Anda di halaman 1dari 28

8

BAB II

KERANGKA TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

2.1. Deskripsi Teori

2.1.1. Paving Block

2.1.1.1. Pengertian

Mencermati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini yang

mengalami perkembangan begitu pesatnya seiring dengan tuntutan kehidupan

masyarakat yang semakin tinggi. Bersama dengan itu pula terjadi perubahan dalam

berbagai kehidupan manusia yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan dipengaruhi oleh tuntutan hidup dari masyarakat ini, maka para insinyur terus

berusaha mempelajari dan mengembangkan permasalahan-permasalahan yang terjadi

dalam kehidupan masyarakat khususnya yang berkaitan erat dengan dunia industri.

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi disegala aspek

kehidupan masyarakat itulah, khususnya di bidang industri pembuatan paving block

juga turut mengalami kemajuan guna menemukan satu bentuk yang dapat

memberikan kepuasan bagi para penggunanya. Paving block merupakan produk

bahan bangunan dari semen yang digunakan sebagai salah satu alternatif penutup atau

pengerasan permukaan tanah. Paving block dikenal juga dengan sebutan bata beton

(concrete block) atau cone blok.

Paving block memiliki banyak kelebihan dan keuntungan baik dari segi

kekuatan, kemudahan pembuatan maupun pelaksanaannya. Bentuk dan ukuran


9

paving-block didesain sesuai dengan fungsi dan penggunaannya. Beberapa

keuntungan menggunakan paving block adalah tahan lama, pemasangannya mudah,

tidak memakai mortar, dll. Bata beton (paving block) adalah suatu komposisi bahan
8
bangunan yang dibuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis

sejenisnya, air, dan agregat dengan atau tanpa bahan tambahan lainnya yang tidak

mengurangi mutu bata beton itu. Bata beton dapat berwarna seperti aslinya atau diberi

zat warna pada komposisinya dan digunakan untuk halaman baik di dalam maupun di

luar bangunan (SNI 03-0691-1996). Untuk memenuhi kualitas paving block seperti

yang disyaratkan, maka perlu dilakukan beberapa perbaikan didalam proses

pembuatan maupun pemasangan bata beton paving block.

2.1.1.2. Bahan Penyusun

Dalam pembuatan paving block pada umumnya bahan yang digunakan adalah

pasir, semen dan air atau tanpa bahan tambahan. Berikut ini akan dijelaskan sekilas

mengenai bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan paving block.

a) Portland Cement (PC)

Semen adalah bahan yang mempunyai sifat adhesif dan kohesif digunakan

sebagai bahan pengikat (Bonding material) yang dipakai bersama batu kerikil, pasir,

dan air. Semen Portland akan mengikat butir-butir agregat (halus dan kasar) setelah

diberi air dan selanjutnya akan mengeras menjadi suatu massa yang padat.

Portland Cement merupakan bahan utama atau komponen beton terpenting

yang berfungsi sebagai bahan pengikat an-organik dengan bantuan air dan mengeras

secara hidrolik. Portland Cement harus memenuhi persyaratan yang diperlukan dalam
10

PBI (1971). Portland Cement inilah yang dapat menyatukan antara agregat halus dan

agregat kasar sehingga mengeras menjadi beton. Adapun komponenkomponen

bahan baku Portland cement yang baik yaitu (Tjokrodimuljo, 1996):

(1) Batu kapur (CaO) = 60 67%

(2) Pasir Silika (SiO2) = 17 25%

(3) Alumina (Al2O3) = 0,3 0,8%

(4) Tanah Liat (Al2O3) = 0,3 0,8%

(5) Magnesia (MgO) = 0,3 0,8%

(6) Sulfur (SO3) = 0,3 0,8%

Kardiyono (1996: 6) menyebutkan bahwa pada dasarnya dapat disebutkan 4

unsur yang paling penting dari Portland Cement adalah:

(1) Trikalsium Silikat (C3S) atau 3CaO.SiO2

(2) Dikalsium Silikat (C2S) atau 2CaO.SiO2

(3) Trikalsium Aluminat (C3A) atau 3CaO.Al2O3

(4) Tetrakalsium Aluminoferit (C4AF) atau 4CaO.Al2O3.FeO3

Menurut Sagel et al (1994:1) Semen Portland adalah semen hidrolis yang

terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidraulis bersama bahan-

bahan tambahan yang biasa digunakan yaitu gypsum. Selanjutnya Nawy (1990: 9)

memberikan pengertian semen portland (PC) adalah : Semen portland dibuat dari

serbuk halus mineral kristalin yang komposisi utamanya adalah kalsium atau batu

kapur (CaO), Alumunia (Al2O3), Pasir silikat (SiO2) dan bahan biji besi (FeO2) dan

senyawa-senyawa MgO dan SO3, penambahan air pada mineral ini akan
11

menghasilkan suatu pasta yang jika mengering akan mempunyai kekuatan seperti

batu. Ada dua macam jenis semen, yaitu :

1. Semen non hidrolik, tidak dapat mengikat dan mengeras di dalam air akan

tetapi mengikat dan mengeras di udara (kapur).

