Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH AGAMA

KESENGSARAAN TUHAN YESUS KRISTUS

OLEH

NAMA : DERSI BOBA REPI


NIM : 1606050122
JURUSAN : BIOLOGI
HARI/TANGGAL : MINGGU, 19 APRIL 2017

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2017
BAB I

PENDAHULUAN
Yesus kristus merupakan Firman yang telah menjadi manusia (Yoh 1:1) dan pernah tinggal
diantara kita. Kedatangan-Nya sangat diharapkan oleh banyak orang Israel (Luk. 2:28) tetapi
keberadaan-Nya ditolak oleh orang yang menantikan dia (Yoh 1:11). Sebagai seorang manusia
sejati Ia juga mengalami sifat dan permasalahan manusia.Ia mempunyai nama manusia Yesus,
Ia pernah lelah, lapar, haus,tidak pernah tidur,dicobai,dan mengharapkan kekuatan dari Bapak-
Nya yang di sorga (Mark 1:35). Hidupnya sangat singkat setelah umur 30 tahun barulah Ia
keluar melayani (Luk 3:23),dalam pelayanan-Nya Ia hanya punya 12 murid, Ia tidak pernah
mendirikan gereja, tetapi setelah kematian dan kebangkitan-Nya berjuta orang rela menderita
dan mati demi nama-Nya.

Pada waktu lahir Ia berada dalam palungan pinjaman. Selama karya-Nya tidak mempunyai
tempat tinggal yang tetap (Luk 9:58), pada waktu hidup dikagumi (Luk 19:37-38) tetapi pada
waktu mati dipinjamkan kuburan (Luk 23:53, Mat 27:60). Ia sangat tahu bahwa Ia datang untuk
menderita, ditolak oleh pemimpin-pemimpin agama, imam-imam kepala dan akhirnya dibunuh.
Hidupnya penuh keunikan dan penderitaan, Alexander White mengatakan:Pada setiap
Halaman dari empat Injil, Anda akan membaca bagaimana berbuat baik dengan penuh
kesabaran dan panjang sabar dan cinta kasih. Oleh karena itulah saya tertarik untuk menulis
satu bagian dari karya Kristus yaitu keunikan penderitaan-Nya.
BAB II

PEMBAHASAN

PENDERITAAN KRISTUS

Kristus mengalami penderitaan baik tubuh maupun jiwa. Hal ini dikarenakan bahwa
tubuh dan jiwa manusia seluruhnya telah dipengaruhi oleh dosa,. Oleh karena itu Yesus Kristus
harus mengalami penderitaan pada tubuh dan jiwa-Nya agar Ia bisa menebus dosa manusia.
Karena jika Ia tidak punya pengalaman-pengalaman manusia maka Ia tidak pernah merasakan
apa yang manusia alami, maka penderitaan dan penebusannya tidak mempunyai nilai.

Pada waktu Yesus Kristus dicambuk dan disalibkan itu merupakan penderitaan jasmani.
Pada waktu Ia dihina, diludahi, nyaris ditelanjangi, dan terutama ditinggalkan oleh Bapa-Nya, itu
merupakan penderitaan jiwa atau rohani. Jadi dalam hal ini penderitaan Yesus Kristus bukanlah
sekedar rasa sakit fisik yang tercakup dalam esensi penderitaan-Nya tetapi juga rasa sakit yang
disertai penderitaan rohani dan kesadaran sebagai seorang pengantara atas dosa umat
manusia yang ditanggung-Nya.

Walaupun ia mengalami penderitaan tubuh dan jiwa namun penderitaan tersebut


adalah penderitaan yang unik, yang sangat berbeda dengan penderitaan yang dialami manusia,
keunikan itu antara lain:

1. Kristus Mengalami Penderitaan Sepanjang Hidup-Nya.


Kita cenderung berpikir bahwa penderitaan Kristus di kayu salib merupakan penggenapan
dari seluruh penderitaan-Nya, tetapi sesungguhnya keseluruhan hidup-Nya adalah
penderitaan. Ada dua alasan yang menunjukkan bahwa Kristus mengalami penderitaan
selama hidup-Nya.

A. Akibat Inkarnasi Kristus

Kristus adalah Allah yang harus dihormati, ditinggikan, dimuliakan, tetapi Ia rela menjadi
manusia berdosa. Berkhof mengatakan: Ia harus mengambil rupa seorang hamba, padahal
Ia adalah Allah semesta langit. Ia yang tidak berdosa setiap hari harus berhubungan dengan
manusia berdosa. Hidup-Nya yang kudus harus menderita di dalam dunia yang terkutuk
karena dosa.

.
Beberapa perincian penderitaan Yesus Kristus sebagai berikut:

(1) Kenyataan bahwa Ia adalah Tuhan atas alam semesta harus menempati kedudukan
manusia, bahkan kedudukan sebagai budak atau hamba yang terikat, dan bahwa Ia
yang memiliki segala hak untuk memerintah sekarang harus diperintah dan harus
taat.

