Anda di halaman 1dari 7

Tabel 9-6 Gejela negatif primer dan sekunder

Primer: merupakan sifat dari proses penyakit itu sendiri


Sekunder: diakibatkan oleh faktor-faktor lain, seperti depresi, gejala
ekstrapiramidal (EPS), penarikan diri yang mencurigakan
Sindroma defisit: Gejala negatif primer kronis
Apakah perbedaan ini penting?
YA
Gejala yang merupakan gejala sekunder bisa menyerupai gejala negatif primer
Misalnya, ekspresi wajah yang tidak responsif
o Tanda akan penurunan responsivitas emosional dan pengalaman, yaitu
anhedonia?
o Akibat dari EPS?
TIDAK
Gejala negatif, apakah itu primer atau sekunder, masih mempengaruhi outcome
dan perlu dihindari

Tabel 9-7 Mengapa kita harus memeriksa gejala negatif


1. Pada uji klinis
o Untuk mengukur efektivitas intervensi dalam mengobati gejala negatif
- Intervensi farmakologis
- Intervensi psikososial, kognitif, dan perilaku
2. Pada praktik klinis
o Untuk mengidentifikasi pasien-pasien di tempat praktik yang memiliki
gejala negatif dan menilai tingkat keparahan gejala-gejala ini
o Untuk memantau respon pasien anda terhadap intervensi farmakologis dan
nonfarmakologis

Tabel 9-8
BPRS Skala penilaian psikiatrik singkat (faktor retardasi)
PANSS Skala sindrom positif dan negatif (subskala gejala negatif, faktor
negatif
SANS Skala untuk penilaian gejala-gejala negatif
NSA 16 Penilaian gejala negatif
SDS Daftar untuk sindroma defisit

Karena meningkatnya kesadaran akan pentingnya gejala-gejala negatif, deteksi dan


penatalaksanaannya saat ini telah ditekankan. Meskipun telah terdapat fakta bahwa
penatalaksanaan dengan obat-obatan antipsikotik kita saat ini terbatas kemampuannya untuk
mengobati gejala-gejala negatif, intervensi psikososial yang dilakukan bersamaan dengan
antipsikotik dapat membantu dalam mengurangi gejala-gejala negatif. Bahkan terdapat
kemungkinan bahwa memulai penatalaksanaan untuk gejala-gejala negatif selama fase
prodromal skizofrenia dapat menunda atau mencegah onset penyakit, namun hal ini masih
menjadi bahan penelitian saat ini.

Diluar gejala positif dan negatif skizofrenia


Meskipun tidak dikenal secara formal sebagai bagian dari kriteria diagnostik skizofrenia,
sejumlah penelitian telah melakukan subkategorisasi terhadap gejala-gejala penyakit ini menjadi
lima dimensi: tidak hanya gejala positif dan negatif namun juga gejala kognitif, gejala agresif
dan gejala afektif (Gambar 9-5). Ini barangkali merupakan hal yang lebih canggih lagi jika
mempersulit ragam deskripsi gejala-gejala skizofrenia.

Gambar 9-2. Gejala yang teridentifikasi dengan pengamatan. Beberapa gejala negatif
skizofrenia seperti kurangnya bicara, tidak rapi, dan terbatasnya kontak mata dapat
diidentifikasi semata-mata dengan mengamati pasien

Gambar 9-3. Gejala negatif yang teridentifikasi dengan memberikan pertanyaan. Gejala
negatif skizofrenia lainnya dapat diidentifikasi dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana.
Sebagai contohnya, pertanyaan singkat dapat mengungkapkan derajat responsivitas emosional,
tingkat ketertarikan dalam hobi atau dalam mengejar tujuan hidup, dan keinginan untuk memulai
dan mempertahankan kontak sosial.

