Anda di halaman 1dari 29

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta Hikmat dan
Berkat yang telah diberikan olehNya, sehingga oleh karenaNyalah kami dapat
menyelesaikan tugas kuliah ini dengan baik dan tepat waktu.

Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan proposal ini adalah untuk memenuhi salah
satu tugas harian yang diberikan oleh Ibu Sustinah Limarjani, SE., M.Hum., selaku Dosen
Mata Kuliah HukumBisnis Fakutas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat.

Adapun dalam proses penyusunan tugas ini, kami menjumpai banyak sekali halang
rintang yang harus dilalui, namun berkat dukungan materiil maupun moril dari orang-orang
terdekat kami, akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik, oleh karena itu
melalui kesempatan ini kami bertiga menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-
tingginya kepada semua orang-orang terdekat kami yang telah mendukung dan membantu
dalam penyelesaian tugas ini.

Segala sesuatu yang salah datangnya hanya dari manusia dan seluruh hal yang benar
datangnya hanya dari Tuhan Yang Maha Esa. Adapun tugas ini dapat selesai juga karena
segala berkat dan hikmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Meski begitu mungkin tugas ini masih
jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang membangun dari semua
pihak sangat kami harapkan demi bisa kami terapkan dan perbaikan pada tugas selanjutnya.
Harapan kami semoga tugas ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami dan para pembaca
makalah ini sebagai referensi pembelajaran mengenai lembaga pembiayaan modal ventura.

Banjarmasin, 9 Mei 2017

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia dalam mempertahankan hidupnya melakukan berbagai macam cara, salah
satunya adalah melakukan kegiatan atau aktivitas bisnis. Melalui kegiatan itu manusia
dapat memenuhi tuntutan hidupnya yang semakin hari semakin komplek. Setiap hari
manusia bekerja demi mempertahankan hidupnya.
Aktivitas bisnis itu sendiri diwarnai oleh berbagai bentuk hubungan bisnis atau
kerjasama bisnis yang melibatkan para pelaku bisnis. Hubungan bisnis atau kerjasama
bisnis yang terjadi sangat beraneka ragam tergantung pada bidang bisnis apa yang
sedang dijalankan. Dengan semakin berkembangnya aktivitas bisnis sekarang ini
maka keperluan akan modal atau dana bagi pelaku usaha juga semakin meningkat.
Oleh karena itu, sarana penyediaan dana yang dibutuhkan oleh pelaku usaha atau
masyarakat perlu diperluas. Umumnya dana yang dibutuhkan tersebut dapat
disediakan oleh lembaga perbankan melalui fasilitas kredit.
Namun, fasilitas kredit dari perbankan sangat terbatas dan tidak semua pelaku usaha
punya akses untuk mendapatkan bantuan pendanaan dari bank. Upaya lain tersebut
dapat dilakukan melalui suatu jenis badan usaha yaitu melalui Lembaga Pembiayaan.
Salah satu dari jenis lembaga pembiayaan ini ialah Modal Ventura (Venture Capital).
Modal ventura merupakan suatu investasi dalam bentuk pembiayaan berupa
penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan swasta sebagai pasangan usaha
(investee company) untuk jangka waktu tertentu. Pada umumnya investasi ini
dilakukan dalam bentuk penyerahan modal secara tunai yang ditukar dengan sejumlah
saham pada perusahaan pasangan usaha. Investasi modal ventura ini biasanya
memiliki suatu risiko yang tinggi namun memberikan imbal hasil yang tinggi pula.
Dalam dunia ekonomi, modal ventura ini sangat penting dalam membantu banyak
perusahaan guna mengembangkan usahanya agar dapat menjadi lebih berkembang.
Penyertaan modal yang dilakukan oleh modal ventura ini kebanyakan dilakukan
terhadap perusahaan-perusahaan baru berdiri sehingga belum memilkii suatu riwayat
operasionil yang dapat menjadi catatan guna memperoleh suatu pinjaman. Sebagai
bentuk kewirausahaan, pemilik modal ventura biasanya memiliki hak suara sebagai
penentu arah kebijakan perusahaan sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan lembaga pembiayaan?
2. Apa dasar hukum dari sebuah lembaga pembiayaan?
3. Apa yang dimaksud dengan Modal Ventura?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Sebagai bahan penunjang dalam proses diskusi kelompok pada mata kuliah
Hukum Bisnis.
2. Sebagai salah satu sumber untuk memahami lebih dalam mengenai lembaga
pembiayaan, khususnya modal ventura dan perannya dalam kehidupan
ekonomi.
3. Menambah pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai
modal ventura sebagai topik yang tengah dibahas dalam makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Lembaga Pembiayaan


Menurut kepres No.61 TAHUN 1988 dijelaskan bahwa lembaga pembiayaan adalah
badan usaha yang dilakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana
atau modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat.

Dari pengertian tersebut di atas terdapat beberapa unsur-unsur :


1. Badan usaha, yaitu perusahaan pembiayaan yang khusus didirikan untuk
melakukan kegiatan yang termasuk dalam bidang usaha lembaga pembiayaan.
2. Kegiatan pembiayaan, yaitu melakukan kegiatan atau aktivitas dengan cara
membiayai pada pihak-pihak atau sektor usaha yang membutuhkan.
3. Penyediaan dana, yaitu perbuatan menyediakan dana untuk suatu keperluan.
4. Barang modal, yaitu barang yang dipakai untuk menghasilkan sesuatu.
5. Tidak menarik dana secara langsung.
6. Masyarakat, Yaitu sejumlah orang yang hidup bersama di suatu tempat.
Selain itu juga Menurut Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 Tentang Lembaga
Pembiayaan, Lembaga Pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan
pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal.

B. Peranan Lembaga Pembiayaan


Lembaga pembiayaan mempunyai peranan yang lebih penting, yaitu sebagi salah satu
lembaga sumber pembiayaan alternatif yang potensial untuk menunjang pertumbuhan
perekonomian nasional disamping peran tersebut diatas, lembaga pembiayaan juga
mempunyai peran penting dalam hal pembangunan yaitu menampung dan
menyalurkan aspirasi dan minat masyarakat, berperan aktif dalam pembangunan
dimana lembaga pembiayaan ini diharapkan masyarakat atau pelaku usaha dapat
mengatasi salah satu faktor yang umum dialami yaitu faktor permodalan.

C. Perbedaan Lembaga Pembiayaan dan Lembaga Perbankan


No. Lembaga Pembiayaan Lembaga Perbankan
Dalam pelaksanaan kegiatannya
1. tidak memungut dana dari Dana bersumber dari masyarakat.
masyarakat.
Menyediakan dana atau barang
2. Hanya menyediakan modal finansial.
modal.
Kadang kala tidak memerlukan
3. Selalu disertai dengan jaminan.
jaminan.
Biasanya memberikan tingkat Memberikan tingkat suku bunga yang lebih
4.
suku bunga yang lebih tinggi. rendah.
Tidak dapat menciptakan uang
5. Dapat menciptakan uang giral.
giral.
Pengaturan, perizinan, pembinaan dan
Pengaturan, perizinan, pembinaan pengawasan dilakukan oleh Bank Indonesia
6. dan pengawasan dilakukan oleh (UU No. 10 Tahun 1998), selanjutnya
departemen keuangan. dialihkan kepada lembaga pengawas jasa
keuangan sesuai UU No. 23 Tahun 1999.

