Anda di halaman 1dari 8

psikoreligius dan psikospiritual

A. PSIKORELIGIUS
Dalam agama Islam terdapat beberapa ayat Al- Quran yang menunjukkan bahwa
Tuhan membuat seseorang menderita sakit dan Dia-lah yang menyembuhkannya, seperti
ucapan Nabi Yahya yang menyatakan : jika aku sakit maka Dia-lah yang
menyembuhkannya. Dan juga sabda Nabi s.a.w yang menyatakan: Allah tidaklah
menurunkan suatu penyakit melainkan Dia juga menurunkan obat penyembuhnya.
Juga Allah menyebutkan dalam kitab suci Al- Quran melainkan untuk menjadi obat
penyembuh bagi orang mukmin antara lain seperti ayat berikut :

Dan Kami turunkan dari Al- Quran itu sesuatu yang (dapat) menjadi obat penawar dan
rohmat kurnia bagi yang beriman dan bagi yang dzalim (Al- Quran) itu hanya menambah
kerugin belaka (Q.S Al- Isra 82)
Dalam kasus Nabi Muhammad sendiri yang pernah disihir oleh orang kafir, dapat
disembuhkan dengan membaca surat Al- alaq.
Dengan demikian jika dilihat dari peristiwa sejarah pada masa Nabi, system
penyembuhan (healing) terhadap penyakit psikosomatis, dilakukan dengan menggunakan
religiou- psychotherapy meskipun saat itu belum didasari dengan system pendekatan disiplin
ilmu, namun factor keyakinan pribadi yang berupa iman tersebut dapat berfungsi sebagai
sumber kekuatan penyembuh terhadap penyakit rohaniyah pada khususnya.
Pengalaman dari Dr.Leslie Wetherhead, juga menunjukkan bukti bahwa terdapat
hubungan sebab akibat antara penyakit jiwa dengan hilangnya makna nilai nilai keagamaan
dari dalam diri manusia.
Penerapan religiou psychotherapy untuk menyembuhkan penyakit jiwa oleh
Dr.Norman Vincent Peale dari Amerika Serikat, juga terbukti efektif. Ia menuliskan
pengalamannya dalam buku karangannya yang berjudul The Power of Positive Thinking.
Di Florida, Amerika Serikat ada sebuah lembaga penelitian tentang penyembuhan
penyakit jiwa melalui daya pengaruh bacaan Al- Quran dalam berbagai kasus penelitian
atau percobaan yang terdiri dari orang orang yang mengerti bahasa Al- Quran dan yang
tidak mengerti makna Al- Quran yang harus mendengarkan bacaan Al- Quran. Ternyata
bagi kelompok yang memahami Al- Quran dapat memperoleh kesembuhan secara bertahap
dan bagi kelompok yang tidak memahami makna Al- Quran juga memperoleh kesembuhan
yang kurang intensif dibandingkan dengan kelompok yang memahami Al- Quran1[1].
Beberapa hasil penelitian mengenai terapi psikoreligius
Lindenthal (1970) dan Star (1971) melakukan studi epidemiologik yang hasilnya
menunjukkan bahwa penduduk yang religius resiko untuk mengalami stres jauh lebih kecil
daripada mereka yang tidak religius dalam kehidupan sehari-harinya.
Comstock dan Partrigde (1972) melakukan penelitian dan dinyatakan bahwa mereka yang
tidak religius resiko bunuh diri 4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak
religius.
Comstock, dkk (1972) menyakan bahwa bagi para pasien yang melakukan kegiatan
keagamaan secara teratur disertai doa dan dzikir, ternyata resiko kematian akibat penyakit
jantung koroner lebih rendah 50%, kematian akibat emphysema lebih rendah 56%, kematian
akibat cirrhosis hepatis lebih rendah 74% dan kematian akibat bunuh diri lebih rendah 53%.
Clinebell (1981) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pada setiap diri manusia terdapat
kebutuhan dasar spiritual (basic spiritual needs). Kebutuhan dasar spiritual ini adalah
kebutuhan kerohanian, keagamaan dan ke-Tuhan-an yang karena paham materialisme dan
sekulerisme menyebabkan kebutuhan dasar spiritual terlupakan tanpa disadari. Dengan tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar spiritual maka daya tahan dan kekebalan seseorang dalam
menghadapi stresor psikososial menjadi melemah, yang kemudian sebagian dari mereka
melarikan diri (escape reaction) ke NAZA (Narkotika, Alkohol, dan Zat Adiktif).
Larson, dkk (1992) melakukan studi banding pada pasien lanjut usia dengan pasien muda usia
yang akan menjalani operasi. Hasil dari studi tersebut menunjukkan bahwa pasien-pasien
lanjut usia dan religius serta banyak berdoa dan berdzikir kurang mengalami ketakutan dan
kecemasan, tidak takut mati dan tidak menunda-nunda jadwal operasi, dibandingkan pasien-
pasien muda usia yang tidak religius.2[2]

DOA DAN DZIKIR MENURUT AGAMA ISLAM

Doa adalah permohonan penyembuhan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan
Dzikir adalah mengingat Tuhan dengan segala kekuasaan-Nya.

