Anda di halaman 1dari 35

CASE REPORT

Fraktur Humerus

DISUSUN OLEH

Sela Aulia Mahmudah


NIM 030.12.250

PEMBIMBING
Dr. Arie Zakaria, Sp. OT

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RUMAH SAKIT TNI AL Dr. MINTOHARDJO
MARET 2017
DAFTAR ISI

Daftar isi. 2
Bab I Pendahuluan....... 3
Bab II Laporan kasus..... 4
Bab III Tinjauan pustaka. 11
3.1 Anatomi .... 11
3.2 Definisi ..... 17
3.3 Epidemiologi .... 18
3.4 Etiologi ................................. 18
3.5 Klasifikasi ..... 19
3.6 Diagnosis......... 23
3.7 Tatalaksana .. 28
3.8 Komplikasi .. 32
Bab IV Kesimpulan 35
Daftar Pustaka 36

2
BAB I
PENDAHULUAN

Fraktur humerus merupakan diskontinuitas jaringan tulang humerus. Fraktur


tersebut umumnya disebabkan oleh trauma. Selain dapat menimbulkan patah tulang
(fraktur), trauma juga dapat mengenai jaringan lunak sekitar tulang humerus tersebut,
misalnya vulnus (luka), perdarahan, memar (kontusio), regangan atau robek parsial
(sprain), putus atau robek (avulsi atau ruptur), gangguan pembuluh darah, dan
gangguan saraf (neuropraksia, aksonotmesis, neurolisis).1
Setiap fraktur dan kerusakan jaringan lunak sekitar tulang tersebut harus
ditanggulangi sesuai dengan prinsip penanggulangan cedera muskuloskeletal. Prinsip
tersebut meliputi rekognisi (mengenali), reduksi (mengembalikan), retaining
(mempertahankan), dan rehabilitasi.1,2
Agar penanganannya baik, perlu diketahui kerusakan apa saja yang terjadi, baik
pada tulang maupun jaringan lunaknya. Mekanisme trauma juga sangat penting untuk
diketahui.1

3
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Tn. M
Umur : 46 tahun
Jenis Kelamin : Laki - laki.
Alamat : Jl. Duta Kranji Blok C No. 413
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Agama : Islam
Status pernikahan : Menikah
Pendidikan terakhir : Sarjana
Asuransi : BPJS
Tanggal berobat Poli : 16 Maret 2017

2.2 ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis dan alloanamnesis pada tanggal 16/03/2017 pada
pukul 11.00 WIB di Poli Bedah Orthopedi RSAL Mintohardjo.

1. Keluhan Utama
Nyeri pada lengan kiri sejak 1 minggu SMRS
2. Keluhan Tambahan
-
3. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS)
Pasien datang bersama saudaranya ke Poli Bedah Orthopedi RSAL
Mintohardjo hari Kamis, 16 Maret 2017 pukul 11.00 WIB dengan keluhan nyeri pada
lengan sebelah kiri sejak 1 minggu SMRS. Nyeri pada lengan atas dan lengan bawah,
nyeri dirasakan terus menerus, dan bertambah nyeri apabila digerakkan. Pasien
mengaku mengalami kecelakaan sepeda motor 1 minggu SMRS, pasien ditabrak
mobil pick up dari belakang pada saat pasien mengendarai motornya dengan
kecepatan 60 km/jam lalu pasien terjatuh ke sebelah kiri. Pada saat kejadian pasien
tidak langsung dilarikan ke rumah sakit melainkan langsung dibawa ke dukun patah
tulang di daerah Cimande. Namun, setelah pengobatan berjalan pasien merasa tidak

4
ada perbaikan. Oleh karena itu pasien berobat ke rumah sakit. Pasien mengatakan
lengan kiri tidak bisa digerakkan sama sekali kecuali dengan bantuan orang lain dan
gerakannya juga terbatas.
Pasien mengatakan sesaat setelah kecelakaan pasien tidak mengalami
penurunan kesadaran/ pingsan, mual, atau muntah. Pasien mengatakan nafsu makan
pasien menurun dan pasien mengalami sedikit penurunan berat badan. Bak dan bab
masih dalam batas normal. Pasien mengaku memiliki riwayat penyakit hipertensi dan
penyakit jantung. Namun, pasien tidak memiliki riwayat diabetes mellitus, penyakit
paru maupun penyakit ginjal. Pada riwayat kebiasaan pasien merupakan seorang
perokok aktif, 1 bungkus perhari. Namun sudah sejak lama berhenti merokok. Pasien
suka minum minuman beralcohol. Pasien tidak pernah berolahraga.

4. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD):


Pasien memiliki riwayat hipertensi dan penyakit jantung. Riwayat diabetes
mellitus disangkal. Riwayat penyakit ginjal, prnyakit paru, dan alergi obat obatan
dan makanan disangkal. Riwayat operasi juga disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga (RPK)


Ibu pasien memiliki riwayat hipertensi. Riwayat diabetes mellitus pada
keluarga disangkal.

6. Riwayat Kebiasaan
Pasien merupakan seorang perokok aktif (1 bungkus perhari) namun sudah
sejak lama berhenti merokok, dan pasien mengkonsumsi alcohol. Pasien tidak
menkonsumsi obat obatan terlarang. Pasien tidak pernah berolahraga
7. Riwayat Pengobatan
Pasien mengatakan sebelum ke rumah sakit, dirinya berobat ke dukun patah
tulang di daerah Cimande, namun dirasakan tidak ada perbaikan pada lengan kirinya.

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda vital : Tekanan darah: 140/80mmHg
Nadi: 88 x/menit

5
Respirasi: 20 x/menit
Suhu: 36,8 C
STATUS GENERALIS
1. Kulit:
Warna : sawo matang, tidak pucat, tidak ikterik tidak sianosis tidak ada
ruam dan tidak terdapat hipopigmentasi maupun hiperpigmentasi
Lesi : tidak terdapat lesi primer seperti macula, papul vesikuler,
pustule maupun lesi sekunder seperti jaringan parut atau keloid pada bagin
tubuh yang lain.
Rambut : tumbuh rambut permukaan kulit merata
Turgor : baik
Suhu raba : hangat
2. Mata

Bentuk : normal, kedudukan bola mata simetris


Palpebra : normal, tidak terdapat ptosis, lagoftalmus, oedema, perdarahan,
blefaritis, maupun xanthelasma
Gerakan : normal, tidak terdapat strabismus, nistagmus
Konjungtiva : tidak anemis
Sklera : tidak ikterik
Pupil : bulat, didapatkan isokor, diameter 3 mm, reflex cahaya langsung
positif pada mata kanan dan kiri, reflex cahaya tidak langsung positif pada mata
kanan dan kiri
Eksoftalmus : tidak ditemukan
Endoftalmus : tidak ditemukan
3. Telinga

