Anda di halaman 1dari 45

HUBUNGAN LINGKAR PERUT DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RSUD SUKAMARA

Proposal Penelitian

Diajukan guna menyusun Karya Tulis untuk memenuhi

Sebagian syarat memperoleh derajat Sarjana Keperawatan

Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Diajukan Oleh

Siska Lestari

I1B115618

Lambung Mangkurat Diajukan Oleh Siska Lestari I1B115618 UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN BANJARBARU

2016

Proposal Penelitian oleh Siska Lestari Telah dipertahankan di depan dewan penguji Pada tanggal 7 Juni 2016

Dewan Penguji Ketua (Pembimbing Utama)

Noor Diani,Ns, M.Kep, Sp.Kep.MB

Anggota (Pembimbing pendamping)

Devi Rahmayanti,Ns, M.Imun

Anggota

Abdurahman Wahid,Ns, M.Kep

Anggota

Ifa Hafifa, Ns, M.Kep

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

 

i

HALAMAN PENGESAHAN

 

ii

DAFTAR ISI

 

iii

DAFTAR

GAMBAR

v

DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR LAMPIRAN

vii

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1

1.1 LATAR BELAKANG

1

1.2 RUMUSAN MASALAH

3

1.3 TUJUAN PENELITIAN

3

1.3.1 Tujuan Umum

3

1.3.2 Tujuan Khusus

4

1.4 MANFAAT PENELITIAN

4

1.4.1 Bagi Peneliti

 

4

1.4.2 Bagi

Institusi

Pendidikan

4

1.4.3 Bagi Tenaga Kesehatan

4

1.4.4 Bagi Responden

 

5

1.5 KEASLIAN PENELITIAN

5

1.5.1 Penelitian oleh Jalal et al.(2009)

5

1.5.2 Penelitian oleh Septyaningrum et al.(2014)

6

1.5.3 Penelitian oleh Manungkalit et al.(2015)

6

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

 

8

2.1 DIABETES MELLITUS

8

2.1.1 Definisi

8

2.1.2 Klasifikasi

9

2.1.3 Faktor Resiko Diabetes Mellitus Tipe 2

10

2.1.4 Komplikasi

 

13

2.2 KADAR GULA DARAH

14

2.2.1 Definisi

14

2.2.2 Diagnosis

15

2.3 LINGKAR PERUT

18

2.4 HUBUNGAN LINGKAR PERUT DENGAN KADAR GULA DARAH

19

BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

23

3.1 KERANGKA KONSEP

 

23

3.2 HIPOTESIS

26

iii

BAB 4

METODE PENELITIAN

27

4.1 RANCANGAN PENELITIAN

27

4.2 POPULASI DAN SAMPEL

27

 

4.2.1 Populasi

27

4.2.2 Sampel

27

4.3 INSTRUMEN PENELITIAN

28

 

4.3.1 Wawancara

28

4.3.2 Biofisiologis

28

4.4 VARIABEL PENELITIAN

28

 

4.4.1 Variabel

Independen (bebas)

29

4.4.2 Variabel Dependen

29

4.5 DEFINISI OPERASIONAL

29

4.6 PROSEDUR PENELITIAN

30

 

4.6.1 Tahapan Persiapan

30

4.6.2 Tahapan Pelaksanaan

31

4.6.3 Tahapan Penyelesaian

32

4.7 TEKNIK PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

32

 

4.7.1 Pengumpulan Data

32

4.7.2 Pengolahan Data

33

4.8 CARA ANALISA DATA

34

 

4.8.1 Analisis Univariat

34

4.8.2 Analisis Bivariat

34

4.9 TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

35

4.10

BIAYA PENELITIAN

36

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1

Kerangka konsep

v

13

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1

Kriteria Diagnosis Diabetes Mellitus

14

Tabel 2.2

Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan

penyaring dan diagnosis diabetes mellitus

15

Tabel 2.3

Target Pengendalian Diabetes Mellitus

16

Tabel 4.1

Definisi Operasional

18

Tabel 4.2

Waktu penelitian

31

Tabel 4.1

Biaya penelitian

32

vi

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Permohonan Izin Studi Pendahuluan dari Universitas Lambung Mangkurat Fakultas Kedokteran Program Studi Ilmu Keperawatan.

2. Surat Persetujuan Studi Pendahuluan dari RSUD Sukamara.

3. Lembar informasi.

4. Lembar Informed Consent.

5. Blangko Pameriksaan.

vii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes mellitus adalah gangguan kesehatan yang berupa kumpulan

gejala yang disebabkan oleh peningkatan kadar gula (glukosa) darah

akibat

kekurangan

ataupun

resistensi

insulin

(Bustan,2015).

Diabetes

mellitus

telah

menjadi

penyakit

masyarakat

umum,

menjadi

beban

kesehatan masyarakat, meluas dan membawa banyak kecacatan dan

kematian (Bustan,2015).

International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2013 mencatat 382 juta

orang telah menderita diabetes mellitus di seluruh dunia dan pada tahun

2035 diperkirakan akan meningkat menjadi 592 juta orang (Infodatin,

2014). Menurut Federasi ini juga pada tahun 2012 Indonesia termasuk 10

negara

dengan

jumlah

penyandang

diabetes

terbesar

di

dunia.

Diperkirakan ada 1 orang penyandang diabetes yang meninggal dalam

setiap 7 detik. Dalam rentang tahun 2005-2030 diperkirakan kematian

penyandang diabetes akan meningkat 2 kali lipat

(Rumaharbo,2014).

Prevalensi diabetes di Indonesia tahun 2013 yang terdiagnosis dokter dan

gejala sebesar 2,1% (Litbangkes,2013).

Di Kalimantan Tengah prevalensi diabetes mellitus sebesar 1,6% dan di

kabupaten

Sukamara

Menurut

data

rekam

prevalensinya

medis

RSUD

1

sebesar

1,1%

(Litbangkes,2013).

Sukamara,

terdapat

peningkatan

2

prevalensi pasien diabetes mellitus pada Poliklinik Penyakit Dalam yaitu

pada tahun 2014 berjumlah 136 pasien dan tahun 2015 berjumlah 209

pasien. Pada studi pendahuluan calon peneliti di Poliklinik Penyakit Dalam

RSUD Sukamara dilakukan

pengukuran lingkar perut dan

kadar gula

darah puasa pada 10 pasien, dengan hasil lingkar perut rata-rata 94,3 cm

(normal : < 90 cm laki-laki dan < 80 cm wanita ) sedangkan GDP rata-rata

168,1 mg/dL (GDP ≥ 126 mg/dl ).

Pada diabetes mellitus yang belum diobati, makan banyak tetapi badan

malah menjadi kurus. Nanti sesudah diobati, akan terjadi sebaliknya, yaitu :

makan

dibatasi,

tetapi

badan

jadi

obesitas

(Hartini,2009).

Menurut

penelitian Kamath (2011) pada penderita diabetes mellitus tipe 2 yang

sudah terdiagnosa selama 7 tahun, presentase obesitas sentral lebih besar

dibandingkan obesitas umum dan kedua jenis obesitas lebih tinggi pada

wanita.

Obesitas dapat dibagi menjadi 2 yaitu obesitas general (umum) dihitung

menggunakan IMT dan obesitas sentral diukur berdasarkan lingkar perut

(Soertiarto,2010).

Kelebihan

lemak

di

perut

berakibat

lingkar

perut

membesar. Tumpukan lemak di dalam perut menghasilkan zat-zat yang

merusak

(proinflamasi)

sehingga

akhirnya

fungsi

insulin

terganggu.

