Anda di halaman 1dari 10

Dismissal Procedure dalam Peradilan Tata Usaha Negara

Oleh
Alodia Pandora E0015035
Bianca Aziza Putri E0015082
Muhammad Fuadi Sisma E0015269

Abstrak
Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia 1945 bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Dalam
rangka mencapai tujuan tersebut, salah satunya dengan tata kelola negara yang dijalankan
oleh pemerintah. Pemerintah atau dalam hal ini pejabat administrasi berwenang untuk
membuat kebijakan-kebijakan atau tindakan-tindakan yang dianggap perlu demi mencapai
tujuan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tindakan pejabat administrasi tersebut juga
disebut Keputusan Tata Usaha Negara. Namun dalam pelaksanaannya, tidak seluruh tindakan
pejabat administrasi atau keputusan tata usaha negara dapat diterima oleh masyarakat. Oleh
karena itu, Indonesia memiliki bebrapa prosedur bagi masyarakat yang merasa dirugikan
dengan diterbitkannya Keputusan Tata Usaha Negara tersebut. Upaya penyelesaian sengketa
Keputusan Tata Usaha Negara dapat dilakukan di luar lembaga peradilan maupun melalui
lembaga peradilan. Upaya penyelesaian di luar lembaga peradilan adalah melalui upaya
administrasi, sedanagkan untuk upaya penyeselaian sengketa melalui lembaga peradilan
diselesaikan melalui Peradilan Tata Usaha Negara. Pada pemeriksaan dalam Peradilan Tata
Usaha Negara, dikenal dengan adanya rapat permusyawaatan atau dismissal procedure.
Dismissal procedure akan ditentukan apakah gugatan tersebut dinyatakan diterima atau tidak
diterima. Apabila gugatan dinyatakan diterima, maka akan dilanjutkan pemeriksaan
selanjutnya. Sedangkan, jika gugatan dinyatakan tidak diterima, akan ada tahapan-tahapan
perlawanan dari pihak penggugat.

A. Latar Belakang

Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1986 merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman yang ditugasi untuk memriksa,
memutus, dan menyelesaikan sengketa dalam bisang Tata Usaha Negara. 1 Dijelaskan pula
berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 sebagaimana telah dirubah oleh Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan Undang-Undang
Nomor 51 Tahun 2009 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004
tentang Peradilan Tata Usaha Negara (UU PERATUN), Peradilan Tata Usaha Negara
diadakan untuk menghadapi kemungkinan timbulnya perbenturan kepentingan, perselisihan,
atau sengketa antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga masyarakat. UU
PTUN memberikan 2 macam cara penyelesaian sengketa TUN yakni upaya administrasi yang
penyelesaiannya masih dalam lingkungan administrasi pemerintahan sendiri serta melalui
gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).2

Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara
antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik
di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara,
termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.3
Dalam suatu sengketa tentunya terdapat subjek dan objek yang berperkara. Subjek dari
sengketa Tata Usaha Negara diantaranya adalah Pejabat Administrasi atau Pejabat Tata Usaha
Negara yang mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara yang menjadi objek sengketa dan
perorangan atau badan hukum perdata yang merasa dirugikan dengan terbitnya Keputusan
Tata Usaha Negara; sedangkan untuk objek dari sengketa Tata Usaha Negara adalah
Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh Pejabat Tata Usaha Negara.

Menurut Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara, Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh
Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara yang
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual,
dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata. 4
Sedangkan yang tidak termasuk dalam pengertian Keputusan Tata Usaha Negara menurut
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara diantaranya: a.
Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan hukum perdata; b. Keputusan Tata
1
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara bagian Penjelasan
2
Dezonda R. Pattipawae, Fungsi Pemeriksaan Dismissal dalam Peradilan Tata Usaha Negara Jurnal Sasi Vol.
20 No.1 Bulan Januari - Juni 2015. Mengutip dari Indroharto, Usaha Memahami Undang-undang tentang
Peradilan Tata Usaha Negara (Buku II), (Jakarta, Sinar Harapan,1993), Hal : 76.
3
Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
4
Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
Usaha Negara yang merupakan pengaturan yang bersifat umum; c. Keputusan Tata Usaha
Negara yang masih memerlukan persetujuan; d. Keputusan Tata Usaha Negara yang
dikeluarkan berdasarkan ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Pidana atau Kitab Undang-
undang Hukum Acara Pidana atau peraturan perundang-undangan lain yang bersifat hukum
pidana; e. Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan atas dasar hasil pemeriksaan
badan peradilan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; f.
Keputusan Tata Usaha Negara mengenai tata usaha Angkatan Bersenjata Republik Indonesia;
g. Keputusan Panitia Pemilihan, baik di pusat maupun di daerah, mengenai hasil pemilihan
umum.5

