Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar belakang

Bimbingan dan konseling merupakan salah satu bidang pelayanan yang perlu
dilaksanakan di dalam program pendidikan. Kebutuhan akan bimbingan dan
konseling sangat berpengaruh oleh faktor psikologis, sosiologis, kultural dan
pedagogis.

Faktor psikologis berkaitan erat dengan proses perkembangan manusia yang


sifatnya unik, berbeda dari individu lain. Implikasi dari keragaman ini ialah bahwa
individu memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih dan mengembangkan
diri sesuai dengan keunikan atau tiap-tiap potensi. Dari sisi keunikan dan keragaman
individu, diperlukan bimbingan untuk mencapai perkembangan yang sehat di dalam
lingkungannya.

Kehidupan sosial budaya suatu masyarakat adalah sistem


terbuka. Keterbukaan ini mendorong terjadinya pertumbuhan, pergeseran dan
perubahan nilai dalam masyarakat yang akan mewarnai cara berpikir dan perilaku
individu. Bimbingan konseling membantu individu memelihara, memperhalus dan
memaknai nilai sebagai landasan dan arah pengembangan diri.

2. Rumusan masalah
Masalah yang dirumuskan dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut :
2.1. Apa yang dimaksud dengan bimbingan dan konseling?
2.2. Apa persamaan dan perbedaan antara bimbingan dan konseling?
2.3. Bagaimana latar belakang psikologis, sosial budaya, dan paedagogis
dari bimbingan dan konseling?

3. Tujuan penulisan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
3.1. Mengetahui pengertian bimbingan dan konseling
3.2. Mengetahui persamaan dan perbedaan antara bimbingan dan
konseling
3.3. Mengetahui latar belakang psikologis, sosial budaya, dan paedagogis
dari bimbingan dan kosenling
BAB II

PEMBAHASAN

1. Latar belakang perlunya bimbingan konseling


1.1. Latar belakang psikologis
dalam proses pendidikan di sekolah, siswa sebagai subjek didik merupakan
pribadi-pribadi yang unik dengan segala karakteristiknya. Siswa sebagai individu
yang dinamis dan berada dalam proses perkembangan memiliki kebutuhn dan
dinamika dalam interaksinya dengan lingkungannya. Sebagai pribadi yang unik,
terdapat perbedaan individual antara siswa yang satu dengan yang lain nya. Di
samping itu, siswa sebagai pelajar senantiasa terjadi adanya perubahan tingkah
laku sebagai hasil pross belajar.
hal tersebut di atas, merupakan beberapa aspek psikologis dalam pendidikan
yang bersumber dari siswa sebagai subyek didik, dan dapat menimbulkan
berbagai masalah. Timbulnya masalah-masalah psikologis menuntut adanya
upaya pemecahan melalui layanan bimbingan dan konseling. Berikut ini akan
diuraikan mengenai beberapa masalah psikologis yang merupakan latar belakang
perlunya bimbingan dan konseling di sekolah.
1.1.1. Masalah perkembangan individu

Sejak individu terbentuk sebagi suatu organism, yaitu pada masa


konsepsi yang terjadi di dalam kandungan ibu, individu terus tumbuh dan
berkembang. Proses ini berlangsung terus hingga individu mengakhiri
hayatnya. Proses pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung sangat
cepat terutama nampak sejak lahir yaitu pada masa kanak-kanak, masa
sekolah, masa pemuda, dan masa permulaan dewasa. Tujuan proses
pertumbuhan dan perkembangan adalah mencapai kedewasaan yang sempurna
secara optimal.

Proses perkembangan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam


diri individu maupun dari luar. Dari dalam dipengaruhi oleh faktor bawaan
dan kematangan sedangkan dari luar dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Perkembangan akan menjadi bik kalau faktor-faktor tersebut saling
mendukung dan saling melengkapi. Oleh karena itu haruus ada asuhan yang
terarah. Adapun asuhan dengan melalui belajar sering disebut pendidikan.

Pendidikan sebagai salah satu bentuk lingkungan, bertanggung jawa


dalam memberikan asuhan terhadap perkembangan individu. Bimbingan dan
konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada individu di dalam
memperoleh penyesuaian diri sesuai dengan tingkat perkembangannya. Dalam
konsepsi tentang tugas-tugas perkembangan dikatakan bahwa setiap periode
tertentu terdapat tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan. Berhasil
tidaknya individu dalam menyelesaikan tugas-tugas tersebut akan
berpengaruh bagi perkembangan selanjutnya dalam penyesuaian dirinya di
dalam masyarakat. Melalui layanan bimbngan dan konseling, siswa dibantu
agar dapat mencapai tugas-tugas prkembangan dengan baik.

