Anda di halaman 1dari 29

PARASITEMIA DAN DIFERENSIAL LEUKOSIT AKIBAT

INFEKSI PARASIT DARAH PADA KERBAU (Bubalus bubalis)


DI KABUPATEN BOGOR

CHAN WHAIY LII

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT HEWAN DAN KESEHATAN


MASYARAKAT VETERINER
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Parasitemia Akibat Infeksi
Parasit Darah Pada Kerbau (Bubalus bubalis) di Kabupaten Bogor adalah benar karya
saya denganarahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun
kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari
karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan
dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Juli 2016

Chan Whaiy Lii


NIM B04128019
ABSTRAK
CHAN WHAIY LII. Parasitemia dan Diferensial Leukosit Akibat Infeksi Parasit Darah
Pada Kerbau (Bubalus bubalis) di Kabupaten Bogor. Dibimbing oleh UMI
CAHYANINGSIH dan HERA MAHESHWARI.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis parasit darah yang menyerang
kerbau (Bubalus bubalis), persentase parasit darah, tingkat parasitemia berdasarkan
diferensial leukosit pada kerbau di kabupaten Bogor. Sampel darah dikoleksi dari 14
ekor kerbau dengan menggunakan metode ulas darah. Sampel diwarnai dengan Giemsa
10% dan diamati menggunakan perbesaran 1000x. Parasitemia dihitung tiap 500 butir
sel darah merah. Hasil menunjukkan kerbau terinfeksi oleh Anaplasma sp., Theileria
sp., dan Babesia sp. Tingkat parasitemia tertinggi disebabkan oleh infeksi Theileria sp.
43%, infeksi Anaplasma sp. 36%, double infections 7% (Anaplasma sp., Theileria sp.),
dan (Theileria sp., Babesia sp..), sedangkan persentase terendah disebabkan oleh triple
infections 7% (Anaplasma sp., Theileria sp., Babesia sp.). Tingkat parasitemia pada
infeksi tunggal Anaplasma sp. dan Theileria sp. menunjukkan berbeda nyata (P<0.05)
namun tingkat parasitemia pada kerbau masih termasuk dalam tingkat keparahan
penyakit yang ringan. Diferensial leukosit menunjukkan perbedaan tiap masing-masing
infeksi. Peningkatan rataan limfosit yang tinggi terjadi pada double infections
(Anaplasma sp., Theileria sp.) dan (Theileria sp., Babesia sp.) sedangkan peningkatan
rataan neutrofil terjadi pada triple infections (Anaplasma sp., Theileria sp., Babesia sp.).
Berdasarkan infeksi tunggal Anaplasma sp. dan Theileria sp., rataan eosinofil
menunjukkan berbeda nyata (P<0.05).

ABSTRACT
CHAN WHAIY LII. The parasitemia and the leukocyte differential consequence of
blood parasites infection in buffaloes (Bubalus bubalis) at Bogor. Supervised by UMI
CAHYANINGSIH and HERA MAHESHWARI.

ThePARASITEMIA
aim was to identifiy DAN the DIFERENSIAL
type of blood parasites that attackAKIBAT
LEUKOSIT in buffaloes
(Bubalus bubalis),
INFEKSI to determine
PARASIT blood parasites
DARAH PADApercentage,
KERBAUparasitemia
(Bubalus rate based on
bubalis)
the leukocyte differential of the buffaloes in Bogor. The Blood samples were collected
from 14 buffaloes using blood DI KABUPATEN BOGOR
smear method. Samples were processed in glass slide,
stained with Giemsa 10% and were observed using a microscope with 1000x
magnification. The parasitaemia were counted for every 500 red blood cells. The result
showed buffaloes infections were caused by Anaplasma sp., Theileria sp, and Babesia sp.
The highest parasitemia rate was caused by the infection of Theileria sp. which was 43%,
followed by the infection of Anaplasma sp. which was 36%, 7% of double infections which
were (Anaplasma sp., Theileria sp.), (Theileria sp., Babesia sp..), and the triple infections
7% (Anaplasma sp., Theileria sp., Babesia sp.). Although the parasitemia rate of the single
infection Anaplasma sp. and Theileria sp. showed significant differences (P<0.05), hence,
the buffaloes are still in the severity of mild diseases. The leukocyte differential showed the
differences in every infection. The double infections (Anaplasma sp., Theileria sp.) and
(Theileria sp., Babesia sp.) had the highest lymphocyte count whereas the triple infections
(Anaplasma sp., Theileria sp., Babesia sp.) had the highest neutrophil count. The
significant differences of the eosinophil count was showed on the single infections
Anaplasma sp. and Theileria sp.

Skripsi Keywords:
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Anaplasma
Sarjana Kedokteran Hewan sp.,
pada coinfection,
Fakultas Kedokteran Hewan differential
leucocyte, blood parasite, parasitaemia

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
Judul Skripsi : Parasitemia dan Differensial Leukosit Akibat Infeksi Parasit Darah
pada Kerbau (Bubalus bubalis) di Kabupaten Bogor
Nama : Chan Whaiy Lii
NIM : B04128019

Disetujui oleh

Prof Dr Drh Hj Umi Cahyaningsih, MS Dr Drh Hera Maheshwari. M.Sc, AIF


Pembimbing I Pembimbing II

Diketahui oleh

Prof Drh Agus Setiyono, MS, PhD, APVet


Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKH-IPB

Tanggal Lulus :
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam
penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2016 ini dengan judul Parasitemia dan
Diferensial Leukosit Akibat Infeksi Parasit Darah pada Kerbau (Bubalus bubalis) di
Kabupaten Bogor.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Prof Dr Drh Umi Cahyaningsih, MS dan Dr
DrhHera Maheshwari, MSc selaku pembimbing skripsi atas segala bimbingan dan
dorongan yang telah diberikan selama penelitian dan penulisan skripsi ini.Di samping
itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepadakakak kelas Rizal Arifin Akbari yang
telah banyak memberi bimbingan dan saran selama penelitian.Selain itu, penghargaan
penulis sampaikan kepada Dr Drh Savitri Novelina, MSi selaku dosen pembimbing
akademik yang telah membimbing penulis selama menjadi mahasiswa di Fakultas
Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada bapak saya Chan Yong Kok dan
ibu saya Wong Sui Lan serta seluruh keluarga atas segala dukungan dan doa yang
diberikan. Selanjutnya, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dian Anggraeni,
Noer Firmansyah dan Tommy Fernandes yang selalu membantu dan mendukung penulis
untuk bersemangat.
Semoga skripsi ini bermanfaat untuk pembaca.

