Anda di halaman 1dari 18

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pembahasan Upaya Peningkatan Kemandirian Perawatan Kaki

untuk Mencegah Terjadinya Luka pada Pasien Diabetes Mellitus di Ruang

Cemara RSUD Kabupaten Madiun, yang disusun sesuai dengan pedoman

penyusunan hasil pembahasan asuhan keperawatan. Dalam bab 4 ini akan

diuraikan pembahasan tentang deskripsi kasus, deskripsi masalah sebelum

tindakan, deskripsi tindakan, deskripsi masalah setelah tindakan dan analisa

data

4.1 Hasil Studi Kasus

4.1.1 Deskripsi Kasus

Pasien berinisial Ny. S berusia 60 tahun, sudah menderita diabetes

mellitus sejak 10 tahun yang lalu, pasien rutin kontrol ke Puskesmas Pilang

Kenceng dan dirumah rutin menggunakan obat insulin Novorapid 3x10 ui,

klien sebelumnya pernah menjalani rawat inap di rumah sakit kurang lebih 2

tahun yang lalu dengan penyakit yang sama. Di dalam keluarga klien ada

yang menderita penyakit diabetes yaitu bapak klien. Saat beraktivitas sehari-

hari dirumah klien berjalan dengan bantuan tongkat. Klien mempunyai

kebiasaan yang tidak sehat setiap pagi pasien suka mengkonsumsi teh

manis.

Pada tanggal 05 Juni 2016 pasien dibawa ke Puskesmas Pilang

Kenceng, pasien mengeluh badanya terasa panas dingin sampai menggigil,


di cek (Gula Darah Sewaktu) GDS pasien 500 mg/dL, pasien diberi obat

paracetamol dan obat diabetes, kemudian pasien pulang. Keesokan harinya

pada tanggal 06 juni 2016 pasien kembali merasa menggigil, panas dingin

disertai mual, muntah 2x kemudian pada pukul 07.00 wib pasien langsung

dibawa keluarganya ke UGD RSUD Kabupaten Madiun.

Pasien datang ke UGD dalam kondisi lemas, tampak ada tanda-tanda

dehidrasi (mukosa kering, suhu tubuh tinggi 37,9oC), di UGD pasien di cek

(Gula Darah Sewaktu) GDS 377 mg/dL dan di cek laboratorium leokosit

klien tinggi yaitu 13.100/ cmm, sedangkan tekanan darah 130/80 mmHg,

nadi 92 x/mnt, RR 20 x/mnt, suhu 37,9 oC, di lakukan pemasangan infuse PZ

1500cc guyur, selanjutnya di berikan cairan infuse PZ 20 tpm kemudian

pasien di injeksi Ceftriaxon 1 gram/ vial Intravena, Ondansentron 4 mg/ vial

Intravena, Ranitidin 25 mg/ vial Intravena, Paracetamol 500mg tablet per

oral, kemudian pada pukul 09.00 pasien di bawa ke Ruang Cemara

Pasien datang ke Ruang Cemara dalam kondisi pasien lemas, tekanan

darah 130/80 mmHg, nadi 88 x/mnt, RR 20 x/mnt, suhu 37,30C, kemudian

pasien di cek (Gula Darah Sewaktu) GDS 367 mg/dL. Pada fokus

pengkajian pada kaki diabetik didapatakan keadaan kaki kering, kasar,

berwarna agak kehitaman, terdapat fisura, turgor kurang elastis, perfusi

jaringan perifer kaki teraba dingin, nadi lemah, terdapat bekas luka pada

telapak kaki sebelah kiri yang sudah mengering, dan ibu jari sebelah kiri

berbentuk hammer toe/ jari palu, pasien mengeluh kakinya terasa kemeng

dan kesemutan serta pada bekas luka di kaki sebelah kiri terasa gatal, serta

tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 82 x/menit, RR 20 x/menit, suhu 36,2oC.


