Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN kesenian, organisasi kemasyarakatan,

teknologi, mata pencaharian dan bahasa.


Jan Nederveen Pieterse (2004: 980-990)
Adapun diagram yang menampilkan
telah mengidentifikasi tiga paradigma
7(Tujuh) unsur kebudayaan menurut
utama dalam merumuskan secara teoretis
Koentjaraningrat. (Arsitektur Posmo pada
berbagai aspek kultural globalisasi,
Masjid Al-Hikmah dalam serapan
terutama tentang isu yang secara mendasar
arsitektur tradidional Bali, dalam Salain
penting tentang apakah budaya-budaya
2010)
diseluruh dunia selalu berbeda, memusat,
atau menciptakan bentuk percampuran
baru dari kombinasi unik berbagai budaya
lokal dan global.
Dalam disiplin ilmu antropologi budaya,
kebudayaan dan budaya itu diartikan sama
Gambar 1 : Tujuh Unsur Kebudayaan Digambarkan
(Koentjaraningrat,1980:195).Namun
dalam Satu Kesatuan Sistem yang Saling Pengaruh
dalam Ilmu Budaya Dasar(IBD) dibedakan Mempengaruhi.
Sumber : Dokumen Koentjaraningrat, 1974:12
antara budaya dan kebudayaan, karena dimodifikasi Salain, 2010

IBD berbicara tentang dunia idea tau nilai,


bukan hasil fisiknya. Secara sederhana Dari penjelasan diatas diagram lingkaran
pengertian kebudayaan dan budaya dalam tersebut merupakan satu kesatuan utuh
IBD mengacu pada pengertian sebagai yang Agama sistem religi dan upacara
berikut : keagamaan sebagai pusatnya dan Sistem
1. Kebudayaan dalam arti luas, adalah teknologi dan Peralatan sebagai lapisan
keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan paling luar yang artinya sangat rentan
hasil karya manusia dalam rangka terhadap perubahan. Hanya derajat
kehidupan masyarakat yang dijadikan perubahannya semakin ketengah semakin
milik diri manusia dengan belajar. kecil dan mungkin tidak terjadi perubahan
2. Kebudayaan dalam arti sempit dapat dalam hal ini pada sistem religi dan
disebut dengan istilah budaya atau sering upacara keagamaan. Sementara sistem
disebut kultur yang mengandung teknologi dan peralatan berproses dalam
pengertian keseluruhan sistem gagasan dan hubungan timbal balik, maka keenam
tindakan. sistem lainnya juga akan saling
Unsur kebudayaan yang merupakan sistem berhubungan dan berproses begitu juga
dalam budaya yaitu, agama, pengetahuan,

1
dengan sistem lainnya berlangsung secara dan lambang-lambang, dan proses
terus menerus dan saling berhubungan. perlambangan (Joko Pradopo, 1987: 121).
Teori Semiotika akan dipakai memaknai
Pertumbuhan, perkembangan, atau
pemasangan ornament yang menjadi ciri
perubahan budaya sangat ditentukan oleh
khas gaya Arsitektur Post Modern pada
manusia yang menjalani budaya tertentu.
jurnal ini.
Karena hidup kebudayaan terus-menerus
akan mengalami pembentukan dan
pembaharuan kembali, maka semua bentuk Estetika Post Modern
kebudayaan adalah dalam gerak
Menurut Baudrillard, estetika postmodern
perubahan, pembaharuan, dan
menampilkan produk pencitraan. Citra
pembentukan dalam proses pembangunan.
diciptakan melalui proses simulasi
Manusia sekaligus penduduk disuatu sehingga menghasilkan produk-produk
wilayah merupakan pelaku budaya itu yang mencerminkan individualitas semu,
sendiri selain sebagai pelaku juga menjadi seperti citra meniru, mengcopy,
penolak budaya seiring dengan pola menduplikasi, atau mereproduksi sebagai
pemikiran manusia itu sendiri bagaimana model tanpa rujukan realitas
tafsirannya terhadap budaya. (Piliang,2008:290).Citra bukan merupakan
representasi realitas, melainkan citra yang
Teori Semiotika dikontruksi melalui mekanisme terjadinya
transformasi dan inovasi sehingga
Semiotika berasal dari bahasa Yunani
menghasilkan produk baru yang semu
semeion yang berarti tanda. Semiotika
dalam hal ini adalah bangunan bergaya
kemudian didefinisikan sebagai studi
Post Modern.
tentang tanda dan cara tanda-tanda itu
bekerja..Aart van Zoest (1992:5) menyebut
semiotika sebagai studi tentang tanda dan
METODE PENELITIAN
segala sesuatu yang berkaitan dengannya
seperti cara berfungsinya, hubungannya Metode yang digunakan untuk mengkaji
dengan tanda-tanda lain dan penelitian dengan judul Tren Kebudayaan
penerimaannya oleh mereka yang Asing terhadap Bangunan Arsitektur yang
mempergunakannya.ada pula yang berada di Ruas Jalan Raya Batubulan
mengatakan semiotika sebagai ilmu yang adalah metode Kualitatif Interpretatif.
secara sistematik mempelajari tanda-tanda Metode ini digunakan karena proses

