Anda di halaman 1dari 16

FEASIBILITY STUDY

Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru


Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat

BAB 7
ANALISIS POTENSI BP4

LAPORAN AKHIR
A. ANALISIS SWOT

Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity dan

Threat) adalah analisis mengenai kekuatan dan kelemahan yang

dimiliki organisasi yang dilakukan melalui telaah terhadap

kondisi internal organisasi, serta analisis mengenai peluang dan

ancaman yang dihadapi organisasi yang dilakukan melalui

telaah terhadap kondisi eksternal organisasi. Analisis SWOT

hanya bermanfaat dilakukan apabila telah secara jelas

ditentukan dalam apa major priority BP4 tersebut beroperasi,

dan ke arah mana BP4 menuju ke masa depan serta ukuran apa

saja yang digunakan untuk menilai keberhasilan organisasi/

manajemen dalam menjalankan misinya dan mewujudkan

visinya. Hasil analisis akan memetakan posisi BP4 terhadap

lingkungannya dan menyediakan pilihan strategi umum yang

sesuai, serta dijadikan dasar dalam menetapkan sasaran-

VII - 1
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
sasaran organisasi selama 3-5 tahun ke depan untuk memenuhi

kebutuhan dan harapan dari para stakeholders.

Dalam praktik sering ditemui bahwa penggunaan analisis

LAPORAN AKHIR
SWOT sebagai alat perencanaan strategik tidak memberikan

hasil yang diharapkan, yang disebabkan salah satu atau

gabungan dari faktor-faktor sebagai berikut_:

1. Visi, misi dan ukuran keberhasilan organisasi tidak

ditetapkan secara jelas dan tegas atau tidak digunakan

dalam mengidentifikasi peluang dan ancaman yang

dihadapi serta kekuatan dan kelemahan yang dimiliki

organisasi;

2. Data dan informasi yang digunakan kurang lengkap, spesifik

dan akurat, sehingga dalam perumusan faktor strategisnya

tidak fokus;

3. Analisis lebih ditekankan kepada kecanggihan metode dan

bukan kepada filosofi, kesungguhan dalam melakukan

analisis serta kegunaan hasil SWOT itu sendiri;

4. Terlalu beragamnya pendekatan analisis yang dikenal dan

ditawarkan, tetapi relatif sedikitnya referensi dan bahan

bacaan yang komprehensif dan studi kasus yang ada yang

menyebabkan model dan pendekatan yang digunakan

VII - 2
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
sering kurang sesuai dengan karakter organisasi yang

bersangkutan;

5. Pemberian bobot dan peringkat diatur sedemikian rupa

LAPORAN AKHIR
untuk menempatkan BP4 pada posisi yang diinginkan atau

tidak digunakan dengan semestinya. Karena itu tidak jarang

terjadi, sekalipun Analisis SWOT menempatkan BP4 pada

kuadran yang menghendaki BP4 memilih strategi

konsolidasi, tetapi dari sasaran-sasaran dan program yang

ditetapkan BP4 justru mencerminkan strategi ekspansi.

Pada analisis apapun, validitas dan kegunaan hasil analisis

sangat tergantung kepada kelengkapan dan akurasi data yang

digunakan dalam analisis. Karena itu rancangan pelaksanaan

analisis SWOT perlu disusun sebaik-baiknya dari awal agar

penilai tidak kehilangan waktu dan kesempatan untuk

memperoleh data dan informasi informasi yang penting dan

berkualitas tinggi.

Langkah-langkah penyusunan yang telah dilakukan

sebelum ini, utamanya penjaringan aspirasi stakeholders,

perumusan visi dan misi berikut penetapan ukuran keberhasilan

yang dinyatakan dalam empat perspektif balanced scorecard

serta pemahaman manajemen dan anggota penilai terhadap

VII - 3
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
produk, pasar, kondisi internal dan lingkungan organisasi

sangat membantu penilai dalam merancang dan pelaksanaan

pengumpulan data dan informasi yang diperlukan untuk

LAPORAN AKHIR
analisis. Ini berarti bahwa pengumpulan data dan informasi

sudah dimulai begitu penilai memulai kegiatannya. Rancangan

pengumpulan data dan informasi diawali dengan membuat dan

mengembangkan check list dan form-form data dan informasi

yang diperlukan.

