Anda di halaman 1dari 24

REFERAT

PERAN DOKTER DALAM PEMERIKSAAN KORBAN HANGING

Pemimbing :
dr. H. Hariadi Apuranto, Sp.F (K)

Penyusun
Kelompok Dokter Muda UHT 39 L
Periode 14 Maret 17 April 2016
Jessica Novia Chandra Wijaya (2015.04.2.0078)
Jonathan Wibisono Tumali (2015.04.2.0079)
Julio Hadiyono (2015.04.2.0080)
Kalista Wahyu Nuringhati (2015.04.2.0081)
Karina Windya Ardanti (2015.04.2.0082)
Kemal Fikar Muhammad (2015.04.2.0083)
Kevin Prayogo (2015.04.2.0084)

DEPARTEMEN / INSTALASI ILMU KEDOKTERAN


FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
AIRLANGGA RSUD DR. SOETOMO
SURABAYA
2016
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah S.W.T atas berkat rahmat-Nya sehingga makalah
yang berjudul Peran Dokter dalam Pemeriksaan Korban Hanging dapat
diselesaikan meskipun jauh dari sempurna. Pembuatan makalah ini merupakan
salah satu tugas dalam menempuh masa dokter muda di Kedokteran Forensik dan
Medikolegal FK Universitas Airlangga-RSUD Dr.Soetomo Surabaya. Ucapan terima
kasih karena bimbingan, dukungan dan bantuan dalam pembuatan makalah ini
disampaikan kepada :

1. Edi Suyanto, dr., Sp.F, SH, MH. Kes selaku Ketua Departemen Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas Airlangga dan Kepala
Instalasi Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD Dr. Soetomo
Surabaya,
2. Nily Sulistyorini, dr., Sp.F selaku Koordinator Pendidikan Dokter Muda Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD Dr. Soetomo Surabaya
3. H. Hariadi Apuranto, dr., Sp.F (K) pembimbing makalah ini di Departemen Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas Airlangga,
4. Seluruh staf pengajar Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
FK Universitas Airlangga,
5. Seluruh PPDS-1 Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas
Airlangga.
Besar harapan penulis agar makalah ini dapat memperluas wawasan dan
menambah pengetahuan khususnya pada para praktisi ilmu kedokteran forensik dan
medikolegal serta pembaca pada umumnya.

Surabaya, 29 Maret 2016

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan..................................................................................i
Kata Pengantar..........................................................................................ii
Daftar Isi ....................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN...............................................................................1
1.1 Latar Belakang ...............................................................................1
1.2 Tujuan .............................................................................................1
1.2.1 Tujuan umum...........................................................................1
1.2.2 Tujuan khusus..........................................................................1
1.3 Manfaat............................................................................................1
1.3.1 Manfaat Teoritis.........................................................................1
1.3.2 Manfaat Praktis.........................................................................2
BAB 2 PEMBAHASAN.................................................................................3
2.1 Definisi Hanging (Strangulation by Suspension)............................3
2.2 Tipe tipe Hanging.........................................................................3
2.2.1 Berdasarkan Cara Kematian....................................................3
2.2.1.1 Suicidal Hanging3
2.2.1.2 Accidental Hanging3
2.2.1.3 Homicidal Hanging (Pembunuhan)3
2.2.2 Berdasarkan Posisi Korban......................................................3
2.2.2.1 Complete Hanging4
2.2.2.2 Partial Hanging4
2.2.3 Berdasarkan Letak Jeratan......................................................4
2.2.3.1 Typical Hanging4
2.2.3.2 Atypical Hanging4
2.3 Patofisiologi.....................................................................................4
2.3.1 Gambaran Klasik Asfiksia........................................................4
2.4 Pemeriksaan Kasus Hanging..........................................................5
2.4.1 Pemeriksaan Setempat............................................................5
2.4.2 Pemeriksaan Otopsi.................................................................6
2.4.2.1 Pemeriksaan Luar6
2.4.2.2 Pemeriksaan Dalam6
2.4.3 Perbedaan Hanging Antemortem dan Postmortem.................8

3
2.5 Aspek Medikolegal Pada Hanging................................................12
2.6 Contoh Kasus................................................................................15
2.6.1 Hukuman Mati........................................................................15
2.6.2 Bunuh Diri...............................................................................15
2.6.3 Simulated Suicidal Hanging...................................................16
BAB 3 KESIMPULAN.................................................................................18
Daftar Pustaka...........................................................................................19

