Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Baja merupakan material yang sering digunakan dan dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari. Baja terdiri dari berbagai macam unsur. Baja tersebut digunakan di berbagai
macam kondisi lingkungan, salah satunya lingkungan yang korosif. Untuk mengurangi
degradasi material akibat lingkungan korosif maka diciptakan baja tahan karat dengan unsur
Cr yang tinggi. Dan secara umum untuk baja tahan karat yang paling kuat terhadap
lingkungan korosif adalah baja tahan karat austenitik dan dengan strukturmikro austenit.
Baja tahan karat austenitik banyak dipakai pada media korosif. Hal ini karena jenis
baja ini lebih tahan terhadap serangan korosi dibandingkan jenis lain. Pada kondisi larutan
padat jenuh (saturated solid solution), bahan ini lebih aman dipakai. Namun, bila sebelum
digunakan bahan ini mengalami proses perlakuan panas, seperti pengelasan, pembentukan
yang kurang sempurna, maka akan terjadi perubahan struktur mikro yang dapat menurunkan
ketahanan korosi. (ASM, 1972)
Perlakuan panas atau heat treatment adalah salah satu metode yang digunakan untuk
memperbaiki sifat-sifat dari material. Proses heat treatment sendiri pada dasarnya dilakukan
dengan memanaskan material sampai pada temperatur tertentu (biasanya sampai temperatur
austenisasi), lalu menahannya pada temperatur tersebut, kemudian mendinginkannya dengan
laju pendinginan tertentu. Struktur mikro yang didapatkan di akhir proses heat treatment akan
mempengaruhi sifat yang didapatkan. Sedangkan terbentuknya struktur mikro ini selain
dipengaruhi oleh komposisi kimia dari material juga dipengaruhi oleh proses heat treatment
yang diterima dan kondisi awal material tersebut.
Dari proses heat treatment yang dilakukan, khususnya pada baja tahan karat austenitik
304, akan dihasilkan perubahan struktur mikro dari baja tahan karat tersebut, yang akan
mempengaruhi pada sifat mekanik dari suatu baja tahan karat SS 304. Maka dari itu dianggap
perlu untuk melakukan praktikum solution treatment pada stainless steel. Sehingga dapat
mengetahui pengaruh proses solution treatment terhadap strukturmikro dan sifat mekanik
pada austenitic stainless steel.

I.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan masalah sebagi berikut
1. Bagaimana pengaruh proses solution treatment terhadap strukturmikro pada austenitic
stainless steel?
2. Bagaimana pengaruh proses solution treatment terhadap sifat mekanik pada austenitic
stainless steel?

I.3 Tujuan Percobaan


Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini adalah
1. Untuk mengetahui pengaruh proses solution treatment terhadap strukturmikro pada
austenitic stainless steel.
2. Untuk mengetahui pengaruh proses solution treatment terhadap sifat mekanik pada
austenitic stainless steel.

BAB II
1
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Stainless Steel


Stainless steel merupakan baja paduan yang mengandung sedikitnya 11,% krom
berdasar beratnya. Stainless steel memiliki sifat tidak mudah terkorosi sebagaimana logam
baja yang lain. Stainless steel berbeda dari baja biasa dari kandungan kromnya. Baja karbon
akan terkorosi ketika diekspos pada udara yang lembab. Besi oksida yang terbentuk bersifat
aktif dan akan mempercepat korosi dengan adanya pembentukan oksida besi yang lebih
banyak lagi. Stainless steel memiliki persentase jumlah krom yang memadahi sehingga akan
membentuk suatu lapisan pasif kromium oksida yang akan mencegah terjadinya korosi lebih
lanjut.
Untuk memperoleh ketahanan yang tinggi terhadap oksidasi biasanya dilakukan
dengan menambahkan krom sebanyak 13 hingga 26 persen. Lapisan pasif chromium(III)
oxide (Cr2O3) yang terbentuk merupakan lapisan yang sangat tipis dan tidak kasat mata,
sehingga tidak akan mengganggu penampilan dari stainless steel itu sendiri. Dari sifatnya
yang tahan terhadap air dan udara ini, stainless steel tidak memerlukan suatu perlindungan
logam yang khusus karena lapisan pasif tipis ini akan cepat terbentuk kembali katika
mengalami suatu goresan. Peristiwa ini biasa disebut dengan pasivasi, yang dapat dijumpai
pula pada logam lain misalnya aluminium dan titanium.
Ada berbagai macam jenis dari stainless steel. Ketika nikel ditambahkan sebagai
campuran, maka stainless steel akan berkurang kegetasannya pada suhu rendah. Apabila
diinginkan sifat mekanik yang lebih kuat dan keras, maka dibutuhkan penambahan karbon.
Sejumlah unsur mangan juga telah digunakan sebagai campuran dalam stainless steel.
Stainless steel juga dapat dibedakan berdasarkan struktur kristalnya menjadi: austenitic
stainless steel, ferritic stainless steel, martensitic stainless steel, precipitation-hardening
stainless steel, dan duplex stainless steel (Sumarji, 2011).