4.1.2 Deskripsi Masalah Sebelum Tindakan

Pada klien Ny. S dari hasil pengkajian tanggal 07 Juni 2016 pukul

14.45 WIB, pasien mengeluh kakinya terasa kemeng dan kesemutan serta

pada bekas luka di kaki sebelah kiri terasa gatal. Di dapatkan keadaan kaki

kering dan kasar, turgor kulit menurun/ kurang elastis, berwarna agak hitam,

terdapat visura, terdapat bekas luka pada telapak kaki sebelah kiri yang

sudah mengering, penyebaran rambut pada kaki tidak merata. Kuku jari

tangan dan kaki klien panjang-panjang dan kotot, perfusi jaringan perifer

teraba dingin, pada kaki denyut nadi terasa lemah, CRT >3 detik, akral

dingin pada kaki, pasien masih bisa merasakan sensasi nyeri pada saat diberi

rangsangan nyeri pada kakinya, Saat beraktivitas di rumah klien sering lupa

menggunakan alas kaki/ sandal, ibu jari kaki sebelah kiri berbentuk seperti

hammer toe/ jari palu Serta kadar gula darah klien saat di cek terakhir di

ruang cemara mencapai 367 mg/dL, dan kadar leukosit 13.100/ cmm.

4.1.3 Deskripsi Tindakan

Tindakan keperawatan pada Ny. S dalam upaya pencegahan kerusakan

integritas kulit sebagai berikut:

1) Mengobservasi kebersihan kaki klien setiap hari, mengkaji keadaan kuku

klien apakah tampak sianosis, adanya pertumbuhan kuku kedalam dan

apakah ada infeksi kuku.


Hal ini perlu dilakukan setiap hari karena kaki merupakan bagian tubuh

yang sering mengalami gangguan integritas kulit pada pasien DM, dan

kuku sering mengalami gangguan imunitas sehingga infeksi jamur mudah

terjadi.
2) Mengkaji integritas kulit pasien apakah kering, kasar, adanya kulit pecah-

pecah, kaji warna kulit akan adanya kemerahan, adanya rasa gatal, ada

atau tidaknya ulserasi, dan dermatitis. Hal ini perlu di lakukan setiap hari.
3) Mengkaji keadaan dan bentuk kaki apakah ada bentuk kaki charchot,

cacat dan bentuk jari kaki seperti palu/ hammer toe, adanya pembentukan

kalus serta kaki pecah-pecah, mengkaji adanya edema pada kaki, dan

apakah kaki ada yang melepuh. Hal ini perlu di observasi setiap hari
4) Mengkaji status sirkulasi vaskuler kaki setiap hari apakah suhu kaki terasa

dingin, saat palpasi nadi terasa kecil/ hilang, perubahan warna kulit

menjadi pucat/ kebiruan, dan sesansi, adanya sensasi nyeri atau tidak saat

di beri rangsangan.
5) Memberikan lotion pada pada kulit yang kering untuk menjaga

kelembapan kulit kaki, terutama pada tungkai kaki agar kulit tidak pecah-

pecah, dan turgor dapat kembali elastis.


6) Mengajarkan pasien untuk memotong kuku jika panjang dengan kikir,

potong kuku secara lurus tidak terlalu pendek atau terlalu dekat dengan

kulit, ratakan bagian ujung kuku dengan kikir, bila kuku keras sulit untuk

dipotong, rendam kuku dengan air hangat selama 2 menit. Pertama kali

perawat mencontohkan cara memotong kuku yang benar pada pasien dan

keluarga, kemudian menyuruh pasien untuk mempraktekkannya.


7) Mengajarkan pasien untuk melakukan pemeriksaan kaki setiap hari,

apakah ada kulit retak, melepuh, luka, pendarahan, kulit kering dan kasar,

menganjurkan pasien jika di rumah gunakan cermin untuk melihat bagian

bawah kaki, jika kesulitan minta bantuan orang lain untuk memeriksa.

