Anda di halaman 1dari 20

PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan

Memahami prinsip analisa dengan menggunakan UV-VIS.


Mampu mengoperasikan alat UV-VIS Cary 50 Conc Varian.
Mampu mempersiapkan sampel demgan cermat.
Menganalisa sampel seperti kadar besi dalam ikan kaleng

1.2 Dasar Teori

1.2.1 Spektrofotometri

Spektrometri adalah sebuah metode analisis untuk mengukur konsentrasi suatu


senyawa berdasarkan kemampuan senyawa tersebut mengabsorbsi berkas sinar atau
cahaya. Spektrofotometri adalah alat yang terdiri dari spektrofotometer dan
fotometer. Cara kerja spektrometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya
monokromatik dari sumber sinar. Cahaya tersebut kemudian menuju ke kuvet
(tempat sampel/sel). Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun yang diserap oleh
larutan akan dibaca oleh detektor yang kemudian menyampaikan ke layar
pembaca.

1.2.2 Spektrofotometri Vis (visibel)

Pada spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber sinar/energi adalah


cahaya tampak (visible). Cahaya visible termasuk spektrum elektromagnetik yang
dapat ditangkap oleh mata manusia. Panjang gelombang sinar tampak adalah 380
sampai 750 nm. Sehingga semua sinar yang dapat dilihat oleh kita, entah itu putih,
merah, biru, hijau, apapun.. selama ia dapat dilihat oleh mata, maka sinar tersebut
termasuk ke dalam sinar tampak(visible). Sumber sinar tampak yang umumnya
dipakai pada spektro visible adalah lampu Tungsten. Tungsten yang dikenal juga
dengan nama Wolfram merupakan unsur kimia dengan simbol W dan no atom 74.
Tungsten mempunyai titik didih yang tertinggi (3422 C) dibanding logam lainnya.

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 1


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

karena sifat inilah maka ia digunakan sebagai sumber lampu. Sampel yang dapat
dianalisa dengan metode ini hanya sampel yang memiliki warna. Hal ini menjadi
kelemahan tersendiri dari metode spektrofotometri visible. Oleh karena itu, untuk
sample yang tidak memiliki warna harus terlebih dulu dibuat berwarna dengan
menggunakan reagent spesifik yang akan menghasilkan senyawa berwarna. Reagent
yang digunakan harus betul-betul spesifik hanya bereaksi dengan analat yang akan
dianalisa. Selain itu juga produk senyawa berwarna yang dihasilkan stabil.

1.2.3 Spektrofotometri UV (ultra violet)

Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV


berdasarkan interaksi sampel dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang
gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium.
Deuterium disebut juga heavy hidrogen merupakan isotop hidrogen yang stabil yang
terdapat berlimpah di laut dan daratan. Inti atom deuterium mempunyai satu proton
dan satu neutron, sementara hidrogen hanya memiliki satu proton dan tidak
memiliki neutron. Nama deuterium diambil dari bahasa Yunani, deuteros, yang
berarti dua, mengacu pada intinya yang memiliki dua pertikel. Karena sinar UV
tidak dapat dideteksi oleh mata kita, maka senyawa yang dapat menyerap sinar ini
terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna. Bening dan transparan.
Oleh karena itu, sample tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan
penambahan reagent tertentu. Bahkan sampel dapat langsung dianalisa meskipun
tanpa preparasi. Namun perlu diingat, sampel keruh tetap harus dibuat jernih
dengan filtrasi atau centrifugasi. Prinsip dasar pada spektrofotometri adalah sample
harus jernih dan larut sempurna. Tidak ada partikel koloid apalagi suspensi.
Spektrofotometri UV memang lebih simple dan mudah dibanding spektrofotometri
visible, terutama pada bagian preparasi sample. Namun harus hati-hati juga, karena
banyak kemungkinan terjadi interferensi dari senyawa lain selain alat yang juga
menyerap pada panjang gelombang UV. Hal ini berpotensi menimbulkan bias pada
hasil analisa.

