Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

SEJARAH BAHASA INDOENSIA

Di Susun Oleh :

Nama :

Nim :

Semester :

Jurusan :

Prodi :

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLMA (STAI)


SAID PERINTAH MASOHI
T.A 2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
kesehatan jasmani dan rohani sehingga kita masih tetap bias menikmati indahnya alam
cipataanNya. Sholawat dan salam tetaplah kita curahkan kepada baginda Nabi Muhammad
Saw yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama yang
sempunya dengan bahasa yang sangat indah. Alhamdulillah saya sangat bersyukur karena
telah menyelesaikan makalah ini yang berjudul Bahasa Indonesia sebagai tugas mata kuliah
Bahasa Indonesia. Dalam makalah ini saya mencoba untuk menjelaskan tentang
perkembangan bahasa Indonesia yang saya mulai dari sumber bahasa Indonesia, proses
pemberian nama bahasa Indonesia, pertistiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan
bahasa Indonesia, bahasa melayu, mengapa bahasa melayu yang dipilih sebagai sumber
bahasa Indonesia, kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia, fungsi Bahasa Indonesia.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Bahasa Indonesia


B. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia
C. Ragam Bahasa Indonesia

BAB III PENBUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang memiliki beraneka ragam suku, budaya, dan bahasa.

Membahas tentang bahasa, Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi umum yang paling

penting dalam mempersatukan seluruh rakyat bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan

bahasa Melayu yang dijadikan sebagai bahasa resmi dan bahasa persatuan Republik

Indonesia. Melalui perjalanan sejarah yang panjang, bahasa Indonesia telah mencapai

perkembangan yang luar biasa, baik dari segi jumlah pemakainya, maknanya maupun dari

segi kosa kata dan segi tata bahasanya( https://nurulhidayatullahb.wordpress.com,2013).


Kedudukan dan fungsi bahasa yang dipakai oleh pemakainya (baca: masyarakat

bahasa) perlu dirumuskan secara eksplisit, sebab kejelasan label yang diberikan akan

mempengaruhi masa depan bahasa yang bersangkutan. Pemakainya akan menyikapinya

secara jelas terhadapnya. Pemakaiannya akan memperlakukannya sesuai dengan label yang

dikenakan padanya. Di pihak lain, bagi masyarakat yang dwi bahasa (dwilingual), akan dapat

memilah-milahkan sikap dan pemakaian kedua atau lebih bahasa yang digunakannya.

Mereka tidak akan memakai secara sembarangan. Mereka bisa mengetahui kapan dan dalam

situasi apa bahasa yang satu dipakai, dan kapan dan dalam situasi apa pula bahasa yang

lainnya dipakai. Dengan demikian perkembangan bahasa (-bahasa) itu akan menjadi terarah.

Pemakainya akan berusaha mempertahankan kedudukan dan fungsi bahasa yang telah

disepakatinya dengan, antara lain, menyeleksi unsur-unsur bahasa lain yang masuk ke

dalamnya. Unsur-unsur yang dianggap menguntungkannya akan diterima, sedangkan unsur-

unsur yang dianggap merugikannya akan ditolak

Diera modern ini, bahasa Indonesia telah berkembang secara luas bukan hanya di

Indonesia tetapi juga di luar Indonesia, dan menjadi salah satu kebanggaan Indonesia atas

prestasi tersebut. Sehingga Bahasa Indonesia masuk dalam kelompok mata kuliah di setiap
perguruan Tinggi. Mahasiswa peserta Mata Kuliah Bahasa Indonesia perlu disadarkan akan

kenyataan keberhasilan ini dan ditimbulkan kebanggaannya terhadap bahasa Nasional kita

yaitu Bahasa Indonesia. Karena Kemahiran berbahasa Indonesia bagi para mahasiswa

merupakan cerminan dalam tata pikir, tata laku, tata ucap dan tata tulis berbahasa Indonesia

dalam konteks akademis maupun konteks ilmiah. Sehingga Mahasiswa kelak akan menjadi

insan terpelajar bangsa Indonesia yang akan terjun ke dalam kehidupan berbangsa dan

bernegara sebagai pemimpin dalam daerahnya masing-masing. Sehingga mahasiswa

diharapkan kelak dapat mengajarkan warga Indonesia yang masih belum mengetahui banyak

tentang bahasa Indonesia tentang arti penting bahasa yang sebenarnya sehingga nantinya

akan menjadi warga Negara yang dapat memenuhi kewajibannya di mana pun mereka berada

dan dengan siapa pun mereka bergaul di wilayah Negara kesatuan republik Indonesia tercinta

ini. Kemudian mahasiswa hendaknya dapat menyadari akan pentingnya Sejarah, Fungsi dan

kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dan bahasa nasional(

https://nurulhidayatullahb.wordpress.com,2013).

