Anda di halaman 1dari 12

Makalah Asam Basa

Kimia Dasar ll

oleh :

Luther Rondi

DBD

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat
dan karuniaNya sehingga makalah mengenai Asam Basa dapat terselesaikan. Makalah ini
merupakan tugas dalam mata kuliah Kimia Dasar II yang bertujuan untuk memberikan
pendekatan belajar agar mahasiswa lebih mudah memahami materi yang terkandung, juga
membangun motivasi mahasiswa untukdapat mengaitkan suatu materi pada kehidupan sehari-
hari.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka
penulis menerima kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan makalah ini.
Akhirnya, penulis berharap semoha makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya dan dapat
memenuhi harapan kita semua.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Senyawa asam dan basa sering ditemukan dan berperan penting dalam kehidupan sehari-
hari. Contoh bahan yang bersifat asam yaitu pada buahan-buahan misalnya lemon dan jeruk.
Sedangkan contoh bahan yang bersifat basa yaitu sabun dan deterjen. Untuk menjelaskan
mengenai senyawa asam dan basa, terdapat beberapa teori asam basa, diantaranya yaitu teori
Arrhenius, teori Bronsted-Lowry, teori asam basa Lewis, dan teori Lux-Flood.

Terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk membedakan antara senyawa asam
dan basa, misalnya dengan menggunakan indikator lakmus. Senyawa asam dapat mengubah
lakmus biru menjadi berwarna merah, sebaliknya senyawa basa dapat mengubah lakmus merah
menjadi berwarna biru. Selain itu, untuk membedakan apakah suatu senyawa bersifat asam atau
basa dapat juga menggunakan indikator phenolphthalein. Jika setelah penambahan
phenolphthalein warna larutan berubah menjadi merah muda atau pink, maka larutan tersebut
bersifat basa. Senyawa asam dan basa masing-masing memiliki sifat spesifik yang dapat
membedakannya satu sama lain, misalnya dengan rasanya. Senyawa asam cenderung memiliki
rasa masam, sedangkan senyawa basa memiliki rasa agak pahit. Perbedaan lain yang dapat
membedakan kedua senyawa ini yaitu kemampuannya melarutkan zat lain. Senyawa asam
bersifat korosif sehingga dapat melarutkan beberapa logam aktif, sedangkan senyawa basa dapat
melarutkan lemak. Oleh karena itu, abu gosok yang bersifat basa dapat digunakan untuk mencuci
sisa lemak yang ada di piring.

Senyawa asam dan basa juga dapat digolongkan lebih lanjut berdasarkan sifat keras dan
lunaknya. Penggolongan ini didasarkan pada ligan dan ion logamnya. Ligan (anion) keras dan
lunak digolongkan berdasarkan polarisabilitas anion, yaitu kemampuan suatu anion untuk
mengalami polarisasi akibat medan listrik yang berasal dari ion logam (kation). Sedangkan ion
logam (kation) keras dan lunak digolongkan berdasarkan polarisabilitas kation, yaitu
kemampuan suatu kation untuk mempolarisasi suatu anion dalam suatu ikatan. Penggolongan ini
penting dilakukan untuk memudahkan pemahaman mengenai pengertian dari suatu asam atau
basa yang keras dan lunak. Pemahaman sifat asam basa yang keras dan lunak juga dibutuhkan
untuk mengetahui interaksi yang terjadi diantara asam basa tersebut, apakah interaksi yang
bersifat ionik atau interaksi yang bersifat kovalen. Oleh karena itu maka dibuat makalah ini
sebagai tugas dalam mata kuliah Kimia Dasar II agar mahasiswa lebih mampu memahami segala
aspek yang berkaitan dengan teori asam basa.