1.2.4 Spektrofotometer UV-VIS

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 2


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

Spektrofotometri ini merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan


Visible. Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan
sumber cahaya visible. Meskipun untuk alat yang lebih canggih sudah
menggunakan hanya satu sumber sinar sebagai sumber UV dan Vis, yaitu
photodiode yang dilengkapi dengan monokromator. Untuk sistem spektrofotometri,
UV-Vis paling banyak tersedia dan paling populer digunakan. Kemudahan metode
ini adalah dapat digunakan baik untuk sample berwarna juga untuk sample tak
berwarna. Spektroskopi ultraviolet-visible atau spektrofotometri ultraviolet-visible
(UV-Vis atau UV / Vis) melibatkan spektroskopi dari foton dalam daerah UV-
terlihat. Ini berarti menggunakan cahaya dalam terlihat dan berdekatan (dekat
ultraviolet (UV) dan dekat dengan inframerah (NIR)) kisaran. Penyerapan dalam
rentang yang terlihat secara langsung mempengaruhi warna bahan kimia yang
terlibat. Di wilayah ini dari spektrum elektromagnetik, molekul mengalami transisi
elektronik. Teknik ini melengkapi fluoresensi spektroskopi, di fluoresensi berkaitan
dengan transisi dari ground state ke eksited state. Penyerapan sinar uv dan sinar
tampak oleh molekul, melalui 3 proses yaitu :
Penyerapan oleh transisi elektron ikatan dan electron anti ikatan.
Penyerapan oleh transisi electron d dan f dari molekul kompleks.
Penyerapan oleh perpindahan muatan.

Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang


gelombangdan dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu
yang khas untuk komponen yang berbeda.Absorbsi sinar oleh larutan mengikuti
hukum Lambert-Beer, yaitu :

A= log ( Io / It ) = abc

Keterangan :

Io = Intensitas sinar datang


It = Intensitas sinar yang diteruskan
a = Absorptivitas
b = Panjang sel/kuvet
c = konsentrasi (g/L)
A = Absorban

1.2.5 Spektrofotometer UV-Vis

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 3


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

Spektrofotometer UV-Vis merupakan spektrofotometer berkas ganda


sedangkan pada spektrofotometer VIS ataupun UV termasuk spektrofotometer
berkas tunggal. Pada spektrofotometer berkas ganda blanko dan sampel dimasukan
atau disinari secara bersamaan, sedangkan spektrofotometer berkas tunggal blanko
dimasukan atau disinari secara terpisah.

Spektrofotometer UV-VIS seperti yang tertera pada gambar.

Double-beam dibuat untuk digunakan pada panjang gelombang 190 sampai


750 nm. Double-beam instrument dimana mempunyai dua sinar yang dibentuk oleh
potongan cermin yang berbentuk V yang disebut pemecah sinar. Sinar pertama
melewati larutan blangko dan sinar kedua secara serentak melewati sampel,
mencocokkan fotodetektor yang keluar menjelaskan perbandingan yang ditetapkan
secara elektronik dan ditunjukkan oleh alat pembaca.

1.2.6 Instrumen Spektrometri UVVis

Sumber cahaya

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 4


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

Sumber cahaya pada spektrofotometer harus memiliki panacaran radiasi


yang stabil dan intensitasnya tinggi. Sumber cahaya pada spektrofotometer
UV-Vis ada dua macam :
a) Lampu Tungsten (Wolfram), Lampu ini digunakan untuk mengukur
sampel pada daerah tampak. Bentuk lampu ini mirip dengna bola lampu
pijar biasa. Memiliki panjang gelombang antara 350-2200 nm. Spektrum
radiasianya berupa garis lengkung. Umumnya memiliki waktu 1000jam
pemakaian.
b) Lampu Deuterium, lampu ini dipakai pada panjang gelombang 190-380
nm. Spektrum energy radiasinya lurus, dan digunakan untuk mengukur
sampel yang terletak pada daerah uv. Memiliki waktu 500 jam
pemakaian.

