Anda di halaman 1dari 40

A.

DEFINISI
Pneumonia adalah peradangan alveoli atau pada parenchim paru yang terjadi pada
anak. (Suriadi Yuliani, 2001)
Bronkopneumonia adalah penyakit infeksi saluran pernafasan bawah, yang
melibatkan parenkim paru-paru, termasuk alveoli dan struktur pendukungnya. (Reves,
2001)
Bronkopneumonia digunakan untuk menggambarkan pneumonia yang mempunyai
pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi didalam
bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. Pada
bronkopneumonia terjadi konsolidasi area berbercak. (Smeltzer,2013)
Jadi bronkopnemonia adalah infeksi atau peradangan pada jaringan paru terutama
alveoli atau parenkim yang sering menyerang pada anak anak.

B. ANATOMI FISIOLOGI

1. Hidung
Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam rongga hidung. Saluran-saluran
itu bermuarake dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum. Rongga hidung
dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah, dan
bersambung dengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai
lubang masuk ke dalam rongga hidung. Septum nasi memisahkan kedua cavum nasi.
Struktur ini tipis terdiri dari tulang dan tulang rawan, sering membengkok kesatu sisi
atau sisi yang lain, dan dilapisi oleh kedua sisinya dengan membran mukosa.
Dinding lateral cavum nasi dibentuk oleh sebagian maxilla, palatinus, dan os.
Sphenoidale. Tulang lengkung yang halus dan melekat pada dinding lateral dan
menonjol ke cavum nasi adalah : conchae superior, media, dan inferior. Tulang-
tulang ini dilapisi oleh membrane mukosa.
Dasar cavum nasi dibentuk oleh os frontale dan os palatinus sedangkan atap
cavum nasi adalah celah sempit yang dibentuk oleh os frontale dan os sphenoidale.
Membrana mukosa olfaktorius, pada bagian atap dan bagian cavum nasi yang
berdekatan, mengandung sel saraf khusus yang mendeteksi bau. Dari sel-sel ini serat
saraf melewati lamina cribriformis os frontale dan kedalam bulbus olfaktorius
nervus cranialis I olfaktorius.
Sinus paranasalis adalah ruang dalam tengkorak yang berhubungan melalui
lubang kedalam cavum nasi, sinus ini dilapisi oleh membrana mukosa yang
bersambungan dengan cavum nasi. Lubang yang membuka kedalam cavum nasi :
a. Lubang hidung
b. Sinus Sphenoidalis, diatas concha superior
c. Sinus ethmoidalis, oleh beberapa lubang diantara concha superior dan media
dan diantara concha media dan inferior
d. Sinus frontalis, diantara concha media dan superior
e. Ductus nasolacrimalis, dibawah concha inferior.
Pada bagian belakang, cavum nasi membuka kedalam nasofaring melalui
appertura nasalis posterior.
2. Faring (Tekak)
Faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan
makanan. Berbentuk pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai
persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Maka
letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal). Orofaring adalah bagian dari faring
merrupakan gabungan sistem respirasi dan pencernaan.
3. Laring (Tenggorok)
Laring merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara.
Terletak pada garis tengah bagian depan leher, sebelah dalam kulit, glandula
tyroidea, dan beberapa otot kecila, dan didepan laringofaring dan bagian atas
esopagus.
Laring merupakan struktur yang lengkap terdiri atas:
a. cartilago yaitu cartilago thyroidea, epiglottis, cartilago cricoidea, dan 2 cartilago
arytenoidea
b. Membarana yaitu menghubungkan cartilago satu sama lain dan dengan os.
Hyoideum, membrana mukosa, plika vokalis, dan otot yang bekerja pada plica
vokalis
Cartilago tyroidea berbentuk V, dengan V menonjol kedepan leher sebagai
jakun. Ujung batas posterior diatas adalah cornu superior, penonjolan tempat
melekatnya ligamen thyrohyoideum, dan dibawah adalah cornu yang lebih kecil
tempat beratikulasi dengan bagian luar cartilago cricoidea.
Membrana Tyroide mengubungkan batas atas dan cornu superior ke os
hyoideum.
Membrana cricothyroideum menghubungkan batas bawah dengan cartilago
cricoidea.
4. Epiglotis
Epiglotis merupakan katup yang berfungsi untuk menutup pada saat proses
menelan. Cartilago yang berbentuk daun dan menonjol keatas dibelakang dasar
lidah. Epiglottis ini melekat pada bagian belakang V cartilago thyroideum.
Plica aryepiglottica, berjalan kebelakang dari bagian samping epiglottis
menuju cartilago arytenoidea, membentuk batas jalan masuk laring
5. Trachea Atau Batang Tenggorok
Adalah tabung fleksibel dengan panjang kira-kira 10 cm dengan lebar 2,5 cm.
trachea berjalan dari cartilago cricoidea kebawah pada bagian depan leher dan
dibelakang manubrium sterni, berakhir setinggi angulus sternalis (taut manubrium
dengan corpus sterni) atau sampai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima
dan di tempat ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). Trachea tersusun atas
16 20 lingkaran tak- lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat
bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang
trachea, selain itu juga membuat beberapa jaringan otot.
6. Bronchus
Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira
vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi
oleh.jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke
arah tampuk paru. Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar, dan lebih vertikal
daripada yang kiri, sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan
sebuah cabang utama lewat di bawah arteri, disebut bronckus lobus bawah. Bronkus
kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan berjalan di bawah arteri
pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan kelobus atas
dan bawah.
Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus
lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus
menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi
bronkhiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli
(kantong udara). Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm.
Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot
polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara ke bawah sampai
tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi
utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru.
Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan
respiratorius yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada
dindingnya. Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris
terminalis merupakan akhir paru-paru, asinus atau.kadang disebut lobolus primer
memiliki tangan kira-kira 0,5 s/d 1,0 cm. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai
dari trachea sampai Sakus Alveolaris. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang
dinamakan pori-pori kohn.
7. Paru-Paru
Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan. Paru-
paru memilki :
a. Apeks, Apeks paru meluas kedalam leher sekitar 2,5 cm diatas calvicula
b. Permukaan costo vertebra, menempel pada bagian dalam dinding dada
c. Permukaan mediastinal, menempel pada perikardium dan jantung.
d. Basis terletak pada diafragmaparu-paru juga Dilapisi oleh pleura yaitu parietal
pleura dan visceral pleura. Di dalam rongga pleura terdapat cairan surfaktan
yang berfungsi untuk lubrikasi. Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus
superior, medius dan inferior sedangkan paru kiri dibagi dua lobus yaitu lobus
superior dan inferior. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang
mengandung pembuluh limfe, arteriola, venula, bronchial venula, ductus
alveolar, sakkus alveolar dan alveoli. Diperkirakan bahwa stiap paru-paru
mengandung 150 juta alveoli, sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas
untuk tempat permukaan/pertukaran gas.