Dalam Peradilan Tata Usaha Negara, terdapat beberapa kekhususan yang membedakan
dengan lembaga peradilan lainnya. Salah satunya adalah rapat permusyawaratan atau
dismissal procedure. Rapat permusyawaratan merupakan proses kualifikasi gugatan. Dalam
rapat permusyawaratan akan ditentukan apakah gugatan tersebut diterima atau gugatan
tersebut tidak diterima. Dalam artikel ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai rapat
permusyawaratan atau dismissal procedure.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja alasan yang dapat digunakan untuk melakukan dismissal terhadap
gugatan?
2. Bagaimana upaya dalam hal gugatan dinyatakan tidak diterima dalam dimissal
procedure?

C. Analisis

1. Dismissal procedure dalam suatu gugatan

Dalam keberadaan Pengadilan Tata Usaha Negara, sebuah dismissal procedure dilakukan
berdasarkan hasil keputusan yang dilakukan Ketua Pengadilan beserta timnya yang disebut
rapat permusyawaratan. Oleh sebab itu, sebuah dismissal procedure baru dapat diberikan
apabila rapat permusyawaratan telah diambil. 6 PTUN dikenal pemeriksaan dismissal yang
diatur dalam Pasal 62 UU PTUN, dimana Proses dismissal merupakan proses penelitian
terhadap gugatan yang masuk di Pengadilan Tata Usaha Negara oleh Ketua Pengadilan. 7
Undang - Undang Nomor 5 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dan ditambah dalam
5
Pasal 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
6
Zurahmah dan Firman Umar, PELAKSANAAN TATA CARA PENOLAKAN (DISMISSAL PROCEDURE):
DALAM PENYELESAIAN PERKARA PERTANAHAN, 2016, hlm. 110
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (selanjutnya
disebut UU PERATUN), dan juga di dalam penjelasannya, istilah proses dismissal tidak
dikenal, akan tetapi substansi dari makna tersebut diatur dalam Pasal 62 UU PERATUN.8
Alasan-alasan penetapan dismissal terhadap gugatan menurut Pasal 62 ayat (1) huruf a
sampai dengan huruf e Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, antara lain:9
a) Jika pokok gugatan nyata-nyata tidak termasuk dalam wewenang pengadilan maka
gugatan dinyatakan tidak dapat diterima (niet onvankelijk verklaard) (Pasal 62 ayat 1 sub a).
Pokok gugatan yang dimaksud adalah fakta yang dijadikan dasar gugatan yang kemudian
atas dasar fakta tersebut. Penggugat mendalilkan adanya suatu hubungan hukum tertentu dan
oleh karenanya mengajukan tuntutannya.10
b) Jika syarat formil dalam Pasal 56 ayat 1 a dan b 11, tidak dipenuhi oleh penggugat,
maka gugatan dinyatakan tidak dapat diterima (niet onvenkelijk verklaard), dan jika syarat
materiil dalam Pasal 56 ayat 1 sub c12 tidak memenuhi, maka gugatan dinyatakan tidak
berdasar (niet gegrond) (Pasal 62 ayat 1 sub b).13
c) Jika gugatan tidak didasarkan pada alasan - alasan yang layak (Pasal 53 ayat 2), maka
gugatan dinyatakan tidak berdasar (niet gegrond) (Pasal 62 ayat 1 sub c).14
d) Jika apa yang dituntut sebenarnya sudah terpenuhi oleh keputusan tata usaha negara
yang digugat, maka gugatan dinyatakan tidak dapat diterima (Pasal 62 ayat 1 sub d).15
e) Jika gugatan yang diajukan sebelum waktunya atau telah lewat waktu, maka gugatan
dinyatakan tidak dapat diterima (Pasal 62 ayat 1 sub e).16