D. Jenis-Jenis Lembaga Pembiayaan


Lembaga pembiayaan di Indonesia pada khususnya, memiliki beberapa jenis lembaga
pembiayaan yang melayani masyarakat dalam hal permodalan untuk pendirian
usahanya. Diantaranya :
a. Sewa Guna Usaha (Leasing)
Istilah lain dari Sewa Guna Usaha yaitu leasing, dimana leasing itu berasal
dari kata lease (inggris) yang berarti menyewakan. Menurut Keputusan
Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 1169/KMK.01/1991 tentang
Kegiatan Sewa Guna Usaha (Leasing), leasing adalah kegiatan pembiayaan
dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan
hak opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating
lease) untuk digunakan oleh Lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkan
pembayaran secara berkala. Sedangkan Barang modal adalah setiap aktiva
tetap berwujud, termasuk tanah sepanjang di atas tanah tersebut melekat aktiva
tetap berupa bangunan (plant), dan tanah serta aktiva dimaksud merupakan
satu kesatuan kepemilikan, yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu)
tahun dan digunakan secara langsung untuk menghasilkan atau meningkatkan,
atau memperlancar produksi dan distribusi barang atau jasa oleh Lessee.
Barang modal pada hal ini berdasarkan pada pasal 11 UU PPh Nomor 36
Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.
Unsur-unsur berdasarkan pengertian Leasing di atas, terdiri dari beberapa
elemen di bawah ini, yaitu :
1. Pembiayaan perusahaan
Pembiayaan ini tidak dilakukan dalam bentuk sejumlah dana tetapi
juga dalam bentuk peralatan atau barang modal yang akan digunakan
2. Penyediaan barang-barang modal
Biasanya penyediaan barang modal dilakukan oleh supplier yang di
bayar oleh lessor untuk keperluan lessee
3. Jangka waktu tertentu
Jangka waktunya sejak diterimanya barang modal sampai perjanjian
sewa guna usaha berakhir
4. Pembayaran secara berkala
5. Lessee membayar harga barang modal kepada lessor secara angsuran
6. Adanya hak pilih (option right)
7. Pada akhir masa leasing, lessee mempunyai hak untuk membeli barang
modal tersebut
8. Adanya nilai sisa yang disepakati bersama
Nilai barang modal pada akhir sewa sewa guna usaha yang telah
disepakati oleh lessor dengan lessee pada awal masa sewa guna usaha
9. Adanya pihak lessor (Perusahaan Pembiayaan yang memberikan jasa
sewa guna barang modal)
10. Adanya pihak lessee (Masyarakat yang menyewa jasa sewa guna
barang modal)
Adapun dasar hukum dari Sewa Gunal Modal terdapat dalam Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 1169/KMK.01/1991 tentang Kegiatan Sewa
Guna Usaha (Leasing). Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan, 27 Nopember 1991 dan mempunyai daya laku surut terhitung
sejak tanggal 19 Januari 1991. Dengan berlakunya Keputusan Menteri
Keuangan ini, Keputusan Menteri Keuangan Nomor 48/KMK.013/1991
tentang Kegiatan Sewa-guna-usaha, dinyatakan tidak berlaku.
Jenis Jenis Sewa Guna Usaha, yaitu :
a. Sewa Guna Usaha dengan hak opsi (finance lease)
Dengan kriteria sebagai berikut :
a. jumlah pembayaran Sewa Guna Usaha selama masa sewa guna
usaha pertama ditambah dengan nilai sisa barang modal, harus
dapat menutup harga perolehan barang modal dan keuntungan
lessor.
b. Masa Sewa Guna Usaha (SGU) ditentukan sesuai ketentuan
tentang pajak penghasilan, yaitu:
2 tahun untuk barang modal golongan I
3 tahun untuk barang modal golongan II dan III
7 tahun untuk barang modal golongan modal bangunan
c. perjanjian sewa guna usaha memuat ketentuan mengenai opsi
bagi lessee.
Bentuk-bentuk finance Lease, yaitu :
1) Sewa-guna-usaha Langsung (Direct Lease).
Dalam transaksi ini lessee belum pernah memiliki barang modal
yang menjadi obyek sewa-guna-usaha, sehingga atas
permintaannya lessor membeli barang modal tersebut.
2) Penjualan dan Penyewaan Kembali (Sale and Lease Back).
Dalam transaksi ini lessee terlebih dahulu menjual barang modal
yang sudah dimilikinya kepada lessor dan atas barang modal yang
sama kemudian dilakukan kontrak sewa-guna-usaha antara lessee
(pemilik semula) dengan lessor (pembeli barang modal tersebut).
Lessee dalam hal ini berperan sebagai pihak yang menjual barang
untuk digunakan selama masa lease yang disetujui kedua pihak.
Metode leasing ini dimaksudkan untuk memperoleh tambahan dana
untuk modal kerja. Jadi transaksi leasing di sini bersifat
refinancing.
3) Sewa-Guna-Usaha Sindikasi (Syndicated Lease)
Beberapa perusahaan sewa-guna-usaha secara bersama melakukan
transaksi sewa-guna-usaha dengan satu lessee. Syndicated lease
terjadi apabila lessor karena alasan-alasan risiko tidak bersedia,
atau karena alasan tidak memiliki kemampuan pendanaan untuk
menutup sendiri suatu transaksi leasing yang nilainya cukup besar
yang dibutuhkan oleh lessee. Untuk memenuhi permintaan atau
kebutuhan lessee tersebut, maka beberapa perusahaan leasing
melakukan perjanjian kerja sama untuk membiayai objek leasing
yang dimaksud. Dalam hal ini salah satu perusahaan sewa-guna-
usaha akan bertindak sebagai koordinator, sehingga lessee cukup
berkomunikasi dengan koordinator ini.
4) Leverage Lease
Pada leasing ini dilibatkan pihak ketiga yang disebut credit
provider. Lessor tidak membiayai objek leasing hingga sebesar
100% dari harga barang melainkan hanya antara 20% hingga 40%.
Kemudian sisa dari harga barang tersebut akan dibiayai oleh credit
provider.
5) Cross Border Lease
Transaksi leasing yang dilakukan di luar batas suatu negara, di
mana lessor berkedudukan di negara berbeda dengan negara lessee.
Jenis transaksi leasing ini kadang-kadang disebut pula sebagai
leasing lintas negara atau transaksi leasing internasional karena
transaksi yang dilakukan melibatkan dua negara yang berbeda.
Metode pembiayaan ini merupakan hal yang kompleks dan bersifat
khusus. Transaksi leasing ini mengandung banyak risiko bagi
lessor karena bagaimanapun juga akan melibatkan mekanisme
hukum, perpajakan dan masalah-masalah lainnya dari masing-
masing negara yang bersangkutan. Untuk mengatasi kendala-
kendala tersebut biasanya transaksi leasing antara negara dilakukan
oleh afiliasinya atau subsidiary perusahaan leasing yang
bersangkutan. Namun untuk mempermudah pelaksanaan transaksi
tersebut banyak transaksi leasing internasional tidak dilakukan
sebagaimana mekanisme leasing yang sebenarnya. Transaks
leasing biasanya dilakukan dengan cara perjanjian penjualan
bersyarat yaitu pihak lessee diwajibkan membeli barang yang di-
lease-nya pada akhir kontrak. Cara ini pada dasarnya hanya untuk
melindungi lessor dari kompleksitas peraturan dan ketentuan-
ketentuan negara asing.
6) Vendor Program / Vendor Lease
Suatu metode penjualan yang dilakukan oleh produsen atau dealer
di mana perusahaan leasing memberikan atau menyediakan
fasilitas leasing kepada pembeli barang. Dalam mekanisme
transaksi vendor program ini, lessor membayar kepada vendor
sesuai dengan harga barang yang dipilih atau ditentukan oleh
pembeli (lessee), selanjutnya pembayaran sewa atau angsuran oleh
lessee dapat dilakukan langsung kepada lessor, atau dapat
dibayarkan melalui vendor yang bersangkutan. Cara pembayaran
tersebut dapat dilakukan sesuai perjanjian. Vendor program ini
sangat menarik bagi lessor karena pemasaran leasing dilakukan
oleh vendor melalui usaha penjualan barangnya yang sekaligus
disertai dengan fasilitas leasing. Penagihan uang sewa atau
angsuran merupakan kewajiban vendor yang juga berperan sebagai
jaminan. Dalam hal pihak lessee tidak dapat memenuhi
kewajibannya sesuai dengan kontrak atau default, pihak vendor
akan membayar penuh sesuai dengan sisa angsuran lessee.

b. sewa-guna-usaha tanpa hak opsi (operating lease)


Dengan Kriteria sebagai berikut :
a. jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha pertama tidak
dapat menutupi harga perolehan barang modal yang disewa guna usahakan ditambah
keuntungan yang diperhitungkan oleh lessor.
b. perjanjian sewa guna usaha tidak memuat ketentuan mengenai opsi bagi lessee.