II.2 Stainless Steel Tipe 304


Baja paduan SS 304 merupakan jenis baja tahan karat austenitic stainless steel yang
memiliki komposisi 0,042% C, 1,19% Mn, 0,034% P, 0,006% S, 0,049% Si, 18.24% Cr,
8,15% Ni, dan sisanya Fe. Beberapa sifat mekanik yang dimiliki baja karbon tipe 304 ini
antara lain: kekuatan tarik 646 Mpa, yield strength 270 Mpa, elongation 50%, kekerasan 82
HRB. Stainless steel tipe 304 merupakan jenis baja tahan karat yang serbaguna. dan paling
banyak digunakan.
Komposisi kimia, kekuatan mekanik, kemampuan las dan ketahanan korosinya sangat
baik dengan harga yang relative terjangkau. Stainless steel tipe 304 ini banyak digunakan
dalam dunia industri maupun skala kecil. Penggunaannya antara lain untuk: tanki dan
container untuk berbagai macam cairan dan padatan, peralatan pertambangan, kimia,
makanan, dan industri farmasi. (Surdia, 1992)

II.3 Solution treatment


Proses solution treatment merupakan proses pemnasan paduan sampai melewati garis
solvus dan berada pada fasa . Kemudian paduan ditahan pada temperatur tersebut untuk
beberapa saat. Selanjutnya paduan tersebut diberikan perlakuan quench, yaitu menurunkan
dengan cepat temperatur paduan tersebut. Paduan tersebut dicelupkan pada air garam atau oli.