2. Upaya dalam hal gugatan dinyatakan tidak diterima dalam dismissal


procedure
7
Dezonda R Pattipawae, Fungsi Pemeriksaan Dismissal, Jurnal Sasi Vol. 20 No.1 Bulan Januari - Juni 2014, hlm.
38
8
Ibid., hlm. 39
9
Wijoyo Suparto, Karakteristik Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara,
(Yogyakarta,
UNAIR Press, 2005), hlm. 89
10
W. Riawan Tjandra, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Revisi II, 2002, Yogyakarta: Universitas
Atma Jaya Yogyakarta, hlm. 88
11
Pasal 56 (1) sub a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara, Gugatan harus memuat nama, kewarganegaraan, tempat tinggal, dan pekerjaan penggugat, atau
kuasanya
Pasal 56 (1) sub b, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara Nama,
jabatan, dan tempat kedudukan tergugat
12
Pasal 56 (1) sub c, Gugatan harus memuat dasar gugatan dan hal yang diminta untuk diputuskan oleh
Pengadilan
13
Tjandra, Op.Cit., hlm. 88
14
Tjandra, Loc.Cit
15
Tjandra, Loc.Cit
16
Tjandra, Loc.Cit
Sebelum Ketua Pengadilan mengeluarkan penetapan tentang dikabulkan atau tidak
dikabulkannya permohonan dari Penggugat, sudah tentu Ketua Pengadilan akan melakukan
pemeriksaan dalam rapat permusyawaratan terhadap gugatan yang sudah diadakan penelitian
administratif oleh Staf Kepaniteraan.17
Seperti yang kita ketahui, dalam Pasal 62 ayat (1) UU No. 5 Tahun 1986 menyebutkan
bahwa:
(1) Dalam rapat permusyawaratan, Ketua Pengadilan berwenang memutuskan dengan
suatu penetapan yang dilengkapi dengan pertimbangan-pertimbangan bahwa gugatan yang
diajukan itu dinyatakan tidak diterima atau tidak berdasar, dalam hal:
a. pokok gugatan tersebut nyata-nyata tidak termasuk dalam wewenang Pengadilan;
b. syarat-syarat gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 tidak dipenuhi oleh
penggugat, sekalipun ia telah diberitahu dan diperingatkan;
c. gugatan tersebut tidak didasarkan pada alasan-alasan yang layak;
d. apa yang dituntut dalam gugatan sebenarnya sudah dipenuhi oleh Keputusan Tata
Usaha Negara yang digugat;
e. gugatan diajukan sebelum waktunya atau telah waktunya.

Jika hasil dari pemeriksaan yang dilakukan oleh Ketua Pengadilan dalam rapat
permusyawaratan menunjukkan bahwa gugatan tidak memenuhi semua ketentuan seperti
dimaksud huruf a, b, c, d, dan/atau e dan Pasal 62 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1986, maka Ketua Pengadilan akan mengeluarkan penetapan yang menunjuk Majelis Hakim
untuk memeriksa gugatan dengan Acara Biasa.18
Namun, apabila dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Ketua Pengadilan dalam rapat
permusyawaratan menunjukkan bahwa gugatan memenuhi salah satu atau beberapa atau
semua ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1) UU PERATUN, maka
Ketua Pengadilan akan mengeluarkan penetapan yang dilengkapi dengan pertimbangan-
pertimbangan, yang menyatakan bahwa gugatan tidak diterima. Penetapan tersebut biasa
dikenal dengan penetapan dismissal.19
Perlawanan terhadap penetapan dismissal diatur dalam Pasal 62 ayat (3), (4), (5) dan (6) UU
PERATUN, selengkapnya sebagai berikut20:

17
R. Wiyono, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Sinar Grafika, Jakarta, 2007,
hlm.146.
18
IbdI, hlm. 140.
19
Loc.Cit.
20
Dezonda. R. Pattipawae, Op.Cit., hlm.40.
Pasal 62 ayat (3)
a. Terhadap Penetapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diajukan
perlawanan kepada Pengadilan dalam tenggang waktu 14 hari setelah
ditetapkan.
b. Perlawanan tersebut diajukan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 56.
Pasal 62 ayat (4), Perlawanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diperiksa dan
diputus oleh Pengadilan dengan Acara Singkat.
Pasal 62 ayat (5), Dalam hal perlawanan tersebut dibenarkan oleh Pengadilan,
maka Penetapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) gugur demi hukum dan
pokok gugatan akan diperiksa, diputus dan diselesaikan menurut cara biasa.
Pasal 63 ayat (6), Terhadap putusan mengenai perlawanan itu tidak dapat
digunakan upaya hukum.

Kemudian, JUKLAK Mahkamah Agung RI No.222/Td.TUN/X/1993 tanggal 14 Oktober


1993, ditentukan bahwa21:
a. Dalam proses perlawanan terhadap Penetapan Dismissal, setidak-tidaknya
Penggugat/Pelawan maupun Tergugat didengar dalam persidangan tanpa memeriksa
pokok gugatan.
b. Putusan perlawanan terhadap Penetapan Dismissal tidak tersedia upaya hukum
apapun (vide Pasal 62 ayat 6 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986), baik upaya
hukum biasa maupun upaya hukum luar biasa.
c. Dalam hal pihak Pelawan mengajukan perlawanan, banding atau upaya hukum
lainnya, maka Panitera berkewajiban membuat Akta Penolakan Banding.
d. Nomor dalam perkara perlawanan adalah sama dengan Nomor gugatan asal dengan
ditambah kode PLW.