Jika terdapat luka tutup luka dengan kassa dan langsung bawa ke

pelayanan kesehatan
8) Mengajarkan pasien serta mendemonstrasikan cara melakukan latihan

senam kaki diabetes. Dengan memberikan contoh langkah-langkah

melakukan senam kaki serta memperlihatkan video senam kaki diabetes

dan mempraktekkannya.
9) Mengajarkan pasien untuk menjaga kebersihan kulit kaki dengan mencuci

kaki dengan sabun pH rendah, dan mengeringkan kaki dengan handuk

yang lembut terutama di sela-sela jari kaki setelah terkena air. Dan

menganjurkan pasien untuk melakukannya setiap hari.


10) Menganjurkan pasien untuk menggunakan alas kaki saat beraktifitas, saat

keluar rumah, dan saat berjalan, Pakai sepatu yang pas dan kaus kaki yang

bersih, hindari pemakaian kaos kaki yang ketat.


11) Menjelaskan kepada klien untuk mentaati terapi yang diberikan dan

menjelaskan tentang pentingnya tatalaksana terapi pemberian insulin,

pemberian antibiotik dan pemeriksaan kadar gula darah,.


Pemberian regulasi insulin
Pasien dengan DM tipe 1 tidak mampu memproduksi insulin dalam

tubuhnya, sehingga memerlukan insulin dari luar untuk menurunkan

glukosa darah dalam mempertahankan kehidupan. Terapi insulin

yang diberikan yaitu injeksi Novorapid 3x10 ui, pada tanggal 07 Juni

2016 sampai 11 Juni 2016. Dan injeksi insulin Lantus 1x10 ui

(malam), pada tanggal 10 Juni 2016 sampai 11 Juni 2016.


Pemberian antibiotik
Termasuk dalam tindakan kolaborasi dalam memberikan terapi sesuai

advis medis, dimana terapi yang diberikan dokter diharapkan dapat

menunjang penyembuhan klien yaitu diberikan terapi pada tanggal 07

Juni 2016 sampai 11 Juni 2016. Pemberian obat berupa injeksi

ceftriaxon 2x1gram intravena.


Pemeriksaan gula darah
Pemeriksaan ini penting untuk memastikan glukosa darah dalam

keadaan stabil. Pemeriksaan gula darah dilakukan setiap hari mulai

tanggal 07 Juni 2016 sampai 11 Juni 2016. pada tanggal 07 Juni 2016

dilakukan pemeriksaan gula darah dengan Glucometer dengan hasil

GDS 367 mg/dL, pada tanggal 08 Juni 2016 dilakukan test Gula

Darah Puasa (GDP) dan Gula Darah 2 jam Post Prodial (GD2PP)

dengan hasil GDP 290 mg/dL dan GD2PP 388 mg/dL, pada tanggal

09 Juni 2016 dilakukan pemeriksaan gula darah dengan Glucometer

dengan hasil GDS 457 mg/dL, kemudian pada tanggal 10 Juni 2016

hasil GDS pasien 244 mg/dL, dan terakhir pada tanggal 11 Juni 2016

hasil GDS terakhir pasien 199 mg/dL.

4.1.4 Deskripsi Masalah Setelah Tindakan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5 hari pada Ny. S,

pemenuhan kebutuhan kulit klien dapat terpenuhi dan tidak terjadi

kerusakan integritas kulit pada kaki.

Hari pertama kulit kaki klien masih kering dan kasar, turgor kurang

elastis, berwarna agak hitam, terdapat bekas luka pada telapak kaki sebelah

kiri yang sudah mengering dan terasa gatal, ibu jari kaki sebelah kiri

berbentuk seperti hammer toe/ jari palu. Perfusi jaringan perifer teraba

dingin, denyut nadi kaki terasa lemah, CRT >3 detik, kuku pendek-pendek

dan bersih. Pasien memahami penyebab rasa kemeng-kemeng dan

kesemutan pada kedua kakinya dikarenakan sirkulasi darah kearah kaki


berkurang, klien masih merasa lemas belum mampu berjalan, Pasien mampu

mendemonstrasikan cara memotong kuku yang benar dengan kikir, dan

mampu mendemonstrasikan pemberian lotion dengan bantuan perawat.