C. ETIOLOGI
Pneumonia bisa dikatakan sebagai komplikasi dari penyakit yang lain ataupun
sebagai penyakit yang terjadi karena etiologi di bawah ini.
Sebenarnya pada diri manusia sudah ada kuman yang dapat menimbulkan
pneumonia, sedang timbulnya setelah ada faktor- faktor prsesipitasi yang dapat
menyebabkan timbulnya.

1. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram positif
yang menyebabkan pneumonia bakteri adalah steprokokus pneumonia, streptococcus
aerous dan streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti haemophilus
influenza, klebsiella pneumonia dan P.Aeruginosa.
2. Virus
Pneumonia virus merupakan tipe pneumonia yang paling umum ini disebabkan oleh
virus influenza yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus yang
merupakan sebagai penyebab utama pneumonia virus.
3. Jamur
Infeksi yang disebabkan oleh jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui
penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran
burung, tanah serta kompos.
4. Protozoa
Menimbulkan terjadinya pneumocystis carini pneumonia (CPC). Biasanya
menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi seperti pada penderita AIDS.
(Reeves, 2001)

D. TANDA DAN GEJALA


Bronkopneumonia secara khas diawali dengan menggigil, demam yang timbul
dengan cepat (39,50c-40,50c), sakit kepala, gelisah, malaise, nafsu makan berkurang dan
nyeri dada yang terasa di tusuk-tusuk. Gejala umum infeksi saluran pernafasan bawah
berupa batuk, ekspektorasi sputum, dengan takiphnea sangat jelas (25-45x/menit) disertai
dengan pernafasan mendengkur, pernafasan cuping hidung dan penggunaan otot-otot
aksesoori pernafasan, sputum hijau dan purulen, dispnea dan sianosis
Pasien yang mengalami tanda pneumonia berupa retraksi yaitu perkusi pekak,
fremitus melemah, suara nafas melemah, ronkhi dan wheezing. (Mansjoer, 2000)

E. KOMPLIKASI
Komplikasi yang timbul dari bronkopneumonia menurut ngastiyah (2005) dan
perhimpunan dokter paru indonesia (2003) yaitu : empiema, otitis media akut,
atelektasis, emfisema, meningitis, efusi pleura, abses paru, pneumotoraks, gagal nafas
dan sepsis.
F. PATOFISIOLOGI
Proses terjadinya bronkopneumonia di mulai dari berhasilnya kuman patogen
masuk ke mukus jalan nafas. Kuman tersebut berkembang biak di saluran nafas atau
sampai di paru-paru. Bila mekanisme pertahanan seperti sistem transfort mukosilia tidak
adekuat, maka kuman berkembang biak secara cepat sehingga terjadi peradangan di
saluran nafas atas, sebagai respon peradangan akan terjadi hipersekresi mukus dan
merangsang batuk. Mikroorganisme berpindah karena adanya gaya tarik bumi dan dan
alveoli menebal. Pengisian cairan alveoli akan melindungi mikroorganisme dari fagosit
dan membantu penyebaran organisme ke alveoli lain. Keadaan ini menyebabkan infeksi
meluas, aliran darah di paru sebagian meningkat yang diikuti peradangan vaskular dan
penurunan darah kapiler.
Edema karena inflamasi akan mengeraskan paru dan akan mengurangi kapasitas
paru, penurunan produksi cairan susfaktan lebih lanjut, menurunkan compliance dan
menimbulkan atelektasis serta kolaps alveoli. Sebagai tambahan proses
bronkopneumonia menyebabkan gangguan ventilasi okulasi partial pada bronkhi dan
alveoli, menurunkan tekanan oksigen arteri, akhirnya darah vena yang menuju atrium
kiri banyak yang tidak mengandung oksigen sehingga terjadi hipoksemia arteri.
Efek sistemik akibat infeksi, fagosit melepaskan bahan kimia yang disebut
endogenus pirogen. Bila zat ini terbawa aliran darah hingga sampai hipotalamus, maka
suhu tubuh akan meningkat dan meningkatkan kecepatan metabolisme. Pengaruh dari
meningkatnya metabolisme adalah penyebab takiphnea dan takhikardia, tekanan darah
menurun sebagai akibat dari vasodilatasi perifer dan penurunan sirkulasi volume darah
karena dehidrasi, panas dan takiphnea meningkat, kehilangan cairan melalui kulit
(keringat) dan saluran pernafasan sehingga menyebabkan dehidrasi. (Price & Wilson,
2005)

Kuman, bakteri, virus dan jamur

Proses peradangan

Hipersekresi mucus masuk & berkembang kuman berkembang


dalam usus Biak
Peningkatan produksi
Sputum hipersekresi air kuman sampai di bronkus
Dan elektrolit Terjadi proses peradangan
Batuk (peningkatan isi di bronkus dan alveoli
Rongga usus)
Bersihan jalan Infeksi
nafas tidak diare
efektif Proses inflamasi
dehidrasi
Merangsang hipotalamus
Mukosa bibir kering
Demam
Defisit vol.
cairan Peningkatan suhu
tubuh

Dinding alveoli meradang

Menekan ujung saraf peningkatan kerja otot


pernafasan
Perubahan membran
kapiler alveolar kebutuhan o2 dalam otot Pola nafas
meningkat tidak efektif
Gangguan sesak nafas
pertukaran gas
kelemahan

Intoleransi
aktivitas
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Sinar X : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses
luas/infiltrat, empiema (stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi
(bakterial); atau penyebaran/perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia
mikoplasma sinar X dada mungkin bersih.
2. GDA : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan
penyakit paru yang ada.
3. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah: diambil dengan biopsi jarum, aspirasi
transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi
organisme penyebab.
4. JDL: leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi
virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial.
5. Pemeriksaan serologi : titer virus atau legionella, aglutinin dingin.
6. LED : meningkat
7. Pemeriksaan fungsi paru : volume mungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar),
tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun, hipoksemia.
8. Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah.
9. Bilirubin : mungkin meningkat.
10. Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka : menyatakan intranuklear tipikaldan
keterlibatan sitoplasmik.

