Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Farmasi forensik adalah ilmu yang mempelajari mengenai bidang


ilmu farmasi yang dihubungkan dengan hukum/kehakiman dan
perundang-undangan. Dimana farmasi artinya obat dan pengobatan,
dan forensik adalah hukum dan perundangan. Sehingga ilmu farmasi
forensik adalah ilmu yang mempelajari obat dan pengobatan yang
dihubungkan dengan hukum dan perundangan.

Dewasa ini kasus pelanggaran undang-undang yang disebabkan


pengaruh obat ataupun penyalahgunaan obat telah berkembang dengan
cepat baik dalam kualitas maupun kuantitasnya. Penyelidikan kasus
kriminal yang erat hubunannya dengan penggunaan obat atapun
analisis kandungan kimia dalam obat, bahan biologik, sidik serologi
maupun DNA fingerprint bagi tersangka telah berkembang dengan
cepat. Sehingga ilmu Farmasi Forensik menjadi ilmu yang sangat
penting untuk menyidik, mengawasi dan menganalisis bahan penyebab
terjadinya kasus forensik karena penggunaan obat.

Istilah forensik belakang ini sering mampir di telinga kita melalui


berbagai berita kriminal. Biasanya menyangkut penyidikan tindak
pidana seperti mencari sebab-sebab kematian korban, dan usaha
pencarian pelaku kejahatan. Secara garis besar yang dimaksud dengan
forensik sains adalah aplikasi atau pemanfatan ilmu pengetahuan
untuk penegakan hukum dan peradilan.

Farmasi forensik yang sering terjadi adalah bukti-bukti tersebut


secara sirkumstansial dapat membuktikan telah terjadinya tindak
pidana dan untuk mengetahui siapa pelaku dari tindakan tersebut.
Diperlukan suatu analisis yang mendalam dengan menggunakan
metode tertentu demi pengungkapan secara tepat atas berbagai bentuk
tindakan criminal semacam ini. Tenaga kesehatan khususnya dokter
dan apoteker memiliki peran penting adalam membantu pengungkapan
kasus-kasus tersebut. Pada prakteknya diperlukan suatu prinsip kerja
yang didasarkan atas sumpah profesi, kode etik dan standar profesi
yang berlaku.

1. 2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan keracunan?
2. Apa yang dimaksud dengan keracunan obat?
3. Apa saja gejala yang ditimbulkan akibat keracunan obat-obat analgetik?
4. Apa saja gejala yang ditimbulkan akibat keracunan obat sedativa?
5. Apa saja gejala yang ditimbulkan akibat keracunan insulin?
6. Apa saja gejala yang ditimbulkan akibat keracunan obat antimalaria?

1. 3. Tujuan
Agar mahasiswa dapat mengetahui :
1. Apa yang dimaksud dengan keracunan.
2. Apa yang dimaksud dengan keracunan obat.
3. Apa saja gejala yang ditimbulkan akibat keracunan obat-obat analgetik.
4. Apa saja gejala yang ditimbulkan akibat keracunan obat sedativa.
5. Apa saja gejala yang ditimbulkan akibat keracunan insulin.
6. Apa saja gejala yang ditimbulkan akibat keracunan obat antimalaria.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Defenisi Keracunan Obat

Keracunan adalah suatu kejadian apabila substansi yang berasal dari


alam ataupun buatan yang pada dosis tertentu dapat menyebabkan
kerusakan pada jaringan hidup yang bisa menyebabkan cedera atau
kematian. Racun dapat memasuki jaringan hidup melalui beberapa
cara yaitu termakan, terhirup, disuntikkan, dan terserap melalui kulit
(Merriam-Webster, 2014).

Maka keracunan obat adalah reaksi tubuh yang muncul secara negatif
akibat mengkonsumsi obat atau menggunakan obat tertentu yang akan
berakibat fatal jika tidak di tangani.

2.1.1 Keracunan Obat Analgesik


A. Paracetamol
Parasetamol adalah golongan obat analgesik non opioid yang dijual
secara bebas. Indikasi parasetamol adalah untuk sakit kepala, nyeri
otot sementara, sakit menjelang menstruasi, dan diindikasikan juga
untuk demam. Banyak kesalahan dalam mengkonsumsi obat ini,
karena obat digunakan secara terus menerus untuk menghilangkan
gejala rasa sakit yang timbul. Misalnya seorang yang sering merasakan
sakit kepala, untuk mengatasi sakit kepalanya selalu minum
parasetamol. Bila gejala yang dirasakan tidak hilang setelah efek obat
habis, yang bersangkutan seharusnya segera konsultasi ke dokter
untuk dicari penyebab penyakitnya sehingga dapat diobati
penyebabnya dengan benar.
Overdosis paracetamol bisa menimbulkan mual, muntah dan
anoreksia. Penanggulangannya dengan cuci lambung, juga perlu
diberikan zat-zat penawar (asam amino N-asetilsistein atau metionin)
sedini mungkin, sebaiknya dalam 8-10 jam setelah intoksikasi. Wanita
hamil dapat menggunakan Parasetamol dengan aman, juga selama
laktasi walaupun mencapai air susu ibu. Interaksi pada dosis tinggi
memperkuat efek antikoagulansia, dan pada dosis biasa tidak interaktif
(Tjay, 2002) .