Bentuk : normotia
Liang telinga : lapang
Serumen : tidak ditemukan serumen pada telinga kanan maupun
kiri
Nyeri tarik auricular : tidak ada nyeri tarik pada auricular kiri maupun kanan
Nyeri tekan tragus : tidak ada nyeri tekan pada tragus kanan maupun kiri

4. Hidung

6
Bagian luar : normal, tidak terdapat deformitas
Septum : terletak ditengah, simetris
Mukosa hidung : tidak hiperemis, konka nasalis eutrofi
Cavum nasi : tidak ada perdarahan
5. Mulut dan tenggorok

Bibir : normal, tidak pucat, tidak sianosis


Gigi-geligi : hygiene baik
Mukosa mulut : normal, tidak hiperemis
Lidah : normoglosia, tidak tremor, tidak kotor
Tonsil : ukuran T1/T1, tenang, tidak hiperemis
Faring : tidak hiperemis, arcus faring simetris, uvula di tengah
6. Leher

Bendungan vena : tidak ada bendungan vena


Kelenjar tiroid : tidak membesar, mengikuti gerakan, simetris
Trakea : di tengah
7. Kelenjar getah bening

Leher : tidak terdapat pembesaran di KGB leher


Aksila : tidak terdapat pembesaran di KGB aksila
Inguinal : tidak terdapat pembesaran di KGB inguinal
8. Thorax

Paru-paru
Inspeksi : simetris, tidak ada hemithorax yang tertinggal pada saat statis dan
dinamis, tipe pernapasan abdominothorakal, retraksi (-)

Palpasi : gerak simetris vocal fremitus sama kuat pada kedua hemithorax

Perkus : sonor pada kedua hemithorax, batas paru-hepar pada sela iga VI pada linea
midklavikularis dextra, dengan peranjakan 2 jari pemeriksa, batas paru-lambung pada
sela iga ke VIII pada linea axilatis anterior sinistra.

Auskultasi : suara nafas vesikuler, tidak terdengar ronkhi maupun wheezing pada
kedua lapang paru

7
Jantung

Inspkesi : tidak tampak pulsasi ictus cordis

Palpasi : terdapat pulsasi ictus cordis pada ICS V, di linea midklavikularis sinistra

Perkusi :

Batas jantung kanan : ICS III - V , linea sternalis dextra


Batas jantung kiri : ICS V , 2-3 cm dari linea midklavikularis sinistra
Batas atas jantung : ICS III linea sternalis sinistra
Auskultasi : bunyi jantung I, II regular, tidak terdengar murmur maupun gallop

9. Abdomen

Inspeksi : abdomen simetris, datar, tidak terdpat pelebaran vena


Palpasi : teraba supel, hepar dan lien tidak teraba. Tidak terdapat nyeri tekan
abdomen. Pada pemeriksaan ballottement didapatkan hasil negative
Perkusi : timpani pada keempat kuadran abdomen.
Auskultasi : bising usus positif 2x/menit, normal
10. Genitalia

Tidak tampak kelainan (dalam batas normal)

11. Ekstremitas

Atas: sesuai status lokalis

Bawah : akral hangat, tidak ada oedem, CRT < 2 detik

12. Status Lokalis


Look : Lengan kiri di bidai dan dibalut oleh elastic verban meliputi lengan
atas sampai dengan lengan bawah
Feel : nyeri tekan (-), sensabilitas (-), krepitasi (-), capillary refil (<2 detik),
pulsasi arteri (+).
Move : Tidak bisa melakukan gerakan aktif, gerakan pasif dapat dilakukan
namun terbatas karena nyeri.

2.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG

8
Rontgen x-ray foto humerus sinistra

2.5 RESUME
Pasien datang bersama saudaranya ke Poli Bedah Orthopedi RSAL
Mintohardjo hari Kamis, 16 Maret 2017 pukul 11.00 WIB dengan keluhan nyeri pada
lengan sebelah kiri sejak 1 minggu SMRS. Nyeri pada lengan atas dan lengan bawah,
nyeri dirasakan terus menerus, dan bertambah nyeri apabila digerakkan. Pasien
mengaku mengalami kecelakaan sepeda motor 1 minggu SMRS, pasien ditabrak
mobil pick up dari belakang pada saat pasien mengendarai motornya dengan
kecepatan 60 km/jam lalu pasien terjatuh ke sebelah kiri. Pada saat kejadian pasien
tidak langsung dilarikan ke rumah sakit melainkan langsung dibawa ke dukun patah
tulang di daerah Cimande. Namun, setelah pengobatan berjalan pasien merasa tidak
ada perbaikan. Oleh karena itu pasien berobat ke rumah sakit. Pasien mengatakan
lengan kiri tidak bisa digerakkan sama sekali kecuali dengan bantuan orang lain dan
gerakannya juga terbatas.
Pasien mengatakan sesaat setelah kecelakaan pasien tidak mengalami
penurunan kesadaran/ pingsan, mual, atau muntah. Pasien mengatakan nafsu makan
pasien menurun dan pasien mengalami sedikit penurunan berat badan. Bak dan bab

9
masih dalam batas normal. Pasien mengaku memiliki riwayat penyakit hipertensi dan
penyakit jantung. Namun, pasien tidak memiliki riwayat diabetes mellitus, penyakit
paru maupun penyakit ginjal. Pada riwayat kebiasaan pasien merupakan seorang
perokok aktif, 1 bungkus perhari. Namun sudah sejak lama berhenti merokok. Pasien
suka minum minuman beralcohol. Pasien tidak pernah berolahraga.
Pada pemeriksaan status lokalis didapatkan. Look, lengan kiri di bidai dan
dibalut oleh elastic verban. Feel, nyeri tekan (-), sensabilitas (+), krepitasi (-),
capillary refil (<2 detik), pulsasi arteri (+). Move, tidak bisa melakukan gerakan aktif,
gerakan pasif dapat dilakukan namun terbatas karena nyeri. Pada pemeriksaan
penunjang dilakukan foto rontgen pada lengan kiri.