Resistensi insulin terjadi saat berat badan meningkat dan lingkar perut

melebar (Wibudi,2015).

Masalah utama diabetes mellitus tipe 2 adalah kurangnya respon reseptor

terhadap insulin (resistensi insulin).

Pada saat berolahraga resistensi

insulin

berkurang,

sebaliknya

sensitivitas

insulin

meningkat,

hal

ini

3

menyebabkan

kebutuhan

insulin

pada

diabetes

mellitus

tipe

2

akan

berkurang. Respon ini hanya terjadi setiap berolahraga terus menerus dan

teratur. Olah raga pada diabetes tipe 2 selain bermanfaat sebagai glycemic

control juga bermanfaat untuk menurunkan lingkar perut pada obesitas

sentral sehingga komplikasi dapat dicegah (Soegondo,2015). Komplikasi

diabetes jangka panjang yaitu kelainan mata, neuropati perifer, kelainan

vaskuler perifer. Komplikasi ini mungkin sudah terjadi sebelum diagnosa

ditegakkan (Smeltzer,2001).

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk meneliti “hubungan

lingkar perut dengan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus di

Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Sukamara.

1.2 Rumusan Masalah

Prevalensi diabetes mellitus cenderung meningkat di Indonesia dan hasil

studi pendahuluan di poliklinik penyakit dalam RSUD Sukamara, terdapat

kenaikan lingkar perut rata-rata 94,3 cm diatas nilai normal dan kadar gula

puasa rata-rata 168,1 mg/dL lebih tinggi dari nilai normal pada 10 orang

pasien. Berdasarkan hal tersebut maka perlu adanya kajian, apakah ada

hubungan antara lingkar perut dengan kadar gula darah pasien diabetes

mellitus tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Sukamara?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan antara lingkar perut dengan kadar gula darah pasien

diabetes mellitus tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Sukamara.

4

1.3.2

Tujuan Khusus

 

a. Mengetahui karakteristik responden di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD

Sukamara.

 

b. Mengidentifikasi lingkar perut pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di

Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Sukamara.

 

c. Mengidentifikasi kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2

di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Sukamara.

 

d. Menganalisa hubungan lingkar perut dengan kadar gula darah pasien

diabetes mellitus tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Sukamara.

1.4

Manfaat Penelitian

 

1.4.1

Bagi peneliti

Dapat

menambah

pengalaman

pembelajaran

dibidang

penelitian

dan

menambah pengetahuan tentang hubungan lingkar perut dengan kadar

gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2.

 

1.4.2

Institusi Pendidikan

 

Hasil

penelitian

ini

diharapkan

dapat

bermanfaat

dan

memberikan

pengetahuan

yang

berharga

bagi

penelitian

berikutnya

dan

dapat

menambah arsip kepustakaan di perpustakaan tentang hubungan lingkar

perut dengan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2.

 

1.4.3

Bagi Tenaga Kesehatan

 

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber data dasar, sumber

informasi bagi tenaga kesehatan dalam usaha peningkatan pelayanan,

terutama dapat menjadi bahan masukan dalam melakukan pencegahan

dengan cara penyuluhan dan melakukan pengukuran lingkar perut dan

5

kadar gula darah secara rutin saat pasien diabetes mellitus tipe 2 kontrol

sehingga komplikasi diabetes mellitus dapat dihindari.

1.4.4

Bagi Responden

Hasil penelitian dapat menambah pengetahuan bagi responden tentang

pentingnya menjaga diet makanan agar

lingkar perut responden dalam

batas normal sehingga komplikasi diabetes mellitus dapat terhindar.

1.5

Keaslian Penelitian

Penelitian tentang hubungan lingkar perut dengan kadar gula darah pada

pasien diabetes mellitus di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Sukamara

masih belum pernah dilakukan dalam penelitian sebelumnya. Peneliti-

peneliti yang memiliki beberapa kesamaan dan digunakan sebagai acuan

atau perbandingan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.5.1

Penelitian oleh Jalal et al. (2009)

Berjudul

Hubungan

Lingkar

Pinggang

dengan

Kadar

Gula

Darah,

Trigliserida dan Tekanan Darah pada Etnis Minang di Kabupaten Padang

Pariaman, Sumatera Barat.

Hasil analisisnya antara lingkar pinggang

dengan

kadar

glukosa

plasma

menunjukkan

hubungan kuat,

berpola

positif. Persamaan dengan penelitian sebelumnya adalah variabel terikat

yaitu kadar gula darah dan menggunakan desain penelitian cross sectional.

Perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah perbedaan tempat dan

waktu. Perbedaan lain adalah penelitian sebelumnya meneliti 5 variabel

sedangkan calon peneliti sekarang meneliti 2 variabel. Analisis penelitian

sebelumnya menggunakan uji bivariat chi square kemudian dianalisis

dengan menggunakan regresi linier sederhana sedangkan penelitian yang

6

akan dilakukan calon peneliti menggunakan korelasi pearson. Populasi

penelitian sebelumnya responden belum terdiagnosa diabetes mellitus

sedangkan populasi calon peneliti sudah terdiagnosa diabetes mellitus

tipe 2.

1.5.2 Penelitian oleh Septyaningrum et al. (2014)

Berjudul Lingkar Perut Mempunyai Hubungan Paling Kuat dengan Kadar

Gula Darah. Hasilnya lingkar perut mempunyai hubungan yang paling kuat

dengan kadar gula darah. Persamaan dengan penelitian sebelumnya

adalah

menggunakan

uji

korelasi

pearson,

desain

penelitian

cross

sectional. Perbedaannya, penelitian sebelumnya meneliti 4 variabel yaitu

IMT, lingkar perut, rasio lingkar pinggang panggul dan kadar gula darah

sedangkan calon peneliti sekarang meneliti 2 variabel yaitu lingkar perut

dan

kadar gula

darah.

Perbedaan

terdapat

pada

populasi

penelitian

sebelumnya anggota posyandu lansia belum terdiagnosa diabetes mellitus

sedangkan populasi calon peneliti sudah terdiagnosa diabetes mellitus

tipe 2.

1.5.3 Penelitian oleh Manungkalit et al. (2015)

Berjudul Hubungan Lingkar Pinggang dengan Faktor Resiko Diabetes

Mellitus (Tekanan Darah, Kadar Gula Darah dan Indeks Massa Tubuh)

pada Usia Dewasa Awal di Wilayah Kecamatan Gerih Kabupaten Ngawi.

Hasilnya tidak ada hubungan antara lingkar pinggang dengan kadar gula

darah. Persamaan dengan penelitian sebelumnya adalah variabel bebas

yaitu kadar gula darah dan menggunakan uji korelasi pearson. Perbedaan

dengan penelitian sebelumnya adalah populasinya penduduk di wilayah

RW 06 RT 01 dan RT 02 desa Widodaren Kecamatan Gerih Kabupaten

7

Ngawi, belum terdiagnosa diabetes malitus sedangkan populasi calon

peneliti sudah terdiagnosa diabetes mellitus tipe 2.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Diabetes melitus

 

2.1.1

Definisi

Diabetes

melitus

adalah

penyakit

metabolisme

yang

merupakan

kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena ada peningkatan

kadar glukosa darah di atas nilai normal (Litbangkes,2013). Penyakit

diabetes melitus dapat diartikan individu yang mengalirkan volume urine

yang banyak dengan kadar glukosa tinggi. Diabetes melitus adalah

penyakit hiperglikemia yang ditandai dengan ketiadaan absolut insulin

atau penurunan relatif insensitivitas sel terhadap insulin (Corwin,2009).

Diabetes

melitus

merupakan

sekelompok

kelainan

heterogen

yang

ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.

Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah.

Glukosa dibentuk di hati dari makanan yang dikonsumsi. Insulin, yaitu

suatu hormon yang diproduksi pankreas, mengendalikan kadar glikosa

dalam darah dengan mengatur produksi dan penyimpanannya. Pada

diabetes,

kemampuan

tubuh

untuk

bereaksi

terhadap

insulin

dapat

menurun,

atau pankreas dapat menghentikan sama sekali produksi

insulin (Smeltzer,2001).

8

9

2.1.2

Klasifikasi

Klasifikasi diabetes melitus :

a. Tipe 1: diabetes melitus tergantung insulin (IDDM)

Diabetes melitus tipe 1 terjadi di segala usia, biasanya usia < 30 tahun,

bertubuh kurus saat didiagnosa; dengan penurunan BB baru saja

terjadi, etiologi mencakup faktor genetik, imunologi atau lingkungan

(Smeltzer,2001). Diabetes melitus tipe 1 ditandai oleh penurunan

kadar insulin yang disebabkan oleh destruksi sel-sel β. Pasien DM tipe

I memerlukan insulin untuk tetap bertahan hidup. Tanpa adanya insulin

dari luar, pasien tersebut akan mengalami ketoasidosis, koma dan

kematian ( Gibney (ed),2008 ).

b. Tipe 2: diabetes melitus tidak tergantung insulin (NIDDM)

Diabetes melitus tipe 2 terjadi di segala usia, biasanya diatas 30 tahun.

Bertubuh gemuk (obesitas) saat didiagnosa. Etiologi: faktor genetik,

usia, obesitas dan kurangnya aktifitas fisik. Penurunan produksi insulin

endogen

atau

peningkatan

resistensi

insulin.

Mayoritas

penderita

obesitas dapat mengendalikan kadar gula darahnya melalui penurunan

berat badan. Memerlukan insulin dalam waktu pendek atau panjang

untuk mencegah hiperglikemia (Smeltzer,2001).

c. Diabetes melitus yang berkaitan dengan keadaan atau sindrom lain.

Tipe ini disertai dengan keadaan yang diketahui atau dicurigai dapat

menyebabkan penyakit: pankreastitis; kelainan hormonal; obat-obatan

seperti

glukokortikoid

dan

preparat

yang

mengandung

estrogen

penyandang diabetes. Bergantung pada kemampuan pankreas untuk

10

menghasilkan insulin; pasien mungkin memerlukan terapi dengan obat

oral atau insulin (Smeltzer,2001).

d. Diabetes gestasional

Diabetes melitus yang terjadi selama kehamilan, biasanya terjadi pada

trimester

kedua

atau

ketiga,

disebabkan

oleh

hormon

yang

disekresikan plasenta dan menghambat kerja insulin, diatasi dengan

diet dan insulin (jika diperlukan) untuk mempertahankan secara ketat

kadar glukosa darah normal. Faktor resiko mencakup: obesitas, usia

diatas 30 tahun, riwayat diabetes dalam keluarga, pernah melahirkan

bayi yang besar (lebih dari 4,5 kg) (Smeltzer,2001).

2.1.3 Faktor resiko diabetes melitus

Faktor resiko terjadinya diabetes melitus dapat diklasifikasikan menjadi

faktor resiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi

(PERKENI,2011).

a. Faktor resiko yang tidak bisa dimodifikasi

1) Genetik

Diabetes melitus berasal dari interaksi genetis, penyakit ini sudah

lama

dianggap

berhubungan

dengan

agregasi

familial.

Resiko

empiris dalam hal terjadinya diabetes melitus tipe 2 akan meningkat

dua sampai enam kali lipat jika orang tua atau saudara kandung

mengalami penyakit ini (Fatimah,2015).

11

2) Umur

Resiko

untuk

menderita

intoleransi

glukosa

meningkat

seiring

dengan meningkatnya usia.

Usia > 45 tahun harus dilakukan

pemeriksaan diabetes melitus (Fatimah,2015).

3) Riwayat persalinan

Melahirkan bayi dengan berat badan bayi > 4000 gram atau riwayat

pernah menderita diabetes gestasional (PERKENI,2011).

4) Riwayat lahir dengan berat badan rendah

Bayi yang lahir dengan berat badan rendah (<2,5 kg) mempunyai

resiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan bayi lahir berat badan

normal (PERKENI,2011).

b. Faktor yang bisa dimodifikasi

1) Obesitas /Berat badan lebih

Obesitas dapat dibedakan menjadi obesitas general (umum) dan

obesitas

sentral

(abdominal).

Penentuan

obesitas

general

berdasarkan IMT. IMT dihitung dari berat badan dalam kg dibagi

tinggi

badan

meter

kuadrat,

sedangkan

obesitas

sentral

berdasarkan lingkar perut. Untuk diagnosis obesitas abdominal,

lingkar perut bagi wanita Asia adalah ≥ 80 cm dan bagi pria Asia

adalah ≥ 90 cm (Hartono,2006). Obesitas sentral berdasarkan

lingkar perut lebih berperan sebagai faktor resiko diabetes melitus

dibandingkan

obesitas

(Soetiarto,2010).

general

(umum)

berdasarkan

IMT

12

2) Latihan fisik kurang

Latihan fisik didefinisikan sebagai aktivitas olah raga yang dilakukan

secara sistematis dalam jangka waktu lama yang bertujuan untuk

membentuk dan mengembangkan fungsi fisiologis

Latihan

fisik

akan

mengubah

senyawa

glukosa

dan psikologis.

dan

lemak

di

jaringan dan pembuluh darah menjadi energi. Individu yang kurang

beraktifitas memiliki risiko menjadi penyandang diabetes melitus

(Rumoharbo,2014).

3) Hipertensi (> 140/90 mmHg).

Peningkatan

tekanan

darah

pada

hipertensi

berhubungan

erat

dengan

tidak

tepatnya

penyimpanan

garam

dan

air,

atau

meningkatnya tekanan dari dalam tubuh pada sirkulasi pembuluh

darah perifer (Fatimah,2015). Hipertensi meningkatkan resistensi

insulin,

karena

itu

(Mihardja,2009).

4) Dislipidemia

hipertensi

harus

diterapi

dengan

baik

Dislipidemia Adalah keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar

lemak darah (trigliserida > 250 mg/dl). Terdapat hubungan antara

kenaikan plasma insulin dengan rendahnya HDL (<35 mg/dl) sering

didapat pada pasien diabetes (Fatimah,2015).

5) Diet tidak sehat.

Diet dengan tinggi gula dan rendah serat akan meningkatkan resiko

menderita prediabetes / intoleransi glukosa dan diabetes melitus

tipe 2 (PERKENI,2011).

13

2.1.4

Komplikasi

Diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik akan menimbulkan

komplikasi akut dan kronis. Menurut PERKENI (2011) komplikasi diabetes

melitus dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu :

a. Komplikasi Akut

1) Hipoglikemia

Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah

<60

mg/dl.

Gejala

hipoglikemia

terdiri

dari

gejala

adrenergik

(berdebar-debar, banyak keringat, gemetar, dan rasa lapar) dan

gejala

neuro-glikopenik

(pusing.

Gelisah,

sampai koma) (PERKENI,2011).

2) Hiperglikemia

kesadaran

menurun

Hiperglikemia ditandai dengan peningkatan kadar gula darah secara

tiba-tiba, dapat berkembang menjadi keadaan metabolisme yang

berbahaya,

antara

lain

ketoasidosis

diabetik

(KAD)

apabila

peningkatan kadar gula darah yang tinggi (300-600 mg/dl) disertai

adanya tanda dan gejala asidosis dan plasma keton (+)

kuat dan

status hiperglikemi hipoasmolar (SHH) terjadi peningkatan glukosa

darah sangat

tinggi (600-1200 mg/dl) tanpa tanda dan gejala

asidosis, osmolaritas plasma sangat meningkat, plasma keton (+/-)

(PERKENI,2011).

