran kemih

3.7 Manifestasi Klinis


Gejala hyperplasia prostat menurut Boyarsky, dkk (1977) dibagi atas gejala
obstruktif dan gejala iritatif. Gejala obstruktif disebabkan karena penyempitan uretra
pars prostatika karena didesak oleh prostat yang membesar dan kegagalan otot
detrusor untuk berkontraksi cukup kuat dan atau cukup lama sehingga kontraksi
terputus-putus. Gejala-gejalanya antara lain(7):
1. Harus menunggu pada permulaan miksi (Hesistency)
2. Pancaran miksi yang lemah (Poor stream)
3. Miksi terputus (Intermittency)
4. Menetes pada akhir miksi (Terminal dribbling)
5. Rasa belum puas sehabis miksi (Sensation of incomplete bladder emptying)
Manifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hipeplasia prostat masih
tergantung tiga factor, yaitu:
a. Volume kelenjar periuretral
b. Elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat

9
c. Kekuatan kontraksi otot detrusor
Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica urinaris yang tidak
sempurna pada saat miksi atau disebabkan oleh karena hipersensitifitas otot detrusor
karena pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada vesica, sehingga vesica
sering berkontraksi meskipun belum penuh., gejalanya ialah(8) :
1. Bertambahnya frekuensi miksi (Frequency)
2. Nokturia
3. Miksi sulit ditahan (Urgency)
4. Disuria (Nyeri pada waktu miksi)
Gejala-gejala tersebut diatas sering disebut sindroma prostatismus. Secara klinis
derajat berat gejala prostatismus itu dibagi menjadi :
Grade I : Gejala prostatismus + sisa kencing <>
Grade II : Gejala prostatismus + sisa kencing > 50 ml
Grade III: Retensi urin dengan sudah ada gangguan saluran kemih bagian atas + sisa
urin > 150 ml.8
Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan pada saluran kemih sebelah bawah,
WHO menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat gangguan miksi yang disebut
Skor Internasional Gejala Prostat atau I-PSS (International Prostatic Symptom Score).
Sistem skoring I-PSS terdiri atas tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan
miksi (LUTS) dan satu pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien.
Setiap pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0 sampai
dengan 5, sedangkan keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai dari
1 hingga 7.(7,8)
Dari skor I-PSS itu dapat dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu:
-Ringan : skor 1-7
- Sedang : skor 8-19
- Berat : skor 20-35
Timbulnya gejala LUTS merupakan menifestasi kompensasi otot vesica urinaria
untuk mengeluarkan urin. Pada suatu saat otot-otot vesica urinaria akan mengalami
kepayahan (fatique) sehingga jatuh ke dalam fase dekompensasi yang diwujudkan
dalam bentuk retensi urin akut.(8)

10
Tabel 1. International Prostate Symptom Score
Pasien datang dengan keluhan pasien tidak bisa BAK lalu pasien
mengatakan sebelumnya merasa nyeri setiap kali bak, selalu menunggu di awal
miksi, pancaran kencingnya lemah dan terputus putus, kadang pasien merasa
harus mengejan pada saat bak, terdapat rasa tidak puas setelah berkemih dan
urin menetes di akhir miksi, pasien tidak bisa menahan saat ingin berkemih,
selalu terbangun di malam hari untuk bak kurang lebih sebanyak 4 kali.

11
Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan pada pasien dengan cara
menentukan besarnya nilai I-PSS (International Prostatic Symptom Score). Dengan
jumlah skor I-PSS (International Prostatic Symptom Score) pada pasien ini
adalah sebesar 28 (berat).

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan colok dubur atau Digital Rectal Eamination (DRE) sangat