Hari kedua kulit kaki klien masih kering dan kasar, turgor kurang

elastis, berwarna agak hitam, terdapat bekas luka pada telapak kaki sebelah

kiri yang sudah mengering dan terasa gatal, pada kaki denyut nadi terasa

lemah, akral dingin, CRT >3 detik, kuku pendek-pendek dan bersih. pasien

masih merasa lemas dan belum mampu berjalan, pasien mampu mencegah

kerusakan kulit dengan tidak menggaruk kaki yang gatal, klien mampu

menjaga kelembapan kulit dengan memakai lotion dengan bantuan perawat.

Pasien belum mendemonstrasikan cara pemeriksaan kaki dengan benar

(melihat adanya luka/ tidak, kebersihan kaki, kelembapan kaki). Klien

mampu mendemonstrasikan cara menjaga kebersihan kaki dengan bantuan

perawat,

Hari ketiga kulit kaki klien sedikit lembab dan sedikit kasar, turgor

kurang elastis, berwarna agak hitam, bekas luka pada telapak kaki sebelah

kiri terlihat kering dan terasa gatal. Ibu jari kaki pasien sebelah kiri

berbentuk seperti hammer toe/ jari palu, pada kaki denyut nadi terasa lemah,

akral hangat, CRT >3 detik. Pasien mampu mendemonstrasikan cara

pemeriksaan kaki dengan benar. Klien mampu mendemonstrasikan cara

menjaga kebersihan kaki sesuai yang di contohkan perawat, klien mampu

menjaga kelembapan kulit dengan memakai lotion secara mandiri. Pasien

mampu mendemonstrasikan latihan senam kaki diabetik perlahan-lahan

semampu pasien dengan bantuan perawat.


Hari ke empat kulit kaki klien lembab dan tidak terlalu kasar, turgor

agak elastis, berwarna agak hitam, bekas luka pada telapak kaki sebelah kiri

terlihat kering, ibu jari kaki pasien sebelah kiri berbentuk seperti hamer toe/

jari palu, pada kaki denyut nadi teraba kuat dan regular, akral hangat, CRT

<3 detik.pasien sudah mampu berjalan ke kamar mandi dengan bantuan

keluarganya. Pasien mampu mencegah kerusakan kulit dengan tidak

menggaruk kaki yang gatal dan saat berjalan menggunakan alas kaki, klien

mampu menjaga kelembapan kulit dengan memakai lotion secara mandiri.

Pasien mampu mendemonstrasikan cara pemeriksaan kaki dengan benar,

mampu mendemonstrasikan cara menjaga kebersihan kaki sesuai yang di

contohkan perawat. Pasien mampu mendemonstrasikan latihan senam kaki

diabetik dengan melihat leaflet dan dengan bantuan perawat.

Hari kelima kulit kaki klien lembab dan tidak kasar, turgor elastis,

berwarna agak hitam, bekas luka pada telapak kaki sebelah kiri terlihat

kering dan tidak terasa gatal, ibu jari kaki pasien sebelah kiri berbentuk

seperti hamer toe/ jari palu, pada kaki denyut nadi teraba kuat dan regular,

akral hangat, CRT <3 detik, pada kakinya, keadaan kuku kaki klien pendek-

pendek dan tampak bersih. Kemeng-kemeng dan kesemutan pada kaki klien

sudah berkurang, Pasien mampu mendemonstrasikan cara perawatan kaki

yang benar yaitu dengan cara setiap hari mengoleskan lotion/ hand body di

kulit kaki klien yang kering, dan saat berjalan pasien menggunakan alas

kaki/ sandal, pasien mampu mendemonstrasikan cara pemeriksaan kaki

dengan benar dan mampu mendemonstrasikan cara menjaga kebersihan


kaki, pasien mampu mempraktekkan senam kaki diabetik secara mandiri

dengan melihat leaflet tentang latihan senam kaki diabetik

4.2 Pembahasan

Setelah mempelajari tinjauan pustaka dan melakukan penelitian pada

Ny. S dengan diagnosa medis Diabetes Mellitus yang mengalami masalah

resiko kerusakan integritas kulit, penulis membahas permasalahan yang

terjadi merujuk pada tinjauan pustaka dengan kasus yang ada.