14

b. Komplikasi Kronis

1) Makrovaskuler

Komplikasi makrovaskuler yang umum berkembang pada penderita

diabetes melitus adalah trombosit otak (pembekuan darah pada

sebagian otak), penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung

kongetif, dan stroke (Fatimah,2015).

2) Mikrovaskuler

Komplikasi

mikrovaskuler

seperti

nefropati,

diabetik

retinopati

(kebutaan), neuropati dan amputasi (Fatimah,2015).

2.2

Kadar gula darah

2.2.1

Definisi

Kadar gula darah adalah sejumlah glukosa (gula) dalam darah yang

disebut juga dengan kadar serum glukosa (Hidayati,2014). Kadar gula

darah dapat meningkat setelah makan, biasanya level terendah pada pagi

hari, sebelum makan. Kadar glukosa darah dimonitor oleh pankreas.

Konsentrasi

glukosa

menurun

karena

dikonsumsi

untuk

memenuhi

kebutuhan energi tubuh, maka pankreas melepaskan glukagon (hormon

yang

menargetkan

sel-sel

di

hati).

Sel-sel

ini

mengubah

glikogen

menjadai glukosa (glikogenolisis) (Hidayati,2014).

Glukosa dilepaskan dalam aliran darah, maka akan meningkatkan level

gula

darah.

Bila

level

gula

darah

menurun

terlalu

rendah,

maka

berkembanglah kondisi yang fatal disebut hipoglikemia. Jika level gula

darah tetap tinggi disebut hiperglikemia . hiperglikemia dalam jangka

panjang dapat menyebabkan diabetes melitus (Hidayati,2014).

15

2.2.2

Diagnosis

Diagnosis diabetes melitus ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar

glukosa darah dan tidak dapat ditegakkan hanya atas dasar adanya

glukosuria saja. Pemeriksaan glukosa darah untuk mendiagnosa diabetes

melitus harus diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara

pemeriksaan

yang

dipakai.

Pemeriksaan

yang

dianjurkan

adalah

pemeriksaan glukosa dengan cara enzimatik dengan bahan dasar plasma

vena. Penggunaan bahan darah utuh (whole blood), vena atau kapiler

dapat digunakan dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik

yang sesuai pembakuan oleh WHO.

1)

Diagnosis diabetes melitus

Uji

diagnostik

diabetes

melitus

dilakukan

pada

mereka

yang

menunjukkan

keluhan

klasik

diabetes

melitus

berupa

:

poliuria,

polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat

dijelaskan sebabnya. Keluhan lain dapat berupa : lemah badan,

kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta

pruritus vulvae pada wanita (PERKENI,2011).

16

Tabel 2.1.

kriteria diagnosis diabetes melitus

Nomor

Kriteria diagnostik diabetes melitus

 

Gejala klasik DM+glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dl (11,1 mmol/L) glukosa plasma sewaktu merupakan hasil

1

pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperlihatkan waktu makan terakhir

Atau

 

Gejala klasik DM + kadar glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL (7,0 mmol/L) ,puasa diartikan pasien tak mendapat

2

kalori tambahan sedikitnya 8 jam.

Atau

 

Kadar glukosa plasma 2 jam pada Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) ≥ 200 mg/dL (11,1 mmol/L), TTGO dilakukan

3

dengan standar WHO, menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 g glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air.

Sumber (PERKENI,2011)

2)

Pemeriksaan penyaring

Pemeriksaan penyaringan bertujuan untuk mengidentifikasi mereka

yang

tidak

bergejala, yang

mempunyai

resiko

diabetes melitus.

Serangkaian uji diagnostik akan dilakukan kemudian pada mereka

yang

hasil

definitif.

penyaringannya

positif,

untuk

memastikan

diagnostik

17

Tabel 2.2. kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan

penyaring dan diagnosis diabetes melitus (mg/dl).

   

Bukan

Belum

 

DM

pasti DM

DM

Kadar glukosa

Plasma vena

< 100

100-199

200

darah sewaktu

       

(mg/dl)

Darah kapiler

< 90

90-199

≥ 200

Kadar glukosa

Plasma vena

< 100

100-125

≥ 126

darah puasa

       

(mg/dl)

Darah kapiler

< 90

90-99

≥ 100

3)

Sumber ( PERKENI,2011)

Kriteria pengendalian diabetes mellitus

Diabetes

melitus

terkendali

baik,

apabila

kadar

glukosa

darah

mencapai kadar yang diharapkan serta kadar lipid dan A1C juga

mencapai kadar yang diharapkan. Demikian pula status gizi dan

tekanan darah. Kriteria keberhasilan pengendalian diabetes mellitus

dapat dilihat pada tabel 2.3. Penderita diabetes melitus berumur lebih

dari 60 tahun dengan komplikasi, sasaran kendali kadar glukosa

darah dapat lebih tinggi dari biasa ( puasa 100-125 mg/dl dan

sesudah makan 145-180 mg/dl). Demikian pula kadar lipid, tekanan

darah, dan lain-lain, mengacu pada batasan kriteria pengendalian

sedang. Hal ini dilakukan mengingat sifat-sifat khusus pasien usia

lanjut

dan

juga

untuk

mencegah

kemungkinan

timbulnya

efek

samping hipoglikemia dan interaksi obat (PERKENI,2011).

18

Tabel 2.3

Target pengendalian diabetes melitus

 

Resiko

Resiko

Parameter

kardiovaskuler

kardiovaskuler

(+)

(-)

IMT (kg/m 2 )

18,5-<23

18,5-<23

Tekanan darah sistolik (mmHg)

<130

<130

Tekanan darah diastolik (mmHg)

<80

<80

Glukosa darah puasa (mg/dl)

<100

<100

Glukosa darah 2 jam PP (mg/dl)

<140

<140

HbA1c (%)

<7

<7

Kolesterol LDL (mg/dl)

<100

<70

Kolesterol HDL (mg/dl)

Pria > 40 Wanita > 50

Pria > 40 Wanita > 50

Trigliserid (mg/dl)

< 150

< 150

Sumber (PERKENI,2011)

2.3 Lingkar perut

Lingkar perut adalah salah satu parameter antropometri. Antropometri

berasal

dari

kata

anthropos

dan

metros.

Antropos

artinya

tubuh

sedangkan metros artinya ukuran. Antropometri adalah ukuran dari tubuh,

dilihat dari surut pandang gizi maka antropometri berhubungan dengan

berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari

berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa,2001).

Parameter antropometri selain lingkar perut antara lain : umur, berat

badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada.

Pengukuran lingkar perut kini menjadi metode paling populer kedua

(sesudah IMT) untuk menentukan status gizi. Cara pengukuran lingkar

perut ini dapat membedakan obesitas menjadi jenis abdominal dan

perifer. Pasien dengan obesitas abdominal merupakan faktor resiko untuk

19

berbagai penyakit metabolik, vaskuler dan degeneratif memiliki perut yang

lebih besar dari normal (Hartono 2014). Menurut WHO pengukuran

lingkar perut normal sebesar < 80 cm untuk wanita dan < 90 cm untuk

laki-laki (Wahyuningsih 2013). Menurut IDF Lingkar perut > 80 cm untuk

wanita dan > 90 cm untuk laki-laki termasuk dalam kategori obesitas

sentral (Sudoyono,2006).