1.2. Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:


1. Untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Kimia Anorganik II.
2. Untuk mengetahui berbagai teori asam basa.
3. Mengetahui dan memahami materi mengenai asam dan basa.
1.3. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah :

1. Bagaimana mengidentifikasi asam dan basa kualitatif ?


2. Bagaimana kekuatan asam dan basa secara kuantitatif ?
3. Bagaimana sifat-sifat dari asam dan basa?
4. Apa sajakah jenis-jenis asam dan basa?
5. Apa sajakah teori- teori yang menjelaskan tentang asam dan basa?
6. Apakah kekurangan dan kelebihan dari berbagai teori asam basa tersebut?
7. Bagaimana reaksi dari asam dan basa?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori Asam Basa Menurut Para Ahli


Ada tiga teori yang mendefinisikan tentang senyawa asam dan basa. Yang pertama ialah
teori Arrhenius, seorang ahli kimia Swedia dengan nama lengkap Svante Arrhenius dianugerahi
Hadiah Nobel 1903 di bidang kimia. Kemudian yang kedua ialah teori Bronsted-Lowry, atau
proton donor. Dikemukakan pada tahun 1923. Dan yang terakhir ialah teori asam-basa Lewis,
atau pasangan elektron. Teori yang juga dikemukakan pada tahun 1923. Masing-masing dari tiga
teori memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri serta masing-masing berguna dalam kondisi
tertentu.

Berikut penjelasan untuk ketiga teori di atas:

a. Teori asam basa Arrhenius

Dasar:
Asam adalah zat yang menghasilkan ion hidrogen (H+ ) dalam larutan.
Basa adalah zat yang menghasilkan ion hidroksida (OH ) dalam larutan.
Netralisasi terjadi karena ion hidrogen dan ion hidroksida bereaksi untuk menghasilkan air.

Persamaan kimia teori asam basa menurut Archenius adalah sebagai berikut:

H+(aq) + OH(aq) H2O(l)

Keterbatasan teori Arrhenius:

Asam klorida (HCl) dapat dinetralkan oleh larutan natrium hidroksida NaOH) ataupun larutan
amonia (NH3) yang mana amonia ini tidak mengandung ion OH seperti seharusnya pada teori
ini. Dalam reaksi ini. ditemukan endapan tidak berwarna yang dapat mengkristal untuk
mendapatkan kristal garam putih baik natrium klorida atau amonium klorida.
Ini merupakan reaksi netralisasi. Persamaan reaksinya adalah:

NaOH(aq) + HCl NaCl(aq) + H2O(l)


NH3(aq) + HCl(aq) NH4Cl(aq)
Dalam kasus natrium hidroksida, ion hidrogen dari asam bereaksi dengan ion hidroksida dari
natrium hidroksida sejalan dengan teori Arrhenius tersebut. Namun, dalam kasus amonia, tidak
terdapat ion hidroksida yang bereaksi. Ternyata diketahui bahwa amonia ketika dalam larutan,
amonia bereaksi dengan air yang melarutkan dan menghasilkan ion amonium dan ion hidroksida:

NH3(aq) + H2O(l) NH4+(aq) + OH(aq)


Ini adalah reaksi reversibel (dua arah), dan pada larutan amonia encer, sekitar 99% amonia tetap
sebagai molekul amonia. Namun demikian, ada ion hidroksida di sana, dan kita dapat
memasukkan ini ke teori Arrhenius. Namun, reaksi yang sama juga terjadi antara gas amonia dan
gas hidrogen klorida.

NH3(g) + HCl(g) NH4Cl(s)

Dalam hal ini, tidak ada ion hidrogen atau ion hidroksida dalam larutan seperti
seharusnya serta dihasilkan endapan garam. Teori Arrhenius tidak dapat menjelaskan ini sebagai
reaksi asam-basa, meskipun faktanya bahwa reaksi itu menghasilkan produk yang sama seperti
ketika dua zat yang dalam larutan.

b. Teori asam basa Bronsted-Lowry


Dasar:
Asam adalah donor/ penyumbang proton (ion hidrogen) .
Basa adalah akseptor/ penerima proton (ion hidrogen) .

Hubungan antara teori Bronsted-Lowry dan teori Arrhenius:


Teori Bronsted-Lowry tidak bertentangan dengan teori Arrhenius dengan cara apapun hanya
melengkapi teori di atas.

Pada teori ini juga masih dijelaskan tentang ion hidroksida yang bersifat basa
karena menerima ion hidrogen dari asam dan membentuk air. Asam menghasilkan ion hidrogen
dalam larutan karena bereaksi dengan molekul air dengan memberikan proton untuk mereka.