Wadah Sampel
kebanyakan spektrofotometri melibatkan larutan dan karenanya
kebanyakan wadah sampel adalah sel untuk menaruh cairan ke dalam berkas
cahaya spektrofotometer. Sel itu haruslah meneruskan energy cahaya dalam
daerah spektral yang diminati: jadi sel kaca melayani daerah tampak, sel
kuarsa atau kaca silica tinggi istimewa untuk daerah ultraviolet. Dalam
instrument, tabung reaksi silindris kadang-kadang diginakan sebagai wadah
sampel. Penting bahwa tabung-tabung semacam itu diletakkan secara
reprodusibel dengan membubuhkan tanda pada salah satu sisi tabung dan
tanda itu selalu tetap arahnya tiap kali ditaruh dalam instrument. Sel-sel lebih
baik bila permukaan optisnya datar. Sel-sel harus diisi sedemikian rupa
sehingga berkas cahaya menembus larutan, dengan meniscus terletak
seluruhnya diatas berkas. Umumnya sel-sel ditahan pada posisinya dengan
desain kinematik dari pemegangnya atau dengan jepitan berpegas yang
memastikan bahwa posisi tabung dalam ruang sel (dari) instrument itu
reprodusibel.

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 5


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

Monokromator
Monokromator adalah alat yang akan memecah cahaya polikromatis
menjadi cahaya tunggal (monokromatis) dengan komponen panjang
gelombang tertentu. Bagian-bagian monokromator, yaitu :
1. Prisma.
Prisma akan mendispersikan radiasi elektromagnetik sebesar mungkin
supaya di dapatkan resolusi yang baik dari radiasi polikromatis.
2. Grating (kisi difraksi)
Kisi difraksi memberi keuntungan lebih bagi proses spektroskopi.
Dispersi sinar akan disebarkan merata, dengan pendispersi yang sama,
hasil dispersi akan lebih baik. Selain itu kisi difraksi dapat digunakan
dalam seluruh jangkauan spektrum.
3. Celah optis
Celah ini digunakan untuk mengarahkan sinar monokromatis yang
diharapkan dari sumber radiasi. Apabila celah berada pada posisi yang
tepat, maka radiasi akan dirotasikan melalui prisma, sehingga diperoleh
panjang gelombang yang diharapkan.
4. Filter.
Berfungsi untuk menyerap warna komplementer sehingga cahaya yang
diteruskan merupakan cahaya berwarna yang sesuai dengan panjang
gelombang yang dipilih.

Detektor
Detektor akan menangkap sinar yang diteruskan oleh larutan. Sinar
kemudian diubah menjadi sinyal listrik oleh amplifier dan dalam rekorder dan
ditampilkan dalam bentuk angka-angka pada reader (komputer). Detector
dapat memberikan respons terhadap radiasi pada berbagai panjang gelombang
Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom.
Metode umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 6


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

serapan ultra-violet. Banyak senyawa-senyawa organik menyerap sinar UV


dari beberapa panjang gelombang. Jika anda menyinarkan sinar UV pada
larutan yang keluar melalui kolom dan sebuah detektor pada sisi yang
berlawanan, anda akan mendapatkan pembacaan langsung berapa besar sinar
yang diserap. Jumlah cahaya yang diserap akan bergantung pada jumlah
senyawa tertentu yang melewati melalui berkas pada waktu itu. Anda akan
heran mengapa pelarut yang digunakan tidak mengabsorbsi sinar UV. Pelarut
menyerapnya! Tetapi berbeda, senyawa-senyawa akan menyerap dengan
sangat kuat bagian-bagian yang berbeda dari specktrum UV. Misalnya,
metanol, menyerap pada panjang gelombang dibawah 205 nm dan air pada
gelombang dibawah 190 nm. Jika anda menggunakan campuran metanol-air
sebagai pelarut, anda sebaiknya menggunakan panjang gelombang yang lebih
besar dari 205 nm untuk mencegah pembacaan yang salah dari pelarut

Visual display/recorder
Merupakan system baca yang memperagakan besarnya isyarat listrik,
menyatakan dalam bentuk % Transmitan maupun Absorbansi.

1.2.7 Prinsip Kerja Spektrometer UV-VIS

Cahaya yang berasal dari lampu deuterium maupun wolfram yang bersifat
polikromatis di teruskan melalui lensa menuju ke monokromator pada
spektrofotometer dan filter cahaya pada fotometer. Monokromator kemudian akan
mengubah cahaya polikromatis menjadi cahaya monokromatis (tunggal). Berkas-
berkas cahaya dengan panjang tertentu kemudian akan dilewatkan pada sampel
yang mengandung suatu zat dalam konsentrasi tertentu. Oleh karena itu, terdapat
cahaya yang diserap (diabsorbsi) dan ada pula yang dilewatkan. Cahaya yang
dilewatkan ini kemudian di terima oleh detector. Detector kemudian akan
menghitung cahaya yang diterima dan mengetahui cahaya yang diserap oleh sampel.
Cahaya yang diserap sebanding dengan konsentrasi zat yang terkandung dalam
sampel sehingga akan diketahui konsentrasi zat dalam sampel secara kuantitatif.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada spectrometer UV-VIS adalah:
Larutan yang dianalisis merupakan larutan berwarna