4
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyebab kematian dari hanging adalah asfiksia. Bagaimanapun,
hanging juga merupakan penyebab kematian yang paling sering menimbulkan
persoalan karena rawan terjadi salah interpretasi baik oleh ahli forensik, polisi,
dan dokter non-forensik. Selain itu, hanging merupakan metode bunuh diri yang
sering ditemukan di banyak negara.
Tindakan bunuh diri dengan cara hanging sering dilakukan karena dapat
dilakukan dimana dan kapan saja dengan seutas tali, kain, dasi atau bahan apa
saja yang dapat melilit leher. Demikian pula pada pembunuhan atau hukuman
mati dengan cara hanging yang sudah digunakan sejak zaman dahulu. Kasus
hanging hampir sama dengan penjeratan. Perbedaannya terletak pada asal
tenaga yang dibutuhkan untuk memperkecil lingkaran jerat. Pada penjeratan
tenaga tersebut datang dari luar, sedangkan pada kasus hanging tenaga
tersebut berasal dari berat badan korban sendiri, meskipun tidak seluruh berat
badan digunakan. Dalam rutinitas medikolegal, perbedaan keduanya penting
karena kasus suicidal hanging dianggap bunuh diri sehingga dibuktikan
sebaliknya, manakala kasus penjeratan dianggap pembunuhan.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mengetahui pentingnya peran dokter dalam menangani korban hanging.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Menjelaskan definisi hanging.
2. Menjelaskan macam macam hanging.
3. Menjelaskan peran dokter dalam menangani korban hanging.
4. Menjelaskan undang undang yang berhubungan dengan hanging.

1
1.3 Manfaat
1.3.1 Manfaat Teoritis
Memberikan pengembangan terhadap studi kedokteran tentang hukum
di Indonesia khususnya terkait peran dokter dalam menangani korban
hanging.
1.3.2 Manfaat Praktis
Membantu masyarakat dalam mendapatkan pengetahuan terhadap
hak dan kewajiban pasien maupun dokter dan penyelesaian terhadap
sengketa yang terjadi dalam hubungan dokter-pasien, membantu penyidik
dalam menangani kasus forensik, serta menambah pengetahuan bagi dokter
mengenai peran dokter dalam menangani korban hanging.

2
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Hanging (Strangulation by Suspension)


Hanging adalah suatu keadaan dimana terjadi konstriksi dari leher menjadi
lebih erat oleh karena berat badan korban sendiri, baik seluruh atau sebagian,
sehingga saluran udara pernapasan tertutup. Alat penjerat sifatnya pasif, sedangkan
berat badan sifatnya aktif sehingga terjadi konstriksi pada leher.

2.2 Tipe tipe Hanging


2.2.1 Berdasarkan Cara Kematian
2.2.1.1 Suicidal Hanging (Gantung Diri)
Gantung diri merupakan cara kematian yang paling sering dijumpai pada
hanging, yaitu sekitar 90% dari seluruh kasus. Walaupun demikian, pemeriksaan
yang teliti harus dilakukan untuk mencegah kemungkinan lain terutamanya
pembunuhan.
2.2.1.2 Accidental Hanging
Kejadian hanging akibat kecelakaan lebih banyak ditemukan pada anak-anak
utamanya pada umur antara 6-12 tahun. Tidak ditemukan alasan untuk bunuh diri
karena pada usia itu belum ada tilikan dari anak untuk bunuh diri. Hal ini terjadi
akibat kurangnya pengawasan dari orang tua. Meskipun tidak menutup
kemungkinan hal ini dapat terjadi pada orang dewasa yaitu ketika melampiaskan
nafsu seksual yang menyimpang (autoerotic hanging).
2.2.1.3 Homicidal Hanging (Pembunuhan)
Pembunuhan yang dilakukan dengan metode menggantung korban. Biasanya
dilakukan bila korbannya anak-anak atau orang dewasa yang kondisinya lemah baik
oleh karena penyakit atau dibawah pengaruh obat, alkohol, atau korban sedang
tidur. Sering ditemukan kejadian hanging tetapi bukan kasus bunuh diri, namun
kejadian diatur sedemikian rupa hingga menyerupai kasus suicidal hanging. Banyak
alasan yang menyebabkan pembunuhan terjadi mulai dari masalah sosial, masalah
ekonomi, hingga masalah hubungan sosial.

2.2.2 Berdasarkan Posisi Korban


2.2.2.1 Complete Hanging

3
Dikatakan complete hanging apabila tubuh korban tergantung di atas lantai,
kedua kaki tidak menyentuh lantai.
2.2.2.2 Partial Hanging
Yaitu apabila sebagian dari tubuh masih menyentuh lantai. Sisa berat badan
10 - 15 kg pada orang dewasa sudah dapat menyebabkan tersumbat saluran nafas
dan hanya diperlukan sisa berat badan 5 kg untuk menyumbat arteri karotis. Partial
hanging ini hampir selamanya karena bunuh diri.

2.2.3 Berdasarkan Letak Jeratan


a. Typical Hanging
Yaitu bila titik hanging ditemukan di daerah oksipital dan tekanan pada arteri
karotis paling besar.
b. Atypical Hanging
Jika titik hanging terletak di samping, sehingga leher sangat miring (fleksi
lateral), yang mengakibatkan hambatan pada arteri karotis dan arteri vertebralis.
Saat arteri terhambat, korban segera tidak sadar.