4.2.1 Mengidentifikasi Karakteristik Masalah Resiko Kerusakan Integritas

Kulit pada Pasien Diabetes Mellitus

Saat pengkajian di dapatkan umur klien 60 tahun dan berdasarkan teori

menurut (Riyadi dan Sukarmin, 2008) diabetes sering muncul pada umur

lebih dari 40 tahun terlebih dengan overweight, hal itu berarti kalangan
umur 60 tahun juga beresiko terserang diabetes, dan saat pengkajian

dapatkan bapak klien juga menderita penyakit diabetes mellitus sedangkan

menurut teori Riyadi dan Sukarmin (2008) Diabetes dapat menurunkan

silsilah keluarga yang mengidap diabetes. Dengan demikian tidak ada

perbedaan yang jauh antara teori dan fakta sebab antara teori dan fakta di

lapangangan ada kesamaan yaitu klien umur 60 tahun sudah menderita

diabetes dan penyakit diabetes yang diderita klien diturunkan dari

bapaknya..

Keluhan utama saat pengkajian klien mengeluh badannya terasa

lemas, kedua kakinya terasa kemeng-kemeng dan terasa kesemutan, keadaan

tersebut sesuai dengan teori Riyadi dan Sukarmin (2008) pada keluhan

utama/ alasan MRS yaitu penderita biasanya datang dengan keluhan badan

terasa lemah, rasa kesemutan pada kaki atau tungkai bawah. Antara teori

dan fakta selaras di karenakan pada penderita diabetes mellitus akan

mengalami neuropati perifer yang menyebabkan sirkulasi darah kearah

ekstremitas bawah berkurang sehingga terjadi tanda gejala seperti tersebut.

Pada sistem integumen di dapatkan Turgor kulit menurun/ kurang

elastis, kulit pada kaki kering dan kasar, berwarna agak hitam, terdapat

bekas luka pada telapak kaki sebelah kiri yang sudah mengering dan terasa

gatal, penyebaran rambut pada kaki tidak merata. Kuku jari tangan dan kaki

klien panjang-panjang, kotor. Pada kaki denyut nadi terasa lemah, CRT >3

detik, akral dingin pada kaki. Hal ini sesuai dengan teori Tarwoto, (2012)

yang menyatakan pada system integument akan mengalami Kulit kering

(pada pasien yang mengalami diuresis osmosis dan dehidrasi) dan kasar
(terjadi pembongkaran lemak, protein, glikogen, otot untuk produksi

energi), rambut rontok pada kaki/ jari kaki, kemerahan, gatal-gatal pada

kulit, turgor menurun pada dehidrasi, akral dingin, adanya perubahan bentuk

tubuh jari yang menekuk, dan telapak kaki yang menonjol. Antara teori dan

fakta selaras dikarenakan pada penderita diabetes yang mengalami

hiperglikemi berkepanjangan akan menyebabkan angiopati diabetik dan

gangguan pada system saraf/ neuropati baik neuropati sensorik, motorik dan

autonom sehingga akan mengalami tanda gejala seperti tersebut.

4.2.2 Mengidentifikasi Upaya Pencegahan Kerusakan Integritas Kulit pada

Pasien Diabetes Mellitus

Berdasarkan kasus upaya pencegahan kerusakan integritas kulit pada Ny. S

dengan diabetes mellitus dilakukan tindakan:

1) Mengobservasi kebersihan kaki klien setiap hari, mengkaji keadaan

kuku klien apakah tampak sianosis, adanya pertumbuhan kuku kedalam

dan apakah ada infeksi pada kuku.


Tindakan tersebut sesuai menurut teori Tarwoto (2012) dimana untuk

mencegah kerusakan integritas kulit pada kaki diabetik perlu dilakukan

tindakan mengobservasi kebersihan kaki dan keadaan kuku klien apakah

tampak sianosis, adanya pertumbuhan kuku kedalam dan apakah ada

infeksi pada kuku.


2) Mengkaji integritas kulit pasien setiap hari apakah kering, kasar, adanya

kulit pecah-pecah, kaji warna kulit akan adanya kemerahan, adanya rasa

gatal, ada atau tidaknya ulserasi, dan dermatitis.