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 7


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

Apabila larutan yang akan dianalisis merupakan larutan yang tidak


berwarna, maka larutan tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi
larutan yang berwarna. Kecuali apabila diukur dengan menggunakan
lampu UV.
Panjang gelombang maksimum
Panjang gelombang yang digunakan adalah panjang gelombang yang
mempunyai absorbansi maksimal. Hal ini dikarenakan pada panajgn
gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada panjang
gelombang tersebut, perubahan absorbansi untuk tiap satuan konsentrasi
adalah yang paling besar. Selain itu disekitar panjang gelombang
maksimal, akan terbentuk kurva absorbansi yang datar sehingga hukum
Lambert-Beer dapat terpenuhi. Dan apabila dilakukan pengukuran
ulang, tingkat kesalahannya akan kecil sekali.
Kalibrasi Panjang gelombang dan Absorban
Spektrofotometer digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang
dipancarkan dan cahaya yang diabsorbsi. Hal ini bergantung pada
spektrum elektromagnetik yang diabsorb oleh benda. Tiap media akan
menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu tergantung pada
senyawa yang terbentuk. Oleh karena itu perlu dilakukan kalibrasi
panjang gelombang dan absorban pada spektrofotometer agar
pengukuran yang di dapatkan lebih teliti.
1.2.8 Keuntungan Spektrofotometer

Keuntungan dari spektrofotometer adalah :

a) Penggunaannya luas, dapat digunakan untuk senyawa anorganik,


organik dan biokimia yang diabsorpsi di daerah ultra lembayung atau
daerah tampak.
b) Sensitivitasnya tinggi, batas deteksi untuk mengabsorpsi pada jarak 10 -
4
sampai 10-5 M. Jarak ini dapat diperpanjang menjadi 10-6 sampai 10-
7
M dengan prosedur modifikasi yang pasti.
c) Selektivitasnya sedang sampai tinggi, jika panjang gelombang dapat
ditemukan dimana analit mengabsorpsi sendiri, persiapan pemisahan
menjadi tidak perlu.
d) Ketelitiannya baik, kesalahan relatif pada konsentrasi yang ditemui
dengan tipe spektrofotometer UV-Vis ada pada jarak dari 1% sampai

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 8


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

5%. Kesalahan tersebut dapat diperkecil hingga beberapa puluh persen


dengan perlakuan yang khusus.
e) Mudah, spektrofotometer mengukur dengan mudah dan kinerjanya
cepat dengan instrumen modern, daerah pembacaannya otomatis
(Skoog, DA, 1996).

1.2.9 Absorbansi
Absorbansi larutan akan bervariasi berdasarkan konsentrasi atau ukuran wadah.
Absorptivitas molar diperoleh dari pembagian absorbansi dengan konsentrasi dan
panjang larutan yang dilalui sinar. Hal ini artinya bahwa untuk membandingkan antara
satu senyawa dengan senyawa lainnya tanpa mengkhawatirkan pengaruh konsentrasi
dan panjang larutan. Disamping itu dalam penentuan absorbansi larutan jika suatu
larutan terlalu pekat, maka akan diperoleh absorbansi yang sangat tinggi karena ada
banyak molekul yang berinteraksi dengam sinar. Akan tetapi, dalam larutan yang
sangat encer, sangat sulit untuk melihat warnanya. Absorbansinya sangat rendah.

Pengujian pengaruh lama pemanasan terhadap absorbansi pigmen menunjukkan


bahwa pada umumnya penurunan absorbansi secara nyata terjadi setelah pemanasan
selama 30 menit. Selanjutnya penurunan absorbansi hampir sama dengan sebelumnya.
Penurunan absorbansi secara kualitatif menyatakan penurunan intensitas warna.

