Anda di halaman 1dari 6

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

ASEA BROWN BOVERI

Disusun oleh:

KELOMPOK 9

Erico Nugroho (14)

Niken Purbasari (27)

Stefanny Wanna Wijaya (34)

PPA BCA 37
Asea Brown Boveri

Asea Brown Boveri (ABB) merupakan hasil merger dari dua perusahaan raksasa
peralatan elektronik di Eropa, yaitu Asea AB (Swedia) dan BBC Brown Boveri Ltd.
(Switzerland). Asea Brown Boveri sendiri adalah perusahaan yang bergerak di bidang
industri elektroteknikal yang menjadi pesaing terbesar di dunia dalam menghasilkan,
mentranmisi, dan mendistribusikan energi. Selain itu, perusahaan tersebut juga mampu
menjadi pemimpin supplier sistem proses otomatis, robotik, dan lokomotif berkecepatan
tinggi, serta peralatan pengendalian polusi dan lingkungan di dunia. Dengan adanya
merger ini, maka 65.000 karyawan Asea akan bergabung dengan 85.000 karyawan BBC
untuk menciptakan sebuah perusahaan yang terdiri dari 850 perusahaan yang terpisah
secara hukum yang beroperasi di 140 negara. Perusahaan Asea Brown Boveri dipimpin
oleh Percy Barnevik (selaku presiden dan CEO) dan Thomas Gasser (selaku wakil
CEO).

Setelah peleburan perusahaan Asea AB dan BBC Brown Boveri Ltd. pada
tanggal 10 Agustus 1987 menjadi perusahaan baru yang bernama Asea Brown Boveri.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah penetapan struktur organisasi. Struktur
organisasi merupakan bagian dasar dari suatu organisasi yang bertujuan untuk
memfasilitasi arus kerja dan memfokuskan perhatian karyawannya pada bidangnya
masing-masing. Dalam kasus ini, Barnevik memilih 5 manajer kunci dari masing-
masing perusahaan untuk membentuk kelompok kerja tingkat tinggi yang
beranggotakan 10 orang. Selanjutnya, kelompok tersebut akan dipecah menjadi bagian -
bagian yang lebih kecil untuk menganalisis bagaimana cara terbaik untuk
menggabungkan kedua perusahaan itu. Kemudian, dilakukan pemilihan manajemen
kunci dengan sistem cross-interview anggota Asea dan BBC dan membuat rekomendasi
dari sekitar 500 manajer senior. Hal ini dilakukan agar pemilihan manajemen kunci
tersebut dinilai adil (dalam artian tidak memihak salah satu perusahaan).

Pembentukan struktur organisasi juga diikuti dengan penentuan tujuan dan


prioritas dari perusahaan itu sehingga terdapat arahan yang jelas tentang apa yang ingin
dicapai. Dalam kasus ini, Barnevik memulai suatu program besar untuk
mengkomunikasikan arah dan prioritas dari perusahaan Asea Brown Boveri. Barnevik
mengumpulkan 300 manajernya untuk menjelaskan filosofi manajemen, kebijakan
operasi, dan untuk menentukan target perusahaan. Meskipun suatu organisasi telah
memiliki suatu tujuan dan arah yang jelas, namun tanpa adanya suatu sistem pelaporan
yang seragam, maka akan sulit bagi manajer di dalam mengambil keputusan. Kesulitan
ini timbul karena sistem pelaporan yang berbeda juga akan menghasilkan informasi
yang berbeda pula dan belum tentu akurat serta tepat waktu. Sehingga diciptakanlah
suatu sistem pelaporan seragam yang disebut dengan Abacus. Perusahaan juga harus
menganalisis biaya manufacturing di seluruh pasar untuk kemudian mengambil langkah
terkait dengan meningkatkan skala ekonomis dan cakupannya dengan mendesain pabrik
tertentu sebagai sumber produksi yang terspesialisasi bagi sebagian besar produk di
seluruh dunia.Tidak hanya itu saja, mereka juga harus mampu mencari cara
penghematan biaya lain, seperti outsourcing, pemotongan biaya overhead, dan
pengurangan persediaan.

Di dalam mengatur perusahaan baru diperlukan 2 prinsip berikut, yaitu


desentralisasi tanggung jawab dan akuntabilitas tiap individu. Desentralisasi ini
menguntungkan bagi perusahaan yang membutuhkan pembuatan strategi yang cepat,
dan respon yang cepat kepada konsumen dan pasar. Organisasi yang terdesentralisasi
adalah unit bisnis yang berbasis pasar, yaitu para pekerjanya langsung berinteraksi
dengan konsumen dan pasar. Desentralisasi juga didesain untuk organisasi yang
mempunyai cakupan luas. Dalam kasus ini, desentralisasi yang diterapkan oleh
perusahaan Asea Brown Boveri terbagi menjadi 2 bagian, yaitu berdasarkan area bisnis
dan regional. Desentralisasi pada tahap regional, diantaranya adalah profitabilitas dan
hasil regional, hubungan dengan pemerintah lokal, komunitas, dan serikat pekerja.
Sedangkan, desentralisasi pada tingkat area bisnis, diantaranya adalah profitabilitas dan
hasil seluruh dunia, akuisisi, dan divestasi, koordinasi pembelian.
Sedangkan, akuntabilitas individual mendeskripsikan bahwa jarak dari
pengukuran kinerja yang digunakan untuk mengevaluasi pencapaian manajer. Cakupan
dari akuntabilitas ini mendefinisikan laporan keuangan sebagai akuntabilitas dari
manajer.

