Anda di halaman 1dari 11

1.

Definisi Infeksi Saluran Kemih

Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya
invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari
saluran perkemihan yang disebabkan oleh bakteri terutama Escherichia coli, resiko dan beratnya
meningkat dengan kondisi sepertirefluks vesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis
perkemihan, pemakaian instrumen uretral baru, septicemia. Etiologi : Bakteri (Eschericia coli),
jamur dan virus, infeksi ginjal, prostat hipertropi (urine sisa). Penyebab utama ISK non-
komplikasi adalah bakteri Escherichia coli (85%), Staphylococcus saphrophyticus (5-
15%),Klebsiella pneumoniae, Proteus sp., Pseudomonas aeruginosa dan Enterococcus sp. (5-
10%).

Infeksi saluran kemih (ISK) hampir selalu diakibatkan oleh bakteri aerob dari flora usus.
Prevalensi kejadian antara usia kurang lebih 15-60 tahun dan jauh lebih banyak wanita daripada
pria menderita infeksi saluraan kemih bagian bawah. Hal ini dikarenakan bahwa pada wanita
uretranya lebih pendek (2-3 cm) daripada pria, sehingga kandung kemih mudah dicapai oleh
bakteri dari dubur melalui perineum, khususnya basil Escherichia coli. Pada pria selain uretranya
lebih panjang (15-18 cm) cairan prostatnya juga memiliki sifat bakterisisd sehingga menjadi
pelindung terhadap infeksi oleh bakteri uropatogen.

.2 Patofisiologi Infeksi Saluran Kemih

Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang mengatur keseimbangan cairan tubuh dan
elektrolit dalam tubuh, dan sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah dengan
mengeksresikan air yang dikeluarkan dalam bentuk urine apabila berlebih.(1) Diteruskan dengan
ureter yang menyalurkan urine ke kandung kemih. Sejauh ini diketahui bahwa saluran kemih
atau urine bebas dari mikroorganisme atau steril.(1)

Masuknya mikroorganisme kedalam saluran kemih dapat melalui :

Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat infeksi terdekat (ascending)
Hematogen

Limfogen

Eksogen sebagai akibat pemakaian berupa kateter.

Dua jalur utama terjadinya ISK adalah hematogen dan ascending, tetapi dari kedua cara ini
ascendinglah yang paling sering terjadi.Kuman penyebab ISK pada umumnya adalah kuman
yang berasal dari flora normal usus. Dan hidup secara komensal di dalam introitus vagina,
prepusium penis, kulit perineum, dan di sekitar anus. Mikroorganisme memasuki saluran kemih
melalui uretra prostate vas deferens testis (pada pria) buli-buli ureter, dan sampai ke
ginjal.

Meskipun begitu,faktor-faktor yang berpengaruh pada ISK akut yang terjadi pada wanita tidak
dapat ditemukan. Mikroorganisme yang paling sering ditemukan adalah jenis bakteri aerob.
Selain bakteri aerob, ISK dapat disebabkan oleh virus dan jamur.Terjadinya infeksi saluran
kemih karena adanya gangguan keseimbangan antar mikroorganisme penyebab infeksi
sebagai agent dan epitel saluran kemih sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan
oleh karena pertahanan tubuh dari host yang menurun atau karena virulensi agentmeningkat.

Kemampuan host untuk menahan mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih disebabkan
oleh beberapa faktor, antara lain adalah :

1. pertahanan lokal dari host

2. peranan dari sistem kekebalan tubuh yang terdiri atas kekebalan humoral maupun
imunitas seluler.

