Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DALAM


MENDORONG INDUSTRI DAERAH

KELOMPOK 3

A. Rio

M. Idris Thahir

Ali Sadikin

Jusman

Adi Surya

PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER ILMU EKONOMI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan kawasan industry merupakan salah satu usaha untuk
meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat. Penentuan suatu kawasan akan
dijadikan kawasan industri adalah berdasarkan rencana tata ruang yang dibuat
oleh kabupaten atau daerah tingkat dua. Berdasarkan Kep Pres nomor 33 tahun
1990 tentang penggunaan tanah bagi pembangunan kawasan industri dan
Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 2009, kawasan peruntukan industri adalah
bentangan lahan yang diperuntukkan bagi kegiatan industry berdasarkan Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Rencana tata ruang wilayah dibuat sesuai dengan kebijakan dan strategi
penataan ruang wilayah. Adapun tujuan dari kebijakan penataan ruang
(Sugandhy, 1999) adalah untuk pelestarian kualitas lingkungan secara
berkelanjutan, mengupayakan pemenuhan kebutuhan dasar pangan secara
berkelanjutan, memanfaatkan sumberdaya alam yang optimal bagi peningkatan
kesejahteraan dan menyeimbangkan pertumbuhan antar wilayah. Jadi kebijakan
tata ruang ini tentu saja bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
dan juga menjaga keseimbangan pertumbuhan antar wilayah. Kebijakan tata
ruang suatu daerah akan sangat mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi
masyarakatnya.
Berdasarkan Kep Pres Nomor 33 Tahun 1999, kawasan industri tidak
boleh dibangun dari kawasan tanaman pangan basah yang berupa sawah dengan
pengairan jaringan irigasi dan lahan berpotensi irigasi yang dicadangkan untuk
usaha tani dengan fasilitas irigasi. Dengan demikian kawasan industri tidak dapat
dibangun pada lahan yang akan mengurangi areal pertanian, mengurangi lahan
yang mempunyai fungsi utama untuk melindungi sumber alam dan warisan
budaya dan harus sesuai dengan tata ruang wilayah yang ditetapkan pemerintah
daerah.
Adapun tujuan dibangunnya kawasan industri adalah sebagai berikut (PP
Nomor 24 tahun 2009) mengendalikan pemanfaatan ruang, meningkatkan upaya
pembangunan industri yang berwawasan lingkungan, mempercepat pertumbuhan
industri di daerah, meningkatkan daya saing industri, meningkatkan daya saing
investasi dan memberikan kepastian lokasi dalam perencanaan dan
pembangunan infrastruktur, yang terkoordinasi antar sektor.
Verkoren (1991), melihat bahwa kebijaksanaan pengembangan
industrialisasi diarahkan kepada penggerak pertumbuhan ekonomi dan perluasan
tenaga kerja. Pada dasarnya kebijakan tersebut bertujuan antara lain untuk
menciptakan pekerjaan non pertanian bagi penduduk pedesaan yang menganggur
dan setengah menganggur, mengatasi arus migrasi ke pusat-pusat perkotaan,
memperkuat landasan ekonomi pedesaan, dan memanfaatkan sepenuhnya
keterampilan yang ada didaerah pedesaan.
Pembangunan industri di seluruh daerah berdasarkan pada pendekatan
dasar ekonomi (economic base approach), dan beberapa daerah ditargetkan
sebagai daerah inti dari pembangunan industri (regional core of industrial
development) dari pusat pertumbuhan industri (industrial growth centres) disebut
WPPI (Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri).
Lebih lanjut Soedarso (2001) mengemukakan bahwa meskipun berbagai
upaya kebiajkan publik dalam rangka pengembangan wilayah dilakukan, namun
masih diperlukan upaya-upaya lebih lanjut guna mengefektifkan dan
mengoptimalkan perwujudan rencana pembangunan tersebut di daerah. Terutama
dalam hal bagaimana mengimplementasikan strategi dan menciptakan pra-kondisi
pembangunan kawasan yang tidak Protect Oriented, namun bersifat
menumbuhkan semangat Public Enterpreneurship dalam mencari peluang
investasi yang sesuai dengan potensi kawasan dan wilayah sekitarnya, didukung
penciptaan iklim usaha yang kondusif dan mempunyai linkage dengan jaringan
pasar nasional, regional maupun global.
Penciptaan iklim yang kondusif bagi pembangunan ekonomi kawasan dan
wilayah sekitarnya, disamping memerlukan adanya kebijakan yang dapat
mendorong adanya minat investasi dunia usaha, juga memerlukan adanya
investasi awal seperti tersedianya prasarana, dan sarana dasar, kelembagaan dan
sumberdaya manusia. Dan yang lebih penting adalah bagaimana membentuk
suatu organisasi pengelola yang mempunyai enterprenership dan kemampuan
menjalin hubungan (link-up) dengan pelaku pembangunan lainnya.