1.2.10 Larutan Induk

Larutan induk adalah larutan baku kimia yang dibuat dengan kadar tinggi dan
akan digunakan untuk membuat larutan baku dengan kadar lebih rendah.

1.2.11 Larutan Standar

Larutan baku/ larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya sudah


diketahui. Larutan baku biasanya berfungsi sebagai titran sehingga ditempatkan
buret, yang sekaligus berfungsi sebagai alat ukur volume larutan baku. Larutan yang
akan ditentukan konsentrasinya atau kadarnya, diukur volumenya dengan
menggunakan pipet volumetri dan ditempatkan di erlenmeyer.
a) Larutan baku primer
Larutan yang mengandung zat padat murni yang konsentrasi larutannya
diketahui secara tepat melalui metode gravimetri (perhitungan massa),

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 9


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

dapat digunakan untuk menetapkan konsentrasi larutan lain yang belum


diketahui. Nilai konsentrasi dihitung melalui perumusan sederhana, setelah
dilakukan penimbangan teliti dari zat pereaksi tersebut dan dilarutkan
dalam volume tertentu. Contoh: K2Cr2O7, As2O3, NaCl, asam oksalat, asam
benzoat.
Syarat-syarat larutan baku primer :
Zat harus mudah diperoleh, dimurnikan, dikeringkan (jika mungkin
pada suhu 110-120 derajat celcius) dan disimpan dalam keadaan
murni. (Syarat ini biasanya tak dapat dipenuhi oleh zat- zat terhidrasi
karena sukar untuk menghilangkan air-permukaan dengan lengkap
tanpa menimbulkan pernguraian parsial).
Zat harus tidak berubah berat dalam penimbangan di udara; kondisi ini
menunjukkan bahwa zat tak boleh higroskopik, tak pula dioksidasi
oleh udara atau dipengaruhi karbondioksida.
Zat tersebut dapat diuji kadar pengotornya dengan uji- uji kualitatif dan
kepekaan tertentu.
Zat tersebut sedapat mungkin mempunyai massa relatif dan massa
ekuivalen yang besar.
Zat tersebut harus mudah larut dalam pelarut yang dipilih.
Reaksi yang berlangsung dengan pereaksi harus bersifat stoikiometrik
dan langsung.
b) Larutan baku sekunder
Larutan suatu zat yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan tepat
karena berasal dari zat yang tidak pernah murni. Konsentrasi larutan ini
ditentukan dengan pembakuan menggunakan larutan baku primer,
biasanya melalui metode titrimetri. Contoh: AgNO3, KmnO4, Fe(SO4)2
Syarat-syarat larutan baku sekunder :
Derajat kemurnian lebih rendah daripada larutan baku primer
Mempunyai berat ekivalen yang tinggi untuk memperkecil kesalahan
penimbangan
Larutannya relatif stabil dalam penyimpanan.

1.2.12 Larutan Blanko


Larutan blanko adalah larutan tidak berisi analit. Larutan blanko biasanya
digunakan untuk tujuan kalibrasi sebagai larutan pembanding dalam analisis
fotometri. Larutan blanko dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu :

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 10


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

1. Kalibrasi blanko (larutan yang digunakan untuk membuat titik nol


konsentrasi darigrafik kalibrasi; larutan ini hanya berisi pengencer
digunakan untuk membuat larutan standar).
2. Reagen blanko (larutan berisi reagen yang digunakan untuk melarutkan
sampel, pembacaan absorbansi untuk larutan ini biasanya dikurangi dari
pembacaan sampel).
3. Metode blanko (larutan yang diperlakukan sama dengan sampel, ditambah
dengan reagen yang sama, mengalamai kontak dengan alat yang sama dan
diperlakukan dengan prosedur yang sama).

