Anda di halaman 1dari 3

Nama : M.

Adil Sipahutar
NIM : 131511123032
Kelas : AJ2 B18
TUGAS POS TEST

Pemeriksaan Fisik Morbid Obesitas


Setiap sistem pada pasien dengan morbid obesity dapat terpengaruh atau
terjadi perubahan, sehingga penting untuk dilakukan pemeriksaan fisik secara
teliti. Akan tetapi, pelaksanaan pemeriksaan fisik pada morbid obesity sulit
karena ketidakmampuan untuk mendengarkan suara jantung atau merasakan
denyut nadi. Rencana tindakan untuk melakukan pemeriksaan fisik dapat
dilakukan pada setiap sistem selama pengkajian.
a. B1 (Breathing)
Kegagalan pada pernapasan umumnya terjadi pada pasien dengan
morbid obesity. Kemampuan dinding dada untuk ekspansi adalah terbatas dan
berat karena terdapat pembesaran ukuran dan pembesaran abdomen. Deposit
lemak pada diafragma dan otot intercostal selanjutnya akan mengganggu
pernafasan.Pneumonia atau atelektasis terjadi sekunder ke hipoventilasi. Apnea
pada saat tidur juga biasanya terjadi pada pasien dengan morbid obesity.
Obesity hypoventilation syndrome (OHS) atau pickwickian syndrome,
merupakan gangguan tidur berhubungan dengan insufisiensi respirasi. Pasien
dapat menjadi hipoksia dan pengangkutan pernapasan juga menurun,
mekanisme kompensasi gangguan. Kombinasi dar OHS dan sleep apnea
merupakan hal yang biasanya terjadi pada morbid obesity.
Inspeksi : kaji RR, kedalaman dan monitor tanda penggunaan otot-
otot pernapasan, kaji adanya saturasi oksigen dan tanda-tanda hipoksia seperti
kelemahan dan penurunan tingkat kesadaran, lihat adanya sianosis dan pucat
pada kulit dan kuku pasien.
Auskultasi : krakels dapat mengindikasikan adanya pneumonia atau
gagal jantung, wheezing dan ronchi mengindikasikan adanya asma atau
obstructive pulmonary disease. Apabila terdapat suara nafas abnormal maka
pasien membutuhkan istirahat diantara auskultasi pada area yang berbeda.

b. B2 (Blood)
Pada pasien dengan morbid obesity cenderung mengalami CAD
(coronary artery disease), hipertensi sistemik, dan hiperlipidemia, dan yag
dapat memicu terjadinya penyakit jantung dan meningkatkan risiko
arteriosklerosis, deep vein thrombosis (DVT), penyakit pembuluh darah perifer.
Kelebihan cauran seunder terjadinya gangguan aksi pompa pada jantung
merupakan masalah yang dapat dilihat. Cairan kembali ke paru, jantung dan
sistem vena karena adanya tahanan di jantung.
Pada pasien dengan morbid obesity maka lakukan pengkajian pada tanda-
tanda vital, khususnya tekanan darah dan nadi.
Inspeksi: edema pitting atau nonpitting, CRT pada jari tangan dan kaki.
Auskultasi : suara jantung I, II, serta apakah adaya bunyi jantung
tambahan.
c. B3 (Brain)
Terdapat nyeri tungkai dan punggung bawah.
d. B4 (Bladder)
Pada pasien morbid obesity terdapat pengalaman inkonintensia urine atau
comorbidid renal disease. Inkonintensia yang terjadi berhubungan dengan
beberapa faktor antara lain kesulitan untuk duduk di pispot, dan kesulitan untuk
berpindah ke pispot. Tekanan pada di dalam kandung kemih dari pembesaran
abdomen dan lipatan kulit pada area perineum yang cenderung menghalangi
proses berkemih. Sehingga, perlu dikaji karakteristik dari urin pasien meliputi
warna, kejernihan, bau, jumlah serta intake dan output yang dikonsumsi.
e. B5 (Bowel)
Gallbladder disease dan GERD merupakan kondisi yang berhubungan
dengan pasien dengan morbid obesity. Inkontinensia fekal juga merupakan hal
yang biasanya terjadi karena adanya tekanan dari pembesaran abdomen di
dalam usus kemudian menekan spinkter, yang dapat menyebabkan kebocoran.
Pada pasien morbid obesity juga cenderung untuk berbaring pada
punggungnya, yang dapat menambah tekanan pada spinkter yang sudah lemah.
Asites atau cairan di dalam abdomen juga mnjadi suatu permasalahan
karena pada beberapa pasien mengalami hipertensi portal karena tekanan di
dalam pembuluh darah abdomen.
Inspeksi : karakteristik feses (warna, bau, konsistensi)
Auskultasi : bising usus
f. B6 (Bone)
Pada pasien dengan morbid obesity bahkan untuk berjalan jarak
dekat memicu kesulitan bernapas dan kelemahan.Kegiatan sederhana seperti
berjalan di tikungan, mengangkat sudah menjadi beban. Apabila otot tidak
dipergunakan maka dapat menimbulkan atropi dan kelemahan otot, tulang bisa
menjadi rapuh dan pasien cenderung mengalami fraktur.
Pada pasien dengan morbid obesity perlu diperhatikan adanya lipatan
kulit yang dapat menjebak atau menangkap perspirasi. Sehingga, berisiko
untuk terjadinya kulit pecah, iritasi, dan berbau. Infeksi jamur juga dapat
terjadi karena adanya iritasi dibawah lipatan kulit. Pasien morbid obesity
cenderung terjadi selulitis (infeksi bakteri pada dermis dan jairngan subkutan)
karena adanya penurunan sirkulasi dan kompromi dari sistem imun.
Pengkajian yang lain pada sistem endokrin dan imun, yaitu:
Berdasarkan pada Centers for Disease Control and Prevention, angka
kejadian DM tipe 2 tiga kali lipat pada 30 tahun terakhir. Pada pasien dengan
morbid obesity banyak yang mengalami DM tipe 2 sehingga perlu dikaji
adanya tanda-tanda hipoglikemia seperti mengantuk, pusing, pucat, diaforesis,
dan penurunan tingkat kesadaran. Tanda-tanda hiperglikemia juga perlu dikaji
yaitu meliputi polifagi, poliuria, polidipsi, muut kerng, kelemahan dan kulit
kering serta gatal.
Pada sistem imun pada pasien dengan morbid obesity dapat menimbulkan
adanya efek pada sistem imun. Pada pasien dapat mengalami penyembuhan
luka yang lama.