2.6 DIAGNOSA KERJA

Fraktur Humerus Sinistra

2.7 DIAGNOSA BANDING


-

2.8 PENATALAKSANAAN

Pro orif

2.9 PROGNOSIS
- Ad vitam : bonam
- Ad sanationam : bonam
- Ad fungsionam : bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Humerus


Humerus (arm bone) merupakan tulang terpanjang dan terbesar dari ekstremitas
superior. Tulang tersebut bersendi pada bagian proksimal dengan skapula dan pada
bagian distal bersendi pada siku lengan dengan dua tulang, ulna dan radius.3
Ujung proksimal humerus memiliki bentuk kepala bulat (caput humeri) yang
bersendi dengan kavitas glenoidalis dari scapula untuk membentuk articulatio gleno-

10
humeri. Pada bagian distal dari caput humeri terdapat collum anatomicum yang
terlihat sebagai sebuah lekukan oblik. Tuberculum majus merupakan sebuah proyeksi
lateral pada bagian distal dari collum anatomicum. Tuberculum majus merupakan
penanda tulang bagian paling lateral yang teraba pada regio bahu. Antara tuberculum
majus dan tuberculum minus terdapat sebuah lekukan yang disebut sebagai sulcus
intertubercularis. Collum chirurgicum merupakan suatu penyempitan humerus pada
bagian distal dari kedua tuberculum, dimana caput humeri perlahan berubah menjadi
corpus humeri. Bagian tersebut dinamakan collum chirurgicum karena fraktur sering
terjadi pada bagian ini.3
Corpus humeri merupakan bagian humerus yang berbentuk seperti silinder pada
ujung proksimalnya, tetapi berubah secara perlahan menjadi berbentuk segitiga
hingga akhirnya menipis dan melebar pada ujung distalnya. Pada bagian lateralnya,
yakni di pertengahan corpus humeri, terdapat daerah berbentuk huruf V dan kasar
yang disebut sebagai tuberositas deltoidea. Daerah ini berperan sebagai titik
perlekatan tendon musculus deltoideus.3,4
Beberapa bagian yang khas merupakan penanda yang terletak pada bagian distal
dari humerus. Capitulum humeri merupakan suatu struktur seperti tombol bundar
pada sisi lateral humerus, yang bersendi dengan caput radii. Fossa radialis merupakan
suatu depresi anterior di atas capitulum humeri, yang bersendi dengan caput radii
ketika lengan difleksikan. Trochlea humeri, yang berada pada sisi medial dari
capitulum humeri, bersendi dengan ulna. Fossa coronoidea merupakan suatu depresi
anterior yang menerima processus coronoideus ulna ketika lengan difleksikan. Fossa
olecrani merupakan suatu depresi posterior yang besar yang menerima olecranon ulna
ketika lengan diekstensikan. Epicondylus medialis dan epicondylus lateralis
merupakan suatu proyeksi kasar pada sisi medial dan lateral dari ujung distal
humerus, tempat kebanyakan tendon otot-otot lengan menempel. Nervus ulnaris,
suatu saraf yang dapat membuat seseorang merasa sangat nyeri ketika siku lengannya
terbentur, dapat dipalpasi menggunakan jari tangan pada permukaan kulit di atas area
posterior dari epicondylus medialis.4
Berikut ini merupakan tabel tentang saraf dan otot yang menggerakkan humerus.
Tabel 1. Saraf dan Otot yang Menggerakkan Humerus4
Otot Origo Insertio Aksi Persarafan
Otot-Otot Aksial yang Menggerakkan Humerus
M. pectoralis Clavicula, Tuberculum Aduksi dan Nervus
major sternum, majus dan merotasi medial pectoralis

11
cartilago sisi lateral lengan pada sendi medialis dan
costalis II- sulcus bahu; kepala lateralis
VI, intertubercul clavicula
terkadang aris dari memfleksikan
cartilago humerus lengan dan kepala
costalis I-VII sternocostal
mengekstensikan
lengan yang fleksi
tadi ke arah truncus
M. latissimus Spina T7-L5, Sulcus Ekstensi, aduksi, Nervus
dorsi vertebrae intertubercul dan merotasi thoracodorsalis
lumbales, aris dari medial lengan pada
crista sacralis humerus sendi bahu;
dan crista menarik lengan ke
iliaca, costa arah inferior dan
IV inferior posterior
melalui
fascia
thoracolumb
alis
Otot-Otot Scapula yang Menggerakkan Humerus
M. deltoideus Extremitas Tuberositas Serat lateral Nervus axillaris
acromialis deltoidea mengabduksi
dari dari humerus lengan pada sendi
clavicula, bahu; serat anterior
acromion memfleksikan dan
dari scapula merotasi medial
(serat lengan pada sendi
lateral), dan bahu, serat
spina posterior
scapulae mengekstensikan
(serat dan merotasi lateral
posterior) lengan pada sendi
bahu.

12
M. Fossa Tuberculum Merotasi medial Nervus
subscapularis subscapularis minus dari lengan pada sendi subscapularis
dari scapula humerus bahu
M. Fossa Tuberculuum Membantu M. Nervus
supraspinatus supraspinata majus dari deltoideus subscapularis
dari scapula humerus mengabduksi pada
sendi bahu
M. Fossa Tuberculum Merotasi lateral Nervus
infraspinatus infraspinata majus dari lengan pada sendi suprascapularis
dari scapula humerus bahu
M. teres Angulus Sisi medial Mengekstensikan Nervus
major inferior dari sulcus lengan pada sendi subscapularis
scapula intertubercul bahu dan
aris membantu aduksi
dan rotasi medial
lengan pada sendi
bahu
M. teres Margo Tuberculum Merotasi lateral dan Nervus axillaris
minor lateralis majus dari ekstensi lengan
inferior dari humerus pada sendi bahu
scapula
M. Processus Pertengahan Memfleksikan dan Nervus
coracobrachi coracoideus sisi medial aduksi lengan pada musculocutaneus
alis dari scapula dari corpus sendi bahu
humeri