B. ANALISIS dan PENETAPAN STRATEGI

1. Tahap I (The Input Stage)

1. Analisis Faktor Internal (Internal Factor Evaluation / IFE)

Dengan menggunakan matriks yang merupakan alat

untuk menyimpulkan dan mengevaluasi kekuatan dan

kelemahan.

a. Identifikasi faktor internal yang termasuk kekuatan

dan kelemahan.

b. Buat pembobotan untuk setiap faktor antara 0,0 bila

tidak penting dan 1,0 bila semua penting.

c. Buat rating antara 1 sampai 4

4 = sangat berperan sebagai kekuatan/kelemahan

3 = merupakan kekuatan/kelemahan

VII - 4
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
2 = kurang berperan sebagai kekuatan/kelemahan

1 = sangat sedikit berperan sebagai

kekuatan/kelemahan

LAPORAN AKHIR
d. Kalikan bobot dan rating untuk menentukan skor

bobot setiap faktor

2. Analisis Faktor Eksternal (External Factor Evaluation /

EFE)

Analisis ini untuk mengevaluasi peluang dan ancaman.

Langkah pembuatan sama dengan IFE.

2. Tahap II (The Matching Stage)

1. Analisis SWOT untuk menentukan : S-O Strategy

(menggunakan kekuatan yang ada untuk mendapat

keuntungan peluang yang ada), W-O Strategy (bertujuan

memperbaiki kelemahan yang ada dengan

menggunakan keuntungan dari peluang yang ada), S-T

Strategy (menggunakan kekuatan yang ada untuk

mengurangi dampak ancaman yang ada), dan W-T

Strategy (taktik pertahanan yang bertujuan untuk

mengurangi kelemahan internal yang ada dan

menghindari tantangan dari luar).

VII - 5
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
2. Analisis Internal Eksternal (IE) Matrix dilakukan untuk

menentukan posisi dengan memperhatikan nilai total EFE

Matiks dan IFE Matriks :

LAPORAN AKHIR
Matiks IE dengan sumbu horisontal adalah nilai IFE yang

dibagi menjadi 3 daerah, yaitu :

1,0 1,99 = IFE Lemah

2,0 2,99 = IFE Rerata

3,0 4,00 = IFE Kuat

Matriks IE dengan sumbu vertikal adalah nilai EFE yang

dibagi menjadi 3 daerah yaitu :

1,0 1,99 = EFE Rendah

2,0 2,99 = EFE Sedang

3,0 4,00 = EFE Tinggi

Dengan demikian terbentuk 9 sel seperti tertera dalam gambar :

4,0

I II III
3,0

EFE
TOTAL
IV V VI
2,0

VIII
1,0 Sumber
VII : Strategic Management, David IX
1995.
4,0yang masuk
Organisasi 3,0divisi sel I, II,2,0 1,0 and Build
IV disebut Grow
IFE
TOTAL
dengan strategi Intensif, yaitu :

VII - 6
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
Market Penetration,

Market Development, dan

Product Development.

LAPORAN AKHIR
Organisasi yang masuk divisi sel III, V, VII dapat berhasil dengan

Hold and Maintain dengan strategi :

Market Penetration, dan

Product Development

Sedangkan organisasi yang masuk divisi sel VI, VIII, IX adalah

Harvest or Divest.