2.3 Patofisiologi
Hanging menyebabkan kematian dengan beberapa mekanisme yang bisa
berlangsung bersamaan. Pada setiap kasus hanging beberapa kondisi di bawah
akan terjadi;
1. Arteri karotis tersumbat
2. Vena jugularis tersumbat
3. Memicu refleks karotis
4. Fraktur vertebra servikal
5. Menutupnya jalan nafas
Daripada kondisi di atas, dapat disimpulkan kematian pada korban hanging yang
terdiri dari empat penyebab yaitu:
1. Asfiksia
Adalah suatu keadaan terjadinya kekurangan oksigen yang disebabkan
karena terganggunya saluran pernapasan.
Secara fisiologis, anoxia adalah kegagalan oksigen mencapai sel sel tubuh.
Kematian akibat anoxia terjadi bila persediaan oksigen pada jaringan tubuh
berkurang sampai dibawah batas minimum keperluan untuk hidup.

4
2. Iskemi otak (gangguan sirkulasi darah otak karena tertekannya vena
jugularis dan atau arteri carotis sehingga terjadi cerebral anoxia)
3. Vagal reflex (shock)
4. Kerusakan batang otak atau sumsum tulang belakang

Kematian segera akibat dari hanging dapat muncul akibat dari beberapa
mekanisme.
Penekanan pada ganglion saraf arteri karotis oleh tali yang melingkar pada
leher korban dapat menyebabkan carotid body reflex (refleks vagus) sehingga
memicu perlambatan denyut jantung. Perlahan-perlahan terjadi aritmia jantung
sehingga terakhir korban mati dengan cardiac arrest. Namun mekanisme kematian
ini jarang didapatkan karena untuk menimbulkan refleks karotis, tekanan lansung
yang kuat harus diberikan pada area khusus di mana carotid body berada. Hal ini
sukar dipastikan. Sebagai tambahan refleks karotis juga dapat dimunculkan biar pun
tanpa hanging.
Tekanan pada vena jugularis juga bisa menyebabkan kematian korban
hanging dengan mekanisme asfiksia. Kebanyakan kasus hanging bunuh diri
mempunyai mekanisme kematian seperti ini. Seperti yang diketahui, vena jugularis
membawa darah dari otak ke jantung untuk sirkulasi. Pada hanging sering terjadi
penekanan pada vena jugularis oleh tali yang menggantung korban. Tekanan ini
seolah-olah membuat jalan yang dilewati darah untuk kembali ke jantung dari otak
tersumbat. Obstruksi total maupun parsial secara perlahan-lahan dapat
menyebabkan kongesti pada pembuluh darah otak. Darah tetap mengalir dari
jantung ke otak tetapi darah dari otak tidak bisa mengalir keluar. Akhirnya, terjadilah
penumpukan darah di pembuluh darah otak. Keadaan ini menyebabkan suplai
oksigen ke otak berkurang dan korban seterusnya tidak sadarkan diri. Kemudian,
terjadilah depresi pusat nafas dan korban mati akibat asfiksia. Tekanan yang
diperlukan untuk terjadinya mekanisme ini tidak penting tetapi durasi lamanya
tekanan diberikan pada leher oleh tali yang menggantung korban yang
menyebabkan mekanisme tersebut. Ketidaksadaran korban mengambil waktu yang
lama sebelum terjadinya depresi pusat nafas. Secara keseluruhan, mekanisme ini
tidak menyakitkan sehingga disalahgunakan oleh pria untuk memuaskan nafsu
seksual mereka (autoerotic sexual asphyxia). Pada mekanisme ini, korban akan
menunjukkan gejala sianosis. Wajahnya membiru dan sedikit membengkak. Muncul

5
peteki di wajah dan mata akibat dari pecahnya kapiler darah karena tekanan yang
lama. Didapatkan lidah yang menjulur keluar pada pemeriksan luar.
Obstruksi arteri karotis terjadi akibat dari penekanan yang lebih besar. Hal ini
karena secara anatomis, arteri karotis berada lebih dalam dari vena jugularis. Oleh
hal yang demikian, obstruksi arteri karotis jarang ditemukan pada kasus bunuh diri
dengan hanging. Biasanya korban mati karena tekanan yang lebih besar, misalnya
dicekik atau pada penjeratan. Pada pemeriksaan dalam turut ditemukan jejas pada
jaringan lunak sekitar arteri karotis akibat tekanan yang besar ini. Tekanan ini
menyebabkan aliran darah ke otak tersumbat. Kurangnya suplai darah ke otak
menyebabkan korban tidak sadar diri dan depresi pusat nafas sehingga kematian
terjadi. Pada mekanisme ini, hanya ditemukan wajah yang sianosis tetapi tidak ada
peteki.
Fraktur vertebra servikal dapat menimbulkan kematian pada hanging dengan
mekanisme asfiksia atau dekapitasi. Kejadian ini biasa terjadi pada hukuman
gantung atau korban hanging yang dilepaskan dari tempat tinggi. Sering terjadi
fraktur atau cedera pada vertebra servikal 1 dan servikal 2 (aksis dan atlas) atau
lebih dikenali sebagai hangman fracture. Fraktur atau dislokasi vertebra servikal
akan menekan medulla oblongata sehingga terjadi depresi pusat nafas dan korban
meninggal karena henti nafas.
Asfiksia bisa juga terjadi akibat dari tertutupnya jalan nafas. Kondisi ini terjadi
setelah korban tidak sadar dan tidak ada usaha untuk bernafas. Akhirnya, korban
mati. Saluran udara tertutup karena pangkal lidah terdorong ke atas belakang, ke
arah dinding posterior pharynx. Palatum molle dan uvula terdorong ke atas,
menekan epiglottis sehingga menutup lubang larynx.