Anatomic
neck

13
Gambar 1. Tampilan
Anterior Humerus5

Anatomic
neck

Gambar 2. Tampilan
Posterior Humerus5

14
Gambar 3. Tampilan
Anterior Saraf di
Sekitar Humerus5

Gambar 4. Tampilan
Lateral Saraf di Sekitar
Humerus5

15
Gambar 5.

Tampilan Aliran Darah di Sekitar Humerus5

Di bagian posterior tengah humerus, melintas nervus radialis yang melingkari


periosteum diafisis humerus dari proksimal ke distal dan mudah mengalami cedera
akibat patah tulang humerus bagian tengah. Secara klinis, pada cedera nervus radialis
didapati ketidakmampuan melakukan ekstensi pergelangan tangan sehingga pasien
tidak mampu melakukan fleksi jari secara efektif dan tidak dapat menggenggam.1,3
Vaskularisasi regio brachii dijelaskan pada bagian berikut:
Arteri brachialis merupakan lanjutan a. axillaris, dimulai dari tepi inferior m.
teres mayor. Arteri ini melanjutkan diri ke fossa cubiti dan di sini berakhir sebagai dua
cabang terminal, yaitu aa. Ulnaris et radialis. Cabang-cabangnya yang berada di regio
ini adalah aa. Profunda brachii, collaterales ulnares proksimal et distalis. 4,5
Arteri profunda brachii berjalan ke posterior bersama n. radialis. Di sini lateral
regio brachii arteri ini berakhir sebagai dua cabang terminalnya, yaitu a. collateralis
radialis, yang berjalan ke anterior bersama n. radialis dan a. collateralis media, yang
menuju sisi posterior epicondylus lateralis humeri. 4,5
Arteri collateralis ulnaris proksimalis berawal dipertengahan regio brachii dan
berjalan bersama n. ulnaris menuju sisi posterior epicondylus medialis humeri. 5
Arteri collateralis ulnaris distalis awalnya sedikit di superior dari artikulasi
cubiti dan berjalan di posterior dari n. medianus, kemudian cabang-cabangnya menuju

16
sisi anterior dan posterior epicondylus medialis humeri. 4 Vena brachialis mengikuti
arterinya dan kira-kira di dua pertiga proksimal regio ini v. basilica berjalan
superficial terhadap a. brachialis. 4,5

Gambar 6. Nervus Radialis dan Otot-Otot yang Disarafinya6

3.2 Definisi
Fraktur humerus adalah hilangnya kontinuitas tulang , tulang rawan sendi,
tulang rawan epifisial baik yang bersifat total maupun parsial pada tulang humerus.2

3.3 Epidemiologi
Menurut World Health Organization (WHO), kasus fraktur terjadi di dunia
kurang lebih 13 juta orang pada tahun 2008 dengan angka prevalensi sebesar 2,7%.

17
Sementara pada tahun 2009 terdapat kurang lebih 18 juta orang mengalami fraktur
dengan angka prevalensi 4,2%. Tahun 2010 meningkat menjadi 21 juta orang dengan
angka prevalensi 3,5%. Terjadinya fraktur tersebut termasuk didalamnya insiden
kecelakaan, cedera olahraga, bencana kebakaran, bencana alam dan lain sebagainya.7,8

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) oleh Badan


Penelitian dan Pengembangan Depkes RI tahun 2007 di Indonesia terjadi kasus
fraktur yang disebabkan oleh cedera antara lain karena jatuh, kecelakaan lalu lintas
dan trauma benda tajam/tumpul. Dari 45.987 peristiwa terjatuh mengalami fraktur
sebanyak 1,775 orang (3,8%), dari 20.829 kasus kecelakaan lalu lintas, yang
mengalami fraktur adalah sebanyak 1.770 orang (8,5%), da dari 14.127 trauma benda
tajam/tumpul, yang mengalami fraktur sebanyak 236 orang (1,7%) (Riskesdas Depkes
RI, 2007). Survey Kesehatan Nasional mencatat bahwa kasus fraktur pada tahun 2008
menunjukkan prevalensi fraktur secara nasional sekitar 27,7%.14

3.4 Etiologi
Kebanyakan fraktur dapat saja terjadi karena kegagalan tulang humerus
menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar, dan tarikan.2
Trauma dapat bersifat2:
1. Langsung
Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur
pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat kominutif dan jaringan
lunak ikut mengalami kerusakan.
2. Tidak langsung
Trauma tidak langsung terjadi apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih
jauh dari daerah fraktur.
Tekanan pada tulang dapat berupa2:
1. Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat oblik atau spiral
2. Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal
3. Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi,
dislokasi, atau fraktur dislokasi
4. Kompresi vertikal yang dapat menyebabkan fraktur kominutif atau memecah
5. Trauma oleh karena remuk
6. Trauma karena tarikan pada ligament atau tendon akan menarik sebagian tulang

3.5 Klasifikasi
Berikut klasifikasi fraktur diafisis humerus menurut Ortopaedics Trauma
Association (OTA);9,10

18
Tipe A: fraktur sederhana (simple fracture)
A1: spiral
A2: oblik (>30)
A3: transversa (<30)
Tipe B: fraktur baji (wedge fracture)
B1: spiral wedge
B2: bending wedge
B3: fragmented wedge
Tipe C: fraktur kompleks (complex fracture)
C1: Spiral
C2: Segmental
C3: Ireguler (significant comminution)

Gambar 7. Tipe A = fraktur sederhana. A1 = fraktur spiral (.1 pada sepertiga proksimal, .2 pada sepertiga tengah,
12
dan .3 pada sepertiga distal), A2 = fraktur oblik, A3 = fraktur transversa.

19
Gambar 8. Tipe B = fraktur baji (wedge fracture). B1 = fraktur baji spiral (spiral wedge fracture), B2 = bending
12
wedge fracture, A3 = fragmented wedge fracture.

Gambar 9. Tipe C = complex fracture. C1 = fraktur spiral kompleks, C2 = fraktur segmental kompleks, C3 =
12
fraktur ireguler.

Berdasarkan arah pergeserannya, fraktur humerus dibagi menjadi;


1. Fraktur sepertiga proksimal humerus
Fraktur yang mengenai proksimal metafisis sampai insersi m. pectoralis mayor
diklasifikasikan sebagai fraktur leher humerus. Fraktur di atas insersi pectoralis

20
mayor menyebabkan fragmen proksimal abduksi dan eksorotasi rotator cuff
serta distal fragmen bergeser ke arah medial. Fraktur antara insersi m. pectoralis
mayor dan deltoid umumnya terlihat adduksi pada akhir distal dari proksimal
fragmen dengan pergeseran lateral dan proksimal dari distal fragmen.9,11,12
2. Fraktur sepertiga tengah dan distal humerus
Jika fraktur terjadi di distal dari insersi deltoid pada sepertiga tengah korpus
humerus, pergeseran ke medial dari fragmen distal dan abduksi dari fragmen
proksimal akan terjadi.9,11,12

Gambar 10. Lokasi fraktur dan arah pergeseran fragmen. (dari kiri ke kanan) Fraktur diatas insersi
pectoralis mayor, fraktur antara insersi pectoralis mayor dan deltoid, fraktur di bawah
insersi deltoid.12

Secara ringkas dapat penjelasan posisi fragmen fraktur dapat dilihat pada table 2
berikut:9