Bogor, Juli 2016

Chan Whaiy Lii


DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 2
TINJAUAN PUSTAKA 2
Darah 4
Leukosit 4
Tipe leukosit 5
Limfosit 5
Monosit 5
Neutrofil 6
Eosinofil 6
Basofil 7
Parasit Darah 8
Babesia sp. 8
Anaplasma sp. 8
Theleria sp. 9
METODE 9
Waktu dan Tempat Penelitian 9
Hewan Coba 10
Alat dan Bahan 10
Pengambilan Darah 11
Pewarnaan Preparat Ulas Darah 11
Pemeriksaan Parasit Darah dan Perhitungan Diferensial Leukosit 11
Pengolahan Data 11
HASIL DAN PEMBAHASAN 12
Persentase dan Tingkat Parasitemia Parasit Darah 12
Diferensial Leukosit 14
SIMPULAN DAN SARAN 17
Simpulan 17
Saran 17
DAFTAR PUSTAKA 17
LAMPIRAN 22
RIWAYAT HIDUP 23
DAFTAR TABEL

1 Tingkat Persentase dan Parasitemia Parasit Darah 12


Rataan Persentase Neutrofil, Limfosit, Monosit, Eosinofil dan Basofil yang
Terinfeksi Parasit Darah 1
2

DAFTAR GAMBAR

1 Kerbau Lumpur 4
2 Kerbau Murrah 4
3 Limfosit 5
4 Monosit 5
5 Neutrofil 6
6 Eosinofil 6
7 Basofil 7
8 Babesia sp. 8
9 Anaplasma sp. 9
10 Theileria sp. 10
11 Anaplasma sp. 13
12 Babesia sp. 14
13 Theileria sp. 14
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kerbau merupakan hewan ruminansia yang mudah beradaptasi dengan baik pada
iklim tropis, dan dapat dimanfaatkan sebagai kerbau penghasil daging, susu dan hewan
kerja. Saat ini populasi ternak kerbau di Indonesia adalah 1 321 000 ekor (BPS 2014).
Penyebaran populasi kerbau di Indonesia tidak merata, sebagian besar berada di pulau
Sumatera (52.7%), pulau Jawa (30.7%) dan sisanya tersebar di berbagai pulau (Ditjen
PKH 2014).
Gangguan kesehatan pada kerbau secara langsung akan mempengaruhi produksi
daging. Salah satu penyakit ternak yang dapat menyerang kerbau adalah parasit darah,
seperti Anaplasma sp., Theileria sp, dan Babesia sp. Parasit-parasit tersebut dapat
menyebabkan hewan mengalami anemia, penurunan berat badan, penurunan daya kerja,
dan penurunan daya reproduksi. Hal tersebut tentunya akan menyebabkan kerugian
ekonomi bagi peternak (Nasution 2007).
Penyebaran parasit darah Anaplasma sp., Theileria sp., dan Babesia sp.
dipengaruhi oleh keberadaan caplak (Zajac dan Conboy 2013) dan kondisi geografis,
iklim, manajemen peternakan, serta sosial ekonomi di daerah tersebut. Menurut World
Organisation for Animal Health (OIE) 2015, anaplasmosis telah menyebar hampir di
seluruh Asia Tenggara yaitu Myanmar, Nepal, India, Bangladesh, Malaysia dan
Thailand. Babesiosis telah menyebar di Myanmar dan Nepal sedangkan theileriosis
menyebar di Nepal.
Hewan yang terserang parasit, secara alami tubuhnya akan membentuk kekebalan,
salah satu yang berperan dalam kekebalan tubuh adalah sel darah putih atau leukosit
(Ardhiyanto 2015). Leukosit berfungsi melindungi tubuh dari masuknya
mikroorganisme asing yang dapat menimbulkan penyakit. Leukosit berjumlah lebih
sedikit dibandingkan sel darah merah. Leukosit terdiri atas limfosit, monosit, neutrofil,
eosinofil dan basofil. Jenis leukosit memiliki peran masing-masing dalam
mengeliminasi mikroorganisme asing di dalam tubuh, termasuk parasit darah (Guyton
dan Hall 2006). Diferensial leukosit berfungsi untuk menghitung jumlah masing-masing
jenis leukosit yang berada dalam darah dan mendeteksi adanya sel abnormal, infeksi,
inflamasi atau gangguan sistem imun (Ross 2015).

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis parasit darah yang


menginfeksi kerbau lumpur, mengetahui tingkat parasitemia dan diferensial leukosit
pada kerbau lumpur di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi landasan ilmiah untuk penyusunan


program pengendalian parasit darah pada kerbau lumpur di Kabupaten Bogor, Jawa
Barat.
TINJAUAN PUSTAKA

Kerbau

Berdasarkan hasil pencacahan pada Mei 2013, populasi sapi dan kerbau di Jawa
Barat turun sekitar 15% (persen) dari 587.284 ekor. Kepala Bidang Stastistik Produksi
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Ruslan mengatakan, Saat ini, Bogor menjadi
daerah yang memiliki populasi sapi dan kerbau terbanyak di Jabar (BPS 2013).
Kerbau adalah hewan ruminansia yang termasuk lembu disamping ternak sapi
(lembu sejati). Kerbau dibedakan dengan sapi karena kerbau dianggap sebagai bentuk
yang paling primitif ditinjau dari tengkoraknya. Kerbau tergolong ke dalam sub famili
Bovinae yang berkembang di berbagai dunia dan diduga berasal dari India (Bahri dan
Talib 2007).
Ternak kerbau dapat berfungsi sebagai ternak perah dan penghasil daging. Kerbau
sungai dikenal sebagai kerbau perah dan dimanfaatkan sebagai penghasil susu karena
produksi susu lebih tinggi dibanding kerbau lumpur, sedangkan kerbau lumpur
digunakan sebagai penghasil daging karena memiliki pertumbuhan tubuh yang lebih
cepat (Ardhiyanto 2015).
Menurut Darminto et al. (2009), sebagian besar ternak kerbau di Indonesia adalah
tipe kerbau lumpur dan sisanya dalam jumlah kecil 5% merupakan tipe kerbau sungai.
Populasi kerbau lumpur telah tesebar di beberapa wilayah di Indonesia sedangkan
kerbau sungai tersebar di Sumatera Utara (Ardhiyanto 2015).
Jenis kerbau lumpur (Bubalus bubalis) banyak terdapat di seluruh Indonesia dan
Asia Tenggara. Pada umumnya kerbau lumpur merupakan tipe kerja yang ulet, baik
sebagai pengolah (membajak) sawah maupun sebagai penarik gerobak (pedati) dan
menurut Sunari (2007), kerbau lumpur cocok juga sebagai penghasil daging. Potensi
kerbau lumpur sebagai ternak hasil pedaging adalah karena mempunyai bobot badan
dewasa yang tinggi dan kenaikan berat badan yang sangat baik. Potensi lainnya adalah
berat lahir anak kerbau dapat mencapai 40,94 kg pada jantan dan 39,05 kg pada betina.
Persentase karkas kerbau lumpur yang cukup tinggi juga merupakan salah satu syarat
sebagai kerbau pedaging yaitu antara 32%% 44% (Rukmana 2010).
Peranan ternak kerbau cukup signifikan dalam menunjang program swasembada
daging kerbau tahun 2014, dilihat dari jumlah populasi kerbau sebanyak 2,2 juta ekor
dan dihasilkan produksi daging sebesar 46 ribu ton atau sebesar 2% dari jumlah
produksi daging nasional, sedangkan kontribusi daging kerbau sebesar 19% (Ditjennak
2012).
Kerbau sungai banyak dijumpai di daerah Asia Selatan seperti Pakistan, India, dan
Srilangka dengan jenis utamanya adalah kerbau Murrah yang merupakan penghasil susu
terbaik (Misra 2004). Di Indonesia, kerbau Murrah juga merupakan bangsa kerbau
sungai yang dipelihara oleh masyarakat keturunan India yang berada di Sumatera Utara.
Masyarakat keturunan India memanfaatkan kerbau Murrah sebagai ternak penghasil
susu (Sitorus dan Anggraeni 2008). Kerbau Sungai memiliki produksi yang tinggi, yaitu
68 l/ekor per hari dan kandungan lemak susu 4,13%.Susu kerbau memiliki potensi
yang besar untuk dikembangkan karena kandungan kimia yang lebih tinggi, asam
amino, dan asam lemak yang lebih lengkap jika berbanding dengan susu sapi (JIPI
2014).
Pemeliharaan kerbau pada umumnya dilakukan secara ekstensif dan semi intensif.
Pemeliharaan ekstensif dilakukan dengan cara kerbau-kerbau dilepaskan di padang
pengembalaan dan digembalakan sepanjang hari mulai dari pagi sampai sore hari dan
selanjutnya digiring ke kandang terbuka. Pemeliharaan semi intensif dilakukan dengan
cara pada siang hari kerbau digembalakan di padang pengembalaan kemudian sore
harinya dimasukkan ke dalam kandang dan diberi pakan tambahan (Sugeng, 2000).
Jenis-jenis penyakit parasit darah yang penting di Indonesia adalah babesiosis,
anaplasmosis, dan trypanosomiasis. (Solihat, 2002). Salah satu parasit darah yang
menginfeksi kerbau adalah Babesia sp. Menurut Sukamto et al., (1988), rata-rata
kejadian infeksi parasit Babesia sp. di Indonesia sekitar 95 % dari populasi ternak yang
terdapat di daerah Aceh, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Lampung, Sulawesi
Selatan, dan Sumba (Darma 2015).

