Anda di halaman 1dari 10

PNEMONIA

A. KONSEP MEDIS
1. Defenisi
Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan adanya
konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli. (Barbara Long, 1996)
Penumonia adalah inflasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian
cairan di dalam alveoli. Hal ini terjadi ini terjadi akibat adanya invaksi agen atau
infeksius adalah adanya kondisi yang mengganggu tahanan saluran. Trakhabrnkialis,
adalah pun beberapa keadaan yang mengganggu mekanisme pertahanan sehingga
timbul infeksi paru misalnya, kesadaran menurun, umur tua, trakheastomi, pipa
endotrakheal, dan lain-lain. Dengan demikian flora endogen yang menjadi patogen
ketika memasuki saluran pernafasa. ( Ngasriyal, Perawatan Anak Sakit, 1997)

2. Etiologi
Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh bakteri, yang timbul secara primer
atau sekunder setelah infeksi virus. Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah
bakteri positif-gram, Streptococus pneumoniae yang menyebabkan pneumonia
streptokokus. Bakteri Staphylococcus aureus dan streptokokus beta-hemolitikus grup
A juga sering menyebabkan pneumonia, demikian juga Pseudomonas aeruginosa.
Pneumonia lainnya disebabkan oleh virus, misalnya influenza. Pneumonia
mikoplasma, suatu pneumonia yang relatif sering dijumpai, disebabkan oleh suatu
mikroorganisme yang berdasarkan beberapoa aspeknya, berada di antara bakteri dan
virus.
a. Bakteri : streptococus pneumoniae, staphylococus aureus
b. Virus : Influenza, parainfluenza, adenovirus
c. Jamur : Candidiasis, histoplasmosis, aspergifosis, coccidioido mycosis,
cryptococosis, pneumocytis carini
d. Aspirasi : Makanan, cairan, lambung
e. Inhalasi : Racun atau bahan kimia, rokok, debu dan gas
f. Pneumonia virus bisa disebabkan oleh:
Virus sinsisial pernafasan
Hantavirus
Virus influenza
Virus parainfluenza
Adenovirus

Rhinovirus

Virus herpes simpleks

Sitomegalovirus.
Virus Influensa

Virus Synsitical respiratorik

Adenovirus

Rubeola

Varisella

Micoplasma (pada anak yang relatif besar)

Pneumococcus

Streptococcus

3. Klasifikasi

Menurut buku Pneumonia Komuniti, Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di


Indonesia yang dikeluarkan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003 menyebutkan
tiga klasifikasi pneumonia.

Berdasarkan klinis dan epidemiologis:

a. Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia).

b. Pneumonia nosokomial, (hospital-acquired pneumonia/nosocomial


pneumonia).

c. Pneumonia aspirasi.

d. Pneumonia pada penderita immunocompromised.

Berdasarkan bakteri penyebab:

a. Pneumonia bakteri/tipikal.

Dapat terjadi pada semua usia. Pneumonia bakterial sering diistilahkan dengan
pneumonia akibat kuman. Pneumonia jenis itu bisa menyerang siapa saja, dari bayi
hingga mereka yang telah lanjut usia. Para peminum alkohol, pasien yang terkebelakang
mental, pasien pascaoperasi, orang yang menderita penyakit pernapasan lain atau infeksi
virus adalah yang mempunyai sistem kekebalan tubuh rendah dan menjadi sangat rentan
terhadap penyakit itu.

Biasanya pneumonia bakteri itu didahului dengan infeksi saluran napas yang
ringan satu minggu sebelumnya. Misalnya, karena infeksi virus (flu). Infeksi virus pada
saluran pernapasan dapat mengakibatkan pneumonia disebabkan mukus (cairan/lendir)
yang mengandung pneumokokus dapat terisap masuk ke dalam paru-paru. Beberapa
bakteri mempunyai tendensi menyerang seseorang yang peka, misalnya klebsiella pada
penderita alkoholik, staphyllococcus pada penderita pasca infeksi influenza. Pneumonia
Atipikal. Disebabkan mycoplasma, legionella, dan chalamydia.

b. Pneumonia Akibat virus.

Penyebab utama pneumonia virus adalah virus influenza (bedakan dengan


bakteri hemofilus influenza yang bukan penyebab penyakit influenza, tetapi bisa
menyebabkan pneumonia juga).