Undang-undang tidak mengatur mengenai tata cara pemeriksaan terhadap perlawanan


Penetapan Dismissal. Untuk mengisi kekosongan hukum tersebut diatur dalam Surat
Mahkamah Agung RI No.224/Td.TUN/X/1993 tanggal 14 Oktober 1993 perihal JUKLAK
yang dirumuskan dalam Pelatihan Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Tahap III Angka
VII.1, sebagai berikut22:
21
Dezonda. R. Pattipawae, Loc.Cit.
22
Dezonda. R. Pattipawae, Loc.Cit.
a. Pemeriksaan terhadap perlawanan atas Penetapan Dismissal tidak perlu sampai
memeriksa materi gugatannya, seperti memeriksa bukti-bukti, saksi-saksi, ahli dan
sebagainya.
b. Barulah kalau perlawanan tersebut dinyatakan benar, maka dilakukan pemeriksaan
terhadap pokok perkaranya yang dimulai dengan pemeriksaan persiapan dan
seterusnya.
c. Majelis yang memeriksa pokok perkaranya adalah Majelis yang sama dengan yang
memeriksa gugatan perlawanan tersebut, tetapi dengan Penetapan Ketua Pengadilan.

Mahkamah Agung kemudian lalu memberikan beberapa petunjuk sebagai berikut23:


1. Yang memeriksa gugatan perlawanan adalah Majelis Hakim;24
2. Pemeriksaan gugatan perlawanan oleh Majelis Hakim tanpa terlebih dahulu dilakukan
pemeriksaan persiapan25;
3. Pemeriksaan gugatan perlawanan dilakukan secara tertutup, akan tetapi putusannya
harus diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum26.
4. Dalam memeriksa gugatan perlawanan setidak-tidaknya baik Penggugat atau Pelawan
maupun Tergugat atau Terlawan didengar dalam persidangan tanpa memeriksa pokok
gugatan27 seperti memeriksa bukti-bukti, saksi-saksi ahli, dan sebagainya28;
5. Terhadap putusan gugatan perlawanan tidak tersedia upaya hukum apapun baik upaya
hukum biasa maupun upaya hukum luar biasa29;
6. Dalam hal pihak Pelawan mengajukan permohonan banding atau upaya hukum
lainnya, maka panitera berkewajiban membuat akta penolakan banding30.

Jika telah dilakukan pemeriksaan, ternyata perlawanan yang diajukan oleh Penggugat
tersebut dibenarkan oleh hakim, maka hakim menjatuhkan putusan bahwa perlawanan
diterima atau berdasar. Dengan adanya putusan tersebut, maka menurut Pasal 65 ayat (5),
penetapan dismissal, yaitu penetapan yang dikeluarkan oleh Ketua Pengadilan yang
menyatakan gugatan yang diajukan Penggugat tidak diterima atau tidak berdasar, menjadi

23
R. Wiyono, Op.Cit, hlm.141.
24
butir VII.1 huruf b pada Surat Ketua Muda Mahkamah Agung Urusan Lingkungan
Peradilan Tata Usaha Negara tanggal 14 Oktober 1993 No. 224/Td/TUN/X/1993.
25
Ibid., butir VII.1 huruf a.2 Ibid
26
Ibid., butir VII.1 huruf c. Ibid
27
butir I.1. Ibid
28
butir VII.1 Ibid
29
butir I.2. Ibid
30
butir I.2 huruf b. Ibid
gugur demi hukum dan pokok gugatan akan diperiksa, diputus, dan diselesaikan menurut
Acara Pemeriksaan Biasa31.
Namun, apabila perlawanan yang diajukan oleh Penggugat tidak dibenarkan oleh hakim,
maka hakim menjatuhkan putusan bahwa perlawanan tidak diterima 32. Dengan adanya
keputusan ini, penetapan dismissal akan mempunyai kekuatan hukum tetap seperti yang telah
disebutkan dalam Pasal 62 ayat (6) UU PERATUN. Penggugat sudah tentu masih dapat
mengajukan gugatan lagi, tetapi dengan gugatan baru yang berbeda dengan dasar gugatan
pada gugatan yang telah mendapat penetapan dismissal tersebut.33