Tabel 9-9 Item terpilih untuk penilaian klinis dengan cepat


1.Penurunan rentang emosi
Dasarkan penilaian yang diberikan pada jawaban subjek terhadap
pertanyaan-pertanyaan berikut:
Pernahkan anda merasa gelisah, gugup, atau cemas di minggu lalu? Apakah hal
itu adalah seperti anda yang biasanya? Apa yang membuat anda merasakannya?
(Ulangi pertanyaan untuk rasa sedih, bahagia, takut, terkejut, dan marah)
Pada minggu lalu, apakah terdapat saat-saat dimana anda merasa kaku dan
merasakan kekosongan di dalam diri anda?
1. Rentang emosi normal
2. Penurunan minimal dalam rentang emosi, bisa sedikit berbeda dari normal
3. Rentang emosi terlihat terbatas relatif dibandingkan orang normal namun
subjek secara meyakinkan melaporkan sedikitnya mengalami empat
pengalaman emosional
4. Subjek secara meyakinkan mengidentifikasi dua atau lebih pengalaman
emosional
5. Subjek dapat secara meyakinkan mengidentifikasi hanya satu pengalaman
emosional
6. Subjek melaporkan sedikit atau tidak ada rentang emosi sama sekali

2. Penurunan rasa ketertarikan


Dasarkan pemberian nilai pada penilaian rentang dan intensitas
ketertarikan yang dimiliki subjek
Apa yang anda gemari? Apa lagi yang anda gemari? Pernahkah anda melakukan
hal-hal ini di minggu lalu? Apakah anda tertarik dengan apa yang sedang terjadi di
dunia? Apakah anda membaca koran? Apakah anda menonton berita di TV?
Bisakah anda memberitahu saya mengenai beberapa berita penting dari minggu
lalu? Apakah anda suka olahraga? Apa olahraga favorit anda? Yang mana yang
merupakan tim favorit anda? Siapa pemain terbaik dalam olahraga yang anda
senangi? Pernahkan anda berolahraga pada minggu lalu?
1. Pemahaman tujuan yang normal
2. Penurunan tujuan yang minimal, bisa sedikit berbeda dari normal
3. Tujuan hidup yang sedikit tidak jelas namun aktivitas yang dilakukan saat
ini mengesankan bahwa terdapat tujuan
4. Subjek mengalami kesulitan untuk sampai pada tujuan hidup namun
aktivitas yang dilakukan mengarah ke arah satu tujuan atau beberapa
tujuan yang terbatas
5. Tujuan-tujuan sangat terbatas atau harus disarankan dan aktivitas tidak
berfokus ke arah pencapaian salah satu darinya
6. Tidak ada tujuan hidup yang teridentifikasi
Penurunan ketertarikan: Nilai apakah pasien memiliki intensitas dan rentang
ketertarikan yang normal

3.Penurunan dorongan sosial


Nilailah berdasarkan respon pasien terhadap pertanyaan-pertanyaan
berikut:
Anda tinggal sendiri atau dengan orang lain?
Apakah anda senang berada dikelilingi oleh orang-orang? Apakah anda
menghabiskan banyak waktu dengan orang lain?
Apakah anda memiliki kesulitan untuk merasa dekat dengan mereka?
Bagaimana teman-teman anda? Seberapa sering anda bertemu dengan mereka?
Apakah anda bertemu dengan mereka minggu terakhir ini? Pernahkah anda
menelepon mereka? Saat anda pergi bersama pada minggu terakhir ini, siapa yang
memutuskan apa yang akan dilakukan dan kemana kalian akan pergi?
Apakah ada seseorang yang mengkhawatirkan kebahagiaan dan kesejahteraan
anda?
1. Dorongan sosial yang normal
2. Penurunan dorongan sosial minimal, bisa sedikit berbeda dari normal
3. Keinginan akan interaksi sosial terlihat sedikit menurun
4. Penurunan yang jelas dalam hal keinginan untuk memulai hubungan
sosial, namun sejumlah hubungan dimulai tiap minggu
5. Penurunan yang sangat jelas dalam hal keinginan subjek untuk memulai
hubungan sosial, namun beberapa hubungan dipertahankan melalui inisiasi
hubungan oleh subjek (seperti dengan keluarga)
6. Tidak ada keinginan untuk memulai interaksi sosial apapun
Penurunan dorongan sosial: Nilai tingkat dorongan sosial dengan meneliti jenis
interaksi sosial dan frekuensinya. Ingat untuk memberikan penilaian dengan
merujuk pada subjek normal yang telah dicocokkan usianya dengan subjek.