Gejala awal dari pneumonia akibat virus sama seperti gejala influenza, yaitu
demam, batuk kering, sakit kepala, nyeri otot, dan kelemahan. Dalam 12 hingga 36 jam
penderita menjadi sesak, batuk lebih parah, dan berlendir sedikit. Terdapat panas tinggi
disertai membirunya bibir. Tipe pneumonia itu bisa ditumpangi dengan infeksi
pneumonia karena bakteri. Hal itu yang disebut dengan superinfeksi bakterial. Salah
satu tanda terjadi superinfeksi bakterial adalah keluarnya lendir yang kental dan
berwarna hijau atau merah tua.

c. Pneumonia jamur,

Sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama pada penderita dengan


daya tahan lemah (immunocompromised).

Berdasarkan predileksi infeksi:

a. Pneumonia lobaris, pneumonia yang terjadi pada satu lobus (percabangan besar dari
pohon bronkus) baik kanan maupun kiri.

b. Pneumonia bronkopneumonia, pneumonia yang ditandai bercak-bercak infeksi pada


berbagai tempat di paru. Bisa kanan maupun kiri yang disebabkan virus atau bakteri
dan sering terjadi pada bayi atau orang tua. Pada penderita pneumonia, kantong
udara paru-paru penuh dengan nanah dan cairan yang lain. Dengan demikian,
fungsi paru-paru, yaitu menyerap udara bersih (oksigen) dan mengeluarkan udara
kotor menjadi terganggu. Akibatnya, tubuh menderita kekurangan oksigen dengan
segala konsekuensinya, misalnya menjadi lebih mudah terinfeksi oleh bakteri lain
(super infeksi) dan sebagainya. Jika demikian keadaannya, tentu tambah sukar
penyembuhannya. Penyebab penyakit pada kondisi demikian sudah beraneka
macam dan bisa terjadi infeksi yang seluruh tubuh.

4. Manifestasi Klinis

Secara khas diawali dengan awitan menggigil, demam yang timbul dengan cepat
(39,5 C - 40,5 C).

Nyeri dada yang ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk.

Takipnea (25 45 kali/menit) disertai dengan pernafasan mendengur,pernafasan


cuping hidung,

Nadi cepat dan bersambung

Bibir dan kuku sianosis

Sesak nafas

5. Patofisiologi

Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Ada beberapa
mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Partikel
infeksius difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan
epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru, partikel
tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga dengan mekanisme
imun sistemik, dan humoral. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki
antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari
pneumokokus dan organisme-organisme infeksius lainnya. Perubahan pada
mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia
misalnya pada kelainan anatomis kongenital, defisiensi imun didapat atau kongenital,
atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan
kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. Pada anak tanpa faktor-faktor
predisposisi tersebut, partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada
pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. Ini paling sering terjadi akibat virus
pada saluran napas bagian atas. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas
bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus.

Kemungkinan lain, kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme


pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas
bagian bawah. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal
berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke
orang lain melalui penyebaran droplet di udara. Kadang-kadang pneumonia
bakterialis dan virus ( contoh: varisella, campak, rubella, CMV, virus Epstein-Barr,
virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber
terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata.2
Setelah mencapai parenkim paru, bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang
meliputi eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di
alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan
konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. Virus, mikoplasma, dan klamidia
menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur
submukosa dan interstisial. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam
saluran napas, seperti yang terjadi pada bronkiolitis.

6. Pemeriksaan Penunjang

a. Sinar X

Mengidentifikasikan distribusi strukstural (mis. Lobar, bronchial); dapat juga


menyatakan abses luas/infiltrate, empiema (stapilococcus); infiltrasi menyebar
atau terlokalisasi (bacterial); atau penyebaran/perluasan infiltrate nodul (lebih
sering virus). Pada pneumonia mikoplasma, sinar x dada mungkin bersih.

b. GDA
Tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan
penyakit paru yang ada.

c. JDL leukositosis biasanya ada, meskipun sel darah putih rendah terjadi pada
infeksi virus, kondisi tekanan imun.

d. LED meningkat

e. Fungsi paru hipoksemia, volume menurun, tekanan jalan nafas meningkat dan
komplain menurun.

f. Elektrolit Na dan Cl mungkin rendah

g. Bilirubin meningkat

h. Aspirasi / biopsi jaringan paru


B. KONSEP KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Data dasar pengkajian pasien:

a. Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.

b. Sirkulasi
Gejala : riwayat adanya
Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat

c. Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes mellitus
Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan kakeksia
(malnutrisi)
d. Neurosensori
Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)
Tanda : perusakan mental (bingung)

e. Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia, artralgia.
Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi
gerakan)

f. Pernafasan
Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea.
Tanda : sputum: merah muda, berkarat
perpusi: pekak datar area yang konsolidasi
premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi
Bunyi nafas menurun
Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku

g. Keamanan
Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan steroid, demam.
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar

h. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis
Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 8 hari
Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah

2. Diagnosa Keperawatan

a. Kerusakan Pertukaran Gas berhubungan dengan Gangguan pengiriman oksigen.

b. Infeksi, Resiko Tinggi Terhadap (penyebaran) berhungan dengan


Ketidakadekuatan pertahanan utama.

c. Ketdakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan pembentukan edema.