2
Solution treatment dapat dilakukan pada media udara, oli atau tungku garam. Media
oli (200 300C) dan garam (300 500 C) memiliki keuntungan daripada media udara
dalam hal keseragaman temperatur prosesnya, tetapi dari segi kemudahan proses dan
pencapaian temperaturnya yang tinggi, media udara lebih banyak digunakan.
Solution treatment dilakukan untuk mendapatkan fasa tunggal yang sesuai dan stabil.
Berdasarkan diagram fasanya, fasa yang stabil adalah fasa . Sebagai ilustrasi, rentang
temperatur stabil untuk paduan 4wt% Cu adalah antara 500 550 C, maka agar terjadi proses
difusi unsur paduan ke dalam matriksnya (sebagai syarat untuk merubah struktur mikro),
paduan tersebut harus mengalami solution treatment di antara temperatur tersebut.
Pada solution treatment, paduan dipanaskan hingga membentuk larutan padat
sempurna (yaitu wilayah fasa tunggal pada diagram fasa). Kondisi fasa matriks pada
temperatur ini memungkinkan elemen-elemen paduan berdifusi ke dalam matriks induknya
dan terdistribusi dengan sendirinya secara merata. Komposisi yang terjadi disebut sebagai
larutan padat. Larutan padat kemudian didinginkan dengan cepat (quench) hingga mencapai
temperatur kamar. Setelah diquench, atom-atom yang terlarut akan tetap terdistribusi merata
dalam larutan padat lewat jenuh (supersaturated solid solution) yang memiliki sifat sangat
lunak dan ulet.
II.4 Heat Treatment
Proses perlakuan panas (Heat Treatment) adalah suatu proses mengubah sifat logam
dengan cara mengubah struktur mikro melalui proses pemanasan dan pengaturan kecepatan
pendinginan dengan atau tanpa merubah komposisi kimia logam yang bersangkutan. Tujuan
proses perlakuan panas untuk menghasilkan sifat-sifat logam yang diinginkan. Perubahan sifat
logam akibat proses perlakuan panas dapat mencakup keseluruhan bagian dari logam atau
sebagian dari logam.
Adanya sifat alotropik dari besi menyebabkan timbulnya variasi struktur mikro dari
berbagai jenis logam. Alotropik itu sendiri adalah merupakan transformasi dari satu bentuk
susunan atom (sel satuan) ke bentuk susunan atom yang lain. Pada temperatur dibawah 9100
C sel satuannya Body Center Cubic (BCC), temperatur antara 910 oC dan 1392oC sel
satuannya Face Center Cubic (FCC) sedangkan temperatur diatas 1392oC sel satuannya
kembali menjadi BCC. Proses perlakuan panas ada dua kategori, yaitu :
1. Softening (Pelunakan): Adalah usaha untuk menurunkan sifat mekanik agar menjadi
lunak dengan cara mendinginkan material yang sudah dipanaskan didalam tungku
(annealing) atau mendinginkan dalam udara terbuka (normalizing).
2. Hardening (Pengerasan): Adalah usaha untuk meningkatkan sifat material terutama
kekerasan dengan cara selup cepat (quenching) material yang sudah dipanaskan ke
dalam suatu media quenching berupa air, air garam, maupun oli. Berikut adalah macam-
macam proses Heat Treatment yang biasanya dilakukan.
1. Hardening
Hardening adalah perlakuan panas terhadap logam dengan sasaran meningkatkan
kekerasan alami logam. Perlakuan panas menuntut pemanasan benda kerja menuju suhu
pengerasan, jangka waktu penghentian yang memadai pada suhu pengerasan dan pendinginan
(pengejutan) berikutnya secara cepat dengan kecepatan pendinginan kritis. Akibat pengejutan
dingin dari daerah suhu pengerasan ini, dicapailah suatu keadaan paksaan bagi struktur baja
yang merangsang kekerasan, oleh karena itu maka proses pengerasan ini disebut pengerasan
kejut. Karena logam menjadi keras melalui peralihan wujud struktur, maka perlakuan panas
ini disebut juga pengerasan alih wujud. Kekerasan yang dicapai pada kecepatan pendinginan
kritis (martensit) ini diringi kerapuhan yang besar dan tegangan pengejutan, karena itu pada
3
umumnya dilakukan pemanasan kembali menuju suhu tertentu dengan pendinginan lambat.
Kekerasan tertinggi (66-68 HRC) yang dapat dicapai dengan pengerasan kejut suatu baja,
pertama bergantung pada kandungan zat arang, kedua tebal benda kerja mempunya pengaruh
terhadap kekerasan karena dampak kejutan membutuhkan beberapa waktu untuk menembus
ke sebelah dalam, dengan demikian maka kekerasan menurun kearah inti.
2. Tempering
Perlakuan untuk menghilangkan tegangan dalam dan menguatkan baja dari kerapuhan
disebut dengan memudakan (tempering). Tempering didefinisikan sebagai proses pemanasan
logam setelah dikeraskan pada temperatur tempering (di bawah suhu kritis), yang dilanjutkan
dengan proses pendinginan. Baja yang telah dikeraskan bersifat rapuh dan tidak cocok untuk
digunakan, melalui proses tempering kekerasan dan kerapuhan dapat diturunkan sampai
memenuhi persyaratan penggunaan. Kekerasan turun, kekuatan tarik akan turun pula sedang
keuletan dan ketangguhan baja akan meningkat. Meskipun proses ini menghasilkan baja yang
lebih lunak, proses ini berbeda dengan proses anil (annealing) karena sifat-sifat fisis dapat
dikendalikan dengan cermat. Pada suhu 200C sampai 300C laju difusi lambat hanya
sebagian kecil. karbon dibebaskan, hasilnya sebagian struktur tetap keras tetapi mulai
kehilangan kerapuhannya. Di antara suhu 500C dan 600C difusi berlangsung lebih cepat,
dan atom karbon yang berdifusi di antara atom besi dapat membentuk cementit.
3. Anealing
Anealing adalah perlakuan panas logam dengan pendinginan yang lambat berfungsi untuk
memindahkan tekanan internal atau untuk mengurangi dan menyuling struktur kristal
(melibatkan pemanasan di atas temperatur kritis bagian atas). logam dipanaskansekitar 25oC
di atas temperatur kritis bagian atas, ditahan dalam beberapa waktu, kemudian didinginkan
pelan-pelan di tungku perapian. Proses ini digunakan untuk memindahkan tekanan internal
penuh sebagai hasil proses pendinginan. Berikutnya pendinginan logam diatur kembali di
dalam sama benar untuk menurunkan energi bentuk wujud, tegangan yang baru dibebaskan
dibentuk dan pertumbuhan butir dukung. Tujuannya untuk menghilangkan internal stress pada
logam dan untuk menghaluskan grain (batas butir) dari atom logam, serta mengurangi
kekerasan, sehingga menjadi lebih ulet.
Annealing terdiri dari 3 proses yaitu :
a. Fase recovery
Fase recovery adalah hasil dari pelunakan logam melalui pelepasan cacat kristal (tipe
utama dimana cacat linear disebut dislokasi) dan tegangan dalam.
b. Fase rekristalisasi
Fase rekristalisasi adalah fase dimana butir nucleate baru dan tumbuh untuk
menggantikan cacat- cacat oleh tegangan dalam
c. Fase grain growth (tumbuhnya butir)
Fase grain growth (tumbuhnya butir) adalah fase dimana mikrostruktur mulai menjadi
kasar dan menyebabkan logam tidak terlalu memuaskan untuk proses pemesinan.
4. Normalizing
Normalizing adalah perlakuan panas logam di sekitar 40 oC di atas batas kritis logam,
kemudian di tahan pada temperatur tersebut untuk masa waktu yang cukup dan dilanjutkan
dengan pendinginnan pada udara terbuka. Pada proses pendinginan ini temperatur logam
terjaga untuk sementara waktu sekitar 2 menit per mm dari ketebalan-nya hingga temperatur
spesimen sama dengan temperatur ruangan, dan struktur yang diperoleh dalam proses ini