2.3.1 Gambaran klasik asfiksia:

1. Kongesti pada wajah


Kulit tampak kemerahan pada wajah dan kepala akibat hambatan aliran kembali
vena ke jantung oleh kompresi leher
2. Edema pada wajah
Pembengkakan jaringan akibat transudasi cairan dari vena akibat peningkatan vena
hasil obstruksi aliran kembali vena ke jantung
3. Sianosis pada wajah

6
Warna biru pada kulit akibat adanya darah terdeoksigenasi dalam sistem vena yang
terkongesti serta kadang-kadang turut melibatkan sistem arteri.
4. Peteki pada kulit wajah dan mata
Perdarahan halus sebesar ujung jarum lazim ditemukan di wajah dan sekitar kelopak
mata selain pada konjungtiva dan sklera akibat darah bocor dari vena kecil yang
mengalami peningkatan tekanan. Keadaan ini diduga akibat hipoksia dinding
pembuluh darah namun belum terbukti pasti. Peteki bukan tanda diagnostik asfiksia
karena dapat ditemukan pada keadaan batuk atau bersin yang terlampau keras. Hal
yang terkait peteki wajah adalah peteki visceral yang disebut Tardieu spots yang
sebelumnya dianggap tanda khas asfiksia kini sudah terbukti bukan tanda terjadinya
obstruksi pernapasan.

2.4 Pemeriksaan Kasus Hanging


2.4.1 Pemeriksaan Setempat
1. Tentukan korban masih hidup atau sudah meninggal. Bila masih hidup maka
diusahakan memberikan pertolongan secepatnya.
2. Kumpulkan bukti-bukti yang dapat memberi petunjuk cara kematian. Hati-hati
terhadap kasus pembunuhan terselubung, misalnya : adakah alat penumpu
untuk mencapai suatu ketinggian dan arah serabut tali penggantung. Bila
korban dibunuh dulu baru digantung dengan cara menggerek maka arah
serabut tali menjauhi korban, dan juga lebam mayat dapat ditemukan pada
dua tempat yang berlainan, misalnya di belakang tubuh dan pada bagian
distal tungkai dan lengan.
3. Perhatikan jeratnya, apakah simpul hidup atau simpul mati. Apabila simpul
mati maka dicoba apakah dapat melalui lingkaran kepala atau tidak.
4. Setelah selesai melakukan pemeriksaan termasuk memperkirakan saat
kematian korban, maka sebelum kita menurunkan korban maka harus kita
ukur tinggi tiang gantungan, panjang tali penggantung, jarak lantai dengan
ujung kaki apabila korban tergantung bebas. Pada kasus menggantung, tidak
selalu harus kaki lepas dari lantai, dapat dalam posisi berlutut, setengah
duduk dan sebagainya. Semua ini diperlukan untuk rekonstruksi di kemudian
hari.
5. Letak korban di TKP : Korban ada di suatu tempat yang bebas dari benda-
benda lain atau korban berdekatan dengan benda lain, misalnya almari,

7
tempat tidur, dinding dsb. Perhatikan juga pada tubuh korban ditemukan
kekerasan benda tumpul atau tidak.
6. Cara menurunkan korban : potonglah bahan penggantung di luar simpul
seperti cara tersebut di atas.
7. Bekas serabut tali pada tempat bergantung dan pada leher diamankan untuk
pemeriksaan lebih lanjut.
8. Perhatikan bahan penggantungnya : makin kecil dan makin keras bahan yang
dipakai maka makin jelas alur jerat yang timbul pada leher.
9. Lidah terjulur, mata melotot, keluar mani dan feses, keluar darah dari
kemaluan wanita, semua itu bukan merupakan petunjuk dari cara kematian.
Lidah terjulur/tidak : tergantung letak jerat di leher, bila letaknya di
bawah jakun (cartilage thyroidea) maka lidah akan terjulur, sebaliknya
bila letak di atas jakun maka lidah malah tertarik ke dalam.
Mata melotot adalah akibat bendungan di kepala (dalam rongga mata).
Keluar mani, feses, urine, darah dari vagina : adalah akibat stadium
konvulsi pada saat akan mati (agonal) yang mengenai otot-otot vesica
seminalis, rectum dan uterus.