Tabel 2. Tabel posisi fragmen fraktur.9


Lokasi fraktur Fragmen proksimal Fragmen distal
Diatas insersi Abduksi, eksorotasi oleh Medial, proksimal oleh
pectoralis mayor rotator cuff deltoideus dan pectoralis
mayor
Antara pectoralis Medial oleh pectoralis, Lateral, proksimal oleh
mayor dan teres mayor dan deltoideus
tuberositas latissimus dorsi
deltoideus
Distal tuberositas Abduksi oleh deltoideus Medial, proksimal oleh
deltoideus biceps dan triceps brachii

21
3.6 Diagnosis
Anamnesis
1. Auto anamnesis:
Dicatat tanggal saat melakukan anamnesis dari dan oleh siapa. Ditanyakan
persoalan: mengapa datang, untuk apa dan kapan dikeluhkan; penderita bercerita
tentang keluhan sejak awal dan apa yang dirasakan sebagai ketidakberesan; bagian
apa dari anggotanya/lokalisasi perlu dipertegas sebab ada pengertian yang berbeda
misalnya sakit di tangan ., yang dimaksud tangan oleh orang awam adalah
anggota gerak atas dan karenanya tanyakan bagian mana yang dimaksud, mungkin
saja lengan bawahnya.13
Kemudian ditanyakan gejala suatu penyakit atau beberapa penyakit atau beberapa
penyakit yang serupa sebagai pembanding. Untuk dapat melakukan anamnesis
demikian perlu pengetahuan tentang penyakit.7,8
Ada beberapa hal yang menyebabkan penderita datang untuk minta
pertolongan:8,13
1) Sakit/nyeri
Sifat dari sakit/nyeri:
- Lokasi setempat/meluas/menjalar
- Ada trauma riwayat trauma tau tidak
- Sejak kapan dan apa sudah mendapat pertolongan
- Bagaimana sifatnya: pegal/seperti ditusuk-tusuk/rasa panas/ditarik-tarik,
terus-menerus atau hanya waktu bergerak/istirahat dan seterusnya
- Apa yang memperberat/mengurangi nyeri
- Nyeri sepanjang waktu atau pada malam hari
- Apakah keluhan ini untuk pertama kali atau sering hilang timbul
2) Kelainan bentuk/pembengkokan
- Angulasi/rotasi/discrepancy (pemendekan/selisih panjang)
- Benjolan atau karena ada pembengkakan
3) Kekakuan/kelemahan
Kekakuan:
Pada umumnya mengenai persendian. Apakah hanya kaku, atau disertai nyeri,
sehingga pergerakan terganggu?

Kelemahan:
Apakah yang dimaksud instability atau kekakuan otot
menurun/melemah/kelumpuhan
Dari hasil anamnesis baik secara aktif oleh penderita maupun pasif (ditanya oleh
pemeriksa; yang tentunya atas dasar pengetahuan mengenai gejala penyakit)
dipikirkan kemungkinan yang diderita oleh pasien, sehingga apa yang didapat
pada anamnesis dapat dicocokkan pada pemeriksaan fisik kemudian.12,13

22
2. Allo anamnesis:
Pada dasarnya sama dengan auto anamnesis, bedanya yang menceritakan adalah
orang lain. Hal ini penting bila kita berhadapan dengan anak kecil/bayi atau orang
tua yang sudah mulai dementia atau penderita yang tidak sadar/sakit jiwa; oleh
karena itu perlu dicatat siapa yang memberikan allo anamnesis, misalnya:8,13
- allo anamnesis mengenai bayi tentunya dari ibu lebih cocok daripada ayahnya
- atau mungkin pada saat ini karena kesibukan orangtua, maka pembantu rumah
tangga dapat memberikan keterangan yang lebih baik
- juga pada kecelakaan mungkin saksi dengan pengantar dapat memberikan
keterangan yang lebih baik, terutama bila yang diantar tidak sadarkan diri.

Pemeriksaan fisik

Dibagi menjadi dua yaitu (1) pemeriksaan umum (status generalisata) untuk
mendapatkan gambaran umum dan (2) pemeriksaan setempat (status lokalis).14

1. Gambaran umum:
Perlu menyebutkan:
a. Keadaan Umum (K.U): baik/buruk, yang dicatat adalah tanda-tanda vital
yaitu:
- Kesadaran penderita; apatis, sopor, koma, gelisah
- Kesakitan
- Tanda vital seperti tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu
b. Kemudian secara sistematik diperiksa dari kepala, leher, dada (toraks), perut
(abdomen: hepar, lien) kelenjar getah bening, serta kelamin
c. Ekstremitas atas dan bawah serta punggung (tulang belakang)

2. Pemeriksaan lokal:
Harus dipertimbangkan keadaan proksimal serta bagian distal dari anggota
terutama mengenai status neuro vaskuler. Pada pemeriksaan
orthopaedi/muskuloskeletal yang penting adalah:13,14
a. Look (inspeksi)
- Bandingkan dengan bagian yang sehat
- Perhatikan posisi anggota gerak
- Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan
fraktur tertutup atau terbuka
- Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam samapai beberapa hari
- Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan kependekan

b. Feel (palpasi)

23
Pada waktu mau meraba, terlebih dulu posisi penderita diperbaiki agar dimulai
dari posisi netral/posisi anatomi. Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan
yang memberikan informasi dua arah, baik si pemeriksa maupun si pasien,
karena itu perlu selalu diperhatikan wajah si pasien atau menanyakan perasaan
si pasien.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
- Temperatur setempat yang meningkat
- Nyeri tekan, nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh
kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang
- Krepitasi
- Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri
radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota
gerak yang terkena. Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit
pada bagian distal daerah trauma, temperatur kulit.
- Pengukuran tugkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya
perbedaan panjang tungkai

c. Move (pergerakan terutama mengenai lingkup gerak)


Setelah memeriksa feel pemeriksaan diteruskan dengan menggerakkan
anggota gerak dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan.
Pada anak periksalah bagian yang tidak sakit dulu, selaiam untuk
mendapatkan kooperasi anak pada waktu pemeriksaan, juga untuk mengetahui
gerakan normal si penderita. Pencatatan lingkup gerak ini perlu, agar kita
dapat berkomunikasi dengan sejawat lain dan evaluasi keadaan sebelum dan
sesudahnya.6.14
Apabila terdapat fraktur tentunya akan terdapat gerakan abnormal di daerah
fraktur (kecuali pada incomplete fracture).
Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat gerakan dari setiap arah
pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dengan ukuran metrik.
Pencatatan ini penting untuk mengetahui apakah ada gangguan gerak.
Kekakuan sendi disebut ankilosis dan hal ini dapat disebabkan oleh faktor
intra artikuler atau ekstra artickuler.
- Intra artikuler: Kelainan/kerusakan dari tulang rawan yang menyebabkan
kerusakan tulang subkondral; juga didapat oleh karena kelainan ligament
dan kapsul (simpai) sendi
- Ekstra artikuler: oleh karena otot atau kulit
Pergerakan yang perlu dilihat adalah gerakan aktif (penderita sendiri disuruh
menggerakkan) dan pasif (dilakukan oleh pemeriksa).
Selain pemeriksaan penting untuk mengetahui gangguan gerak, hal ini juga
penting untuk melihat kemajuan/kemunduran pengobatan.