H. PENATALAKSANAAN
1. Terapi oksigen jika pasien mengalami pertukaran gas yang tidak adekuat. Ventilasi
mekanikmungkin diperlukan jika nilai normal GDA tidak dapat dipertahankan.
2. Pada pneumonia aspirasi bersihkan jalan nafas yang tersumbat
3. Perbaiki hipotensi pada pneumonia aspirasi dengan penggantian volume cairan
4. Terapi antimikrobial berdasarkan kultur dan sensitivitas
5. Supresan batuk jika batuk berdifat nonproduktif
6. Analgetik untuk mengurangi nyeri pleuritik

I. MASALAH DATA KEPERAWATAN DAN DATA PENDUKUNG


1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
2. Gangguan petukaran gas
3. Pola nafas tidak efektif
4. Peningkatan suhu tubuh
5. Defisit volume cairan
6. Intoleransi aktivitas

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret di jalan
nafas ditandai dengan bunyi nafas tidak normal, sianosis, penggunaan otot aksesoris.
2. Gangguan petukaran gas berhubungan dengan penumpukan cairan dalam alveoli
ditandai dengan takikardi, hipoksia, sianosis dan pasien terlihat gelisah.
3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan compliance paru ditandai
dengan penggunaan otot aksesoris, perubahan kedalaman nafas, RR 34x/menit.
4. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi ditandai dengan suhu
tubuh pasien 39,00c.
5. Defisit volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan intake dan output
cairan ditandai dengan pasien tampak lemah, mukosa bibir kering, BABcair lebih
dari 6x/hari, muntah lebih dari 3x/hari.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen.

K. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret di jalan
nafas ditandai dengan bunyi nafas tidak normal, sianosis, penggunaan otot aksesoris.
Tujuan:
Setelah dilaksakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam jalan nafas menjadi bersih

Kriteria:
- Suara nafas bersih tidak ada ronkhi atau krekls, wheezing
- Sekret di jalan nafas bersih
- Cuping hidung tidak ada
- Tidak ada sianosis
Intervensi:
- Kaji status pernafasan tiap 2 jam meliputi respiratory rate, penggunaan otot
bantu nafas, warna kulit
- Posisikan kepala lebih tinggi
- Lakukan nebulizer (ventolin amp + NaCl 3 cc)
- Lakukan postural drainase
- Kolaborasi dengan fisiotherapist untuk melakukan fisiotherapi dada
- Jaga humidifire oksigen yang masuk
- Gunakan teknik aseptik dalam penghisapan lendir
2. Gangguan petukaran gas berhubungan dengan penumpukan cairan dalam alveoli
ditandai dengan takikardi, hipoksia, sianosis dan pasien terlihat gelisah.
Tujuan :
Setelah dilaksakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam pertukaran gas dalam
alveoli adekuat.
Kriteria Hasil :
- Akral hangat
- Tidak ada tanda sianosis
- Tidak ada hipoksia jaringan
- Saturasi oksigen perifer 90%
Inervensi :
- Pertahankan kepatenan jalan nafas
- Keluarkan lendir jika ada dalam jalan nafas
- Periksa kelancaran aliran oksigen 5-6 liter per menit
- Konsul dokter jaga jika ada tanda hipoksia/ sianosis
- Awasi tingkat kesadaran klien
3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan compliance paru ditandai
dengan penggunaan otot aksesoris, perubahan kedalaman nafas, RR 34x/menit.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pola nafas
kembali normal.
Kriteria Hasil :
- Frekuensi nafas dan kedalaman dalam rentang normal
Intervensi :
- Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada, catat pernafasan/upaya
pernafasan
- Auskultasi bunyi nafas dan catat bunyi nafas
- Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi
- Kolaborasi terapi O2
4. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi ditandai dengan suhu
tubuh pasien 39,00c.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan suhu tubuh
kembali normal : 36,50c -37,50c.
Kriteria Hasil :
- Pasien tidak memperlihatkan tanda peningkatan suhu tubuh
- Tidak menggigil
- Nadi normal
Intervensi :
- Obeservasi suhu tubuh (4 jam)
- Pantau warna kulit
- Kompres menggunakan air hangat
- Berikan obat sesuai indikasi : antiseptik (paracetamol)
- Awasi kultur darah dan kultur sputum, pantau hasilnya setiap hari
5. Defisit volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan intake dan output
cairan ditandai dengan pasien tampak lemah, mukosa bibir kering, BAB cair lebih
dari 6x/hari, muntah lebih dari 3x/hari.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak terjadi kekurangan
volume cairan
Kriteria Hasil :
- Tidak ada tanda dehidrasi
- Suhu tubuh normal 36,50C - 37,00C
- Kelopak mata tidak cekung
- Turgor kulit baik
- Akral hangat
Intervensi :
- Kaji adanya tanda dehidrasi
- Jaga kelancaran aliran infus
- Periksa adanya tromboplebitis
- Pantau tanda vital tiap 6 jam
- Lakukan kompres dingin jika terdapat hipertermia suhu diatas 38,00C
- Pantau balance cairan
- Berikan nutrisi sesuai diit
- Awasi turgor kulit
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan terjadinya
peningkatan toleransi aktivitas.
Kriteria Hasil :
- Mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur, dibuktikan oleh
menurunnya kelemahan dan kelelahan dan TTV dalam batas normal selama
aktivitas.
Intervensi :
- Evaluasi respon klien terhadap aktivitas
- Berikan lingkungan terang dan batasi pengunjung
- Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya
keseimbangan aktivitas dan istirahat
- Bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk istirahat / tidur
- Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan

a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan


produksi sputum

Tujuan : Jalan nafas pasien efektif dengan criteria hasil : jalan nafas paten,
tidak ada bunyi nafas tambahan, tidak sesak, RR normal (35-40x/menit), tidak
ada penggunaan otot bantu nafas, tidak ada pernafasan cuping hidung
INTERVENSI RASIONAL

1. Observasi TTV terutama respiratory 1. Memberi informasi tentang pola


rate pernafasan pasien, tekanan darah,
2. Auskultasi area dada atau paru, nadi, suhu pasien.
catat hasil pemeriksaan 2. Crekcels, ronkhi dan mengi dapat
3. Latih pasien batuk efektif dan nafas terdengar saat inspirasi dan ekspirasi
dalam pada tempat konsolidasi sputum
4. Lakukan suction sesuai indikasi 3. Memudahkan bersihan jalan nafas
5. Memberi posisi semifowler atau dan ekspansi maksimum paru
supinasi dengan elevasi kepala 4. Mengeluarkan sputum pada pasien
6. Anjurkan pasien minum air hangat tidak sadar atau tidak mampu batuk
7. Bantu mengawasi efek pengobatan efektif
nebulizer dan fisioterapi nafas 5. Meningkatkan ekspansi paru
lainnya. 6. Air hangat dapat memudahkan
8. Berikan obat sesuai indikasi, seperti pengeluaran secret
mukolitik, ekspektoran, 7. Memudahkan pengenceran dan
bronkodilator, analgesic pembuangan secret
9. Berikan O2 lembab sesuai indikasi 8. Proses medikamentosa dan
membantu mengurangi
bronkospasme
9. Mengurangi distress respirasi
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan proses infeksi pada jaringan
paru

