Anda di halaman 1dari 11

KEPRIBADIAN YANG SABAR

KEPRIBADIAN DAN MACAM-MACAMNYA

1. Pengertian Kepribadian
Kepribadian (personality) bukan sebagai bakat kodrati, melainkan terbentuk oleh proses
sosialisasi. Kepribadian merupakan kecenderungan psikologis seseorang untuk melakukan
tingkah laku social tertentu, baik berupa perasaan, berpikir, bersikap, dan berkehendak maupun
perbuatan. Definisi kepribadian menurut beberapa ahli antara lain sebagai berikut :
a. Yinger
Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan system
kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian instruksi.
b. M.A.W Bouwer
Kepribadian adalah corak tingkah laku social yang meliputi corak kekuatan, dorongan,
keinginan, opini dan sikap-sikap seseorang.
c. Cuber
Kepribadian adalah gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat
oleh seseorang.
d. Theodore R. Newcombe
Kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang
terhadap perilaku.
e. Koentjaraningrat
kepribadian adalah suatu susunan dari unsure-unsur akal dan jiwa yang menentukan
tingkah laku atau tindakan seseorang.
f. Roucek dan Warren
kepribadian adalah organisasi factor-faktor biologis psikologis dan sosiologis yang
mendasari prilaku seseorang
g. Sigmund freud
menyatakan bahwa kepribadian merupakan suatu struktur yang terdiri dari tiga system
yakni id, ego, dan super ego.

h. Gordon Allport
menyatakan bahwa kepribadian merupakan suatu organisasi yang dinamis dari system
psikopisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kepribadian adalah karakteristik atau ciri
khas dari setiap individu yang dapat diketahui melalui pengamatan terhadap perilakunya.
2. Macam-macam Kepribadian
A. Menurut Paul Gunadi
Pada umumnya terdapat lima penggolongan kepribadian yang sering dikenal dalam kehidupan
sehari-hari yaitu sebagai berikut:
1. Sanguin
Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri-ciri antara lain: memiliki banyak kekuatan,
bersemangat, mempunyai gairah hidup, dapat membuat lingkungannya gembira dan senang.
Akan tetapi tipe ini pun memiliki kelemahan antara lain: cenderbertindak sesuai emosi atau
keinginannya.
2. Flegmatik
Sesoeorang yang termasuk tipe ini memiliki cirri-ciri antara lain: cenderung tenang, gejolak
emosinya tidak tampak, misalnya dalam kondisi sedih atau senang, sehingga turun naik
emosinya tidak terlihat secara jelas. Orang bertipe seperti ini memiliki kelemahan antara lain:
ada kecenderungan untuk mengambil mudahnya dan tidak mau susah.
3. Melankolik
Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri antara lain: terobsesi dengan karyanya yang
paling bagus atau paling sempurna, mengerti estetika keindahan hidup, perasaannya sangat kuat
dan sangat sensitive. Orang yang bertipe seperti ini memiliki kelemahan antara lain: sangat
mudah dikuasai oleh perasaan dan cenderung perasaan yang mendasari kehidupannya sehari-hari
adalah perasaan yang murung.
4. Kolerik
Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri antara lain: cenderung berorientasi pada
pekerjaan dan tugas, mempunyai disiplin kerja yang sangat tinggi, mampu melaksanakan tugas
dengan setian dan tanggung jawab atas tugas yang di embannya. Orang yang bertipe ini memiliki
kelemahan antara lain: kurang mampu merasakan perasaan orang lain, kurang mampu
mengembangkan rasa kasihan pada orang yang sedang menderita dan perasaannya kurang
bermain.
5. Asertif
Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri antara lain: mampu menyatakan pendapat, ide,
dan gagasannya secara tegas, kritis, tetapi perasaannya halus sehingga tidak menyakiti perasaan
orang lain. Kelemahannya antara lain: tidak banyak ditemukan (tipe ideal)

B. Menurut Eysenck 1964 (dalam Buchori 1982) menyatakan


Tipe kepribadian dibagi menjadi tiga, yaitu:

1. Ekstrovert
dicirikan dengan sifat sosiabilitas, bersahabat, menikmati kegembiraan, aktif bicara,
menyenangkan, spontan, ramah, sering ambil bagian dalam aktivitas sosial.
2. Introvert
dicirikan dengan sifat pemalu, suka menyendiri, mempunyai kontrol diri yang baik.
3. Neurosis
dicirikan dengan pencemas, pemurung, tegang, bahkan kadang-kadang disertai dengan simptom
fisik seperti keringat, pucat, dan gugup.