24
Selain diperiksa pada posisi duduk dan berbaring juga perlu dilihat waktu
berdiri dan jalan. Jalan perlu dinilai untuk mengetahui apakah pincang
disebabkan karena instability, nyeri, discrepancy, fixed deformity.11,13
Anggota gerak atas:
- Sendi bahu: merupakan sendi yang bergerak seperti bumi (global joint);
ada beberapa sendi yang mempengaruhi gerak sendi bahu yaitu: gerak
tulang belakang, gerak sendi sternoklavikula, gerak sendi
akromioklavikula, gerak sendi gleno humeral, gerak sendi scapula torakal
(floating joint).
Karena gerakan tersebut sukar diisolasi satu persatu, maka sebaiknya
gerakan diperiksa bersamaan kanan dan kiri; pemeriksa berdiri di belakang
pasien, kecuali untuk eksorotasi atau bila penderita berbaring, maka
pemeriksa ada di samping pasien.
- Sendi siku:
Gerak fleksi ekstensi adalah gerakan ulna humeral (olecranon terhadap
humerus). Gerak pronasi dan supinasi adalah gerakan dari antebrachii dan
memiliki sumbu ulna; hal ini diperiksa pada posisi siku 90 untuk
menghindari gerak rotasi dari sendi bahu.
- Sendi pergelangan tangan:
Pada dasarnya merupakan gerak dari radio karpalia dan posisi netral
adalah pada posisi pronasi, dimana jari tengah merupakan sumbu dari
antebrachii. Diperiksa gerakan ekstensi-fleksi dan juga radial dan ulnar
deviasi.
- Jari tangan:
Ibu jari merupakan bagian yang penting karena mempunyai gerakan
aposisi terhadap jari-jari lainnya selain abduksi dan adduksi, ekstensi, dan
fleksi.
Jari-jari lainnya hamper sama, MCP (Meta Carpal Phalangeal Joint)
merupakan sendi pelana dan deviasi radier atau ulnar dicatat tersendiri,
sedangkan PIP (Proximal Inter Phalanx) dan DIP (Distal Inter Phalanx)
hanya diukur fleksi dan ekstensi.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan Radiologi

25
Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur.
Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan,
lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan
lunak selanjutnya, maka sebaiknya kita mempergunakan bidai yang bersifat
radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis.8,12
Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua:13,14
1. Dua posisi proyeksi; dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada antero-posterior
dan lateral
2. Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di proximal dan distal
sendi yang mengalami fraktur
3. Dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada kedua anggota
gerak terutama pada fraktur epifisis
4. Dua trauma, pada trauma yang hebat sering menyebabkan fraktur pada dua daerah
tulang. Misalnya pada fraktur kalkaneus atau femur, maka perlu dilakukan foto
pada panggul dan tulang belakang
5. Dua kali dilakukan foto. Pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang skafoid foto
pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan foto berikutnya 10-14
hari kemudian.
Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur, tetapi perlu
dinyatakan apakah fraktur terbuka/tertutup, tulang mana yang terkena dan
lokalisasinya, apakah sendi juga mengalami fraktur serta bentuk fraktur itu sendiri.

Pemeriksaan Laboratorium12
Pemeriksaan laboratorium meliputi:
1. Pemeriksaan darah rutin untuk mengenai keadaan umum, infeksi akut/menahun
2. atas indikasi tertentu: diperlukan pemeriksaan kimia darah, reaksi imunologi,
fungsi hati/ginjal
3. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan sensitivity test

3.7 Tatalaksana

1. Konservatif
Pada umumnya, pengobatan patah tulang shaft humerus dapat ditangani
secara tertutup karena toleransinya yang baik terhadap angulasi, pemendekan
serta rotasi fragmen patah tulang. Angulasi fragmen sampai 300 masih dapat

26
ditoleransi, ditinjau dari segi fungsi dan kosmetik. Hanya pada patah tulang
terbuka dan non-union perlu reposisi terbuka diikuti dengan fiksasi interna.6,7,15
Dibutuhkan reduksi yang sempurna disamping imobilisasi; beban pada
lengan dengan cast biasanya cukup untuk menarik fragmen ke garis tengah.
Hanging cast dipakai dari bahu hingga pergelangan tangan dengan siku fleksi
90 dan bagian lengan bawah digantung dengan sling disekitar leher pasien.
Cast (pembalut) dapat diganti setelah 2-3 minggu dengan pembalut pendek
(short cast) dari bahu hingga siku atau functional polypropylene brace selama
6 minggu.6,7,9

Gambar 11. Penatalaksanaan pada fraktur shaft humerus dengan konservatif. 7

Pergelangan tangan dan jari-jari harus dilatih gerak sejak awal. Latihan
pendulum pada bahu dimulai dalam 1 minggu perawatan, tapi abduksi aktif
ditunda hingga fraktur mengalami union. Fraktur spiral mengalami union sekitar
6 minggu, variasi lainnya sekitar 4-6 minggu. Sekali mengalami union, hanya
sling (gendongan) yang dibutuhkan hingga fraktur mengalami konsolidasi.7,9
Pengobatan non bedah kadang tidak memuaskan pasien karena pasien
harus dirawat lama. Itulah sebabnya pada patah tulang batang humerus
dilakukan operasi dan pemasangan fiksasi interna yang kokoh. 9,15
Berikut beberapa metode dan alat yang digunakan pada terapi konservatif:

