Anda di halaman 1dari 9

FEASIBILITY STUDY

Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru


Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat

BAB 8
PENUTUP

LAPORAN AKHIR
A. KESIMPULAN STUDI NON KEUANGAN

Sebelum dijelaskan beberapa kesimpulan studi non

keuangan, maka perlu dijelaskan terlebih dahulu bab-bab

berapa dan apa sajakah yang dapat dikelompokkan ke dalam

kesimpulan non keuangan. Penjelasan pada bab tentang aspek

pelayanan (bab 3), aspek manajemen sumber daya manusia

(bab 4), serta aspek sosial dan lingkungan (bab 5) dapat

dikelompokkan ke dalam kelompok studi non keuangan.

Berdasarkan hasil kajian tentang hal-hal yang terkait dengan

non keuangan yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya,

maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. MDGs/Millenium Development Goals) goal 6 :


Mengendalikan HIV dan AIDS, Malaria dan Penyakit Menular
Lainnya (Tb), dibandingkan dengan HIV dan AID serta
Malaria, maka Tb lebih dapat dikendalikan sehingga
diperlukan rumah sakit khusus paru-paru.

VIII - 1
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat

2. Berdasarkan laporan tahun BP4 Sumatera Barat 2008-2011


diketahui bahwa terjadi peningkatan pasien dalam hal :

a) Jumlah pasien rawat jalan berdasarkan jenis kunjungan

LAPORAN AKHIR
(pasien umum, ASKES, JAMKESMAS, dan JAMKESDA)

b) Jumlah kunjungan pasien rawat jalan (pasien baru dan

lama).

c) Jumlah pasien berdasarkan pada asal daerah pasien

d) Penemuan penderita TB menurut kategori penyakit (BTA

positif baru, BTA Positif L/K/G, BTA Negatif, BTA Negatif

anak dan ekstra Paru).

3. Fungsi BP4 bersifat One Day Care /ODC (perawatan dalam


satu hari) tidak melayani pasien rawat inap. Ini jelas tidak
memungkinkan lagi mengingat pasien membutuhkan
perawatan lebih dari satu hari. Sementara pasien itu berasal
dari luar Kabupaten Padang Pariaman atau bahkan luar
Propinsi Sumatera Barat.
4. Selama ini BP4 lebih banyak dikunjungi masyarakat
kalangan bawah, untuk tahun depan tidak hanya mereka
yang menjadi pangsa pasar, melainkan juga masyarakat
menengah atas.
5. Ditinjau dari segi wilayah/daerah, BP4 Sumatera Barat tidak
hanya untuk masyarakat Kabupaten Padang Pariaman saja,
tapi juga masyarakat di luar Kabupaten Pariaman bahkan

VIII - 2
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat

pasien dari seluruh kabupaten/Kota di Sumatera Barat dan


luar propinsi.
6. Kebutuhan layanan kesehatan semakin meningkat dari

LAPORAN AKHIR
tahun ke tahun, seiring dengan makin majunya
perokonomian daerah dan makin bertambahnya penduduk.
Dengan demikian kebutuhan layanan terhadap penderita
penyakit paru-paru, semakin lama semakin meningkat
kuantitas dan kualitasnya. Hal ini disebabkan oleh dua
faktor yang saling berkaitan yaitu pertama, jumlah perokok
semakin bertambah tidak hanya dilakukan oleh laki-laki juga
wanita, bahkan tidak hanya kelompok umur dewasa juga
kelompok umur remaja dan anak-anak. Potensi
pertambahan jumlah perokok ini menambah jumlah
penderita penyakit paru-paru juga. Kedua, penderita
penyakit paru-paru adalah penyakit yang menular yang
dimungkinkan dapat ditularkan pada manusia sehat. Karena
kondisi yang demikian, maka makin dituntut kualitas
pelayanan yang lebih baik dari tahun ke tahun, sejalan
dengan makin sadarnya masyarakat akan pentingnya
kesehatan.
7. Karena ekonomi mulai mapan pasca krisis, masyarakat
mulai mementingkan kualitas pelayanan dan fasilitas medis
sebagai pilihan menjaga kesehatannya. Kelompok
masyarakat ini lebih memilih rumah sakit di luar Sumatera
Barat yang memiliki sarana/fasilitas dan peralatan medis
serta pelayanan yang lebih baik. Bahkan memanfaatkan
layanan kesehatan di luar negeri (Malaysia dan Singapura).