Setiap transaksi Sewa Guna Usaha wajib diikat dalam suatu perjanjian Sewa
Guna Usaha (lease agreement). Perjanjian ini sekurang-kurangnya memuat
hal-hal sebagai berikut :
a. jenis transaksi sewa guna usaha
b. nama dan alamat masing-masing pihak
c. nama, jenis, type dan lokasi penggunaan barang modal
d. harga perolehan, nilai pembiayaan, pembayaran sewa guna usaha, angsuran
pokok pembiayaan, imbalan jasa sewa guna usaha, nilai sisa, simpanan
jaminan, dan ketentuan asuransi atas barang modal yang disewa-guna-
usahakan
e. masa sewa guna usaha
f. ketentuan mengenai pengakhiran transaksi sewa guna usaha yang dipercepat,
dan penetapan kerugian yang harus ditanggung lessee dalam hal barang modal
yang disewa-guna-usaha dengan hak opsi hilang, rusak atau tidak berfungsi
karena sebab apapun
g. opsi bagi penyewa-guna-usaha dalam hal transaksi sewa-guna-usaha dengan
hak opsi
h. tanggung jawab para pihak atas barang modal yang disewa-guna-usaha.

Sistem leasing memberikan peluang bagi pengusaha sebagai alternatif


pembiayaan diluar sistem perbankan dengan beberapa keunggulan sebagai
berikut:
1. Proses pengadaan peralatan modal relatif lebih cepat dan tidak memerlukan
jaminan kebendaan, prosedur sederhana dan tidak ada studi kelayakan yang
lama
2. Pengadaan kebutuhan tersebut akan meringankan kebutuhan cash flow
perusahaan mengingat sistem pembayaran cicilan jangka panjang
3. Posisi cash flow akan lebih baik dan biaya-biaya modal akan lebih murah
4. Perencanaan keuangan perusahaan akan lebih mudah dan sederhana.

c. Anjak Piutang (Factoring)


Factoring atau Anjak Piutang menurut Perpres No. 9 Tahun 2009 adalah Anjak
kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian piutang dagang jangka pendek
suatu Perusahaan berikut pengurusan atas piutang tersebut. Kemudian
pengertian anjak piutang menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor
125/KM.013/1988 tanggal 20 Desember 1988 adalah badan usaha yang
melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian dan atau
pengalihan serta pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek suatu
perusahaan dari transaksi perdagangan dalam dan luar negeri.
Dari definisi diatas, setidaknya dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Dalam kegiatan factoring ada tiga pihak yang terkait, yaitu:
Perusahaan Factoring (factoring company), atau disebut dengan
factor sebagai suatu badan usaha yang melakukan kegiatan
lembaga pembiayaan dengan bentuk pembelian dan/atau
pengalihan serta pengurusan piutang atau tagihan jangka
pendek perusahaan;
Perusahaan penjual piutang atau disebut klien (client), adalah
perusahaan yang menjual atau mengalihkan piutang atau
tagihannya kepada factor;
Nasabah (customer), sebagai pihak yang berutang (debitur)
kepada klien, dan piutang tersebut oleh klien dijual atau
dialihkan kepada factoring. Istilah klien (client) dan nasabah
(customer) dalam mekanisme anjak piutang memiliki
pengertian yang sangat berbeda. Lain halnya dengan bank yang
memiliki nasabah atau customer, sedangkan perusahaan anjak
piutang hanya memiliki klien dalam hal ini supplier.
Selanjutnya, klien yang memiliki nasabah atau customer.
Mekanisme anjak piutang ini sebenamya diawali dari adanya
transaksi jual beli barang atau jasa yang pembayarannya secara
kredit.
b. Kegiatan factoring hanya berupa suatu kegiatan jual beli atau
pengurusan piutang.
c. Piutang atau tagihan itu merupakan tagihan jangka pendek dan berasal
dari transaksi perdagangan, dan umumnya mempunyai ciri-ciri di
antaranya:
Piutang yang terdiri dari seluruh tagihan berdasarkan faktur-
faktur dari perusahaan yang belum jatuh tempo;
Piutang yang timbul dari surat-surat berharga yang belum jatuh
tempo;
Piutang yang timbul dari suatu proses pengiriman barang.
Banyaknya sektor usaha yang menghadapi berbagai masalah dengan
kurangnya kemampuan dan terbatasnya sumber-sumber permodalan,
lemahnya pemasaran, yang tentunya akan mempengaruhi pencapaian target
penjualan. Kelemahan di bidang manajemen menyebabkan semakin
meningkatnya jumlah kredit macet. Kondisi seperti ini semakin menyulitkan
memperoleh tambahan sumber pembiayaan melalui lembaga keuangan.
Dalam mengatasi kendala di atas, kehadiran lembaga anjak piutang akan
memberi suatu alternatif pemecahan masalah. Melalui anjak piutang,
dimungkinkan bagi perusahaan-perusahaan untuk memperoleh sumber
pembiayaan secara mudah dan cepat sampai 80% dari nilai faktur
penjualannya secara kredit. Dengan demikian klien dapat lebih terkonsentrasi
pada kegiatan peningkatan produksi dan penjualan.

d. Usaha Kartu Kredit


Menurut Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009, Usaha Kartu Kredit adalah
kegiatan pembiayaan untuk pembelian barang dan/atau jasa dengan
menggunakan kartu kredit, Sedangkan pengertian kartu kredit sendiri menurut
Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/52/PBI/2005, Kartu Kredit adalah Alat
Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu yang dapat digunakan untuk
melakukan pembayaran atas kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan
ekonomi, termasuk transaksi pembelanjaan dan/atau untuk melakukan
penarikan tunai dimana kewajiban pembayaran pemegang kartu dipenuhi
terlebih dahulu oleh acquirer atau penerbit, dan pemegang kartu berkewajiban
melakukan pelunasan kewajiban pembayaran tersebut pada waktu yang
disepakati baik secara sekaligus (charge card) ataupun secara angsuran.
Adapun dasar-dasar hukum yang mendasari dari usaha Kartu Kredit yaitu:
a. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998 tentang Perbankan Nasional. Penyelenggaraan kegiatan alat
pembayaran dengan menggunakan kartu kredit didasarkan pada
ketentuan Pasal 6 huruf 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998 Tentang Perbankan. Pasal 6 huruf 1 Undang-Undang Perbankan
menyatakan bahwa usaha kartu kredit merupakan salah satu bentuk
usaha yang dapat dilakukan oleh bank. Dengan demikian, Undnag-
Undang Perbankan dapat dijadikan dasar penyelenggaraan usaha kartu
kredit sebagai alat pembayaran oleh bank. Namun, Undang-Undang
Perbankan tidak mengatur secara lebih rinci mengenai penerbitan dan
penggunaan kartu kredit sebagai alat pembayaran.
b. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1251/KMK. 013/1988 Tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1251/KMK. 013/1988 Tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan (KMK
Lembaga Pembiayaan) mulai berlaku pada tanggal 20 Desember 1988.
KMK Lembaga Pembiayaan ini merupakan peraturan pelaksana dari
Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 Tentang Lembaga
Pembiayaan. Di dalam KMK Lembaga Pembiayaan ini dinyatakan
bahwa usaha kartu kredit merupakan salah satu bentuk usaha yang
dapat dilaksanakan oleh Lembaga Pembiayaan.
c. Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/52/PBI/2005 Tentang
Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan
Kartu Tanggal 28 Desember 2005 yang diperbaharui dengan Peraturan
Bank Indonesia Nomor 10/8/PBI/2008. Peraturan Bank Indonesia
Nomor 7/52/PBI/2005 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat
Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu Tanggal 28 Desember 2005
(PBI APMK) merupakan peraturan dari Bank Indonesia yang mengatur
secara khusus mengenai penyelenggaraan kegiatan pembayaran dengan
menggunakan kartu kredit. Di dalam PBI APMK ini diatur mengenai
proses pengajuan ijin oleh Bank dan Lembaga selain bank untuk
menjadi prinsipal, penerbit, maupun sebagai acquirer. Selain itu PBI
APMK ini juga mengatur mengenai penyelenggaraan dan penghentian
kegiatan alat pembayaran dengan menggunakan kartu dan pengawasan
terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.
d. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/11/PBI/2009 tanggal 13 April
2009 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan
Menggunakan Kartu.
e. Surat Edaran Bank Indonesia No.11/10/DASP tanggal 13 April 2009
perihal Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan
Menggunakan Kartu.
Pihak-pihak yang biasa bersangkutan dalam usaha Kartu Kredit antara lain:
1. Pemegang kartu adalah pengguna yang sah dari Kartu Kredit.
2. Prinsipal adalah bank atau lembaga selain bank yang bertanggung
jawab atas pengelolaan sistem dan/atau jaringan antar anggotanya, baik
yang berperan sebagai penerbit dan/atau acquirer, dalam transaksi Kartu
Kredit yang kerjasama dengan anggotanya didasarkan atas suatu
perjanjian tertulis.
3. Penerbit adalah bank atau lembaga selain bank yang menerbitkan Kartu
Kredit.
4. Acquirer adalah bank atau lembaga selain bank yang melakukan
kerjasama dengan pedagang (merchant), yang dapat memproses Kartu
Kredit yang diterbitkan oleh pihak lain.
5. Pedagang (merchant) adalah penjual barang dan/atau jasa yang
menerima pembayaran dari transaksi penggunaan Kartu Kredit.
6. Penyelenggara kliring adalah bank atau lembaga selain bank yang
melakukan perhitungan hak dan kewajiban keuangan masing-masing
penerbit dan/atau acquirer dalam rangka transaksi Kartu Kredit.
7. Penyelenggara penyelesaian akhir adalah bank atau lembaga selain bank
yang melakukan dan bertanggungjawab terhadap penyelesaian akhir atas
hak dan kewajiban keuangan masing-masing penerbit dan/atau acquirer
dalam rangka transaksi Kartu Kredit berdasarkan hasil perhitungan dari
penyelenggara kliring.