2
pengumpulan data dilapangan lebih - Sebelah Utara : Kecamatan
mendominasi dan ditambah dengan Tampaksiring
- Sebelah Selatan : Samudra Indonesia
penafsiran untuk mendapatkan suatu - Sebelah Barat : Kecamatan Ubud
permasalahan atau potensi yang ada. dan Kota Denpasar
Selain menggunakan data dilapangan, data - Sebelah Timur : Kecamatan

juga diperoleh dari buku, jurnal, artikel Blahbatuh

dan hasil penelitian. Langkah-langkah


rancangan penelitian ini dimulai dari,
pertama mempersiapkan alat kerja, objek
penelitian dan waktu observasi, kedua
mencari data dengan mendokumentasikan
objek, ketiga memilah-milah data yang
diperoleh dilapangan, keempat
menkategorikan data-data sehingga
menemukan suatu hipotesa dan tema,
kelima penyajian hasil analisis data dalam
bentuk gambar, dan foto-foto yang
kemudian dituangkan ke dalam
pembahasan.
Gambar 3. Wilayah Tujuh kecamatan di Kabupaten
Gianyar.
Letak Geografis
Sumber Gambar : www.google.com

Luas wilayah Kecamatan Sukawati adalah


55,02 Km2 yang terdiri dari 12 Desa yaitu :
1) Desa Kemenuh, 2) Desa Batuan Kaler, 3)
Desa Batuan, 4) Desa Sukawati, 5) Desa
Celuk, 6) Desa Guwang, 7) Desa Ketewel,
Gambar 2. Pulau Bali dan Kabupaten Gianyar
8) Desa Batubulan Kangin, 9) Desa
Sumber Gambar :www.google.com
Batubulan, 10) Desa Singapadu, 11) Desa
Kecamatan Sukawati merupakan salah satu Singapadu Tengah dan 12) Desa Singapadu
dari tujuh kecamatan yang ada di Kabupaten Kaler (BPP Sukawati, 2013 ).
Gianyar,adapun batas-batas wilayah
Kecamatan Sukawati adalah sebagai berikut:

3
Pada penelitian ini kami menggunakan Desa bandingkan dengan bangunan yang ada
Batubulan sebagai objek penelitian disekitar dari objek.
sepanjang 20 meter pada ruas jalan raya
Batubulan, tepatnya didepan SPBU
Batubulan. Bangunan 1:

Gambar 5. Distro brave


Sumber Gambar :Dokumen pribadi

Bangunan Sekitar

Gambar 4. Peta Lokasi Ruas Jalan Raya Batubulan


Sumber Gambar : Google Map

HASIL OBSERVASI

Hasil dari observasi telah dilakukan


terhadap bangunan arsitektur pada ruas
jalan sepanjang 20 meter di jalan raya Gambar 6. Bangunan yang berada sepanjang 20