Bermacam-macam mikroorganisme dapat menyebabkan ISK. Penyebab terbanyak adalah Gram-


negatif termasuk bakteri yang biasanya menghuni usus yang kemudian naik ke sistem saluran
kemih. Dari gram-negatif Escherichia coli menduduki tempat teratas.Sedangkan jenis gram-
positif lebih jarang sebagai penyebab ISK sedangkan enterococcus dan staphylococcus
aureussering ditemukan pada pasien dengan batu saluran kemih.
Kuman Escherichia coli yang menyebabkan ISK mudah berkembang biak di dalam urine, disisi
lain urine bersifat bakterisidal terhadap hampir sebagian besar kuman dan spesies Escherichia
coli. Sebenarnya pertahanan sistem saluran kemih yang paling baik adalah mekanisme wash-
out urine, yaitu aliran urine yang mampu membersihkan kuman-kuman yang ada di dalam urine
bila jumlah cukup. Oleh karena itu kebiasaan jarang minum menghasilkan urine yang tidak
adekuat sehingga memudahkan untuk terjadinya infeksi saluran kemih. ISK juga banyak terjadi
melalui kateterisasi yang terjadi di rumah sakit. Berikut data dari infeksi nosokomial terbanyak
yang terjadi di rumah sakit

.3 Gejala Infeksi Saluran Kemih

Gejala klinis ISK sesuai dengan bagian saluran kemih yang terinfeksi sebagai berikut :

1. Pada ISK bagian bawah, keluhan pasien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di
uretra sewaktu kencing dengan air kemih sedikit-sedikit serta rasa tidak enak di daerah
suprapubik

2. Pada ISK bagian atas dapat ditemukan gejala sakit kepala, malaise, mual, muntah,
demam, menggigil, rasa tidak enak, atau nyeri di pinggang.

Ada beberapa faktor penting yang mempermudah timbulnya infeksi yaitu:

1. Jarang berkemih

Pengeluaran urine (mictio) merupakan mekanisme ketahanan penting dari kandung kemih. Bila
mictio normal terhambat karena misalnya obstruksi, ISK dapat lebih mudah terjadi.

1. Gangguan pengosongan kandung kemih

Akibat obstruksi (batu ginjal), disfungsi atau hipertropi prostat bisa mengakibatkan tertinggalnya
residu dimana kuman-kuman mudah berproliferasi

1. Hygien pribadi kurang baik


Bisa menyebabkan kolonisasi kuman uropatogen disekitar (ujung) uretra, misalnya penggunaan
pembalut wanita. Kuman lalu menjalar ke atas menuju uretra, lalu ke kandung kemih dan
kemudian menyebar melalui ureter ke ginjal (ISK bagian atas)

1. Penggunaan kateter

Melalui senggam dan karena adanya infeksi lokal (misalnya vaginitis) dapat mempermudah
infeksi

1. Penderita diabetes

Lebih peka untuk ISK karena meningkatnya daya melekat bakteri pada epitel SK akibat beberapa
sebab tertentu.

III.4 Penatalaksanaan Terapi Infeksi Saluran Kemih

1. Terapi Non Farmakologi

Terapi Non Farmakologi meliputi :

Hindari stress.

Jangan terlalu lama menahan keinginan buang air kecil.

Jika membersihkan kotoran, bersihkan dari arah depan ke belakang, agar kotoran dari
dubur tidak masuk ke dalam saluran kemih.

Kurangi makanan yang banyak mengandung gula.

Minum banyak cairan (dianjurkan untuk minum minimal 8 gelas air putih sehari).

1. Terapi Farmakologi
Gejala Infeksi Saluran Kemih

Gejala klinis ISK sesuai dengan bagian saluran kemih yang terinfeksi sebagai berikut :

1. Pada ISK bagian bawah, keluhan pasien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di
uretra sewaktu kencing dengan air kemih sedikit-sedikit serta rasa tidak enak di daerah
suprapubik

2. Pada ISK bagian atas dapat ditemukan gejala sakit kepala, malaise, mual, muntah,
demam, menggigil, rasa tidak enak, atau nyeri di pinggang.

Ada beberapa faktor penting yang mempermudah timbulnya infeksi yaitu:

1. Jarang berkemih

Pengeluaran urine (mictio) merupakan mekanisme ketahanan penting dari kandung kemih. Bila
mictio normal terhambat karena misalnya obstruksi, ISK dapat lebih mudah terjadi.