2. Penurunan kuantitas bicara


Tidak ada pertanyaan spesifik, nilai berdasarkan pengamatan selama
wawancara
1. Kuantitas bicara normal
2. Penurunan minimal dalam hal kuantitas bicara, bisa sedikit berbeda dari
normal
3. Kuantitas bicara menurun, namun lebih pasien bisa lebih banyak berbicar
jika diberikan sedikit dorongan
4. Aliran bicara dipertahankan hanya dengan dorongan secara teratur
5. Respons biasanya terbatas pada beberapa kata-kata dan/atau rincian hanya
diperoleh dengan dorongan atau suapan
6. Respon biasanya bersifat nonverbal atau terbatas pada satu atau dua kata
meskipun telah terdapat upaya untuk mendatangkan lebih banyak kata-
kata
Kuantitas bicara yang terbatas: Bagian ini tidak membutuhkan pertanyaan yang
spesifik dan dinilai berdasarkan pengamatan bicara pasien selama wawancara
Semua penilaian harus menilai fungsi/perilaku pasien dengan merujuk pada
subjek normal yang telah dicocokkan usianya dengan subjek

Gambar 9-4. Gejala negatif pada fase prodromal. Gejala negatif skizofrenia dapat muncul
selama fase prodromal, sebelum terbentuknya sindroma lengkap skizofrenia dengan baik gejala
positif dan negatif. Secara teori, jika gejala negatif prodromal tersebut dapat diidentifikasi secara
dini dan diobati dengan intervensi psikososial dan farmakologis sebelum onset serangan psikotik,
akan menjadi hal yang mungkin untuk menunda atau bahkan mencegah onset gejala lengkap
skizofrenia.

