Anda di halaman 1dari 8

Makalah tentang

penyakit
Pneumotorik

Disusun oleh :

Nurul Dwi Meihardi (Prodi Keperawatan)

AKADEMI KESEHATAN
RAJEKWESI BOJONEGORO
TAHUN AKADEMIK 2015/2016
Kata pengantar
Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat


dan hidayahnya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas dalam hal
menyusun makalah tentang penyakit pneumotorik. Penyusun telah
berusaha semaksimal mungkin dan sebaik mungkin untuk menyelesaikan
makalah ini.

Penyusun mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada


dosen pembimbing yang telah membimbing dalam menyelesaikan
makalah ini.Serta kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini

Makalah ini telah di buat semaksimal mungkin dan akan tetapi tidak
dipungkiri oleh penyusun terdapat kesalahan-kesalahan yang tidak
disadari oleh penyusun, dan mungkin makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penyusun mohon maaf atas kesalahan yang
tidak disengaja, dan semoga makalah ini berguna dan bermanfaat untuk
kita semua dalam memahami dan mempelajarinya.

Wassalamualaikum Wr.Wb

16 Agustus 2015

Penyusun
Daftar isi

1. Latar Belakang
2. Rumusan masalah
3. Tujuan
4. Klasifikasi
5. Tipe
6. Penyebab
7. Gejala
8. Diagnosa
9. Pengobatan
LATAR BELAKANG

Pneumotoraks adalah keadaan terdapatnya udara atau gas lain


dalam kantung pleura. Kelainan ini dapat terjadi pada dewasa muda yang
sehat. Pneumotoraks sekunder terjadi ruptur semua lesi paru yang
terletak dekat permukaan pleura sehingga udara inspirasi memperoleh
akses ke rongga pleura. Lesi pleura ini dapat terjadi pada emfisema,
abses paru, tubercolosis, carsinoma, dan banyak proses lainnya. (Robbins,
2007) Insiden pneumotoraks sulit diketahui karena episodenya banyak
yang tidak diketahui, pria lebih banyak dari pada wanita dengan
perbandingan 5:1. Sebuah studi yang dilakukan dari 1959-1978 yang
melibatkan masyarakat AS dengan rata-rata dari 60.000 warga
melaporkan kejadian pneumotoraks spontan primer sebesar 7,4 kasus
per 100.000 orang per tahun untuk pria dan wanita

Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan pneumotoraks?
TUJUAN
- Agar mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada
pasien pneumotoraks

- Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan pneumotoraks

- Mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien dengan


pneumotoraks

- Mampu membuat intervensi pasien dengan pneumotoraks

- Mampu melakukan implementasi pasien dengan pneumotoraks

- Mampu melakukan evaluasi pasien dengan pneumotoraks


KLASIFIKASI
A. Traumatik
1) Pnemothoraks terbuka
Luka tembus merupakan penyebab utama dari pneumothoraks traumatik.
Ketika udara masuk kedalam rongga pleura yang dalam keadaan normal.
Tekanan lebih rendah dari tekanan atmosfir, paru akan kolaps sampai
pada batas tertentu. Akan tetapi jika terbentuk saluran terbuka, maka
kolaps masih akan terjadi sampai tekanan dalam rongga pleura sama
dengan tekanan atmosfir.

2) Pneumothoraks tertutup
Dimana terjadi cacat yang menyebabkan terbentuknya hubungan antara
rongga pleura dan atmosfir menutup dengan sendirinya.

3) Pneumothoraks tekanan
Terjadi jika hubungan itu tetap terbuka selama inspirasi dan menutup
selama ekspirasi, banyak udara akan tertimbun dalam rongga pleura;
sehingga tekanannya akan melebihi tekanan atmosfir, akibatnya akan
terjadi kolaps total.

B. Spontan
Pnemothoraks spontan adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan suatu pneumothoraks yang terjadi secara tiba-tiba dan
tak terduga dengan atau tidak adanya penyakit paru yang mendasarinya.
Penyakit paru yang biasa mengakibatkan pneumothoraks sekunder
spontan emfisema, pneumonia, neo plasma, dan PPOM (penyakit paru
obstruktif menahun). Pneumothoraks spontan juga dapat terjadi pada usia
muda yang terlihat bahwa orang tersebut kelihatan sehat, biasanya usia
antara 20 30 tahun, dan disebut pneumothoraks spontan ideopatik atau
primer. Biasanya penyebabnya adalah pecahnya bleb subpleura pada
permukaan paru. Penyebab terbentuknya bleb pada orang yang sehat
belum diketahui secara pasti namun terkadang dilaporkan adanya
predisposisi familial.
Tipe
Spontaneous pneumothorax, disebut primary pneumothorax, terjadi
pada riwayat penyakit paru yang yang mendasari sebelumnya. Secondary
pneumothorax terjadi sebagai akibat dari kondisi atau kejadian yang
mendasarinya misalnya disebabkan benturan dada yang keras.

Penyebab
Spontaneous pneumothorax disebabkan oleh pecahnya kista atau
kantong kecil (bleb) pada permukaan paru. Pneumotoraks mungkin juga
terjadi setelah luka pada dinding dada seperti tulang rusuk yang patah,
luka yang menembus apa saja (tembakan senapan atau tusukan), invasi
operasi dari dada, atau yang diinduksi dengan bebas dalam rangka untuk
mengempiskan paru. Pneumotoraks dapat juga berkembang sebagai
akibat dari penyakit-penyakit paru yang mendasarinya, termasuk cystic
fibrosis, chronic obstructive pulmonary disease, kanker paru, asma, dan
infeksi-infeksi dari paru-paru.

Gejala
Gejala-gejala dari pneumotoraks termasuk nyeri dada yang
biasanya mempunyai suatu pencetusan yang tiba-tiba. Rasa nyeri yang
menusuk dan rasa sesak yang luar biasa di dada. Napas yang pendek,
denyut jantung yang cepat, napas yang cepat, batuk, dan kelelahan
adalah gejala-gejala lain dari pneumotoraks. Pada kasus tertentu kulit
mungkin tampak warna kebiruan (diistilahkan: cyanosis) yang disebabkan
oleh kurangnya pasokan oksigen di dalam darah.

Diagnosis
Pemeriksaan dada dengan sebuah stetoskop mengungkapkan
suara-suara pernapasan yang berkurang atau tidak hadir diatas paru yang
terpengaruh. Diagnosis yang lebih akurat dapat dilakukan dengan
penyinaran sinar-X dada.

Pengobatan
Mengobati pneumotoraks yang kecil tanpa penyakit paru yang
mendasarinya mungkin hilang degan sendirinya dalam waktu satu sampai
dua minggu. Namun, Pneumotoraks yang lebih besar dan pneumotoraks
yang berhubungan dengan penyakit paru yang mendasarinya seringkali
memerlukan tindakan medis berupa aspiration (penyedotan) udara bebas
yang terjebak di rongga pleural ke suatu tabung. Kemungkinan
komplikasi-komplikasi yang dilaporkan adalah nyeri, infeksi dari ruang
antara paru dan dinding dada ruang pleural, hemorrhage perdarahan,
penumpukan cairan di paru, dan tekanan darah rendah hypotension. Pada
beberapa kasus-kasus, kebocoran tidak menutup dengan sendirinya dan
mungkin memerlukan operasi dada untuk memperbaiki lubang di paru.