B. Aspirin
Obat Aspirin merupakan obat golongan Antiiflamasi non-steroid
yang digunakan untuk mengatasi rasa sakit (analgesik), mengatasi
demam (antipiretik) dan mengatasi peradangan (antiinflamasi). Pada
dosis rendah aspirin dapat digunakan untuk mengatasi trombosis
(antitrombotik) sehingga dapat juga digunakan untuk mencegah
serangan jantung.

Gejala Keracunan Aspirin

- pernafasan yang cepat dan sedikit - pingsan

- hiperaktivitas - dehidrasi

- eningkatan suhu tubuh - sering BAK

- kadang kejang - mual dan muntah

Penanganan Keracunan Aspirin

- Pengurasan lambung dengan 300 600 ml air (tiga atau empat


kali).

- Jika anak dalam keadaan sadar, diberikan arang aktif melalui


mulut atau melalui selang yang dimasukkan ke dalam lambung.

- Untuk dehidrasi ringan dengan minum susu atau jus buah

- Untuk dehidrasi berat diberikan cairan melalui infus.

- Demam diatasi dengan kompres hangat.

2.1.2 Keracunan Obat Sedetiva (Antidepresan)

Antidepresan trisiklik dan yang sejenisnya menyebabkan


mulut kering, koma dengan berbagai tingkat, hipotensi, hipotermia,
hiperrefleksia, extensor plantar responses, konvulsi, gagal napas,
gangguan hantaran jantung, dan aritmia. Dilatasi pupil dan retensi urin
juga terjadi. Dapat pula terjadi asidosis metabolik pada keracunan
yang berat; delirium dengan kebingungan, agitasi, serta halusinasi
pendengaran dan penglihatan juga sering terjadi pada proses
pemulihan. Sangat dianjurkan untuk merawat pasien di rumah sakit,
tetapi pengobatan simptomatik dan karbon aktif oral dapat diberikan di
rumah sebelum pasien dibawa ke rumah sakit. Tindakan suportif untuk
mempertahankan jalan napas dan menjaga ventilasi yang adekuat
sewaktu pemindahan pasien merupakan suatu keharusan. Lorazepam
intravena atau diazepam intravena (lebih baik dalam bentuk emulsi)
mungkin diperlukan untuk mengendalikan konvulsi. Walaupun aritmia
dapat mengkhawatirkan, beberapa aritmia akan memberikan respons
terhadap perbaikan untuk hipoksia dan asidosis. Penggunaan obat
antiaritmia sebaiknya dihindarkan, tetapi infus natrium bikarbonat
intravena dapat mengatasi aritmia atau mencegah aritmia pada pasien
dengan durasi QRS yang memanjang. Diazepam yang diberikan per
oral biasanya adekuat untuk sedasi pasien dalam keadaan delirium,
tetapi mungkin dibutuhkan dosis besar (BPOM RI, 2008).

Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor (SSRI). Gejala


keracunan penghambat SSR meliputi mual, muntah, agitasi, tremor,
nistagmus, rasa mengantuk, dan takikardi sinus; dapat timbul konvulsi.
Jarang, keracunan berat menimbulqkan sindrom serotonin, yang
ditandai dengan efek neuropsikiatrik, hiperaktivitas neuromuskular,
dan instabilitas autonom; dapat pula timbul hipertermia, rabdomiolisis,
gagal ginjal, dan koagulopati. Penatalaksanaan keracunan penghambat
SSR merupakan tindakan suportif. Karbon aktif yang diberikan dalam
waktu 1 jam setelah keracunan akan mengurangi absorpsi obat.
Konvulsi dapat dicegah dengan lorazepam atau diazepam (BPOM RI,
2008).

2.1.3 Keracunan Insulin


Insulin adalah hormon peptida yang disekresikan oleh sel pulau
Langerhans pankreas yang mempertahankan kadar glukosa darah
normal (Wilcox G. 2005). Insulin merupakan komponen penting dari
pengobatan Diabetes Mellitus tipe 1 dan sangat diperlukan untuk
mencapai kontrol glikemik yang baik untuk pasien Diabetes Mellitus
tipe 2 (Novak B. and Metelko Z. 2003). Pemberian insulin yang
berlebihan dapat menyebabkan hipoglikemi dan dapat terjadi secara
kecelakaan ataupun digunakan sebagai senjata untuk membunuh
atau bunuh diri (Marks V. 2005).