27
Hanging cast
Indikasi penggunaan meliputi pergeseran shaft tengah fraktur humerus
dengan pemendekan, terutama fraktur spiral dan oblik. Penggunaan pada
fraktur transversa dan oblik pendek menunjukkan kontraindikasi relatif
karena berpotensial terjadinya gangguan dan komplikasi pada saat
penyembuhan. Pasien harus mengangkat tangan atau setengah diangkat
sepanjang waktu dengan posisi cast tetap untuk efektivitas. Seringkali
diganti dengan fuctional brace 1-2 minggu pasca trauma. Lebih dari 96%
telah dilaporkan mengalami union.9
Coaptation splint
Diberikan untuk efek reduksi pada fraktur tapi coaptation splint
memiliki stabilitas yang lebih besar dan mengalami gangguan lebih kecil
daripada hanging arm cast. Lengan bawah digantung dengan collar dan
cuff. Coaptation splint diindikasikan pada terapi akut fraktur shaft
humerus dengan pemendekan minimal dan untuk jenis fraktur oblik
pendek dan transversa yang dapat bergeser dengan penggunaan hanging
arm cast. Kerugian coaptation splint meliputi iritasi aksilla, bulkiness dan
berpotensial slippage. Splint seringkali diganti dengan fuctional brace
pada 1-2 minggu pasca trauma. 9
Thoracobranchial immobilization (velpeu dressing)
Biasanya digunakan pada pasien lebih tua dan anak-anak yang tidak
dapat ditoleransi dengan metode terapi lain dan lebih nyaman jadi pilihan.
Teknik ini diindikasikan untuk pergeseran fraktur yang minimal atau
fraktur yang tidak bergeser yang tidak membutuhkan reduksi. Latihan
pasif pendulum bahu dapat dilakukan dalam 1-2 minggu pasca trauma. 9
Shoulder spica cast
Teknik ini diindikasikan pada jenis fraktur yang mengharuskan abduksi
dan eksorotasi ektremitas atas. Kerugian teknik ini meliputi kesulitan
aplikasi cast, berat cast dan bulkiness, iritasi kulit, ketidaknyamanan dan
kesusahan memposisikan ektremitas atas. 9
Functional bracing
Memberikan efek kompresi hidrostatik jaringan lunak dan
mempertahankan aligment fraktur ketika melakukan pergerakan pada

28
sendi yang berdekatan. Brace biasanya dipasang selama 1-2 minggu pasca
trauma setelah pasien diberikan hanging arm cast atau coaptation splint
dan bengkak berkurang. Kontraindikasi metode ini meliputi cedera massif
jaringan lunak, pasien yang tidak dapat dipercaya dan ketidakmampuan
untuk mempertahankan asseptabilitas reduksi. Collar dan cuff dapat
digunakan untuk menopang lengan bawah; aplikasi sling dapat
menghasilkan angulasi varus (kearah midline). 9

2. Tindakan operatif
Pasien kadang-kadang mengeluh hanging cast tidak nyaman,
membosankan dan frustasi. Mereka bisa merasakan fragmen bergerak dan hal
ini kadang-kadang cukup dianggap menyusahkan. Hal penting yang perlu
diingat bahwa tingkat komplikasi setelah internal fiksasi pada humerus tinggi
dan sebagian besar fraktur humerus mengalami union tanpa tindakan
operatif.7,9,15
Meskipun demikian, ada beberapa indikasi untuk dilakukan tindakan
pembedahan, diantaranya:9,15
Cedera multiple berat
Fraktur terbuka
Fraktur segmental
Fraktur ekstensi intra-artikuler yang bergeser
Fraktur patologis
Siku melayang (floating elbow) pada fraktur lengan bawah
(antebrachii) dan humerus tidak stabil bersamaan
Palsi saraf radialis (radial nerve palsy) setelah manipulasi
Non-union
Fiksasi dapat berhasil dengan;
1. Kompresi plate and screws
2. Interlocking intramedullary nail atau pin semifleksibel
3. External Fixation
Plating menjadikan reduksi dan fiksasi lebih baik dan memiliki
keuntungan tambahan bahwa tidak dapat mengganggu fungsi bahu dan siku.
Biar bagaimanapun, ini membutuhkan diseksi luas dan perlindungan pada saraf
radialis. Plating umumnya diindikasikan pada fraktur humerus dengan kanal
medulla yang kecil, fraktur proksimal dan distal shaft humerus, fraktur humerus

29
dengan ekstensi intraartikuler, fraktur yang memerlukan eksplorasi untuk
evaluasi dan perawatan yang berhubungan dengan lesi neurovaskuler, serta
humerus non-union.7,9
Interlocking intramedullary nail diindikasi pada fraktur segmental
dimana penempatan plate akan memerlukan diseksi jaringan lunak, fraktur
humerus pada tulang osteopenic, serta pada fraktur humrus patologis.
Antegrade nailing terbentuk dari paku pengunci yang kaku (rigid interlocking
nail) yang dimasukkan kedalam rotator cuff dibawah kontrol (petunjuk)
fluoroskopi. Pada cara ini, dibutuhkan diseksi minimal namun memiliki
kerugian, yaitu menyebabkan masalah pada rotator cuff pada beberapa kasus
yang berarti. Jika hal ini terjadi, atau apabila nail keluar dan fraktur belum
mengalami union, penggantian nailing dan bone grafting mungkin diperlukan;
atau dapat diganti dengan external fixator. 7,9
Retrograde nailing dengan multiple flexible rods dapat menghindari
masalah tersebut, tapi penggunaannya lebih sulit, secara luas kurang aplikatif
dan kurang aman dalam mengontrol rotasi dari sisi yang fraktur. 7,9
External fixation mungkin merupakan pilihan terbaik pada fraktur
terbuka dan fraktur segmental energy tinggi. External fixation ini juga prosedur
6
penyelamatan yang paling berguna setelah intermedullary nailing gagal.
Indikasi umumnya pada fraktur humerus dengan non-union infeksi, defek atau
kehilangan tulang, dengan luka bakar, serta pada luka terbuka dengan cedera
jaringan lunak yang luas. 7,15

3.8 Komplikasi
Komplikasi Awal
Cedera vaskuler
Jika ada tanda-tanda insufisiensi vaskuler pada ekstremitas, kerusakan
arteri brakhialis harus disingkirkan. Angiografi akan memperlihatkan
tingkat cedera. Hal ini merupakan kegawatdaruratan, yang memerlukan
eksplorasi dan perbaikan langsung ataupun cangkok (grafting) vaskuler.
Pada keadan ini internal fixation dianjurkan.7,14
Cedera saraf
Radial nerve palsy (wrist drop dan paralisis otot-otot ekstensor
metacarpophalangeal) dapat terjadi pada fraktur shaft humerus, terutama