Gambar 1 Kerbau Lumpur (Sumber: What Are Water Buffalo. Waterbuffalo Web. 2011)

Gambar 2 Kerbau Murrah (Sumber: 5 Kerbau Perah Terpopuler. Ternak.net. 2015.)

Darah

Dalam sirkulasi darah didapatkan sel darah dan cairan yang disebut plasma. Sel
darah tersebut terdiri dari eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan
trombosit (sel pembeku darah).

Leukosit
Leukosit adalah sel darah putih, bergerak bebas secara ameboid, berfungsi
melawan kuman secara fagositosis dan sebagai pertahanan tubuh untuk melawan benda
asing yang masuk ke dalam tubuh. Leukosit terdiri dari neutrofil, eosinofil, basofil,
monosit, dan limfosit (Guyton dan Hall 2006). Leukosit dalam darah terbagi menjadi 2,
yaitu agranulosit dan granulosit. Agranulosit terdiri dari limfosit dan monosit,
sedangkan granulosit terdiri dari neutrofil, eosinofil, dan basofil.

Tipe Leukosit

Limfosit

Limfosit berukuran kecil dan mempunyai nukleus yang berukuran relatif besar
serta dikelilingi sejumlah sitoplasma (Colville dan Thomas 2008). Limfosit tidak
memiliki granul, dan tidak bersifat fagositik yaitu tidak dapat mencerna partikel asing,
seperti bakteri atau jaringan yang sudah mati. Limfosit berfungsi dalam sistem
pertahanan tubuh dan juga berperan dalam memproduksi antibodi serta memfiksasi
toksin dalam tubuh (Michael 2008).

Gambar 2 Limfosit (Thrall et al. 2012)

Monosit

Monosit tidak bergranul namun ukurannya sangat besar. Sitoplasmanya


berwarna biru ke abu-abuan, intinya berbentuk oval seperti tapal kuda dengan ujung
yang membesar (Colville dan Thomas 2008). Berbeda dengan limfosit, monosit
merupakan sel fagositik. Monosit lebih aktif memfagosit di jaringan dari pada di aliran
darah. Monosit yang masuk dalam jaringan disebut juga dengan makrofag yang
berfungsi mencerna sel-sel yang mati ataupun yang rusak (Ettinger 2010).
Gambar 3 Monosit (Thrall et al. 2012)

Neutrofil

Neutrofil merupakan leukosit yang memiliki granul halus pada sitoplasmanya


dan memiliki inti bergelambir (Colville dan Thomas 2008). Berdasarkan umurnya
neutrofil terbagi dua, yaitu neutrophil dewasa (bersegmen) dan neutrofil muda (band).
Inti sel neutrofil dewasa dibagi atas lobus atau segmen yang dihubungkan oleh filamen.
Sedangkan sel neutrofil muda intinya seperti balok yang berlekuk atau melingkar tanpa
segmentasi (Michael 2008). Neutrofil memiliki fungsi memfagosit partikel asing dan
membunuh bakteri melalui proses hidrolisis enzimatis (Ettinger 2010).

Gambar 4 Neutrofil (Thrall et al. 2012)

Eosinofil

Eosinofil memiliki sitoplasma berwarna biru pucat, inti bersegmen, dan granul
yang berwarna merah hingga jingga. Eosinofil memiliki fungsi yang erat kaitannya
dengan sel mast karena histamin yang dilepaskan sel mast menuju jaringan akan diikuti
oleh eosinofil secara kemotaksis menuju jaringan tersebut. Eosinophil membantu
mengkontrol respon alergi dan reaksi hipersensitivitas anafilaktik (Ettinger 2010).
Gambar 5 Eosinofil (Thrall et al. 2012)

Basofil

Basofil memiliki jumlah yang sangat sedikit dari total jumlah leukosit dalam
aliran darah. Basofil memiliki granul yang berwarna biru namun bentuknya bervariasi
bergantung jenis hewannya. Fungsi basofil adalah melepas mediator untuk aktifitas
pembarahan dan alergi, serta memiliki reseptor untuk IgE dan IgG sehingga
menyebabkan degranulasi melalui eksostosis (Ettinger 2010).

Gambar 6 Basofil (Thrall et al. 2012)

Parasit Darah

Babesia sp.

Babesia sp. merupakan parasit darah yang sering menyebabkan babesiosis pada
ternak sapi dan kerbau (Talkhan et al. 2010). Taksonomi Babesia sp. menurut Bock et
al. (2004) sebagai berikut:
Filum : Apicomplexa
Kelas : Sporozoea
Subkelas : Coccidia
Superordo : Eucoccidea
Ordo : Haemosporidia
Subordo : Aconoidia
Famili : Piroplasmidae
Genus : Babesia
Spesies : Babesia sp.
Gambar 7 Babesia sp. (Phillip et al. 2015 )

Babesia sp. memiliki morfologi berbentuk bulat, oval, piriform, dan


berpasangan dengan ukuran sebesar 1.5 sampai 2.4 m terletek di bagian tengah
eritrosit (Levine 1970). Spesies Babesia sp. yang sering menyerang kerbau adalah B.
bovis, B. bigemina dan B. divergens (Uilenberg 2006).
Siklus hidup Babesia sp. terdiri atas fase aseksual dan fase seksual. Pada fase
aseksual, terjadinya stadium merogoni yaitu perubahan dari sporozoit menjadi tropozoit
di dalam tubuh inang. Fase seksual terjadi di tubuh caplak yang terdiri atas stadium
gametogoni dan sporogoni. Pada fase ini, zigot akan mengalami perkembangan menjadi
ookinet. Ookinet dapat ditularkan ke larva caplak secara transovarial. (Taylor et al.
2007)

Anaplasma sp.