Hal tersebut sesuai dengan teori menurut Tarwoto (2012), dimana

efek pada autonomi neuropati penderita diabetes akan menyebabkan


kulit menjadi kering, tidak berkeringat (anhidrosis), kulit kasar, dan

pecah-pecah. Dengan adanya permasalahan autonomi neuropati diatas

memudahkan kulit pada penderita DM menjadi rusak dan akan

menyebabkan luka pada kulit sehingga perlu dilakukan observasi

integritas kulit setiap hari.


3) Mengkaji keadaan dan bentuk kaki setiap hari apakah ada bentuk kaki

charchot, cacat dan bentuk jari kaki seperti palu/ hammer toe, adanya

pembentukan kalus, mengkaji adanya edema pada kaki, dan apakah kaki

ada yang melepuh.


Menurut Tarwoto (2012) Neuropati motorik pada penderita

diabetes menyebabkan kelemahan otot dan atropi sehingga terjadi

perubahan bentuk kaki. Tekanan pada kaki yang berlebihan

menimbulkan kalus yang akan mudah menjadi luka dan edema pada

kaki juga akan mempermudah terjadinya luka. Sehingga mengobservasi

keadaan dan bentuk kaki pada penderita diabetes perlu dilakukan setiap

hari untuk mengetahui apakah ada bentuk kaki charchot, cacat dan

bentuk jari kaki seperti palu/ hammer toe, adanya pembentukan kalus,

adanya edema pada kaki, dan apakah kaki ada yang melepuh. Dalam

tindakan mengkaji keadaan dan bentuk kaki pada penderita diabetes

untuk mencegah kerusakn integritas kulit antara teori dan fakta selaras.
4) Mengkaji status sirkulasi vaskuler kaki setiap hari apakah suhu kaki

terasa dingin, saat palpasi nadi terasa kecil/ hilang, perubahan warna

kulit menjadi pucat/ kebiruan, dan sesansi, adanya sensasi nyeri atau

tidak saat di beri rangsangan.


Hal ini sesuai dengan teori menurut Tarwoto (2012), dimana

hiperglikemi yang berkepanjangan mengakibatkan perubahan struktur


pembuluh darah perifer (angiopati) yang mengakibatkan berkurangnya

suplai darah kearah distal khususnya ekstremitas bawah sehingga akan

didapatkan beberapa gejala meliputi suhu kaki terasa dingin, saat palpasi

nadi terasa kecil/ hilang, perubahan warna kulit menjadi pucat/ kebiruan,

dan tidak ada sesansi nyeri pada kaki sehingga kaki akan mudah terjadi

luka, oleh karena itu status sirkulasi vaskuler pada kaki diabetik harus di

observasi setiap hari untuk mencegah terjadinya luka.


5) Memberikan lotion pada pada kulit yang kering untuk menjaga

kelembapan kulit kaki, terutama pada tungkai kaki agar kulit tidak

pecah-pecah, dan turgor dapat kembali elastis.


Tindakan tersebut sesuai dengan teori menurut Tambunan (FKUI,

2007) dimana upaya peningkatan kemandirian perawatan kaki untuk

mencegah terjadinya luka pada pasien diabetes mellitus perlu dilakukan

tindakan memberikan pelembab/lotion pada daerah kaki yang kering,

tetapi tidak pada sela-sela jari kaki. Yang berguna untuk menjaga agar

kulit tidak kering dan tidak retak/ pecah-pecah.


6) Mengajarkan pasien untuk memotong kuku jika panjang dengan kikir,

potong kuku secara lurus tidak terlalu pendek atau terlalu dengan kulit,

ratakan bagian ujung kuku dengan kikir, bila kuku keras sulit untuk

dipotong, rendam kaki dengan air hangat selama 2 menit.. Pertama kali

perawat mencontohkan cara memotong kuku yang benar pada pasien

dan keluarga, kemudian menyuruh pasien untuk mempraktekkannya.