Tujuan : Ventilasi pasien tidak terganggu dengan kriteria hasil : GDA dalam
rentang normal ( PO2 = 80 100 mmHg, PCO2 = 35 45 mmHg, pH = 7,35
7,45, SaO2 = 95 99 %), tidak ada sianosis, pasien tidak sesak dan rileks.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji frekuensi, kedalaman, 1. Memberi informasi tentang
kemudahan bernapas pasien. pernapasan pasien.
2. Observasi warna kulit, membran 2. Kebiruan menunjukkan sianosis.
mukosa bibir. 3. Untuk membuat pasien lebih
3. Berikan lingkungan sejuk, nyaman, nyaman.
ventilasi cukup. 4. Meningkatkan inspirasi dan
4. Tinggikan kepala, anjurkan napas pengeluaran sekret.
dalam dan batuk efektif. 5. Mencegah terlalu letih.
5. Pertahankan istirahat tidur. 6. Mengevaluasi proses penyakit dan
6. Kolaborasikan pemberian oksigen mengurangi distres respirasi
dan pemeriksaan lab (GDA)

c. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi terhadap infeksi saluran nafas

Tujuan : Suhu pasien turun atau normal (36,5 37,5C) dengan kriteria hasil:
pasien tidak gelisah, pasien tidak menggigil, akral teraba hangat, warna kulit
tidak ada kemerahan.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji suhu tubuh pasien 1. Data untuk menentukan intervensi
2. Pertahankan lingkungan tetap sejuk 2. Menurunkan suhu tubuh secara
3. Berikan kompres hangat basah pada radiasi
ketiak, lipatan paha, kening (untuk 3. Menurunkan suhu tubuh secara
sugesti) konduksi
4. Anjurkan pasien untuk banyak 4. Peningkatan suhu tubuh
minum mengakibatkan penguapan cairan
5. Anjurkan mengenakan pakaian yang tubuh meningkat, sehingga
minimal atau tipis diimbangi dengan intake cairan yang
6. Berikan antipiretik sesuai indikasi banyak
7. Berikan antimikroba jika disarankan 5. Pakaian yang tipis mengurangi
penguapan cairan tubuh
6. Antipiretik efektif untuk
menurunkan demam
7. Mengobati organisme penyebab

d. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan


metabolisme sekunder terhadap demam dan proses infeksi.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi pasien adekuat dengan kriteria hasil: nafsu makan
pasien meningkat, BB pasien ideal, mual muntal berkurang, turgor kulit
elastis, pasien tidak lemas
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji penyebab mual muntah pasien 1. Untuk menentukan intervensi
2. Berikan perawatan mulut selanjutnya
3. Bantu pasien membuang atau 2. Mulut yang bersih meningkatkan
mengeluarkan sputum sesering nafsu makan
mungkin 3. Sputum dapat menyebabkan bau
4. Anjurkan untuk menyajikan makanan mulut yang nantinya dapat
dalam keadaan hangat menurunkan nafsu makan
5. Anjurkan pasien makan sedikit tapi 4. Membantu meningkatkan nafsu
sering makan
6. Kolaborasikan untuk memilih 5. Meningkatkan intake makanan
makanan yang dapat memenuhi 6. Memenuhi gizi dan nutrisi sesuai
kebutuhan gizi selama sakit dengan keadaan pasien

e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2


dengan kebutuhan oksigen.

Tujuan : toleransi pasien terhadap aktifitas meningkat dengan kriteria hasil :


pasien mampu berpartisipasi dalam kegiatan sehari hari sesuai kemampuan
tanpa bantuan, pasien mampu mempraktekkan teknik, penghematan energy,
TTV stabil (S = 36,5C 37,5C, N = 75 100x/menit, RR = 35 -40 x/
menit)
INTERVENSI RASIONAL
1. Evaluasi tingkat kelemahan dan 1. Sebagai informsdi dalam menentukan
toleransi pasien dalam melakukan intervensi selanjutnya
kegiatan 2. Menghemat energy untuk aktifitas
2. Berikan lingkungan yang tenang dan dan penyembuhan
periode istirahat tanpa ganguan 3. Oksigen yang meningkat akibat
3. Bantu pasien dalam melakukan aktifitas
aktifitas sesuai dengan kebutuhannya 4. Mengadekuatkan persediaan oksigen
4. Berikan oksigen tambahan

f. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan


suhu tubuh,kehilangan cairan karena berkeringat banyak, muntah atau diare.
Tujuan : Volume cairan tubuh pasien seimbang dengan kriteria hasil :
membrane mukosa pasien lembab, turgor kulit baik, pengisian capiler cepat /
< 3detik, input dan output seimbang, pasien tidak muntah. Pasien tidak diare,
TTV normal (S = 36,5C 37,5C, N = 75 100x/menit, RR = 35 -40 x/
menit)

INTERVENSI RASIONAL
1. Observasi TTV @ 2- 4 jam, 1. Peningkatan suhu menunjukkan
kaji turgor kulit. peningkatan metabolic
2. Pantau intake dan output 2. Mengidentifikasi kekurangan
cairan volume cairan
3. Anjurkan pasien minum air 3. Menurunkan resiko dehidrasi
yang banyak 4. Melengkapi kebutuhan cairan pasien
4. Berikan terapi intravena 5. Membantu memenuhi cairan bila
seperti infuse sesuai tidak bias dilakukan secara oral
indikasi
5. Pasang NGT sesuai indikasi
untuk pemasukan cairan

g. Resiko infeksi berhubungan dengan resiko terpajan bakteri patogen

Tujuan : Infeksi tidak terjadi dengan kriteria hasil : klien bebas dari tanda dan
gejala infeksi, menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi,
jumlah leukosit dalam batas normal, menunjukkan perilaku hidup sehat
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji suhu badan 8 jam 1. Mendeteksi adanya tanda dari
2. Monitor tanda dan gejala infeksi
infeksi sistemik dan lokal 2. Mempermudah untuk penanganan
3. Inspeksi kulit dan membran jika infeksi terjadi
mukosa terhadap kemerahan, 3. Panas, kemerahan merupakan
panas tanda dari infeksi
4. Ajarkan pasien dan keluarga 4. Dengan melibatkan keluarga tanda
tanda dan gejala infeksi infeksi lebih cepat diketahui
5. Berikan terapi antibiotik 5. Antibiotik efektif untuk mencegah
penyebaran bakteri

4. Implementasi

Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah di buat sebelumnya.