2. Semen hidrolik, mempunyai kemampuan untuk mengikat dan mengeras di

dalam air (Semen Portland, Semen Terak. Shiroku Saito, 1985).

Apabila butiran-butiran Portland Cement berhubungan dengan air, maka

butiran-butiran tersebut akan pecah-pecah dengan sempurna sehingga menjadi hidrasi

dan membentuk adukan semen. Jika adukan tersebut ditambah dengan pasir dan

kerikil yang diaduk bersama akan menghasilkan adukan beton. Ismoyo (1996: 156)

mengatakan, Semen portland adalah sebagai bahan pengikat yang melihat dengan

adanya air dan mengeras secara hidrolik. Selanjutnya Murdock dan Brook (1991:

66) mengatakan : Semen adalah suatu jenis bahan yang memiliki sifat adhesif dan

kohesif (cohesive) yang memungkinkan melekatnya fragmen-fragmen mineral

menjadi suatu massa yang padat. Meskipun definisi ini dapat diterapkan untuk

banyak jenis bahan, semen yang dimaksudkan untuk konstruksi beton bertulang

adalah bahan jadi dan mengeras dengan adanya air yang dinamakan semen hidrolis

(hidrolic cements).

Dari beberapa pendapat tentang sifat semen dapat diambil pengertian bahwa

semen portland adalah suatu bahan pengikat yang mempunyai sifat adhesif dan

kohesif yang memungkinkan fragmen-fragmen mineral saling melekat satu sama lain

apabila dicampur dengan air dan selanjutnya mengeras membentuk massa yang padat.
12

Semen hidrolis meliputi semen portland, semen putih dan semen alumunia.

Untuk pembuatan beton digunakan semen portland dan semen portland pozzoland.

Semen portland merupakan semen hidrolis yang dihasilkan dari bahan kapur dan

bahan lempung yang dibakar sampai meleleh, setelah terbentuk klinker yang

kemudian dihancurkan, digerus dan ditambah dengan gips dalam jumlah yang sesuai.

Sedangkan semen portland pozzoland adalah semen yang dibuat dengan menggilang

bersama-sama klinker semen portland dan bahan yang mempunyai sifat pozzoland

(Kardiyono, 1996: 11).

Semen portland yang digunakan sebagai bahan struktur harus mempunyai

kualitas yang sesuai dengan ketepatan agar berfungsi secara efektif. Pemeriksaaan

dilakukan terhadap yang masih berupa bentuk kering, pasta semen yang telah keras,

dan beton yang dibuat darinya.

Sifat kimia yang perlu mendapat perhatian adalah kesegaran semen itu sendiri.

Semakin sedikit kehilangan berat berarti semakin baik kesegaran semen. Dalam

keadaan normal kehilangan berat sekitar 2% dan maksimum kehilangan yang

diijinkan 3%. Kehilangan berat terjadi karena adanya kelembaban dan

karbondioksida dalam bentuk kapur bebas atau magnesium yang menguap.

b) Agregat Halus (Pasir)

Agregat halus (pasir) terdiri dari butiran sebesar 0,14-5 mm, didapat dari hasil

disintegrasi batuan alam (natural sand) atau dapat juga dengan memecahnya (artifical

sand), tergantung dari kondisi pembentukan tempat yang terjadinya. Pasir alam dapat
13

dibedakan atas : pasir galian, pasir sungai, pasir laut, pasir done yaitu bukit-bukit

pasir yang dibawa ketepi pantai.

Pasir merupakan bahan pengisi yang digunakan dengan semen untuk membuat

adukan. Selain itu juga pasir berpengaruh terhadap sifat tahan susut, keretakan dan

kekerasan pada paving block atau produk bahan bangunan campuran semen lainnya.

Pasir yang digunakan untuk pembuatan paving block harus bermutu baik yaitu

pasir yang bebas dari lumpur, tanah liat, zat organik, garam florida dan garam sulfat.

Selain itu juga pasir harus bersifat keras, kekal dan mempunyai susunan butir

(gradasi) yang baik. Menurut Persyaratan Bangunan Indonesia (1982: 23) agregat

halus sebagai campuran untuk pembuatan beton bertulang harus memenuhi syarat

syarat sebagai berikut:

(1) Pasir harus terdiri dari butir-butir kasar, tajam dan keras.