Reaksi-reaksi ini menunjukkan perilaku asam dan basa Brnsted-Lowry :

Asam (dalam hal ini, asam klorida) akan menyumbangkan proton ke basa (dalam hal ini,
air adalah basa. Asam kehilangan proton dan basa mendapatkan proton.
Air atau pelarut tidak diperlukan. Dalam hal ini, asam klorida masih asam, tetapi amonia
bertindak sebagai basis.
Reaksi yang sama terjadi, tapi sekarang sebaliknya. Apa yang pernah sebagai asam
sekarang menjadi basa (HCl Cl-) dan apa yang pernah sebagai basa sekarang asam
(NH3 NH4+ ). Konsep ini disebut konjugat.
Dua contoh asam (HCl dan H3O+ ) pencampuran dengan basis (NaOH dan OH ) untuk
membentuk zat netral (NaCl dan H2O).
Basa (natrium hidroksida) akan menerima proton dari asam (amonia). Sebuah zat netral
dihasilkan (air), yang tidak selalu bagian dari setiap reaksi. Bandingkan reaksi ini untuk
yang kedua. Amonia adalah basa, dan sekarang amonia adalah asam. Ini yang dimaksud
dengan amfoter.
Pasangan konjugasi
Reaksi antara HCl dan air adalah reversibel, tetapi hanya sampai batas yang sangat kecil.
Di sini asam dituliskan dengan HA, dan memikirkan reaksi berlangsung reversibel.

Untuk reaksi maju:


HA adalah asam karena mendonasikan sebuah proton (ion hidrogen) ke air.
Air adalah basa karena menerima proton dari HA.
Tetapi ada juga reaksi kembali antara ion hidroksonium dan A ion:
H3O+ adalah asam karena mendonasikan sebuah proton (ion hidrogen) ke A ion.
A ion adalah basa karena menerima proton dari H3O+ .

Reaksi reversibel mengandung dua asam dan dua basa. Kami menganggap mereka
berpasangan, yang disebut pasangan konjugasi.
Pasangan a1 b2 dan a2 b1 merupakan pasangan asam basa konjugasi.
Asam konjugasi : asam yang terbentuk dari basa yang menerima proton
Basa konjugasi : basa yang terbentuk dari asam yang melepas proton

Teori Brnsted Lowry memperkenalkan adanya zat yang dapat bersifat asam maupun
basa, yang disebut sebagai zat amfoter. Contohnya adalah air. Di dalam larutan basa, air akan
bersifat asam dan mengeluarkan ion positif (H3O+). Sedangkan dalam larutan asam, air akan
bersifat basa dan mengeluarkan ion negatif (OH-). Teori Brnsted-Lowry memiliki definisi yang
lebih luas dan sering digunakan.

Kekurangan dari teori ini sangat terbatas dan berfokus terutama pada asam dan basa
bertindak sebagai donor proton dan akseptor. Kadang-kadang kondisi muncul di mana teori tidak
selalu cocok, seperti dalam padatan dan gas. Serta tidak dapat menjelaskan mengapa senyawa
BF 3bereaksi dengan amonia (NH 3 )

c. Teori asam basa Lewis


GN Lewis dari UC Berkeley mengusulkan teori alternatif untuk menggambarkan asam dan
basa. Teorinya memberikan penjelasan umum dari asam dan basa berdasarkan struktur dan
ikatan. Melalui penggunaan definisi Lewis asam dan basa, ahli kimia sekarang dapat
memprediksi berbagai macam reaksi asam-basa. Teori Lewis yang digunakan ialah elektron
bukan transfer proton dan secara khusus menyatakan bahwa asam adalah spesies yang menerima
pasangan elektron sementara basa menyumbangkan pasangan elektron.

Dasar:
Suatu asam Lewis adalah akseptor pasangan elektron.
Basa Lewis adalah donor pasangan elektron.
Dalam model Bronsted-Lowry, ion OH- ion adalah gugus aktif dalam reaksi ini ia menerima ion
H+ untuk membentuk ikatan kovalen. Dalam model Lewis, ion H + ion adalah gugus aktif yang
menerima sepasang elektron dari ion OH- untuk membentuk ikatan kovalen.

Dalam teori reaksi asam-basa Lewis , basa menyumbangkan pasangan elektron dan asam
menerima pasangan elektron. Sebuah asam Lewis seperti ion H+ , yakni yang dapat menerima
pasangan elektron non-ikatan. Dengan kata lain, asam Lewis adalah akseptor pasangan elektron .
Sebuah basa Lewis seperti ion OH- , yakni yang menyumbangkan sepasang elektron non-ikatan.
Oleh karena itu Basa Lewis adalah donor pasangan elektron.