(2) Kenyataan bahwa Ia yang murni dan kudus harus hidup dalam lingkungan dan
suasana yang sudah dicemari dosa, tiap hari harus bergaul dengan orang berdosa,
dan senantiasa harus diingatkan tentang betapa besarnya dosa yang harus dipikul-
Nya oleh karena dosa umat-Nya.

(3) Kemahatahuan dan Kesadaran-Nya yang sempurna dan antisipasinya yang jelas
sejak awal kehidupan-Nya tentang penderitaan yang akan dialami-Nya nanti, jelas
tidak menimbulkan kegembiraan.

Mat 8:16-17 menjelang malam dibawa kepada Yesus banyak orang yang kerasukan
setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan semua
oranng. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya:
Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.
Jadi karena Kristus rela menjadi manusia menyebabkan Ia harus mengalami
penderitaan sepanjang hidup-Nya.

B. Akibat Ketaatan-Nya Kepada Allah

Kristus menderita bukan karena Ia tidak taat pada Allah, tetapi Ia menderita karena
ketaatan-Nya. Dan ketaatan ini haruslah ketaatan yang sempurna, karena sekali ia jatuh
dalam dosa / tidak taat pada Allah maka Ia tidak layak menjadi juruselamat. Iblis
berusaha untuk menjatuhkan Dia tetapi tidak berhasil, bahkan dalam (Lukas 4:13)
dikatakan Iblis menunggu kesempatan yang tepat untuk menjatuhkan Dia.

Dalam hal ini menunjukkan dua hal:

(1) Ada suatu continuitas dalam pencobaan terhadap diri Tuhan Yesus.

(2) Kata kesempatan (Yunani: kairos) menunjukkan bahwa Iblis mencari kesempatan di
mana Tuhan Yesus betul-betul lemah secara fisik sehingga bisa tidak kuat
menghadapi pencobaan.

Tujuan Iblis mencobai agar seseorang itu tidak taat pada Allah dan meninggalkan
Allah. Secara logika kalau seseorang yang dekat dengan Tuhan Yesus bisa bertahan
dalam menghadapi pencobaan, maka Iblis pasti akan berusaha dengan pencobaan
yang lebih berat atau lebih kuat untuk menjatuhkan dia.Kristus menghadapi pencobaan
yang semakin lama semakin berat. Pencobaan yang sangat berat itu terlihat dari doa
Kristus yang menolak cawan tersebut sebanyak 3 kali, walaupun akhirnya tetap taat
pada Allah. Dan kondisi paling lemah secara fisik pun dialami, karena mulai dari hari
Kamis Ia tidak tidur, kemudian dianiaya dan dicambuk sebanyak 39 kali sebelum
digantung di kayu salib pada hari Jumat, sehingga pada waktu di salib, secara fisik Ia
tidak mampu lagi bertahan, tetapi Ia tetap taat kepada Allah.

Jadi karena hidup-Nya yang suci, yang terus taat kepada Allah, maka Ia
menghadapi pencobaan yang semakin lama semakin berat. Dan perasaan kesucian
seperti ini tidak pernah dialami oleh siapapun di dunia.

2. Kristus Mengalami Penderitaan Bukan Karena Kesalahan-Nya

Kalau seseorang itu menderita karena kesalahannya, itu adalah hal yang wajar karena
ia harus menanggung konsekuensi akibat kesalahan yang dibuat. Tetapi hal itu tidak
berlaku bagi diri Yesus. Karena Perjanjian Baru yang mengkisahkan tentang hidup Yesus,
secara jelas menunjukkan bahwa Ia tanpa dosa dan tidak pernah berbuat dosa selama
hidup-Nya. Bahkan kepada orang-orang Yahudi yang menekan Dia, Ia menentang mereka,
Siapakah diantaramu yang membuktikan Aku berbuat dosa? (Yoh. 8:46) Bahkan Pilatus
seorang penguasa Romawi mengatakan: Saya tidak menemukan kesalahan apapun pada-
Nya.

Walaupun Ia tidak bersalah tetapi tetap menderita. Kenapa? Selain karena Ia taat
kepada Allah seperti pada point 1b, penderitaan tersebut juga dialami karena Ia
menanggung dosa-dosa kita. Yes. 53:6 menulis: Kita sekalian sesat seperti domba,
masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepada-
Nya kejahatan kita sekalian. Thiessen mengatakan: Penderitaan yang dialami oleh Kristus
bukan merupakan penderitaan seorang sahabat yang menaruh rasa simpati, melainkan
penderitaan yang bersifat menggantikan dari Anak Domba Allah karena dosa seisi dunia13.
Kita adalah orang-orang berdosa sehingga tidak mungkin bisa menebus diri kita sendiri.
Maka Kristuslah yang layak menanggung dosa manusia.