1. Gangguan pengosongan kandung kemih

Akibat obstruksi (batu ginjal), disfungsi atau hipertropi prostat bisa mengakibatkan tertinggalnya
residu dimana kuman-kuman mudah berproliferasi

1. Hygien pribadi kurang baik

Bisa menyebabkan kolonisasi kuman uropatogen disekitar (ujung) uretra, misalnya penggunaan
pembalut wanita. Kuman lalu menjalar ke atas menuju uretra, lalu ke kandung kemih dan
kemudian menyebar melalui ureter ke ginjal (ISK bagian atas)

1. Penggunaan kateter

Melalui senggam dan karena adanya infeksi lokal (misalnya vaginitis) dapat mempermudah
infeksi

1. Penderita diabetes
Lebih peka untuk ISK karena meningkatnya daya melekat bakteri pada epitel SK akibat beberapa
sebab tertentu.

.4 Penatalaksanaan Terapi Infeksi Saluran Kemih

1. Terapi Non Farmakologi

Terapi Non Farmakologi meliputi :

Hindari stress.

Jangan terlalu lama menahan keinginan buang air kecil.

Jika membersihkan kotoran, bersihkan dari arah depan ke belakang, agar kotoran dari
dubur tidak masuk ke dalam saluran kemih.

Kurangi makanan yang banyak mengandung gula.

Minum banyak cairan (dianjurkan untuk minum minimal 8 gelas air putih sehari).

Obat Tepat Indikasi untuk Infeksi Saluran Kemih

Pada ISK yang tidak memberikan gejala klinis tidak perlu pemberian terapi, namun bila sudah
terjadi keluhan harus segera dapat diberikan antibiotika.(5)Antibiotika yang diberikan berdasarkan
atas kultur kuman dan test kepekaan antibiotika.(1)

Tujuan pengobatan ISK adalah mencegah dan menghilangkan gejala, mencegah dan mengobati
bakteriemia, mencegah dan mengurangi risiko kerusakan jaringan ginjal yang mungkin timbul
dengan pemberian obat-obatan yang sensitif, murah, aman dengan efek samping yang
minimal. (6)

Banyak obat-obat antimikroba sistemik diekskresikan dalam konsentrasi tinggi ke dalam urin.
Karena itu dosis yang jauh dibawah dosis yang diperlukan untuk mendapatkan efek sistemik
dapat menjadi dosis terapi bagi infeksi saluran kemih.(7)
Untuk menyatakan adanya ISK harus ditemukan adanya bakteri di dalam urin. Indikasi yang
paling penting dalam pengobatan dan pemilihan antibiotik yang tepat adalah mengetahui jenis
bakteri apa yang menyebabkan ISK.(8) Biasanya yang paling sering menyebabkan ISK adalah
bakteri gram negatif Escherichia coli. Selain itu diperlukan pemeriksaan penunjang pada ISK
untuk mengetahui adanya batu atau kelainan anatomis yang merupakan faktor predisposisi ISK
sehingga mampu menganalisa penggunaan obat serta memilih obat yang tepat.(1)

Bermacam cara pengobatan yang dilakukan pada pasien ISK, antara lain :

pengobatan dosis tunggal

pengobatan jangka pendek (10-14 hari)

pengobatan jangka panjang (4-6 minggu)

pengobatan profilaksis dosis rendah

pengobatan supresif (1)

Berikut obat yang tepat untuk ISK :

Sulfonamide :

Sulfonamide dapat menghambat baik bakteri gram positif dan gram negatif. Secara struktur
analog dengan asam p-amino benzoat (PABA).(7) Biasanya diberikan per oral, dapat dikombinasi
dengan Trimethoprim, metabolisme terjadi di hati dan di ekskresi di ginjal. Sulfonamide
digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih dan bisa terjadi resisten karena hasil mutasi
yang menyebabkan produksi PABA berlebihan. (9)

Efek samping yang ditimbulkan hipersensitivitas (demam, rash, fotosensitivitas), gangguan


pencernaan (nausea, vomiting, diare), Hematotoxicity(granulositopenia, (thrombositopenia,
aplastik anemia) dan lain-lain. (9,10)Mempunyai 3 jenis berdasarkan waktu paruhnya :

Short acting
Intermediate acting

Long acting (9)

