Anda di halaman 1dari 9

MARPOL (Marine Polution) adalah sebuah peraturan nternasional yang bertujuan

untuk mencegah terjadinya pencemaran di laut. Setiap system dan peralatan yang
ada di kapal yang bersifat menunjang peraturan ini harus mendapat sertifikasi dari
kelas.Berikut ruang lingkup MARPOL, dimana setiap kapal harus dilengkapi
berbagai system yang sesuai dengan regulasi ini:
Annex 1 : Regulasi tentang pencegahan pencemaran oleh minyak
Untuk menyesuaikan dengan peraturan ini, maka setiap kapal harus memenuhi
perlengkapan sebagai berikut:

Oil record book adalah suatu record kapal tentangsegala aktivitas yang
berhubungan dengan oil. Mulai dari proses discharge cargo, discharge slop
tank, pembersihan cargo tank, dan sebagainya. SEgala bentuk pencatatan
harus selalu ada di kapal, bila ada pemeriksaan berkala atau pemeriksaan
setempat.

Oil discharge monitoring system adalah suatu system yang mengontrol kadar
minyak dalam air yang akan dibuang ke laut. System monitoring harus
berfungsi dengan baik dalam berbagai kondisi lingkungan untuk memonitor
dan mongontrol segala macam pembuangan minyak ke laut karena
pembuangan dari air ballast kotor dan segala macam minyak bercampur air
dari cargo tank ke laut yang tidak terkontrol oleh system monitoring adalah
suatu bentuk pelanggaran.

Sistem monitoring ini terdiri dari:

1. Meteran minyak untuk mengukur kadar minyak dalam air

2. Indikator kecepatan kapal untuk mengetahui kecepatan kapal (dalam knots)

3. Indikator posisi kapal untuk mengetahui posisi kapal

4. Discharge control untuk mengatur pembuangan minyak

5. Data recorder untuk mencatat data-data pada waktu discharge

6. Data display untuk menunjukkan data-data ketika discharge sedang


berlangsung.
Sistem ini dihubungkan ke
alarm yang akan berbunyi
dan otomatis menutup
saluran pembuangan jika
minyak bercampur air yang
dikeluarkan melebihi 30 liter
per mil laut dan kandungan
minyak yang dibuang
melebihi 15 ppm (part per
million).

Annex II : Regulasi tentang pencegahan pencemaran oleh NOx cair

Kategori bahan-bahan kimia yang dimaksud dalam annex ini adalah:

Kategori X: NOx jika dibuang ke laut dianggap menimbulkan tingkat bahaya paling
tinggi kepada lingkungan laut, kesehatan manusia, sehingga diberikan
larangan untuk pembuangan zat kimia tipe ini.

Kategori Y: NOx jika dibuang ke laut menimbulkan bahaya terhadap lingkungan laut
dan kesehatan manusia, sehingga diberikan batasan mengenai jumlah
dan kualitas zat kimia ini untuk dibuang ke laut.

Kategori Z: NOx jika dibuang ke laut menimbulkan bahaya yang relative


kecilterhadap
lingkungan laut dan kesehatan manusia, sehingga diberikan batasan
yang tidak terlalu ketat tentang pembuangan zat imia ini ke laut.

Substansi lainya adalah substansi diluar kategori X, Y, dan Z karena tdak


menimbulkan bahaya apapun jika dibuang ke laut.

Annex III : Regulasi tentang pencegahan pencemaran oleh substansi


berbahaya yang diangkut dalam bentuk kemasan

Substansi berbahaya dan kemasan yang dimaksud adalah substansi yang masuk
dalam criteria IMDG (International Maritime Dangerous Good) code. Peraturan ini
dimaksudkan untuk mencegah terjadinya pencemaran laut oleh barang-barang yang
memiliki sifat berbahaya (baik secara fisis maupun kimia) sehingga perlu
mendapatkan perlakuan-perlakuan khusus. Sebagai pengimplementasian dari
aturan tersebut, maka harus dilakukan beberapa prosedur sebagai berikut:

Packing : Kemasan harus cukup untuk meminimalisasi bahaya yang mungkin


ditimbulkan kepada lingkungan.
Marking and labeling : Kemasan yang berisi substansi berbahaya harus dilengkapi
dengan informasi terperinci dan terpasang label bahwa
merupakan marine pollutant dan Material untuk penandaan
dan pemberian label harus bertahan selama 3 bulan
pelayaran.
Documentation : Semua barang harus dilengkapi dengan sertifikat-sertifikat
sebagai bahan pemeriksaan.

Stowage : Semua barang yang berbahaya harus tersimpan dengan aman sehingga
tidak menimbulkan pencemaran pada lingkungan laut dengan tidak
membahayakan kapal dan penumpangnya.

Quantity limitations : Pembatasan jumlah substansi yang sekiranya dapat


membahayakan lingkungan laut.

Annex V : Regulasi tentang pencegahan pencemaran oleh sampah

Beberapa tipe sampah dapat diklasifikasi sebagai berikut :

1. Plastic ( tali sintetis, jala, tas plastic, dll )

2. Sampah campuran

3. Sisa makanan

4. Kertas, kain, kaca.

Implementasi regulasi:

1. Pemasangan plakat
Setiap kapal dengan panjang lebih dari 12 meter harus tersedia plakat sebagai
peringatan kepada kru kapal tentang pembuangan sampah.

2. Ship garbage management plan


Setiap kapal di atas 400 ton GT dan kapal dengan kapasitas kru 15 orang atau lebih
harus memiliki garbage management plan yang harrus dipatuhi semua kru. Hal ini
termasuk pemisahan sampah berdasarkan jenisnya, dan pemasangan fasilitas
treatment untuk sampah.

3. Ship garbage record book


Setiap kapal di atas 400 ton GT dan kapal dengan kapasitas kru 15 orang atau lebih
harus bias menunjukkan garbage record book kepada pihak pelabuhan ketika akan
berlabuh.
International Convention for the Prevention of Pollution from Ships 1973
(Marine Pollution)
International Convention for the Prevention of Pollution from Ships 1973 yang
kemudian disempurnakan dengan Protocol pada tahun 1978 dan konvensi ini
dikenal dengan nama MARPOL 1973/1978. MARPOL 1973/1978 memuat 6 (enam)
Annexes yang berisi regulasi-regulasi mengenai pencegahan polusi dari kapal
terhadap :

1. Annex I : Prevention of pollution by oil ( 2 october 1983 )

Total hydrocarbons (oily waters, crude, bilge water, used oils, dll) yang diizinkan
untuk dibuang ke laut oleh sebuah kapal adalah tidak boleh melebihi 1/15000 dari
total muatan kapal. Sebagai tambahan, pembuangan limbah tidak boleh melebihi 60
liter setiap mil perjalanan kapal dan dihitung setelah kapal berjarak lebih 50 mil dari
tepi pantai terdekat. Register Kapal harus memuat daftar jenis sampah yang
dibawa/dihasilkan dan jumlah limbah minyak yang ada. Register Kapal harus
dilaporkan ke pejabat pelabuhan.

Annex II : Control of pollution by noxious liquid substances ( 6 april 1987)


Aturan ini memuat sekitar 250 jenis barang yang tidak boleh dibuang ke laut, hanya
dapat disimpan dan selanjutnya diolah ketika sampai di pelabuhan. Pelarangan
pembuangan limbah dalam jarak 12 mil laut dari tepi pantai terdekat.

Annex III : Prevention of pollution by harmful substances in packaged form (1


july 1992)

Aturan tambahan ini tidak dilaksanakan oleh semua negar yaitu aturan standar
pengemasan, pelabelan, metode penyimpanan dan dokumentasi atas limbah
berbahaya yang dihasilkan kapal ketika sedang berlayar.

Annex IV : Prevention of pollution by sewage from ships ( 27 september 2003 )

Aturan ini khusus untuk faecal waters dan aturan kontaminasi yang dapat diterima
pada tingkatan (batasan) tertentu. Cairan pembunuh kuman (disinfektan) dapat
dibuang ke laut dengan jarak lebih dari 4 mil laut dari pantai terdekat. Air buangan
yang tidak diolah dapat dibuang ke laut dengan jarak lebih 12 mil laut dari pantai
terdekat dengan syarat kapal berlayar dengan kecepatan 4 knot.

Annex V : Prevention of pollution by garbage from ships ( 31 december 1988)

Aturan yang melarang pembuangan sampah plastik ke laut.

Annex IV : Prevention of air pollution by ships


Aturan ini tidak dapat efektif dilaksanakan karena tidak cukupnya negara yang
meratifiskasi (menandatangani persetujuan.)

MARPOL 1973/1978 memuat peraturan untuk mencegah seminimum


mungkin minyak yang mencemari laut. Tetapi, kemudian pada tahun 1984 dilakukan
beberapa modifikasi yang menitik-beratkan pencegahan hanya pada kagiatan
operasi kapal tangki pada Annex I dan yang terutama adalah keharusan kapal untuk
dilengkapai dengan Oily Water Separating Equipment dan Oil Discharge Monitoring
Systems.

METODE PENANGGULANGAN TUMPAHAN MINYAK DI LAUT


Langkah pertama yang harus dilakukan dalam penangannan tumpahan minyak (oil
spill) di laut adalah dengan cara melokalisasi tumpahan minyak menggunakan
pelampung pembatas (oil booms), yang kemudian akan ditransfer dengan perangkat
pemompa (oil skimmers) ke sebuah fasilitas penerima "reservoar" baik dalam bentuk
tangki ataupun balon. Langkah penanggulangan ini akan sangat efektif apabila
dilakukan di perairan yang memiliki hidrodinamika air yang rendah (arus, pasang-
surut, ombak, dll) dan cuaca yang tidak ekstrem.

Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ burning,


penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent dan penggunaan
bahan kimia dispersan. Setiap teknik ini memiliki laju penyisihan minyak berbeda
dan hanya efektif pada kondisi tertentu.

a. In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan air sehingga


mampu mengatasikesulitan
pemompaan minyak dari
permukaan laut, penyimpanan
dan pewadahan minyak serta
air laut yang terasosiasi, yang
dijumpai dalam teknik
penyisihan secara fisik. Cara ini
membutuhkan ketersediaan
booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau barrier yang tahan api.
Beberapa kendala dari cara ini adalah pada peristiwa tumpahan besar yang
memunculkan kesulitan untuk mengumpulkan minyak dan mempertahankan pada
ketebalan yang cukup untuk dibakar serta evaporasi pada komponen minyak yang
mudah terbakar. Sisi lain, residu pembakara yang tenggelam di dasar laut akan
memberikan efek buruk bagi ekologi. Juga, kemungkinan penyebaran api yang tidak
terkontrol.

b. Cara kedua yaitu penyisihan minyak secara mekanis melalui dua tahap yaitu
melokalisir tumpahan dengan menggunakan booms dan melakukan pemindahan
minyak ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang disebut
skimmer. Upaya ini terhitung sulit dan mahal meskipun disebut sebagai pemecahan
ideal terutama untuk mereduksi minyak pada area sensitif, seperti pantai dan daerah
yang sulit dibersihkan dan
pada jam-jam awal tumpahan.
Sayangnya, keberadaan
angin, arus dan gelombang
mengakibatkan cara ini
menemui banyak kendala.

C. Cara ketiga adalah


bioremediasi yaitu
mempercepat proses yang terjadi
secara alami, misalkan dengan
menambahkan nutrien, sehingga
terjadi konversi sejumlah
komponen menjadi produk yang
kurang berbahaya seperti CO2 , air dan biomass. Selain memiliki dampak lingkunga
kecil, cara ini bisa mengurangi dampak tumpahan secara signifikan. Sayangnya,
cara ini hanya bisa diterapkan pada pantai jenis tertentu, seperti pantai berpasir dan
berkerikil, dan tidak efektif untuk diterapkan di lautan.
d. Cara keempat dengan menggunakan sorbent yang bisa menyisihkan minyak
melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pada permukaan sorbent) dan
absorpsi (penyerapan
minyak ke dalam sorbent).
Sorbent ini berfungsi
mengubah fasa minyak dari
cair menjadi padat
sehingga mudah
dikumpulkan dan
disisihkan. Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik,oleofobik dan mudah
disebarkan di permukaan minyak, diambil kembali dan digunakan ulang. Ada 3 jenis
sorbent yaitu organik alami (kapas, jerami, rumput kering, serbuk gergaji), anorganik
alami (lempung, vermiculite, pasir) dan sintetis (busa poliuretan, polietilen,
polipropilen dan serat nilon)

E. Cara kelima dengan menggunakan dispersan kimiawi yaitu dengan memecah


lapisan minyak menjadi tetesan
kecil (droplet) sehingga
mengurangi kemungkinan
terperangkapnya hewan ke
dalam tumpahan. Dispersan
kimiawi adalah bahan kimia
dengan zat aktif yang disebut surfaktan (berasal dari kata : surfactants = surface-
active agents atau zat aktif permukaan).

Prinsip Kerja dispersan Kimiawi adalah memecahan tumpahan lapisan minyak


menjadi tetesan tetesan kecil sehingga kemampuan lengket minyak jauh
berkurang. Hewan hewan laut yang terperangkap dalam tetesan tetesan kecil
tidak akan terperangkap.Dipersan kimiawi mampu mengecilkan tegangan
permukaan tetesan minyak karena kandungan surkaftan yaitu zat aktif permukaan
yang mampu berkaitan dengan minyak (oleofil) sekaligus berikatan dengan air
(hidrofil). Dipersan kimiawi ini disebar secara merata pada permukaan lapisan
minyak yang tumpah dengan bantuan pelarut.

Dua jenis dipersan kimiawi yang biasa digunakan yaitu :

1.Konsentrat dispersan dengan kandungan surfaktan dalam konsentrasi besar


dengan pelarut alkohol atau glikol.
2.Konvensional dispersan dikenal sebagai hidrokarbon dispersan dengan pelarut
berupa hidrokarbon. Surfaktan yang dikandung hanya 15-25% dan tanpa
pengeceran dengan air laut.

Mekanisme Dispersi

Dispersan kimiawi mempercepat proses pendispersian dari proses alami yang sudah
terjadi akibat gelombang air laut. Dispersan kimiawi akan menempatkan diri antara
minyak dengan air. Gugus hidrofil berikatan dengan air sedangkan gugus oleofil
berikatan dengan minyak. Sebagai akibatnya, tegangan permukaan minyak jauh
berkurang. Lapisan minyak berubah menjadi droplet. Keberadaan dispersan juga
mencegah kemungkinan minyak bergabung kembali. Pembentukan slick dapat
dicegah. Dengan cara ini, keberadaan tetesan tetesan minyak tetap terjaga dalam
waktu lama hingga dilakukan langkah pemindahan droplet tersebut atau secara
alami akan terkendalikan.

Kelebihan penggunaan Dispersan Kimiawi

1.Proses dispersi berlangsung cepat meskipun digunakan dalam jangkauan wilayah


pencemaran minyak yang luas. Tumpahan minyak yang bisa dikendalikanpun dalam
jumlah besar.

2.Efek negatif slick pada pantai dan habitatnya dapat dikurangi secara signifikan.
Proses ini berlangsung dalam waktu sehari.

3.Dapat diterapkan dalam kondisi air laut bergelombang dengan arus yang kuat

4. Proses degradasi alami akan dipercepat dimana setelah terbentuknya droplet


secara otomatis permukaan minyak akan makin tipis dan meluas, maka paparan
bakteri dan oksigen meningkat. Kondisi ini merangsan biodegradasi minyak dan
kolonisasi.

5. Menghemat biaya karena proses degradasi minyak secara in situ sehingga tidak
membutuhkan pengolahan dan dispoesal minyak.

Kekurangan Penggunaaan Dispersan kimiawi

1.Efektifitas dispersan dipengaruhi oleh lamanya waktu tumpahan minyak diatas


permukaan laut. Semakin lama, maka proses pelapukan minyak akan menjadi
besar. Jadi, Pemberian dispersan kimiawi akan efektif tidak lebih dari 24 jam setelah
kejadian. Jika lebih dari waktu ini, Dispersan kimiawi akan ditambahkan demulfiser
untuk membantu memecah emulsi.

2.Berpotensi mengakibatkan dampak negatif bagi sejumlah organisme laut akibat


efek toksik ari minyak yang telah terdispersi.

Dispersan kimiawi menjadi solusi pencemaran laut dan paling banyak


digunakan.