Anaplasma sp. merupakan parasit intraseluler obligat yang hidup dalam eritrosit
(Vatsya 2013). Taksonomi Anaplasma sp. menurut Dumler et al. (2001) sebagai berikut:
Filum : Protobacteri
Kelas : Alpha Protobacteria
Ordo : Rickettsiales
Famili : Anaplasmataceae
Genus : Anaplasma
Spesies : Anaplasma sp.
Gambar 8 Anaplasma sp. (Alicja et al. 2015)

Anaplasma berukuran kecil yaitu 0,3-0,4 m, berbentuk kokoid sampai elips


(Boone et al. 2001). Anaplasma sp. dapat menyebabkan anaplasmosis pada kerbau yang
merupakan penyakit infeksius yang ditularkan pada hewan ternak. Cara penularanya
melalui vektor yaitu caplak Boophilus, Rhipicephalus, Hyalomma, Demacentor dan
Ixodes (Hamou et al. 2012). Lalat penghisap darah genus Tabanus, Stomoxy dan
beberapa spesies nyamuk juga sebagai vektor mekanik Anaplasma sp. (Foley dan
Biberstein 2004) Spesies yang bersifat patogen adalah A. marginale., sedangkan A.
central. tidak bersifat patogen (Kocan et al. 2004). Infeksi Anaplasma sp. biasanya akan
berasamaan dengan Babesia sp. atau Theileria sp. Anaplasma sp. mempunyai masa
inkubasi yang sama dengan Theileria sp. (Tampubolon, 2004). Anaplasma sp.
memperbanyak diri dalam eritrosit dengan cara pembelahan ganda dan membentuk
initial bodies yang bulat (CVBD 2001).

Theileria sp.

Theileria sp. merupakan parasit darah yang berbentuk batang dengan ukuran 1.5-
2.0x0.5-1.0 m (Levine 1995) yang menyebabkan theileriosis. Taksonomi Theileria sp.
berdasarkan Bishop et al. (2004) sebagai berikut:
Filum : Apicomplexa
Kelas : Sporozoea
Subkelas : Coccidia
Superordo : Eucoccidea
Ordo : Haemosporidia
Subordo : Aconoidia
Famili : Piroplasmidae
Genus : Theileria
Spesies : Theirleria sp.
Gambar 9 :Theileria sp. (Chauhan et al. 2015)

Morfologi Theileria sp. berbentuk bulat, koma dan batang dengan ukuran kira-kira
1.5-2.0 m x 0.5-1.0 m (Soulsby 1982). Mikroorganisme ini terdapat pada eritrosit dan
limfosit (Zajac dan Conboy 2013). Jenis Theileria sp. yang patogen pada sapi adalah
Theileria annulata, Theileria bovis, Theileria laurenct dan Theileria parva (Levine,
1992).
Siklus hidup Theileria sp. terdiri dari fase aseksual dan fase seksual. Fase
aseksual terjadi di tubuh inang yang terdiri atas stadium skizogoni dan merogoni.
Stadium skizogoni dan merogoni terjadi di limfosit dan seterusnya menginfeksi sel
darah merah. Fase seksual terjadi di dalam tubuh caplak yang terdiri atas stadium
gametogoni dan sporogoni (Taylor et al. 2007)

METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Pengambilan sampel darah kerbau dilakukan pada bulan Maret tahun 2016 di
Pusat Konservasi Kerbau, Desa Sukaluyu, kecamatan Tamansari, Bogor, Jawa
Barat.Pengamatan sampel dilaksanakan pada pertengahan bulan Maret 2016 sampai
bulan April 2016 di Laboratorium Protozoologi, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan
Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Hewan Coba

Sampel yang diambil berasal dari 14 ekor kerbau (Bubalus bubalis) di Pusat
Konservasi Kerbau, Desa Sukaluyu, Kecamatan Tamansari, Bogor, Jawa Barat.

Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan adalah mikroskop, kaca preparat (obyek gelas),
leukocyte counter, sampel darah, metanol larutan pewarna Giemsa, akuades, minyak
emersi, tisu bersih dan antikoagulan EDTA (Etilen Diamino Tetraacetic Acid).

Pengambilan Darah

Pengambilan darah dilakukan dengan menggunakan disposable syringe 10 ml dan


jarum ukuran 18G sebanyak kurang lebih 3 ml darah dari vena jugularis, kemudian
disimpan di dalam tabung darah bervolume 3 ml yang mengandung Etilen Diamino
Tetraacetic Acid (EDTA).

Pewarnaan Preparat Ulas Darah

Pembuatan preparat ulas darah diawali dengan meneteskan sampel darah pada
satu sisi kaca preparat yang bersih. Kemudian, tetesan darah ditarik horizontal dengan
sisi kaca preparat yang lain. Setelah itu, preparat dikeringkan dan ditambahkan metal
alkohol serta dibiarkan selama 5 menit. Selanjutnya, pewarnaan preparat ulas darah
diwarnai dengan Giemsa 10% dan dibiarkan 30 hingga 45 menit. Kemudian preparat
dicuci dengan aquades dan dikeringkan di udara (Norgan 2013).

Pemeriksaan Parasit Darah dan Perhitungan Diferensial Leukosit

Preparat ulas darah kemudian diamati terhadap ada tidaknya parasit darah
dibawah mikroskop dengan perbesaran 1000x. Pengamatan parasit darah menggunakan
tiga sampai empat lapang pandang. Persentase parasit darah dihitung dengan membagi
jumlah sel yang terdapat parasit darah (Anaplasma sp., Theileria sp.,dan Babesia sp.)
dengan 1000 butir sel darah merah (Alamzan et al. 2008), namun persentase parasit
darah dalam penelitian ini dihitung dengan membagi jumlah sel yang terdapat parasit
darah dengan 500 butir sel darah merah. Diferensial leukosit relatif diperoleh dengan
cara sel leukosit dalam sampel darah tersebut dihitung hingga jumlah total yang teramati
mencapai 100 sel leukosit.

Pengolahan Data

Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif untuk membandingkan jenis


parasitemia terhadap nilai diferensial leukosit. Jenis-jenis leukosit dihitung rataan dan
simpangan baku. Selanjutnya, data dianalisis dengan uji T (t-test) pada taraf nyata
(P<0.05) dengan menggunakan program IBM SPSS statistics 2.0.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Persentase dan Tingkat Parasitemia Parasit Darah

Tabel 1 Tingkat Persentase dan Parasitemia Parasit Darah


Jumlah Sampel Persentase Tingkat Parasitemia
Jenis Parasit Jumlah
Hewan Hewan (%) dari Hewan
Darah Sampel
Terinfeksi Terinfeksi (%) Terinfeksi
A 14 5 36 0.1 0.027a
T 14 6 43 0.2 0.001b
AT 14 1 7 0.2
TB 14 1 7 0.3
ATB 14 1 7 0.4
Total 14 14 100
Keterangan: A: Anaplasma sp., T: Theileria sp.,AT: Anaplasma sp. dan Theileria sp.,
TB:Theileria sp. dan Babesia sp., ATB: Anaplasma sp., Theileria sp., dan Babesia sp.
Huruf superskrip yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan
nyata pada P<0.05.