Overdosis insulin sangat berbahaya. Toksisitas dari overdosis


insulin adalah disebabkan hipoglikemia, dan bisa juga karena
hipokalemia. Durasi dari efek hipoglikemia tergantung pada jenis
insulin yang disuntikkan, jumlah dan usia, resistensi insulin, dan
faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan atau mengurangi
sensitivitas pasien terhadap insulin. Kematian akibat overdosis insulin
adalah sebesar 25 %. Efek fatal bisa terjadi dengan dosis paling
minimum 20 unit, tapi dosis 400 sampai 900 unit atau lebih adalah
lebih sering. Cedera neurologis yang ireversibel terjadi ketika
simpanan glikogen yang habis karena otak benar-benar tergantung
pada metabolisme glukosa. Durasi dari hipoglikemia dengan tanda dan
gejala neurologis akan menentukan hipoglikemia post ensefalopati.

2.1.4 Keracunan Obat Malaria

Klorokuin adalah 4-aminokuinolin yang digunakan untuk


mengobati dan mencegah malaria. Klorokuin merupakan skizontosida
darah yang sangat efektif terhadap stadium eritrositik keempat spesies
plasmodium yang masih sensitif terhadap klorokuin. Klorokuin
mempunyai margin keamanan yang rendah dan sangat berbahaya jika
overdosis. Klorokuin dosis besar digunakan untuk mengobati
rheumatoid arthritis dari pada untuk malaria. Secara umum klorokuin
mudah ditolelir. Klorokuin mempunyai rasa yang tidak enak dan dapat
menimbulkan pruritus yang dapat yang dapat berakibat parah pada
orang kulit hitam.penggunaan kronik > 5 tahun terus menerus untuk
profilaksis dapat berakibat kerusakan mata seperti keratopati dan
retinopati, berkurangnya pendengaran dan rambut rontok. Overdosis
akut sangat berbahaya dan kematian dapat terjadi dalam waktu
beberapa jam.

2.1.5 Cara Pencegahan Keracunan Obat

Keracunan obat-obatan bisa karena kesalahan pada dosis


pemberian atau cara penggunaan yang tidak benar sehingga
menyebabkan keracunan obat.

2.1.6 Pemeriksaan Laboratorium Keracuanan Obat

Penelitian menunjukan bahwa keracunan merupakan kolaborasi


antara patologis dan toksikologis.Autopsi mengefaluasi ada tidaknya
trauma atau penyakit yang mendasari. Laboratorium toksikologi
menunjukan hasil yang bersifat kualitatif dan kuantitatif yang diartikan
dengan menyediakan dosis terapetik toksik dan vatal dapa berbagai
cairan tubuhdan jaringan sewaktu post-ingetion , metabolisme dan
lainya. Kemudian patologis menghubungkan informasi tersebut
dengan temuan waktu autoksi masalah timbul ketika informasi tentang
obat ( terutama bila kadar toksiknya rendah ) tidak lengkap dalam hal
kadar toksik dalam darah dan jaringan karena paruh waktu post-ingesti
menyebabkan kadar letal sama dengan dosis terapetik atau bahkan
lebih rendah. Kadar letak obat yang dikumpulkan dari berbagai
sumber,perkiraan rage sering lebar dan maalah berkisar antara dosis
yang tidak pasti , kadar post-ingesti , dan fariasi biologis individu yang
luas menyebabkan tidak mungkin untuk membentuk dosis yang tepat
antara terapi , toksik dan fatal. Bila mungkin , analisis toksikologi
diperlukan untuk setiap kasus , namun bila tidak bisa ,data san
marerial yang selalu diperbaruhi oleh forensik dan toksikologi dapat
membantu.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Keracunan merupakan masuknya zat yang mengandung racun


kedalam tubuh baik melalui saluran pecernaan, saluran pernafan, atau
melalui kulit atau mukosa yang menimbulkan timbul gejala klinis,
anak dapat mengalami keracunan oleh beberapa hal, seperti produk-
produk pembersih, vitamin, obat-obatan alcohol, cat dan tanaman.

Keracunan obat adalah kondisi yang disebabkan oleh adanya


kesalahan dalam penggunaan obat. Baik dosis yang berlebihan,
maupun kesalahan dalam mengombinasikan obat .
DAFTAR PUSTAKA

BPOM RI. 2008. Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI). Jakarta :


Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, DepKes RI.
http://www.alodokter.com/keracunan-obat-ini-gejala-dan-cara-mengatasinya
Widjajanti Nuraini V. 1991. Obat-Obatan. Bandung : Kanisius.
Novak B., Metelko Z. 2003. New Trends in Insulin Therapy. Diabetologia Croatia
: 32-2
Nick I ,Joseph A. 2004. Accidental Insulin Overdose. Available from:
http://www.astm.org