C. Tipe-tipe gaya kepribadian


Menurut (2005) membagi tipe gaya kepribadian ke dalam 12 tipe kepribadian, y aitu sebagai
berikut :
1. Kepribadian yang Mudah Menyesuaikan Diri
Orang tersebut sadar tentang penyesuaian diri dengan orang lain, komunikatif dan bertanggung
jawab, ramah, santun, dan memperhatikan perasaan orang lain, dan jarang sangat agresif.
Kepribadian ini suka pada yang modern, peka terhadap apa yang terjadi hari ini dan senang
menaruh perhatian banyak hal.
2. Kepribadian yang Berambisi
Seseorang dengan gaya kepribadian yang berambisi adalah orang yang memang benar-benar
penuh ambisi terhadap semua hal. Dia menyambut baik tantangan dan berkompetisi dengan
senang hati dan sengaja.
3. Kepribadian yang Mempengaruhi
Seseorang dengan gaya kepribadian yang mempengaruhi adalah seseorang yang terorganisasi
dan berpengatuhan cukup yang memancarkan kepercayaan, dedikasi, dan berdikari.
4. Kepribadian yang Berprestasi
Seseorang dengan gaya kepribadian berprestasi adalah orang yang menghendaki kesempatan
untuk bermain dengan baik dan cemerlang, jika mungkin untuk mempesonakan yang lain agar
mendapatkan sambutan baik, kasih sayang dan tepuk tangan orang lain, dalam hal ini berarti
menerima kehormatan.
5. Kepribadian yang Idealistis
Seseorang dengan gaya kepribadian yang idealistis adalah orang yang melihat hidup ini dengan 2
cara yakni, hidup sebagaimana adanya dan hidup sebagaimana seharusnya menurut
kepercayaannya.
6. Kepribadian yang Sabar
Kepribadian yang sabar adalah orang yang memang sabar (hampir tidak pernah putus asa),
ramah tamah dan rendah hati. Dia menghargai kepercayaan, kebenaran, dan slalu penuh harapan.
7. Kepribadian yang Mendahului
Kepribadian yang mendahului adalah orang yang menjunjung tinggi kualitas dan mengerti
kualitas.
8. Kepribadian yang Perseptif
Kepribadian yang perseptif adalah orang yang cepat tanggap terhadap rasa sakit dan kekurangan,
bukan hanya yang dialaminya sendiri, tetapi juga yang dialami orang lain, sekalipun orang itu
asing.
9. Kepribadian yang Peka
Kepribadian yang peka adalah orang yang suka termenung, berinstrospeksi, dan sangat peka
terhadap suasana jiwa dan sifat-sifatnya sendiri, perasaaan dan fikirannya.
10. Kepribadian yang Berketetapan
Kepribadian yang berketetapan adalah orang yang menekankan pada tiga hal sebagai landasan
dari gaya kepribadiannya, yaitu kebenaran, tanggung jawab, dan kehormatan.
11. Kepribadian yang ulet
Kepribadian yang ulet adalah orang yang memandang hidup sebagai suatu perjalanan. Setiap hari
dia melangkah maju diatas jalan hidup umum dengan harapan besar mampu mewujudkan
harapan dan cita-citanya.
12. Kepribadian yang berhati-hati
Kepribadian yang berhati-hati adalah orang yang yang terorganisasi, teliti, berhati-hati, tuntas,
dan senantiasa mencoba menunaikan kewajibannya secara social dalam pekerjaan sebagai warga
Negara atau yang ada hubungannya dengan masalah-masalah keuangan