Dalam kehidupan di dunia mungkin ada sahabat yang mau mati bagi sahabatnya tetapi
jarang ada orang yang menderita bahkan sampai mati untuk musuhnya yang dibencinya,
dan kalaupun ada orang yang mau menderita dan mati bagi musuhnya tetap tidak ada
nilainya. Tetapi dengan kematian Kristus, maka umat manusia yang adalah seteru Allah
ditebus dosanya jika mereka mau berbalik kepada Allah. Maka Kristus menderita sampai
mati bukan karena Ia bersalah tetapi karena menanggung kesalahan manusia.

Dalam kehidupan di dunia mungkin ada sahabat yang mau mati bagi sahabatnya tetapi
jarang ada orang yang menderita bahkan sampai mati untuk musuhnya yang dibencinya,
dan kalaupun ada orang yang mau menderita dan mati bagi musuhnya tetap tidak ada
nilainya.
3. Kristus Menderita Karena Ketidakpercayaan Umat-Nya

Yesus datang ke dalam dunia untuk menebus dosa umat manusia, dan secara khusus Ia
datang kepada umat pilihan-Nya yaitu bangsa Israel. Dalam Injil ( Mat. 15:24) di mana
pada waktu seorang perempuan bukan Yahudi meminta pertolongan-Nya, Ia mengatakan:
Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Tetapi ternyata
umat-Nya tidak menerima Dia (Yoh 1:11) bahkan dalam Yoh 10:20-21 mereka mengatakan
bahwa Ia kerasukan setan. Orang-orang di Nazareth yang merupakan tempat asal-Nya pun
menolak Dia, mereka kecewa terhadap Dia karena menganggap Ia bukan Allah (Mrk. 6:1-4.
Akhirnya umat Pilihan (baca: Orang-orang Yahudi) inilah yang memakai segala kelicikan
dan dusta untuk menyatakan kesalahan Yesus dihadapan penguasa-penguasa yang tidak
adil dan meminta Barabas untuk dibebaskan dan Kristus disalibkan.

Maka sulit dibayangkan betapa hancurnya hati Yesus Kristus karena cinta-Nya kepada
mereka, Ia rela datang ke dalam dunia dengan maksud mengorbankan diri-Nya untuk
menyelamatkan mereka, tetapi ternyata mereka membalasnya dengan begitu keji dan
kejam.

4. Penderitaan Akibat Terputusnya Persekutuan Dengan Allah Bapa

Penderitaan-Nya semakin lama semakin hebat dan mencapai puncaknya di kayu salib.
Salib merupakan pertemuan antara kasih dan keadilan Allah yang dinyatakan kepada
Kristus, di satu pihak Allah begitu mengasihi manusia (Yoh. 3:16) tetapi di pihak lain
manusia harus dihukum, maka sebagai substitusi Kristus harus menerima murka Allah atau
murka Allah ditimpakan kepada-Nya. Stephen Tong menyatakan pada waktu Kristus
berteriak Eli, Eli Lama Sabakhtani, hal itu menunjukkan perbedaan status di mana Ia
berteriak sebagai orang berdosa, Ia berdiri menggantikan kita15. Sehingga pada saat itu
merupakan saat yang menyakitkan dalam hidup-Nya karena Ia terpisah hubungan
persekutuan dengan Bapak. Penderitaan ini adalah penderitaan yang tidak bisa dialami
oleh siapapun juga.Yesus telah memikul murka Allah yang diakibatkan oleh pemberontakan
manusia, Ia telah membuat segala-galanya menjadi penanggungan-Nya sendiri.
BAB III

KESIMPULAN

Penderita Kristus adalah penderitaan yang begitu unik, berbeda dengan siapapun, karena
Ia mengalami penderitaan akibat dosa manusia (Allah yang menjadi manusia dan tinggal
ditengah-tengah orang berdosa), Ia menghadapi banyak pencobaan dan penderitaan yang
begitu hebat dari siapapun juga, keberadaan-Nya ditolak oleh bangsa-Nya sampai keluarga-
Nya, dan Ia satu-satu-Nya orang yang bisa menanggung murka Allah akibat dosa dari seluruh
umat.
Karena kesucian-Nya Yesus Kristus mengalami penderitaan akibat dosa umat-Nya, Ia yang
tidak bersalah dinyatakan bersalah. Maka seharusnya kita sebagai sebagai umat yang sudah
ditebus, dalam sikap hidup kita, kita harus memberikan yang terbaik kepada Allah, karena untuk
tujuan hidup kita Ia juga telah memberikan yang terbaik yaitu melalui pengorbanan Anak-Nya
yang tunggal.
DAFTAR PUSTAKA
http://nikennababan.co.id/2014/03/ kesengsaraan-kristus-bagi-manusia.

diakses pada( Rabu,19 April 2017 pukul 21.40 WITA)

http://reformed.sabda.penderitaan Sang Juruselamat.

diakses pada( Rabu,19 April 2017 pukul 21:00 WITA)