Teori asam-basa Lewis dapat menjelaskan mengapa BF 3 bereaksi dengan ammonia:

1. Pada gambar pertama, atom B pada molekul BF3 bertindak sebagai asam, karena ia
bertindak sebagai akseptor pasangan elektron bebas dari ion F . Sedangkan ion F bertindak
sebagai basa, karena ia bertindak sebagai donor pasangan elektron untuk atom B pada molekul
BF3.
2. Pada gambar kedua, ion H+ bertindak sebagai asam, karena ia bertindak sebagai akseptor
pasangan elektron bebas dari molekul NH3. Sedangkan atom N pada molekul NH3 bertindak
sebagai basa, karena ia bertindak sebagai donor pasangan elektron untuk ion H+ .

2.2 Asam dan Basa Kualitatif

Menurut Bronsted-Lowry asam adalah donor proton, jadi kekuatan asam ditentukan oleh
seberapa mudah suatu spesies untuk mendonorkan protonnya. Semakin mudah suatu spesies
mendonorkan protonnya maka keasamannya akan semakin kuat begitu juga dengan sebaliknya.
Mudah tidaknya suatu spesies asam untuk mendonorkan protonnya dapat dilihat dari seberapa
besar harga Ka dan seberapa besar asam tersebut terionisasi dalam larutan.

Kita perhatikan senyawaan HClO, HClO 2, HClO 3, dan HClO 4 yang terionisasi dalam air dengan
reaksi sebagai berikut:
HClO + H 2 O -> H 3 O + + ClO -
HClO 2 + H 2 O -> H 3 O + + ClO 2 -
HClO 3 + H 2 O -> H 3 O + + ClO 3 -
HClO 4 + H 2 O -> H 3 O + + ClO 4 -
Semakin besar jumlah spesies asam yang terionisasi maka asam tersebut akan semakin kuat dan
sebaliknya.
Bagaimana kita dapat menentukan asam-asam diatas, yang mana yang akan terionisasi sempurna
dan mana yang terionisasi sebagian untuk dapat kita gunakan dalam menentukan kekuatan
asamnya?
Cara yang dapat kita gunakan adalah dengan menentukan kestabilan anion sisa asam dalam
larutan yaitu anion ClO -, ClO 2 -, ClO 3 -, dan ClO 4 -. Semakin stabil anionnya maka semakin
banyak asamnya terionisasi dan otomatis asamnya semakin kuat. Menentukan kestabilan anion-
anion tersebut adalah dengan cara melihat bagaimana anion tersebut mendistribusikan muatan
negatifnya ( atau dengan kata lain melihat struktur resonansinya). Semakin banyak jumlah atom
oksigen maka anion diatas semakin stabil, karena semakin banyak jumlah atom oksigen yang
dapat menerima pendistribusian muatan negatifnya, hal ini juga berarti anion tersebut memiliki
banyak struktur resonansi.
Sebagai ilustrasi, kita lebih ringan membawa suatu beban bersama 4 orang daripada membawa
beban yang sama dengan dua orang saja. Untuk kasus diatas anggap saja bebanya adalah muatan
negatif, ion ClO 4 - dapat mendistribusikan muatan negatifnya pada 4 atom oksigen sedangkan
ion ClO 3 - hanya dapat mendistribusikan muatan negatifnya pada 3 atom oksigen, dua untuk ion
ClO 2 -, dan sayangnya ion ClO - tidak bisa mendistribusikan muatan negatifnya, sehingga
ClO 4 - jauh lebih stabil dibanding anion yang lain.
Dengan demikian urutan anion yang stabil diatas adalah ClO 4 - >ClO 3 - >ClO 2 - >ClO - . Ingat
semakin stabil anion artinya semakin banyak asam yang terionisasi sehingga kekuatan asamnya
juga semakin besar oleh sebabitu urutan kekuatan asamnya dari yang terbesar adalah HClO 4 >
HClO 3 > HClO 2 > HClO.
Dengan melihat harga Ka/pKa
Harga pKa dari asam diatas adalah:
pKa HCl = -8
pKa HClO = 7,53
pKa HClO 2 = 2
pKa HClO 3 = -1
pKa HClO 4 = -10
Semakin kecil harga pKa maka semakin kuat keasamannya, jadi menurut harga diatas maka
kekuatan asamnya dari yang terbesar adalah HClO 4 > HCl >HClO 3 > HClO 2 > HClO. Dari data
diatas harga pKa HCl, HClO 3, dan HClO 4 adalah negatif disebabkan asam-asam ini adalah asam
kuat. kekuatan HCl adalah bisa dikatakan hampir sama dengan HClO 4, kemungkinan ini
disebabkan karena HCl dalam bentuk larutan [HCl (aq)] bersifat sebagai senyawa ionik sehingga
HCl mudah melepaskan protonnya. (HCl berupa gas merupakan asam lemah karena ikatan H-Cl
dalam bentuk gas bersifat kovalen).
Note:
HCl dalam pembahasan yang pertama tidak saya sertakan disebabkan kita tidak bisa
membandingkan kekuatan asam HCl secara kualittaif dengan HClO, HClO 2, HClO 3, dan
HClO 4yang merupakan asam oksi. Kita lebih mudah membandingkan kekuatan keasaman HCl
secara kualitatif dengan HI, HBr, atau HF.