Dengan adanya perjanjian penerbitan kartu kredit, maka dengan demikian timbul
hak dan kewajiban dari masing-masing pihak yang terlibat di dalam proses
penerbitan dan penggunaan kartu kredit tersebut. Adapun hak dan kewajiban
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Hak dan Kewajiban Antara Penerbit dan Pemegang Kartu Kredit
Hak dan kewajiban antara penerbit dan pemegang kartu kredit tercantum di dalam
perjanjian antara keduanya yang telah ditetapkan oleh penerbit.
a. Hak penerbit
1. Memperoleh iuran tahunan;
2. Memperoleh pembayaran transaksi yang telah dilakukan pemegang
kartu kredit termasuk bunga keterlambatan;
3. Membatalkan atau memperpanjang keanggotaan pemegang kartu
kredit;
4. Menarik kembali kartu kredit yang ada pada pemegang kartu kredit;
5. Mencantumkan nomor kartu kredit yang telah dibatalkan oleh penerbit
atau atas permintaan pemegang kartu kredit ke dalam daftar hitam;
6. Menolak transaksi yang dilakukan oleh pemegang kartu kredit bila :
Pemegang kartu kredit belum memenuhi kewajibannya kepada
pnerbit;
Transaksi tersebut diragukan oleh penerbit.
b. Kewajiban Penerbit
1. Membayar segala transaksi pemegang kartu kredit yang telah disetujui
oleh penerbit kepada pedagang melalui pengelola;
2. Memberikan pelayanan dan informasi kepada pemegang kartu kredit;
3. Menyampaikan tagihan bulanan kepada pemegang kartu kredit.
c. Hak Pemegang Kartu Kredit
1. Berbelanja di pedagang yang telah ditunjuk oleh penerbit dengan
menggunakan kartu kredit;
2. Mengambil uang tunai di bank dengan batasan jumlah tertentu;
3. Memperoleh kartu pengganti baik atas kartu yang telah hilang maupun
kadaluarsa;
4. Menolak memperpanjang keanggotaan dengan memberitahukan secara
tertulis kepada bank.
d. Kewajiban Pemegang Kartu Kredit
1. Melaporkan kepada penerbit pada kesempatan pertama apabila kartu
kredit pemegang hilang atau dicuri disertai dengan laporan polisi;
2. Membayar dan melunasi segala kewajiban kepada penerbit yang terdiri
dari iuran tahunan dan segala bunga dan biaya keterlambatan;
3. Melaporkan setiap perubahan data pribadi pemegang kartu kredit.
2. Hak dan Kewajiban Antara Pengelola dan Pedagang
a. Hak Pengelola
1. Menerima discount rate;
2. M enerima atau menunda pembayaran atas transaksi yang diragukan
walaupun sudah mendapat otorisasi;
3. Memutuskan perjanjian kerja sama secara sepihak dengan
memberitahukan secara tertulis.
c. Kewajiban Pengelola
1. Memberikan daftar hitam secara berkala kepada merchant yang berisi
nomor kartu kredit yang telah dibatalkan atau dinyatakan tidak berlaku
lagi;
2. Melakukan pembayaran atas transaksi yang dilakukan oleh pemegang
kartu kredit;
3. Meminjamkan peralatan pendukung untuk melakukan transaksi.
d. Hak Pedagang
1. Menerima pembayaran atas transaksi yang telah dilakukan oleh
pemegang kartu kredit yang telah memperoleh otorisasi;
2. Menerima daftar hitam secara berkala yang berisi atau memuat
nomor-nomor kartu kredit yang telah dibatalkan atau dinyatakan tidak
berlaku lagi;
3. Memutuskan perjanjian kerja sama dengan pemeritahuan secara
tertulis.
e. Kewajiban Pedagang
1. Mengambil dan menyerahkan kartu kredit yang digunakan untuk
melakukan transaksi di tokonya apabila kartu kredit tersebut :
(1) Tercantum dalam daftar hitam;
(2) Diminta oleh pengelola;
(3) Meneliti keabsahan kartu kredit yang terdiri dari :
a) Masa berlaku;
b) Tanda tangan;
c) Keutuhan kartu kredit;
d) Keaslian kartu kredit
2. Meminta otorisasi kepada penerbit melalui pengelola bila transaksi
melebihi batas kewenangan transaksi;
3. Memberikan discount rate kepada pengelola sesuai dengan yang telah
ditetapkan;
4. Tidak meminjamkan dan memindahtangankan kepada pedagang lain
semua [eralatan yang dipinjamkan pengelola kepada pedagang;
5. Menjaga kerahasiaan data pemegang kartu kredit bila pernah
berbelanja di tempat pedagang untuk tidak diberikan kepada pihak
yang tidak berkepentingan.
3. Hak dan Kewajiban Antara Pemegang Kartu Kredit dan Pedagang
Hak dan kewajiban antara pemegang kartu kredit dan pedagang tidak dituangkan
dalam suatu perjanjian tertulis, karena hal tersebut sebenarnya telah tercantum dalam
perjanjian antara pedagang dengan penerbit dan antara pedagang dengan pengelola
(acquirer).
e. Pembiayaan Konsumen
Menurut Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009, Pembiayaan Konsumen
(Consumers Finance) adalah kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang
berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran.
Selain itu pengertian lainnya Pembiayaan konsumen adalah suatu pinjaman
atau kredit yang diberikan oleh suatu perusahaan kepada debitur untuk
pembelian barang dan jasa yang akan langsung dikonsumsikan oleh
konsumen, dan bukan untuk tujuan produksi atau distribusi. Perusahaan yang
memberikan pembiayaan diatas, disebut perusahaan pembiayaan konsumen
(Customer Finance Company). Berdasarkan definisi pembiayaan konsumen di
atas, maka dapat dijelaskan mengenai hal-hal yang menjadi dasar dari
kegiatan pembiayaan konsumen, yaitu :
a. Pembiayaan konsumen adalah merupakan salah satu alternatif
pembiayaan yang dapat diberikan kepada konsumen.
b. Obyek pembiayaan dari usaha jasa pembiayaan konsumen adalah
barang kebutuhan konsumen, biasanya kendaraan bermotor, barang-
barang kebutuhan rumah tangga , komputer, barang-barang elektronika,
dan lain-lain.
c. Sistem pembayaran angsuran dilakukan secara angsuran / berkala,
biasanya dilakukan pembayaran setiap bulan dan di tagih langsung
kepada konsumen.
d. Jangka waktu pengembalian bersifat fleksibel, tidak terikat dengan
ketentuan seperti financial lease (sewa guna usaha dengan hak opsi).