(2) Pasir harus mempunyai kekerasan yang sama.

(3) Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 %, apabila lebih

dari 5 % maka agregat tersebut harus dicuci dulu sebelum digunakan. Adapun

yang dimaksud lumpur adalah bagian butir yang melewati ayakan 0,063 mm.

(4) Pasir harus tidak boleh mengandung bahan-bahan organik terlalu banyak.

(5) Pasir harus tidak mudah terpengaruh oleh perubahan cuaca.

(6) Pasir laut tidak boleh digunakan sebagai agregat untuk beton.

Selain itu untuk memperoleh pasir dengan gradasi yang baik perlu diadakan

pengujian di laboratorium. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam

besarnya dan apabila diayak dengan susunan ayakan yang telah ditentukan dalam PBI

1971, harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:


14

(1) Sisa diatas ayakan 4 mm, harus minimum 2 % dari berat total.

(2) Sisa diatas ayakan 1 mm, harus minimum 10 % dari berat total.

(3) Sisa diatas ayakan 0,22 mm, harus bekisar antara 80 % - 90 % dari berat total.

c) Air

Air yang dimaksud disini adalah air yang digunakan sebagai campuran bahan

bangunan, harus berupa air bersih dan tidak mengandung bahanbahan yang dapat

menurunkan kualitas beton. Menurut PBI 1971 persyaratan dari air yang digunakan

sebagai campuran bahan bangunan adalah sebagai berikut:

a) Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak,

asam alkali, garam-garam, bahan-bahan organik atau bahan lain yang dapat

merusak daripada beton.

b) Apabila dipandang perlu maka contoh air dapat dibawa ke Laboratorium

Penyelidikan Bahan untuk mendapatkan pengujian sebagaimana yang

dipersyaratkan.

c) Jumlah air yang digunakan adukan beton dapat ditentukan dengan ukuran berat

dan harus dilakukan setepat-tepatnya.

Air yang digunakan untuk proses pembuatan beton yang paling baik adalah air

bersih yang memenuhi syarat air minum. Jika dipergunakan air yang tidak baik maka

kekuatan beton akan berkurang. Air yang digunakan dalam proses pembuatan beton

jika terlalu sedikit maka akan menyebabkan beton akan sulit untuk dikerjakan, tetapi

jika air yang digunakan terlalu banyak maka kekuatan beton akan berkurang dan

terjadi penyusutan setelah beton mengeras.


15

2.1.1.3. Proses Produksi

Adapun proses produksi paving block adalah sebagai berikut :

1. Pasir diayak untuk mendapatkan pasir yang halus dengan menggunakan mesin.

2. Pasir yang diayak dan semen diaduk sampai rata dengan menggunakan mesin

pengaduk dan setelah rata ditambahkan air.

3. Adonan pasir, semen dan air tersebut diaduk kembali sehingga didapat adukan

yang rata dan siap dipakai.

4. Adukan yang siap dipakai ditempatkan di mesin pencetak paving block dengan

menggunakan sekop dan di atasnya boleh ditambahkan pasir halus hasil ayakan

(bergantung pada jenis produk paving block yang akan dibuat).

5. Dengan menggunakan lempengan besi khusus tersebut dipres/ditekan sampai

padat dan rata mekanisme tekan pada mesin cetak yaitu press mesin manual

atau press mesin hidrolik yang dapat dilihat pada Gambar 2.1. dan 2.2.

6. Paving block mentah yang sudah jadi tersebut kemudian dikeluarkan dari

cetakan dengan cara menempatkan potongan papan di atas seluruh permukaan

alat cetak.

7. Berikutnya alat cetak diangkat, sehingga paving block mentah tersebut keluar

dari alat cetaknya.

8. Proses berikutnya adalah mengeringkan paving block mentah dengan cara

diangin-anginkan atau di jemur di bawah terik matahari sehingga didapat

paving block yang sudah jadi.


16

Gambar 2.1. Mesin Press Manual

Gambar 2.2. Mesin Press Hidrolik

2.1.1.4. Hasil Produksi

Hasil produksi paving block sebelum dipasarkan harus menjalani pengujian

mutu yang meliputi :


17

a. Pengujian kuat tekan,

b. Pengujian penyerapan air, dan

c. Pengujian ketahanan aus (SNI 03-0691-1996).