C. FAKTOR-FAKTOR dalam ANALISIS SWOT

1. FAKTOR INTERNAL

Faktor internal adalah faktor-faktor di dalam BP4, antara

lain organisasi dan sumber daya manusia, termasuk

sarana/fasilitas yang dimiliki. Pada prinsipnya hal-hal yang

termasuk ke dalam faktor internal yang mempengaruhi kinerja

organisasi tersebut adalah hal-hal yang berkaitan dengan

kekuatan (strengths) dan hal-hal yang berkaitan dengan

kelemahan (weaknesses) dari organisasi tersebut.

a. Kekuatan (Strengths)

VII - 7
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
Berdasarkan data dan analisis yang dilakukan serta hasil

diskusi, maka disepakati faktor kritis dari kekuatan (strengths)

adalah :

LAPORAN AKHIR
1. Satu-satunya BP4 di Sumatera Bagian Tengah mencakup

Propinsi Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi,

Bengkulu dan Sumatera Utara,

2. Telah terjadinya peningkatan pasien dari tahun ke tahun

yang berkunjung ke BP4 Sumatera Barat dalam hal jumlah

kunjungan pasien, asal daerah, jumlah pasien yang rawat

inap dan IGD

3. Hasil data primer, telah ada perjanjian kerjasama antara

Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas

Andalas dengan BP4 Sumatera Barat tentang Peningkatan

Kualitas Pelayanan, Pendidikan dan Pelatihan

4. Menurut Kepala SMF bagian Paru RSUP Dr. M. Djamil

Padang, Dr. Irvan Medison, juga telah ada kerjasama antara

SMF Bagian Paru dengan BP4 Sumatera Barat sejak tahun

2003 berbentuk pengiriman residen, dan penelitian residen

serta dukungan penuh untuk rencana pendirian rumah sakit

khusus Paru ini

VII - 8
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
5. Lokasi BP4 Strategis, karena berada di simpul transportasi

Padang Bukittinggi dan Padang Pariaman yang merupakan

lalu lintas paling ramai di Sumatera Barat

LAPORAN AKHIR
6. Keberadaan Puskesmas yang dapat memberikan rujukan

bagi pasien yang memerlukan penanganan kesehatan lebih

lanjut.

7. Adanya UU kesehatan yang memberikan landasan hukum

bagi BP4 untuk menjalankan fungsinya.

8. Adanya program prioritas Departemen Kesehatan yang

dapat meningkatkan kualitas pelayanan BP4.

9. Pelaksanaan otonomi daerah sehingga UPTD BP4 menjadi

bagian dari Pemerintah Propinsi Sumatera Barat, yang

memperpendek jarak koordinasi dan pengawasan

10. Mendapat dukungan dana dari APBD dan bantuan dana

APBN.

b. Kelemahan (Weaknesses)

Faktor-faktor yang menjadi kelemahan (Weaknesses) dari BP4

Sumatera Barat adalah:

VII - 9
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
1. Ada beberapa persyaratan untuk menjadikan sebuah

rumah sakit yang harus dilengkapi oleh BP4 Sumatera

Barat

LAPORAN AKHIR
2. Sistem informasi medis dan non medis masih ada yang

kurang baik

3. Tidak optimalnya dan kurang intensifnya kegiatan

pemasaran terhadap layanan yang dapat diberikan oleh

BP4, sehingga banyak masyarakat yang belum mengetahui

jenis-jenis pelayanan kesehatan yang dimiliki BP4.

4. Masih ada tenaga medis/non medis yang kurang disiplin,

sehingga menurunkan kualitas pelayanan kepada

masyarakat.

5. Minimnya sarana/fasilitas dan peralatan penunjang medis,

serta telah lamanya usia peralatan medis/non medis.

6. BP4 Sumatera Barat belum swadana, sehingga memiliki

keterbatasan menentukan kebijakan-kebijakan yang

strategis.