BAB II

METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan


Spektrofotometer UV-Visible Cary 50 Conc - Varian
Botol semprot
Bulp
Gelas kimia 100 ml
Kuvet
Labu ukur 50 ml dan100 ml
Pipet tetes
Pipet volume 1 ml dan 5 ml
Bahan yang digunakan
Aquadest
Larutan HCl 1 M
Larutan Hidroksilamin
Reagen O-phenantroline
Larutan buffer asetat

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 11


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

Sampel air
Larutan induk Fe2+

2.2 Prosedur Percobaan

Pembuatan Larutan Fe2+ 10 ppm


Memipet 10 ml larutan induk Fe2+100 ppm ke dalam labu ukur 100 mL.
Menambahkan aquadest hingga tanda batas, lalu mengocoknya sampai larutan
menjadi homogen.
Pembuatan Larutan Standar Fe2+ (0,1 ppm; 0,3 ppm; 0,5 ppm; 0,7 ppm; dan 0,9 ppm)
Mengambil masing-masing 1 mL, 3 mL, 5 mL, 7 mL, dan 9 mL larutan Fe 2+
10 ppm ke dalam labu ukur 100 mL.
Menambahkan masing-masing 5 mL larutan Hidroksolamin.
Kemudian menambahkan masing-masing 1 mL larutan HCl.
Menambahkan masing-masing 5 mL larutan buffer asetat dan 5 mL O-
phenantroline.
Menambahkan aquadest hingga tanda batas, lalu mengocoknya sampai larutan
menjadi homogen.
Memindahkan larutan ke dalam gelas kimia.
Pembuatan Larutan Sampel
Mempipet 25 mL air sampel dan memasukkan kedalam labu ukur 100 mL
Menambahkan 5 mL larutan Hidroksolamin.
Kemudian menambahkan 1 mL larutan HCl.
Menambahkan 5 mL larutan buffer asetat dan 5 mL O-phenantroline.
Menambahkan aquadest hingga tanda batas, lalu mengocoknya sampai larutan
menjadi homogen.
Memindahkan larutan ke dalam gelas kimia.

Membuat Larutan Blanko


Mempipet 5 mL larutan Hidroksolamin kedalam labu ukur 100 mL.
Kemudian menambahkan 1 mL larutan HCl.
Menambahkan 5 mL larutan buffer asetat dan 5 mL O-phenantroline.
Menambahkan aquadest hingga tanda batas, lalu mengocoknya sampai larutan
menjadi homogen.
Memindahkan larutan ke dalam gelas kimia.
Penentuan maksimum menggunakan larutan asam dan larutan basa
1. Menghubungkan alat UV-Visible Cary 50 Conc-Varian dan komputer ke sumber
listrik serta memastikan sistem dan alat menyala dan self test selesai.
2. Mengklik icon Scan pada desktop sehingga tampil window scan.

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 12


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

3. Mengklik set up hingga tampil window set up dan melakukan pengukuran


parameter.
o Cary instrument mode
o X mode
Start : 600 nm
Stop : 400 nm

o Y mode
Mode : absorbansi
Y min / X maks : skala absorbansi
o Scan control
o Display option : overlay data
o Beam mode : dual beam
o Baseline
o Correction : none
o Report
o Name : kelompok 34 D4 2013
o Include x-y
o Peak table : all peaks
maksimum peaks
o Auto store
o Storage : storage on
4. Mengklik ok.
5. Memasukkan kuvet yang berisi larutan blanko ke dalam alat uv vis dan
menutupnya.
6. Menekan tombol zero lalu menunggu sampai muncul angka 0,000 A
(Absorbansi) pada display dan = 510 nm.
7. Mengeluarkan kuvet yang berisi larutan blanko lalu mengganti dengan larutan
stndar. (sebelum memasukan larutan standar, sebaiknya kuvet dibilas dengan
aquadest dan sedikit larutan standar)
8. Memasukkan kedalam alat uv visible dan menutupnya lalu mengklik Start.
9. Muncul kotak save as, lalu memilih file name dan mengklik ok.