5. Evaluasi
Dx 1 :
a. Jalan nafas pasien efektif

b. Tidak ada bunyi nafas tambahan

c. Jalan nafas pasien paten

d. Pasien tidak sesak

e. RR normal (30-40x/menit)

f. Tidak ada penggunaan otot bantu nafas

g. Tidak ada pernafasan cuping hidung

Dx 2 :
a. Ventilasi pasien tidak terganggu

b. GDA normal

1) PO2 = 80-100mmHg

2) PCO2 = 35-45mmHg

3) pH = 7,35-7,45

4) SaO2 = 95%-99%

c. Tidak ada sianosis

d. Tidak ada sesak

e. Pasien terlihat rileks

Dx 3 :
a. Suhu pasien normal (36,5-37,50C)

b. Pasien tidak gelisah

c. Pasien tidak menggigil

d. Akral teraba hangat

Dx 4 :
a. Kebutuhan nutrisi pasien adekuat
b. Nafsu makan pasien meningkat

c. Pasien tidak mual muntah

d. Turgor kulit elastic

e. BB pasien ideal

f. Pasien tidak lemas

Dx 5 :
a. Toleransi pasien terhadap aktivitas meningkat
b. Pasien mampu berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari sesuai tingkat
kemampuan tanpa bantuan

c. Pasien mampu mempraktekkan penghematan energy

d. TTV stabil

1) S = 36,5-37,50C

2) N = 100-120x/menit

3) RR = 30-40x/menit

Dx 6 :
a. Volume cairan pasien adekuat/seimbang

b. Membran mukosa pasien lembab

c. Turgor kulit elastis

d. TTV stabil

1) S = 36,5-37,50C

2) N = 100-120x/menit

3) RR = 30-40x/menit

e. CRT < 3 detik

Dx 7 :
a. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

b. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi

c. Jumlah leukosit dalam batas normal

d. Menunjukkan perilaku hidup sehat


BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
Hari/tanggal : Senin, 15 Juni 2015
Jam : 11.00 WIB
Tempat: Bangsal Melati 2 RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro
Metode : Wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumen
Sumber data : Klien, tim kesehatan, status kesehatan klien
Oleh : Andri Susilowati, Heryuni Prastiwi
1. Identitas
a. Pasien
Nama : Tn. SW
Umur : 55 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Status Perkawinan : Kawin
Alamat : Niten, Gadungan, Wedi, Klaten
Kewarganegaran : Indonesia
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Buruh
Diagnosa medis : Bronchopneumonia
Tanggal masuk: 9 Juni 2015
No. Rekam Medis : 68xxxx
b. Penanggung jawab
Nama :Ny. A
Umur : 25 Th
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Niten, Gadungan, Wedi, Klaten
Hub dengan klien :Anak Kandung
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
1) Keluhan utama
Klien mengatakan sesak nafas dan batuk disertai pusing selama 4 hari
tidak sembuh. Saat batuk dada dan tenggorokan terasa nyeri seperti
tercekik. Skala nyeri 5.
2) Riayat penyakit sekarang
Klien mengatakan batuk setiap hari. Klien batuk namun dahaknya susah
keluar. Bunyi nafas ronchi.Klien nampak gelisah. Klien bernafas dangkal
dan nampak tersengal-sengal. Ekspandi dada tidak maksimal.Pasien masuk
RSUP dr Soeradji Tirtonegoro pada hari Rabu, 9 Juni 2015 dengan
keluhan utama batuk dan sesak nafas.
b. Riwayat kesehatan masa lalu
Klien mengatakan sebelumnya pernah batuk namun beberapa hari sudah
sembuh. Klien tidak pernah menderita DM, hipertensi, atau penyakit menular
dan keturunan lainnya.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit yang sama dengan
penyakit yang diderita klien saat ini. Tidak adaanggota keluarga yang
menderita penyakit keturunan seperti DM, hepatitis, TBC, atau lainnya
3. Pola Kesehatan Klien
a. Aspek Fisik Biolois
1) Pola Nutrisi
a) Sebelum sakit
Klien mengatakan makan 3x sehari dengan nasi, lauk, dan sayur.
Klien minum 5-6 gelas setiap hari.

b) Saat di rumah sakit


Klien makan 3x sehari dengan nasi,lauk, dan sayur yang diberikan oleh
rumah sakit. Setiap hari klien minum kurang lebih 6 gelas berupa air
putih, the, atau susu.
2) Pola eliminasi
a) Sebelum sakit
Klien mengatakan BAB sehari 1x dan BAK 4-5 kali per hari dengan
warna kekuningan, tidak ada darah, dan dalam sekali BAK sekitar
300cc.
b) Saat di RS
Keluarga klienmengatakan klien BAB sehari sekali dengan warna
kekuningan, tidak ada darah, berbau khas. Klien BAK kurang lebih 5
kali dalam sehari.
3) Pola aktivitas istirahat, dan tidur
a) Sebelum sakit
i. Kebutuhan aktivitas sehari-hari
Klien mengatakan mampu beraktivitas mandiri, seperti makan,
minum, ke kamar mandi, berpakaian. Klien tidak menggunakan
alat bantu dalam beraktivitas sehari-hari.
Kemampuan Perawatan Diri 0 1 2 3 4
Makan dan minum
Mandi
Toileting
Berpakaian
Mobilitas di tempat tidur
ROM