2.4.2 Pemeriksaan Otopsi


2.4.2.1 Pemeriksaan Luar :
1. Kepala
Lidah yang terjulur atau mata melotot biasanya akan menghilang
bila jerat pada leher sudah dilepas. Muka akan berwarna biru
(sianosis) bila aliran darah vena terhambat sedangkan aliran darah
arteri tidak terhambat, keadaan ini biasanya dijumpai bila bahan
penggantungnya lunak. Muka akan berwarna pucat bila aliran
darah vena dan arteri terhambat, hal ini biasanya terjadi bila bahan
penggantungnya keras.
Bendungan pada kepala menyebabkan pecahnya venule pada
mata, juga pada asphyxia akan meningkatkan permeabilitas
pembuluh darah sehingga timbul bintik-bintik perdarahan
(pethechiae hemorrahages, tardieus spot).
2. Leher
Setelah jerat dilepas, akan tampak alur jerat pada kulit leher, alur
dapat pucat, tepi alur berwarna merah coklat karena luka lecet.
Mungkin juga seluruh alur berupa luka lecet warna merah
kecoklatan tergantung bahan/jenis jeratnya. Kulit yang berbatasan
dengan alur dapat mengalami sedikit pembendungan pembuluh

8
darahnya sehingga timbul ecchymose, yang oleh beberapa ahli
dikatakan sebagai tanda intravital.
Makin kecil penampang dan makin keras bahan yang dipakai maka
makin jelas alur yang timbul. Alur pada jenazah yang masih baru
mungkin tidak jelas, tetapi post mortem terjadi pengeringan dan
akan tampak bentuk alur yang tidak jelas tadi. Arah alur dapat
simetris atau asimetris, tergantung dari letak simpul dan akan
berjalan miring ke atas menuju lerak simpul.
Fraktura artifisialis dapat terjadi bila terlalu kasar pada waktu otopsi,
akan tetapi disini tanda-tanda intravital tidak ditemukan. Tanda
intravital berupa perdarahan di sekitar fraktura.
Bila tanda intravital tidak jelas maka :
Bahan yang dicurigai dimasukkan ke dalam larutan formalin
10% selama 3x24 jam untuk memfiksir semua tanda-tanda
intravital.
Kemudian masukkan ke dalam larutan alcohol 95% selama
1x24 jam untuk memberikan warna. Dengan demikian
perdarahan yang etrjadi di sekitar daerah fraktur dapat
ditemukan.
3. Anggota gerak
Ditemukan lebam mayat pada ujung bawah lengan dan tungkai.
Perhatikan apakah ada luka memar atau luka lecet yang mungkin
diakibatkan persentuhan dengan benda-benda di sekitar korban.
4. Kelamin dan dubur
Kadang- kadang ditemukan air seni, cairan mani, feses atau darah
dari vagina.
2.4.2.2 Pemeriksaan Dalam
1. Rongga kepala
Tanda-tanda bendungan pada pembuluh darah otak. Pada
hukuman gantung (yudicial hanging) dapat dijumpai kerusakan
sumsum tulang belakang (medulla spinalis).
2. Leher
Cari perdarahan pada otot dan jaringan di daerah alur jerat. Cari
patah tulang lidah dan atau tulang rawan gondok. Mungkin terjadi
robekan-robekan kecil pada bagian intima pembuluh darah leher.
Tanda-tanda kekerasan pada daerah leher (tidak selalu ada)
berupa :
Fraktur prosesus atau cornu superior cartilage thyroidea
Perdarahan di dalam otot-otot leher

9
Robekan musculus sternocleidomastoideus dan ligamen
thyrohyoid
Fraktur cornu os hyoid
Robekan-robekan kecil pada intima vena jugularis
3. Dada dan perut
Akibat bendungan pembuluh darah dan asphyxia dapat terjadi
perdarahan kecil-kecil, misalnya pleura dan peritoneum. Organ-
organ tubuh mengalami pembendungan terutama organ-organ
dalam rongga abdomen bagian bawah (kongesti organ). Hiperemi
pada lambung, hati dan ginjal. Jika terjadi asphyxia yang sangat
berat, ginjal dapat mengerut.
4. Darah menjadi lebih encer
Pada setiap kematian yang cepat, darah akan tetap cair, salah satu
keadaan tersebut terdapat pada asphyxia. Darah yang tetap cair ini
sering dihubungkan dengan
- Aktifitas fibrinolisin
- Faktor faktor pembekuan yang ada di ekstravaskuler dan
tidak sempat masuk kedalam pembuluh darah oleh karena
cepatnya proses kematian.
2.4.3 Perbedaan Hanging Antemortem dan Postmortem
Tanda-tanda antemortem sebelum kematian dan tanda-tanda
postmortem harus diketahui dan dapat dibedakan dengan jelas oleh seorang
dokter supaya penyebab kematian dapat detentukan dengan pasti.
Perbedaan antara tanda tanda penggantungan antemortem dan
postmortem adalah seperti pada tabel di bawah ini.