Sebagai bahan penutup dan pengerasan permukaan tanah, paving block sangat

luas penggunaannya untuk berbagai keperluan, mulai dari keperluan yang sederhana

sampai penggunaan yang memerlukan spesifikasi khusus. Paving blok dapat

digunakan untuk pengerasan dan memperindah trotoar jalan di kota-kota, pengerasan

jalan di komplek perumahan atau kawasan pemukiman, memperindah taman,

pekarangan dan halaman rumah, pengerasan areal parkir, areal perkantoran, pabrik,

taman dan halaman sekolah, serta di kawasan hotel dan restoran. Paving block

bahkan dapat digunakan pada areal khusus seperti pada pelabuhan peti kemas, bandar

udara, terminal bis dan stasiun kereta.

Dibandingkan dengan aspal, pemakaian paving block sangat efisien

penggunaannya. Paving block lebih dapat menyerap panas dan air lebih cepat

dibanding aspal. Di Indonesia penggunaan paving block sudah banyak dijumpai,

seperti pada trotoar jalan dan alun-alun di ibukota provinsi atau kabupaten terlihat

menggunakan paving block.

Diantara berbagai macam alternatif penutup permukaan tanah, paving block

lebih memiliki banyak variasi baik dari segi bentuk, ukuran, warna, corak dan tekstur

permukaan, serta kekuatan. Penggunaan paving blok juga dapat divariasikan dengan

jenis paving atau bahan bangunan penutup tanah lainnya. Proses pembuatan paving

block relatif mudah untuk dilakukan dan tidak memerlukan persyaratan khusus
18

lokasi. Karena itu untuk melakukan usaha pembuatan paving block hampir merata

dapat di lakukan di seluruh wilayah Indonesia yang memiliki sumber bahan baku.

Berdasarkan bentuknya paving block dapat dibedakan menjadi beberapa macam

dengan ketebalan yang berbeda-beda yaitu 6 cm, 8 cm dan 10 cm. Berikut data

ukuran dan gambar bata beton paving block :

1. 6 cm : Untuk konstruksi perkerasan lalu lintas ringan.

Contoh : Trotoar, halaman rumah, carport.

2. 8 cm : Untuk konstruksi perkerasan lalu lintas sedang sampai berat.

Contoh : Jalan lingkungan, kompleks industri, terminal bus.

3. 10 cm : Untuk konstruksi perkerasan super berat.

Contoh : Pelabuhan dengan crane, terminal container.

Gambar 2.3. Macam-macam Bata Beton Paving Block


19

2.1.1.5. Mutu dan Standar yang disyaratkan

Sesuai mutu dan standar yang disyaratkan SNI 03-0691-1996, sifat tampak bata

beton paving block harus mempunyai :

1. Permukaan yang rata dan bentuk yang sempurna,


2. Tidak retak-retak dan cacat,
3. Bagian sudut dan rusuknya tidak mudah direpihkan dengan kekuatan jari

tangan,
4. Warna umumnya abu-abu atau sesuai dengan pesanan konsumen.

Sesuai mutu dan standar yang disyaratkan SNI 03-0691-1996, ukuran bata

beton paving block harus mempunyai ukuran tebal nominal minimum 60 mm dengan

toleransi 8%.

Sesuai mutu dan standar yang disyaratkan SNI 03-0691-1996, sifat fisika bata

beton paving block memiliki beberapa kriteria. Berikut kriteria bata beton paving

block tersebut :

Paving Mutu A : digunakan untuk jalan

Paving Mutu B : digunakan untuk pelataran parkir

Paving Mutu C : digunakan untuk pejalan kaki

Paving Mutu D : digunakan untuk taman dan pengguna lain

Paving yang diproduksi secara manual biasanya termasuk dalam mutu beton

kelas D atau C yaitu untuk tujuan pemakaian non struktural, seperti untuk taman dan

penggunaan lain yang tidak diperlukan untuk menahan beban berat di atasnya.

Mutu paving yang pengerjaannya dengan menggunakan mesin press dapat

dikategorikan ke dalam mutu beton kelas C sampai A dengan kuat tekan


20

diatas 125 kg/cm2 bergantung pada perbandingan campuran bahan yang

digunakan.

Penampakan antara paving yang diproduksi dengan cara manual

dan paving press mesin secara kasat mata relatif hampir sama, namun permukaan

paving yang diproduksi dengan mesin press terlihat lebih rapat dibanding yang dibuat

secara manual. Dengan karakteristik sebagai berikut :

Bata beton paving block harus mempunyai sifat-sifat fisika pada tabel 2.1.