2. FAKTOR EKSTERNAL

VII - 10
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
Faktor eksternal adalah faktor-faktor di luar BP4, antara

lain bentuk organisasi yang sejenis dalam hal ini BP4 kesehatan

lain dan atau rumah sakit lain di luar BP4, kebijakan

LAPORAN AKHIR
pemerintah, keadaan sosial ekonomi dan politik. Pada

prinsipnya hal-hal yang termasuk ke dalam faktor eksternal

adalah hal-hal yang berkaitan dengan peluang (opportunities)

dan hal-hal yang berkaitan dengan ancaman (threats) yang

dapat mempengaruhi kinerja organisasi tersebut.

a. Peluang (Opportunities)

Faktor kritis dari peluang yang dimiliki BP4, adalah :

1. Tidak memungkinkannya lagi fungsinya sebagai Balai

Pengobatan mengingat bahwa telah terjadi peningkatan

berdasarkan jumlah pasien, asal daerah dan adanya pasien

anak-anak

2. Tuntutan terhadap penerapan MDGs terutama target yang

ke 6c yaitu mengendalikan penyebaran dan mulai

menurunkan jumlah kasus baru malaria dan penyakit

menular lainnya (Tubercolosis) hingga tahun 2015

3. Adanya pengiriman dokter residen hasil kerjasama dengan

SMF Bagian Paru RSUP Dr. M Djamil Padang untuk

VII - 11
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
membantu pelaksanaan pengobatan di BP4 Sumatera

Barat ini

4. Komitmen propinsi untuk mengelola BP4 Sumatera Barat

LAPORAN AKHIR
menjadi RS khusus Paru-Paru

5. Perkembangan jumlah penduduk, tingkat pendidikan,

kebutuhan layanan kesehatan cukup tinggi baik

6. Semakin meningkatnya jumlah penderita paru-paru seiring

dengan meningkat jumlah perokok dari berbagai kalangan

pria/wanita dan anak-anak

7. Banyaknya pasien yang berasal dari Sumatera Barat

berobat ke rumah sakit yang terdapat di Malaysia/

Singapura

8. Akan diperlakukannya penyesuaian pajak rokok tahun

2014 sehingga secara nasional akan dapat menjadi

sumber tambahan anggaran

b. Ancaman (Threats)

Faktor kritis dari ancaman yang dimiliki BP4, adalah :

1. Adanya pembenahan rumah sakit sekitar BP4 terutama di

Padang dan Bukittinggi

2. Insentif yang diberikan rumah sakit terutama rumah sakit

swasta lain terhadap dokter spesialis lebih baik

VII - 12
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
3. Jarak ke ibukota propinsi (Kota Padang) relatif dekat,

sehingga khususnya penderita penyakit paru-paru lebih

memilih berobat ke Kota Padang yang memiliki fasilitas

LAPORAN AKHIR
layanan dan kualitas layanan yang lebih baik.

4. Semakin tingginya tuntutan masyarakat akan kualitas

pelayanan yang ramah, cepat dan tepat.

D. KONDISI EKSISTING BP4

Setelah diketahui faktor-faktor internal dan eksternal,

maka selanjutnya dilakukan pemberian bobot dan penilaian

untuk mendapatkan skor terhadap faktor-faktor yang ada di

dalam faktor internal dan eksternal. Pemberian bobot ini

didasarkan atas besar tidaknya peran faktor-faktor tersebut

dalam kinerja organisasi.

1. Pembobotan dan Penilaian

Pada tahap pembobotan dan penilaian ini, ditulis bobot

dan rating untuk menentukan skor bobot yang dihitung dengan

melihat kondisi yang ada. Akumulasi dari perhitungan faktor

kritis akan menentukan kekuatan dari tabel, begitu juga halnya

dengan tentang kelemahan peluang/kesempatan dan

tantangan. Penjelasan lengkap dapat dilihat pada tabel berikut.