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 13


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

10. Mengklik finish, akan muncul grafik dan data maksimal


11. Mengklik print, kemudian mengklik exit
Penentuan Absorbansi Larutan Standar Asam, Basa, dan Buffer
1. Mengklik icon Cocentration pada desktop computer.
2. Memastikan cary 50 conc-varian aktif.
3. Membuka set up kemudian mengklik carry dan mengganti maksimum yang
diperoleh sebelumnya melalui scan ( = 510 nm).
4. Mengklik standard dan memasukkan satuan dan jumlah standar.
5. Mengisi data minimal R2=0,95
6. Mengklik sampel, kemudian mengisi nama sampel yang akan dianalisa.
7. Mengklik report ( kel 2 D4_concentration)
8. Mengklik Ok.
9. Mengklik setup hingga berubah satuan (mg/L).
10. Mengklik Ok.
11. Memasukkan kuvet yang berisi larutan blanko, kemudian menutup alat UV-VIS.
12. Mengklik zero hingga absorbansi menunjukkan nilai = 0,0000
13. Mengklik start, kemudian memindahkan data larutan standard an larutan sampel
dari kotak kanan ke kotak kiri.
14. Mengklik Ok.
15. Mengklik nama file. Muncul kotak dialog present standar.
16. Memasukkan kuvet yang berisi larutan sampel kemudian menutup alat UV VIS.
17. Mengklik start.
18. Mengklik finish, akan muncul kurva standar antara absorbansi melawan
konsentrasi dan data nilai konsentrasi larutan sampel.
19. Mengklik print, kemudian mengklik exit

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 14


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Data Pengamatan
3.1.1 Pengukuran Absorbansi larutan standar pada max = 505 nm.
Tabel 1. Konsentrasi Dan Absorbansi Larutan Standar

NO Larutan Konsentrasi (mg/L) Absorbansi Persamaan Regresi


Linear
1 Standar 1 0,1 -0,0015

2 Standar 2 0,3 0,0479


3 Standar 3 0,5 0,0708 y = 0,19084x 0,01698

4 Standar 4 0,7 0,1235


R2 = 0,98729
5 Standar 5 0,9 0,1515

3.1.2 Pengukuran Sampel Air


Tabel 2. Kadar Fe2+ Dalam Sampel

N Sampel Air Absorbansi Konsentrasi Larutan Fp Kadar Fe2+ Dalam


O Sampel (mg/L) Sampel (mg/L)
1 Sumur Teluk Lerong 0,0931 0,6 4 2,4
2 Sumur Nia 0,0076 0,1 4 0,4
3 Air Danau 0,0656 0,4 4 1,6

3.2 Pembahasan
Pada praktikum UV-VIS II bertujuan untuk memahami prinsip analisa dengan
menggunakan UV-VIS, mampu mengoperasikan alat UV-VIS II, mampu mempersiapkan
sampel dengan cermat dan menentukan kadar Fe2+ dalam sampel air.
Prinsip analisa UV-VIS adalah penyerapan cahaya oleh molekul. Spektrofotometer
UV-VIS merupakan alat dengan teknik spektrofotometer pada daerah ultra violet dan
sinar tampak. Alat ini digunakan guna mengukur serapan sinar ultra violet atau sinar
tampak oleh suatu material dalam bentuk larutan. Larutan standard an sampel dibuat
dengan cara pengenceran. Pengenceran yang dilakukan harus cermat karena pengenceran
yang kurang tepat akan menghasilkan nilai absorbansi yang kurang tepat pula.
Pada alat UV-VIS II terdapat 2 aplikasi yang digunakan untuk mengoperasikan alat,
yaitu scan dan concentration. Aplikasi scan intuk mencari maks dan aplikasi concentration
untuk menghitung absorbansi standar sehingga mendapatkan kurva standar.

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 15


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

Panjang gelombang maksimum yang diperoleh sebesar 505 nm dengan absorbansi


0,197. untuk mencari absorbansi pada larutan blanko (zero), larutan yang digunakan
adalah larutan standar yang paling pekat. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan peak
tertinggi yang dibaca oleh detector. Alat detector akan membaca dan menghasilkan nilai
absorbansi pada larutan blanko, larutan standar dan larutan sampel. Pada larutan standar
dengan konsentrasi 0,1; 0,3; 0,5; 0,7 dan 0,9 ppm didapat hasil absorbansinya sebesar
-0.0015; 0.047; 0.0708; 0.1235; dan 0,1515; dari data tersebut dapat dilihat bahwa
semakin besar konsentrasi larutan standar maka semakin besar pula nilai absorbansinya.
Selanjutnya dilakukan pengukuran absorbansi pada sampel air dengan = 505 nm,
nilai absorbansi yang diperoleh sebagai berikut:
1. Air sumur Teluk Lerong = 0,0931
2. Air sumur Nia = 0,0076
3. Air danau = 0,0656