Keterangan:
0: Mandiri
1: Alat bantu
2: Dibantu orang lain
3: Dibantu orang lain dengan alat
4: Tergantung sepenuhnya
ii. Kebutuhan tidur
Klien mengatakan tidak mengalami gangguan tidur dan tidak
menggunakan obat-obatan untuk membantu tidur. Klien tidur
malam sekitar pukul 21.00 dan bangun pukul 05.00 pagi.
b) Saat di RS
i. Kebutuhan aktivitas sehari-hari
Klien nampak lemah dan hanya berbaring di tempat tidur.
Senin, 15 Juni 2015
Kemampuan Perawatan Diri 0 1 2 3 4
Makan dan minum
Mandi
Toileting
Berpakaian
Mobilitas di tempat tidur
ROM
Keterangan:
0: Mandiri
1: Alat bantu
2: Dibantu orang lain
3: Dibantu orang lain dengan alat
4: Tergantung sepenuhnya
ii. Kebutuhan tidur
Klien mengeluh mengalami kesulitan tidur karena merasa sesak
dan batuk. Klien tidur kurang lebih 5 jam per hari. Klien tidur
sering terbangun karena batuk dan sesak .
4) Pola kebersihan diri
a) Sebelum sakit
Klien mengatakan mandi 2x per hari setiap pagi dan sore
menggunakan sabun, menggosok gigi dan menggunakan sampo.
b) Saat di RS
Keluarga mengatakan setiap hari memandikan klien dengan dilap,
klien diganti baju setiap hari.
b. Aspek Mental, Sosial, dan Spiritual
1) Konsep diri
Klien mengatakan menerima penyakit yang diderita, bersedia melakukan
operasi, dan yakin bahwa dia akan sembuh.
a) Gambaran diri
Pasien mengatakan bahwa dirinya sedang sakit dan dirawat di rumah
sakit
b) Ideal diri
Pasien mengatakan mengikuti pengobatan dan perawatan di rumah
sakit sesuai dengan instruksi dari RS.
c) Harga diri
Pasien mengatakan tidak malu dengan kondisinya sekarang. Pasien
menerima dan pasrah terhadap penyakit yang dialaminya saat ini.
2) Intelektual
Pasien mengetahui bahwa dia mengalami penyakit pernafasan.
3) Hubungan sosial
Klien mengatakan memiliki hubungan baik dengan orang lain dan
lingkungan sekitar. Klien mampu berhubungan baik dengan perawat,
dokter, dan tenaga kesehatan lain.
4) Support system
Klien mendapat dukungan dari anak dan keluarganya mengenai
kesehatannya saat ini.
5) Aspek spiritual
Sebelu sakit klien menjalankan ibadah rutin sebagai seorang muslim. Saat
sakit klien mengatakan selalu berdoa untuk kesembuhan dari penyakitnya.
4. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
1) Kesadaran : Compos mentis
2) Status gizi
TB : 170 cm
BB : 63 kg
IMT : 21, 79 kg/m2= normal weight
3) Tanda-tanda vital
Tekanan Darah :110/80 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Suhu : 36,8oC
Respirasi : 36 x/menit
b. Pemeriksaan sistematik
1) Kepala
a) Kepala
Inspeksi : bentuk kepala mechochepal, kulit kepala nampak bersih,
tidak adalesi, rambut beruban
Palpasi : tidak ada nyeri tekan

b) Mata
Inspeksi : konjungtiva kemerahan, sclera putih, tidak bengkak,
pergerakan bola mata simetris
c) Telinga
Inspeksi : bentuk simestris, tidak ada gangguan fungsi
pendengaran
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
d) Hidung
Inspeksi : simetris, tidak ada secret
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
e) Mulut
Inspeksi : bibir tidak pecah-pecah, tidak ada stomatitis.
2) Wajah
Inspeksi : tidak ada lesi
3) Leher
Inspeksi : tidak ada pembesaran tiroid
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
4) Kulit
Inspeksi : tidak kering
Palpasi : turgor kulit baik
5) Thorak
i. Paru
Inspeksi : simetris, tidak ada retraksi, ada penggunaan otot
pernafasan tambahan
Palpasi : ekspansi dada tidak maksimal, tidak ada nyeri tekan
Perkusi : suara sonor
Auskultasi : suara ronchi

ii. Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak pada ICS ke-5 medial linea
midclavicularis sinistra
Palpasi : tidak ada pergeseran ictus cordis
Perkusi : tidak ada pelebaran batas jantung, suara redup
Auskultasi : suara jantung S1, S2, regular tidak ada suara tambahan
6) Abdomen
Inspeksi : simetris
Auskultasi : peristaltic 20 x/menit
Perkusi : suara timpani
Palpasi : tidak ada pembesaran hepar, tidak ada masa perut
7) Genetalia
Inspeksi : tidak ada pembengkakan
8) Ekstremitas atas
Inspeksi : terpasang infus NaCl 20 tpm sejak 9 Juni 2015, tidak
ada edema, tidak ada kelainan jari
Palpasi : tidak adanyeri tekan
9) Ekstremitas bawah
Inspeksi : tidak ada edema, tidak ada lesi, tidak ada kelainan jari.
Palpasi :tidak ada nyeri tekan

c. Pengobatan yang didapat


No. Nama Obat Rute Dosis
1 Ceftriaxone IV 1 gr/12 jam
2 Paracetamol PO 500mg/8jam
3 Ambroxol IV 3x1
4 Farbivent Nebul Kalau perlu
5 Azitromocin PO 500 mg/24 jam
6 Infus NaCl IV 20 tpm

d. Hasil pemeriksaan laboratorium


1) 9 Juni 2015
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
Hematologi
Paket Darah Rutin
Hemoglobin 12.8 g/dL 14.0-18.0
Eritrosit 4.59 10^6/uL 4.70-6.20
Leukosit 20.0 10^3/uL 4.8-10.8
Trombosit 315 10^3/uL 150-450
Hematokrit 38.5 % 40-52
MCV 83.9 fL 80-94
MCH 27.9 Fl 27-31
MCHC 33.2 g/dL 33-37
Diff Count
Neutrofil 90.3 % 50-70
Limfosit 3.00 % 25-40
MXD 6.7 % 1.0-12.0
RDW 44.0 FL 35.0-45.0

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal


Kimia Klinik
Ureum 37.5 mg/dL 19.0-44.0
Creatinin 0.90 mg/dL 0.70-1.20
Bun 17.5 mg/dL 7.0-18.0
AST 58.0 U/L 7.0-45.0
Paket Elektrolit
Natrium 137.0 mmol/L 136.0-145.0
Kalium 3.50 mmol/L 3.50-5.10
Chlorida 102.0 mmol/L 98.0-107.0
ALT 171.8 U/L 7.0-41.0

2) 10 Juni 2015
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
Kimia Klinik
Ureum 36.2 mg/dL 19.0-44.0
Creatinin R.Habis mg/dL 0.70-1.20
Bun 16.9 mg/dL 7.0-18.0
AST 41.8 U/L 7.0-45.0
Paket Elektrolit
Natrium 181.0 mmol/L 136.0-145.0
Kalium 4.80 mmol/L 3.50-5.10
Chlorida 141.0 mmol/L 98.0-107.0
ALT 125.6 U/L 7.0-41.0
3) 14 Juni 2015
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
Hematologi
Paket Darah Rutin
Hemoglobin 14.1 g/dL 14.0-18.0
Eritrosit 4.97 10^6/uL 4.70-6.20
Leukosit 17.3 10^3/uL 4.8-10.8
Trombosit 521 10^3/uL 150-450
Hematokrit 41.7 % 40-52
MCV 83.9 fL 80-94
MCH 28.4 Fl 27-31
MCHC 33.8 g/dL 33-37
Diff Count
Neutrofil 75.7 % 50-70
Limfosit 15.90 % 25-40
MXD 8.4 % 1.0-12.0
RDW 44.0 FL 35.0-45.0