Batubulan. Hasil dari observasi ini kami meter pada ruas jalan raya Batubulan

Sumber : Observasi 18 april 2017

4
hal ini mencerminkan bagaimana gaya
arsitektur Post Modern tersebut. Tentunya
penerapan tersebut sangatlah tidak baik
PEMBAHASAN diterapkan pada kawasan ini mengingat
Bali terkenal dengan kebudayaannya
Dari hasil observasi yang telah kami
menjadikan bangunan ini sebagai sosok
lakukan terdapat beberapa perubahan dari
asing yang berpakaian Bali.
bentuk bangunan yang dahulunya bergaya c. Kaki
Arsitektur Bali menjadi Gaya Arsitektur Pada bagian kaki dari bangunan ini
Post Modern. Dari hal tersebut kami menggunakan tangga seperti layaknya
mengidentifikasi dari perubahan tersebut podium yang mengarahkan ke bagian
seperti, bentuk bangunan, fungsi bangunan utamanya.
Selain itu bentuk bangunan yang
bangunan, dan orientasi bangunan.
mendominasi bentuk kotak membuat
1. Bentuk Bangunan bangunan ini terkesan monoton.
Dari segi bentuk kami melihat
terjadinya penghilangan dari Arsitektur 2. Fungsi Bangunan
Sedangkan dari segi fungsi bangunan ini
Tradisional Bali, seperti konsep Tri Angga
berubah mengingat dahulunya adalah
(Kepala, Badan, dan Kaki).
a. Kepala tembok penyengker bangunan sekarang
Pada bagian kepala dari bangunan ini tidak dirubah dan dikembangkan menjadi
menggunakan atap limasan seperti sebuah Ruko (Rumah Toko)
bangunan Bali pada umumnya mengingat
3. Orientasi Bangunan
bangunan ini terletak pada kawasan Orientasi bangunan ini menghadap ke
kebudayaan di Bali. Jadinya bangunan ini jalan utama karena fungsinya sebagai
seolah-olah tidak memiliki kepala dan pertokoan jadinya orientasi harus
mengganti atapnya menjadi atap dak menghadap ke jalan utama untuk menarik
beton. Mengingat penggunaan atap dak perhatian lebih terhadap konsumen.
beton yang sangat buruk diterapkan pada Orientasi bangunan ini berubah yang
kawasan ini baik dari segi penghawaan dahulunya bangunan berorientasi ke natah
alami, pencahayaan alami maupun dari sebagai acuan utama sekarang lebih
segi kebudayaan. mengutamakan kepentingan komersial.
b. Badan
Pada bagian badan dari bangunan ini
menggunakan material kaca dan
penempelan beberapa ukiran Bali, dalam

Post
ATB Modern
2. Bangunan yang menerapkan gaya
Batas Imajiner
antara ATB dan Arsitektur Tradisional Bali
Post Modern
Rumah Tradisional dan Ruko dengan
Post Modern penerapan gaya Arsitektur Tradisional Bali

ATB

Gambar 7 Batas Imajiner dari Arsitektur Bali dan


Arsitektur Post Modern

Terminologi Perubahan

1. Asumsi Pola Massa Bangunan Arsitektur Kepala


Tradisional Bali pada Tahun 1950-an
(sebelum adanya listrik masuk)

Badan

Kaki

Gambar 9. Bangunan yang menerapkan gaya


Gambar 8. Asumsi Pola Massa Bangunan Arsitektur Tradisional Bali
Arsitektur Tradisional Bali (1950-an)
3. Perkembangan Pola Massa Bangunan
Bangunan arsitektur tradisional bali pada
Arsitektur Tradisional Bali
Gambar 7 menjelaskan bagaimana
bangunan tersebut masih berorientasi ke Perkembangan Pola Massa Bangunan

natah dan penggunaan padureksa atau Arsitektur Tradisional Bali dapat dilihat

tembok penyengker masih asri.

6
pada Gambar 9 pada kotak berwarna oranament Bali pada elemn sampingnya
merah terjadi perkembangan fungsi. saja, menjadikan bangunan tersebut
terkesan baru dan dari dengan
menggunakan Teori Semiotika yaitu teori
tentang tanda dan teori Estetika Post
Modern munculah Arsitektur Post
Modern.