Berdasarkan pengamatan terhadap 14 sampel darah kerbau secara mikroskopik,


ditemukan infeksi parasit darah pada sampel tersebut. Parasit darah yang teridentifikasi
adalah protozoa yang bersifat intraseluler obligat yaitu, Anaplasama sp., Theileria sp.,
dan Babesia sp.. Sampel yang diamati terdapat 11 sampel positif infeksi tunggal dan 3
sampel positif infeksi gabungan (coinfections). Infeksi parasit darah tunggal Anaplasma
sp., dan Theileria sp. menunjukkan perbedaan nyata (P<0.05). Hal ini kemungkinan
patogenesis infeksi Theileria sp. lebih tinggi daripada infeksi Anaplasma sp. Yusufmia
et al. (2010) juga menyatakan bahwa theileriosis merupakan penyakit infeksius utama
yang sering menyerang ruminansia di negara tropis maupun subtropis.
Tingkat persentase tertinggi disebabkan infeksi tunggal oleh Theileria sp., sebesar
43%, sedangkan tingkat persentase terendah disebabkan oleh infeksi gabungan
(coinfections) yaitu double infections (Anaplasma sp. dan Theileria sp.), (Theileria sp.
dan Babesia sp.) serta triple infections (Anaplasma sp., Theileria sp., dan Babesia sp.)
masing-masing sebesar 7%. Persentase parasit darah dipengaruhi oleh beberapa faktor,
seperti geografis dan keberadaan vektor (Khan et al. 2004). Berdasarkan data Badan
Meteorologi dan Geofisika (BMKG) tahun 2016, Kabupaten Bogor memiliki
temperatur 22 C sampai 31 C dan kelembapan 65% sampai 97%. Keadaan iklim
tersebut akan mempengaruhi populasi caplak sebagai vektor parasit darah.
Selain infeksi tunggal, kerbau juga terinfeksi oleh infeksi gabungan (coinfections)
yang disebabkan oleh lebih dari 1 jenis parasit darah. Infeksi gabungan yang
diidentifikasi terdiri dari 1 sampel positif double infections (Anaplasma sp., Theileria
sp.), 1 sampel positif double infections (Theileria sp., Babesia sp.), serta 1 sampel
positif triple infections (Anaplasma sp., Theileria sp.,Babesia sp.). Anaplasma sp.,
Theileria sp., dan Babesia sp. dapat menginfeksi hewan yang sama karena memiliki
sifat intraselular obligat yang hidup di dalam eritrosit (Ardhiyanto 2015). Kocan et al.
(2000) juga menyatakan bahwa anaplasmosis dan babesiosis sering terjadi pada hewan
yang sama.
Keberadaan vektor dapat meningkatkan tingkat parasitemia pada kerbau karena
vektor mentransmisikan parasit darah ke tubuh inang. Theileria sp., dan Babesia sp.
ditularkan oleh caplak (Dwight 2014), sedangkan penularan Anaplasma sp. dapat
melalui dua vektor, yaitu ditularkan secara biologis oleh caplak dan ditularkan secara
mekanik oleh lalat penghisap darah serta beberapa spesies nyamuk (Direktorat
Kesehatan Hewan 2014). Populasi caplak meningkat pada akhir musim panas dan
puncaknya pada saat curah hujan tinggi (Kementerian Pertanian 2016). Pengambilam
sampel untuk penelitian ini dilakukan pada bulan Maret saat musim penghujan dengan
suhu udara tinggi dan kelembaban yang tinggi sehingga keberadaan caplak meningkat.
Tingginya parasitemia juga dapat dipengaruh oleh pola pemeliharaan kerbau.
Pemeliharaan kerbau merupakan pemeliharaan yang semi intensif yaitu kerbau
dilepaskan di padang pengembalaan sepanjang hari mulai pagi sampai sore hari. Tempat
pengembalaan tersebut hanya terdapat sebuah kolam permandian sehingga mendukung
terjadinya penularan caplak yang terinfeksi antar kerbau karena mandi di kolam yang
sama. Sore hari sebelum kerbau digiring ke kandang, kerbau hanya disemprot dengan
air tanpa disikat setiap hari. Hal ini dapat menyebabkan caplak yang masih menempel di
tubuh kerbau menular ke kerbau yang lain karena berada di kandang terbuka yang sama.
Seterusnya, feses yang tidak segera dibersihkan dapat menyebabkan datangnya lalat
penghisap darah seperti Stomoxys calcitrans yang menjadi vektor penularan parasit
darah. Kerbau yang tidak pernah diberikan repellent caplak misalnya parasitide atau
vaksinasi merupakan faktor penyebab parasitemia karena kepekaan tinggi terhadap
serangan caplak (Direktorat Kesehatan Hewan 2014).

1 m

Anaplasma sp.

1 m

Babesia sp.
1 m
Theileria sp.

Gambar 1.Parasit darah pada kerbau di Kabupaten Bogor.

Diferensial Leukosit

Kerbau yang terinfeksi oleh Anaplasma sp., Theileria sp, dan Babesia sp. akan
menunjukkan respon pertahanan tubuh. Pemeriksaan diferensial leukosit dilakukan
untuk melihat pengaruh infeksi parasit darah terhadap jumlah masing-masing bagian
dari leukosit (neutrofil, limfosit, basofil, eosinofil, dan monosit) sehingga di dapatkan
total keseluruhan 100 sel darah putih.

Tabel 2 Rataan Persentase Neutrofil, Limfosit, Monosit, Eosinofil dan Basofil


Yang Terinfeksi Parasit Darah.
Jenis Rataan Leukosit (%)
N
Parasit Neutrofil Limfosit Monosit Eosinofil Basofil
A 5 23 9.29a 64 17.68 a
1 0.71 a
13 9.13a 0
T 6 16 6.23a 76 7.39 a
1 1.08 a
5 2.27b 0
AT 1 9 89 1 2 0
TB 1 15 83 1 2 0
ATB 1 32 61 1 7 0
Total 14
Keterangan: A: Anaplasma sp., T: Theileria sp.,AT: Anaplasma sp. dan Theileria sp.,
TB:Theileria sp. dan Babesia sp., ATB: Anaplasma sp., Theileria sp., dan Babesia sp.
Huruf superskrip yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan
nyata pada P<0.05.

Hasil pemeriksaan diferensial leukosit menunjukkan adanya perbedaan antara


infeksi tunggal dengan infeksi gabungan namun mayoritas leukosit tidak menunjukkan
perbedaan nyata (P>0.05). Eosinofil berfungsi sebagai respon pertahanan tubuh
terhadap helmintiasis (Weiss dan Wardrop 2010). Rataan eosinofil pada kerbau normal
adalah 4.50.89% (Sabasthin et al. 2012). Peningkatan eosinofil secara signifikan pada
infeksi Anaplasma sp. yaitu sebesar 139.13%. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh
patogenesa Anaplasma sp. yang menyebabkan peningkatan eosinofil (CVBD 2001).
Hasil pengamatan juga menunjukkan peningkatan dari rataan eosinofil normal pada
infeksi Theileria sp. dan triple infections (Anaplasma sp., Theileria sp, ., Babesia sp.)
yaitu masing-masing sebesar 5.02.27% dan 7%. Menurut Kresno (2001), pada saat
terjadi infeksi parasit maka eosinofil akan diproduksi dalam jumlah yang tinggi
kemudian akan bermigrasi menuju jaringan. Hal yang sama juga didapatkan pada
penelitian Theileria sp. oleh Ganguly et al. (2015) yang menunjukkan kerbau
mengalami eosinofilia akibat infeksi Theileria annulata. Peningkatan eosinofil yang
terjadi pada infeksi Theileria sp. tidak terlalu tinggi bahkan masih dalam rataan
eosinofil pada kerbau normal. Hal ini dapat dikarenakan infeksi Theileria sp. masih
berada pada infeksi awal (<1%) dan menyebabkan gangguan produksi sel darah putih di
sumsum tulang. Infeksi double infections (Anaplasma sp., Theileria sp.) dan (Theileria
sp., Babesia sp.) menyebabkan penurunan rataan eosinofil. Hasil yang sama ditemukan
oleh Ardhiyanto (2015), kerbau yang terinfeksi coninfections mengalami eosinopenia.
Limfosit merupakan salah satu tipe leukosit yang berfungsi pada sistem imun
dengan memproduksi antibodi sebagai respon terhadap benda asing yang difagosit
makrofag (Tizard 2000). Infeksi tunggal dan gabungan menunjukkan persentase limfosit
lebih tinggi dibandingkan dengan rataan limfosit normal. Rataan limfosit normal pada
kerbau sebesar 54.01.8% (Sabasthin et al. 2012). Infeksi tunggal Anaplasma sp.
menghasilkan 6417.68 %, dan menunjukkan peningkatan. Hasil yang sama diperoleh
Ashuma et al. (2013) menyatakan 63.33% hewan yang positif anaplasmosis mengalami
leukositosis karena adanya stimulasi organ limfoid. Rataan limfosit pada infeksi
tunggal Theileria sp. sebanyak 767.39 %, ini merupakan jumlah limfosit yang jauh
lebih tinggi dari rataan limfosit kerbau normal. Double infections (Anaplasma sp,
Theileria sp.) dan (Theileria sp., Babesia sp.) serta Triple infections (Anaplasma sp.,
Theileria sp., Babesia sp.) juga menyebabkan jumlah limfosit mengalami peningkatan
diakibatkan infeksi Theileria sp. yang masih awal infeksi dan berada di fase inkubasi
(<1%) yang menyebabkan rataan limfosit meningkat. Hasil yang sama diperoleh
Neamat (2016), kerbau yang terinfeksi Theileria annulata mengalami limfositosis
dikarenakan proliferasi limfosit di dalam organ limfoid dan granulosit sebagai respon
defensif terhadap serangan protozoa (Modi et al. 2015). Selain itu, hasil jumlah rataan
limfosit pada kerbau mengalami peningkatan sama dengan penelitian Mahmmod (2013)
yang menunjukkan kerbau lumpur yang terinfeksi Babesia bovis mengalami limfositosis
akibat respon imun terhadap antigen Babesia bovis. Monosit merupakan sel makrofag
yang belum matang dan mempunyai sedikit kemampuan untuk melawan agen-agen
penyebab infeksi (Sumantri 2009). Rataan monosit pada kerbau normal adalah
2.50.22% (Sabasthin et al. 2012). Mayoritas sampel yang diamati mengalami
penurunan jumlah monosit sehingga rataannya lebih rendah dari jumlah normal
(monositopenia). Hasil ini sesuai dengan penelitian Emarah et al. (2012) dan penelitian
Col (2006), sapi yang terinfeksi Theileria annulata mengalami penurunan rataan
monosit.
Kerbau memiliki rataan neutrofil normal 45.01.7 % (Sabasthin et al. 2012). Hasil
yang diperoleh menunjukkan neutrofil yang lebih rendah dari rataan normal. Penurunan
persentase neutrofil juga terjadi pada hasil penelitian Kocan et al. (2010), yang
menunjukkan terjadinya neutropenia akibat Tick-borne fever (TBF) yang ditularkan oleh
caplak jantan yang terinfeksi Anaplasma sp.. Hasil penelitian tersebut menyatakan
caplak jantan diduga menjadi vektor utama untuk mentransmisi Anaplasma marginale
antara sapi. Selain itu, hasil penelitian Omer et al. (2002) juga menunjukkan sapi Bos
Taurus yang terinfeksi Theileria annulata mengalami neutropenia. Hasil yang sama juga
didapatkan oleh Mahmmod (2013) yang menunjukkan terjadinya penurunan neutrofil
pada kerbau akibat infeksi Babesia bovis walaupun penurunannya tidak signifikan.
Basofil adalah tipe leukosit yang memiliki fungsi sebagai repon terhadap alergi
(Guyton dan Hall 2006). Jumlah basofil akan meningkat apabila terjadi reaksi alergi
atau hipersesitivitas. Rataan basofil pada kerbau normal adalah 0 0.00% (Abd Ellah et
al. 2014). Dari hasil pengamatan basofil tidak ditemukan, hal ini mengindikasikan tidak
adanya reaksi hipersensitivitas atau respon alergi pada kerbau. Hasil yang sama juga di
dapatkan oleh (Sindhu et al. 2015), penelitiannya didapatkan hasil 0% pada rataan
basofil pada tiap sapi yang terinfeksi Anaplasma marginale, serta hasil penelitian
Esmaeilnejad et al. (2012) yang tidak menemukan basofil pada kambing dan domba
yang terinfeksi Babesia ovis.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan pemeriksaan mikroskopik di temukan infeksi parasit darah


Anaplasma sp., Theileria sp, dan Babesia sp. pada kerbau yang di Kabupaten Bogor.
Hasil parasitemia tertinggi adalah triple infections (Anaplasma sp., Theileria sp.,
Babesia sp.), sedangkan parasitemia yang terendah adalah single infections (Anaplasma
sp.). Tingkat parasitemia pada infeksi tunggal Anaplasma sp. dan Theileria sp.
menunjukkan berbeda nyata (P<0.05) namun tingkat parasitemia pada kerbau masih
termasuk dalam tingkat keparahan penyakit yang ringan. Diferensial leukosit
menunjukkan perbedaan tiap masing-masing infeksi. Peningkatan rataan limfosit yang
tinggi terjadi pada double infections (Anaplasma sp., Theileria sp.) dan (Theileria sp.,
Babesia sp.) sedangkan peningkatan rataan neutrofil terjadi pada triple infections
(Anaplasma sp., Theileria sp., Babesia sp.). Berdasarkan infeksi tunggal Anaplasma sp.
dan Theileria sp., rataan eosinofil menunjukkan berbeda nyata (P<0.05).

Saran

Program pencegahan dan pengendalian parasit darah pada kerbau yang di Pusat
Konservasi Kerbau, Kabupaten Bogor diperlukan untuk menghentikan rantai penularan
parasit darah dari caplak dan lalat ke kerbau.Sistem pemeliharaan kerbau harus
dipertingkatkan dengan mengendalikan vektor penularan parasit darah yaitu caplak dan
lalat penghisap darah.

DAFTAR PUSTAKA

Abd Ellah MR, Hamed MI, Ibrahim DRdan Rateb HZ. 2014. Serum biochemical and
haematological reference intervals for waterbuffalo (Bubalus bubalis) heifers.
JSouth Afr VetAssoc. 85(1): 1-7.
Alamzan C, Medrano C, Ortiz M, Fuente JDL. 2008. Genetic diversity of Anaplasma
marginale stains from an outbreak of bovine anaplasmosis in an endemic area.
Veterinary Parasitol. 158(1): 101109.
Ardhiyanto B. 2015. Parasitemia dan diferensial leukosit kerbau perah (Bubalus
bubalis) akibat parasit darah di Kabupaten Tapanuli Utara Sumatera Utara [skripsi].
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Ashuma, Sharma A, Singla LD, Kaur P, Bal MS, Batth BK, Juyal PD. 2013.
Prevalence and haemato-biochemical profile of Anaplasma marginale infection in
dairy animal of Punjab (India). Asian Pacific Journal of Tropical Medicine. 139
144.
Bahri, Sjamsul, Talib C. 2007. Strategi Pengembangan Pembibitan Ternak Kerbau.
Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau.Pusat
Penelitian dan Pengembangan Peternakan Bogor.
Bishop R, Musoke A, Morzaria S, Gardner M, Nene V. 2004. Theileria: intracellular
protozoan parasites of wild and domestic ruminants transmitted by Ixodid ticks.
Parasitology. 129(1): 271283.
[BMKG] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2015. Prakiraan Cuaca
provinsi Jawa Barat [Internet]. [diunduh 2016 April 25]. Tersedia pada:
http://bogor.jabar.bmkg.go.id/prakiraan-curah-hujan-dan-sifatnya-untuk
bulan-maret-2016-di-jawa-barat/
Bock R, Jackson L, De Vos A, Jorgensen W. 2004. Babesiosis of cattle. Parasitology.
129(1):247269.
Boone DR, Richard WC, George MG. 2001. Bergey`s Manual of Systematic
Bacteriology. New York (US): Springer.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2014. Populasi Ternak Tahun 2000-2014. Jakarta (ID):
Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.
Colville T, Thomas P. 2008 Clinical Anatomy and Physiology for Veterinary
Technicians. Missouri (USA): Mosby.
[CVBD] Companion Vector-Borne Diseases. 2001. Anaplasmosis. [Internet]. [diunduh
2016 Juli 30]. Tersedia pada: http://www.cvbd.org/en/tick-borne-
diseases/anaplasmosis/pathogenesis-and-transmission/
Darma. 2015. Deteksi parasitemia darah babesia sp. pada sapi Bali di Kelurahan
Lalabata Rilau Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng [skripsi]. Makasar (ID):
Universitas Hasanuddin Makassar.
Darminto, Triwulanningsih E, Anggraeni A, Widiawati Y. 2009. Aplikasi inovasi
teknologi peternakan untuk meningkatkan produktivitas kerbau lokal. Bogor (ID):
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. 1324.
Direktorat Kesehatan Hewan. 2014. Manual Penyakit Hewan Mamalia. Jakarta (ID) :
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian.
Ditjen PKH. 2014. Statistik Peternakan 2014. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal
Peternakan dan Kesehatan Hewan RI.
DITJENNAK. 2012. Pedoman Teknis Pengembangan Perbibitan Kerbau Tahun 2012.
Jakatta (ID): Direktorat Jenderal Peternakan Deptan.
Dumler JS, Barbet AF, Bekker CPJ, Dasch GA, Palmer GH, Ray SC, Rikihisa Y,
Rurangirwa FR. 2001. Reorganization of the genera in the families
Rickettsiaceae and Anaplasmataceae in the order Rickettsiales: unification of
some species of Ehrlichia with Anaplasma, Cowdria with Ehrlichia and Ehrlichia
with Neorickettsia, descriptions of six new species combinations and designation of
Ehrlichia equi and HGE agent as subjective synonyms of Ehrlichia
phagocytophila. International Journal of Systematic and Evolutionary of
Microbiology. 51(1):21452165.
Dwight DB. 2014. Georgis Parasitology for Veterinarians. 8th ed. Pennsylvania (US):
Elsevier.
Esmaeilnejad B, Tavassoli M, Asri-razaei S. 2012. Investigation of hematological and
biochemical parameters in small ruminants naturally infected with Babesia ovis.
Veterinary Research Forum. 3(1): 31-36
Ettinger SJ. 2010. Textbook of Veterinary Internal Medicine. Philadhelpia (US): W.B.
Saunders Company. 2(7): 184-195
Fooley J, Biberstein. 2004. Jawetz, Melnick, & Adelbergs Medical Microbiology.
Brooks GF, Morse SA, Butel JS; editor. New York (US): Mc Grawl Hill.
Ganguly A, Bhanot V, Bisla RS, Ganguly I, Singh H, Chaudhri SS. 2015.
Hematobiochemical alterations and direct blood polymerase chainreaction detection
of Theileria annulata in naturally infected crossbredcows. Veterinary World. 8(1):
24-28.
Guyton AC, Hall JE. 2006. Textbook of Medical Physiology. Philadelphia (US):
Saunders Company.
Hamou SA, Rahali T, Sahibi H, Belghyti D, Losson B, Goff W, Rhalem A. 2012.
Molecular and serological prevalence of Anaplasma marginale in cattle of
North Central Morocco. J Vet Sci. 93(3):13181323.
JIPI. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 2014. Karakteristik Susu Kerbau Sungai dan
Lumpur di Sumatera Utara [internet]. [diunduh 2 Juni 2016]. Tersedia pada:
http://oaji.net/articles/2015/2126-1434608047.pdf
Kementerian Pertanian. 2016. Theileriosis, Penyakit Pada Ternak Ruminansia
[Internet]. [Diunduh 2016 Juni 20]. Tersedia pada : http://cybex.pertanian.go.id/
materipenyuluhan /cetak/10613
Khan MQ, Zahoor A, Jahangir M, Mirza MA, 2004. Prevalence of bloodparasitesin
cattle and buffaloes. Pakistan Veterinary Journal. 24(4): 193195.
Kocan KM, Blounin EF, Barbet AF, 2000. Anaplasmosis control. past, present, and
future. Annals of the New York of Academic Science. 916: 501509.
Kocan KM, De la FJ, Blouin EF, Garcia-Garcia JC. 2004. Anaplasma marginale
(Rickettsiales:Anaplasmataceae) recent advances in defining host pathogen
adaptations of a tick-borne rickettsia. Parasitology. 129: 285
Kocan KM, Fuente JDL, Step DL, Blouin EF, Coetzee JF. 2010. Current challenges of
the management and epidemiology of bovine anaplasmosis.The Bovine Practitioner.
44(2) : 93-102
Kresno SB. 2001. Imunologi : Diagnosis dan Prosedur Laboratorium.4th ed.
Jakarta (ID) :UI Pr.
Levine, N.D. 1970. Protozoan Parasites of Domestic Animal and of Man. Minneapolis
(US): Burgess Publ. Co..
Levine, N.D. 1992. Protozoologi Veteriner (terjemahan oleh: Ashadi, G.). Gadjah Mada
University. Press. Yogyakarta.
Levine N. D. 1995. Protozologi veteriner (terjemahan). Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Mahmmod Y. 2013. Natural Babesia ovis infection in water buffaloes (Bubalus bubalis)
and crossbred cattle under field conditions in Egypt. J Arthropod Borne Dis. 8(1): 1-
9.
Michael AR, Michael DD. 2008. Anatomy and Physiology of Domestic Animals. 2nd ed.
Willey Blackwell.
Misra AK. 2004. Advances in embryo technologies in water buffaloes. Proceding of the
7th World Buffalo Congress. Manila (PH). 1(1): 140156.
Modi D, Bhadesiya C. 2014. Tick-borne Theileria annulata infection in dairy cows:
A short note for field vets. Int J Life Sci Res. 2(4):127-129.
Muffidah N, Ihsan MN, Nugroho H. 2013. Produktivitas induk kerbau lumpur (Bubalus
bubalis carabanesis) ditinjau dari aspek kinerja reproduksi dan ukuran tubuh di
Kecamatan Tempusari Kabupaten Lumajang. Jurnal Ternak Tropika. 14(1):1-10.
Nasution AYA. 2007. Parasit darah pada ternak sapi dan kambing di Lima Kecamatan,
Kota Jambi [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Neamat ANF. Hemato-biochemical alterations in water buffaloes clinicallyinfected with
bovine Theileriosis before and after treatment by buparvaquone. Bulletin UASVM
Veterinary Medicine. 73(1): 78
Norgan AP, Arguello HE, Sloan LM, Fernholz EC, Pritt BS. 2013. A method for
reducing the sloughing of thick blood flims for malaria diagnosis. Malaria
Journal. 12(1):231
[OIE] Office International des Epizootis. 2013. Disease Distribution Map [internet].
[diunduh 23 Maret 2016]. Tersedia pada :
http://www.oie.int/wahis_2/public/wahid.php/Diseaseinformation/Diseasedistributio
nmap?
disease_type_hidden=&disease_id_hidden=&selected_disease_name_hidden=&dise
ase_type=0&disease_id_terrestrial=38&species_t=0&disease_id_aquatic=-
999&species_a=0&sta_method=semesterly&selected_start_year=2015&selected_re
port_period=1&selected_start_month=1&date_submit=OK.
Omer OH, El-Malik KH, Mahmoud OM, Haroun EM, Hawas A, Sweeney D, Magzoub
M. 2002. Haematological profiles in pure bred cattle naturallyinfected with
Theileria annulata in Saudi Arabia. Veterinary parasitology. 107(1): 161168.
Rukmana R. 2010. Beternak Kerbau : Potensi dan Analisis Usaha Potensi dan Analisis
Usaha. Semarang (ID) : Semarang Aneka Ilmu.
Ross H. 2015. What Is a Blood Differential Test. Healthline Media [Internet]. 2015 Okt
15. [diunduh 2016 Juli 29]. Tersedia pada http://www.healthline.com/health/blood-
differential#Procedure3
Sabasthin A, Kumar VG, Nandi S, Murthy VC. 2012. Blood haematological and
biochemical parameters in normal cycling, pregnant and repeat breeding buffaloes
(Bubalus bubalis) maintained in isothermic and isonutritional conditions. Asian
Pacific Journal of Reproduction. 1(2): 117-119.
Sindhu N, Kumar T, Charaya G, Kumar A, Kumar P, Chandratere G, Agnihotri D,
Khurana R. 2015. Emerging Status of Anaplasmosis in Cattle in Hisar. Veterinary
World. 8(6): 768-771
Solihat, Lilis. 2002. Temu Teknis Fungsional Non Peneliti Pemeriksaan Sampel
Penvakit-penyakit Parasit Darah di Laboratorium Parasitologi Balitvet.
Soulsby, E. J. L. 1982. Helmints, Arthopods and Protozoa of DomesticatedAnimals, 7th
ed. Bailliere Tindal, England
Sugeng, Y. B., 2000. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sukamto. I. P., R.C. Payne, S. Partoutomo, R. Agustini, F. Politedy. 1988. Babesia
bovis di Indonesia. The Aplication of An Elisa to Determine the Seroprevalence of
Babesia bovis Antibodies in Cattle, Denpasar (ID).
Sumantri FMN. 2009. Profil leukosit sapi Friensian Holstein (FH) bunting yang
divaksin dengan vaksin Avian Influenza (AI) inaktif subtipe H5N1 [skripsi].
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Sunari, 2007. Beternak Kerbau. Surabaya (ID): JP Books.
Talkhan OFA, Radwan MEI, Ali MA. 2010. Cattle babesiosis and associated
biochemical alteration in Kalubyia Governorate. Nat Sci. 12(1): 2427.
Tampubolon, M. P. 2004. Protozoologi. Bogor(ID): Pusat Studi Ilmu Hayati, Institut
Pertanian Bogor.
Taylor MA, Coop RL, Wall RL. 2007. Veterinary Parasitology 3rd ed. Oxford(UK):
Blackwell.
Thrall MA, Weiser G, Allison RW, Campbell TW. 2012. Veterinary Hematology and
Clinical Chemistry 2nd ed. New Jersey (US): Wiley-Blackwell.
Tizard IR. 2000. Veterinary Immunology: An Introduction (paperback).
Philadelphia(US): Saunders.
Uilenberg G. 2006. Babesiaa historical overview. Veterinary Parasitology.138(1):3
10.
Vatsya S, Kumar RR, Singh VS, Arunraj MR. 2013. Anaplasma marginale infection in a
buffalo: A case report. Veterinary Research International. 1(1): 51-53.
Weiss DJ dan Wardrop KJ. 2010. Schalm`s Veterinary Hematology 6th ed. Lowa (US):
Wiley-Blackwell.
Yusufmia S.B.A.S., Collins N.E., Nkuna R., Troskie M., Van den Bossche P, Penzhorn
B.L. 2010. Occurence of Theileria parva and other haemoprotozoa in cattle at the
edge of Hluhluwe-iMfolozi Park, KwaZulu-Natal, South Africa. Journal of South
African Veterinary Association. 81(1): 4549.
Zajac AM dan Conboy GA. 2013. Veterinary Clinical Parasitology 8th ed. New York
(US): Willey-Blackwell
RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Chan Whaiy Lii. Penulis lahir di Selangor, Malaysia pada
tanggal 2 April 1994 dari pasangan Bapak Chan Yong Kok dan Ibu Wong Sooi
Lan.Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.
Jenjang pendidikan formal yang telah ditempuh oleh penulis di antaranya adalah
lulusan Sekolah Rendah Jenis Kebangsaan Cina Hin Hua pada tahun 2006 dan lulusan
Sekolah Menengah Kebangsaan Raja Mahadi pada tahun 2011. Pada tahun 2012,
penulis diterima di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor melalui ujian
masuk IPB di Kuala Lumpur.

Bogor, Juli 2016

Chan Whaiy Lii