Adapun jenis pembiayaan konsumen berdasarkan kepemilikannya :


a. Perusahaan pembiayaan konsumen yang merupakan anak perusahaan
dari pemasok.
b. Perusahaan pembiayaan konsumen yang merupakan satu group usaha
dengan pemasok.
c. Perusahaan pembiayaan konsumen yang tidak mempunyai kaitan
kepemilikan dengan pemasok.

Dasar hukum dari perjanjian pembiayaan konsumen dapat dibedakan menjadi


dua, yaitu :
1. Dasar Hukum Substantif
Yang merupakan dasar hukum substantif eksistensi pembiayaan
konsumen, adalah perjanjian di antara para pihak berdasarkan azas
kebebasan berkontrak, yakni perjanjian antara pihak perusahaan finansial
sebagai kreditur dan pihak konsumen sebagai debitur. Mengenai azas
kebebasan berkontrak di atur dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata yang
menyatakan, bahwa suatu perjanjian yang di buat secara sah berlaku
sebagai undang-undang bagi yang membuatnya. Pasal ini mengandung
arti bahwa para pihak boleh membuat berbagai persetujuan/perjanjian baik
yang sudah di atur dalam undangundang , maupun yang tidak di atur
dalam undang-undang. Selama apa yang disepakati itu sah, artinya
memenuhi syarat-syarat sahnya suatu perjanjian sebagaimana yang di atur
dalam Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu :
a) Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya
b) Adanya kecakapan untuk membuat suatu perikatan
c) Suatu hal tertentu
d) Suatu sebab yang halal
Dengan demikian, maka jika para pihak membuat perjanjian pembiayaan
konsumen yang telah memenuhi syarat-syarat sahnya suatu perjanjian, maka
menurut hukum yang berlaku di Indonesia, perjanjian pembiayaan konsumen
itu mempunyai kekuatan mengikat dan berlaku sebagai undang-undang bagi
para pihak yang membuatnya. Jadi meskipun perjanjian pembiayaan
konsumen itu belum di atur secara khusus di dalam KUHPerdata, para pihak
boleh/di beri kebebasan untuk mengaturnya sendiri.

2. Dasar Hukum Administratif


Di samping dasar hukum yang bersifat substantif, ada beberapa dasar
hukum di dalam hukum Indonesia yang dapat dijadikan sebagai dasar
hukum administratif bagi keberadaan perusahaan pembiayaan konsumen,
yaitu :
a) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 61 Tahun 1988
tentang Lembaga Pembiayaan.
b) Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor :
1251/KMK.013/1988 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan
Lembaga Pembiayaan , yang diperbaharui dengan : Keputusan
Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 448/KMK.017/2000
tentang Perusahaan Pembiayaan.

f. Modal Ventura
Menurut Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009, Perusahaan Modal
Ventura (Venture Capital Company) adalah badan usaha yang melakukan
usaha pembiayaan / penyertaan modal ke dalam suatu Perusahaan yang
menerima bantuan pembiayaan (Investee Company) / Sebagai pasangan
usahanya untuk jangka waktu tertentu dalam bentuk penyertaan saham,
penyertaan melalui pembelian obligasi konversi, dan/atau pembiayaan
berdasarkan pembagian atas hasil usaha. Investasi modal ventura ini biasanya
memiliki suatu resiko yang tinggi, meskipun resiko yang dihadapi tinggi,
pihak modal ventura mengharapkan suatu keuntungan yang tinggi pula dari
penyertaan modalnya berupa capital gain atau deviden. Kapitalis ventura atau
dalam bahasa asing disebut venture capitalist (VC), adalah seorang investor
yang berinvestasi pada perusahaan modal ventura, dan Perusahaan yang
pembiayaannya dari modal ventura disebut Perusahaan Pasangan Usaha (PPU)
atau investee company. Dana ventura ini mengelola dana investasi dari pihak
ketiga (investor) yang tujuan utamanya untuk melakukan investasi pada
perusahaan yang memiliki resiko tinggi sehingga tidak memenuhi persyaratan
standar sebagai perusahaan terbuka ataupun guna memperoleh modal
pinjaman dari perbankan. Investasi modal ventura ini dapat juga mencakup
pemberian bantuan manajerial dan teknikal. Kebanyakan dana ventura ini
adalah berasal dari sekelompok investor yang mapan keuangannya, bank
investasi, dan institusi keuangan lainnya yang melakukan pengumpulan dana
ataupun kemitraan untuk tujuan investasi tersebut. Penyertaan modal yang
dilakukan oleh modal ventura ini kebanyakan dilakukan terhadap perusahaan-
perusahaan baru berdiri sehingga belum memiliki suatu riwayat operasionil
yang dapat menjadi catatan guna memperoleh suatu pinjaman. Sebagai bentuk
kewirausahaan, pemilik modal ventura biasanya memiliki hak suara sebagai
penentu arah kebijakan perusahaan sesuai dengan jumlah saham yang
dimilikinya.

E. Definisi Modal Ventura


Istilah ventura berasal dari kata venture, yang secara harfiah bisa berarti sesuatu yang
mengandung risiko atau dapat pula diartikan sebagai usaha. Jadi, modal ventura
(venture capital) adalah modal yang ditanamkan pada usaha yang mengandung risiko.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa modal ventura merupakan
pembiayaan yang memiliki risiko tinggi. Pembiayaan modal ventura berbeda dengan
bank yang memberikan pembiayaan berupa pinjaman atau kredit, karena modal
ventura memberikan pembiayaan dengan cara melakukan penyertaan langsung ke
dalam perusahaan yang dibiayainya. Perusahaan yang memperoleh pembiayaan
modal ventura disebut Perusahaan Pasangan Usaha (PPU) atau investee company.
Instrumen lain yang dapat digunakan dalam rangka modal ventura adalah obligasi
konversi (convertible bond) yang memiliki hak opsi untuk ditukarkan dengan saham
PPU. Umumnya, pembiayaan modal ventura hampir selalu disertai dengan
persyaratan keterlibatan dalam manajemen PPU, yang biasanya disepakati dalam
perjanjian modal ventura. Jangka waktu penyertaan saham modal ventura bersifat
sementara. Di beberapa negara jangka waktu pembiayaan modal ventura berada
diantara 3 10 tahun. Di Indonesia sendiri, jangka waktu tersebut menurut Keppres
No. 61/1988 adalah sudah harus diinvestasi maksimum 40 tahun. Ciri inilah pula yang
membuat unik dan membedakannya dengan investasi biasa.