Tabel 2.1. Persyaratan Fisis dan Mekanis Bata Beton Paving Block

Sifat-sifat Fisika
Kuat Tekan Ketahanan Aus Penyerapan Air
Mutu (Mpa) (mm/menit) Rata-rata Maks.
Rata-rata Min. Rata-rata Min. (%)
A 40 35 0,090 0,103 3
B 20 17,0 0,130 0,149 6
C 15 12,5 0,160 0,184 8
D 10 8,5 0,219 0,251 10

Bata beton paving block mutu A di atas disyaratkan kuat tekan minimal 35 MPa dan

rerata 40 MPa hal ini setara dengan K430 hingga K490.

Bata beton paving block mutu B diatas disyaratkan kuat tekan minimal 20 MPa da

rerata 20 MPa hal ini setara dengan K208 hingga K245.

Bata beton paving block mutu C diatas disyaratkan kuat tekan minimal 12,5 MPa dan

rerata 15 MPa hal ini setara dengan K153 hingga K184.


21

Bata beton paving block mutu D diatas disyaratkan kuat tekan minimal 8,5 MPa dan

rerata 10 MPa hal ini setara dengan K104 hingga K122.

2.1.1.6. Metode Pengujian

Ada berbagai metode pengujian. Berikut metode pengujiannya :

Metode struktur, yaitu dengan cara paving dipotong berbentuk kubus dengan

ukuran yang disesuaikan dengan benda uji, kemudian ditekan dengan tekanan,

durasi waktu dan kecepatan tertentu hingga hancur. Nilai kuat tekan diperoleh

dari Beban tekan dibagi dengan luas bidang tekan.

Metode Ukuran, diukur dengan kaliper ukuran ketebalan minimum 6 cm

dengan toleransi 8%

Metode Visual, permukaan paving block harus rata, tidak terdapat cacat,

bagian sudut dan tepi tidak mudah hancur, jika paving satu dengan yang lainnya

dibenturkan tidak mudah hancur.

Pengujian jatuh, jika paving dijatuhkan bebas dengan ketinggian 1 meter maka

paving block yang bagus tidak akan mudah patah.

Pengujian serapan air, paving block direndam ke dalam air selama 24 jam,

kemudian dikeringkan dengan suhu 105 derajat celcius dan ditimbang 2 kali

hingga selisih hasil penimbangan tidak lebih dari 0,2%, kemudian nilai

penyerapan dihitung dari berat paving block basah dikurangi berat paving block

kering, dibagi dengan berat paving block kering, kemudian dikalikan 100%.

2.1.1.7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mutu


22

Agar didapat mutu paving block yang memenuhi syarat SNI 03-

0691-1996, banyak faktor yang mempengaruhi. Faktor yang

mempengaruhi mutu paving block tergantung pada :

1. Faktor air semen (F.A.S)

2. Umur paving block

3. Kepadatan paving block

4. Bentuk dan struktur batuan

5. Ukuran agregat, dan lain-lain.

Faktor air semen adalah perbandingan antara berat air dan

berat semen dalam campuran adukan. Kekuatan dan kemudahan

pengerjaan (workability) campuran adukan paving block sangat

dipengaruhi oleh jumlah air campuran yang dipakai. Untuk suatu

perbandingan campuran paving block tertentu, diperlukan jumlah

air yang tertentu pula.

Pada dasarnya semen memerlukan jumlah air sebesar 32% berat semen untuk

bereaksi secara sempurna, akan tetapi apabila kurang dari 40 % berat semen maka

reaksi kimia tidak selesai dengan sempurna (A. Manap, 1987: 25). Apabila kondisi

seperti ini dipaksakan akan mengakibatkan kekuatan paving block berkurang. Jadi air

yang dibutuhkan untuk bereaksi dengan semen dan untuk memudahkan pembuatan

paving block, maka nilai FAS. pada pembuatan dibuat pada batas kondisi adukan

lengas tanah, karena dalam kondisi ini adukan dapat dipadatkan secara optimal.
23

Semakin besar nilai FAS, semakin rendah mutu kekuatan beton. Dengan demikian,

untuk menghasilkan sebuah beton yang bermutu tinggi FAS dalam beton haruslah

rendah. Umumnya nilai FAS minimum untuk beton normal sekitar 0.4 dan nilai

maksimum 0.65. Tujuan pengurangan FAS ini adalah untuk mengurangi hingga

seminimal mungkin porositas beton yang dibuat sehingga akan dihasilkan beton mutu

tinggi. Pada beton mutu tinggi atau sangat tinggi, FAS dapat diartikan sebagai water

to cementious, yaitu berat air terhadap berat total semen dan aditif cementiuos yang

ditambahkan agar mutu campuran beton tinggi ( Supartono, 1998).

Sedangkan pemeriksaan kekuatan beton biasanya pada umur 3, 17, dan 28 hari.

