Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

METODOLOGI STUDI ISLAM

ILMU TASAWUF

DI SUSUN OLEH :

MAHMUDA (4715164067)
NIDA SYAUQIA ALBI (4715164148)
YASIN AHMAD (4715162606)
DAFTAR ISI

Daftar
Isi.....................................................................................
...........i
Pendahuluan..................................................................1
1.1 Latar Belakang......................................................1
1.2 Rumusan Masalah.................................................1
1.3 Tujuan...................................................................1
Pembahasan..................................................................2
2.1 Pengertian Metodologi........................................2
2.2 Pengertian Ilmu Tasawuf.....................................2
2.3 Metode Ilmu Tasawuf..........................................3
2.4 Model Penelitian Tasawuf....................................4
2.5 Tujuan.................................................................5
2.6 Manfaat..............................................................5
Kesimpulan....................................................................6
Daftar
Pustaka............................................................................
...........7
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tasawuf merupakan aliran dalam islam yang lebih mengutamakan soal-soal keperibadatan
dalam rangka mendekatkan diri pada Tuhan. Menurut ajaran tasawuf manusia hidup di dunia
ini hanyalah untuk melaksanakan peribadatan pada Allah dan berusaha mendekatkan diri
padanya. Kecenderungan untuk dekat dengan Tuhan pada hakikatnya sesuai dengan fitrah
manusia sebagai makhluk yang membutuhkan ketenangan dan kebahagiaa, baik jasmani
maupun rohani.
Tasawuf bertujuan untuk memperoleh suatu hubungan khusus langsung dengan Tuhan.
Hubungan yang dimaksud mempunyai makna dengan penuh kesadaran, bahwa manusia
sedang berada dihadirat Tuhan. Kesadaran tersebut akan menuju kontak komunikasi dan
dialog antara ruh manusia dengan Tuhan. Hal ini melalui cara bahwa manusia perlu
mengasingkan diri. Keberadaannya yang dekat dengan Tuhan akan berbentuk Ijtihad
(bersatu) dengan Tuhan.
Untuk mengakaji lebih dalam lagi tentang metodelogi, tujuan dan manfaat dalam ilmu
tasawuf. Maka disusunlah makalah yang berjudul metode, tujuan dan manfaat dalam studi
tasawuf.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Pengertian metodologi ?


1.2.2 Pengertian tasawuf ?
1.2.3 Bagaimana metode dalam studi tasawuf ?
1.2.4 Apa saja kah model studi tasawuf ?
1.2.5 Apakah tujuan dan manfaat dalam mempelajari tasawuf ?

1.3 Tujuan

1.3.1 Untuk memahami metode dalam studi tasawuf.


1.3.2 Untuk mengetahui dan memahami tujuan dan manfaat dalam mempelajari tasawuf.
BAB II
2.1 PEMBAHASAN

2.1.1 Pengertian Metodologi

Metodologi adalah ilmu-ilmu/cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran


menggunakan penelusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran,
tergantung dari realitas yang sedang dikaji. Metodologi tersusun dari cara-cara yang
terstruktur untuk memperoleh ilmu.
Metodelogi penelitian dapat dilakukan dengan dua cara, yakni metode kuantitatif dan metode
kualitatif.
Metodologi berasal dari bahasa Yunani metodos dan "logos," kata metodos terdiri dari dua
suku kata yaitu metha yang berarti melalui atau melewati dan hodos yang berarti jalan
atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. logos artinya ilmu.
Ilmu terdiri atas empat prinsip:
keteraturan (orde), sebab-musabab (determinisme), kesederhanaan (parsimoni), pengalaman
yang dapat diamati (empirisme)

2.1.2 Pengertian Ilmu Tasawuf

Istilah "tasawuf" yang telah sangat populer digunakan selama berabad-abad, dan sering
dengan bermacam-macam arti, berasal dari tiga huruf Arab, sha, wau dan fa. Banyak
pendapat tentang alasan atas asalnya dari sha wa fa. Ada yang berpendapat, kata itu berasal
dari shafa yang berarti kesucian atau bersih.
Tasawuf sebagai ilmu yang mempelajari cara dan jalan bagaimana orang Islam dapat sedekat
mungkin dengan Allah agar memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, dan
mempunyai hubungan dengan filsafat, ilmu kalam, dan ilmu jiwa agama.
Adapun ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa daripada rasio. Ilmu tasawuf
bersifat sangat subjektif, yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Sebagian
pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi, atau ilham, atau inspirasi yang
datang dari Tuhan.
Tasawuf adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang atau bagaimana cara kita
mendekatkan diri kepada tuhan, tanpa adanya paksaan yang dating dari luar maupun dari
dalam diri sendiri.