4
diantaranya perlit (eutectoid), perlit brown ferrite (hypoeutectoid) atau perlit brown
cementite (hypereutectoid). Normalizing digunakan untuk menyuling struktur butir dan
menciptakan suatu austenite yang lebih homogen ketika baja dipanaskan kembali.

BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1 Diagram Alir Percobaan

Mulai
5
Preparasi Alat dan
Bahan

Melakukan
Percobaan Stainless

Menganalisis Strutur Mikro

Menguji Kekerasan

Analisis Data

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alir

III.2 Alat dan Bahan


1. Amplas grade 802000
2. Kikir
3. Furnace
4. Larutan carpenter
5. Oli
6. Sarung tangan tahan panas
7. Sarung tangan lateks
8. Masker
9. Larutan etsa
10. Mikroskop optik
11. SS 304

III.3Langkah Percobaan
1. Melakukan preparasi spesimen dengan ukuran diameter 1 inchi dan tebal 1 inchi.
2. Menyalakan furnace dan menunggu temperatur furnace sampai 800C.
3. Memasukkan spesimen ke dalam furnace dan melakukan holding selama 45 menit.
4. Mengeluarkan spesimen dan mendinginkan spesimen dengan cepat menggunakan media
oli.
5. Menganalisis struktur mikro.
6. Melakukan uji kekerasan.

6
7. Membandingkan kekerasan dari material yang dianneal dan diquench.