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal


Kimia Klinik
Ureum 38.6 mg/dL 19.0-44.0
Creatinin 0.77 mg/dL 0.70-1.20
Bun 18.0 mg/dL 7.0-18.0
AST 73.3 U/L 7.0-45.0
Paket Elektrolit
Natrium 135.0 mmol/L 136.0-145.0
Kalium 4.70 mmol/L 3.50-5.10
Chlorida 101.0 mmol/L 98.0-107.0
ALT 309.4 U/L 7.0-41.0
Sero Imunologi
HBs Ag Negatif Negatif

e. Hasil pemeriksaan rontgen thorax 9 Juni 2015


Foto Thorax PA view, posisi erek.
Hasil :
- Pleuropneumonia dextra disertai bronchopneumonia sinistra
- Besar cor normal

B. Analisa Data
Pasien : Tn. SW
Hari, Tanggal : Senin, 15 Juni 2015
Pukul : 11.00 WIB
No Data Masalah Penyebab
1 DS: Ketidakefektifan Peningkatan
1. Klien mengatakan bersihan jalan nafas produksi
batuk berhari-hari sputum
tidak sembuh
2. Klien mengatakan
dahak susah keluar
DO:
1. Bunyi nafas
ronchi
2. Batuk tidak efektif
3. Tanda-tanda vital
TD:110/80 mmHg
Nadi 84 x/menit
Suhu 36,8 oC
RR 36x/menit

2 DS: Gangguan Perubahan


1. Klien mengatakan pertukaran gas membrane
sesak nafas alveolus
2. Klien mengatakan
batuk
DO :
1. Hb 12,8 g/Dl
2. Klien nampak
lemas
3. Pernafasan cuping
hidung
4. Hasil foto thorax :
pleuropneumonia
dextra disertai
bronchopneumoni
a sisnistra
3 DS: Ketidakefektifan Dispneu
1. Klien mengatakan pola nafas
sesak nafas
DO:
1. Nafas dangkal
2. Pernafasan cuping
hidung
3. Ekspansi dada
tidak maksimal
4. Frekuensi nafas
36x/menit

4. DS: Nyeri akut Perjalanan


1. Klien mengatakan proses penyakit
nyeri saat batuk
2. Klien mengatakan
nyeri seperti
tyercekik

DO:
1. P: saat batuk
2. Q: seperti tercekik
3. R: pada dada dan
tenggorokan
4. S: Skala nyeri 5
5. T: meningkat saat
batuk <10 menit

C. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi
sputum ditandai dengan
DS:
a. Klien mengatakan batuk berhari-hari tidak sembuh

b. Klien mengatakan dahak susah keluar

DO:
a. Bunyi nafas ronchi

b. Batuk tidak efektif

c. Tanda-tanda vital

TD:110/80 mmHg
Nadi 84 x/menit
Suhu 36,8oC
RR 36x/menit
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane alveolus
ditandai dengan
DS:
a. Klien mengatakan sesak nafas
b. Klien mengatakan batuk
DO :
a. Hb 12,8 g/Dl
b. Klien nampak lemas
c. Pernafasan cuping hidung
d. Hasil foto thorax : pleuropneumonia dextra disertai bronchopneumonia
sisnistra

3. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan dispneu ditandai dengan:


DS:Klien mengatakan sesak nafas
DO:
a. Nafas dangkal
b. Pernafasan cuping hidung
c. Ekspansi dada tidak maksimal
d. Frekuensi nafas 36x/menit
4. Nyeri akut berhubungan dengan perjalanan proses penyakit ditandai dengan
DS:
a. Klien mengatakan nyeri saat batuk
b. Klien mengatakan nyeri seperti tercekik
DO:
a. P: saat batuk
b. Q: seperti tercekik
c. R: pada dada dan tenggorokan
d. S: Skala nyeri 5
e. T: meningkat saat batuk <10 menit
D. Perencanaan Tindakan Keperawatan
Klien : Ny.S
Hari, Tanggal : Senin, 29 Desember 2014
No. Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
1. Ketidakefektifan bersihan Setelah dilakukan a. Kaji jumlah atau a. Evaluasi awal untuk
jalan nafas berhubungan tindakan keperawatan kedalaman pernapasan melihat kemajuan dari
dengan peningkatan selama 3x24 jam dan pergerakan dada hasil intervensi yang
produksi sputum ditandai diharapkan b. Auskultasi daerah paru, telah dilakukan
dengan: ketidakefektifan catat area yang b. Penuruanan aliran
DS: bersihan jalan nafas menurun/tidak udara timbul pada
a. Klien mengatakan teratasi dengan adanya aliran udara, area yang
batuk sudah kriteria hasil: dan adanya suara napas terkonsolidasi dengan
bertahun-tahun tambahan cairan
b. Klien mengatakan a. Secara verbal tidak c. Ajarkan pasien c. Napas dalam akan
dahak susah keluar ada keluhan sesak melakukan latihan memfasilitasi
DO: napas dalam ekspansi maksimum
a. Bunyi nafas ronchi b. Suara napas d. Ajarkan pasien paru-paru/saluran
b. Batuk tidak efektif normal (vesicular) melakukan batuk udara kecil
c. Frekuensi nafas efektif d. Batuk efektif
40x/menit c. Batuk berkurang e. Berikan posisi semi membantu
d. Klien kesulitan fowler pengeluaran secret
berbicara d. Jumlah pernapasan f. Kolaborasi untuk e. Posisi semi fowler
e. Klien nampak dalm batas normal pemberian O2 dengan membantu
gelisah sesuai usia : 12-20 kanul binasal 2 memperlancar jalan
x/menit Lt/menit, terapi inhalasi nafas
nebulizer f. Pemberian mencukupi
kebutuhan O2 klien
Heryuni
Heryuni
2. Ketidakefektifan pola nafas Setelah dilakukan a. Observasi pola nafas a. Memantau keadaan
berhubungan dengan tindakan keperawatan dan catat frekuensi pernafasan klien
dispneu ditandai dengan : selama 3x24 jam pernafasan apakah dalam batas
DS: diharapkan b. Atur posisi klien semi normal atau tidak
Klien mengatakan sesak ketidakefektifan pola fowler b. Mempermudah fungsi
nafas nafas teratasi dengan c. Pertahankan pemberian pernafasan
DO: kriteria hasil: O2 c. Mencukupi/pemenuha
a. Nafas dangkal a. TTV dalam batas d. Bantu klien melakukan n kebutuhan oksigen
b. Ekspansi dada tidak normal nafas efektif d. Nafas efektif
maksimal TD 120/80 membantu klien
c. Fase ekspirasi mmHg mendapatkan oksigen
memanjang N 80100 kali Heryuni yang optimal
d. Hasil rontgen /menit
thorax: infeksi S 36oC
spesifik, lama, R 16-24 kali Heryuni
duplex, curiga /menit
active, dengan b. Suara nafas
traping pleural normal (vaskuler)
effuse kanan c. Kedalaman nafas
dalam batas
normal
E. Implementasi dan Evaluasi
No Diagnosa Waktu Implementasi Evaluasi Evaluasi hasil
.
1. Ketidakefektifan Senin, 29-12- DS: Klien mengatakan
bersihan jalan 2014 kadang-kadang masih
nafas batuk
11.00 WIB Mengobservasi keadaan DS:- DO:
umum dan tanda-tanda DO: KU : compos mentis Dahak berwarna putih
vital TD : 120/70 mmHg bening kadang
Nadi : 98 x/menit kehijauan
RR : 35 x/menit TD : 110/80 mmHg
Suhu: 36,8 oC Nadi : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
Heryuni Suhu: 36,5 oC
Heryuni A: Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas
sebagian teratasi
11.30 WIB Mengkaji pernafasan DS: Keluarga klien P: Hentikan intervensi
klien mengatakan klien sering
batuk
DO: Klien batuk terus
Heryuni menerus Heryuni
Klien nampak kelelahan
Suara nafas ronchi
Nafas dangkal dan cepat: 35
x/menit
Terpasang Oksigen 2 Lt
/menit
Heryuni