No Hanging antemortem Hanging postmortem

1 Tanda jejas jeratan miring, berupa Tanda jejas jeratan biasanya berbentuk
lingkaran terputus (non- lingkaran utuh (continuous), agak
continuous) dan letaknya pada sirkuler dan letaknya pada bagian leher
leher bagian atas tidak begitu tinggi

2 Simpul tali biasanya tunggal, Simpul tali biasanya lebih dari satu,
terdapat pada sisi leher diikatkan dengan kuat dan diletakkan
pada bagian depan leher

3 Ekimosis tampak jelas pada salah Ekimosis pada salah satu sisi jejas

10
No Hanging antemortem Hanging postmortem

satu sisi dari jejas penjeratan. penjeratan tidak ada atau tidak jelas.
Lebam mayat tampak di atas jejas Lebam mayat terdapat pada bagian
jerat dan pada tungkai bawah tubuh yang menggantung sesuai dengan
posisi mayat setelah meninggal

4 Pada kulit di tempat jejas Tanda parchmentisasi tidak ada atau


penjeratan teraba seperti tidak begitu jelas
perabaan kertas perkamen, yaitu
tanda parchmentisasi

5 Sianosis pada wajah, bibir, telinga, Sianosis pada bagian wajah, bibir,
dan lain-lain sangat jelas terlihat telinga dan lain-lain tergantung dari
terutama jika kematian karena penyebab kematian
asfiksia

6 Wajah membengkak dan mata Tanda-tanda pada wajah dan mata tidak
mengalami kongesti dan agak terdapat, kecuali jika penyebab kematian
menonjol, disertai dengan adalah pencekikan (strangulasi) atau
gambaran pembuluh darah vena sufokasi
yang jelas pada bagian kening dan
dahi

7 Lidah bisa terjulur atau tidak sama Lidah tidak terjulur kecuali pada kasus
sekali kematian akibat pencekikan

8 Penis. Ereksi penis disertai Penis. Ereksi penis dan cairan sperma
dengan keluarnya cairan sperma tidak ada. Pengeluaran feses juga tidak
sering terjadi pada korban pria. ada.
Demikian juga sering ditemukan
keluarnya feses

11
No Hanging antemortem Hanging postmortem

9 Air liur. Ditemukan menetes dari Air liur tidak ditemukan yang menetes
sudut mulut, dengan arah yang pada kasus selain kasus
vertikal menuju dada. Hal ini penggantungan.
merupakan pertanda pasti
penggantungan ante-mortem

2.5 Aspek Medikolegal pada Hanging

Prosedur medikolegal adalah tata-cara atau prosedur penatalaksanaan dan


berbagai aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum.
Secara garis besar prosedur mediko-legal mengacu kepada peraturan perundang
undangan yang berlaku di Indonesia dan pada beberapa bidang juga mengacu
kepada sumpah dokter dan etika kedokteran.

Ruang lingkup medikolegal dapat disimpulkan sebagai yang berikut;


a. Pengadaan Visum et Repertum,
b. Pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian
keterangan ahli di dalam persidangan,
c. Kaitan Visum et Repertum dengan rahasia kedokteran,
d. Penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Medik,
e. Kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik.

Setelah pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan UU No. 73 Tahun 1958


yang isinya menyatakan berlakunya UU No. 1 Tahun 1945 untuk seluruh Indonesia,
maka suatu perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan
ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada, sesuai dengan ketentuan
Pasal 1 KUHP.
Hanging lebih sering terjadi pada kasus bunuh diri. Tetapi tidak menutup
kemungkinan korban hanging mati akibat penganiayaan. Disini dapat dilihat
fungsinya dari satu perundangan yang ditetapkan. Pada buku kedua KUHP Bab XIX
tentang kejahatan terhadap nyawa. Berikut merupakan pasal-pasal yang terkandung
dalam bab XIX KUHP.

1. Pasal 338
Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

12
2. Pasal 340
Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas
nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan
pidana rnati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu,
paling lama dua puluh tahun.
3. Pasal 345
Barang siapa sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri, menolongnya
dalam perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya untuk itu, diancam
dengan pidana penjara paling lama empat tahun kalau orang itu jadi bunuh
diri.
4. Pasal 359
Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain
mati, diancam dengan pidana penjara paing lama lima tahun atau pidana
kurungan paling lama satu tahun