VIII - 3
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat

8. Kehadiran rumah sakit khusus paru-paru merupakan


jawaban terhadap tuntutan masyarakat tersebut ditinjau
dari prospek permintaan dan peluang pasar. Sejauh ini satu-

LAPORAN AKHIR
satunya balai pengobatan penyakit paru-paru di bagian
Sumatera Tengah. Untuk Pulau Sumatera ini, terdapat BP4
yaitu di Palembang (Sumatera Selatan), Lubuk Alung
(Sumatera Barat), di Medan (Sumatera Utara) dan Banda
Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam). Ini berarti peluang pasar
komparatif besar ditambah lagi dengan letaknya yang
strategis di simpul transportasi Lintas Sumatera, dan
besarnya jumlah penduduk yang ada dalam cakupan
layanannya.
9. Luas areal yang ada saat ini, kurang mendukung
memaksimalkan kualitas pelayanan kepada pasien. Untuk
itu diperlukan perluasan areal untuk penambahan
sarana/fasilitas khususnya lahan, baik yang diperuntukkan
untuk layanan medis maupun non medis. Di masa depan
perlu dipertimbangkan untuk membangun secara vertikal/
bertingkat jika dijadikan rumah sakit khusus penderita paru-
paru.
10. Aspek manajemen sumber daya manusia dan aspek sosial
serta lingkungan juga penting untuk ditingkatkan peran,
fungsi dan tugasnya sesuai dengan tuntutan akan
pengembangannya menjadi rumah sakit khusus paru-paru.

VIII - 4
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
Bila ada peringkat dalam menentukan tingkat kelayakan

suatu studi yang diurutkan berdasarkan dari tingkat terendah

sampai yang tertinggi dengan skor 1-5 :

LAPORAN AKHIR
Skor 5 = sangat layak

Skor 4 = layak

Skor 3 = netral

Skor 2 = tidak layak

Skor 1 = sangat tidak layak

Berdasarkan penjelasan dalam kesimpulan studi non

keuangan tersebut dapat disimpulkan bahwa berada pada skor 5

(sangat layak).

B. KESIMPULAN STUDI KEUANGAN

Berbeda dengan kesimpulan non keuangan, maka

beberapa kesimpulan studi keuangan, hanya mencakup

penjelasan bab tentang aspek finansial (bab 6). Berdasarkan

hasil kajian tentang hal-hal yang terkait dengan keuangan, maka

dapat disimpulkan:

1. Kebutuhan dana BP4 Sumatera Barat sebagai lembaga Non


Swadana, Belanja Administrasi Umum (BAU), Belanja
Operasi dan Pemeliharaan dan Belanja Modal, yang berasal
dari Pusat dalam bentuk APBN dan Pemerintah Daerah
dalam bentuk APBD. Sedangkan pendapatan dari

VIII - 5
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat

operasional BP4 Sumatera Barat dijadikan sebagai PAD


Propinsi Sumatera Barat. Dana dari APBD Propinsi Sumatera
Barat digunakan untuk keperluan operasional seperti