PENGERTIAN SABAR
1. Pengertian
Secara etimologis, sabar berasal dari bahasa Arab, shabara, shbara yang arti dasarnya
menahan (al-habs), seperti habs al-hayawan (mengurung hewan), menahan diri,dan
mengendalikan jiwa.
Secara istilah, definisi sabar adalah : Menahan diri dalam melakukan sesuatu atau
meninggalkan sesuatu untuk mencari keridhaan Allah.
Sabar dalam pengertian lughawi (bahasa) adalah menahan atau bertahan. Jadi, Sabar
adalah menahan diri dari rasa gelisah, cemas, marah, menahan lidah, dari keluh kesah serta
menahan anggota tubuh dari kekacauan.
Secara psikologi, sabar disebut dengan kontrol diri. Yaitu menjaga dan menahan emosi
dalam menghadapi suatu keadaan.
Pengertian sabar menurut beberapa ahli :
1. Calhoun dan Acocella
pengaturan proses-proses fisik, psikologis, dan perilaku seseorang; dengan kata lain serangkaian
proses yang membentuk dirinya sendiri.
2. Goldfried dan Merbaum (dalam Lazarus, 1976)
suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku
yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif.
3. Bandura dan Mischel
kemampuan individu dalam merespon suatu situasi.
4. Hurlock (1984)
bagaimana individu mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan yang terdapat dalam dirinya.
Jadi kesimpulannya, sabar adalah menerima apa yang diberikan Allah baik yang berupa nikmat
maupun penderitaan..
2. Penjelasan sabar menurut kajian Ilmu psikologi
Kesabaran merupakan sesuatu yang berkembang menuju kesempurnaan. Secara psikologis,
tingkat perkembangan orang sabar dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1) Orang yang sanggup meninggalkan dorongan sahwat. Mereka termasuk katagori orang-orang
yang bertaubat (al-taibin).
2) Orang yang ridha (senang atau puas) menerima apaun yang ia terima dari Tuhan, mereka
termasuk katagori zahid.
3) Orang yang mencintai apa pun yang diperbuat Tuhan untuk dirinya, mereka termasuk katagori
shiddiqin.
Dalam kaitannya dengan psikologi, sabar (kontrol diri) dapat digambarkan juga dengan
teori dari Psikoanalisis Sigmund Freud dan dianalogikan sebagai super ego . Seperti yang kita
ketahui bersama teori Psikoanalisis Freud menjelaskan mengenai tiga aspek pemunculan
perilaku, diantaranya : id, ego, superego.
Walaupun pengertian sabar mencakup hal yang lebih luas, sabar dapat dikatakan salah satu
bentuk perilaku pertahanan diri. Namun sabar memiliki karakter yang berbeda dengan respons
pertahanan psikologis pada umumnya. Sabar merupakan respons positif dari masalah yang
dihadapi seseorang. Orang yang sabar mampu mengumpulkan sumber daya yang ia miliki
sehingga ia memiliki kekuatan atau daya tahan dalam menghadapi masalah. Orang yang sabar
mampu mencegah atau menahan diri dari tindakan yang keliru dalam memecahkan masalah atau
tekanan yang ia hadapi. Sabar merupakan mekanisme yang baik dari reaksi pertahan psikologis,
yang tidak terlepas dari dimensi spiritual.
Bagi orang-orang yang tidak memiliki ketahanan diri dalam bentuk kesabaran, maka
kesedihan dan kemarahan yang timbul akan sangat tidak terkendali, sehingga bisa merusak diri
sendiri, bahkan orang lain. Dalam keadaan seperti itulah kesabaran tidak lain sebagai mekanisme
ketahanan diri yang sangat anggun, dimana potensi kesedihan dan kemarahan (hawa nafsu)
dikendalikan secara efektif. Kemampuan inilah yang membedakan sekaligus mengistimewakan
manusia, seperti kata Al-Ghazali, dari mahluk Allah yang lain (hewan).
Dalam hidup keseharian, sabar biasanya hanya dipersepsi sebagai sikap menghidari
ketegasan, yakni bertindak secara berhati-hati yang identik dengan tindakan yang dilakukan
perlahan-lahan. Biasa juga diasosiasikan dengan sikap sanggup menunggu, dengan kata lain,
akomodatif terhadap dimensi waktu.
Dalam menerangkan psikoanalisisnya tentang sabar, Freud menjelaskan tiga dimensi
psikologi manusia yaitu, Id, Ego, Superego. Freud menjelaskan superego sebagai suatu sistem
nilai hati nurani individu. Superego bukanlah bawaan sejak lahir, tetapi ia dipelajari karena ia
berhubungan dan berkaitan kepada kebudayaan (peradaban), sedangkan Id adalah bawaan sejak
lahir, dengan beberapa proses terjadi pada tingkatan yang tidak disadari. Dan dimensi ketiga dari
stuktur kepribadian manuusia adalah ego, yaitu sebagai mediator (pendamaian) terhadap
superego dan Id.