Semakin pekat warna suatu larutan maka semakin banyak cahaya yang diserap
larutan. Dari data kemudian dibuat kurva kalibrasi standar dengan persamaan y =
0,19084x 0,01698, persamaan ini digunakan untuk menghitung kadar besi dalam
sampel. Kadar besi yang diperoleh dalam masing-masing sampel sebagai berikut:

1. Air sumur Teluk Lerong = 2,4 mg/L


2. Air sumur Nia = 0,4 mg/L
3. Air danau = 1,6 mg/L

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Kadar besi yang diperoleh dalam masing-masing sampel adalah sebagai berikut:

1. Air sumur Teluk Lerong = 2,4 mg/L


2. Air sumur Nia = 0,4 mg/L
3. Air danau = 1,6 mg/L

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 16


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Nilai Permanganat. http://analiskesehatan18.blogspot.com/2012/04/nilai-


permanganat.html. Diakses tanggal: 2 Januari 2014.
Anonim. 2011. Larutan Baku. http://artikelteknikkimia.blogspot.com/2011/12/larutan-baku-
larutan-standar.html. Diakses tanggal: 2 Januari 2014.
Anonim. 2010. Larutan Blanko. http://monruw.wordpress.com/tag/larutan-blanko. Diakses
tanggal: 2 Januari 2014.

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 17


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

Anonim. 2013. Penetapan Kadar CoCl2 Dengan UV VIS Spektrometri. http://ung-


himka.blogspot.com/2013/06/penetapan-kadar-CoCl2-dengan-UV-VIS-spektrometri.html.
Diakses tanggal: 27 Desember 2013.
Anonim. 2012. Laporan Praktikum Spektrofotometri.
http://kumalasarievhy.wordpress.com/2012/12/17/laporan-praktikum-spektrofotometri.
Diakses tanggal: 27 Desember 2013.
Anonim. 2013. Spektrometer UV-Vis.
http://biosmlabindustri.blogspot.com/2013/01/spektrofotometer-uv-vis.html. Diakses
tanggal: 27 Desember 2013.
Anonim. 2013. Spektrometri UV-Vis.
http://lilisusantibae.blogspot.com/2013/04/spektrofotometri-uv-vis.html. Diakses tanggal:
27 Desember 2013.
Anonim. 2011. Pengertian Dasar Spektrofotometer Vis UV Dan UV-Vis.
http://wanibesak.wordpress.com/2011/07/04/pengertian-dasar-spektrofotometer-vis-uv-
uv-vis. Diakses tanggal: 27 Desember 2013.
Anonim. 2010. Tipe Dan Analisis Spektrofotometri UV-Vis.
http://catatankimia.com/catatan/tipe-dan-analisis-spektrofotometri-uv-vis.html. Diakses
tanggal: 27 Desember 2013.
Anonim. 2013. Spektrofotometri UV-Vis.
http://wocono.wordpress.com/2013/03/04/spektrofotometri-uv-vis. Diakses tanggal: 27
Desember 2013.
Tim Laboratorium Kimia Dasar. 2013. Penuntun Praktikum Kimia Analisa Instrumen.
Samarinda: Politeknik Negeri Samarinda.

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 18


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

LAMPIRAN

PERHITUNGAN

Pengenceran Larutan Induk Fe 10 ppm


m1.V1=m2.V2
100.V1=10.V2
V2=1 mL

Pengenceran Larutan Standar


0,1 ppm

m1.V1=m2.V2
0,1.100 =10.V2
V2=1 mL
0,3 ppm

m1.V1=m2.V2
0,3.100 =10.V2
V2=3 mL
0,5 ppm

m1.V1=m2.V2
0,5.100 =10.V2

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 19


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISIBLE II

V2=5 mL
0,7 ppm

m1.V1=m2.V2
0,7.100 =10.V2
V2=7 mL
0,9 ppm

m1.V1=m2.V2
0,1.100 =10.V2
V2=9 mL
Perhitungan Kadar Fe2+
a. Konsentrasin Sumur Teluk Lerong
[Fe2+]=Konsentrasi sampel x fp
=0,6 x 4=2,4 mg/L

b. Konsentrasin Sumur Nia


[Fe2+]=Konsentrasi sampel x fp
=0,1 x 4=0,4 mg/L

c. Konsentrasin Air Danau


[Fe2+]=Konsentrasi sampel x fp
=0,4 x 4=1,6 mg/L

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 20