VII - 13
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat

Tabel 7.1. Pembobotan dan Penilaian Faktor Internal


dan Eksternal BP4 Sumatera Barat Tahun 2012

LAPORAN AKHIR
Bobot
No. Faktor Sukses Kritis Bobot Rating
Skor
A Kekuatan (strengths)
1. Satu-satunya di Sumatera Bagian Tengah 0,15 4 0,60
Pasien meningkat (jumlah kunjungan, asal 0,45
2.
daerah, rawat inap dan IGD) 0,15 3
3. Kerjasama dgn Bag. Pulmonologi F.Dok Unand 0,12 3 0,36
Kerjasama Bag Paru RSUP Dr. M. Djamil 0,36
4.
Padang 0,12 3
5. Lokasi BP4 Strategis 0,12 2 0,24
6. Puskesmas sebagai rujukan 0,12 2 0,24
7. Adanya UU tentang kesehatan 0,05 2 0,10
8. Program-program prioritas 0,08 2 0,16
9. Pelaksanaan Otonomi daerah 0,07 2 0,14
10. Dukungan dana 0,10 3 0,30
Jumlah 2,95
B Kelemahan (Weaknesses)
1 Syarat untuk rumah sakit harus dilengkapi 0,08 3 0,24
Sistem informasi medis/non medis kurang 0,18
2.
baik 0,06 3
3. Kurang optimal/intensif pemasaran layanan 0,06 3 0,18
4. Masih ada tenaga medis/non kurang disiplin 0,09 1 0,09
5. Minimnya fasilitas dan peralatan medis 0,17 3 0,51
6. BP4 Sumatera Barat belum swadana 0,05 2 0,10
Jumlah 1,00 1,26
Total A + B 4,21
C Peluang (Opportunities)
Tidak mungkin lagi fungsinya Balai 0,30
1.
Pengobatan 0,10 3
2. Penerapan MDGs target 6c 0,15 3 0,45
Dokter residen hasil kerjasama SMF Bagian 0,36
3.
Paru 0,12 3
4. Komitmen pemerintah menjadikan RS Paru 0,10 4 0,40
5. Perkembangan penduduk butuh layanan 0,08 3 0,24
6. Meningkatnya jumlah penderita 0,05 4 0,15
7. Banyaknya berobat ke Malaysia/Singapura 0,10 2 0,20
8. Pemberlakukaan pajak rokok tahun 2014 0,15 3 0,45
Jumlah 2,65
D Ancaman (Threats)
1. Pembenahan RS di sekitar BP4 0,07 3 0,21
2. Insentif rumah sakit swasta lebih baik 0,09 3 0,27
3. Jarak ke Padang relatif dekat 0,08 3 0,24
4. Tuntutan pelayanan ramah, cepat dan tepat. 0,08 4 0,32
Jumlah 1,00 1,04
Total C + D 3,69
Sumber : Hasil analisis tahun 2012

VII - 14
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat

E. PENENTUAN STRATEGI

Berdasarkan penilaian terhadap faktor-faktor internal dan

LAPORAN AKHIR
eksternal BP4, dimana diperoleh nilai untuk faktor internal

sebesar 4,21 dan faktor eksternal sebesar 3,69 dengan

demikian BP4 berada pada kuadran III, yang tergolong dalam :

hold and maintain dengan strategi : market penetration, dan

product development

Strategi ini adalah dengan melakukan pembenahan-

pembenahan internal dan sekaligus mengembangkan produk-

produk layanannya karena besarnya peluang. Apalagi bila

pengembangan BP4 menjadi rumah sakit Paru-Paru Propinsi

Sumatera Barat betul-betul telah diwujudkan. Maka beberapa

hal berikut dapat dilakukan :

1. Adanya perbaikan internal, baik untuk manajemen dan

sumber daya manusia lainnya, maupun sumber daya fisik,

dalam hal ini perbaikan sarana/fasilitas dan peremajaan

ataupun penambahan peralatan medis. Perlu

dipertimbangkan pula untuk penambahan luas areal

terutama di bagian belakang bangunan yang telah ada

sekarang ini.

VII - 15
FEASIBILITY STUDY
Pengembangan Balai Pengobatan Penyakit Paru
Paru (BP4)
Menjadi Rumah Sakit Paru Paru
Propinsi Sumatera Barat
2. Melakukan perbaikan pelayanan untuk memperoleh pangsa

pasar yang lebih besar.

3. Melakukan peningkatan terhadap cakupan dan segmentasi

LAPORAN AKHIR
pasien yang akan menjadi pangsa pasar penderita penyakit

paru-paru ini, pada masyarakat di Sumatera Bagian Tengah.

VII - 16