Pada bagian inti dari kepribadian manusia tentang sabar yang sepenuh nya tak disadari
adalah wilayah psikis yang disebut sebagai id, yaitu istilah yang diambil dari dari kata ganti
untuk sesuatu atau itu (the it) atau komponen yang tak sepenuhnya diakui oleh kepribadian
sabar seseorang. Id tidak punya kontak dengan cara memuaskan hasrat-hasrat dasar. Ini
dikarenakan satu-satunya fungsi id adalah untuk memperoleh kepuasan dalam bersabar sehingga
kita menyebutnya sebagai prinsip kesenangan (pleasure principle).
Menurut Freud, id merupakan bagian aspek kepribadian instingtif yang bersumber dari
energi fisikal atas dasar prinsip kesenangan. Id dalam pemahaman Freud merupakan bagian dari
naluri primitif, bagian bawah sadar manusia. Id mempunyai muatan yang berisikan dorongan-
dorongan yang paling dasar dari keperibadian manusia. Id adalah kumpulan ketaksadaran yang
bersifat impulsif dan mendorong ekspresi dan tarik-menarik tanpa memperdulikan apa akibatnya,
tanpa pertimbangan pemikiran yang berarti.
Oleh karena sifatnya yang tidak realistis dan mencari kesenangan, id ini tidak logis
maupun memuaskan pikiran-pikiran yang saling bertentangan satu dengan yang lainnya. Seluruh
energi id dicurahkan demi satu tujuan semata-mencari kesenanagan tanpa peduli dampak
kesenangan tersesebut sesuai atau tidak untuk ditampilkan. Id mempunyai wilayah yang primitif,
kacau balau, dan tak terjangkau oleh alam sadar. Dalam id juga tidak bisa diubah, amoral, tidak
logis, tak bisa diatur, dan penuh energi yang datang dari dorongan-dorongan dasar serta
dicurahkan semata-semata untuk memuaskan prinsip kesenangan.
Sebagai wilayah bagi dorongan-dorongan dasar (dorongan utama), id beroprasi
berdasarkan proses pertama (primary process). Oleh karena id menggunakan kacamata kuda
dalam upayanya memenuhi prinsip kesenangan , maka id bertahan dengan cara bergantung pada
pengembangan proses sekunder (secondary process), yang membuat dapat berhubung dengan
dunia luar. Fungsi proses sekunder ini dijalankan oleh ego.