penting. Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan gambaran tentang keadaan
tonus spingter ani, reflek bulbo cavernosus, mukosa rektum, adanya kelainan lain
seperti benjolan pada di dalam rektum dan tentu saja teraba prostat. Pada perabaan
prostat harus diperhatikan(9):
a. Konsistensi prostat (pada hiperplasia prostat konsistensinya kenyal)
b. Simetris/ asimetris
c. Adakah nodul pada prostate
d. Apakah batas atas dapat diraba
e. Sulcus medianus prostate
f. Adakah krepitasi
Colok dubur pada hiperplasia prostat menunjukkan konsistensi prostat kenyal
seperti meraba ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris dan tidak didapatkan
nodul. Sedangkan pada carcinoma prostat, konsistensi prostat keras dan atau teraba
nodul dan diantara lobus prostat tidak simetris. Sedangkan pada batu prostat akan
teraba krepitasi.(9,10)
Pemeriksaan fisik apabila sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria bagian
atas kadang-kadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pnielonefritis akan
disertai sakit pinggang dan nyeri ketok pada pinggang. Vesica urinaria dapat teraba
apabila sudah terjadi retensi total, daerah inguinal harus mulai diperhatikan untuk
mengetahui adanya hernia. Genitalia eksterna harus pula diperiksa untuk melihat
adanya kemungkinan sebab yang lain yang dapat menyebabkan gangguan miksi
seperti batu di fossa navikularis atau uretra anterior, fibrosis daerah uretra, fimosis,
condiloma di daerah meatus.(10)
Pada pemeriksaan colok dubur yang dilakukan pada
pasien ini didapatkan tonus sfingter ani baik, rectum terisi feces.

12
Terdapat benjolan pada arah jam 12 dengan pembesaran dari arah jam 11 dan
jam 1. Permukaan licin dengan konsistensi kenyal padat, simetris pada lobus
kanan dan kiri, berbatas tegas, tidak terdapat nyeri, pool atas tidak teraba.
Handschoen: Terdapat feces, tidak ada darah maupun lender.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan Laboratorium
Darah
Ureum, kreatinin, elektrolit, Blood urea nitrogen, Prostate Specific
Antigen (PSA), Gula darah
Urine
Kultur urin dan test sensitifitas, urinalisis dan pemeriksaan
mikroskopis, sedimen
Laboratory FindingsUrinalisa dapat memberikan bukti adanya infeksi.
Residual urin biasanya meningkat (> 50 cc), dan waktu laju aliran urin akan menurun
( 10 ng/mL, kanker harus dicurigai (normal < 4 ng/mL). Serum alkaline phosphatase
biasanya meningkat jika tumor telah menyebar ke tulang.Prostatitis akut dapat
menyebabkan gejal-gejala obstruksi, tetapi pasien biasanya mengalami infeksi saluran
kemih (ISK) atau bisa dalam sepsis. Prostat terasa nyeri terutama dengan penekanan
meskipun secara halus.Striktur uretra mengurangi kaliber pancaran urin. Biasanya
terdapat riwayat gonorrhea atau trauma lokal. Retrograde urethrogram akan
menunjukkan area stenosis. Striktur juga dapat menghambat pasase kateter.(11)

Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan hasil sebagai


berikut:

13
Pemeriksaan pencitraan
a. Foto polos(5)
Berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih, adanya
batu/kalkulosa prostat dan kadangkala menunjukan bayangan buli-buli yang
penuh terisi urine, yang merupakan tanda suatu retensi urine
b. Pemeriksaan ultrasonografi transrektal (TRUS)(5,7,10)
Adalah tes USG melalui rectum. Dalam prosedur ini, probe dimasukkan ke
dalam rektum mengarahkan gelombang suara di prostat. Gema pola
gelombang suara merupakan gambar dari kelenjar prostat pada layar tampilan.
Untuk menentukan apakah suatu daerah yang abnormal tampak memang
tumor, digunakan probe dan gambar USG untuk memandu jarum biopsi untuk
tumor yang dicurigai. Jarum mengumpulkan beberapa potong jaringan prostat
untuk pemeriksaan dengan mikroskop. Biopsy terutama dilakukan untuk
pasien yang dicurigai memiliki keganasan prostat.

Transrektal ultrasonografi (TRUS) sekarang juga digunakan untuk pengukur


volume prostat, caranya antara lain :

Metode step planimetry. Yang menghitung volume rata-rata area


horizontal diukur dari dasar sampai puncak.

Metode diameter. Yang menggabungkan pengukuran tinggi (H/height)


,lebar (W/width) dan panjang (L/length) dengan rumus : (H x W x L).

c. Sistoskopi (7,11)

14
Dalam pemeriksaan ini, disisipkan sebuah tabung kecil melalui pembukaan
urethra di dalam penis. Prosedur ini dilakukan setelah solusi numbs bagian
dalam penis sehingga sensasi semua hilang. Tabung, disebut sebuah
cystoscope , berisi lensa dan sistem cahaya yang membantu dokter melihat
bagian dalam uretra dan kandung kemih. Tes ini memungkinkan dokter untuk
menentukan ukuran kelenjar dan mengidentifikasi lokasi dan derajat obstruksi.