Tindakan tersebut sesuai dengan teori menurut Tambunan (FKUI,

2007) dimana upaya peningkatan kemandirian perawatan kaki untuk

mencegah terjadinya luka pada pasien diabetes mellitus perlu dilakukan

tindakan memotong kuku kaki lurus mengikuti bentuk normal jari kaki,
tidak terlalu pendek atau terlalu dengan kulit, kemudian kikir agar kuku

tidak tajam. Bila penglihatan kurang baik minta pertolongan orang lain

untuk memotong kuku atau mengikir kuku. Bila kuku keras sulit untuk

dipotong, rendam kaki dengan air hangat selama 2 menit. Sedangkan

menurut R.A (2012) kejadian luka infeksi pada jaringan sekitar kuku

yang sering disebabkan adanya pertumbuhan kuku yang salah.Keadaan

ini disebabkan oleh perawatan kuku yang tidak tepat misalnya

pemotongan kuku yang salah (seperti terlalu pendek atau miring) dan

kebiasan mencungkil kuku yang kotor. Dalam tindakan menganjurkan

pasien untuk memotong kuku dengan benar untuk mencegah kerusakn

integritas kulit antara teori dan fakta selaras.


7) Mengajarkan pasien untuk melakukan latihan senam kaki diabetes.

Dengan memberikan contoh langkah-langkah melakukan senam kaki

serta memperlihatkan video senam kaki diabetes dan menyuruh pasien

untuk mempraktekkannya.
Menurut Tambunan (FKUI, 2007). Kaki diabetes mengalami

gangguan sirkulasi darah dan neuropati dianjurkan untuk melakukan

latihan jasmani atau senam kaki sesuai dengan kondisi dan kemampuan

tubuh. Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan

memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan

bentuk kaki (deformitas).Selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot

betis dan otot paha. Latihan senam kaki dapat di lakukan dengan posisi

berdiri, duduk dan tidur, dengan cara menggerakkan kaki dan sendi-

sendi kaki misalnya dengan kedua tumit di angkat, mengangkat kaki dan

menurunkan kaki. Gerakan dapat berupa gerakkan menekuk,


meluruskan, mengangkat, memutar keluar atau ke dalam dan

mencengkram pada jari-jari kaki. Berdasarkan tindakan mengajarkan

pasien untuk melakukan latihan senam kaki diabetik antara teori dan

fakta selaras.
8) Mengajarkan pasien cara menjaga kebersihan kulit kaki dengan mencuci

kaki dengan sabun pH rendah, dan mengeringkan kaki dengan handuk

yang lembut terutama di sela-sela jari kaki setelah terkena air.


Tindakan tersebut sesuai dengan teori menurut Tambunan (FKUI,

2007) dimana untuk mencegah kerusakan integritas kulit pada kaki

diabetik perlu dilakukan tindakan menjaga kebersihan kulit kaki dengan

mencuci kaki dengan sabun pH rendah, dan mengeringkan kaki dengan

handuk yang lembut terutama di sela-sela jari kaki setelah terkena air.
Tindakan tersebut perlu dilakukan setiap hari untuk menjaga

kebersihan kulit agar tidak terjadi luka.


9) Mengajurkan pasien untuk menggunakan alas kaki saat beraktifitas, saat

keluar rumah, dan saat berjalan, Pakai sepatu yang pas dan kaus kaki

yang bersih, hindari pemakaian kaos kaki yang ketat.


Hal ini sesuai dengan teori menurut Tambunan (FKUI, 2007)

dimana untuk mencegah kerusakan integritas kulit pada kaki diabetik

perlu dilakukan tindakan menganjurkan memakai alas kaki sepatu atau

sandal untuk melindungi kaki agar tidak terjadi luka, di dalam maupun

di luar rumah. Gunakan sepatu atau sandal yang baik yang sesuai

dengan ukuran dan enak untuk dipakai, dengan ruang dalam sepatu yang

cukup untuk jari-jari. Pakailah kaus kaki/ stocking yang pas dan bersih

terbuat dari bahan yang mengandung katun. Periksa sepatu sebelum

dipakai, apakah ada krikil, benda-benda tajam seperti jarum dan duri.