Ego
Ego, atau saya, adalah satu-satunya wilayah pikiran yang memiliki kontak dengan relita.
Ego dikendalikan oleh prinsip kenyataan (reality principle), yang berusaha menggantikan prinsip
kesenangan milik id. Sebagai satu-satunya wilayah dari pikiran yang berhubungan dengan dunia
luar, maja ego pun mengambil peran eksekutif atau pengambilan keputusan dari kepribadian.
Sumber energi ego berasal dari id. Dalam perkembangan selanjutnya, ego akan bediri
sendiri, terpisah dari id, tetapi sumber energinya tetap berasal dari id. Fungsi utama ego adalah
menghadapi realitas dan menerjemahkan untuk id. Oleh karena itu, dikatakan bahwa ego
berfungsi atas dasar prinsip realitas (reality principle).
Superego
Dalam psikologi Freudian, superego mewakili aspek-aspek moral dan ideal dari
kepribadian serta dikendalikan oleh prinsip-prinsip moralitas dan idealis yang berbeda dengan
prinsip kesenangan dari id dan prinsip realitis dari ego.
Superego memiliki dua substem yaitu, suara hati dan ego ideal. Frued tidak membedakan
kedua fungsi ini secara jelas, tetapi secara umum, suara hati lahir dar pengalaman-pengalaman
mendapatkan hukuman atas prilaku yang tidak pantas dan mengajari kita tentang hal-hal yang
sebaliknya tidak dilakukan, sedangkan ego ideal dengan berkembang dari pengalaman
mendapatkan imbalan atas perilaku yang tepat dan mengarahkan kita pada hal-hal yang
sebaliknya dilakukan.
3. Fungsi dan tujuan sabar
Fungsi:
Secara psikologi sabar dapat membantu seseorang dalam melatih kemampuan seseorang
untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di
sekitarnya yang sering disebut dengan kecerdasan emosi (eQ). Karena dengan sabar maka
seseorang akan mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap
emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain tidak secara emosional,
serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.
4. Hadis Yang menjelaskan Sabar
Selain sebagai alat untuk melatih kecerdasan emosi, sabar juga sangat di anjurkan oleh
agama untuk mendapat pahala dari Allah SWT seperti yang di jelaskan dalam suatu hadist :


Sesungguhnya Allah pernah berfirman. Apabila Aku uji hamba-Ku pada kedua anggota
yang disayanginya, lalu ia bersabar, niscaya aku menggantikan keduanya dengan surga.
(HR Imam Bukhari 5653).
Tujuan :
Dalam psikologi, sabar sering disebut sebagai kontrol diri dan tujuan dari kontrol diri
adalah untuk menahan diri dan tindakan luapan emosi, untuk mengendalikan perilaku,
kecenderungan menarik perhatian, keinginan mengubah perilaku agar sesuai untuk orang lain,
menyenangkan orang lain, selalu nyaman dengan orang lain, dan menutupi perasaannya.
Sedangkan tujuan sabar secara agama adalah Untuk mencapai kemenangan di dunia dan
kebahagaiaan di akhirat. Yang mana perbedaannya, kontrol diri diarahkan pada urusan
keduniawian, sedangkan sabar selain keduniawian juga untuk kehidupan akhirat individu.
Sedangkan persamaannya, Sama-sama mengarah pada hal-hal yang bersifat positif, seperti
ketentraman ataupun kebahagiaan hidup.

.

Allah SWT telah berfirman, Bagi hamba-Ku yang mukmin, apabila aku mengambil orang yang
disayanginya dari kalangan penduduk dunia, kemudian dia bersabar karena mengharapkan
pahala Allah, maka tiada lain baginya disisi-Ku kecuali surga.
(HR Imam Bukhari 6424)
5. Ayat Al-Quran Yang Menjelaskan Tentang Sabar

Surat Ali- imran Ayat 200:



Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian,
dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertaqwalah kepada Allah
supaya kalian beruntung.
Surah Ali Imran ini dan penafsirannya sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam
tafsirnya.
Mengenai firman Allah yang artinya, Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah
kesabaran itu dan kokohlah. Hasan al-Bashri berkata, Mereka diperintahkan untuk bersabar
dalam menjalankan agama mereka yang diridhai Allah, yaitu agama Islam. Mereka tidak
memohon kepada Allah, hanya untuk mendapat kebaikan dan menolak kemudaratan; untuk
menolak kesulitan dan meraih kesejahteraan. Mereka terus memohon kepada-Nya hingga
meninggal dalam keadaan beragama Islam. Hendaklah mereka juga bersabar dalam menghadapi
musuh yang menyembunyikan agamanya. Demikianlah penafsiran yang diberikan oleh banyak
ulama salaf.
Sabar bukanlah sesutu yang harus diterima seadanya, bahkan sabar adalah prosedur
kesungguhan yang merupakan sifat Tuhan yang sangat mulia dan tinggi. Sabar adalah menahan
diri dalam memikul suatu penderitaan, baik suatu urusan yang tidak diinginkan maupun dalam
kehilangan sesuatu yang disenangi.[12]
Sabar merupakan sikap jiwa yang ditampilkan dalam penerimaan sesuatu, baik berkenaan
dengan penerimaan tugas dalam bentuk perintah dan larangan, maupun dalam bentuk perilakuan
orang lain, serta sikap menghadapi suatu musibah.
Sabar merupakan sifat yang secara holistik yang harus dimemiliki oleh orang muslim.
Sabar sendiri tidak mengenal bentuk ancaman dan ujian; seorang muslim mestinya berada dalam
ketabahan dan kesabaran yang utuh.
Menurut syeikh Ibnu Qoyyim Al-jauziyah, bahwa sabar merupakan budi pekerti yang
bisa dibentuk oleh seseorang. Ia menahan nafsu, Menahan sedih, menahan jiwa dari kemarahan,
menahan lidah dari merintih kesakitan, dan juga menahan anggota badan dari melakukan yang
tidak pantas. Sabar merupakan ketegaran hati terhadap takdir dan hukum-hukum syariat.
Terkadang kita meyakini bahwa kesabaran mempunyai titik batas sehingga kalau sudah
melebihi batasnya manusia boleh melakukan apapun. Tapi bukan seperti ini tujuannya, semua
yang telah kita kerjakan harus kembali kepada Allah SWT sebagai dasar atas segala perilaku
yang kita kerjakan. Hal ini dapat memberikan nilai positif bagi diri kita sendiri, karena segala
sesuatu yang kita kerjakan atas nama Allah SWT pasti yang dikerjakan akan mengarah kepada
yang baik. Sikap sabar juga merupakan sikap dasar dari ciri-ciri orang yang bertaqwa.[14]
Surat Al-Baqarah (2:153)



Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya
Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al- Baqarah: 153)
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu
sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa
mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Al Baqarah:
45-46)
Keutamaan sifat iffah dan sabar
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.: Bahwa sebagian orang Ansar meminta kepada
Rasulullah saw., maka beliau memberi mereka. Kemudian mereka meminta lagi, beliau pun
memberi mereka, sampai ketika telah habis sesuatu yang ada pada beliau, beliau bersabda:
Apapun kebaikan yang ada padaku, maka aku tidak akan menyembunyikannya dari kalian.
Barang siapa menjaga kehormatan diri, maka Allah akan menjaga kehormatan dirinya. Barang
siapa yang merasa cukup, maka Allah akan mencukupinya. Barang siapa yang bersabar, maka
Allah akan membuatnya sabar. Seseorang tidak diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih
luas daripada kesabaran.( HR.MUSLIM No:1745 )
Ibnu Katsir menjelaskan satu prinsip dan kaidah dalam memahami Al Quran
berdasarkan ayat ini bahwa meskipun ayat ini bersifat khusus ditujukan kepada Bani Israel
karena konteks ayat sebelum dan sesudahnya ditujukan kepada mereka, namun secara esensi
bersifat umum ditujukan untuk mereka dan selain mereka. Bahkan setiap ayat Al Quran,
langsung atau tidak langsung sesungguhnya lebih diarahkan kepada orang-orang yang beriman,
karena hanya mereka yang mau dan siap menerima pelajaran dan petunjuk apapun dari
Kitabullah. Maka peristiwa yang diceritakan Allah Taala tentang Bani Israil, terkandung di
dalamnya perintah agar orang-orang yang beriman mengambil pelajaran dari peristiwa yang
dialami mereka. Begitulah kaidah dalam setiap ayat Al Quran sehingga kita bisa mengambil
bagian dari setiap ayat Allah subhanahu wa taala. Al Ibratu bi Umumil Lafzhi La bi Khusus
Sabab. Yang harus dijadikan dasar pedoman dalam memahami Al Quran adalah umumnya
lafazh, bukan khususnya sebab atau peristiwa yang melatarbelakanginya.
Perintah dalam ayat di atas sekaligus merupakan solusi agar umat secara kolektif bisa
mengatasi dengan baik segala kesulitan dan problematika yang datang silih berganti. Sehingga
melalui ayat ini, Allah memerintahkan agar kita memohon pertolongan kepada-Nya dengan
senantiasa mengedepankan sikap sabar dan menjaga shalat dengan istiqamah. Kedua hal ini
merupakan sarana meminta tolong yang terbaik ketika menghadapi berbagai kesulitan.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam selaku uswah hasanah, telah memberi contoh yang
konkrit dalam mengamalkan ayat ini. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Ahmad dijelaskan bahwa, Sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam apabila
menghadapi suatu persoalan, beliau segera mengerjakan shalat.
Huzaifah bin Yaman menuturkan, Pada malam berlangsungnya perang Ahzab, saya
menemui Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, sementara beliau sedang shalat seraya
menutup tubuhnya dengan jubah. Bila beliau menghadapi persoalan, maka beliau akan
mengerjakan shalat. Bahkan Ali bin Abi Thalib menuturkan keadaan Rasulullah shalallahu
alaihi wa sallam pada perang Badar, Pada malam berlangsungnya perang Badar, semua kami
tertidur kecuali Rasulullah, beliau shalat dan berdoa sampai pagi.[15]
Dalam riwayat Ibnu Jarir dijelaskan bagaimana pemahaman sekaligus pengamalan
sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam terhadap ayat ini. Diriwayatkan bahwa ketika
Ibnu Abbas melakukan perjalanan, kemudian sampailah berita tentang kematian saudaranya
Qatsum, ia langsung menghentikan kendaraanya dan segera mengerjakan shalat dua rakaat
dengan melamakan duduk. Kemudian ia bangkit dan menuju kendaraannya sambil membaca,
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu
sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu.
Secara khusus untuk orang-orang yang beriman, perintah menjadikan sabar dan shalat
sebagai penolong ditempatkan dalam rangkaian perintah dzikir dan syukur. Karena itu, ingatlah
kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepadaku dan janganlah
kamu mengingkari (nikmat)Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat
sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala senantiasa bersama dengan
orang-orang yang sabar. (Al Baqarah: 152-153). Dalam kaitan dengan dzikir, menjadikan sabar
dan shalat sebagai penolong adalah dzikir. Siapa yang berdzikir atau mengingat Allah dengan
sabar, maka Allah akan mengingatnya dengan rahmat.
Masih dalam konteks orang yang beriman, sikap sabar yang harus selalu diwujudkan
adalah dalam rangka menjalankan perintah-perintah Allah Taala, karena beban berat yang
ditanggungnya akan terasa ringan jika diiringi dengan sabar dan shalat. Ibnul Qayyim
mengkategorikan sabar dalam rangka menjalankan perintah Allah Taala termasuk sabar yang
paling tinggi nilainya dibandingkan dengan sabar dalam menghadapi musibah dan persoalan
hidup.
Syaikh Said Hawwa menjelaskan dalam tafsirnya, Al Asas fit Tafasir kenapa sabar dan
shalat sangat tepat untuk dijadikan sarana meminta pertolongan kepada Allah Taala. Beliau
mengungkapkan bahwa sabar dapat mendatangkan berbagai kebaikan, sedangkan shalat dapat
mencegah dari berbagai perilaku keji dan munkar, disamping juga shalat dapat memberi
ketenangan dan kedamaian hati. Keduanya (sabar dan shalat) digandengkan dalam kedua ayat
tersebut dan tidak dipisahkan, karena sabar tidak sempurna tanpa shalat, demikian juga shalat
tidak sempurna tanpa diiringi dengan kesabaran. Mengerjakan shalat dengan sempurna menuntut
kesabaran dan kesabaran dapat terlihat dalam shalat seseorang.
Lebih rinci, Syaikh Said Hawwa menjelaskan sarana lain yang terkait dengan sabar dan
shalat yang bisa dijadikan penolong. Puasa termasuk ke dalam perintah meminta tolong dengan
kesabaran karena puasa adalah separuh dari kesabaran. Sedangkan membaca Al Fatihah dan doa
termasuk ke dalam perintah untuk meminta tolong dengan shalat karena Al Fatihah itu
merupakan bagian dari shalat, begitu juga dengan doa.
Memohon pertolongan hanya kepada Allah merupakan ikrar yang selalu kita lafadzkan
dalam setiap shalat kita, Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepadamulah kami
mohon pertolongan. Agar permohonan kita diterima oleh Allah, tentu harus mengikuti tuntunan
dan petunjuk-Nya. Salah satu dari petunjuk-Nya dalam memohon pertolongan adalah dengan
sentiasa bersikap sabar dan memperkuat hubungan yang baik dengan-Nya dengan menjaga shalat
yang berkualitas. Disinilah shalat merupakan cerminan dari penghambaan kita yang tulus kepada
Allah.
Esensi sabar menurut Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dapat dilihat dari dua hal:
Pertama, sabar karena Allah atas apa yang disenangi-Nya, meskipun terasa berat bagi jiwa dan
raga. Kedua, sabar karena Allah atas apa yang dibenci-Nya, walaupun hal itu bertentangan
keinginan hawa nafsu. Siapa yang bersikap seperti ini, maka ia termasuk orang yang sabar yang
Insya Allah akan mendapat tempat terhormat.