Gambar 8. Gambaran Sistoskopi Benigna Prostat Hiperplasia

d. Ultrasonografi trans abdominal (10,11)

Gambaran sonografi benigna hyperplasia prostat menunjukan pembesaran


bagian dalam glandula, yang relatif hipoechoic dibanding zona perifer.
Zona transisi hipoekoik cenderung menekan zona central dan perifer.
Batas yang memisahkan hyperplasia dengan zona perifer adalah surgical
capsule.

USG transabdominal mampu pula mendeteksi adanya hidronefrosis


ataupun kerusakan ginjal akibat obstruksi BPH yang lama.

15
Gambar 9. Gambaran Sonografi Prostat Normal

Gambar 10. Gambaran Sonografi Benigna Prostat Hiperplasia


e.Sistografi buli(11)

Gambar 11.Gambaran Elevasi Dasar Buli yang Mengindikasikan


Benigna Prostat Hiperplasia
e. Pielografi Intravena (IVP)
Pembesaran prostat dapat dilihat sebagai filling defect/indentasi prostat
pada dasar kandung kemih atau ujung distal ureter membelok keatas
berbentuk seperti mata kail (hooked fish). Dapat pula mengetahui adanya
kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter ataupun
hidronefrosis serta penyulit (trabekulasi, divertikel atau sakulasi buli buli).
Foto setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin.
f. Sistogram retrograde
Memberikan gambaran indentasi pada pasien yang telah dipasang kateter
karena retensi urin.
g. MRI atau CT scan
Jarang dilakukan. Digunakan untuk melihat pembesaran prostat dan dengan

16
bermacam macam potongan
Pemeriksaan lain(12)
Uroflowmetri
Untuk mengukur laju pancaran urin miksi. Laju pancaran ditentukan oleh
daya kontraksi otot detrusor, tekanan intravesika, resistensi uretra. Angka
normal laju pancaran urin ialah 12 ml/detik dengan puncak laju pancaran
mendekati 20 ml/detik. Pada obstruksi ringan, laju pancaran melemah
menjadi 6 8 ml/detik dengan puncaknya sekitar 11 15 ml/detik.
Pemeriksaan Tekanan Pancaran (Pressure Flow Studies)
Pancaran urin melemah yang diperoleh atas dasar pemeriksaan
uroflowmetri tidak dapat membedakan apakah penyebabnya adalah
obstruksi atau daya kontraksi otot detrusor yang melemah. Untuk
membedakan kedua hal tersebut dilakukan pemeriksaan tekanan pancaran
dengan menggunakan Abrams-Griffiths Nomogram. Dengan cara ini maka
sekaligus tekanan intravesica dan laju pancaran urin dapat diukur.
Pemeriksaan Volume Residu Urin
Volume residu urin setelah miksi spontan dapat ditentukan dengan cara
sangat sederhana dengan memasang kateter uretra dan mengukur berapa
volume urin yang masih tinggal. Pemeriksaan sisa urin dapat juga diperiksa
(meskipun kurang akurat) dengan membuat foto post voiding atau USG.

3.8 Diagnosis banding


Obstruksi saluran kemih bagian bawah lain seperti striktur uretra, kontraktur
pada leher buli, batu buli atau keganasan prostat. Riwayat instrumentasi uretra,
uretritis atau trauma harus dieksklusi untuk menyingkirkan striktur uretra atau
kontraktur leher buli. Hematuria dan nyeri umumnya berhubungan dengan batu buli-
buli,keganasan prostat dapat terdeteksi awal dari colok dubur dan peningkatan PSA.
(13)

Infeksi saluran kemih dapat menyerupai gejala iritatif dari BPH. Dapat
diidentifikasi dari urinalisis dan kultur, walaupun infeksi saluran kemih ini dapat
merupakan komplikasi dari BPH. Keluhan iritatif juga dapat berhubungan dengan