Dilihat dari prses dan fase perkembangannya, para siswa berada pada
fase masa remaja. Masa ini ditandai dengan berbagai perubahan meuju kea
rah tercapainya kematangan dalam berbagai aspek seperti biologis, intelekual,
emosional, nilai-nilai hidup dan sebagainya.

Para siswa berada pada masa transisi dari akhir masa kanak-kanak dan
memasuki masa remaja sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Dalam
rentangan masa transisi ini siswa akan mengalami berbagai goncangan yang
akan mempengaruhi proses belajar mereka di sekolah.

Mengingat hal tersebut di atas, maka sekola mempunyai peranan yang


penting dalam membantu siwa untuk mencapai taraf perkembangan melalui
pemenuhan tugas-tugas perkembangan secara optimal. Pelayanan bimbingan
dan konseling merupakan komponen pendidikan yang secara khusus dapat
membantu siswa dalam proses perkembangannya.

1.1.2. Masalah perbedaan individu

Keunikan dari individu mengandung arti bahwa tidak ada dua orang
individu yang sama persis di dalam aspek-aspek pribadinya, baik aspek
jasmaniah dan rohaniah. Individu yang satu berbeda dari individu yang
lainnya. Timbulnya individu ini dapat kita kembalikan kepada faktor
pembawaan dan lingkungan sebagai komponen utama bagi terbentuknya
individu meskipun dengan lingkungan yang sama. Sebaliknya lingkungan
yang berbeda akan memungkinkan timbuulnya perbedaan individu meskipun
pembawaannya sama.

Di sekolah sering kali tampak masalah perbedaan individu ini, misalnya


ada siswa yang sangat cepat dan ada lambat belajar. Kenyataan ini akan
membawa konsekuensi bagi pelayanan pendidikan khususnya yang
menyangkut bahan ajar, metode belajar, alat-alat belajar, penilaian, dan
pelayanan lainnya. Di samping itu perbedaan-perbedaan ini sering kali banyak
menimbulkan masalah-masalah baiik bagi siswa itu sendiri maupun bagi
lingkungan. Siswa akan menghadapi kesulitan dalam penyesuaian diri antara
keunikan dirinya dengan tuntutan dalam lingkungannya. Hal ini disebabkan
karena pada umumnya layanan program pendidikan memberikan pelayanan
atas dasar ukuran-ukuran umum atau rata-rata.

Mengingat bahwa yang menjadi tujuan pendiidikan adalah


perkembangan yang optimal dari setiap indivdu, maka masalh perbedaan
individu ini perlu mendapat perhatian dalam pelayanan pendidikan. Sekolah
hendaknya memberikan bantuan kepada siswa dalam menghadapi masalh-
msalah sehubungan dengan perbedaan individu. Dengan kata lain sekolah
dengan keunikan masing-masing. Usaha meayani siswa secara individual ini
dapat diselenggarakan melalui program bimbingan dan konseling. Dengan
demikian keunikan dari masing-masing siswa itu tidak akan begitu banyak
menimbulkan masalah yang menghambat mereka dalam seluruh proses
pedidikannya.

Beberapa aspek perbedaan individual yang perlu mendapat perhatian


ialah perbedaan dalam hal-hal sebagai berikut : kecerdasan, kecakapan, hasil
belajar, bakat, sikap, kebiasaan, pengetahuan, kepribadian, cita-cita,
kebutuhan, minat, pola-pola dan temp perkembangan, ciri-ciri jasmaniah, latar
belakang keluarga(lingkungan). Dengan mengetahui data tentang perbedaan-
perbedaan tersebut diatas mempunyai manfaat yang sangat besar bagi usaha
bantuan yang diberikan kepada siswa.

1.1.3. Masalah kebutuhan individu

Kebutuhan merupakan dasar timulnya tinkah laku individu. Individu


beringkah laku karena dorongan untuk memenuhi kebutuhannya. Pemenuhan
kebutuhan ini sifatnya mendasar bagi kelangsungan hidup individu itu sendiri.
Jika individu berhasil dalam memeuhi kebutuhannya, maka kegiatan beajar
pada hakekatnya merupaakan perwujudan usaha pemenuhan kebutuhan
tersebut. Sekola hendaknya menyadari hal tersebuut, baik dalam mengena
kebutuhan diri siswa maupun dalam memberikan bantuan yang sebaik-
baiknya dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut. Seperti telah dikatakan
diatas, kegagalan dalam memenuhi kebutuhan ini akan banyak menimbulkan
masalah bagi dirinya.

Pada umumnya secara pesikologis dikenal ada dua jnis kebutuhan dalam
diri individu yaitu kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial/psikologis.
Beberapa kebutuhan-kebutuhan yang harus kita perhatikan seperti yng
dikemukakan oleh maslow mencakup kebutuhan: fisiologis, rasa aman, cinta
dan dicintai, harga diri, dan aktualisasi diri.