3. Intervensi

Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pengiriman oksigen.


Keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan jalannya gas (Oksigen
dan Karbondioksida) yang aktual (atau dapat mengalami potensial) antara alveoli
paru-paru dan sistem vaskular.

KH :

Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam


rentang normal dan tak ada gejala distres pernapasan.

Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi.

Intervensi

a. Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan bernapas.

R/: Manifestasi distres pernapasan tergantung pada/indikasi derajat keterlibatan


paru dan status kesehatan umum.

b. Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, napas dalam, dan batuk
efektif

R /: Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan pengeluaran


sekret untuk memperbaiki ventilasi.

c. Pertahankan istirahat tidur. Dorong menggunakan teknik relaksasi dan aktivitas


senggang.

R/: Mencegah terlalu lelah dan menurunkan kebutuhan/konsumsi oksigen untuk


memudahkan perbaikan infeksi.

d. Observasi penyimpangan kondisi, catat hipotensi banyaknya jumlah sputum


merah muda/berdarah, pucat, sianosis, perubahan tingkat kesadaran, dispnea
berat, gelisah.

R/: Syok dan edema paru adalah penyebab umum kematian pada pneumonia dan
membutuhkan intervensi medik segera.

Infeksi, Resiko Tinggi Terhadap (penyebaran) berhungan dengan


Ketidakadekuatan pertahanan utama.

KH :

Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi.


Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi.

Intervensi:

a. Pantau tanda vital dengan ketat, khusunya selama awal terapi.

R/: Selama periode waktu ini, potensial komplikasi fatal (\hipotensi/syok) dapat
terjadi.

b. Anjurkan pasien memperhatikan pengeluaran sekret (mis., meningkatkan


pengeluaran daripada menelannya) dan melaporkan perubahan warna, jumlah dan
bau sekret.

R/: Meskipun pasien dapat menemukan pengeluaran dan upaya membatasi atau
menghindarinya, penting bahwa sputum harus dikeluarkan dengan cara aman.

c. Tunjukkan/dorong tehnik mencuci tangan yang baik.

R/: Efektif berarti menurunkan penyebaran /tambahan infeksi.

d. Batasi pengunjung sesuai indikasi.

R/: Menurunkan pemajanan terhadap patogen infeksi lain.

Ketdakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan pembentukan edema.


Suatu Keadaan di mana seorang individu mengalami suatu ancaman yang nyata
atau potensial pada status pernapasan sehubungan dengan ketidakmampuan untuk
batuk secara efektif.

KH :

Tidak mengalami aspirasi

Menunjukkan batuk yang efektif dan peningkatan pertukaran udara dalam


paru-paru.

Intervensi :

a. Kaji frekuensi/kedalaman pernapasan dan gerakan dada.

R : Takipnea, pernapasan dangkal, dan gerakan dada tak simetris sering terjadi
karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan/atau cairan paru.
b. Auskultasi area paru, catat area penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi
napas adventisius, mis., krekels, megi

R : Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. Bunyi
napas bronkial (normal pada bronkus) dapat juga terjadi pada area
konsolidasi. Krekels, ronki, dan mengi terdengar pada inspirasi dan/atau
ekspirasi pada respons terhadap pengumpulan cairan, sekret kental, dan
spasme jalan napas/obstruksi.

c. Bantu pasien napas sering. Tunjukkan/bantu pasien mempelajari melakukan


batuk, mis., menekan dada dan batuk efektif sementara posisi duduk tinggi.

R : Napas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/jalan napas


lebih kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan napas alami,
membantu silia untuk mempertahankan jalan napas paten. Penekanan
menurunkan ketidaknyamanan dada dan posisi duduk memungkinkan upaya
napas lebih dalam dan lebih kuat.

d. Penghisapan sesuai indikasi.

R : Merangsang batuk atau pembersihan jalan napas secara mekanik pada


pasien yang tak mampu melakukan karena batuk tak efektif atau penurunan
tingkat kesadaran.