17
keganasan kandung kemih terutama karsinoma in situ, di mana pada urinalisis
didapatkan hematuria. Riwayat kelainan neurologis, stroke, DM dan cedera tulang
belakang dapat mengarah ke neurogenic bladder. Umumnya didapatkan penurunan
sensibilitas pada perineum dan ekstremitas inferior dan penurunan tonus sphincter ani
dan reflek bulbokavernosus, mungkin didapatkan perubahan pola defekasi.(13)

Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG)


didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
Prostat : diameter 65,6x76,1x70,7 mm
Kesan : Pembesaran kelenjar prostat

3.9 Tatalaksana
Tidak semua pasien hiperplasia prostat perlu menjalami tindakan medik.
Kadang-kadang mereka yang mengeluh LUTS ringan dapat sembuh sendiri tanpa
mendapatkan terapi apapun atau hanya dengan nasehat saja. Namun adapula yang
membutuhkan terapi medikamentosa atau tindakan medik yang lain karena
keluhannya semakin parah.(14)
Tujuan terapi hyperplasia prostat adalah (1) memperbaiki keluhan miksi, (2)
meningkatkan kualitas hidup, (3) mengurangi obstruksi intravesika, (4)
mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal, (5) mengurangi volume residu
urine setelah miksi dan (6) mencegah progrefitas penyakit. Hal ini dapat dicegah
dengan medikamentosa, pembedahan atau tindakan endourologi yang kurang invasif.
(14,15)

Observasi Medikamentosa Operasi Invasive minimal


Watchful Penghambat Prostatektomi terbuka TUMT
waiting adrenergik

18
Penghambat Endourologi TUBD
reduktese Stent uretra
Fisioterapi 1. TURP
Hormonal TUNA
2. TUIP
3. TULP
Elektovaporasi

Tabel 3. Pilihan Terapi pada Hiperplasia Prostat Benigna

Riwayat
Pemeriksaan fisik & DRE
Urinalisa
PSA (meningkat/tidak)

Indeks gejala Retensi urinaria+gejala yang


AUA berhubungan dg BPH
Hematuria persistent
Batu buli
Infeksi saluran urinaria
Gejala ringan Gejala sedang berulang
(AUA7)/ /berat Insufisiensi renal
tdk ada

Tes diagnostic
Uroflow
Residu urin postvoid
Operasi

Pilihan terapi

Terapi non-invasif Terapi invasif

Tes diagnostic
Pressure flow
Watchful waiting Terapi medis Uretrosistoskopi
USG prostat

19
Terapi minimal invasif Operasi

Bagan 2. Penatalaksanaan Benigna Prostat Hiperplasia14

Penatalaksanaan Nilai indeks gejala BPH Efek samping


Wactfull waiting Gejala hilang/timbul Risiko kecil , dapat terjadi retensi
urinaria
Penatalaksanaan medis
Alpha-blockers Sedang 6-8 Gaster/usus halus-11%
Hidung berair-11%
Sakit kepala-12%
Menggigil-15%
5 alpha-reductase inhibitors Ringan 3-4 Masalah ereksi-8%
Kehilangan hasrat sex-5%
Berkurangnya semen-4%
Terapi kombinasi Sedang 6-7 kombinasi
Terapi invasi minimal
Transuretral microwave heat Sedang-berat 9-11 Urgensi/frekuensi-28-74%
Infeksi-9%
Prosedur kedua dibutuhkan-10-
16%
TUNA Sedang 9 Urgensi/frekuensi-31%
Infeksi-17%
Prosedur kedua dibutuhkan-23%
Operasi
TURP, laser & operasi Berat 14-20 Retensi urinaria-1-21%
sejenis Urgensi&frekuensi-6-99%
Gangguan ereksi-3-13%
Operasi terbuka Berat Inkontinensia 6%

Tabel 4. Penatalaksaan Berdasarkan Nilai Indeks Gejala Benigna Prostat


Hiperplasia15

a. Watchful waiting

20
Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS dibawah 7,
yaitu keluhan ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasien tidak
mendapat etrapi namun hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin
dapat memperburuk keluhannya, misalnya (1) jangan mengkonsumsi kopi atau
alcohol setelah makan malam, (2) kurangi konsumsi makanan atau minuman yang
mengiritasi buli-buli (kopi/cokelat), (3) batasi penggunaan obat-obat influenza yang
mengandung fenilpropanolamin, (4) kurangi makanan pedasadan asin, dan (5) jangan
menahan kencing terlalu lama.
Secara periodik pasien diminta untuk datang control dengan ditanya keluhannya
apakah menjadi lebih baik (sebaiknya memakai skor yang baku), disamping itu
dilakukan pemeriksaan laboratorium, residu urin, atau uroflometri. Jika keluhan miksi
bertambah jelek daripada sebelumnya, mungkin perlu dipikirkan terapi yang lain.(15)