F. Dasar Hukum Modal Ventura


1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 469/KMK.017/1995 tanggal 3 Oktober
1995 Tentang Pendirian dan Pembinaan Perusahaan Modal Ventura.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1995 tentang Pajak Penghasilan bagi
Perusahaan Modal Ventura.
3. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 227/KMK.01/1994 tanggal 9 Juni 1994
Tentang Sektor-sektor Usaha Perusahaan Pasangan Usaha dari Perusahaan
Modal Ventura.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 62 tahun 1992 tentang sektor-sektor usaha
Perusahaan Pasangan Usaha (PPU) Perusahaan Modal Ventura.
5. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1251/KMK.013/1988 tanggal 20
Desember 1988 Tentang ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga
Pembiayaan.
6. Kepres Nomor 61 tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan.
7. Perpres Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan.
8. PMK Nomor 18/PMK.010/2012 tanggal 1 Februari 2012 tentang Perusahaan
Modal Ventura

G. Tujuan Pendirian Modal Ventura


Secara garis besar maksud dan tujuan pendirian modal ventura antara lain sebagai
berikut :
1. Untuk pengembangan suatu proyek tertentu, misalnya proyek penelitian,
dimana proyek ini biasanya tanpa memikirkan keuntungan semata, akan tetapi
lebih bersifat pengembangan ilmu pengetahuan.
2. Pengembangan suatu teknologi baru atau pengembangan produk baru.
Pembiayaan untuk usaha ini baru memperoleh keuntungan dalam jangka
panjang.
3. Pengambilalihan kepemilikan suatu perusahaan. Tujuan pembiayaan dengan
mengambilalihkan kepemilikan usaha perusahaan lain lebih banyak diarahkan
untuk mencari keuntungan.
4. Kemitraan dalam rangka pengentasan kemiskinan dengan tujuan untuk
membantu para pengusaha lemah yang kekurangan modal , tetapi tidak punya
jaminan materil sehingga sulit memperoleh jaminan.
5. Alih teknologi yang dilakukan ke perusahaan yang masih menggunakan
teknologi lama sehingga dapat meningkatkan kapasitas produksi dan mutu
produknya.
6. Membantu perusahaan yang sedang kekurangan likuiditas.
7. Membantu pendirian perusahaan baru dimana tingkat resiko kerugiannya
sangat besar.

H. Karakteristik Modal Ventura


Kegiatan modal ventura memiliki karakteristik tersendiri jika dibandingkan dengan
lembaga pembiayaan lainnya. Ciri atau karakteristik modal ventura adalah sebagai
berikut:
1. Kegiatan yang dilakukan bersifat penyertaan langsung ke suatu perusahaan.
2. Penyertaan dalam perusahaan bersifat jangka panjang dan biasanya diatas tiga
tahun.
3. Bisnis yang dimasuki merupakan bisnis yang memiliki resiko tinggi.
4. Keuntungan yang diperoleh berasal dari capital gain, deviden atau bagi hasil
tergantung dari penyertaan modalnya di bidang / jenis yang diinginkan.
5. Kegiatannya lebih banyak dilakukan dalam usaha pembentukan usaha baru atau
pengembangan suatu usaha.

I. Karakteristik Usaha/Perusahaan yang Menjadi Sasaran Modal Ventura


Tidak semua perusahaan bisa dibiayai oleh modal ventura, ada karakteristik tertentu
perusahaan yang biasanya dibiayai oleh modal ventura, antara lain :
1. Perusahaan yang sedang tumbuh dan inovatif serta berpotensi berkembang
dimasa datang.
2. Perusahaan yang ingin melakukan ekspansi usaha namun mengalami
keterbatasan.
3. Perusahaan yang ingin melakukan restrukturisasi hutang-hutang.
4. Perusahaan yang sudah mempunyai pangsa pasar yang baik tetapi fasilitas
produksi sudah usang.
5. Perusahaan yang memerlukan benih modal dalam mengembangkan suatu
produk baru

J. Jenis Pembiayaan Modal Ventura


Pembiayaan Modal Ventura memilki beberapa jenis diantaranya :
1. Equity Financing
merupakan jenis pembiayaan langsung dalam hal ini perusahaan modal
ventura melakukan penyertaan secara langsung pada perusahaan pasangan
usaha dengan cara mengambil bagian dari jumlah saham milik perusahaan
pasangan usaha.
2. Semi Equity Financial,
merupakan jenis pembiayaan dengan cara membeli obligasi konversi yang
diterbitkan oleh perusahaan pasangan usaha.
3. Mendirikan perusahaan baru dalah hal ini perusahaan modal ventura bersama-
sama dengan perusahaan pasangan usahamendirikan usaha yang baru sama
sekali.
4. Bagi Hasil,
merupakan jenis pembiayaan yang ditujukan kepada usaha kecil yang belum
memiliki bentuk badan hukum PT. Namun tidak tertutup kemungkinan dengan
yang berbadan hukum PT, apabila kedua pihak saling menginginkannya

K. Sumber-Sumber Dana Modal Ventura


Dalam melakukan penyertaan modal diberbagai bidang usaha, perusahaan modal
ventura harus memiliki dana yang cukup yang dapat diperoleh dari berbagai sumber
dana yang dapat dipilih sebagai berikut :
1. Dari dalam perusahaan sendiri :
Setoran modal dari pemegang saham
Cadangan laba yang belum terpakai
Laba yang ditahan

2. Dari luar perusahaan :


Investor baik perorangan atau industri
Pinjaman dari Lembaga Perbankan
Pinjaman dari Lembaga Asuransi
Pinjaman dari Dana Pensiun

L. Perbedaan Modal Ventura dan Bank


Adapun antara bank dan modal ventura memiliki suatu perbedaan, antara lain :
Ket BANK MODAL VENTURA
Investor, Perusahaan
Pelaku Bank, Kreditur, Debitur.
Modal Ventura, PPU.
Bantuan Pembiayaan Pinjaman / Kredit Penyertaan Modal
Keterlibatan
Tidak ada Ada ( Sebagai Partner )
Manajemen
Jenis Resiko Kredit Macet Usaha Gagal
Bentuk Keuntungan Bunga Kredit Capital Gain
Pendek, Menengah, 5 - 10 Tahun ( Jangka
Jangka Waktu
Panjang Panjang )
Akhir Kontrak Lunas Divestasi

M. Keuntungan dan Kelemahan Modal Ventura


a. Keunggulan Modal Ventura
1. Sumber dana bagi perusahaan baru.
2. Adanya penyertaan manajemen.
3. Kepedulian yang tinggi dari perusahaan modal Ventura.
4. Dengan adanya penyertaan modal, Perusahaan Pasangan Usaha dapat mencari
bantuan modal dalam bentuk lain.
5. Modal Ventura menaikkan pamor Perusahaan Pasangan Usaha dan Perusahaan
Modal Ventura itu Sendiri.
6. Perusahaan Pasangan Usaha mendapat mitra baru yang dimiliki perusahaan
modal ventura.
7. Mendukung usaha kecil yang berpotensi berkembang dan memperluas
kesempatan kerja.
b. Kelemahan Modal Ventura
1. Jangka waktu pembiayaan yang relatif panjang.
2. Terlalu selektifnya perusahaan modal ventura dalam mencari perusahaan
pasangan usaha.
3. Kontrol manajemen perusahaan pasangan usaha dapat diambil alih oleh
perusahaan modal ventura apabila menunjukan gejala kegagalan.

N. Mekanisme Modal Ventura


Ada dua mekanisme di dalam penyaluran modal ventura, yaitu :
1. Single Tier Approach
Perusahaan modal ventura menghimpun dana dan mengelola dana yang
diinvestasikan dalam bentuk penyertaan modal pada perusahaan pasangan usaha.
Gambar 1. Skema Single Tier Approach

2. Two Tier Approach


Pengelolaan modal ventura yang melibatkan dua badan usaha terpisah, dimana
yang satu sebagai perusahaan penyedia dana (fund company) dan yang lain sebagai
perusahaan pengelola (management company) yang melakukan pengelolaan fund
Manajemen Company
company yang bersangkutan.

Gambar 2. Skema Two Tier Approach

O. Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Modal Ventura


I. Pihak Perusahaan Modal Ventura (Venture Capital Company)
Perusahaan modal ventura adalah perusahaan yang dapat bertindak sebagai
investee management ataupun sebagai fund management dimana dalam
memberikan bantuannya tersebut juga memberikan dampingan manajemen, baik
penempatan ataupun pembianaan manajemen kepada perusahaan pasangan
usaha, dana mana, baik berupa penyertaan modal ataupun dalam bentuk
pinjaman dengan bagi hasil.