Jadi kesimpulannya, metodologi ilmu tasawuf adalah ilmu yang mempelajari bagaimana cara
kita untuk lebih dekat dengan Tuhan atau membuat rohani lebih bersih.
2.1.3 METODE ILMU TASAWUF

Adapun metode-metode Tasawuf jika dilihat dari pembagian Tasawuf yang ditinjau dari
lingkup materi pembahasannya menjadi tiga macam, yaitu:
1. Tasawuf aqidah
Yaitu ruang lingkup pembicaraan Tasawuf yang menekankan masalah-masalah metafisis (hal-
hal yang ghaib), yang unsur-unsurnya adalah keimanan terhadap Tuhan, adanya Malaikat,
Syurga, Neraka dan sebagainya. Karena setiap Sufi menekankan kehidupan yang bahagia di
akhirat, maka mereka memperbanyak ibadahnya untuk mencapai kebahagiaan Syurga, dan
tidak akan mendapatkan siksaan neraka. Untuk mencapai kebahagiaan tersebut, maka
Tasawuf Aqidah berusaha melukiskan Ketunggalan Hakikat Allah, yang merupakan satu-
satunya yang ada dalam pengertian yang mutlak. Kemudian melukiskan alamat Allah SWT,
dengan menunjukkan sifat-sifat ketuhanan-Nya. Dan salah satu indikasi Tasawuf Aqidah,
ialah pembicaraannya terhadap sifat-sifat Allah, yang disebut dengan Al-Asman al-Husna,
yang oleh Ulama Tarekat dibuatkan zikir tertentu, untuk mencapai alamat itu, karena
beranggapan bahwa seorang hamba (Al-Abid) bisa mencapai hakikat Tuhan lewat alamat-
Nya (sifat-sifat-Nya).
2. Tasawuf ibadah
Yaitu Tasawuf yang menekankan pembicaraannya dalam masalah rahasia ibadah (Asraru
al-Ibadah), sehingga di dalamnya terdapat pembahasaan mengenai rahasia Taharah (Asraru
Taharah), rahasia Salat (Asraru al-Salah), rahasia Zakat (Asraru al-Zakah), rahasia Puasa
(Asrarus al-Shaum), rahasia Hajji (Asraru al-Hajj) dan sebagainya. Di samping itu juga,
hamba yang melakukan ibadah, dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:
1. Tingkatan orang-orang biasa (Al-Awam), sebagai tingkatan pertama.
2. Tingkatan orang-orang istimewa (Al-Khawas), sebagai tingkatan kedua.
3. Tingkatan orang-orang yang teristimewa atau yang luar biasa (Khawas al-Khawas),
sebagai tingkatan ketiga.
Jika tingkatan pertama dimaksudkan sebagai orang-orang biasa pada umumnya, maka
tingkatan kedua dimaksudkan sebagai para wali (Al-Auliya), sedangkan tingkatan ketiga
dimaksudkan sebagai para Nabi (Al-Anbiya).
Dalam Fiqh, diterangkan adanya beberapa syarat dan rukun untuk menentukan sah atau
tidaknya suatu ibadah. Tentu saja persyaratan itu hanya sifatnya lahiriah saja, tetapi Tasawuf
membicarakan persyaratan sah atau tidaknya suatu ibadah, sangat ditentukan oleh persyaratan
yang bersifat rahasia (batiniyah). Sehingga Ulama Tasawuf sering mengemukakan tingkatan
ibadah menjadi beberapa macam, misalnya Taharah dibaginya menjadi empat tingkatan:
1. Taharah yang sifatnya mensucikan anggota badan yang nyata dari hadath dan najis.
2. Taharah yang sifatnya mensucikan anggota badan yang nyata dari perbuatan dosa.
3. Taharah yang sifatnya mensucikan hati dari perbuatan yang tercela.
4. Taharah yang sifatnya mensucikan rahasia (roh) dari kecendrungan menyembah sesuatu
di luar Allah SWT.
Karena Tasawuf selalu menelusuri persoalan ibadah sampai kepada hal-hal yang sangat
dalam (yang bersifat rahasia), maka ilmu ini sering dinamakan Ilmu Batin, sedangkan Fiqh
sering disebut Ilmu Zahir.