b. Medikamentosa
Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk : (1) mengurangi resistansi otot
polos prostat sebagai komponen dinamik penyebab obstruksi infravesika dengan obat-
obatan penghambat adrenergic alfa (adrenergic alfa blocker dan (2) mengurangi
volume prostat sebagai komponen static dengan cara menurunkan kadar hormone
testosterone/dihidrotestosteron (DHT) melalui penghambat 5-reduktase.(15,16)
Penghambat reseptor adrenergik
Penghambat 5 reduktase
Fitofarmaka

1) Penghambat reseptor adrenergik .


Mengendurkan otot polos prostat dan leher kandung kemih, yang membantu untuk
meringankan obstruksi kemih disebabkan oleh pembesaran prostat di BPH.

21
Efek samping dapat termasuk sakit kepala, kelelahan, atau ringan.
Umumnya digunakan alpha blocker BPH termasuk tamsulosin (Flomax),
alfuzosin (Uroxatral), dan obat-obatan yang lebih tua seperti terazosin (Hytrin)
atau doxazosin (Cardura). Obat-obatan ini akan meningkatkan pancaran urin
dan mengakibatkan perbaikan gejala dalam beberapa minggu dan tidak
berpengaruh pada ukuran prostat.(7,15)

Detrusor
Trigone
Internal Sphincter

Prostate Gland

Pelvic Floor

External Sphincter

Gambar 12. Distribusi Reseptor Alpha pada Prostat dan Vesika Urinari

22
Gambar 13. Lokasi Reseptor 1-Adrenergik (1-ARs)

2) Penghambat 5 reduktase
Obat ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan dihidrotestosteron
(DHT) dari testosterone yang dikatalisis oleh enzim 5 reduktase di dalam sel
prostat. Menurunnya kadar DHT menyebabkan sintesis protein dan replikasi
sel-sel prostat menurun. Pembesaran prostat di BPH secara langsung
tergantung pada DHT, sehingga obat ini menyebabkan pengurangan 25%
perkiraan ukuran prostat lebih dari 6 sampai 12 bulan.(16)

Gambar 14. Model Aksi Penghambat 5 reduktase

Contoh obat penghambat 5 reduktase berdasarkan tipenya :


Avodart (dutasteride) - pada tipe 1 dan 2 5ARI
Proscar(finasteride) - hanya pada tipe 2 5ARI

23
3) Fitofarmaka
Beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk memperbaiki
gejala akibat obstruksi parsial, tetapi data-data farmakologik tentang
kandungan zat aktif yang mendukung mekanisme kerja obat fisioterapi sampai
sata ini belum diketahui dengan pasti. Kemungkinan fitofarmaka bekerja
sebagai : antiestrogen, antiandrogen, menurunkan kadar sex hormone binding
globulin (SHBG), inhibisi basic fibroblast growth factos (bFGF) dan
epidermal growth factor (EGF), mengacaukan metabolism prostaglandin, efek
anti inflamasi, menuruknan outflow resistance dan memperkecil volume
prostat. Diantara fitofarmaka yang banyak dipasarkan adalah: Pyegeum
africanum, Serenoa repens, Hypoxis rooperi, Radix urtica dan masih banyak
lainnya.(10,17)

c. Terapi Invasif Minimal


Diperuntukan untuk pasien yang mempunyai risiko tinggi terhadap pembedahan

1) Microwave transurethral. Pada tahun 1996, FDA menyetujui perangkat yang


menggunakan gelombang mikro untuk memanaskan dan menghancurkan
jaringan prostat yang berlebih. Dalam prosedur yang disebut microwave
thermotherapy transurethral (TUMT), perangkat mengirim gelombang mikro
melalui kateter untuk memanaskan bagian prostat dipilih untuk setidaknya 111
derajat Fahrenheit. Sebuah sistem pendingin melindungi saluran kemih selama
prosedur.(17)