Berdasarkan praktik dapat disebutkan Penetapan Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha
Negara Padang Nomor 06/G/l996/PTUN-PDG tentang Pengabulan Gugatan Perlawanan
terhadap Penetapan Dismissal Pjs. Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Padang Nomor
06/G/1996/PTUN-PDG, seperti yang dapat dibaca pada putusan Pen-gadilan Tata Usaha
Negara Padang Nomor 06/G/1996/ PTUN-PDG dalam sengketa Tata Usaha Negara antara
Drs Ibrahlm dkk. Sebagai Penggugat dengan DPP Partai Persatuan Pembangunan dan DPW
Partai Persatuan Pembangunan Sumatra Barat.34

D. Kesimpulan

1. Alasan-alasan yang dapat dipakai untuk melakukan dismissal terhadap gugatan menurut
Pasal 62 ayat (1) huruf a sampai dengan huruf e Undang - Undang Nomor 5 Tahun 1986,
yaitu pokok gugatan tersebut nyata-nyata tidak termasuk dalam wewenang Pengadilan;
Syarat-syarat gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 tidak dipenuhi oleh
Penggugat sekalipun ia telah diberitahu dan diperingatkan; Gugatan tersebut tidak
didasarkan pada alasan-alasan yang layak; Apa yang dituntut dalam gugatan sebenarnya
sudah terpenuhi oleh Keputusan TUN yang digugat; Gugatan diajukan sebelum
waktunya, atau telah lewat waktunya.

2. Jika hasil dari pemeriksaan yang dilakukan oleh Ketua Pengadilan dalam rapat
permusyawaratan menunjukkan bahwa gugatan tidak memenuhi semua ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1) UU PERATUN, maka Ketua Pengadilan
akan mengeluarkan penetapan untuk memeriksa gugatan dengan Acara Biasa. Namun,
apabila dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Ketua Pengadilan dalam rapat
31
R. Wiyono, Op.Cit, hlm.141-142.
32
Ibid. hlm.141.
33
Ibid. hlm.143.
34
R. Wiyono, Loc.Cit.
permusyawaratan menunjukkan bahwa gugatan memenuhi salah satu atau beberapa atau
semua ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1) UU PERATUN, maka
Ketua Pengadilan akan mengeluarkan penetapan yang dilengkapi denan pertimbangan-
pertimbangan, yang menyatakan bahwa gugatan tidak diterima. Penetapan tersebut
dikenal dengan penetapan dismissal.

Terdapat perlawanan terhadap penetapan dismissal yang diatur dalam Pasal 62 ayat (3),
(4), (5) dan (6) UU PERATUN

Jika telah dilakukan pemeriksaan, ternyata perlawanan yang diajukan oleh Penggugat
tersebut dibenarkan oleh hakim, maka hakim menjatuhkan putusan bahwa perlawanan
diterima atau berdasar. Sehingga, penetapan dismissal menjadi batal demi hukum dan
pokok gugatan akan diperiksa, diputus, dan diselesaikan diselesaikan melalui
pemeriksaan dengan acara pemeriksaan biasa.

Namun, apabila perlawanan yang diajukan oleh Penggugat tidak dibenarkan oleh hakim,
maka hakim menjatuhkan putusan bahwa perlawanan tidak diterima. Dengan adanya
keputusan ini, penetapan dismissal akan mempunyai kekuatan hukum tetap seperti yang
telah disebutkan dalam Pasal 62 ayat (6) UU PERATUN.

E. Daftar Pustaka
Suparto, Wijoyo. 2005. Karakteristik Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara,
Yogyakarta : UNAIR Press.
Tjandra, W. Riawan. 2002. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Revisi II.
Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Wiyono, R. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. 2007. Jakarta : Sinar
Grafika

Pattipawae, Dezonda R. Fungsi Pemeriksaan Dismissal, Jurnal Sasi Vol. 20 No.1


Bulan Januari - Juni 2014

Pattipawae, Dezonda R. Fungsi Pemeriksaan Dismissal dalam Peradilan Tata Usaha


Negara Jurnal Sasi Vol. 20 No.1 Bulan Januari - Juni 2015.

Zurahmah; Umar, Firman, PELAKSANAAN TATA CARA PENOLAKAN (DISMISSAL


PROCEDURE): DALAM PENYELESAIAN PERKARA PERTANAHAN, 2016

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara bagian
Penjelasan

Surat Ketua Muda Mahkamah Agung Urusan Lingkungan Peradilan Tata Usaha
Negara tanggal 14 Oktober 1993 No. 224/Td/TUN/X/1993.