Lingkar perut diukur dari titik tengah batas/margin tulang rusuk bawah dan

batas

tulang

krista

illiaka

kanan

dan

kiri

kemudian

diukur

secara

horizontal dengan menggunakan pita pengukur. Pengukuran dilakukan

dengan cara subjek diminta secara santun untuk membuka pakaian

bagian atas untuk menentukan titik pengukuran namun jika keberatan

maka responden boleh memakai pakaian yang tipis tidak terlalu tebal

(Septyaningrum,2014). Pengukuran menggunakan pita metlin dengan

ketelitian 0,1 cm (Sudargo,2014)

2.4 Hubungan lingkar perut dengan kadar gula darah

Makanan memegang peranan dalam peningkatan kadar gula darah. Pada

proses makan, makanan yang dimakan akan dicerna di dalam saluran

cerna (usus) dan kemudian akan diubah menjadi suatu bentuk gula yang

disebut glukosa. Selanjutnya, gula ini diserap oleh dinding usus dan

kemudian beredar di aliran darah. Inilah sebabnya, sesudah makan akan

terdapat

kenaikan

kadar

gula

di

dalam

darah.

Gula

tersebut

akan

didistribusi ke sel-sel tubuh. Sel-sel tubuh yang jumlahnya bermiliar-miliar

memerlukan insulin untuk memasukkan gula ke dalam sel tersebut

melewati reseptor insulin (Hartini,2009).

20

Insulin adalah suatu hormon yang diproduksi oleh sel beta di pankreas,

suatu organ kecil yang terletak di sebelah belakang lambung. Produksi itu

dipengaruhi oleh tingginya kadar gula darah. Makin tinggi gula di dalam

darah, makin tinggi pula insulin yang akan diproduksi. Insulin akan ikut

aliran darah menuju sel-sel. Melalui reseptor insulin, insulin tersebut

masuk ke dalam sel. Selama

insulin

cukup jumlahnya

dan normal

kerjanya, maka sesudah makan, gula di dalam darah akan lancar masuk

ke sel-sel hingga kadar gula turun kembali ke batas kadar sabelum

makan. Mekanisme ini menjaga gula darah tidak naik terus sesudah

makan dan tidak melebihi nilai aman (Hartini,2009).

Gula merupakan “bahan bakar” utama untuk pembentukan energi di

dalam tubuh. Gula yang dimakan 50% diubah menjadi tenaga (glikolisis),

30%-40% diubah menjadi lemak, dan 10% diubah menjadi glikogen. Pada

orang normal, sekitar separuh dari glukosa yang dimakannya akan diubah

menjadi energi lewat lintasan glikolisis dan sekitar separuh lagi disimpan

sebagai lemak atau glikogen. Glikolisis akan menurun dalam keadaan

tanpa insulin, dan proses anabolik glikogenesis serta lipogenesis akan

terhalang. Sebenarnya, hanya 5 % dari jumlah glukosa yang dikonsumsi

diubah

menjadi

lemak

pada

penyandang

diabetes

melitus

yang

kekurangan

horman

insulin

(Murray,1995).

Pada

diabetes

melitus

terdapat masalah dengan insulin, bisa karena jumlah insulin yang kurang

atau efek kerja insulin dalam hal memasukkan gula ke dalam sel tidak

sempurna atau bisa juga karena masalah kedua-duanya sehingga gula

darah tetap tinggi (Hartini,2009).

21

Kadar gula darah harus dipantau secara berkala. Gula darah yang

diperiksa sebelum dan sesudah makan berguna dalam pemantauan hasil

diet, olahraga dan pengobatan lain. Gula darah puasa adalah keadaan

tanpa asupan makanan selama 8-10 jam, menunjukkan kadar gula

terendah. Normalnya, sesudah makan, gula darah akan naik dan paling

tinggi trerjadi 1 jam setelah makan, tetapi tidak melebihi 180 mg/dl.

Sesudah itu, kadarnya akan turun. Penurunan itu disebabkan oleh kerja

insulin.

Dalam

kasus

diabetes

melitus,

produksi

insulin

yang

tidak

mencukupi akan menyebabkan gula darah tidak normal. Gula darah

puasa sudah tinggi dan 2 jam sesudah makan, kadar gula darah tidak

turun mencapai kadar awal (Hartini,2009).

Pengukuran lingkar perut kini menjadi metode paling populer kedua

(sesudah IMT) untuk menentukan status gizi. Cara pengukuran lingkar

perut ini dapat membedakan obesitas menjadi jenis sentral/abdominal

dan perifer. Pasien dengan obesitas abdominal merupakan faktor resiko

untuk berbagai penyakit metabolik, vaskuler dan degeneratif memiliki

perut yang lebih besar dari normal (Hartono,2004).

Salah satu faktor resiko resistensi insulin adalah obesitas sentral dengan

lingkar

perut

diatas

90

cm

pada

laki-laki

dan

diatas

80

cm

pada

perempuan. Individu yang mengalami obesitas lebih mudah mengalami

resistensi insulin dibandingkan dengan individu memiliki berat badan

normal. Obesitas mengganggu kerja insulin. Kondisi obesitas sentral

beresiko diabetes melitus 2,26 kali lebih tinggi dari pada non obesitas, hal

ini dikaitkan dengan jaringan lemak viseral yang terdapat disekitar organ

di dalam perut (Soetiarto,2010).

22

Kondisi obesitas menyebabkan sel lemak gemuk akan menghasilkan

beberapa zat yang digolongkan sebagai adipositokin yang jumlahnya

lebih banyak dari pada keadaan tidak gemuk. Adipositokin menyebabkan

penurunan pengikatan hormon insulin sehingga menimbulkan resistensi

insulin. Zat yang dapat mencegah timbulnya resistensi insulin yaitu

adiponektin, namun adiponektin turun saat sel lemak menjadi gemuk. Sel

lemak

yang

paling

banyak

menghasilkan

adipositokin

adalah

yang

melapisi organ dalam perut sehingga adanya kegemukan adipositokin

dapat

ditentukan dengan

mengukur

lingkar perut.

Resistensi

insulin

mengakibatkan gula darah sulit masuk ke dalam sel sehingga gula di

dalam darah tetap tinggi (hiperglikemi) dan terjadilah diabetes khususnya

diabetes mellitus tipe 2 (Hartini,2009).

Pasienpasien diabetes melitus tipe 2 yang disertai obesitas sering

menunjukkan gejala intoleransi glukosa serta resistensi insulin sekalipun

kadar insulin dalam plasma naik. Orang-orang ini memiliki lebih sedikit

reseptor insulin, pada sel target seperti sel lemak, hati dan otot. Dengan

penurunan berat badan, kadar insulin dalam plasma akan menurun,

jumlah reseptor meningkat, sensitivitas terhadap insulin membaik, dan

intoleransi glukosa berkurang (Murray,1995).

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka konsep

Diabetes melitus adalah penyakit metabolisme yang merupakan kumpulan

gejala yang timbul pada seseorang karena ada peningkatan kadar glukosa

darah di atas nilai normal (Litbangkes,2013). Klasifikasi diabetes mellitus :

diabetes mellitus tipe 1, diabetes mellitus tipe 2, diabetes mellitus yang

berkaitan

dengan

keadaan

atau

sindrome

lain,

diabetes

mellitus

gestasional (Smeltzer,2001). Faktor resiko diabetes mellitus tipe 2: faktor

resiko yang tidak bisa dimodifikasi dan bisa dimodifikasi. Faktor resiko yang

tidak bisa dimodifikasi terdiri dari : genetik, umur, riwayat persalinan,

riwayat

lahir

dengan

berat

badan

rendah.