Prosedur ini memakan waktu sekitar 1 jam dan dapat dilakukan secara
rawat jalan tanpa anestesi umum. TUMT belum dilaporkan menyebabkan
disfungsi ereksi atau inkontinensia. Meskipun terapi microwave tidak
menyembuhkan BPH, tapi mengurangi gejala frekuensi kencing, urgensi,
tegang, dan intermitensi. (8,17)

24
Gambar 15. Microwave Transurethral

2) Transurethral jarum ablasi. Juga pada tahun 1996, FDA menyetujui


transurethral jarum ablasi invasif minimal (TUNA) sistem untuk pengobatan
BPH. Sistem TUNA memberikan energy radiofrekuensi tingkat rendah melalui
jarum kembar untuk region prostat yang membesar. Shields melindungi uretra
dari kerusakan akibat panas. Sistem TUNA meningkatkan aliran urin dan
mengurangi gejala dengan efek samping yang lebih sedikit jika dibandingkan
dengan reseksi transurethral dari prostat (TURP).(15)

Gambar 16. Transurethral Jarum Ablasi Invasif Minimal

3) Thermotherapy dengan air. Terapi ini menggunakan air panas untuk


menghancurkan jaringan kelebihan dalam prostat. Sebuah kateter mengandung
beberapa lubang diposisikan dalam uretra sehingga balon pengobatan terletak
di tengah prostat. Sebuah komputer mengontrol suhu air, yang mengalir ke

25
balon dan memanaskan jaringan prostat sekitarnya. Sistem ini memfokuskan
panas di wilayah yang tepat prostat. Sekitar jaringan dalam uretra dan kandung
kemih dilindungi. Jaringan yang hancur keluar melalui urin.(17)

Gambar 17. Thermotherapy dengan Air

4) Intra-Prostatic Stent

Stent prostat dipasang pada uretra prostatika untuk mengatasi obstruksi


karena pembesaran prostat. Stent dipasang intraluminal di antara leher buli-
buli dan di sebelah proksimal verumontanum sehingga urine dapat leluasa
melewati lumen uretra prostatika. Stent temporer dipasang selama 6-36 bulan
dan terbuat dari bahan yang tidak diserap dan tidak mengadakan reaksi
jaringan. Stent yang permanen terbuat dari anyaman dari bahan logam super
alloy, nikel atau titanium. Sayangnya setelah pemasangan kateter ini, pasien
masih merasakan keluhan miksi berupa gejala iritatif, perdarahan uretra atau
rasa tidak enak di daerah penis.(16)

26
Gambar 18. Intra-Prostatic Stent

d. Bedah

1) Operasi transurethral.

Pada jenis operasi, sayatan eksternal tidak diperlukan. Setelah memberikan


anestesi, ahli bedah mencapai prostat dengan memasukkan instrumen melalui
uretra.

Prosedur yang disebut reseksi transurethral dari prostat (TURP) digunakan


untuk 90 persen dari semua operasi prostat dilakukan untuk BPH. Dengan
TURP, alat yang disebut resectoscope dimasukkan melalui penis. The
resectoscope, yaitu panjang sekitar 12 inci dan diameter 1 / 2 inci, berisi
lampu, katup untuk mengendalikan cairan irigasi, dan loop listrik yang
memotong jaringan dan segel pembuluh darah.(8,18)

Cairan irigan yang dipakai adalah aquades . kerugian dari aquades adalah
sifatnya yang hipotonis sehingga dapat masuk melalui sirkulasi sistemik dan
menyebabkan hipotermia relative atau gejala intoksikasi air yang dikenal
dengan sindrom TURP. Ditandai dengan pasien yang mulai gelisah, somnolen
dan tekanan darah meningkat dan terdapat bradikardi. Jika tidak segera diatasi,
pasien akan mengalami edema otak dan jatuh ke dalam koma. Untuk
mengurangi risiko timbulnya sindroma TURP operator harus membatasi diri
untuk tidak melakukan reseksi lebih dari 1 jam dan haru smemasang
sistostomi terlebih dauhlu sebelum reseksi diharapkan dapat mengurangi
penyerapan air ke sistemik.(6,10)