Karena menurut SNI 03-1974-1990, kuat tekan beton akan bertambah sesuai

dengan bertambahnya umur beton tersebut. Sehingga pengujian

dilakukan di umur 28 hari . Kekuatan bata beton juga dipengaruhi oleh tingkat

kepadatannya.

2.1.1.8. Keuntungan dan Kerugian Penggunaan

Menurut Teknik Bangunan PLPG Unila, ada beberapa keuntungan dan

kerugian dalam penggunaan bata beton paving block. Keuntungan

yang diperoleh dalam penggunaan paving block adalah:

1. Pelaksanaannya mudah dan tidak memerlukan alat berat serta dapat diproduksi

secara masal.

2. Pemeliharaannya mudah, ekonomis, ramah lingkungan dan dapat dipasang

kembali setelah dibongkar.


24

3. Tahan terhadap beban statis, dinamik dan kejut.

4. Tahan terhadap tumpahan bahan pelumas dan pemanasan oleh mesin


kendaraan.

Sedangkan kerugian pemakaian paving block adalah sebagai


berikut :

1. Mudah bergelombang bila pondasinya tidak kuat dan kurang nyaman untuk

kendaraan dengan kecepatan tinggi.

2. Perkerasan paving block sangat cocok untuk mengendalikan kecepatan

kendaraan di lingkungan permukiman dan perkotaan yang padat.

2.1.2. Padi

Dalam penelitian ini, abu sekam padi digunakan sebagai bahan tambah pada

pembuatan bata beton paving block. Sedangkan abu sekam padi merupakan hasil

sekam padi setelah dibakar. Berikut data-data mengenai padi :

a) Tanaman Padi

Padi (bahasa latin: Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya

terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman

budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga
25

(genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal

dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang

yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM. Produksi padi dunia

menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum.

Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas

penduduk dunia. Gambar tanaman padi dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4. Tanaman Padi


b) Jenis Padi
Jenis padi disini berasal dari jenis mekongga. Mekongga merupakan

persilangan antara padi jenis Galur A2970 yang berasal dari Arkansas Amerika

Serikat, dengan varietas yang sangat populer di Indonesia yaitu IR 64. Pernah

ada empat varietas unggul yang diujicobakan yaitu Cigeulis, Conde dan

Cibogo termasuk di dalamnya Mekongga. Hasil produksi yang memperoleh

angka paling tinggi yaitu varietas Mekongga sebesar 8,4 ton per hektar.

(MAJALAH PADI 2009).


26

Gambar 2.5. Padi Mekongga

c) Sekam Padi
Indonesia yang masih dikenal sebagai negara agraris mampu memproduksi padi

sekitar 50 juta ton per tahun. Padi sejumlah itu dapat menghasilkan abu sekam

sekitar 1-3 ton, yang sejauh ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Sekam padi adalah bagian terluar dari butir padi yang merupakan hasil

sampingan saat proses penggilingan padi dilakukan. Sekitar 20 % dari bobot

padi adalah sekam padi dan dan 15 % dari komposisi sekam adalah abu sekam

yang selalu dihasilkan setiap kali sekam dibakar (Nuryono et all, 2003).
Silika merupakan bahan kimia yang pemanfaatan dan aplikasinya sangat luas

mulai bidang elektronik, mekanis, medis, seni hingga bidang-bidang lainnya.

Salah satu pemanfaatan serbuk silika yang cukup luas adalah sebagai penyerap

kadar air di udara sehingga memperpanjang masa simpan bahan dan sebagai

bahan campuran untuk membuat keramik seni (Harsono, 2002).


Sekam padi pada umumnya hanya digunakan sebagai bahan bakar utama atau

tambahan pada industri pembuatan bata, bahan dekorasi, atau bahkan dibuang
27

di kandang hewan. Sudah diketahui bahwa sekam padi mengandung banyak

silika amorf apabila dibakar pada suhu antara 500 dan 700oC, dalam waktu

sekitar 1 sampai 2 jam. Oleh karena itu, dewasa ini mulai dikembangkan

pemanfaatan Abu Sekam Padi(sisa pembakaran sekam padi) dalam berbagai

bidang, salah satunya adalah bidang konstruksi. Reaktivitas antara silika dan

Abu Sekam Padi dengan kalsium hidroksida dalam pasta semen dapat

berpengaruh pada peningkatan mutu beton (Harsono, 2002).


Sekam yang dibakar mempunyai sifat pozzolan yang mengandung unsur silikat

yang tinggi. Nilai paling umum kandungan silika dari abu sekam adalah 94 - 96

% dan apabila nilainya mendekati atau di bawah 90 % kemungkinan

disebabkan oleh sampel sekam yang telah terkontaminasi dengan zat lain yang

kandungan silikanya rendah. Unsur lain yang terkandung di dalamnya terdiri

atas K2O, CaO, MgO, SO4, Al2O3, Fe2O4, dan Na2O dengan konsentrasi yang

semakin rendah (Herlina, 2005).