LAPORAN AKHIR
Belanja Administrasi Umum, Belanja Operasi dan
Pemeliharaan dan Belanja Modal. Sedangkan dana APBN
terutama digunakan untuk Pembelian Alat-alat Kedokteran.
2. Pola pendanaan BP4 Sumatera Barat sangat meringankan
beban dalam menjalankan fungsinya, karena secara
finansial BP4 Sumatera Barat selalu didukung anggaran
APBD Sumatera Barat dan APBN. Karena BP4 Sumatera
Barat milik pemerintah, seluruh kebutuhan pembiayaan
akan didukung pemerintah Propinsi Sumatera Barat dan
Pusat, seperti gaji dan pembelian peralatan medik.
3. Berdasarkan laporan kegiatan BP4 pertahun 2008-2011,
diketahui bahwa jumlah anggaran belanja rutin dari APBD
Propinsi Sumatera Barat selalu meningkat. Sebagai contoh,
jumlah anggaran Tahun 2011 tersebut naik 12,09 %
dibandingkan tahun 2010 yang sebesar Rp. 2.750.726.150,-.
4. Pendapatan BP4 Sumatera Barat diperoleh dari
retribusi karcis, ASKESSOS, JAMKESMAS, ASKESKIN.
Jumlah Pendapatan BP4 Sumatera Barat dari ke tahun
juga terjadi peningkatan.
5. Berdasarkan hasil kajian aset, diketahui bahwa
peralatan medis yang ada sekarang umurnya rata-rata
di atas 10 tahun, sehingga diperlukan penggantian
peralatan secara bertahap berdasarkan skala prioritas
dan skala kemampuan keuangan daerah. Untuk

VIII - 6
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat

meringankan beban APBD, penerimaan untuk tahun-


tahun mendatang adalah melalui kebijakan tarif baik
karcis umum maupun jasa layanan. Apalagi makin

LAPORAN AKHIR
meningkatnya fasilitas/sarana dan layanan, maka
penyesuaian tarif merupakan kebutuhan, demi untuk
menjamin peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
6. Selain kebijakan tarif, pengurangan beban APBD juga
dapat diperoleh dari peningkatan penerimaan dari
ASKES dan dana-dana program dari Pemerintah Pusat.
7. Potensi keuangan daerah dapat dilihat dari sumber
penerimaan APBD, yang secara riil bersumber dari
penerimaan keuangan daerah Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dari data pendapatan daerah tahun 2010 2011, kontribusi
PAD terhadap APBD rata-rata hanya sebesar 6,13%. Hal ini
berarti jika ingin dikembangkan menjadi rumah sakit masih
memiliki kemampuan terbatas untuk membiayai kebutuhan
dasar dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, atau
belum mampu membiayai aktivitas pelayanannya bila biaya
tersebut dibebankan dari pendapatan retribusi saja.
Gambaran kecilnya sumbangan pendapatan retribusi BP4
tersebut tidak hanya dialami BP4 Sumatera Barat saja,
melainkan hampir di seluruh UPTD pada Dinas Kesehatan di
Sumatera Barat.
8. Penyelenggaraan Otonomi Daerah yang dipayungi UU No.
32/2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 33/2004
tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Daerah, maka pemerintah pusat mengalokasikan Dana

VIII - 7
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat

Alokasi Umum (DAU) bagi setiap propinsi. Setiap tahunnya


alokasi DAU yang diterima oleh Pemerintah Propinsi
Sumatera Barat mengalami kenaikan.

LAPORAN AKHIR
9. Dengan akan diberlakukannya penyesuaian pajak rokok
secara nasional tahun 2014, maka sebahagian dari pajak itu
dialokasikan untuk pengembangan dan pembangunan
bidang kesehatan, sehingga bidang kesehatan memperoleh
alokasi dana semakin besar.

Kembali dijelaskan apabila ada peringkat dalam

menentukan tingkat kelayakan suatu studi yang diurutkan

berdasarkan dari tingkat terendah sampai yang tertinggi dengan

skor 1-5 :

Skor 5 = sangat layak

Skor 4 = layak

Skor 3 = netral

Skor 2 = tidak layak

Skor 1 = sangat tidak layak

Berdasarkan penjelasan dalam kesimpulan studi keuangan

tersebut dapat disimpulkan bahwa berada pada skor 4 (layak).

C. KESIMPULAN KESELURUHAN

Berdasarkan kesimpulan studi non keuangan dan

keuangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa secara

VIII - 8
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
keseluruhan rencana pengembangan Balai Pengobatan

Penyakit Paru-Paru menjadi rumah sakit khusus paru-paru

propinsi sumatera Barat adalah layak untuk dilakukan.

LAPORAN AKHIR

VIII - 9