II. Pihak Perusahaan Pasangan Usaha


Merupakan perusahaan yang sudah menjadi badan hukum ataupun tidak, yang
dapat berupa Perseroan Terbatas ( PT ), Koperasi, Perseroan Komanditer ( CV ),
Firma, bahkan perusahaan perseorangan seperti usaha dagang. Namun, yang
paling sering dibiayai dengan modalventuraadalah perusahaan dalam bentuk
Perseroan Terbatas ( PT ), baik yang sudah ada ataupun yang dibentuk
kemudian.

III. Pihak Penyandang Dana


Ada dua sumber dana perusahaan modal lventura yang diberikan kepada
pasangan usaha, yakni :
1. Modal pendanaan yang berasal dari perusahaan modal ventura sendiri,
yakni yang biasanya diambil dari modal saham dan laba yang ditahan.
2. Modal pendanaan yang berasal dari penyandang dana pihak ketiga, yang
dananya tidak disetor menjadi modal saham.
Jenis-jenis model pendanaan dari pihak ketiga dalam modal ventura, antara
lain:
1. Bank captive fund, sebagian dari dan bank disalurkan untuk kegiatan
modal ventura terlebih dahulu membentuk perusahaan financial.
Perusahaan financial dalam modal ventura merupakan anak perusahaan dari
bank tersebut.
2. Invesment institution captive funds, dana-dana yang dipakai oleh suatu
perusahaan modal ventura berasal dari institusi investasi, seperti dari fund
managers, dana asuransi, dana pension, stock brokerage firms, dsb.
3. Independent fund, dana-dana berasal dari pihak swasta yang tidak
berhubungan dengan bank atau institutional investor.
4. Public sector funds, dana bersumber dari pemerintah, atau dengan kata
lain pemerintah membentuk perusahaan modalventura, yang dengan tujuan
social dan kemanusiaan.
5. International funds, dana berasal dari institusi internasional, misal PBB,
ADB, dll.
6. Dana dari sumber lain

IV. Akuntan Publik


Pada dasarnya akuntan publik tidaklah dimasukkan sebagai pihak-pihak yang
terlibat dalam pembiayaan modal ventura, namun dalam kenyataannya
pembiayaan modal venturasering kali melibatkan jasa akuntan publik guna
mereview keadaan atau kondisi keuangan calon perusahaan pasangan usaha
yang biasa juga disebut fiancial due diligence

P. Keuntungan Bagi Perusahaan Modal Ventura Dan Pasangan Usaha


Seperti sudah dijelaskan sebelumnya bahwa keikutsertaan perusahaan modal ventura
dalam bisnis yang mengandung resiko tinggi adalah ntuk memperoleh keuntungan.
Begitu pula bagi Perusahaan Pasangan Usaha (PPU) dengan bantuan penyertaan
modal dari perusahaan modal ventura diharapkan akan memperoleh berbagai manfaat.
Adapun keuntungan bagi masing-masing pihak yang terlibat dalam kegiatan modal
ventura adalah sebagai berikut:
1. Bagi pasangan Modal ventura
a) Memperoleh keuntungan berupa deviden dari penyertaan modalnya
dalam bentuk saham.
b) Memperoleh keuntungan berupa capital gain dari hasil selisih dari
transaksi penjualan dan pembelian surat-surat berharga (saham)
c) Memperoleh keuntungan berupa bagi hasil untuk usaha tertentu sesuai
dengan perjanjian yang sudah dibuatnya.
2. Bagi Perusahaan Pasangan Usaha (PPU)
a) Membantu penambahan modal usaha bagi perusahaan yang sedang
mengalami kekurangan modal (likuiditas).
b) Memperbaiki teknologi melalui pengalihan dari teknologi lama ke
teknologi baru sehingga dapat membantu peningkatan kapasitass
produksi dan peningkatan mutu produknya.
c) Membantu pengembangan usaha melalui perluasan pasar an
pengembangan usaha baru, seperti melalui deversifikasi usaha.
d) Mengalami reiko kerugian. Maksudnya jika perusahaan beroperasi
dengan modal sendiri, maka resiko kerugianpun ditanggung sendiri,
namun apabila dijalankan bersama dengan modal ventura maka resiko
dapat disebarkan antara keduanya.

Q. Tahap Pembiayaan Modal Ventura


Penentuan waktu pemberian bantuan pada pasangan usaha.
1. Pengembangan ide usaha
Tahap ini merupakan tahap yang paling berisiko. Pada tahap ini pada
pengembangan ide dasar.
2. Awal kegiatan usaha
Pada tahap ini calon pengusaha Usaha sudah sangat yakin akan kelayakan dan
prospek dari kegiatan usaha yang akan dilakukan.
3. Awal pengembangan usaha
Pada tahap ini Perusahaan Pasangan Usaha telah berhasil memulai usahanya
dan hasilnya menunjukan tanda-tanda adanya prospek pengembangan usaha.
4. Ekspansi
Perusahaan kali ini melakukan pengembangan antara lain berupa peningkatan
omzet, peningkatan pangsa pasar, perluasan pasar, dan lain-lain.
5. Kejenuhan atau penurunan
Kegiatan usaha yang awalnya menunjukan tanda-tanda baik dapat saja
berubah menjadi kurang menguntungkan karena berbagai macam sebab.
Penyebab terjadinya hal ini bisa sajakarena adanya pesaing, krisis ekonomi,
perubahan atau pergeseran selera konsumen, perubahan kebijakan pemerintah,
dan lain-lain.

R. Bentuk Pembiayaan
1. Penyertaan modal dalam bentuk saham.
2. Obligasi yang dapat dikonversikan menjadi saham.
3. Pinjaman yang dapat dikonversikan menjadi saham.
4. Pinjaman yang memberikan hak opsi bagi Perusahaan Modal Ventura untuk
membeli saham.
5. Pinjaman dengan tingkat bunga yang relatif rendah.
6. Pinjaman yang tidak perlu dibayar bila perusahaan belum mampu menutupi biaya
operasinya.
7. Pinjaman yang apabila terjadi likuidasi, maka pengembaliannya berada pada
prioritas setelah obligasi dan pinjaman lainnya.
8. Dan lain-lain sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip modal ventura.

S. Bentuk Kesepakatan
Kesepakatan-kesepakatan antara Perusahaan Modal Ventura dengan Perusahaan
Pasangan Usahanya dituangkan dalam suatu kesepakatan formal atau perjanjian resmi
secara tertulis yang meliputi mekanisme pemberian bantuan dana dan sejak awal
sampai dengan dilakukannya tahap divestasi. Perjanjian ini penting bagi pelaksanaan
modal ventura karena kegiatan operasional modal ventura selanjutnya didasarkan
pada perjanjian tersebut.
1. Jumlah pembiayaan
Jumlah pembiayaan harus disebutkan dengan jelas dengan satuan mata uang
yang telah disepakati bersama.
2. Cara penarikan atau pencairan
Cara penarikan dana dapat bermacam-macam. Dana tersebut dapat ditarik
secara tunai, menggunakan cek, menggunakan bilyet giro, dan lain-lain sesuai
kesepakatan bersama.
3. Jadwal penggunaan bantuan dana
Harus disesuaikan dengan kebutuhan dana tersebut dalam kegiatan usaha
Perusahaan Pasangan Usaha.
4. Jangka waktu bantuan dana
Harus disebutkan dengan tegas sehingga Perusahaan Pasangan usaha dapat
merencanakan cash flow yang sesuai.
5. Bentuk balas jasa finansial
Dapat berupa bunga, bagi hasil dari keuntungan biaya, dan lain-lain.
6. Cara, jumlah, waktu pembayaran balas jasa finansial
Harus disertai proporsi bagi hasil atas dasar waktu dan periode tertentu.
7. Cara penarikan kembali investasi
Harus disepakati pada awal proses modal ventura.
8. Syarat divestasi yang dipercepat
Dalam keadaan tertentu, divestasi dapat saja dilakukan lebih awal daripada
waktu yang telah direncanakan. Keadaan tertentu sebagai pra syarat
pelaksanaan divestasi yang dipercepat tersebut bisa dengan bervariasi, antara
lain: prospek Perusahaan Pasangan Usaha yang sangat diragukan, kerugian
Perusahaan Pasangan Usaha yang sangat besar, krisis ekonomi, keuntungan
atau perkembangan Perusahaan Pasangan Usaha yang sangat besar sehingga
tidak lagi memerlukan bantuan modal ventura dan lain-lain sesuai dengan
kesepakatan.
9. Perubahan atau perpindahan kepemilikan
Kesepakatan tentang adanya kemungkinan perubahan atau perpindahan
kepemilikan atas Perusahaan Pasangan Usaha.