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan kita bahas dalam makalah ini yaitu:
1. Bagaimana sejarah perkembangan bahasa Indonesia?
2. Bagaimana fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia?
3. Bagaimana ragam bahasa Indonesia?
C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini ialah:


1. Untuk mengetahui sejarah perkembangan bahasa Indonesia.
2. Untuk mengetahui fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia.
3. Untuk mengetahui ragam bahasa Indonesia.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak dulu sudah

dipakai sebagai bahasa perantara (lingua franca), bukan saja di kepulauan Nusantara,

melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara (Arifin,1985:3).

Bahasa Indonesia dengan perlahan-lahan, tetapi pasti, berkembang dan tumbuh terus.

Pada waktu akhir-akhir ini perkembangannya itu menjadi demikian pesatnya sehingga bahasa

ini telah menjelma menjadi bahasa modern, yang kaya akan kosakata dan mantap dalam

struktur (Arifin,1985:40).

Pada 28 oktober 1928, para pemuda kita mengikrarkan Sumpah Pemuda. Naskah

Putusan Kongres Pemuda Indonesia Tahun 1928 itu berisi tiga butir kebulatan tekad sebaagai

berikut:

Pertama : kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu,

tanah Indonesia

Kedua : Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu,bangsa

Indonesia

Ketiga : Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa

Indonesia.

Pernyataan yang pertama adalah pengakuan bahwa pulau-pulau yang bertebaran dan

lautan yang menghubungkan pulau-pulau yang merupakan wilayah Republik Indonesia

sekarang adalah satu kesatuan tumpah darah yang disebut tanah air Indonesia. Pernyataan

yang kedua adalah pengakuan bahwa manusia-manusia yang menempati bumi Indonesia

juga merupakan satu kesatuan yang disebut bangsa Indonesia. Pernyataan yang ketiga tidak
merupakan pengakuan berbahasa satu, tetapi merupakan pernyataan tekad kebahasaan yang

menyatakan bahwa kita, bangsa Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu bahasa

Indonesia (Munirah, 2013: 4).

Pernyataan yang ketiga merupakan pernyataan tekad kebahasaan yang menyatakan

bahwa kita, bangsa Indonesia, menjungjung tinggi bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.

Dengan diikrarkannya Sumpah pemuda, resmilah bahasa Melayu yang sudah dipakai sejak

pertenghan abad VII itu, menjadi bahasaa Indonesia (Halim, 1983: 2-3).

Menurut Arifin (1985:5-6), ada empat faktor yang menjadi penyebab bahasa Melayu

diangkat menjadi bahasa Indonesia, yaitu sebagai berikut:

1. Bahasa melayu sudah merupakanlingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan

bahasa perdagangan
2. Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dipelajari karena dalam bahasa ini tidak

dikenal tingkatan bahasa, seperti dalam bahasa jawa (ngoko, kromo) atau perbedaan

bahasa kasar dan halus, seperti dalam bahasa sunda (kasar, lemes).
3. Suku jawa, suku sunda dan suku-suku yang lain dengan suka rela menerima bahasa

Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.


4. Bahasa Melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan

dalam arti yang luas.

Menurut Munirah (2013,4-7), sejarah perkembangan bahasa Melayu/ Indonesia dapat

dirinci dari tahun ketahun sebagai berikut :

1. Pada tahun 1901 disusun ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch.A. Van Ophuiysen dan

dimuat dalam Kitab Logat Melayu.


2. Pada tahun 1908 pemerintah mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan

yang diberi nama Commissie voor de Volkslectur (Taman Bacaan Rakyat), yang

kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Balai Pustaka menerbitkan

buku-buku novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan dan buku penuntun bercocok
tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran

bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.


3. Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan saat-saat yang paling menentukan dalam

perkembangan bahasa Indonesia karena pada tanggal itulah para pemuda pilihan

memancangkan tonggak yang kokoh untuk perjalanan bahasa Indonesia.


4. Pada tahun 1933 resmi berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan

dirinya Pujangga Biru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Ali Syahbana dan kawan-

kawan.
5. Pada tanggal 25-28 Juni 1938 ilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari

hasil kongres di Solo ini dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan

pengembanga bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan

budayawan kita saat itu.


6. Masa pendudukan Jepang (1942-1945) merupakan pula suatu masa penting. Jepang

memilih bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi resmi antara pemerintah Jepang

dengan rakyat Indonesia karena niat menggunakan bahasa Jepang sebagai pengganti

bahasa Belanda untuk alat komunikasi tidak terlaksana. Bahasa Indonesia juga

dipakai sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan dan untuk

keperluan ilmu pengetahuan.


7. Pada tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang

salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
8. Pada tanggal 19 Maret 1947 dirsmikan penggunaan Ejaan Republik (Ejaan Soewandi)

sebagai pengganti Ejaan Van Ophuysen yang berlaku sebelumnya.


9. Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tanggal 28 Oktober 2 November 1954

adalah juga salah satu perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus menerus

menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa nasional dan

ditetapkan sebagai bahasa negara.