Faktor

resiko

yang

bisa

dimodifikasi pada pasien diabetes mellitus adalah : barat badan lebih

(obesitas), kurangnya aktivitas, hipertensi, dislipidemia dan diet tidak sehat

(PERKENI,2011).

Obesitas dapat dibagi menjadi obesitas general / umum dan obesitas

sentral /abdominal. Penentuan obesitas general dilakukan berdasarkan

IMT dan obesitas sentral

berdasarkan lingkar perut. Obesitas sentral

berdasarkan lingkar perut lebih berperan sebagai faktor resiko diabetes

mellitus

dibandingkan

dengan

obesitas

general

berdasarkan

IMT

(Soetiarto,2010).

Lingkar

perut

dapat

diukur

menggunakan

meterline.

Menurut WHO nilai normal lingkar perut laki- laki < 90 cm dan perempuan

< 80 cm (Wahyuningsih 2013). Lingkar perut lebih dari normal / obesitas

sentral menimbulkan resiko diabeters mellitus 2,26 kali lebih tinggi dari

pada non obesitas. Hal ini dikaitkan dengan jaringan lemak viseral dimana

23

24

sel lemak disekitar organ di dalam perut (Soetiarto,2010). Resistensi insulin

adalah kerja insulin tidak efektif karena adanya hambatan. Salah satu

faktor penyebab resistensi insulin adalah zat adipositokin yang jumlahnya

lebih banyak pada orang obesitas. Adipositokin dihasilkan oleh adiposa

yang pada obesitas sentral banyak di sekitar organ di dalam perut.

Resistansi insulin mengakibatkan gula darah sulit masuk ke dalam sel

sehingga gula di dalam darah tetap tinggi (Hartini,2009). Kriteria diagnosis

diabetes melitus dengan pemeriksaan: gula darah sewaktu ≥ 200 mg/dl,

gula darah puasa ≥ 126 mg/dl, dan gula darah 2 jam pada TTGO ≥ 200

mg/dl (PERKENI,2011)

25

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

Faktor resiko diabetes mellitus

Faktor resiko diabetes mellitus

Faktor resiko diabetes mellitus
Faktor resiko diabetes mellitus
Faktor resiko diabetes mellitus
Faktor resiko diabetes mellitus
25 Gambar 3.1 Kerangka Konsep Faktor resiko diabetes mellitus Faktor resiko yang tidak bisa dimodifikasi Faktor
Faktor resiko yang tidak bisa dimodifikasi

Faktor resiko yang tidak bisa dimodifikasi

Faktor resiko yang tidak bisa dimodifikasi Faktor resiko yang bisa dimodifikasi
Faktor resiko yang tidak bisa dimodifikasi Faktor resiko yang bisa dimodifikasi
Faktor resiko yang tidak bisa dimodifikasi Faktor resiko yang bisa dimodifikasi
Faktor resiko yang tidak bisa dimodifikasi Faktor resiko yang bisa dimodifikasi
Faktor resiko yang bisa dimodifikasi

Faktor resiko yang bisa dimodifikasi

Faktor resiko yang tidak bisa dimodifikasi Faktor resiko yang bisa dimodifikasi
Faktor resiko yang tidak bisa dimodifikasi Faktor resiko yang bisa dimodifikasi
Faktor resiko yang tidak bisa dimodifikasi Faktor resiko yang bisa dimodifikasi
Faktor resiko yang tidak bisa dimodifikasi Faktor resiko yang bisa dimodifikasi
bisa dimodifikasi Faktor resiko yang bisa dimodifikasi Kurang aktifitas fisik Hipertensi Obesitas Dislipidemia

Kurang

aktifitas fisik

Hipertensi Obesitas Dislipidemia
Hipertensi
Obesitas
Dislipidemia
Kurang aktifitas fisik Hipertensi Obesitas Dislipidemia Diet tidak sehat Obesitas General IMT (Indeks Massa Tubuh)
Kurang aktifitas fisik Hipertensi Obesitas Dislipidemia Diet tidak sehat Obesitas General IMT (Indeks Massa Tubuh)
Kurang aktifitas fisik Hipertensi Obesitas Dislipidemia Diet tidak sehat Obesitas General IMT (Indeks Massa Tubuh)

Diet tidak sehat

Obesitas General

IMT (Indeks Massa Tubuh)

GDS ≥ 200 mg/dl GDP ≥ 126 mg/dl Gula darah 2 jam pada TTGO ≥
GDS ≥ 200 mg/dl
GDP ≥ 126 mg/dl
Gula darah 2 jam
pada TTGO ≥ 200
mg/dl

Obesitas Sentral

Lingkar perut

jam pada TTGO ≥ 200 mg/dl Obesitas Sentral Lingkar perut Resistensi Insulin Uji diagnostik DM Tipe

Resistensi Insulin

200 mg/dl Obesitas Sentral Lingkar perut Resistensi Insulin Uji diagnostik DM Tipe 2 Diabetes Melitus tipe

Uji diagnostik DM Tipe 2

Lingkar perut Resistensi Insulin Uji diagnostik DM Tipe 2 Diabetes Melitus tipe 2 Keterangan : =

Diabetes Melitus tipe 2

Keterangan :

Uji diagnostik DM Tipe 2 Diabetes Melitus tipe 2 Keterangan : = variabel yang diteliti =
Uji diagnostik DM Tipe 2 Diabetes Melitus tipe 2 Keterangan : = variabel yang diteliti =

= variabel yang diteliti

= variabel yang tidak diteliti.

26

3.2.

Hipotesis

Berdasarkan kerangka konsep yang disebutkan diatas dapat dirumuskan

hipotesis sebagai berikut :

H 1 : adanya hubungan lingkar perut dengan kadar gula darah

H 0 : tidak ada hubungan lingkar perut dengan kadar gula darah.

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.1

Rancangan penelitian

 

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional. Penelitian

ini akan menjelaskan suatu hubungan, memperkirakan, dan menguji

berdasarkan teori yang ada. Penelitian ini menggunakan pendekatan

cross

sectional

yaitu

jenis

penelitian

yang

menekankan

waktu

pengukuran / observasi data variabel independen dan dependen hanya

satu kali pada satu saat (Nursalam,2013). Calon peneliti menggunakan

metode penelitian ini untuk melihat adanya hubungan antara variabel

independen yaitu lingkar perut dengan variabel dependen yaitu kadar

gula darah dimana waktu pengukuran data hanya satu kali pada satu

saat.

4.2

Populasi dan sampel

 

4.2.1

Populasi

 

Populasi dalam penelitian ini adalah pasien diabetes mellitus tipe 2 yang

berkunjung ke Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Sukamara.

 

4.2.2

Sampel

 

Pada penelitian ini sampel diambil dengan teknik nonprobability sampling

dengan menggunakan accidental sampling. Sampel yang diambil adalah

pasien diabetes melitus tipe 2 yang berkunjung ke Poliklinik Penyakit

Dalam

RSUD

Sukamara

pada

27

bulan

Juli

Agustus

2016.

28

4.3

Instrumen penelitian

 

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

 

4.3.1

Wawancara

 

Calon

peneliti

melakukan

wawancara

kepada

responden

untuk

mengetahui umur dan jenis kelamin.

 

4.3.2

Biofisiologis

 

Instrumen pengumpulan data pada biofisiologis dibedakan menjadi dua

bagian, yaitu:

 

a. In-vivo

Calon peneliti akan mengukur lingkar perut responden dengan

menggunakan pita metlin. Menurut WHO lingkar perut normal laki-

laki < 90 cm dan perempuan < 80 cm ((Wahyuningsih,2013).