4. Perubahan Bangunan Gaya Arsitektur


Tradisional Bali menjadi Gaya Arsitektur
Penambahan
Bangunan Baru Post Modern

Gambar 10. Perkembangan Pola Massa Bangunan


Arsitektur Tradisional Bali

Dengan seiring perkembangan zaman


masyarakat mulai bergerak maju kearah
modern tapi dalam hal ini tidak Pengutamakan segi
meninggalkan Arsitektur Tradisional Bali Fungsi

itu sendiri, akan tetapi dari segi faktor Gambar 11. Bangunan yang menerapkan gaya Post
ekonomi pekarangan karma bali yang Modern pada ruas jalan raya Batubulan
lumayan luas muncul pemikiran untuk
mengkembangkan lahan yang ada untuk
kepentingan komersial dengan demikian
maka munculah pikiran-pikiran untuk
membuat bangunan dengan fungsi baru
pada lahan yang kurang optimal
pemakaiannya, dalam hal ini tembok
penyengkerlah dipakai dan diubah menjadi
Gambar 12. Bangunan yang menerapkan gaya Post
bangunan baru yang mengutamakan segi
Modern pada ruas jalan raya Batubulan
fungsi akan tetapi karma Bali ingin
bangunan tersebut lebih terkesan budaya Pada bangunan yang menerapkan gaya
Balinya maka terbentuklah sosok Post Modern bangunan baru ini
bangunan asing dengan pakaian bali dalam menggunakan tembok penyengkernya
hal ini hanya penempelan ornament- dirubah menjadi suatu bangunan baru yang

7
bergaya Post Modern bangunan Post maju dari sebelumnya. Perubahan yang
Modern ini menggunakan ornament bersumber dari luar yakni adanya
sebagai tempelan atau hiasan pada bagian pengaruh-pengaruh dari budaya asing
dinding atau elemen sampingnya. Dan karena di desa Batubulan kebanyakan
bangunan Post Modern ini lebih berasal dari penduduk pendatang.
mengutamakan fungsi dari bangunan
Faktor-Faktor Pengaruh Perubahan
dengan menerapkan filosofi Form Follow
Function (bentuk mengikuti fungsi). Soekamto (1990:361-365) mengatakan
bahwa terdapat delapan faktor yang
Faktor-Faktor Penyebab Perubahan
mempengaruhi terjadinya suatu perubahan.
Masyarakat mengadakan perubahan karena Faktor-faktor tersebut meliputi:
terpaksa demi untuk menyesuaikan suatu
Kontak dengan kebudayaan lain,
faktor dengan faktor-faktor yang lain yang Sistem pendidikan formal,
sudah mengalami perubahan terlebih Sikap menghargai karya seseorang,
dahulu. Toleransi,
Sistem terbuka lapisan masyarakat,
Mengutip dari buku Ubud Bergerak karya Penduduk yang heterogen,
Ketidakpuasan terhadap bidang-bidang
Tjok A.A Oka Sukawati, Soemardjan dan
kehidupan tertentu, dan
Soelaeman dalam Soekanto (1990:252),
Orientasi ke masa depan.
menyebutkan bahwa secara umum
sumber-sumber yang menjadi penyebab Dari delapan faktor diatas ada setidaknya
perubahan adalah terletak didalam lima faktor yang mempengaruhi
masyarakat itu sendiri atau bersumber dari perubahan bangunan arsitektur pada ruas
luar dirinya. jalan raya Batubulan antara lain:
1) Adanya kontak dengan kebudayaan
Mengaitkan dengan faktor-faktor diatas,
lain,
penyebab perubahan bangunan pada ruas
2) Sistem pendidikan formal,
jalan raya Batubulan dari mata
3) Sistem terbuka lapisan masyarakat,
pencahariaan pada sektor agraris menjadi
4) Ketidakpuasan terhadap bidang-bidang
sektor pariwisata bersumber dari
kehidupan tertentu,
masyarakat Batubulan itu sendiri serta luar
5) Orientasi ke masa depan
masyarakat Batubulan. Faktor-faktor dari
Masyarakat desa Batubulan telah
dalam masyarakat itu sendiri seperti
mengalami adanya kontak dengan
pertambahan penduduk dari desa tersebut
kebudayaan lain terbukti dari bangunan-
dan keinginan daerah tersebut untuk lebih

8
bangunan dari daerah Batubulan yang Harapan untuk hidup lebih baik dari
telah banyak berubah seperti memadukan sebelumnya merupakan orientasi
arsitektur tradisional Bali dengan masyarakat Batubulan ke masa depan
arsitektur modern, misalnya adanya degan bantuan pemerintah yang
bangunan modern yang ditempelkan memudahkan perijinan untuk sektor
dengan ornament bali. perdagangan dan merubah tempat
tinggalnya menjadi tempat usaha
Pada sistem pendidikan formal masyarakat
tersendiri.
Batubulan pada zaman modern ini pastinya
memiliki pendidikan yang cukup untuk
SIMPULAN
mengetahui bahwa budaya agraris yang Tren arsitektur yang berada di ruas jalan
dulu diandalkan tidaklah bisa memenuhi raya Batubulan adalah bergaya Arsitektur
semua kebutuhan hidup dari masyarakat. Post Modern mengingat bangunan pada
ruas ini lebih mengutamakan fungsi dari
Masyarakat Batubulan yang sistem terbuka
pada bentuk bangunan. Dalam hal ini
lapisan masyarakat cenderung memberikan
bangunan Post Modern cenderung berada
ruang gerak untuk pengaruh kebudayaan
pada ruas-ruas jalan atau pinggiran jalan
asing masuk secara signifikan melahap
karena masyarakat desa Batubulan
kebudayaan lokal yang ada di daerah Bali
pekerjaannya mayoritasya adalah
seperti menempelkan ornament Bali pada
berdagang dan pada ruas-ruas jalan inilah
bangunan asing, memakai kameja bercorak
tempat strategis untuk berjualan karena
seperti kedaerah pantai untuk
mengingat jalan raya Batubulan sangat
bersembahyang di Pura yang dulu
ramai dilewati oleh kendaraan dan
memakai safari.
wisatawan dengan ini mereka berlomba-
Ketidak puasan terhadap bidang-bidang lomba menampilkan produk mereka
kehidupan tertentu banyak dijumpai dalam dengan jelas dan supaya menarik perhatian
kehidupan bermasyarakat di daerah pembeli makanya dari segi bangunan
Batubulan, seperti keluarga yang dulunya arsitektur dibuat lebih modern. Tetapi
hidup di sektor agraris dalam kejenuhan perubahan itu hanya pada fungsi tembok
tinggi karena kekurangan pendapatan ingin penyengker saja tidak pada dalam
bangkit untuk berusaha dengan cara instan pekarangan karma itu karena penerapan
menjual sektor agrarisnya ke orang luar pola massa bangunan arsitektur Balinya
Batubulan dan hasilnya dijadikan untuk masih diterapkan dengan demikian
bidang lainnya. terjadilah transformasi dari Arsitektur

9
Tradisional Bali dengan Arsitektur Modern Mudana, I Wayan. 2016. Inovasi Bentuk
maka terbentuklah Arsitektur Post Lukisan Wayang Kamasan Sebagai Seni
Modern. Kemasan Pasar. Dalam Jurnal Seni
Budaya (ed.MUDRA). Denpasar : Institut
DAFTAR RUJUKAN
Seni Indonesia Denpasar
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi Dari
Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Remawa, A.A.GD.Rai. 2016. Inkonsistensi
Postmodern. Pustaka Pelajar. Astha Kosali Pada Bangunan hunian bali
Madya Masa Kini Di Kabupaten Gianyar.
Sukawati, Tjok A.A. Oka. 2004. Ubud
Dalam Jurnal Seni Budaya (ed.MUDRA).
Bergerak. CV. Bali Media Adhikarsa.
Denpasar : Institut Seni Indonesia
Salain, Rumawan I Putu. 2010. Arsitektur Denpasar
Posmo pada Masjid Al-Hikmah dalam
Charles Jenks. 1980. Late-Modern
Serapan Arsitektur Tradisional Bali.
Architecture and Other Essays. Rizzoli
Udayana University Press
International Publications

10