Pada kasus hanging, dokter forensik dipanggil untuk membuat pemeriksaan


lengkap sesuai dengan Pasal 133 KUHAP yang menyatakan dalam hal penyidik
untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan
ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. Pada pasal 133 KUHAP (ayat 2 dan 3)
menyatakan permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk
pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat; dan
mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat
tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap
jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. Pernyataan
ini menjadi dasar pembuatan visum et repertum (laporan bertulis) pada kasus tindak
pidana.
Salah satu pemeriksaan yang dilakukan pada korban mati akibat hanging
adalah otopsi. Hal ini dapat membantu dokter forensik untuk mengetahui mekanisme
kematian sehingga dapat membantu penyidik mengetahui cara kematian korban.
Sesuai dengan Pasal KUHP 222 yang menyatakan barang siapa dengan sengaja
mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat forensik,

13
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda
paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pada persidangan kasus pidana, dokter forensik akan dipanggil sebagai saksi
ahli. Sesuai dengan Pasal 179 ayat 1 KUHAP yang menyatakan setiap orang yang
diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli
lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

14
2.6 Contoh Kasus
2.6.1 Hukuman Mati
Terhukum dengan jerat pada lehernya dibuat jatuh pada ketinggian lebih
kurang 6 feet (1,5 2 meter). Di sini sebab kematiannya kombinasi yaitu shock,
asphyxia, dan kerusakan medulla spinalis karena fraktur dan dislokasi vertebra
cervicalis 3 4. Tali biasanya dilingkarkan pada sudut dagu. Sering pula terjadi
patah os thyroid dan kerusakan intima arteri carotis.
2.6.2 Bunuh Diri
Bunuh diri adalah suatu perbuatan yang direncanakan, oleh karena itu pada
pemeriksaan Tempat Kejadian Perkara (TKP) rencana tersebut harus dapat
ditemukan kembali. Kadang suatu pembunuhan dapat direncanakan dengan tenang
sehingga menyerupai kasus bunuh diri. Tetapi korban yang akan dibunuh tidak akan
mengikuti rencana dan bila pembunuhan telah terjadi, jiwa pembunuh dalam
keadaan tegang dan semua dilakukan dengan tergesa-gesa karena takut diketahui
orang. Dalam keadaan demikian pembunuh akan membuat berbagai kesalahan dan
kesalahan inilah yang harus dicari pada pemeriksaan TKP.
Bunuh diri klasik dengan menggantung dilakukan sebagai berikut : satu ujung
tali diikatkan pada belandar dan untuk itu diperlukan tangga atau alat lain untuk
mencapai belandar. Kemudian korban mengambil kursi dan berdiri di atasnya lalu
membuat jerat (simpul) pada ujung tali yang lain yang lubangnya dapat disempitkan
dan dilonggarkan (simpul hidup). Kemudian kepala dimasukkan dalam jerat dan
kursi digulingkan sehingga korban menggantung dengan kaki bebas dari lantai.
Pada bunuh diri dengan menggantung tidak selalu kaki bebas di lantai. Bunuh
diri dapat dilakukan dengan berdiri kemudian lutut ditekuk atau dalam keadaan
duduk atau terbujur dan telungkup di bawah tempat tidur.
Pada kasus gantung diri, cara memotong tali harus mendapat perhatian,
dilakukan sedemikian rupa sehingga nantinya selalu dapat dilakukan rekonstruksi.
Tali diikat pada dua tempat kemudian dipotong miring di tengahnya. Juga
diperhatikan jeratnya, bila jeratnya tidak dapat disempitkan/dilonggarkan (simpul
mati), dan lubang jerat tidak cukup melewati kepala, maka kita harus waspada suatu
pembunuhan. Kalau talinya berserabut, maka perhatikan arah serabut yang
menggeser pada belandar, dimana arah serabut selalu berlawanan dengan arah
traksi.

15
Alat penggantung dapat dibedakan dua macam yakni : alat penggantung
lunak dan keras. Alat penggantung lunak misalnya : selendang, stragen yang
menyebabkan vena di leher tertutup sehingga muka korban menjadi biru.
Sedangkan alat penggantung keras misalnya : tali, kabel yang menyebabkan vena
dan arteri tertutup sehingga muka korban nampak pucat.
Pada kasus gantung diri tidak mutlak ditemukan patah tulang lidah, hal ini
tergantung dari usia, macm alat penggantugnya dan dari ketinggian berapa korban
menjatuhkan diri. Alat penggantung lunak biasanya tidak menyebabkan patah tulang
lidah. Pada kasus bunuh diri yang menggantung bebas tidak boleh ada luka memar,
bila ditemukan maka waspadalah terhadap pembunuhan. Bila korban menggantung
di sudut kamar, pada bagian tubuh yang menonjol dapat ditemukan lecet atau
memar misalnya pada daerah lutut, siku, panggul, atau pada bahu.
Pada kasus gantung diri tidak selalu ditemukan :
Mata melotot
Lidah terjulur (melet)
Mengeluarkan mani, darah darah vagina, feses
Mata melotot dijumpai kalau vena tertutup sehingga terjadi kongesti di
belakang bola mata. Sedangkan lidah terjulur tergantung dari letak jeratan yaitu bila
letaknya di bawah jakun.
Bila mayat sudah diturunkan sebelum penyidik datang, maka untuk
membuktikan kebenaran bahwa korban menggantung, harus diperiksa belandar
apakah ada bagian yang bersih dari debu karena gesekan alat penggantung atau
bekas tangan korban atau pelaku.