10. Pada taggal 16 Agustus 1972, Presidan Republik Indonesia meresmikan penggunaan

Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan melalui pidato kenegaraan di depan

sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No.57 tahun 1972.
11. Tanggal 31 Agustus 1972, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman

Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum

Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh Indonesia.


12. Kongres Bahasa Indonesia III yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 28

Oktober 2 November 1978 merupakan peristiwa yang penting bagi kehidupan

bahasa Indonesa. Kongres yang diadakan dalam rangka peringatan hari Sumpah

Pemuda yang kelima puluh ini, selain memperlihatkan kemajuan,pertumbuhan, dan

perkembanga bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan

keduduka dan fungsi bahasa Indonesia.


13. Kongres bahasa Indonesia IV diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 21-26

November 1983. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka peringatan hari Sumpah

Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan

pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang

tercantum dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara yang mewajibkan kepada semua

warga Negara Indonesia menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat

tercapai semaksimal mungkin. Selai itu, kongres menugasi Pusat Pembinaan dan

Pengembangan Bahasa untuk memantau hasil-hasil kongres sebelumnya kepada

kongres berikutnya.
14. Kongres Bahasa Indonesia V juga diadaka di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 3

November 1988. Kongres ini merupaka kongres yang terbesar dalam sejarah

perkembangan bahasa Indonesia karena selain dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar

bahasa Indonesia dari seluruh Nusantara, juga kongres ini diikuti oleh peserta tamu

dari Negara sahabat, seperti Mlaysa, Singapura, Brunai Darussalam, Belanda, Jerman,

dan Australia. Kongres ke-5 ini dibuka olehPresiden Soeharto di Istana Negara

Jakarta. Kongres ini ditandai dengan dipersembahkannya karya besar Pusat

Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada seluruh pencinta bahasa di Nusantara,


yakni berupa (1) Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2) Tata Bahasa Buku Bahasa

Indonesia. dan (3) buku-buku bahan penyuluhan bahasa Indonesia.


15. Kongres Bahasa Indonesia VI diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 2

November 1993. Dalam kongres ini diselenggarakan pula pameran buku yang

menyajikan 385 judul buku yang terdiri atas buku-buku yang berkaitan dengan

kongres bahasa Indonesia, Sumpah Pemuda, Bahasa dan Sastra Indonesia, serta

kamus berbagai bidang ilmu, antara lain Kimia, Matematika, Fisika, Biologi,

Kedokteran, dan Manajemen. Selain itu, disajikan pula panel Sumpah Pemuda, foto

kegiatan kebahasaan/ kesastraan, dan peragaan komputer sebagai pengolah data

kebahasaan.
16. Kongres Bahasa Indonesia VII diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 26-30 Oktober

1998. Kongres ini melanjutkan program kegiatan dari kongres VI.


17. Kongres Bahasa Indonesia VIII deiselenggarakan di Jakarta pada tanggal 14 17

Oktober 2003. Kongres ini merupakan kongres yang terbesar dalam sejarah

perkembangan bahasa Indonesia karena selain dihadiri oleh kira-kira seribu pakar

bahasa Indonesiandari seluruh Nusantara, juga kongres ini diikuti oleh peserta tamu

dari hampir seluruh negara. Disamping itu, dalam kongres ini dianugerahkan

penghargaan bagi pejabat yang selalu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik

dan benar.
18. Kongres Bahasa Indonesia IX diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 1

November 2008. Kongres ini merupakan kongres yang terbesar dalam sejarah

perkembangan bahasa Indonesia karena selain dihadiri oleh kira-kira 1.300 pakar

bahasa Indonesia dari seluruh Nusantara, juga kongres ini diikuti oleh peserta tamu

dari hampir seluruh negara. Disamping itu, dalam kongres ini dianugerahkan

penghargaan bagi pejabat yang selalu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik

dan benar.

B. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia


Bahasa Indonesia merupakan bahasa kenegaraan yang kita pakai di negara Indonesia

untuk berkomunikasi dengan orang lain. Sebenarnya Bahasa Indonesia tidak semudah yang

terlihat. Bahasa ini memiliki aturan yang cukup detail dalam pengaturan tata bahasa yang

digunakan. Bahasa Indonesia merupakan bahasa formal yang ditetapkan di Negara kita

(http://fungsibahasaindonesia22bandit33oran.blogspot.com,2013).

1. Kedudukan Bahasa Indonesia

Bahasa indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting, seperti tercantum pada

ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1982 yang berbunyi Kami putra dan putri Indonesia

menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ini berarti bahwa bahasa Indonesia

berkedudukan sebagai bahasa nasional; kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah.

Selain itu, di dalam Undang-Undang Dasar 1945 tercantum pasal khusus (Bab XV, Pasal 36)

mengenai kedudukan bahasa Indonesia yang menyatakan bahwa bahasa negara ialah bahasa

Indonesia. Dengan kata lain, ada dua macam kedudukan bahasa Indonesia. