Anda di halaman 1dari 2

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada kasus ini dilaporkan Tn.G 60 tahun yang dirawat di ruang Teratai
Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Soemarno Sosroatmodjo kota Kuala Kapuas
dengan keluhan utama benjolan disertai nyeri di lipat paha kanan. Berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan fisik diketahui pasien mengeluh dengan keluhan
benjolan disertai nyeri di lipat paha sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit.
Sebelumnya benjolan dapat masuk kembali ke rongga abdomen secara spontan.
Keluhan benjolan dilipat paha kanan pertamakali muncul 5 bulan sebelum masuk
rumah sakit ketika pasien memanjat pohon kelapa. Benjolan kira-kira sebesar
genggaman tangan orang dewasa, permukaan rata, konsistensi kenyal, tidak nyeri,
muncul ketika pasien bekerja berat dan masuk kembali ketika pasien beristirahat.
Sekarang benjolan tidak dapat masuk kembali dan terasa nyeri.

Diagnosa awal pada kasus ini adalah hernia inguinalis lateralis dextra
inkaserata. Berdasarkan kepustakaan sebelumnya hernia inguinalis lateralis adalah
hernia yang keluar dari rongga peritoneum melalui annulus inguinalis internus
yang ada di sebelah lateral vasa epigastrika inferior, menyelusuri canalis
inguinalis dan keluar ke rongga perut melalui annulus inguinalis eksternus.8 Untuk
membedakan hernia inguinalis lateralis, medialis, dan femoralis dilakukan tes-tes
khusus yang telah disebutkan dikepustakaan seperti tes visibel, tes oklusi, tes
taktil dan tes Zieman. Namun, pada kasus ini tes-tes tersebut tidak dilakukan
karena sebelumnya sudah dicoba memasukkan sendiri hernia (benjolan) kembali
ke rongga abdomen namun tidak bisa dan hernia menjadi sangat nyeri maka
sangat dianjurkan untuk tidak melakukan penekanan pada lokasi nyeri secara
berulang-ulang.

Sebagai pemeriksa kita juga harus memperhatikan hal tersebut, dari


anamnesis dan pemeriksaan fisik kasus ini sudah menunjukkan komplikasi dari
hernia yaitu inkaserta, hernia yang awalnya reponibel menjadi irreponibel karena

31
isi hernia terjepit oleh cincin hernia sehingga kantong terperangkap dan tidak
dapat kembali ke dalam rongga perut, akibatnya terjadi gangguan pasase, maka
kita sangat tidak dianjurkan untuk memberi tekanan kepada hernia tersebut dan
dianjurkan untuk segera dilakukan operasi cito untuk mencegah komplikasi yang
lebih berat. Pada pemeriksaan fisik hernia sudah masuk ke skrotum, hernia yang
masuk ke skrotum merupakan hernia inguinalis lateralis yang masuk ke kantung
buah zakar.

Pada kasus ini terapi yang diberikan adalah tindakan operasi cito karena
hernia inkaserata termasuk dalam kegawatdaruratan dan untuk tujuan mencegah
komplikasi yang lebih berat. Dilakukan herniotomi yaitu pembebasan kantong
hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kemudian
direposisi.4 Berdasarkan pendekatan operasi, banyak teknik herniotomi yang dapat
dilakukan, pada kasus ini dilakukan dengan teknik Tension free repair with mesh
(teknik Lichtenstein) yaitu melibatkan pembukaan aponeurosis m.obliquus
abdominis eksternus dan membuka funikulus spermaticus, fascia transversalis
kemudian dibuka akan tetapi tidak menjahit lapisan fascia untuk memperbaiki
defek, tetapi menempatkan sebuah prosthesis, mesh yang tidak diserap.
Keunggulan Mesh ini dapat memperbaiki defek hernia tanpa menimbulkan
tegangan dan ditempatkan di sekitar fascia.1,7

32