Tumpang tindih antara kelima dimensi gejala skizofrenia ini disajikan dalam gambar 9-6A,
dan sebagian gejala yang berpotensi mengalami tumpang tindih disajikan dalam gambar 9-6B.
Gejala-gejala ini adalah gejala-gejala agresif seperti tindakan penyerangan, perilaku yang kasar
secara verbal, dan tindakan kekerasan secara terang-terangan yang dapat terjadi bersamaan
dengan gejala-gejala positif seperti delusi dan halusinasi, meskipun hal ini tidak selalu terjadi
pada tiap kasus. Sulit untuk memisahkan gejala disfungsi kognitif formal dan disfungsi afektif
yang berasal dari gejala negatif, seperti yang disajikan dalam Gambar 9-6B. Karena penelitian
sedang mencoba untuk menentukan letak area spesifik otak yang mengalami disfungsi untuk tiap
domain gejala dan para ilmuwan juga sedang mencoba untuk mengembangkan penatalaksanaan
yang lebih baik untuk gejala negatif, kognitif dan afektif skizofrenia yang terabaikan, terdapat
upaya yang masih terus-menerus berlangsungg untuk mengukur dan memeriksa gejala-gejala
tersebut secara independen.
Secara khusus, baterai penilaian neuropsikologis sedang dikembangkan untuk
mengkuantifikasi gejala-gejala kognitif, untuk menunjukkan bagaimana saat gejala-gejala
tersebut terlepas dari gejala-gejala skizofrenia lainnya, dan untuk mendeteksi perbaikan kognitif
setelah penatalaksanan dengan sejumlah obat-obatan psikotropik terbaru yang saat ini sedang
diujikan. Gejala-gejala kognitif skizofrenia dan penyakit lainnya yang menjadikan psikosis
sebagai cirinya terkait dapat bertumpang tindih dengan gejala-gejala negatif, sehingga baterai
percobaan mencoba untuk menguraikan gejala-gejala kognitif dari gejala-gejala negatif. Gejala-
gejala yang bertumpang tindih bisa mencakup gangguan pikiran pada skizofrenia dan kadangkala
penggunaan bahasa secara aneh, seperti inkoherensi, asosiasi longgar, dan neologisme.
Gangguan perhatian dan gangguan pengolahan informasi merupakan gangguan kognitif spesifik
lainnya yang berhubungan dengan skizofrenia. Faktanya, gangguan kognitif yang paling umum
dan paling berat pada skizofrenia dapat mencakup gangguan kelancaran verbal (kemampuan
untuk menghasilkan bicara spontan), masalah dengan pembelajaran secara berurutan (dari suatu
daftar item atau urutan kejadian), dan gangguan dalam kewaspadaan untuk fungsi eksekutif
(masalah dengan mempertahankan dan memfokuskan perhatian, konsentrasi, membuat prioritas,
dan memodulasi perilaku berdasarkan isyarat sosial).
Gejala kognitif skizofrenia yang penting disajikan pada tabel 9-10. Gejala-gejala ini tidak
termasuk gejala-gejala demensia dan gangguan memori yang lebih mencirikan penyakit Al-
zheimer, namun gejala-gejala kognitif skizofrenia menekankan adanya disfungsi eksekutif,
yang meliputi permasalahan dalam menunjukkan dan mempertahankan tujuan, mengalokasikan
sumberdaya secara bijaksana, dan mengevaluasi sert memantau kinerja, dan memanfaatkan
keterampilan-keterampilan ini untuk menyelesaikan masalah. Penting untuk mengenali dan
memantau gejala-gejala kognitif skizofrenia karena gejala ini merupakan satu-satunya fungsi
yang terkuat yang menghubungkan dunia nyata bahkan lebih kuat dari gejala-gejala negatif.
Gambar 9-6A dan B. Tumpang tindih gejala. Meskipun skizofrenia secara konseptual dapat
dibagi menjadi lima dimensi gejala, sebagaimana yang terlihat pada gambar 9-5, pada
kenyataannya terdapat kesepatakan yang baik mengenai tumpang tindih diantara dimensi gejala
yang terpisah ini (A). Khususnya, gejala agresif seperti tindakan penyerangan dan
penyalahgunaan kata-kata seringkali terjadi berkaitan dengan gejala-gejala positif. (B).
Gangguan dalam perhatian dan fungsi eksekutif serta gejala afektif seperti hilangnya ketertarikan
dapat sulit untuk dibedakan dari gejala negatif (B).

Gejala skizofrenia tidak selalu bersifat khas untuk skizofrenia saja


Penting untuk menyadari bahwa beberapa penyakit selain skizofrenia dapat berbagi
beberapa dari lima dimensi gejala yang sama yang dijelaskan disini untuk skizofrenia dan
diperlihatkan dalam Gambar 9-5. Oleh karena itu, gangguan selain skizofrenia bisa memiliki
gejala-gejala positif seperti gangguan bipolar, gangguan skizoafektif, depresi psikotik, penyakit
Alzheimer dan demensia organik lainnya, penyakit psikotik masa kanak, psikosis yang diinduksi
obat, dan lain-lain (Gambar 9-7).
Gejala negatif juga dapat terjadi pada penyakit lain dan juga dapat bertumpang tindih
dengan gejala-gejala kognitif dan afektif yang terjadi pada penyakit ini. Namun, sebagai keadaan
defisit primer (Gambar 9-8), gejala-gejala negatif bersifat khas untuk skizofrenia. Di sisi lain,
gejala-gejala negatif yang diakibatkan oleh penyebab lain sering terjadi pada skizofrenia namun
tidak selalu bersifat khas untuk gangguan ini (Gambar 9-8).