Gambar sekam padi dapat dilihat pada Gambar 2.6, Gambar 2.7, dan Gambar

2.8.
28

Gambar 2.6. Sekam Padi

Gambar 2.7. Sekam Padi di Bakar


29

Gambar 2.8. Suhu Pembakaran

d) Abu Sekam Padi


Abu sekam padi atau lebih dikenal dengan abu gosok merupakan limbah

pembakaran atau abu dari tumbuhan, biasanya berasal dari sekam padi yang

disebut juga abu sekam padi. Abu gosok atau abu sekam padi ini banyak

digunakan untuk mencuci alat-alat rumah tangga, terutama untuk

menghilangkan noda hitam pada bagian bawah panci atau wajan. Hal ini

dimungkinkan karena abu gosok mengandung kalium, zat yang terkandung

dalam sabun cair. Gambar abu sekam padi dapat dilihat pada Gambar 2.9.
30

Gambar 2.9. Abu Sekam Padi

e) Komposisi Kimia Abu Sekam Padi


Komposisi kimia dari abu sekam padi adalah SiO 2, K2O, CaO, MgO, SO4,

Al2O3, Fe2O4, dan Na2O. Persentase dari masing-masing unsur dapat dilihat

pada Tabel 2.2. (Herlina, 2005).

Tabel 2.2. Komposisi kimia abu sekam padi

Persentase
No. Komponen komposisi (%)

1 SiO2 94,5
2 Al2O3 1,05
3 Fe2O4 1,05
4 CaO 0,25
5 MgO 0,23
6 SO4 1,13
7 CaO bebas -
Persentase
No. Komponen
komposisi (%)
31

8 Na2O 0,78
9 K2O 1
Sumber : Herlina, 2005.

2.1.3. Penelitian yang Relevan

Judul penelitian ini adalah Analisa Pemanfaatan Abu Sekam Padi Sebagai

Bahan Tambah Pada Paving Block Menurut SNI 03-0691-1996. Dalam proses

penentuan judul dan penulisan ini berbagai sumber telah menginspirasi dan

memastikan pada judul tersebut di atas.

Judul yang relevan dengan penelitian ini adalah :

1. Telah diteliti oleh Bakhtiar A. Tahun 2009 yaitu tentang Studi Peningkatan Mutu

Paving Block Dengan Penambahan Abu Sekam Padi . Dari hasil penelitian

tersebut disimpulkan bahwa :

Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan abu sekam padi (ASP)

pada semen portland (Type I) terhadap kuat tekan paving block. Perlakuan

khusus terhadap abu sekam padi dengan melakukan pembakaran secara

terkontrol dengan suhu 700C pada mesin pembakaran untuk mendapatkan

unsur kimia silica. Setelah dilakukan penelitian diketahui dengan penambahan

persentase abu sekam padi ke dalam campuran paving block di bawah 8%

mengakibatkan penambahan kuat tekan paving block sedangkan penambahan

persentase abu sekam padi ke dalam campuran paving block di atas 8%

mengakibatkan penurunan kuat tekan paving block. Adapun besarnya kuat

tekan masing-masing paving block dengan persen campuran ASP 5 % sebesar


32

9,47 MPa; ASK 10% sebesar 9,64 MPa; ASK 15% sebesar 8,29 Mpa sedangkan

pada paving block yang tidak dicampur dengan ASP sebesar 8,45 Mpa.

2. Telah diteliti oleh Eko Endika Tahun 2013 yaitu tentang Pengaruh Penambahan

Silica Fume Pada Campuran Paving Block Terhadap Karakteristik Paving

Block. Dari hasil penelitian tersebebut disimpulkan bahwa :

Kuat tekan paving block dengan menggunakan silica fume dapat meningkatkan

kuat tekan paving block dibandingkan paving block yang tidak menggunakan

silica fume. Penyerapan air paving block dengan menggunakan silica fume

dapat memperkecil penyerapan air paving block dibandingkan paving block

yang tidak menggunakan silica fume. Dari penelitian ini didapatkan komposisi

campuran paving block yang optimum dengan penambahan silica fume adalah

5% dari berat semen dengan kuat tekan sebesar 40 MPa dan penyerapan air

sebesar 1,77%. Nilai kuat tekan yang optimum didapat dengan penambahan

silica fume 5% dari berat semen, ini sesuai dengan saran yang

direkomendasikan oleh PT. Sika Indonesia yaitu 3% - 10% dari berat semen.