3. Tasawuf akhlaqi
Yaitu Tasawuf yang menekankan pembahasannya pada budi pekerti yang akan mengantarkan
manusia mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga di dalamnya dibahas beberapa
masalah akhlaq, antara lain:
*Bertaubat (At-Taubah); yaitu keinsafan seseorang dari perbuatannya yang buruk, sehingga ia
menyesali perbuatannya, lalu melakukan perbuatan baik.
*Bersyukur (Asy-Shukru); yaitu berterima kasih kepada Allah, dengan mempergunakan
segala nikmat-Nya kepada hal-hal yang diperintahkan-Nya;
*Bersabar (Ash-Sabru); yaitu tahan terhadap kesulitan dan musibah yang menimpanya.
*Bertawakkal (At-Tawakkul); yaitu memasrahkan sesuatu kepada Allah SWT. Setelah
berbuat sesuatu semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan.
*Bersikap ikhlas (Al-Ikhlas); yaitu membersihkan perbuatan dari riya (sifat menunjuk-
nunjukkan kepada orang lain), demi kejernihan perbuatan yang kita lakukan.

2.1.4 MODEL PENELITIAN TASAWUF

a) Model Sayyed Husein Nasr


Sayyed Husein Nasr merupakan ilmuan yang amat terkenal dan produktif dalam melahirkan
berbagai karya ilmiah, termasuk ke dalam bidang tasawuf. Hasil penelitiannya disajikan
dalam bukunyan yang bejudul tasawuf dulu dan sekarang. Ia menggunakan metode
penelitian dengan pendekatan tematik, yaitu pendekatan yang mencoba menyajikan ajaran
tasawuf sesuai dengan tema-tema tertentu. Dengan penelitian kualitatif mendasarinya pada
studi kritis terhadap ajaran tasawuf yang pernah berkembang dalam sejarah. Ia menambahkan
bahwa tasawuf merupakan sarana untuk menjalin hubungan yang intens dengan Tuhan dalam
upaya mencapai keutuhan manusia. Ia bahkan mengemukakan tingkatan-tingkatan
kerohanian manusia dalam dunia tasawuf.
b) Model Mustafa Zahri
Mutafa Zahri memusatkan perhatiannya terhadap tasawuf dengan menulis buku berjudul
kunci memahami ilmu tasawuf. Penelitiannya bersifat ekploratif, yakni menggali ajaran
tasawuf dari berbagai literatur ilmu tasawuf. Ia menyajikan tentang kerohanian yang di
dalamnya dimuat tentang contoh kehidupan nabi, kunci mengenal Allah, sendi kekuatan
batin, fungsi kerohanian dalam menenteramkan batin, serta tarekat dan fungsinya. Ia juga
menjelaskan tentang bagaimana hakikat tasawuf, ajaran makrifat, doa, dzikir dan makna
lailaha illa Allah.
c) Model Kautsar Azhari Noor
Kautsar Azhari Noor memusatkan perhatiannya pada penelitian tasawuf dalam rangka
disertasinya. Judul bukunya adalah wahdat al-wujud dalam perdebatan dengan studi dengan
tokoh dan pahamnya yang khas, Ibn Arabi dengan pahamnya wahdat al- wujud. Paham ini
timbul dari paham bahwa Allah sebagaimana yang diterangkan dalam uraian tentang hulul,
ingin melihat diri-Nya di luar diri-Nya. Sifat Tuhan yang banyak itupun dalam arti kualitas
atau mutunya, berbeda dengan sifat manusia.

d) Model Harun Nasution


Harun Nasution merupakan guru besar dalam bidang teologi dan filsafat islam dan juga
menaruh perhatian terhadap penelitian di bidang tasawuf. Dalam bukunya yang berjudul
filsafat dan mistisisme dalam islam, ia menggunakan metode tematik, yakni penyajian ajaran
tasawuf disajikan dalam tema jalan untuk dekat kepada Tuhan, zuhud dan stasion-stasion lain,
al-mahabbah, al-marifat, al-fana, al-baqa, al-ittihad, al-hulul, dan wahdat al-wujud.
Pendekatan tematik dinilai lebih menarik karena langsung menuju persoalan tasawuf
dibandingkan dengan pendekatan yang bersifat tokoh. Penelitiannya itu sepenuhnya bersifat
deskriptif eksploratif, yakni menggambarkan ajaran sebagaimana adanya dengan
mengemukakannya sedemikian rupa, walau hanya dalan garis besarnya saja.
e) Model A. J. Arberry
Arberry merupakan salah seorang peneliti barat kenamaan, banyak melakukan studi
keislaman, termasuk dalam penelitian tasawuf. Dalam bukunya pasang surut aliran
tasawuf, Arberry mencoba menggunakan pendekatan kombinasi, yaitu antara pendekatan
tematik dengan pendekatan tokoh. Dengan pendekatan tersebut ia coba kemukakan tentang
firman Allah, kehidupan nabi, para zahid, para sufi, para ahli teori tasawuf, sruktur teori dan
amalan tasawuf, tarikat sufi, teosofi dalam aliran tasawuf serta runtuhnya aliran tasawuf.