Selama operasi 90-menit, ahli bedah menggunakan loop kawat resectoscope


untuk menghilangkan jaringan obstruksi satu bagian pada suatu waktu.
Potongan-potongan jaringan dibawa oleh cairan ke kandung kemih dan
kemudian dibuang keluar pada akhir operasi. Prosedur transurethral kurang
traumatis daripada bentuk operasi terbuka dan memerlukan waktu pemulihan
lebih pendek. Salah satu efek samping yang mungkin TURP adalah ejakulasi

27
retrograde, atau ke belakang. Dalam kondisi ini, semen mengalir mundur ke
dalam kandung kemih selama klimaks bukannya keluar uretra.(9,16)

Selama operasi Pasca bedah dini Pasca bedah lanjut

Perdarahan Perdarahan Inkontinensi

Sindrom TURP Infeksi lokal/sistemik Dinsfungsi ereksi

Perforasi Ejakulasi retrograde

Striktur uretra

Tabel 5. Berbagai Penyulit TURP, Selama maupun Setelah Pembedahan

28
(a)

(b)

(c)

Gambar 19. (a) alat TURP, (b) cara melakukan TURP, (c) uretra prostatika pasca
TURP

Prosedur bedah yang disebut insisi transurethral dari prostat (TUIP), prosedur
ini melebar urethra dengan membuat beberapa potongan kecil di leher
kandung kemih, di mana terdapat kelenjar prostat. Prosedur ini digunakan
pada hiperplasi prostat yang tidak tartalu besar, tanpa ada pembesaran lobus
medius dan pada pasen yang umurnya masih muda.(18)

Gambar 20. Prosedur Trans Uretral Incision Prostat (TUIP)

29
2) Open surgery.

Dalam beberapa kasus ketika sebuah prosedur transurethral tidak dapat


digunakan, operasi terbuka, yang memerlukan insisi eksternal, dapat
digunakan. Open surgery sering dilakukan ketika kelenjar sangat membesar
(>100 gram), ketika ada komplikasi, atau ketika kandung kemih telah rusak
dan perlu diperbaiki. Prostateksomi terbuka dilakukan melalui pendekatan
suprarubik transvesikal (Freyer) atau retropubik infravesikal (Millin). Penyulit
yang dapat terjadi adalah inkontinensia uirn (3%), impotensia (5-10%),
ejakulasi retrograde (60-80%) dan kontraktur leher buli-buli (305%).
Perbaikan gejala klinis 85-100%.(17)

3) Operasi laser

Kelenjar prostat pada suhu 60-65oC akan mengalami koagulasi dan


pada suhu yang lebih dari 100oC mengalami vaporasi. Teknik laser
menimbulkan lebih sedikit komplikasi sayangnya terapi ini membutuhkan
terapi ulang 2% setiap tahun. Kekurangannya adalah : tidak dapat diperoleh
jaringan untuk pemeriksaan patologi (kecuali paad Ho:YAG coagulation),
sering banyak menimbulkan disuri pasca bedah yang dapat berlangsung
sampai 2 bulan, tidak langsung dapat miksi spontan setelah operasi dan peak
flow rate lebih rendah daripada pasca TURP. Serat laser melalui uretra ke
dalam prostat menggunakan cystoscope dan kemudian memberikan beberapa
semburan energi yang berlangsung 30 sampai 60 detik. Energi laser
menghancurkan jaringan prostat dan menyebabkan penyusutan.(8,17)

30
Gambar 21. Operasi Laser pada Prostat

a) Interstitial laser coagulation. Tidak seperti prosedur laser lain, koagulasi


laser interstisial tempat ujung probe serat optik langsung ke jaringan
prostat untuk menghancurkannya.

Gambar 22. Interstitial laser coagulation

b) Potoselectif vaporisasi prostat (PVP).

31
PVT a-energi laser tinggi untuk menghancurkan jaringan prostat. Cara
sama dengan TURP, hanya saja teknik ini memakai roller ball yang
spesifik dengan mesin diatermi yang cukup kuat, sehingga mampu
membuat vaporasi kelenjar prostat. Teknik ini cukup aman tidak
menimbulkan perdarahan pada saat operasi. Namun teknik ini hanya
diperuntukan pada prostat yang tidak terlalu besar (<50 gram) dan
membutuhkan waktu operasi yang lebih lama. (18)

Gambar 23. Potoselectif vaporisasi prostat

Berdasarkan beberapa macam pilihan terapi yang sudah dijelaskan diatas.


Pada pasien ini dilakukan pemberian medikamentosa pada awal diagnose, diberikan 2
macam obat yaitu Avodart dan prostam. Namun, gejala yang dirasakan semakin
memberat sampai terjadi retensi urin. Oleh karena itu dilakukan reseksi transurethral
dari prostat (TURP) sebagai tatalaksana akhir pada pasien ini.

3.10 Komplikasi
Apabila buli buli menjadi dekompensasi, akan terjadi retensio urin. Karena
produksi urin terus berlanjut maka pada suatu saat buli buli tidak mapu menampung
urin sehingga tekanan intra vesika meningkat, dapat timbul hidroureter, hidronefrosis
dan gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat jika terjadi infeksi.(17)

32
Karena selalu terdapat sisa urin, dapat terbentuk batu endapan dalam buli
buli. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. Batu
tersebut dapat pula menimbulkan sistitis dan bila terjadi refluks dapat terjadi
pielonefritis.(18)
Pada waktu miksi pasien harus mengedan sehingga lama kelamaan dapat
menyebabkan hernia atau hemoroid.(4,18)
Pada pasien ini sudah terjadi retensi urin, dengan kata lain pasien ini sudah
mengalami komplikasi

3.11 Prognosis
Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi pada tiap
individu walaupun gejalanya cenderung meningkat. Namun BPH yang tidak segera
ditindak memiliki prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi kanker
prostat. Menurut penelitian, kanker prostat merupakan kanker pembunuh nomer 2
pada pria setelah kanker paru-paru. BPH yang telah diterapi juga menunjukkan
berbagai efek samping yang cukup merugikan bagi penderita.(6,9)
Prognosis pada pasien ini secara keseluruhan adalah baik. Namun, pada pasien
ini ada kemungkinan dapat mengalami kekambuhan.

BAB IV
KESIMPULAN

Hiperplasia kelenjar prostat mempunyai angka morbiditas yang bermakna

33
pada populasi pria lanjut usia. Dengan bertambah usia, ukuran kelenjar dapat
bertambah karena terjadi hiperplasia jaringan fibromuskuler dan struktur epitel
kelenjar (jaringan dalam kelenjar prostat). Gejala dari pembesaran prostat ini terdiri
dari gejala obstruksi dan gejala iritatif.
Penatalaksanaan BPH berupa watchful waiting, medikamentosa, terapi bedah
konvensional, dan terapi minimal invasif. Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan
tidak dapat diprediksi pada tiap individu walaupun gejalanya cenderung meningkat.
Namun BPH yang tidak segera ditindak memiliki prognosis yang buruk karena dapat
berkembang menjadi kanker prostat.
Pasien dalam kasus ini datang dengan keluhan tidak bisa buang air kecil
(retensi urin) dimana retensi urin sudah merupakan suatu komplikasi untuk penyakit
BPH. Dan pasien mengatakan sebelumnya pasien mengalami gejala gejala merasa
nyeri setiap kali bak, selalu menunggu di awal miksi, pancaran kencingnya lemah dan
terputus putus, kadang pasien merasa harus mengejan pada saat bak, terdapat rasa
tidak puas setelah berkemih dan urin menetes di akhir miksi, pasien tidak bisa
menahan saat ingin berkemih, selalu terbangun di malam hari untuk bak kurang lebih
sebanyak 4 kali. Dimana didapatkan jumlah skor I-PSS (International Prostatic
Symptom Score) pada pasien ini adalah sebesar 28 (berat) berarti pada pasien ini
sudah mengalami derajat BPH yang berat.

Pada pemeriksaan colok dubur yang dilakukan pada pasien


ini didapatkan tonus sfingter ani baik, rectum terisi feces. Terdapat benjolan pada
arah jam 12 dengan pembesaran dari arah jam 11 dan jam 1. Permukaan licin dengan
konsistensi kenyal padat, simetris pada lobus kanan dan kiri, berbatas tegas, tidak
terdapat nyeri, pool atas tidak teraba. Dengan kesimpulan dari pemeriksaan
ultrasonografi yang dilakukan didapatkan Prostat pasien berdiameter 65,6x76,1x70,7
mm. Dengan kesan pembesaran kelenjar prostat. Tatalaksana yang diberikan pada
pasien ini adalah reseksi transurethral dari prostat (TURP). Dengan
harapan prognosis secara keseluruhan adalah baik.

34