2.3 Derajat Kekuatan Asam dan Basa secara Kuantitatif


Kekuatan asam dipengaruhi oleh banyaknya ionion H+ yang dihasilkan oleh senyawa
asam dalam larutannya. Berdasarkan banyak sedikitnya ion H+ yang dihasilkan, larutan asam
dibedakan menjadi dua macam sebagai berikut :

Asam Kuat
Asam kuat adalah senyawa asam yang dalam larutannya terion seluruhnya menjadi ion-
ionnya. Reaksi ionisasi asam kuat merupakan reaksi berkesudahan. Secara umum,
ionisasi asam kuat dirumuskan sebagai berikut.

HA(aq) H+(aq) + A(aq)

[H+] = x . [HA]

atau,

[H+] = valensi asam . M

dengan :

x = valensi asam
M = konsentrasi asam

Asam Lemah

Asam lemah adalah senyawa asam yang dalam larutannya hanya sedikit terionisasi menjadi ion-
ionnya. Reaksi ionisasi asam lemah merupakan reaksi kesetimbangan.

Secara umum, ionisasi asam lemah valensi satu dapat dirumuskan sebagai berikut.

HA(aq) D H+(aq) + A(aq)

Ka =

Makin kuat asam maka reaksi kesetimbangan asam makin condong ke kanan,
akibatnya Ka bertambah besar. Oleh karena itu, harga Ka merupakan ukuran kekuatan asam,
makin besar Ka makin kuat asam. Berdasarkan persamaan di atas, karena pada asam lemah [H +]
= [A], maka persamaan di atas dapat diubah menjadi :

Ka =
[H+]2 = Ka [HA]

[H+] =

dengan Ka = tetapan ionisasi asam

Konsentrasi ion H+ asam lemah juga dapat dihitung jika derajat ionisasinya () diketahui.

[H+] = [HA] .

Basa Lemah

Basa lemah yaitu senyawa basa yang dalam larutannya hanya sedikit terionisasi menjadi ion-
ionnya. Reaksi ionisasi basa lemah juga merupakan reaksi kesetimbangan.

Secara umum, ionisasi basa lemah valensi satu dapat dirumuskan sebagai berikut.

M(OH)x(aq) D Mx+(aq) + xOH(aq)

Kb =

Makin kuat basa maka reaksi kesetimbangan basa makin condong ke kanan,
akibatnya Kb bertambah besar. Oleh karena itu, harga Kb merupakan ukuran kekuatan basa,
makin besar Kb makin kuat basa.

Berdasarkan persamaan di atas, karena pada basa lemah [M +] = [OH], maka persamaan di atas
dapat diubah menjadi:

Kb =

[OH]2 = Kb . [M(OH)]

[OH] =

dengan Kb = tetapan ionisasi basa

Konsentrasi ion OH basa lemah juga dapat dihitung jika derajat ionisasinya () diketahui.

[OH] = [M(OH)] .
DAFTAR PUSTAKA

https://websains.com/teori-asam-basa-menurut-para-ahli

http://sahri.ohlog.com/asam-basa.cat3417.html

http://www.nafiun.com/2013/07/contoh-asam-lemah-dan-kuat-basa-kuat-dan-lemah-
soal.html