Anda di halaman 1dari 2

Suku Muna adalah salah satu suku yang mendiami sebagian besar pulau Muna yang berada di

Propinsi Sulawesi Tenggara. Suku ini memiliki kebudayaan sendiri. Salah satunya adalah
mengkonsumsi daun kelor. Budaya mengkonsumsi daun kelor pada suku Muna telah ada
sejak zaman dahulu.
Bagi masyarakat Muna, kelor sudah tak asing lagi. Tanaman berdaun kecil-kecil
ini sangat familiar, bahkan sudah menjadi ikon permata yang tak akan pernah
ditinggalkan dan meninggalkan daerah Muna. Itu karena kelor adalah nyawa
dari lauk-pauk makanan orang Muna sehari-hari. Sungguh hambar rasanya
makanan, kalau sayur kelor (kadada katembe) tidak ikut terhidang di meja
makan. Ibaratnya, kelor itu sudah seperti raja yang harus selalu ada di
singgasana.
Tidak ada yang tahu pasti kapan dimulainya. Yang jelas tanaman kelor menjadi primadona
dalam bidang sayur bagi suku Muna. Tanaman ini dibudidayakan hampir di setiap rumah
tangga dengan cara ditanam di pekarangan rumah. Bagian yang digunakan dalam tanaman
kelor ini adalah daun dan bijinya. Bagian tersebut diolah untuk dikonsumsi menjadi sayur.
Sayur tanaman kelor merupakan hidangan wajib dalam setiap sesi makan rumah tangga.
Tanaman kelor itu sendiri memiliki nama latin yakni Moringa oleifera. Secara umum
tampilan fisik dari tanaman Moringa oleifera ini adalah tumbuhan yang memiliki tinggi
batang sekitar 7 sampai 11 meter. Daunnya berbentuk oval telur dengan ukuran kecil yang
memiliki susunan majemuk dalam satu tangkai. Memiliki bunga berwarna putih kekuningan,
sedangkan buahnya berbentuk segitiga memanjang.

Manfaat Daun Kelor untuk Kesehatan


Daun kelor yang selama ini dikonsumsi hanya sebagai sayur pelengkap makan pada suku
Muna ternyata memiliki manfaat yang sangat besar untuk kesehatan. Tanaman kelor ini bisa
menjadi antioksidan, antiinflamasi, dan lain-lain karena memiliki kandungan nutrisi yang
kaya dan banyak. Sebagai contoh, kandungan vitamin C pada kelor lebih besar 7 kali lipat
daripada kandungan vitamin C pada jeruk. Tanaman kelor mengandung vitamin A 4 kali lipat
daripada kandungan wortel, begitu pula dengan kandungan kalsium dalam susu, masih kalah
dibandingkan kandungan kalsium pada tanaman kelor. Sehingga tanaman kelor ini dapat
diolah menjadi obat berbagai macam penyakit. Informasi ini tentu menarik perhatian, apalagi
mengingat tanaman kelor ini ternyata telah dan sedang diteliti oleh berbagai universitas dunia
dan organisasi dunia untuk dimaksimalkan penggunaannya. Berbagai penelitian telah
dilakukan. Berbagai jurnal telah diterbitkan. Kita dapat mengecek sendiri di internet berbagai
kajian ilmiah yang telah diunggah tentang manfaat tanaman kelor. Gunakan saja keyword
moringa di search engine, maka kita akan disuguhkan hasil yang luar biasa. Bahkan di
berbagai belahan dunia, kelor telah diolah menjadi berbagai macam wujud, ada yang
berbentuk tepung, kapsul, serbuk dan bahkan dalam bentuk teh. Tidak usah terlalu jauh,
bahkan di Malang, Kepala Dinas Kesehatannya menggalakkan konsumsi kelor untuk
memperbaiki gizi masyarakat.

Rekomendasi
Tentu sebagai putra Muna asli, kami merasa bahagia mengetahui bahwa ternyata budaya
konsumsi daun kelor sangat bermanfaat bagi kesehatan. Kami berharap budaya ini terus
digalakkan demi memperbaiki kondisi gizi di daerah Muna dimana kasus gizi buruk masih
menjadi masalah kesehatan yang besar. Tentunya hal ini tidak akan berjalan sukses tanpa
bantuan semua pihak. Mulai dari masyarakat yang melakukan pembudidayaan dan konsumsi,
hingga pemerintah yang mengolah kelor ini dalam berbagai bentuk agar dapat dinikmati
semua lapisan masyarakat. Sekali lagi semua pihak terlibat aktif dalam promosi daun kelor
agar dikonsumsi Ane soano intaidimu, ahae tora (kalau bukan kita, siapa lagi) ? Ane soano
ampa aitu, naefie tora (kalau bukan sekarang, kapan lagi) ?