1.1.4. Masalah penyesuaian diri

Dalam proses pemenuhan kebutuhan dirinya, individu dituntut mampu


menyesuaikan antara kebutuhan dengan segala kemungkinan yang ada dalam
lingkungannya. Pada kenyataanya proses penyesuaian diri ini banyak sekali
menimbulkan berbagai masalah terutama bagi diri individu itu sendiri.

Dalam hal ini sekolah hendaknya memberikan bantuan agar setiap siswa
dapat menyesuaikan diri dengan baik dan terhindar dari timbulnya gejala-
gejala salah suai. Gejala-gejala salah suai biasanya ditunjukkan dalam bentuk
tingkah laku yang kurang wajar atau sering disebut bentuk kelainan tingkah
lauku. Bentuk-bentuk tingkah laku yang dimaksudkan isalnya agresif, rasa
rendah diri, bandel, minta perhatian, membolos, mencuru, dan lain
sebagainya. Mereka yang menunjukkan kelainan tingkah laku, pada
umumnya mempunyai kecenderungan gagal dalam proses pndidikannya. Oleh
karena itu diperlukan usaha nyata untuk menanggulangi gejala-gejala tersebut.
Di sinilah peranan bimbingan dan konseling.

1.1.5. Masalah belajar

Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar merupkan


perbuatan inti. Dalam perbuatan belajar dapat timbu brbagai masalah baik
bagi dr pelajar maupun pengajar (guru). Beberapa masalah belajar siswa,
misalnya pegatura waktu belajar, memilih cara belajar yang efektif,
mempersiapkan ujian atau ulangan, cara memusatkan perhatian (konsentrasi)
belajar, cara belajar kelompok, dan lain sebagainya.

Sekolah merupakan tanggung jawab yang bear dalam membantu siswa


agar mereka berhasil dalam belajar. Untuuk itu hendaknya sekolah meberikan
bantuan kepada siswa dalam mengatasi masalah-masalah yng timbul dalam
kegiatan belajar. Disinilah letak pentingnya program bimbingan dan konseling
untuk membantu mereka dalam keberhasilan belajar.

1.2. Landasan Sosial Budaya

Kebudayaan akan bimbingan timbul karena terdapat faktor yang menambah


rumitnya keadaan masyarakat dimana individu itu hidup. Faktor-faktor tersebut
seperti perubahan kontelasi keuangan, perkembagan pendidikan, dunia-dunia
kerja, perkembangan komunikasi dll.
MC Daniel memandang setiap anak, sejak lahirnya harus memenuhi tidak
hanya tuntutan biologisnya, tepapi juga tuntutan budaya ditempat ia hidup,
tuntutan Budaya itu menghendaki agar ia mengembangkan tingkah lakunya
sehingga sesuai dengan pola-pola yang dapat diterima dalam budaya tersebut.

Tolbert memandang bahwa organisasi sosial, lembaga keagamaan,


kemasyarakatan, pribadi, dan keluarga, politik dan masyarakat secara menyeluruh
memberikan pengaruh yang kuat terhadap sikap, kesempatan dan pola hidup
warganya. Unsur-unsur budaya yang ditawarkan oleh organisasi dan budaya
lembaga-lembaga tersebut mempengaruhi apa yang dilakukan dan dipikirkan oleh
individu, tingkat pendidikan yang ingin dicapainya, tujuan-tujuan dan jenis-jenis
pekerjaan yang dipilihnya, rekreasinya dan kelompok-kelompok yang
dimasukinya.

Bimbingan konseling harus mempertimbangkan aspek sosial budaya dalam


pelayanannya agar menghasilkan pelayanan yang lebih efektif.

Perbedaan dalam latar belakang ras atau etnik, kelas sosial ekonomi
dan pola bahasa menimbulkan masalah dalam hubungan konseling.

Beberapa Hipotesis yang dikemukakan Pedersen dkk (1976) tentang


berbagai aspek konseling budaya antara lain:

a) Makin besar kesamaan harapan tentang tujuan konseling antara


budaya pada diri konselor dan klien maka konseling akan berhasil
b) Makin besar kesamaan pemohonan tentang ketergantungan,
komunikasi terbuka, maka makin efektif konseling tersebut
c) Makin sederhana harapan yang diinginkan oleh klien maka makin
berhasil konseling tersebut
d) Makin bersifat personal, penuh suasana emosional suasana konseling
antar budaya makin memudahkan konselor memahami klien.
e) Keefektifan konseling antara budaya tergantung pada kesensitifan
konselor terhadap proses komunikasi
f) Keefektifan konseling akan meningkat jika ada latihan khusus serta
pemahaman terhadap permasalahan hidup yang sesuai dengan budaya
tersebut.
g) Makin klien kurang memahami proses konseling makin perlu konselor
/program konseling antara budaya memberikan pengarahan tentang
proses ketrampilan berkomunikasi, pengambilan keputusan dan
transfer.