III.4 Metode Percobaan


1 2

3 4

5 6

Gambar 3.2 Skema


Percobaan
Keterangan :
1. Melakukan preparasi specimen
2. Memanaskan furnace hingga temperature 800oC
3. Memasukkan specimen ke dalam furnace dan holding specimen selama 45 menit
4. Setelah holding, lalu mengeluarkan specimen dan melakukan quenching di dalam oli
5. Lalu menganalisa struktur mikro
6. Melakukan uji hardness

7
BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

IV.1 Analisa Data


IV.1.1 Data Hasil Percobaan
Tabel 4.1 Hasil Percobaan SS
Materia Temperatur Holding Struktur Mikro Kekerasa
l Awal Akhir Time Awal Akhir n (HV)
Martensit
Austenit Austenit
SS 304 25oC 800oC 45 menit 195,2
Kromniu
m karbida

IV.1.2 Struktur Mikro

a.

8
Austenite

Karbida

b.

Austenit

Kromnium
Karbida
Martensit
Gambar 4.1 Strukmikro SS 304 (a) Sebelum (b) Sesudah Perlakuan Panas 50x
Berdasarkan gambar 4.1 didapatkan bahwa struktur mikro sebelum dilakukan
perlakuan panas, SS 304 memiliki fasa austenit dan karbida. Sedangkan sesudah dilakukan
perlakuan dengan dipanaskan 800oC selama 45 menit lalu didinginkan cepat dengan media
oli, SS 304 mengalami perubahan struktur mikro yaitu terbentuk fasa martensit, austenit dan
kromnnium karbida. (Koekoeh, 2007)

IV.1.3 Kekerasan
Tabel 4.2 Hasil Uji Kekerasan
No Kekerasan (HV)
Titik
. Awal Akhir
1. a 172 203
2. b 200 196
3. c 194 198
4. d 199 189
5. e 170 190
Rata-Rata 187 195,2

IV.2 Pembahasan

9
Pada penelitian ini digunakan material baja tahan karat austenitik SS 304 yang
memiliki komposisi kimia 0,042% C, 1,19% Mn, 0,034% P, 0,006% S, 0,049% Si, 18,24%
Cr, 8,15% Ni, dan sisanya Fe. (Surdia, 1992) Kemudian material tersebut dilakukan perlakuan
panas dengan di masukkan ke dalam furnace sampai temperatur 800oC selama 45 menit.
Setelah itu material didinginkan cepat dengan dimasukkan ke dalam media oli. Selanjutnya
menganalisa struktur mikro yang sebelumnya permukaan material di amplas dan setelahnya di
polish. Setelah itu dilakukan pengetsaan dengan etsa carpenters yang kemudian dilihat
struktur mikronya.
Penggunaan temperatur akhir 800oC dikarenakan pada temperatur tersebut merupakan
temperatur sensitisasi. Pada temperatur sensitisasi terjadi perubahan struktur mikro pada
material baja tahan karat austenitik yaitu adanya endapan krom karbida (Cr 23C6) pada batas
butir yang mengakibatkan daerah disekitar batas butir kekurangan krom bebas sehingga akan
mudah terserang korosi karena tidak terbentuknya lapisan pelindung krom oksida (Cr2O3).
(Anwar, 2009)
Secara fisik dan morfologi tidak ada perbedaan signifikan antara baja tahan karat SS
304 yang belum atau telah dilakukan perlakuan panas. Setelah dilakukan preparasi baik
sebelum dan sesudah perlakuan panas diberikan, permukaan dari material tetap berwarna abu-
abu metalic. Namun, terdapat perbedaan struktur mikro antara sebelum dan sesudah perlakuan
panas. Struktur mikro dari baja tahan karat SS 304 pada temperatur kamar memiliki fasa
austenit dan karbida yang ditunjukkan oleh gambar 4.2. Sedangkan struktur mikro dari baja
tahan karat SS 304 setelah dipanaskan 800oc selama 45 menit dan kemudian didinginkan
cepat dengan media oli didaptkan fasa martensit, austenit dan kromnium karbida. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh (Suparjo dan Purnomo 2012) fasa dari struktur mikro baja
tahan karat SS 304 yaitu terdiri dari martensit, austenit dan kromnium karbida. Hasil ini
bersesuaian dengan hasil yang didapat dari penelitian yang dilakukan. Oleh karena itu dengan
adanya perubahan fasa tersebut ketahanan korosi dari baja tahan karat SS 304 akan berkurang.
Baja tahan karat SS 304 tidak mengalami peningkatan nilai kekerasan yang tinggi.
Dari hasil percobaan yang didapatkan, nilai kekerasan sebelum dilakukan perlakuan panas
pada titik a yang berada ditepi permukaan sebesar 172 HV, pada titik b sebesar 200 HV, pada
titik c sebesar 194 HV, pada titik d sebesar 199 HV serta pada titik e yang berada ditengah
permukaan sebesar 174 HV dengan rata-rata nilai kekerasan sebesar 187 HV. Sedangkan nilai
kekerasan pada baja tahan karat SS 304 setelah dilakukan perlakuan panas pada titik a yang
berada ditepi permukaan sebesar 203 HV, pada titik b sebesar 196 HV, pada titik c sebesar 198
HV, pada titik d sebesar 189 HV serta pada titik e yang berada ditengah permukaan sebesar
190 HV dengan rata-rata nilai kekerasan sebesar 195,2 HV. Berdasarkan hasil percobaan
antara sebelum dan sesudah perlakuan panas tidak mengalami perubahan nilai kekerasan yang
cukup tinggi. Hal ini disesbabkan karena baja tahan karat SS 304 tidak dapat dikeraskan
dengan cara perlakukan panas tetapi dapat dikeraskan dengan cara pengerjaan dingin. (Surdia,
1992)