2.1.5 TUJUAN

Tasawuf adalah tuntunan manusia untuk mengenal Tuhan atau marifat billah dan melalui
tasawuf ini pula manusia dapat melangkah sesuai dengan dengan tuntunan yang paling baik
dan benar dengan yang indah dan akidah yang kuat.
Secara garis besar tujuan tasawuf adalah marifatullah (mengenal Allah secara mutlak dan
lebih jelas. Tasawuf memiliki tujuan yang baik yaitu kebersihan diri dan taqarrub kepada
Allah. Namun taswuf tidak boleh melanggar apa-apa yang telah secara jelas diatur oleh Al-
Quran dan As-Sunnah, baik dalam aqidah, pemahaman ataupun tata cara yang dilakukan.
Bisa di simpulkan dari uraian di atas terdapat tujuan tasawuf, yaitu :
Penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak mutlak al-Haqq karena Allah-lah penggerak
utama dari semua kejadian alam ini.
Pelepasan secara total semua keinginan pribadi dan melepas diri dari sifat-sifat jelek yang
berkenaan dengan kehidupan duniawi.
Peniadaan kesadaran diri serta pemusatan diri pada perenungan terhadap al-Haqq semata,
tiada yang dicari melainkan Allah.

2.1.6 MANFAAT
Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada
pembersihan aspek rohani manusia yang selanjutnya dapat menimbulkan akhlak mulia.
Pembersihan aspek rohani atau batin ini selanjutnya dikenal sebagai dimensi esoterik dari diri
manusia. Hal ini berbeda dengan aspek fikih, khususnya pada bab thaharah yang memusatkan
perhatian pada pembersihan aspek jasmaniah atau lahiriah yang selanjutnya disebut sebagai
dimensi eksoterik.
KESIMPULAN
Adapun metode metode Tasawuf jika diliat dari pembagian Tasawuf yang ditinjau dari
lingkup materi pembahasannya menjadi tiga macam, yaitu:

a. Tasawuf Aqidah
Yaitu ruang lingkup pembicaraan Tasawuf yang menekankan masalah-masalah metafisis (hal-
hal yang ghaib), yang unsur-unsurnya adalah keimanan terhadap Tuhan, adanya Malaikat,
Syurga, Neraka dan sebagainya.
b. Tasawuf Ibadah
Yaitu Tasawuf yang menekankan pembicaraannya dalam masalah rahasia ibadah (Asraru
al-Ibadah), sehingga di dalamnya terdapat pembahasaan mengenai rahasia Taharah (Asraru
Taharah), rahasia Salat (Asraru al-Salah), rahasia Zakat (Asraru al-Zakah), rahasia Puasa
(Asrarus al-Shaum), rahasia Hajji (Asraru al-Hajj) dan sebagainya.
c. Tasawuf Akhlaqi
Yaitu Tasawuf yang menekankan pembahasannya pada budi pekerti yang akan mengantarkan
manusia mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
B. Manfaat mempelajari tasawwuf ialah membersihkan hati agar sampai kepada marifat
akan terhadap Allah Taala sebagai marifat yang sempurna untuk keselamatan di akhirat dan
mendapat keridhaan Allah Taala dan mendapatkan kebahagiaan abadi.
C. Secara garis besar tujuan tasawuf adalah marifatullah (mengenal Allah secara mutlak
dan lebih jelas. Tasawuf memiliki tujuan yang baik yaitu kebersihan diri dan taqarrub kepada
Allah. Namun taswuf tidak boleh melanggar apa-apa yang telah secara jelas diatur oleh Al-
Quran dan As-Sunnah, baik dalam aqidah, pemahaman ataupun tata cara yang dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Abuddin,Nata. (1998). Metodologi Studi Islam. Jakarta:Rajawali press.

Hakim Atang dan Mubarak Abd. Jaih. (2000). Metodologi Stadi Islam.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Moh.Toriquddin. (2008). Sekularitas Tasawuf . Malang: UIN-Malang Press.