 

b. In-vitro

 

Calon peneliti akan melakukan pengukuran kadar gula darah puasa

responden dengan mengambil darah kapiler menggunakan lanset

selanjutnya darah di teteskan pada strip (gluko Dr/ blood tes

matar)merek easytouch yang baru dibeli agar kalibrasinya dapat

dijamin oleh perusahaan yang mengeluarkan alat tersebut. Gula

darah puasa untuk pasien yang terdiagnosa diabetes melitus ≥ 126

mg/dl (PERKENI,2011).

 

4.4

Variabel penelitian

Variabel pada penelitian ini adalah :

29

4.4.1

Variabel Independen (bebas)

 

Variabel independen pada penelitian ini adalah lingkar perut pasien

diabetes melitus tipe 2.

 

4.4.2

Variabel Dependen (terikat)

Variabel dependen pada penelitian ini adalah kadar gula darah pasien

diabetes melitus tipe 2.

 

4.5

Definisi operasional

Tabel 4.1 Definisi operasional

 

No

Variabel

Definisi Operasional

Alat dan

Hasil ukur

Skala

cara ukur

ukur

   

Lama hidup seseorang yang

     

1

Usia

dihitung dari tahun lahir sampai ulang tahun terakhir

Wawancara

Tahun

Rasio

2

Jenis

Perbedaan kelamin secara biologis

Wawancara

1.Laki laki

Nominal

kelamin

2.Perempuan

3

Lingkar

Pengukuran dari titik tengah batas/ margin tulang rusuk bawah

Pita metlin

dengan

Centimeter

Rasio

perut

dan batas tulang krista iliaka kanan dan kiri kemudian diukur secara horizontal.

ketelitian

(cm)

0,1 cm

 

Kadar

Penilaian kadar gula darah berpuasa paling sedikit 8 jam ( mulai

malam hari ) sebelum diperiksa, minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan.

Dengan cara tes strip (gluko Dr / blood tes meter), merek easytouch alat yang digunakan :lanset, kapas alkohol, stik gluko Dr.

   

4

gula

darah

mg/dl

Rasio

puasa

30

4.6

Prosedur penelitian

4.6.1

Tahap persiapan

a. Calon peneliti membuat surat izin pendahuluan dari UP KTI Fakultas

Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat untuk melakukan studi

pendahuluan di Rumah Sakit Umum Daerah Sukamara Kabupaten

Sukamara Kalimantan Tengah.

b. Calon peneliti menyerahkan surat izin studi pendahuluan ke direktur

Rumah

Sakit

Umum

Daerah

Kalimantan Tengah.

c. Setelah

mendapat

surat

izin,

Sukamara

Kabupaten

Sukamara

calon

peneliti

melakukan

studi

pendahuluan mengambil data primer dengan cara menjelaskan pada

pasien diabetes melitus tipe 2 yang kontrol di Poliklinik Penyakit

Dalam RSUD Sukamara maksud dan tujuan pengukuran lingkar perut

dan gula darah puasa, setelah pasien tanda tangan informed consent

setuju sebagai responden. Calon peneliti mengukur lingkar perut dan

kadar gula darah puasa responden sebanyak 10 orang. Kemudian di

hitung nilai rata-ratanya dengan cara menjumlahkan semua hasil

lingkar perut dibagi 10 dan menjumlah semua hasil gula darah puasa

di bagi 10.

d. Calon peneliti mengambil data sekunder yang diperoleh dari rekam

medis RSUD Sukamara tentang jumlah pasien diabetes melitus yang

berkunjung ke poliklinik penyakit dalam tahun 2014 dan tahun 2015.

31

e. Calon peneliti membuat surat izin untuk melakukan penelitian di

Rumah

Sakit

Umum

Kalimantan Tengah.

Daerah

Sukamara

Kabupaten

Sukamara

f. Calon peneliti menyerahkan surat izin untuk melakukan penelitian

pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang kontrol di Poliklinik Penyakit

Dalam RSUD Sukamara Kabupaten Sukamara Kalimantan Tengah.

4.6.2 Tahap pelaksanaan

a. Penelitian akan dilaksanakan selama dua bulan yaitu bula juli sampai

dengan Agustus 2016 di ruang poliklinik penyakit dalam RSUD

Sukamara Kabupaten Sukamara Kalimantan Tengah.

b. Penelitian akan dilakukan oleh calon peneliti dan dibantu oleh dokter

Spesialis Penyakit Dalam untuk menentukan diagnosa responden

benar diabetes melitus tipe 2 serta satu orang perawat Poliklinik

Penyakit Dalam RSUD Sukamara membantu melakukan pengukuran

lingkar perut dan kadar gula darah responden. Sebelum memulai

pengukuran calon peneliti akan melakukan diskusi dengan perawat

penyakit dalam untuk menyamakan persepsi tata cara pengukuran

liungkar perut dan kadar gula darah.

c. Calon peneliti memilih responden yang terdiagnosa diabetes melitus

tipe 2 di lihat dari rekam medisnya dan hasil konsultasi dengan dokter

spesialis

penyakit

dalam

di

Poliklinik

Penyakit

Dalam

RSUD

Sukamara.

32

d. Calon peneliti memberikan penjelasan kepada responden mengenai

tujuan, manfaat, prosedur, proses penelitian kepada responden dan

meminta responden untuk bersedia menjadi responden penelitian.

e. Apabila responden bersedia, maka calon peneliti meminta responden

untuk menandatangani lembar infarmed consent.

f. Calon peneliti melakukan wawancara untuk mengisi data karakteristik

seperti umur dan jenis kelamin.

g. Calon peneliti melakukan pengukuran lingkar perut dan kadar gula

darah

puasa

Sukamara.

responden

di

Poliklinik

Penyakit

Dalam

RSUD

4.6.3

Tahap penyelesaian

Setelah data terkumpul peneliti melakukan analisa data dan menyusun

data dalam bentuk tabeldistribusi frekuensi dan persentase.

4.7

Teknik pengumpulan dan pengolahan data

4.7.1

Pengumpulan data

Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan

proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu

penelitian (Nursalam,2013).

Data yang dikumpulkan terbagi menjadi dua, antara lain:

a. Data primer diperoleh dari wawancara dengan responden untuk

mengisi data karakteristik (umur dan jenis kelamin).calon peneliti

kemudian melakukan pengukuran biofisiologis yaitu lingkar perut dan

33

kadar gula darah puasa pada responden. Calon peneliti melakukan

langsung pada proses pengumpulan data pada bulan Juli sampai

Agustus 2016.

b. Data sekunder diperoleh dari data RSUD Sukamara yaitu data rekam

medis responden di poliklinik penyakit dalam RSUD Sukamara untuk

melihat diagnosa medis responden sesuai dengan populasi yang

akan diambil yaitu diabetes tipe 2.

4.7.2 Pengolahan data

Pengolahan data dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut :

a.

Editing

`

Setelah data dikumpulkan maka dilakukan editing untuk memeriksa

setiap blangko pemeriksaan yang telah diisi calon peneliti yaitu umur,

jenis kelamin, lingkar perut, gula darah puasa

responden untuk

melihat kelengkapan data.

b.