3. Telah diteliti oleh Erni Suparti, Retno Wulan Damayanti, dan Eko Pujiyanto

Tahun 2008 yaitu tentang Penentuan Setting Level Optimal Pada Pemanfaatan Abu

Sekam Padi Untuk Meningkatkan Kualitas Paving Block Menggunakan Metode

Eksperimen Taguchi. Dari hasil penelitian tersebebut disimpulkan bahwa :

Untuk memperoleh kondisi kualitas paving block yang optimal secara simultan,

perlu diterapkan setting level optimal dalam pembuatan paving block. Dengan

menerapkan setting level optimal diperoleh kuat desak paving block maksimal
33

sekaligus persentase serapan air minimal. Adapun setting level optimal yang

diperoleh adalah sebagai berikut :

Faktor air semen 0,4

Persentase penambahan abu sekam padi 5%

Umur benda uji 35 hari

Ukuran maksimum agregat 1,18mm

Dengan menerapkan setting level optimal tersebut diperoleh peningkatan nilai

kuat desak sebesar 1,74 Mpa dan penurunan persentase serapan air sebesar

5,33%. Hal ini berarti telah terbukti secara empiris bahwa abu sekam padi dapat

meningkatkan kualitas paving block.

2.2. Kerangka Berpikir

Menurut SNI 03-0691-1996, bata beton (paving block) adalah suatu komposisi

bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen portland atau bahan perekat

hidrolis sejenisnya, air, dan agregat dengan atau tanpa bahan tambahan lainnya yang

tidak mengurangi mutu bata beton itu. Bata beton dapat berwarna seperti aslinya atau

diberi zat warna pada komposisinya dan digunakan untuk halaman baik di dalam

maupun di luar bangunan.

Sekam adalah kulit gabah yang telah terkelupas setelah mengalami proses

penggilingan. Sedangkan abu sekam adalah hasil dari dari proses pembakaran sekam,

baik yang dilakukan pada oven maupun yang dilakukan pada ruang terbuka. Sekitar

20% dari bobot padi adalah sekam padi dan dan 15% dari komposisi sekam adalah

abu sekam yang selalu dihasilkan setiap kali sekam dibakar. Abu hasil pembakaran
34

sekam termasuk pembakaran sekam di tempat terbuka, pembakaran sekam dalam

tungku, dan pembakaran sekam dalam oven pada umumnya mengandung berbagai

macam unsur kimia, terutama silica yang dapat menguatkan mortar karena bersifat

pozzolan. Nilai paling umum kandungan silika dari abu sekam adalah 94-96% dan

apabila nilainya mendekati atau di bawah 90% kemungkinan disebabkan oleh sampel

sekam yang telah terkontaminasi dengan zat lain yang kandungan silikanya rendah.

Maka pemanfaatan limbah abu sekam padi ini baik digunakan sebagai bahan tambah

dalam pembuatan bata beton paving block, sehingga produk bata beton paving block

dengan bahan tambah abu sekam padi ini memiliki prospek usaha yang positif dan

perlu dikembangkan, agar diperoleh teknologi tepat guna dengan nilai yang

ekonomis dikehidupan masyarakat serta mengurangi ketersediaannya sekam padi

yang ada di lingkungan. Oleh karena itu, untuk menarik minat masyarakat yang

semakin besar terhadap produk bata beton paving block dengan bahan tambah abu

sekam padi ini, maka sebelum dipasarkan bata beton paving block dengan bahan

tambah abu sekam padi harus menjalani beberapa pengujian yang meliputi pengujian

sifat tampak, ukuran, pengujian daya serap air dan pengujian kuat tekan (SNI 03-

0691-1996). Bata beton paving block yang ditambah abu sekam padi dengan

persentase 0%, 5%, 7,5%, 10%, dan 12,5%, diduga pada pengujian sifat fisis dan

mekanisnya mengalami peningkatan mutu dengan melihat acuan dari penelitian

relevan sebelumnya terhadap standar SNI 03-0691-1996. Sehingga bata beton paving

block yang ditambah abu sekam padi dapat digunakan sebagai bahan alternatif untuk

menghemat sumber daya alam.

2.3. Hipotesis Penelitian


35

Berdasarkan kerangka berpikir, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian

sebagai berikut :
Mutu bata beton paving block dengan menggunakan bahan tambah abu sekam padi

dengan persentase campuran 0%, 5%, 7,5%, 10% dan 12,5% dari berat pasir dapat

meningkatkan sifat fisis (ukuran, tampak, dan penyerapan air) serta sifat mekanis

(kuat tekan) sesuai mutu SNI 03-0691-1996.