10
BAB V
KESIMPULAN

V.I Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah
1. Fasa yang terbentuk dari baja tahan karat SS 304 sebelum dilakukan proses
pendinginan cepat dengan media oli adalah fasa austenite dan karbida.
2. Fasa yang terbentuk dari baja tahan karat SS 304 setelah dilakukan proses pendinginan
cepat dengan media oli adalah martensit, austenit dan kromnium karbida.
3. Sifat mekanik baja tahan karat SS 304 setelah proses pendinginan cepat dengan media
oli adalah mengalami peningkatan kekerasan yang tidak signifikan dari 187 HV
(sebelum perlakuan panas) menjadi 195,2 HV (setelah perlakuan panas) karena sifat
dari baja tahan karat SS 304 yang tidak dapat dikeraskan melalui proses perlakuan
panas serta ketahanan korosinya menurun karena terbentuknya kromnium karbida.

V.2 Saran

11
Penulis menyarankan bahwa pada saat proses pemanasan temperatur yang diberikan
harus tepat 800oC. Pada penelitian yang dilakukan temperatur yang diberikan tidak tetap,
melainkan temperatur naik turun. Selain itu, material uji memiliki dimensi yang belum sesuia.
Sehingga diharapkan praktikum selanjutyna dilakukan dengan lebih teliti dan sesuai prosedur
agar didapat hasil yang tidak berbeda dengan teori yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

_____________ , 1972, ASM Metals Hand Book Comitte Atlas Of Microstructures Industrial
Alloys, Volume 7, Edisi Ke-8, Metals Park, Ohio.
B. Anwar, P. Kristina, dan T. Sujitno. 2009. Pengamatan Struktur Mikro pada Korosi Antar
Butir dari Material Baja Tahan Karat Austenitik setelah Mengalami Proses Pemanasan.
JFN. 3 (2) : 107-130.
R. Koekoeh K Wibowo,, SENTA (2007) Pengaruh Proses Perlakuan Panas Pada Baja AISI
304 Terhadap Kekerasan Dan Laju Korosi Dalam Media HCl (35%).
Sumarji. 2011. Studi Perbandingan Ketahanan Korosi Stainless Steel Tipe SS 304 dan SS 201
menggunakan Metode U-Bend Test secara Siklik dengan Variasi Suhu dan pH. Jurnal
ROTOR, 9(1): 2.
Suparjo dan Purnomo. 2012. VARIASI TEMPERATUR PEMANASAN PADA PROSES
PERLAKUAN PANAS TERHADAP KEKERASAN DENGAN MATERIAL SS
304L. Jurnal ITATS Vol: 16 no 2.
Surdia, T., Saito, S. 1992. Pengetahuan Bahan Tehnik, cetakan kedua. PT. Pradnya Paramita.
Jakarta.

12