Lepas sepatu setiap 4-6 jam serta gerakkan pergelanganan dan jari-jari
kaki agar sirkulasi darah tetap baik terutama pada pemakaian sepatu

baru.
10) Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemeriksaan kadar gula

darah, dan pemberian insulin dan pemberian antibiotik.


Memberikan terapi antibiotic injeksi ceftriaxon 2x1 gram intravena

(antibiotik), pemberian terapi insulin terapi yang diberikan injeksi

Novorapid 3x10 ui. Pemeriksaan gula darah dilakukan setiap hari. Hal

tersebut sesuai dengan teori menurut Doenges dalam Riyadi dan

Sukarmin (2008) yaitu melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam

pemeriksaan gula darah, pemberian insulin dan pemberian antibiotic.


Pada klien antibiotik yang diberikan pada tanggal 07-11 Juni 2016

yaitu ceftriaxon 2x1 gram. Dimana ceftriaxon adalah antibiotik

golongan sefalosporin spektrum luas semisintetik yang diberikan secara

IV atau IM. Dengan indikasi untuk infeksi-infeksi yang di sebabkan oleh

patogen yang sensitif terhadap ceftriaxon seperti: infeksi saluran nafas,

infeksi THT, infeksi saluran kemih, sepsis, meningitis, infeksi tulang,

sendi dan jaringan lunak, infeksi intra abdomen, infeksi genitalia

(termasuk gonore), profilaksis perioperatif, dan infeksi pasien dengan

gangguan pertahanan tubuh (ISO, 2010). Dalam upaya pemberian

antibiotik tersebut teori dan fakta selaras.

4.2.3 Mengevaluasi Hasil Upaya Pencegahan Kerusakan Integritas Kulit

pada Pasien Diabetes Mellitus


Hasil evaluasi yang telah dilakukan adalah kulit kaki klien lembab dan

tidak kasar, turgor elastis, pada kaki denyut nadi teraba kuat dan regular,

akral hangat, CRT <3 detik, keadaan kuku kaki klien pendek-pendek dan

bersih, klien mampu melindungi kulit dari cedera dan mampu menjaga

kelembapan kulit dengan setiap hari klien mengoleskan lotion/ hand body di

kulit kaki yang kering, saat berjalan pasien selalu menggunakan alas kaki/

sandal. Pasien mampu mendemonstrasikan cara pemeriksaan kaki yang

benar, cara menjaga kebersihan kaki dan mampu mendemonstrasika

penatalaksanaan senam kaki diabetik. Dan hasil dari GDS terakhir klien 199

mg/dL.

Evaluasi pada klien diabetes mellitus setelah dilakukan tindakan

keperawatan yang sudah direncanakan sesuai teori menurut Tarwoto (2012)

dapat disimpulkan bahwa tujuan dan kriteria hasil tercapai, jika memenuhi

kriteria hasil sebagai berikut: integritas kulit yang baik dapat dipertahankan,

perfusi jaringan baik yang dapat ditunjukkan dengan hasil nadi perifer

teraba kuat dan regular, warna kulit tidak pucat/ sianosis, Mampu

menjelaskan pencegahan terjadinya kerusakan kulit (mengerti cara

pemeriksaan kaki yang benar, mengerti pelaksanaan senam kaki). Mampu

melindungi kulit dari cedera dan mempertahankan kelembaban kulit

(memakai alas kaki saat beraktivitas, memotong kuku dengan kikir,

memakai lotion dan menjaga kebersihan kaki), Kebersihan kulit baik,

keadaan kaki dan kuku baik dan utuh (tidak ada luka pada kaki, kuku bersih,

tidak ada tanda infeksi pada kuku), Klien dapat menunjukkan perbaikkan
status metabolik yang dibuktikan oleh gula darah terkontrol/ dalam batas

normal.

Antara fakta dan teori tidak ada kesenjangan, hal ini membuktikan

tindakan yang telah dilakukan memberikan perkembangan yang baik bagi

klien. Selain itu, keadaan klien yang semakin membaik, dan kerusakan

integritas kulit dapat dicegah.