2.6.3 Simulated Suicidal Hanging


Merupakan pembunuhan yang dibuat sedemikian rupa seolah-olah gantung
diri. Tidak ada reaksi intravital dan tidak adanya kelainan akibat pembendungan
pada kepala dan leher, tidaklah dapat dipakai sebagai bukti bahwa tubuh telah
digantung sesudah mati.
Penentuan diagnosa pada kasus tersebut tergantung pada :
1. Adanya sebab kematian lain atau trauma yang tidak mungkin dapat dilakukan
oleh korban sendiri.
2. Distribusi dari lebam mayat yang tidak sesuai. Hal ini mempunyai arti apabila
lebam mayat sudah terfiksir sebelum mayat digantung.
3. Tanda-tanda dari simpul jerat.

16
Bila seseorang telah meninggal kemudian digantung, maka biasanya jeratnya
diikatkan melingkari leher dulu baru kemudian gantung ke tiang
gantungan/belandar/pohon. Karena itu bila tiang belandar diperhatikan, akan
terdapat tanda-tanda bahwa talinya telah bergerak dari bawah ke atas,
sedangkan pada kasus gantung diri yang sebenarnya dari atas ke bawah. Hal
ini sesuai dengan arah bergeraknya tubuh korban. Dari serat-serat kecil
gesekan tali juga bias diketahui arahnya. Pada suicidal hanging mungkin juga
dapat ditemukan serabut-serabut dari tali pada tangan korban, sedangkan
pada simulated hanging hal ini tidak ditemukan.

17
BAB 3

KESIMPULAN

Hanging adalah suatu keadaan dimana terjadi konstriksi dari leher karena
berat badan korban sendiri, baik seluruh atau sebagian, sehingga saluran udara
pernapasan tertutup.
Berdasarkan cara kematian, hanging dikelompokkan menjadi; suicidal
hanging (bunuh diri), accidental hanging, homicidal hanging (Pembunuhan). Suicidal
hanging merupakan kasus terbanyak dari hanging. Accidental hanging lebih sering
terjadi pada anak anak. Homicidal hanging biasanya terjadi pada orang tua yang
lemah atau anak anak.

Berdasarkan posisi korban, dikelompokkan menjadi; complete hanging dan


partial hanging. Complete hanging apabila kedua kaki tidak menyentuh lantai. Partial
hanging apabila sebagian dari tubuh masih menyentuh lantai.

Berdasarkan Letak Jeratan, hanging dikelompokkan menjadi; typical hanging


bila titik hanging ditemukan di daerah oksipital dan tekanan pada arteri karotis paling
besar, dan atypical hanging jika titik hanging terletak di samping, sehingga leher
sangat miring.
Peran dokter dalam korban hanging saat pemeriksaan di TKP; tentukan
korban masih hidup atau sudah meninggal. Kemudian mengumpulkan bukti-bukti
yang dapat memberi petunjuk cara kematian. Perhatikan jeratnya, apakah simpul
hidup atau simpul mati. Ukur tinggi tiang gantungan, panjang tali penggantung, jarak
lantai dengan ujung kaki apabila korban tergantung bebas. Letak korban di TKP
apakah berdekatan dengan benda lain dan aapakah ditemukan kekerasan pada
tubuh korban.
Jika korban sudah diturunkan dan dilakukan pemeriksaan otopsi, dalam
rongga kepala dapat ditemukan tanda tanda bendungan pada pembuluh darah
otak. Pada leher, bisa didapatkan perdarahan pada otot dan jaringan di daerah alur
jerat, patah tulang lidah dan atau tulang rawan gondok. Pada rongga dada dan
perut, bisa didapatkan kongesti organ dan hiperemi.
Beberapa pasal yang berhubungan dengan hanging; pasal 338 dan pasal 340
berhubungan dengan pembunuhan. Pasal 345 berhubungan dengan bunuh diri dan
pasal 359 berhubungan dengan kecelakaan.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Noharakrizo, Makalah Hanging. Online. 2011. Available from


URL:http//www.scribd.com/doc/49388289/Makalah-Hanging.
2. Apuranto H, Asphyxia dalam Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal,
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, 2012, h.69-83.
3. Knight B, Arnold, Simsons Forensic Medicine, 11th Edition, Oxford university
Press. Inc, New York USA, 1997, p.19.
4. Idries AM, Penggantungan dalam Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik,
Jakarta: ECG, 1997, h.202-207.
5. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Karya Anda, Surabaya.
6. Gonzales, Thomas. A, Morgan Vance, dkk, Legal Medicine Pathology And
Toxicology second edition. Appleton-Century-Crofts Inc. 1825.
7. Teknik Autopsi Forensik, Bagian Kedokteran Forensik, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta.

19