Dari sudut ilmu kedokteran jiwa/kesehatan jiwa doa dan dzikir (psikoreligius terapi)
merupakan terapi psikiatrik setingkat lebih tinggi daripada psikoterapi biasa.
1[1] Abdul Rahman Saleh. Psikologi, Kencana Media Goup : Jakarta, 2004. Hlm 62 65

2[2] Dadang Hawari,Aborsi Dimensi Psikologi,FKUI,Jakarta,2006


Hal ini dikarenakan doa dan dzikir mengandung unsur spiritual yang dapat
membangkitkan harapan (hope), rasa percaya diri (self confidence) pada diri seseorang yang
sedang sakit, sehingga kekebalan tubuh meningkat dan akhirnya mempercepat proses
penyembuhan.
Khususnya terapi psikoreligius selain sholat, doa dan dzikir, beberapa ayat dan hadis
berikut ini dapat diamalkan, yaitu:
1. (Yaitu), orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang (Q.S. 13:28)
2. Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan . (Q.S. 26 :80)
3. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah Tuhannya
manusia, hilangkanlah derita, sembuhkanlah penyakit, Engkaulah Dzat Maha Penyembuh
kecuali Engkau. Ya Allah, hamba mohon kepada-Mu agar aku sehat . (H.R. Ahmad, Nasai
dari Muhammad bin Khatib)
Terapi psikoreligius dalam bentuk berdoa dan berzikir selain sholat lima waktu,
sebagaimana diuraikan sebelumnya memunyai nilai psikoterapeutik lebih tinggi daripada
psikoterapi psikiatrik konvensional. Seseorang yang sedang menderita sakit selain berobat
secara medik psikiatrik bila disertai dengan berdoa dan berzikir akan meningkatkan
kekebalan yang bersangkutan terhadap penyakitnya; menimbulkan optimisme dan pemulihan
rasa percaya diri serta kemampuan mengatasi penderitaan; yang pada gilirannya akan
mempercepat proses penyembuhan. Dan, apabila yang bersangkutan ditakdirkan meaninggal,
ia dalam keadaan beriman dan tenang kembali menghadap kepada Pencipta.

B. PSIKOSPIRITUAL
Psikologi agama tampaknya sudah mulai menyadari potensi-potensi dan daya psikis
manusia yang berkaitan dengan kehidupan spiritual. Kemudian menempatkan potensi dan
daya psikis tersebut sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Selain itu mulai
tumbuh suatu kesadaran baru mengenai hubungan anatra potensi dan daya psikis tersebut
dengan sikap dan pola tingkah laku manusia3[3].
Definisi spiritual lebih sulit dibandingkan mendifinisikan agama/religion, dibanding
dengan kata religion, para psikolog membuat beberapa definisi spiritual, pada dasarnya
spitual mempunyai beberapa arti, diluar dari konsep agama, kita berbicara masalah orang
dengan spirit atau menunjukan spirit tingkah laku . kebanyakan spirit selalu dihubungkan