Strategi yang digunakan oleh perusahaan Asea Brown Boveri adalah low cost/
cost leadership. Hal ini terlihat dari adanya efisiensi yang diterapkan oleh perusahaan
ini sehingga mampu menekan biaya operasional yang ada. Efisiensi/ penghematan biaya
yang dilakukan oleh perusahaan, diantaranya dengan melakukan outsourcing,
pemotongan biaya overhead, dan pengurangan persediaan sehingga mampu mengurangi
carrying cost yang ada. Dengan adanya efisiensi itu, maka perusahaan Asea Brown
Boveri mampu menyediakan produknya dengan harga yang lebih murah dibanding
pesaingnya. Pada umumnya, perusahaan yang dapat menerapkan strategi low cost
adalah perusahaan yang telah berhasil menjadi market leader. Dalam kasus ini,
perusahaan Asea Brown Boveri berhasil menjadi market leader di dalam industri
peralatan listrik di Eropa (melalui proses akuisisi dan modal ventura) sehingga
perusahaan ini memiliki pangsa pasar dan jumlah produksi yang besar. Jumlah produksi
yang besar tersebut tentunya akan membuat biaya produksi per unitnya menjadi lebih
kecil.

Dengan menggunakan analisis industri dari Porter, maka dapat ditentukan


keunggulan bersaing dari perusahaan Asea Brown Boveri. Analisis pertama yaitu
berkaitan dengan intensitas persaingan diantara kompetitor kompetitor yang ada.
Intensitas persaingan diantara kompetitor kompetitor yang ada dapat dikatakan cukup
tinggi sebab perusahaan di dalam industri ini memiliki fixed cost yang cukup besar
untuk menunjang kegiatan operasinya. Fixed cost tersebut muncul dari biaya yang
berkaitan dengan pabrik tersebut, diantaranya adalah investasi terhadap gedung dan
peralatan peralatannya. Analisis kedua berkaitan dengan kemampuan tawar menawar
dari pelanggan. Perlu diketahui bahwa industri perusahaan Asea Brown Boveri ini
termasuk ke dalam pasar oligopoli karena jumlah penjualnya yang sedikit. Kemampuan
tawar menawar di dalam industri ini dapat dikatakan cukup tinggi karena jumlah
penjualnya yang sedikit sehingga memungkinkan bagi para penjual untuk melakukan
perang harga demi menarik konsumen. Dengan adanya perang harga ini, maka
pelanggan mampu dengan mudah berpindah dari satu produsen ke produsen lainnya.

Sedangkan, analisis ketiga berkaitan dengan kemampuan tawar menawar dari


pemasok. Kemampuang tawar menawar dari pemasok juga tinggi karena jumlah
pemasok yang ada terbatas sehingga memungkinkan bagi para pemasok untuk
menetapkan harga yang tinggi. Analisis keempat terkait dengan ancaman dari produk
pengganti (substitusi). Ancaman dari produk pengganti di dalam industri ini juga cukup
tinggi karena banyaknya produk lain yang sejenis dengan harga yang relatif sama. Dan
analisis kelima berkaitan dengan ancaman dari pesaing baru. Ancaman dari pesaing baru
di dalam industri ini rendah karena untuk masuk ke dalam industri ini diperlukan modal
yang tidaklah sedikit dan tentunya memerlukan perizinan yang berbelit terkait dengan
pabrik, dsb.
Pencapaian yang baik pastinya dikarenakan adanya perencanaan dan penerapan
strategi yang baik, serta didukung dengan adanya sistem kontrol yang baik pula.
Kontrol manajemen adalah salah satu dari alat yang digunakan oleh manajer untuk
mengimplementasikan strategi. Pengimplementasian strategi tersebut juga dilakukan
terhadap struktur dari organisasi itu sendiri, manajemen sumber daya, serta budayanya.
Dari segi struktur organisasi, struktur organisasi perusahaan Asea Brown Boveri adalah
berbentuk Matrix Organization yang tercemin dari adanya dua dimensi, antara lain
tanggung jawab antar regional dan area bisnis.

Sedangkan, dari segi budaya, perusahaan Asea Brown Boveri selalu berusaha
untuk menerapkan kebiasaan untuk cepat di dalam pengambilan keputusan. Hal ini
diilustrasikan dengan lebih baik benar tujuh dari sepuluh, tetapi cepat dalam
pengambilan keputusan daripada benar semua, tetapi pengambilan keputusannya lama.
Dari segi manajemen sumber daya, perusahan Asea Brown Boveri menetapkan
beberapa kriteria bagi pekerja tingkat atas di dalam perusahaan tersebut. Kriteria yang
harus dimiliki oleh pegawai - pegawainya tersebut, antara lain harus berani di dalam
mengambil risiko (risk taker), harus mampu menjadi leader (bukan boss), dan harus
mampu bekerja di dalam sebuah tim, serta harus mampu memotivasi bawahannya.
Dengan adanya strategi yang baik dan didukung dengan implementasi strategi yang baik
pula, sehingga Asea Brown Boveri mampu menghasilkan performa yang baik dan
mampu bersaing di industri peralatan listrik Amerika.