Penciptaan iklim yang kondusif bagi pembangunan ekonomi kawasan dan
wilayah sekitarnya, disamping memerlukan adanya kebijakan yangd apat
mendorong adanya minat investasi dunia usaha, juga memerlukan adanya
investasi awal seperti tersedianya prasarana, dan sarana dasar, kelembagaan dan
sumberdaya manusia. Dan yang lebih penting adalah bagaimana membentuk
suatu organisasi pengelola yang mempunyai enterprenership dan kemampuan
menjalin hubungan (link-up) dengan pelaku pembangunan lainnya.
Guna lebih meningkatkan efektivitas dalam rangka mengembangkan
suatu kawasan industri, perlu adanya kebijakan, strategi dan upaya-upaya yang
mendukung pelaksanaan penyebarluasan informasi dan promosi peluang-peluang
investasi kawasan-kawasan tersebut kepada dunia usaha swasta dan
masyarakat. Upaya untuk melink-up para stakeholders pengembang kawasan
dalam mencari peluang-peluang pasar baik didalam negeri maupun luar negeri
haruslah dilakukan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah arah kebijakan pengembangan di sektor Industri?
2. Bagaimanakah strategi pengembangan di sektor Industri?
3. Bagaimanakah strategi dan program pengembangan industri?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Kebijakan Pemerintah


Pengertian kebijakan pemerintah pada prinsipnya dibuat atau atas dasar
kebijakan yang bersifat luas. Menurut Werf (1997) yang dimaksud dengan
kebijakan adalah usaha mencapai tujuan tertentu dengan sasaran tertentu dan
dalam urutan tertentu. Sedangkan kebijakan pemerintah mempunyai pengertian
baku yaitu suatu keputusan yang dibuat secara sistematik oleh pemerintah
dengan maksud dan tujuan tertentu yang menyangkut kepentingan umum
(Anonimous, 1992).
Sesuai dengan sistem administrasi Negara Republik Indonesia kebijakan
dapat terbagi 2 (dua) yaitu :
1. Kebijakan internal (manajerial), yaitu kebijakan yang mempunyai kekuatan
mengikat aparatur dalam organisasi pemerintah sendiri.
2. Kebijakan eksternal (publik), suatu kebijakan yang mengikat masyarakat
umum. Sehingga dengan kebijakan demikian kebijakan harus tertulis.
Pengertian kebijakan pemerintah sama dengan kebijaksanaan berbagai
bentuk seperti misalnya jika dilakukan oleh Pemerintah Pusat berupa Peraturan
Pemerintah (PP), Keputusan Menteri (Kepmen) dan lain-lain. Sedangkan jika
kebijakan pemerintah tersebut dibuat oleh Pemerintah Daerah akan melahirkan
Surat Keputusan (SK), Peraturan Daerah (Perda) dan lain-lain.
Dalam penyusunan kebijaksanaan/kebijakan mengacu pada hal-hal
berikut:
1. Berpedoman pada kebijaksanaan yang lebih tinggi.
2. Konsistensi dengan kebijaksanaan yang lain yang berlaku.
3. Berorientasi ke masa depan.
4. Berpedoman kepada kepentingan umum.
5. Jelas dan tepat serta transparan.
6. Dirumuskan secara tertulis.
Sedangkan kebijakan atau kebijaksanaan pemerintah mempunyai
beberapa tingkatan yaitu :
a. Kebijakan Nasional
Yaitu kebijakan Negara yang bersifat fundamental dan strategis untuk
mencapai tujuan nasional/negara sesuai dengan amanat UUD 1945 GBHN.
Kewenangan dalam pembuat kebijaksanaan adalah MPR, dan Presiden
bersama-sama dengan DPR. Bentuk kebijaksanaan nasional yang
dituangkan dalam peraturan perundang-undangan dapat berupa :
1) UUD 1945
2) Ketetapan MPR
3) Undang-Undang
4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) dibuat oleh
Presiden dalam hal kepentingan memaksa setelah mendapat persetujuan
DPR.
b. Kebijaksanaan Umum
Kebijaksanaan yang dilakukan oleh Presiden yang bersifat nasional dan
menyeluruh berupa penggarisan ketentuan-ketentuan yang bersifat garis
besar dalam rangka pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan
pembangunan sebagai pelaksanaan UUD 1945, Ketetapan MPR maupun
Undang-Undang guna mencapai tujuan nasional.
Penetapan kebijaksanaan umum merupakan sepenuhnya kewenangan
presiden, sedangkan bentuk kebijaksanaan umum tersebut adalah tertulis
berupa peraturan perundang-undangan seperti halnya Peraturan Pemerintah
(PP), Keputusan Presiden (Kepres) serta Instruksi Presiden (Inpres).
Kebijaksanaan pelaksanaan dari kebijakan umum tersebut merupakan
penjabaran dari kebijakan umum serta strategi pelaksanaan dalam suatu
bidang tugas umum pemerintahan dan pembangunan dibidang tertentu.
Penetapan kebijaksanaan pelaksanaan terletak pada para pembantu
Presiden yaitu para Menteri atau pejabat lain setingkat dengan Menteri dan
Pimpinan LPND sesuai dengan kebijaksanaan pada tingkat atasnya serta
perundang-undangan berupa Peraturan, Keputusan atau Instruksi Pejabat
tersebut (Menteri/Pejabat LPND).
c. Strategi Kebijakan
Merupakan salah satu kebijakan pelaksanaan yang secara hirarki dibuat
setingkat Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota berupa Surat Keputusan yang
mengatur tatalaksana kerja dan segala sesuatu yang berhubungan dengan
Sumber Daya Manusia. Pengertian strategi merupakan serangkaian sasaran
organisasi yang kemudian mempengaruhi penentuan tindakan komprehensif
untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan atau alat dengan mana tujuan
akan dicapai.
2.2. Pengertian Industri
Pengertian industri memiliki beberapa pandangan dan pendekatan yang
berbeda-beda dari berbagai pihak. Berikut beberapa pengertian industri
menurut para ahli dan berbagai pihak:
1. Pengertian Industri menurut Departemen Perindustrian Menurut Departemen
Perindustrian (2006), industri adalah suatu kegiatan ekonomi yang mengolah
bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi
menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaanya,
termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.
2. Pengertian Industri menurut Departemen Perdagangan Definisi Industri
menurut Departemen Perdagangan dilihat dari aspek modal yaitu industri
yang menggunakan modal kurang dari Rp 25.000.000,- (Mudrajad Kuncoro,
2000 : 310).
3. Pengertian Industri menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Menurut Badan
Pusat Statistik (2008), industri mempunyai dua pengertian, pengertian
secara luas dan pengertian secara sempit. Pengertian secara luas, Industri
yaitu mencakup semua usaha dan kegiatan di bidang ekonomi bersifat
produktif. Sedangkan pengertian secara sempit: Industri adalah hanya
mencakup industri pengolahan yaitu suatu kegiatan ekonomi yang
melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar mekanis, kimia, atau
dengan tangan sehingga menjadi barang setengah jadi dan atau barang jadi,
kemudian barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih nilainya
dan sifatnya lebih kepada pemakaian akhir.
4. Pengertian Industri menurut Para Ahli
Menurut Para Ahli dalam artikel Ase Satria (2010) yang berjudul Materi
Ekonomi: Teori Industri Menurut Para Ahli dan Pengelompokannya,
mengungkapkan beberapa pendapat mengenai pengertian industri:
a. Menurut Hasibuan (2000), Industri dibagi ke dalam lingkup makro dan
mikro. Secara Mikro pengertian Industri sebagai kumpulan dan sejumlah
perusahaan yang menghasilkan barang-barang homogen, atau barang-
barang yang mempunyai sifat saling mengganti sangat erat.
b. Menurut Teguh S.Pambudi, Industri adalah sekelompok perusahaan yang
bisa menghasilkan sebuah produk yang dapat saling menggantikan antara
yang satu dengan yang lainnya.
c. Kemudian Menurut Hinsa Sahaan, Industri adalah bagian dari sebuah
proses yang mengolah barang mentah menjadi barng jadi sehingga
menjadi sebuah barang baru yang memiliki nilai lebih bagi kebutuhan
masyarakat.
d. Menurut Wirasti dan Dini Natalia, industri diartikan sebagai pengolahan
barang setengah jadi menjadi barang yang telah jadi sehingga dapat
mendatangkan keuntungan bagi pelaksananya.
Dari pendapat berbagai pihak dan para ahli, maka dapat disimpulkan
bahwa industri merupakan suatu kegiatan ekonomi yang mengubah bahan
baku, barang setengah jadi, dan barang jadi menjadi barang baru yang memiliki
nilai lebih tinggi dan menghasilkan pendapatan bagi pelaksananya.
2.3. Klasifikasi Industri Berdasarkan Kriteria
Adapun klasifikasi industri berdasarkan kriteria masing-masing adalah sebagai
berikut:
1. Klasifikasi Industri Berdasarkan Bahan Baku
Tiap-tiap industri membutuhkan bahan baku yang berbeda, tergantung pada
apa yang akan dihasilkan pada proses industri tersebut. Berdasarkan bahan
baku yang digunakan, industri dapat dibedakan menjadi:
a. Industri Ekstraktif
Industri Ekstraktif yaitu industri yang bahan bakunya diperoleh langsung dari
alam. Misalnya, industri hasil pertanian, industri hasil perikanan, dan industri
hasil kehutanan.
b. Industri Nonekstraktif
Industri Nonekstraktif yaitu industri yang mengolah lebih lanjut hasil hasil
industri lain. Misalnya, industri kayu lapis, industri pemintalan, dan industri
kain.
c. Industri Fasilitatif
Industri fasilitatif disebut juga industri tertier, kegiatan industrinya adalah
menjual jasa layanan untuk keperluan orang lain. Misalnya, perbankan,
perdagangan, angkutan, dan pariwisata.
2. Klasifikasi Industri Berdasarkan Tenaga Kerja
Berdasarkan tenga kerja yang digunakan, industri dapat dibedakan menjadi:
a. Industri Rumah Tangga
Industri Rumah Tangga yaitu industri yang menggunakan tenaga kerja
kurang dari 4 orang, ciri-ciri ini industri ini memiliki modal yangsangat
terbatas. Tenaga kerja berasl dari anggota keluarga, dan pemilik atau
pengelola industri biasanya kepala rumah tangga itu sendiri atau anggota
keluarganya. Misalnya, industri anyaman (industri kerajinan), industry tempe
dan tahu (industri makan).
b. Industri Kecil
Industri kecil yaitu industri yang tenaga kerjanya berjumlah sekitar 5 sampai
19 orang, ciri-ciri industri kecil adalah memeliki modal yang relatif kecil,
tenaga kerjanya berasal dari lingkungan sekitar atau masi ada hubungan
saudara. Misalnya, industri batubara, dan industry pengolahan rotan.
c. Industri Sedang
Industri sedang yaitu industri yang menggunakan tenaga kerja berjumlah 20
sampai 99 orang, ciri-ciri industri sedang adalah memiliki modal yang cukup
besar, tenaga kerjanya memiliki keterampilan tertentu, dan pimpinan memiliki
kemampuan menagerial tertentu. Misalnya, industry koveksi, industri bordir,
dan industri keramik.
d. Industri Besar
Industri besar yaitu industri dengan jumlah tenaga kerja lebih dai 100, ciri-ciri
undustri besar adalah memiliki modal yang besar dihimpun secara kolektif
dalam bentuk pemilikan saham, tenaga kerja harus memiliki keterampilan
khusus, dan pimpinan perusahaan dipilih melalui uji kemampuan dan
kelayakan (fit and profertest). Misalnya, industri besi baja, dan industri
pesawat terbang.
3. Klasifikasi Industri Berdasarkan Lokasi Unit Usaha
Keberadaan suatu industri sangat menentukan sasaran atau tujuan
kegiatan industri. Bedasarkan pada lokasi unit usahanya, industri dapat
dibedakan menjadi:
a. Industri Berorientasi Pada Pasar (Market Oriented Industry)
Industri berorientasi pada pasar yaitu industri yang didirikan mendekati
daerah persebaran konsumen.
b. Industri Berorientasi Pada Tenaga Kerja (Employment Oriented Industry)
Industri berorientasi pada tenaga kerja yaitu industri yang didirikan
mendekati daerah pemusatan penduduk, terutama daerah memiliki
angkatan kerja tetapi kurang dalam hal pendidikannya.
c. Industri Yang Berorientasi Pada Pengolahan (Supply Oriented Industry)
Industri yang berorientasi pada pengolahan yaitu industri yang didirikan
dekat atau ditempat pengolahan. Misalnya, industri semen di Palimanan
Cirebon (dekat dengan batu gamping), industri pupuk di Palembang
(dekat dengan sumber posfat dan amoniak), dan industri BBM di
Balongan Indaramayu (dekat dengan kilang minyak.
d. Industri Yang Berorientasi Pada Bahan Baku
Industri yang berorientasi pada bahan baku yaitu yang didirikan di tempat
tersedianya bahan baku, misalnya: industri konveksi berdekatan dengan
industri tekstil, industri pengalengan ikan berdekatan dengan pelabuhan
laut, dan industri gula berdekatan dengan lahan tebu.
e. Industri Yang Tidak Terikat Oleh Persyaratan Lain (Footloose Industry)
Industri yang tidak terikat oleh persyaratan lain yaitu industri yang didirikan
tidak terikat oleh syarat-syarat dari wacana yang diatas. Industri ini dapat
didirikan di mana saja, karena bahan baku, tenaga kerja, dan pasarnya
sangat luas serta dapat ditemukan di mana saja. Misalnya, industri
elektronik, industri otomotif, dan industry transportasi.
2.4. Kebijakan Industri Nasional
Kebijakan Industri Nasional (KIN) diamanatkan dalam Peraturan
Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2008 merupakan suatu arahan
dan kebijakan jangka menengah maupun jangka panjang, dalam rangka
mempercepat proses industrialisasi untuk mendukung pembangunan ekonomi
nasional sekaligus mengantisipasi dampak negatif globalisasi dan liberalisasi
ekonomi dunia dan perkembangan di masa yang akan datang.
Visi Industri 2025: membawa Indonesia pada tahun 2025 menjadi
Sebuah Negara Industri Tangguh di Dunia. Visi antara : membawa Indonesia
pada tahun 2020 menjadi Negara Industri Maju Baru.
a. Tujuan Pembangunan Industri Nasional
Tujuan Jangka Menengah
1. Mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian dan menyerap
tenaga kerja.
2. Mampu menguasai pasar dalam negeri dan meningkatkan ekspor.
3. Mampu mendukung perkembangan sektor infrastruktur
4. Mampu memberikan sumbangan terhadap penguasaan teknologi nasional
5. Mampu meningkatkan pendalaman struktur industri dan mendiversifikasi
jenis-jenis produksinya.
6. Tumbuh menyebar ke luar Pulau Jawa.
Tujuan Jangka Panjang
Membangun industri dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang
didasarkan pada :
1. Pembangunan ekonomi,
2. Pembangunan sosial, dan
3. Pembangunan lingkungan hidup.
b. Sasaran Pembangunan Industri Nasional
Jangka Menengah
1) Terselesaikannya permasalahan yang menghambat, dan rampungnya
program revitalisasi, konsolidasi dan restrukturisasi industri yang terkena
dampak krisis dan bencana
2) Tumbuhnya industri yang mampu menciptakan lapangan kerja yang besar
3) Terolahnya potensi sumber daya alam daerah menjadi produk olahan
4) Semakin meningkatnya daya saing industri untuk pemenuhan kebutuhan
dalam negeri dan ekspor
5) Tumbuhnya industri-industri potensial yang akan menjadi kekuatan
penggerak pertumbuhan industri di masa depan
6) Tumbuh berkembangnya IKM, khususnya industri menengah sekitar dua
kali lebih cepat daripada industri kecil
Jangka Panjang
1. Kuatnya jaringan kerjasama (networking) antara IKM dan industri besar
serta industri di dunia.
2. Kuatnya industri manufaktur sehingga menjadi world class industry
3. Seimbangnya sumbangan IKM terhadap PDB dibandingkan sumbangan
industri besar
2.5. Program Peningkatan Daya Saing Industri Prioritas
a. Sasaran Peningkatan Daya Saing
1) Penciptaan lapangan kerja sebanyak
2) Penciptaan lapangan usaha dan pemerataan pembangunan industri ke
seluruh wilayah
3) Mengurangi defisit neraca perdagangan terutama karena tingginya
ketergantungan impor terhadap barang modal
4) Meningkatkan nilai tambah di dalam negeri melalui pengolahan sumber
daya alam, baik yang berbasis agro maupun mineral
5) Sebagai motor penggerak bagi pencapaian target pertumbuhan industri
nasional
6) Untuk mencapai Key Performance Indicator (KPI) Menteri Perindustrian
dalam Kabinet Indonesia Bersatu II
b. Fokus Pengembangan Industri Prioritas
1. Industri Padat Karya
Program peningkatan daya saing industri padat karya dilaksanakan
melalui: program restrukturisasi permesinan untuk industri tekstil dan
produk tekstil serta alas kaki, pengembangan bahan baku alternatif,
pengembangan desain dan merek, serta program P3DN untuk pengadaan
barang dan jasa pemerintah dan BUMN/BUMD.
2. Industri Kecil dan Menengah (IKM)
Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang diprioritaskan adalah industri
kreatif, seperti industri fesyen, kerajinan dan barang seni, serta terus
mendorong pengembangan industri pangan, sandang dan kerajinan
melalui konsep One Village One Product (OVOP). Program peningkatan
daya saing Industri Kecil dan Menengah adalah modernisasi peralatan
IKM, pendidikan dan pelatihan, promosi serta fasilitasi Kredit Usaha
Rakyat (KUR).
3. Industri Barang Modal
Program pengembangan industri barang modal dalam negeri adalah
pemberian berbagai fasilitas dan insentif fiskal berupa tax allowance,
pembebasan bea masuk, tax holiday, serta dukungan kemudahan kredit
perbankan.
4. Industri Berbasis Sumber Daya Alam
Untuk mendorong tumbuhnya investasi industri berbasis sumber daya
alam dalam rangka meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,
Pemerintah sedang mengupayakan fasilitas tax holiday, tax allowance,
dukungan fasilitasi pembangunan infrastruktur (jalan, pelabuhan, energi,
air bersih, dll) melalui dukungan pemerintah maupun swasta (PPP).
5. Industri Pertumbuhan Tinggi
Program peningkatan daya saing industri kendaraan bermotor dan
elektronika, dilakukan melalui pemberian fasilitas insentif fiskal,
pembebasan PPnBM dan pembebasan bea masuk barang modal, bahan
baku dan komponen yang dibutuhkan untuk produksi dalam negeri.
2.6. Strategi Dan Kebijakan Pengembangan Industri Pengolahan Rumput Laut
Di Propinsi Sulawesi Selatan
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebagai salah satu penghasil
rumput laut terbesar di Indonesia dan perpanjangan tangan dari pemerintah
pusat juga melaksanakan revitalisasi rumput laut yang bertujuan untuk
meningkatkan hasil produksi rumput laut, memperbanyak produk turunan
sehingga nilai jualnya lebih tinggi dan mengintensifkan negara tujuan ekspor
rumput laut (Berita Daerah, 2009).
Provinsi Sulawesi Selatan sebagai sentra pengembangan budidaya
rumput laut, sejak tahun 2009, kegiatan program pengelolaan dan
pengembangan sumberdaya budidaya diprioritaskan untuk mendukung
kegiatan pengembangan komoditas diantaranya : (1) pengembangan budidaya
rumput laut, (2) peningkatan kualitas rumput laut, (3) peningkatan pemasaran,
(4) peningkatan strategi regulasi, dan (5) peningkatan permodalan.
Pengembangan komoditas tersebut di atas dirinci sebagai berikut :
1. Pengembangan Budidaya Rumput Laut
a. Penyaluran paket penguatan modal pengembangan budidaya di 8
kabupaten (Bulukumba, Pangkep, Wajo, Barru, Maros, Pinrang, Luwu dan
Takalar) sebanyak 57 paket.
b. Penyaluran sarana produksi berupa bibit, tali no. 9, no. 5 dan pelampung
di 8 kabupaten.
2. Peningkatan Kualitas Rumput laut
a. Penyediaan dan ketersediaan jumlah bibit rumput laut berkualitas dengan
harga murah.
b. Pelatihan sertifikasi penangkaran bibit rumput laut kualitas Standar
Nasional Indonesia (SNI) bagi petani dan pedagang
3. Peningkatan Pemasaran
a. Membangun komitmen dan kesadaran para pelaku pada tingkat pedagang
pengumpul terhadap kualitas SNI rumput laut.
b. Membangun dan memfungsikan lembaga pengawas mutu sehingga
tindakan penyimpangan dalam pemenuhan mutu dapat dihindari.
4. Peningkatan Strategi Regulasi
Pengaturan agribisnis rumput laut (sea plan) hendaknya difokuskan pada
penetapan suatu peraturan tentang penetapan penggunaan wilayah perairan
pantai khususnya peruntukan budidaya rumput laut oleh masyarakat.
Perencanaan laut (sea plan) untuk memberikan kejelasan bagi masyarakat
dalam mengembangkan wilayah pantai agar tidak berbenturan dengan
rencana pembangunan daerah misalnya rencana untuk pengembangan
daerah wisata pantai tidak berbenturan dengan kegiatan masyarakat yang
akan mengembangkan budidaya rumput laut.
5. Peningkatan Permodalan
Permodalan bagi para petani/nelayan rumput laut adalah pemberdayaan
kepada aksebilitas pada lembaga keuangan mikro, sehingga petani/nelayan
mampu memiliki usaha budidaya rumput laut secara mandiri. Kenyataan
dilapangan menunjukkan banyak petani/nelayan rumput laut sangat
bergantung kepada pedagang pengumpul karena adanya ikatan pelunasan
utang yang telah dijanjikan sehingga mereka tak pernah menjadi pemilik
usaha secara mandiri. Keberadaan lembaga keuangan mikro berupa
koperasi, BPR, BRI unit atau keberadaan BDS (Business Development
Service) mempunyai peranan yang strategis dalam hal akses permodalan
tersebut.
Pemerintah Sulawesi Selatan menetapkan kebijakan untuk industri hilir
atau industri pengolahan rumput laut yaitu : (1) sasaran pengembangan dan (2)
strategi pengembangan. Kebijakan tersebut dirinci sebagai berikut :
1. Sasaran Pengembangan
Sasaran Jangka Menengah
a. Meningkatnya areal tanaman rumput laut.
b. Meningkatnya produktivitas tanaman rumput laut menjadi 3 ton
kering/Ha/2 bulan
c. Tumbuhnya industri Semi Refined Carragenan (SRC).
d. Tumbuhnya industri makanan dan kosmetik berbasis rumput laut.
e. Meningkatnya akses pasar, khususnya pasar SRC.
f. Meningkatnya brand image rumput laut Sulawesi Selatan.
Sasaran Jangka Panjang
a. Budidaya rumput laut sebagai mata pencaharian pokok masyarakat pesisir
Sulawesi Selatan.
b. Meningkatnya produktivitas tanaman menjadi 4 ton kering/Ha/2 bulan.
c. Semakin tumbuh dan berkembangnya industri SRC dan industri makanan
dan kosmetik berbasis rumput laut.
d. Tumbuhnya industri Refined Carragenan (RC).
e. Semakin meluasnya akses pasar SRC, RC dan produk rumput laut dan
Sulawesi Selatan merupakan penghasil SRC, RC terkemuka di dunia.
2. Strategi Pengembangan
a. Peningkatan produktivitas tanaman rumput laut melalui pengembangan
kultur jaringan, teknologi budidaya dan pengolahan pasca panen.
b. Pengembangan teknologi proses untuk menghasilkan SRC, RC dan
produk berbasis rumput laut.
c. Penerapan berbagai standar.
2.7. Peranan, Arah Dan Sasaran Pengembangan Industri Agro
Peranan
Industri Agro memiliki peranan strategis terutama dalam upaya pemenuhan
kebutuhan pokok, perolehan devisa, perluasan kesempatan kerja dan
berusaha, pengembangan sektor ekonomi lainnya, serta sekaligus dapat
meningkatkan perekonomian masyarakat pedesaan. Industri ini memiliki
keungulan komparatif karena menggunakan sumber bahan baku yang tersedia
didalam negeri. Selain itu telah terbukti bahwa dalam situasi krisis ini hanya
sektor-sektor yang tidak bergantung pada impor mampu bertahan, seperti
produk agribisnis dan agroindustri, pertambangan serta industri yang
berorientasi ekspor
Arah Pengembangan
Arah pengembangan industri agro pada dasarnya tidak terlepas dari
kebijaksanaan pengembanan Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan khususnya
dan Industri nasional pada umumnya. Arah Kebijaksanaan Industri
Menumbuh-kembangkan industri agro sesuai dengan potensi Sumber Daya
Alam (SDA) daerah tertentu, sehingga dapat menjadi penggerak
pembangunan di
Mengarahkan pembangunan industri agro pada pendalaman industri menuju
industri yang mandiri serta menghasilkan produk yang berkualitas dengan
harga bersaing untuk pasaran dalam negeri maupun
Meningkatkan kegiatan pemasaran melalui usaha promosi baik di dalam
negeri maupun luar negeri.
Sasaran
Sasaran Pengembangan industri agro adalah gambaran kondisi yang ingin
dicapai industri agro yang meliputi dua tahapan yaitu sasaran jangka pendek-
pemulihan ekonomi dan sasaran jangka panjang.
Sasaran jangka pendek
Ketersediaan sembilan bahan kebutuhan pokok masyarakat antara lain :
beras, terigu, minyak goreng, mie, susu, produk perikanan dan temak dan
lain sebagainya.
Optimalisasi kapasitas terpasang industri agro khususnya yang berorientasi
ekspor.
Pemulihan kinerja ekspor khususnya industri coklat, mete, minyak kelapa
sawit dan industri pengolahan ikan, untuk meningkatkan perolehan devisa
nasional.
Terbukanya peluang usalia industri agro khususnya yang berbasis kelapa
sawit, coklat, tembakau, susu dan ikan di pusat-pusat wilayah pertumbuhan.
Sasaran jangka panjang
Terwujudnya pusat-pusat pengembangan industri agro berbasis kelapa
sawit, kelapa, coklat, biji mete, pengolahan ikan dan pengolahan hasil
temak.
Semakin menguatnya struktur industri agro.
Meningkatnya peranan ekspor produk industri agro baik volume, nilai dan
negara tujuan ekspornya.
Adanya sinergi yang makin kuat antara subsektor industri agro dengan
penyedia bahan baku, industri pendukung dan sektor ekonomi lainnya.
Strategi Dan Program Pengembangan
Strategi Pengembangan
Strategy dasar. Untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan dan
berdasarkan kebijaksanaan pengembangan industri Kimia, Agro dan Hasil
Hutan maka strategi industri agro dapat dijabarkan sebagai berikut:
Meningkatkan kinerja industri agro yang sudah ada, terutama untuk
penguatan ketalianan pangan, mernacu peningkatan ekspor dan untuk
mengliasilkan komoditi substitusi impor.
Meningkatkan penyebaran industri agro ke daerali- daerali dikaitkan dengan
potensi sumber daya alam setempat untuk menghasilkan produk-produk
yang bemilai tambah tinggi.
Pengembangan investasi industri agro dengan memperhatikan keterkaitan
antara industri/sektor ekonomi lain seliingga pengadaan balian baku selalu
terjamin.
Menumbuli-kembangkan industri agro skala kecil dan menengah serta
memberikan insentif kepada industri yang melakukan restrukturisasi
mesin/peralatannya untuk pengembangan produk.
Meningkatkan Kawasan Industri Terpadu (KAT).
Produk industri agro unggulan. Produk industri agro yang diunggulkan
untuk dikembangkan mempunyai kriteria sebagai berikut : hasil produksinya
mempunyai pasar yang jelas dan dibutulikan oleh masyarakat luas ;
mempunyai keterkaitan dan menunjang pembangunan ekonomi nasional.
Sesuai dengan kriteria tersebut maka industri agro yang diprioritaskan untuk
dikembangkan adalali:
Kelompok industri pengolalian berbasis kelapa sawit
Kelompok industri pengolalian yang berbasis ubi kayu
Kelompok industri pengolalian berbasis ikan
Kelompok industri pengolalian berbasis coklat
Kelompok industri pengolahan berbasis mete
Kelompok industri pengolalian berbasis tembakau
Kelompok industri pengolahan susu
2.8. Program Pengembangan Industri Agro
Dalam mencapai sasaran pengembangan dan mengacu kepada
kebijaksanaan yang telah ditetapkan, maka program pengembangan industri
agro adalah sebagai :
1. Meningkatkan Ketersediaan dan Keterjangkauan Kebutuhan Pokok
Masyarakat.
a. Pemantapan produksi industri penghasil kebutuhan pokok, antara lain
minyak goreng, terigu, mie, susu, produk perikanan dan pakan temak.
b. Peningkatan upaya diversifikasi penggunaan bahan pangan altematif
antara lain tepung kasava, tepung
c. Pengembangan industri penunjang kebutuhan
d. Mengembangkan kemitraan usalia antara lain industri kecil, menengah
dan besar dengan sektor
2. Mengembangkan Pusat-Pusat Pertumbuhan Industri
a. Melaksanakan identifikasi jenis-jenis industri yang layak dikembangkan di
suatu wilayah pusat pertumbuhan industri yang potensial.
b. Penyelenggaraan Temu Usalia antara dunia industri dengan instansi
terkait setempat.
c. Koordinasi antar sektor industri dan sektor lainnya sebagai upaya untuk
menjamin keterpaduan penyediaan balian baku, pelaksanaan produksi
dan
d. Promosi dan penyediaan informasi peluang usaha
e. Pembangunan sistem operasi terpadu, baik sumber daya manusia,
teknologi, finansial, infrasutruktur, kelembagaan maupun berbagai jasa
pendukung
3. Meningkatkan Mutu Produk dan Daya Saing
a. Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Sistem Manajemen
Mutu SNI 19 - 9000.
b. Pemasyarakatan Good Manufacturing Practices (GMP) dan pedoman
Sanitary and Phytosanitaiy (SPS) serta melaksanakan Hazard Analysis
Critical Control Point (HACCP) untuk mengurangi adanya penolakan
produk industri agro oleh beberapa negara tujuan ekspor.
c. Mengembangkan diversifikasi produk industri agro, utamanya untuk
meningkatkan nilai tainbah melalui pengembangan industri agro kimia.
d. Memasyarakatkan penerapan teknologi yang sudah teruji, baik untuk
peningkatan inutu, efisiensi maupun pengolahan limbah, yang
dilaksanakan bekerja sama dengan Balai Litbang.
e. Pemasyarakatan Sertifikasi halal produk industri agro.
Pemasyarakatan Fortifikasi pada produk-produk tertentu dalam rangka
meningkatkan gizi masyarakat
4. Pengembangan Sumber Daya Manusia
a. Meningkatkan SDM di bidang menejemen usaha maupun teknik produksi
melalui berbagai diklat keterampilan dan magang.
b. Penumbuhan Wirausalia baru disamping menampung tenaga kerja yang
kena PHK untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam.
5. Pencegahan Pengendalian Pencemaran
a. Melakukan bimbingan dalam pelaksanaan penanggulangan pencemaran.
b. Peningkatan pelaksanaan pencegahan dan pengendalian pencemaran
pada perusahaan industri agro, terutama disentra-sentra produksi.
c. Melakukan pemantauan dan pengawasan terliadap pencegahan dan
penanganan limbah di perusahaan industri agro yang rawan pencemaran
lingkungan
6. Pengembangan Sistem Informasi
a. Menyediakan informasi yang tepat guna, dapat dipercaya validitasnya dan
mutahir, terutama dalam upaya inenembus pasar ekspor.
b. Menyediakan informasi agar dapat digunakan bagi baik oleh aparatur
maupun dunia usaha. Mencakup informasi teknologi, usalia industri,
pemasaran liasil industri, peluang usaha dan investasi dan sarana
informasi industri agro lainnya, yang dilaksanakan melalui pengembangan
jaringan sistim informasi (tennasuk data base) agroindustri.
BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
1. Kebijakan ekonomi merupakan seperangkat perencanaan yang mengacu pada
tindakan, pernyataan, dan pengaturan yang dibuat oleh pemerintah dalam
mengambil keputusan di bidang ekonomi dan menyangkut kepentingan umum.
2. Kebijakan untuk industri pengolahan rumput laut yaitu : (1) sasaran
pengembangan dan (2) strategi pengembangan
3. Kegiatan program pengelolaan dan pengembangan sumberdaya budidaya
diprioritaskan untuk mendukung kegiatan pengembangan komoditas
diantaranya : (1) pengembangan budidaya rumput laut, (2) peningkatan
kualitas rumput laut, (3) peningkatan pemasaran, (4) peningkatan strategi
regulasi, dan (5) peningkatan permodalan.
4. Arah pengembangan industri agro pada dasarnya tidak terlepas dari
kebijaksanaan pengembanan Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan
khususnya dan Industri nasional pada umumnya.
5. Program Pengembangan Industri Agro
1. Meningkatkan Ketersediaan dan Keterjangkauan Kebutuhan Pokok
Masyarakat.
2. Mengembangkan Pusat-Pusat Pertumbuhan Industri
3. Meningkatkan Mutu Produk dan Daya Saing
4. Pengembangan Sumber Daya Manusia
5. Pencegahan Pengendalian Pencemaran
6. Pengembangan Sistem Informasi
3.2. Saran
Kebijakaan pembangunan di sektor industri merupakan indikator penting
penunjang pembangunan ekonomi, sehingga di perlukan perhatian yang serius
agar tujuan pembangunan ekonomi di sektor industri dapat tercapai .
DAFTAR PUSTAKA

Gatot Ibnu Santosa Direktorat Jenderal Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan,
Kebijakan Pembangunan Disektor industri Hasil Pertanian.

https://www.academia.edu/3805139/Kebijakan_Pemerintah_di_Bidang_Industri?
auto=download

http://pumariksa.blogspot.co.id/2014/11/kebijaksanaan-pembangunan-di-sektor.html

https://perencanaankota.blogspot.co.id/2014/08/kebijakan-pengembangan-kawasan-
industri.html

https://www.scribd.com/doc/188797398/Strategi-dan-Kebijakan-Pengembangan-
Industri-di-Provinsi-Sulawesi-Selatan