3[3] Jalaluddin. Psikologi Agama, Rajagrafindo Persada : Jakarta, 2010. Hal. 258
sebagai factor kepribadian. Secara pokok spirit merupakan energi baik secara fisik dan
psikologi4[4].
Menurut kamus Webster (1963) kata spirit berasal dari kata benda bahasa latin
Spiritus yang berarti nafas (breath) dan kata kerja Spirare yang berarti bernafas. Melihat
asal katanya , untuk hidup adalah untuk bernafas, dan memiliki nafas artinya memiliki spirit.
Menjadi spiritual berarti mempunyai ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat
kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material. Spiritual
merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai makna hidup dan tujuan hidup.
Spiritual merupakan bagian esensial dari keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan
seseorang5[5].
Dalam pengertian yang lebih luas spirit dapat diartikan : 1. Kekuatan kosmis yang
memberi kekuatan kepada manusia (yunani kuno); 2. Mahluk immaterial seperti peri, hantu
dan sebagainya; 3. Sifat kesadaran, kemauan, dan kepandaian dalam alam menyeluruh; 4.
Jiwa luhur dalam alam yang bersifat mengetahui semuanya, mempunyai akhlak tinggi,
menguasai keindahaan, dan abadi; 5. Dalam agama mendekati kesadaran agama; 6. Hal yang
terkandung minuman keras dan menyebabkan mabuk. (Hasan Shyadili 1984 : 32-78).
Selanjutnya dalam ensiklopedia Indonesia spiritual adalah : 1. Bentuk nyanyian rakyat
yang bersifat keagamaan, dikembangkan oleh budak-budak negro dan keturunan mereka di
Amerika Serikat dibagian selatan; 2. Yang berhubungan dengan rohani dan eksistensi
kristiani yang berdasarkan kehadiran dan roh kudus (s.spiritus) dalam setiap orang beriman
dan seluruh gereja. Adapun spiritualitas adalah kehidupan rohani (spiritual) dan
perwujudannya dalam cara berfikir, merasa, berdoa dan berkarya (hasan shyadili : 3279)6[6].
Spiritual dalam pengertian luas merupakan hal yang berhubungan dengan spirit,
sesuatu yang spiritual memiliki kebenaran yang abadi yang berhubungan dengan tujuan hidup
manusia, sering dibandingkan dengan Sesuatu yang bersifat duniawi, dan sementara,
Didalamnya mungkin terdapat kepercayaan terhadap kekuatan supernatural seperti dalam
agama, tetapi memiliki penekanan terhadap pengalaman pribadi. Pihak lain mengatakan
bahwa aspek spiritual memiliki dua proses, pertama proses keatas yang merupakan

4[4] David Fontana, Religion and spirituality, Bps Blackwell, 2003. Hal. 11

5[5] Aliah B., Purwakanta Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, PT Raja Grafindo Persada :
Jakarta, hal 288

6[6] Jalaluddin. Psikologi Agama, Rajagrafindo Persada : Jakarta, 2010. Hal. 330
tumbuhnya kekuatan internal yang mengubah hubungan seseorang dengan Tuhan, kedua
proses kebawah yang ditandai dengan peningkatan realitas fisik seseorang akibat perubahan
internal. Konotasi lain perubahan akan timbul pada diri seseorang dengan meningkatnya
kesadaran diri, dimana nilai-nilai ketuhanan didalam akan termanifestasi keluar melalui
pengalaman dan kemajuan diri7[7].
Spiritual dapat merupakan eksperesi dari kehidupan yang dipersepsikan lebih tinggi,
lebih kompleks atau lebih terintegrasi dalam pandangan hidup seseorang, dan lebih dari pada
hal yang bersifat indrawi. Salah satu aspek dari menjadi spiritual adalah memiliki arah tujuan,
yang secara terus menerus meningkatkan kebijaksanaan dan kekuatan berkehendak dari
seseorang, mencapai hubungan yang lebih dekat dengan ketuhanan dan alam semesta dan
menghilangkan ilusi dari gagasan salah yang berasal dari alat indra , perasaan, dan pikiran.
Psikospiritual juga berhubungan dengan kejiwaan. Jiwa yang sehat umumnya
bersumber dari ahlak terpuji, sebaliknya jiwa yang sakit bersumber dari ahlak tercela.
Selanjutnya ahlak terpuji merupakan sifat dan amal utama para rasul dan al-shiddiqin.
Sebaliknya ahlak tercela merupakan sifat dan pekerjaan setan dan menjauhkan orang dari
Allah SWT. Keitidalan dan kebagusan ahlak , serta kesehatan jiwa tersebut antara lain dapat
pula pula dengan menjaga keitidalan kekuatan akal, kesempurnaan hikmat, keitidalan
kekuatan marah dan hawa nafsu dan serta ketaatan kedua kekuatan ini kepada akal dan
agama. Dengan demikian kesempurnaan kebahagiaan jiwa bisa diperoleh melalui
spiritualisasi islam8[8].
Seseorang yang banyak melakukan amal saleh maka ia akan lebih dekat kepada Allah
SWT sebagai sang khaliq, melalui pengalaman-pengalaman spiritualnya yang awal mulanya
selalu jauh/belum dekat kepada Allah yang selalu menuruti hawa nafsunya karena belum
memahami hakekat akal dan agama.
Al-Quran telah memberikan perunjuk bahwa untuk membangkitkan aktifitas diri
hanyalah dengan dzikir. Makna teks dari kata dzikir, menurut kamus, adalah menyebut,
mengucap. Adz-dzukuroh, kemasyhuran, kehormatan ; adz-dzikro, peringatan ; adz-dzakaru,
laki-laki atau jantan, alat vital laki-laki; mudzakar, berjenis laki-laki; mudzakarah,
mempelajari atau studi pembicraan (Al-Munawir. Hal.483).
Al-Quran telah menginformasikan bahwa ada tiga cara berdzikir yaitu:

7[7] Ibid, hal. 290

8[8] Yahya Jaya, Spiritualisasi Islam Dalam Menumbuhkembangkan Kepribadian dan Kesehatan
Mental, PT Remaja Rosdakarya : bandung, 1994. Hal. 70
1. Dzikir fikr, adalah aktifitas jiwa kearah akal pikiran, agar akal mengeluarkan energy dengan
cara tafakur yaitu merenungi, memfilsafati semua ciptaan Allah sehingga timbul keyakinan
bahwa semua yang diciptikan Allah tidak ada orang yang sia-sia.
2. Dzikir amal, dzikir ini merupakan aktifitas kerja ketika energy jiwa keluar untuk memotivasi
semangat agar lebih dan lebih ulet berkarya.
3. Dzikir qalb, dzikir merupakan aktifitas jiwa kearah hati (walb) dengan cara bert-tabtil, yaitu
mengheningkan suasana batin dari segala hal yang dapat mengganggu perasaan9[9]
Ada perbedaan antara spiritual dan religius adalah kesadaran diri dan kesadaran
individu tentang asal , tujuan dan nasib. Agama adalah kebenaran mutlak dari kehidupan
yang memiliki manifestasi fisik diatas dunia. Agama merupakan praktek prilaku tertentu yang
dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu yang dihubungkan
dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu yang dianut oleh anggota-
anggotanya. Agama memiliki kesaksian iman , komunitas dan kode etik, dengan kata
lain spiritual memberikan jawaban siapa dan apa seseorang itu (keberadaan dan kesadaran) ,
sedangkan agama memberikan jawaban apa yang harus dikerjakan seseorang (prilaku atau
tindakan). Seseorang bisa saja mengikuti agama tertentu , namun memiliki spiritualitas .
Orang orang dapat menganut agama yang sama, namun belum tentu mereka memiliki jalan
atau tingkat spiritualitas yang sama10[10].

9[9] Mas Rahim Salaby. Mengatasi Kegoncangan Jiwa, PT Remaja Rosdakarya : Bandung, 2005. Hal.
119-121

10[10] Ahmad Fauzi. Psikologi Umum, Pustaka Setia : Bandung, 2004. Hal. 126
Psikopat
Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Pengidapnya juga sering disebut
sebagai sosiopat karena perilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang
terdekatnya.
Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti
penyakit. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang
psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut
dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut "orang gila tanpa gangguan
mental". Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap
psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang
berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa,
pengidapnya juga sukar disembuhkan.
Psikopat memiliki 20 ciri-ciri umum. Namun ciri-ciri ini diharapkan tidak
membuat orang-orang mudah mengecap seseorang psikopat karena diagnosis
gejala ini membutuhkan pelatihan ketat dan hak menggunakan pedoman
penilaian formal, lagipula dibutuhkan wawancara mendalam dan pengamatan-
pengamatan lainnya. Mengecap seseorang dengan psikopat dengan
sembarangan beresiko buruk, dan setidaknya membuat nama seseorang itu
menjadi jelek.
Dalam buku The Mask of Sanity, Dr. Hervey Cleckley menggambarkan
psikopat sebagai pribadi yang likeable, charming, intelek, perhatian, impresif,
punya pede tinggi, dan pintar merayu (karena itu mereka mudah "menipu"
perempuan). Umumnya, mereka juga cerdas secara akademik.
Hare mengungkapkan empat ciri karakter psikopat, yakni antisosial
(antisocial), pribadi yang sulit diduga (borderlne), pandai bersandiwara
(histrionic) dan luar biasa egois (narcisstic).
Ciri-ciri psikopat
Sering berbohong, fasih dan dangkal.
Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara
Secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi,
psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain.
Seringkali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila
ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan
mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.
Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah. Meski kadang psikopat mengakui
perbuatannya namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat
tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli.
Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.
Sikap antisosial di usia dewasa.
Kurang empati. Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala
orang, tidak ada bedanya.
Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian,
jam tidur larut dan sering keluar rumah.
Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat tidak ada waktu untuk
menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka
tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa
depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah
bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang
hanya karena hal sepele.
Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi
kesenangan belaka.
Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis
walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak
memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut
seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar --
bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu psikopat seringkali disebut dengan
istilah "dingin".
Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan
kepuasan dirinya.