30
fraktur oblik pada sepertiga tengah dan distal tulang humerus. Pada cedera
yang tertutup, saraf ini sangat jarang terpotong, jadi tidak diperlukan
operasi segera.7,9
Pergelangan tangan dan telapak tangan harus secara teratur digerakkan
dari pergerakan pasif putaran penuh hingga mempertahankan (preserve)
pergerakan sendi sampai saraf pulih. Jika tidak ada tanda-tanda perbaikkan
dalam 12 minggu, saraf harus dieksplorasi. Pada lesi komplit, jahitan saraf
kadang tidak memuaskan, tetapi fungsi dapat kembali dengan baik dengan
pemindahan tendon.7-9
Jika fungsi saraf masih ada sebelum manipulasi lalu kemudian cacat
setelah dilakukan manipulasi, hal ini dapat diasumsikan bahwa saraf sudah
mengalami robekan dan dibutuhkan operasi eksplorasi.9,14
Infeksi
Infeksi luka pasca trauma sering menyebabkan osteitis kronik. Osteitis
tidak mencegah fraktur mengalami union, namun union akan berjalan
lambat dan kejadian fraktur berulang meningkat.
Jika ada tanda-tanda infeksi akut dan pembentukan pus, jaringan lunak
disekitar fraktur harus dibuka dan didrainase. Pilihan antibiotik harus
disesuaikan dengan hasil sensitivitas bakteri.
External fixation sangat berguna pada kasus ini, namun jika
intramedullary nail sudah terlanjur digunakan dan terfiksasi stabil, nail
tidak perlu dilepas.9
Sindrom Kompartemen
Sindrom kompartemen, komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan
jaringan dalam ruang tertutup di otot, yang sering berhubungan dengan
akumulasi cairan sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat
dan berikutnya menyebabakan kerusakan pada otot. Gejala - gejalanya
mencakup rasa sakit karena terdapat ketidakseimbangan pada luka, rasa
sakit yang berhubungan dengan tekanan yang berlebihan pada
kompartemen, rasa sakit dengan perenggangan pasif pada otot yang
terlibat.14

Komplikasi Lanjut
Delayed Union and Non-Union

31
Fraktur transversa kadang membutuhkan waktu beberapa bulan untuk
menyambung kembali, terutama jika traksi digunakan berlebihan
(penggunaan hanging cast jangan terlalu berat). Penggunaan teknik yang
sederhana mungkin dapat menyelesaikan masalah, sejauh ada tanda-tanda
pembentukkan kalus (callus) cukup baik dengan penanganan tanpa operasi,
tetapi ingat untuk tetap membiarkan bahu tetap bergerak. Tingkat non-
union dengan pengobatan konservatif pada fraktur energi rendah kurang
dari 3%. Fraktur energi tinggi segmental dan fraktur terbuka lebih
cenderung mengalami baik delayed union dan non-union.7-9
Intermedullary nailing menyebabkan delayed union, tetapi jika fiksasi
rigid dapat dipertahankan tingkat non-union dapat tetap dibawah 10%.9
Joint stiffness
Joint stiffness sering terjadi. Hal ini dapat dikurangi dengan aktivitas
lebih awal, namun fraktur transversa (dimana abduksi bahu nyeri
disarankan) dapat membatasi pergerakan bahu untuk beberapa minggu.7
Tambahan, pada anak-anak, fraktur humerus jarang terjadi. Pada
anak-anak di bawah 3 tahun kemungkinan kekerasan pada anak perlu
difikirkan. Fraktur dirawat dengan bandage sederhana pada lengan hingga
ke badan untuk 2-3 minggu. Pada anak yang lebih tua memerlukan plaster
splint pendek.9

32
BAB IV
KESIMPULAN

Fraktur humerus adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi,


tulang rawan epifisial baik yang bersifat total maupun parsial pada tulang humerus.
Etiologi fraktur humerus umumnya merupakan akibat trauma. Selain dapat
menimbulkan patah tulang (fraktur), trauma juga dapat mengenai jaringan lunak
sekitar tulang tersebut. Mekanisme trauma sangat penting dalam mengetahui luas dan
tingkat kerusakan jaringan tulang serta jaringan lunak sekitarnya.
Diagnosis fraktur humerus dapat dibuat berdasarkan anamnesis yang baik,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologis.
Penatalaksanaan penderita fraktur humerus harus dilakukan secara cepat dan
tepat untuk mencegah komplikasi segera, dini, dan lambat.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Koval K, Zuckerman J. Handbook Of Fractures. 2 nd ed. Philadelphia:


Lippincott Williams & Wilkins. 2002. p 80-90
2. Elis Harorld. Part 3: Upper Limb, The Bones and Joint of the Upper Limbs.
In: Clinical Anatomy Eleventh Edition. Blackwell Publishing; Oxford
University. 2006. p 169-170
3. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. 6th ed. Jakarta : Penerbit
buku kedokteran EGC, 2011

4. Gerard M Doherty. Current Surgical Diagnosis and Treatment. 12th ed.


McGraw- Hill Companies. New York. 2008

5. Drake RL, Vogl AW, Mitchell AW. Grays Anatomy For Students.. 2nd ed.
Philadelphia: Churchill Livingstone. 2010
6. Holmes E.J and Misra R.R. Humerus Fracture Shaft fracture. In: A-Z of
Emergency Radiology. UK; Cambridge University Press. 2004. p 110-111
7. Williams NS, Bulstrode C, Oconnell P. Bailey & Love Short Practice Of
Surgery. 25th ed. United Kingdom: Hodder Education. 2008. p 367
8. Ekholm R, Adami J, Tidermark K, et al. Fractures Of The Shaft Of The
Humerus. The Bone & Joint Journal. 2006
9. Egol, K.A., Koval, K.J., Zuckerman, J. D. Handbook Of Fractures.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2010. p 193-229
10. Agudelo J, Schurmann M, Stahel P, et al. Analysis of Efficacy and Failure in
Proximal Humerus Fractures Treated With Locking Plates. Journal of
Orthopaedic Trauma: Lippincott Williams & Wilkins, Inc. 2007. 21(10): 676-
681
11. Fuller, David. Open Reduction, Internal Fixation Distal Intraarticular Distal
Humerus Fracture. Journal of Orthopaedic Trauma: Wolters Kluwer Health,
Inc. 2016. 30: 13-14
12. Cuschieri A, Grace P, Darzi A, et al. Musculoskeletal Trauma: Clinical
Surgery. 2nd ed. Oxford: Blackwell Publishing Company. 2003. p 244-247
13. Gardner, Michael. Proximal Humerus Fracture Plating Through the Extended
Anterolateral Approach. Journal of Orthopaedic Trauma: Wolters Kluwer
Health, Inc. 2016. p 11-12
14. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi. Jakarta: Yarsif
Watampone. 2015.

34
15. Heather, Vallier. Treatment Of Proximal Humerus Fractures. Journal Of
Orthopaedic Trauma: Lippincott Williams & Wilkins, Inc. 2007. 21(7): 469-
476

35