Coding

Data yang sudah diedit kemudian dilakukan pengkodean oleh calon

peneliti untuk memudahkan dalam menganalisis data. Pemberian

kode penelitian ini meliputi:

1)

Usia terdiri dari :

26-45 th = kode 1

46-65 th = kode 2

2)

Jenis kelamin:

Laki-laki = kode 1

Perempuan = kode 2

34

3)

Lingkar perut:

Laki-laki < 90 cm, perempuan < 80 cm = kode 1

Laki-laki > 90 cm, perempuan > 80 cm = kode 2

4)

Kadar gula darah puasa:

GDP < 126 mg/dl = kode 1

GDP > 126 mg/dl = kode 2

c. Memasukkan data (data entry)

Data dari isi blangklo pemeriksaan dimasukkan ke dalam tabel

berupa pengkodean dengan program SPSS yang ada di komputer.

Data tersebut berkaitan dengan karakteristik responden dan variabel

penelitian yaitu data lingkar perut dan gula darah puasa.

d. Tabulasi

Tabulasi data adalah memasukkan data karakteristek responden dan

variabel penelitian yaitu lingkar perut dan gula darah puasa ke dalam

tabel distribusi frekuensi relatif. Cara pembuatannya adalah dengan

merubah frekuensi menjadi persen.

4.8

Cara analisa data

Analisa data dilakukan dengan menggunakan program statistik komputer

dan analisis data penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut :

4.8.1

Analisis univariat

Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan data tentang distribusi

frekuensi persentase dari masing-masing variabel secara terpisah yaitu:

umur, lingkar perut, dan kadar gula darah puasa.

35

4.8.2

Analisis bivariat

 

Analisis bivariat untuk menguji hubungan antara lingkar perut dan kadar

gula darah puasa yang dianalisis dengan menggunakan uji korelasi

pearson.

Sebelum

melakukan

uji

korelasi

pearson

dengan

derajat

kepercayaan 90%, peneliti melakukan uji normalitas dengan metode

analitis

secara

komputerisasi

menggunakan

Kolmogorov-Smirnov

sampelnya > 50 dan menggunakan shapiro wilk

sampel < 50. Syarat uji

korelasi pearson yaitu data berdistribusi normal dengan nilai sig > 0,05.

Bila

data

tidak

berdistribusi

normal

dengan

nilai

sig

>

0,05

maka

digunakan uji statistik korelasi Spearman.

 

4.9

Tempat dan waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Sukamara.

Adapun rincian agenda secara umum dapat dilihat di bawah ini.

Tabel 4.2 waktu penelitian hubungan lingkar perut dengan kadar gula

darah puasa pasien diabetes melitus RSUD Sukamara.

No

Kegiatan

 

Bulan

Mar

April

Mei

Juni

Juli

Agust

Sep

Okt

Nov

1

Konsultasi

                 
 

Studi

                 

2

pendahuluan

 

Perizinan

                 

3

penelitian

4

Penyusunan

                 

proposal

5

Seminar KTI I

                 

6

Revisi proposal

                 

7

Pengumpulan

                 

data

8

Pengolahan dan

                 

analisis data

9

Seminar KTI II

                 

10

Perbaikan

                 

36

4.10 Biaya penelitian

Tabel 4.3 biaya penelitian hubungan lingkar perut dengan kadar gula

darah puasa pasien diabetes melitus di Poliklinik Penyakit

Dalam RSUD Sukamara

Rincian

 

Biaya

Biaya studi pendahuluan

Rp.

150.000

Biaya operasional (transportasi)

Rp.

450.000

Biaya alat dan bahan penelitian

Rp.

250.000

Studi pustaka

RP.

500.000

ATK

Rp.

250.000

Biaya konsumsi untuk sidang proposal & hasil penelitian

Rp.

500.000

Jumlah

RP. 2.100.000

DAFTAR PUSTAKA

Bustan MN, 2015, Manajemen pengendalian penyakit tidak menular, Renika Cipta, Jakarta.

Corwin EJ, 2009, Buku saku patofisiologi, EGC, Jakarta.

Departemen kesehatan 2009, Tahun 2030 Prevalensi Diabetes Melitus di Indonesia Mencapai 21,3 Juta Orang, Jakarta.

Fatimah RN, 2015, Diabetes melitus tipe 2, J Majority, vol. 4, issue 5, pp. 93-

101.

Gibney, Michael J, et al, 2008, Gizi kesehatan masyarakat, EGC, Jakarta.

Hidayati,

Erlangga, Jakarta.

Ratna

dkk,

2014,

Praktik

Laboratorium

Keperawatan,

Penerbit

Hartini S, 2009, Diabetes? Siapa takut panduan lengkap untuk diabetisi keluarganya dan professional medis, Qonita PT Mizan Pustaka, Bandung.

Hartono A, 2004, Terapi gizi dan diet rumah sakit, EGC, Jakarta.

Jalal F, Liputo NI, Susanti N, Oenzil F, 2008, Hubungan lingkar pinggang dengan kadar gula darah, trigliserida dan tekanan darah pada etnis minang di kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat. Media Medika Indonesiana, vol 43 issue 3.

Kamath A, Shivaprakash G, Adhikari P, 2011, Body mass index and waist circumference in type 2 diabetes mellitus patien attending diabetes clinic,

International Journal of Biological & Medical Research, vol. 2, issue 3, pp. 636-

638.

Infodatin pusat data dan informasi Kementerian kesehatan Republik Indonesia 2014, Situasi dan Analisis Diabetes 2013, Jakarta

Litbangkes, 2013, Riskesdas Provinsi Kalimantan Tengan Tahun 2013, Jakarta.

Manungkalit M, Kusnanto, Purbosari ADA, 2015, Hubungan lingkar pinggang dengan faktor risiko diabetes mellitus (tekanan darah, kadar gula darah dan indeks massa tubuh) pada usia dewasa awal di wilayah kecamatan Gerih kabupaten Ngawi, Jurnal ners Lentera, vol.3, issue 1, pp.21-30.

Mihardja L, 2009, Faktor yang berhubungan dengan pengendalian gula darah pada penderita diabetes mellitus di perkotaan Indonesia, Majalah Kedokteran Indonesia, Vol. 59, issue 9.pp. 418-424.

Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW, 1995, Biokimia harper, EGC, Jakarta.

Nursalam, 2013, Metodologi penelitian ilmu keperawatan, Penerbit Salemba Medika, Jakarta.

Notoatmojo

S,

2002,

Metodologi

penelitian

kesehatan,

PT

Rineka

Cipta,

Jakarta.

PERKENI, 2011, Pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia, Jakarta.

Rumahorbo H, 2014, Mencegah diabetes melitus dengan perubahan gaya hidup, In Media, Bogor.

Septyaningrum N, Martini S, 2014, Lingkar perut mempunyai hubungan paling kuat dengan kadar gula darah, Jurnal Berkala Epidemiologi, vol.2, issue.1, pp.

48-58.

Smeltzer

CS, Brenda GB, 2001, Keperawatan medikal bedah edisi 8, EGC,

Jakarta.

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Marcellus SK, Setiati S, 2006, Buku ajar ilmu penyakit dalam, EGC, Jakarta.

Sudargo T, Herry FLM, Rosiyani F, Kusmayanti NA, 2014, Pola makan dan obesitas, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Supariasa IDN, Bakri B, Fajar I, 2001, Penilaian status gizi, EGC, Jakarta.

Soetiarto F, Roselinda, Suhardi, 2010, Hubungan diabetes mellitus dengan obesitas berdasarkan indeks massa tubuh dan lingkar pinggang data RISKESDAS 2007, Buletin Penelitian kesehatan, Vol.38, No.1, hal 36-42.

Wibudi A, 2015, Kenali Si Pengatur Gula Darah, RepublikaOnline, Jakarta.

Wahyuningsih

R,

2013,

Penatalaksanaan

diet

pada

pasien,

Graha

Ilmu,

Yogyakarta.