T. Penarikan Modal Pada Perusahaan Modal Ventura Bagi Pasangan Usaha


Mengingat penyertaan modal ventura adalah bersifat sementara, maka kedua belah
pihak harus memikirkan cara-cara divestasi.
1. Pembelian kembali saham modal ventura oleh Perusahaan Pasangan
Usaha
Apabila Perusahaan Pasangan Usaha cukup mampu maka divestasi dapat
dilakukan dengan cara pembelian kembali saham modal ventura oleh
Perusahaan Pasangan Usaha itu sendiri.
2. Penawaran saham melalui pasar modal (go public)
Cara ini dapat dilakukan apabila kondisi Pasangan Usaha betul-betul sehat dan
prospektif. Sehingga sahamnya nanti dapat dijual melalui bursa efek dengan
harga yang wajar.
3. Pemberian kredit atau pinjaman dari bank
Sebagai pengganti dari penyertaan yang ditarik, maka Perusahaan Modal
Ventura berusaha menghubungkan Perusahaan Pasangan Usaha dengan bank
untuk mendapatkan kredit atau pinjaman. Cara ini dapat dilakukan apabila
keadaan perusahaan pasangan usaha cukup sehat dan prospektif menurut
penilaian bank.
4. Perusahaan Pasangan Usaha dijual kepada perusahaan atau pihak lain
Apabila ada perusahaan lain yang ditarik untuk memiliki Perusahaan Pasangan
Usaha tersebut, maka Perusahaan Pasangan Usaha dapat dijual kepada
Perusahaan lain tersebut, baik dengan cara tunai maupun dibeli dengan saham.
5. Perusahaan pasangan usaha dilikuidasi
Cara ini hanya ditempuh apabila cara-cara lain seperti yang telah disebutkan di
atas sudah sama sekali tidak mungkin untuk ditempuh. Likuiditas terpaksa
dilakukan biasanya karena setelah diberikan bantuan modal ventura usaha
nasabah tidak dapat berkembang dan cenderung rugi atau mempunyai prospek
dimasa mendatang yang tidak menentu.

U. CONTOH PERUSAHAAN MODAL VENTURA


Contoh profil perusahaan modal ventura pada umumnya seperti pada di bawah ini.
Alamat Perusahaan
Kantor :
Gedung Tapa Lt. II, Jl. Raya Kuta No. 27 Kuta, 80361
Kab. Badung, Propinsi Bali Indonesia.
Telp. 0361 753 468, 742 7136, 742 7137, f.0361 751926
Email. postmaster@brataventura.com
Bidang Usaha
PT. BRATA VENTURA menjalankan kegiatan modal ventura atau pembiayaan sesuai dengan peraturan perundang-

Status dan Badan Hukum Perusahaan


Perusahaan berbentuk perseroan terbatas, didirikan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan HAM R.I. Nomor:
Terdaftar pada Departemen Keuangan RI Dirjen Pajak dengan NPWP Nomor: 02.252.312.0-901.000.
Berijin sebagai Perusahaan Modal Ventura dengan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor :

Latar Belakang Perusahaan


Perusahaan PT. Brata Ventura adalah sebuah lembaga keuangan non Bank yang bergerak pada bidang usaha pembia

Visi dan Misi


Visi
PT. Brata Ventura menjadi suatu perusahaan pembiayaan nasional dan internasional yang diperhitungkan di bidang l
Misi
1. Kredibilitas, komitmen, dan kepercayaan adalah modal utama bagi PT. Brata Ventura. Berkat reputasi, kredib
2. Perusahaan Pasangan Usaha (PPU) dan investor adalah mitra terbaik kami untuk tumbuh dan berkembang yan
3. Membina dan menumbuhkembangkan usaha kecil dan menengah maupun besar, baik yang belum bankable m
4. Tumbuh dan berkembang bersama guna memberikan nilai yang terbaik bagi stake holder dan share holder ada

Produk Layanan
PT. Brata Ventura sebagai lembaga penyandang dana (investee management), menawarkan berbagai produk layanan
Contoh:
PT. Brata Ventura bersama PPU menjalin kerja sama pembiayaan dengan pola bagi hasil dalam merenovasi rumah ti
PT. Brata Ventura sebagai pengelola dana (fund management), menjamin keamanan atas investasi Anda dengan berb
Potensi Pengembangan
Perusahaan dapat menjalankan pembiayaan bagi hasil dengan PT. Sampi Mokoh dalam menerapkan pola kredit pak
Perusahaan mungkin mendapat pendana asing dengan bunga rendah yang mungkin tertarik untuk berusaha di bidang
Perusahaan mungkin mendapat pembiayaan dari perbankan dengan mekanisme lingked atau chanelling.

Manajemen Perusahaan

1. Komisaris : I Kadek Swanjaya, SE., MBA

2. Direksi

- Presiden Direktur : I Dewa Made Dwi Putrawan, SE.

\
BAB III
KESIMPULAN
Dari semua pembahasan yang telah dijelaskan dalam makalah ini dapat disimpulkan dengan
beberapa point.
A. Pengertian Lembaga Pembiayaan
Lembaga pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan
dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal.

B. Peranan lembaga pembiayaan


Salah satu lembaga sumber pembiayaan alternatif yang potensial untuk menunjang
pertumbuhan perekonomian nasional serta menampung dan menyalurkan aspirasi dan
minat masyarakat, berperan aktif dalam pembangunan dimana lembaga pembiayaan
ini diharapkan masyarakat atau pelaku usaha dapat mengatasi salah satu faktor yang
umum dialami yaitu faktor permodalan.

C. Kegiatan Lembaga Pembiayaan


Sewa Guna Usaha (Leasing)
Anjak Piutang (Factoring)
Usaha Kartu Kredit (Credit Card)
Pembiayaan Konsumen
Perusahaan Modal Ventura

D. Pengertian Modal Ventura


Modal Ventura merupakan suatu bentuk pembiayaan yang sumber dananya berasal
dari pihak pertama ( Bank, investor, dan isnstitusi keuangan lainnya ), yang disalurkan
oleh pihak kedua ( Perusahaan modal ventura ) kepada pihak ketiga ( Perusahaan
pasangan usaha ) guna membiayai pengembangan usahanya, dengan harapan
memperoleh keuntungan yang tinggi dari usaha yang dibiayainya.

Dari hal tersebut juga dapat disimpulkan beberapa manfaat dari pembiayaan modal
ventura, antara lain :
1. Meningkatkan Keberhasilan Usaha
2. Efisiensi dalam Pendistribusian Barang
3. Menigkatkan Bank-abilitas perusahaan
4. Pemanfaatan Dana Perusahaan Menigkat
5. Likuiditas Menigkat

MAKALAH TUGAS
HUKUM BISNIS
LEMBAGA PEMBIAYAAN (MODAL VENTURA)
Disusun Oleh :
DWI MEGA FITRIYANI (1610313120016)
FAJAR SETIAWAN JODI (1610313110018)
HADIYANOOR RAFII (1610313310019)
JERIKHO EKAYANDRIE (1610313210029)
H. UMAR FARUKH (1610313110020)

Dosen Pengampu ;
SUSTINAH LIMARJANI, SE., M.Hum.

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2017