Trimethoprim :

Mencegah sintesis THFA, dan pada tahap selanjutnya dengan menghambat enzim dihydrofolate
reductase yang mencegah pembentukan tetrahydro dalam bentuk aktif dari folic acid. Diberikan
per oral atau intravena, di diabsorpsi dengan baik dari usus dan ekskresi dalam urine, aktif
melawan bakteri gram negatif kecuali Pseudomonas spp. Biasanya untuk pengobatan utama
infeksi saluran kemih. Trimethoprim dapat diberikan tunggal (100 mg setiap 12 jam) pada infeksi
saluran kemih akut (7,11)

Efek samping : megaloblastik anemia, leukopenia, granulocytopenia. (9)

Trimethoprim + Sulfamethoxazole (TMP-SMX):

Jika kedua obat ini dikombinasikan, maka akan menghambat sintesis folat, mencegah resistensi,
dan bekerja secara sinergis. Sangat bagus untuk mengobati infeksi pada saluran kemih,
pernafasan, telinga dan infeksi sinus yang disebabkan oleh Haemophilus
influenza dan Moraxella catarrhalis. (7,9,10) Karena Trimethoprim lebih bersifat larut dalam lipid
daripada Sulfamethoxazole, maka Trimethoprim memiliki volume distribusi yang lebih besar
dibandingkan dengan Sulfamethoxazole. Dua tablet ukuran biasa (Trimethoprim 80 mg +
Sulfamethoxazole 400 mg) yang diberikan setiap 12 jam dapat efektif pada infeksi berulang pada
saluran kemih bagian atas atau bawah. (7) Dua tablet per hari mungkin cukup untuk menekan
dalam waktu lama infeksi saluran kemih yang kronik, dan separuh tablet biasa diberikan 3 kali
seminggu untuk berbulan-bulan sebagai pencegahan infeksi saluran kemih yang berulang-ulang
pada beberapa wanita. (7)

Efek samping : pada pasien AIDS yang diberi TMP-SMX dapat menyebabkan demam,
kemerahan, leukopenia dan diare.(9)

Fluoroquinolones :
Mekanisme kerjanya adalah memblok sintesis DNA bakteri dengan menghambat topoisomerase
II (DNA gyrase) topoisomerase IV. Penghambatan DNA gyrase mencegah relaksasi supercoiled
DNA yang diperlukan dalam transkripsi dan replikasi normal. (9) Fluoroquinolon menghambat
bakteri batang gram negatif termasuk enterobacteriaceae, Pseudomonas, Neisseria. Setelah
pemberian per oral, Fluoroquinolon diabsorpsi dengan baik dan didistribusikan secara luas dalam
cairan tubuh dan jaringan, walaupun dalam kadar yang berbeda-beda. (7)Fluoroquinolon terutama
diekskresikan di ginjal dengan sekresi tubulus dan dengan filtrasi glomerulus. Pada insufisiensi
ginjal, dapat terjadi akumulasi obat.(7)

Efek samping yang paling menonjol adalah mual, muntah dan diare.Fluoroquinolon dapat
merusak kartilago yang sedang tumbuh dan sebaiknya tidak diberikan pada pasien di bawah
umur 18 tahun. (7)

Norfloxacin :

Merupakan generasi pertama dari fluoroquinolones dari nalidixic acid, sangat baik untuk infeksi
saluran kemih. (9)

Ciprofloxacin :

Merupakan generasi kedua dari fluoroquinolones, mempunyai efek yang bagus dalam melawan
bakteri gram negatif dan juga melawan gonococcus, mykobacteria, termasuk Mycoplasma
pneumoniae. (9)

Levofloxacin

Merupakan generasi ketiga dari fluoroquinolones. Hampir sama baiknya dengan generasi kedua
tetapi lebih baik untuk bakteri gram positif. (9)

Nitrofurantoin :