14.30 WIB Mengajarkan klien DS: klien mengatakan lebih


melakukan nafas dalam lega setelah nafas dalam
DO: Klien mampu
melakukan nafas dalam
dengan benar

Distia
Distia

Selasa, 30- Memantau keadaan DS: -


12-2014 umum dan tanda-tanda DO: KU : compos mentis
09.30 WIB vital TD : 110/70 mmHg
Nadi : 89 x/menit
RR : 23 x/menit
Suhu: 35,9 oC
Distia

Distia

11.00 WIB Mengkaji pernafasan DS: Keluarga klien


klien mengatakan klien masih
sering batuk
DO: Klien nampak batuk
Suara nafas vesikuler
Respirasi: 23x/menit
Heryuni Terpasang Oksigen 2
L/menit
Heryuni

14. 30 WIB Mengajarkan klien batuk DS: Klien engatakan merasa


efektif lebih nyaman dan lega
setelah batuk
DO: Sputum berwarna
kejauan, klien
melakukanbatuk efektif
Distia dengan benar

Distia

Rabu, 31-12- Mengobservasi keadaan DS: -


2014 umum dan TTV DO: KU : compos mentis
06.00 WIB TD : 110/80 mmHg
Nadi : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu: 36,5 oC

Heryuni
Heryuni

15.00 WIB Mendampingi klien DS: Klien merasa lebih lega


melakukan batuk efektif DO: Sputum berwarna
kehijauan, klien melakukan
batuk efektif dengan benar

16.10 WIB Mengkaji pernafasan DS: klien merasa lebih


klien enakan tapi masih batuk
namun berkurang
DO: Frekuensi nafas 20
x/menit
Distia Suara nafas vesikuler

Distia

2. Ketidakefektifan Senin 29 Mengbservasi pola nafas DS:- DS: Klien mengatakan


pola nafas Desember klien DO: Nafas cepat dangkal, pernafasannya lebih
2014 cepat nyaman, tidak sesak lagi
12.30 WIB Respirasi 35 x/menit. DO: suara nafas
Terdapat penggunaan otot vaskuler, kedalaan nafas
pernafasan tabahan. dala batas normal
Heryuni Ekspansi dada tidak TD : 110/80 mmHg
maksimal Nadi : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu: 36,5 oC
Heryuni A: Ketidakefektifan
pola nafas teratasi
13.00 WIB Mengatur posisi klien DS: Klien mengatakan P: Hentikan intervensi
semi fowler merasa lebih nyaman setelah
diposisikan setengah duduk
DO: Klien nampak lebih
rileks, pernafasan klien 28
x/menit
Distia
Distia
Distia

Selasa, 30- Mengajarkan klien pola


12-2014 nafas efektif DS: Klien mengatakan
08.30 WIB nafasnya lebih enakan
DO: Nafas klien sudah tidak
tersengal, nafas dalam, RR
Distia 23 x/ menit.

Distia

Rabu, 31-12- Mengobservasi pola DS: Klien mengatakan


2014 nafas klien keadaannya sudah membaik.
08.00 WIB Keluarga klien mengatakan
sejak tadi malam 21.00 WIB
klien sudah tidak
Heryuni menggunakan oksigen lagi
DO: RR 20x/menit, nafas
klien tidak tersengal, fase
inspirasi sama dengan fase
ekspirasi.
Heryuni
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan data pengkajian terhadap Ny. Sdengan diagnosa medis


bronchopneumonia didapatkan diagnose keperawatan:
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi
sputum ditandai dengan
DS:
a. Klien mengatakan batuk sudah bertahun-tahun
b. Klien mengatakan dahak susah keluar
DO:
a. Bunyi nafas ronchi
b. Batuk tidak efektif
c. TTV: TD:100/70 mmHg
Nadi 108 x/menit
Suhu 36,8oC
RR 40x/menit
d. Klien kesulitan berbicara
e. Klien nampak gelisah
f. Hasil rontgen thorax: infeksi spesifik, lama, duplex, curiga active, dengan
traping pleural effuse kanan
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan dispneu ditandai dengan
DS: Klien mengatakan sesak nafas
DO:
a. Nafas dangkal
b. Ekspansi dada tidak maksimal
c. Frekuensi nafas 35x/menit

Semua diagnosa tersebut mampu teratasi dengan analisa sebagai berikut;


1. Rabu, 31 Desember 2014, klien mengatakan kadang-kadang masih batuk. Dahak
berwarna putih bening kadang kehijauan, RR 20x/menit, TD 110/80 mmHg, Nadi 84
x/menit, Suhu: 36,5oC. Masalah sebagian teratasi disebabkan karena usia klien yang
sudah lansia dank arena klien mengidap broncho pneumonia kronis selama 6 tahun
terakhir.
2. Rabu, 31 Desember 2014, klien mengatakan pernafasannya lebih nyaman, tidak sesak
lagi, suara nafas vaskuler, kedalaan nafas dala batas normal TD : 110/80 mmHg,
Nadi : 84 x/menit, RR : 20 x/menit, Suhu: 36,5 oC. Ketidakefektifan pola nafas
teratasi