PENUTUP
a. Kesimpulan

Di dalam mempelajari ilmu tasawuf, sabar menjadi salah satu kajian yang selalu dibahas.
Sabar sendiri memiliki arti menerima apa yang diberikan Allah baik yang berupa nikmat maupun
penderitaan.
Sabar sendiri memiliki tujuan untuk mendapatkan ridha dari Allah SWT. Yang mana di
dalam pengerjaannya harus didasari dengan niat yang ikhlas dan tulus.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mubarok, Jiwa dalam Al-Quran, Paramadina, Jakarta, 2000

Aliah B. Purwakani, Pengantar Psikologi Kesehatan Islami, Rajawali Pers, Jakarta 2008

Al-Khudhari, Muhammad bin Abdul Aziza, Hakekat Sabar Menurut al-Quran, Darul Haq, Jakarta, 2000

Ibnu al-Qayyim al-jauziyyah, Madarij al-Salikin bain Manazil Iyyal Nabud wa Iyyak Nastain, (terj.

Khatsur Sukardi), Pustaka al-Kautsar, Jakarta, 1998

Jess Feist, Gregory, j, Teori Kepribadian, Salemba Humanika, Jakarta, 2010

Makluf, Luis, Al-Munjid fi Al-Lughat wa Al-Alam, Dar Al-Masyrik, Beirut, 1896

Nurdin, Muslim, Moral dan Kondisi Islam, al-Fabeta, Bandung, 1993

Quazwain, M. Khatid, Mengenal Allah: Suatu Pengajian Mengenai Ajaran Tasawuf Syaikh Aabdul

Samad al-Palimbani, Bulan Bintang, Jakarta, t.th

Sarwono, Sarlito Wirawan, Teori-Teori Psikologi Sosial, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2006

Schultz, Duane. P. dan Sydney Ellen Schultz, Teories of Personality, Wads Worth Thomsom Learning,

Canada, 2001

Syauqi Nawawi, Rifat, Kepribadian Qurani, Amzah, Jakarta, 2011