Bersifat bakteriostatik dan bakterisid untuk banyak bakteri gram positif dan gram negatif.
Nitrofurantoin diabsorpsi dengan baik setelah ditelan tetapi dengan cepat di metabolisasi dan
diekskresikan dengan cepat sehingga tidak memungkinkan kerja antibakteri sistemik.(12) Obat ini
diekskresikan di dalam ginjal. Dosis harian rata-rata untuk infeksi saluran kemih pada orang
dewasa adalah 50 sampai 100 mg, 4 kali sehari dalam 7 hari setelah makan. (7)

Efek samping : anoreksia, mual, muntah merupakan efek samping utama.Neuropati dan anemia
hemolitik terjadi pada individu dengan defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase.(7)

Obat tepat digunakan untuk pasien ISK dengan kelainan fungsi ginjal

Ginjal merupakan organ yang sangat berperan dalam eliminasi berbagai obat sehingga gangguan
yang terjadi pada fungsi ginjal akan menyebabkan gangguan eliminasi dan mempermudah
terjadinya akumulasi dan intoksikasi obat. (1)

Faktor penting dalam pemberian obat dengan kelainan fungsi ginjal adalah menentukan dosis
obat agar dosis terapeutik dicapai dan menghindari terjadinya efek toksik. (13) Pada gagal ginjal,
farmakokinetik dan farmakodinamik obat akan terganggu sehingga diperlukan penyesuaian dosis
obat yang efektif dan aman bagi tubuh. Bagi pasien gagal ginjal yang menjalani dialisis,
beberapa obat dapat mudah terdialisis, sehingga diperlukan dosis obat yang lebih tinggi untuk
mencapai dosis terapeutik.(1) Gagal ginjal akan menurunkan absorpsi dan menganggu kerja obat
yang diberikan secara oral oleh karena waktu pengosongan lambung yang memanjang,
perubahan PH lambung, berkurangnya absorpsi usus dan gangguan metabolisme di hati. (1) Untuk
mengatasi hal ini dapat dilakukan berbagai upaya antara lain dengan mengganti cara pemberian,
memberikan obat yang merangsang motilitas lambung dan menghindari pemberian bersama
dengan obat yang menggangu absorpsi dan motilitas.(1)

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian obat pada kelainan fungsi ginjal adalah :

penyesuaian dosis obat agar tidak terjadi akumulasi dan intoksikasi obat

pemakaian obat yang bersifat nefrotoksik seperti aminoglikosida, Amphotericine B,


Siklosporin. (1)

Bentuk dan dosis obat yang tepat untuk diberikan kepada pasien ISK dengan kelainan
fungsi ginjal
Pada pasien ISK yang terinfeksi bakteri gram negatif Escherichia coli dengan kelainan fungsi
ginjal adalah dengan mencari antibiotik yang tidak dimetabolisme di ginjal. Beberapa jurnal
dan text book dikatakan penggunaanTrimethoprim + Sulfamethoxazole (TMP-
SMX) mempunyai resiko yang paling kecil dalam hal gangguan fungsi ginjal. Hanya saja
penggunaanya memerlukan dosis yang lebih kecil dan waktu yang lebih lama. (9)

Pada ekskresi obat perlu diperhatikan fungsi ginjal, yang diikuti dengan penurunan Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG), terutama obat yang diberi dengan jangka panjang harus selalu
memperhitungkan fungsi ginjal pasien. Secara praktis dapat diukur dengan creatine
clearance test.(1) LFG sangat berguna untuk menilai fungsi ginjal karena kreatinin merupakan zat
yang secara prima difiltrasi dengan jumlah yang cuma sedikit akan tetap bervariasi terhadap
bahan yang disekresi. (1)

Trimethoprim + Sulfamethoxazole (TMP-SMX) :

Dosis yang diberikan pada pasien ISK dengan kelainan fungsi ginjal haruslah lebih rendah. Pada
pasien dengan creatine clearance 15 hingga 30 ml/menit, dosis yang diberikan adalah setengah
(9)
dari dosis Trimethoprim 80 mg + Sulfamethoxazole 400 mg yang diberikan tiap 12 jam. Cara
pemberiannya dapat dilakukan secara oral maupun intravena. (7,9)

Penghitungan creatine clearance: TKK = (140 umur) x berat badan

72 x kreatinin serum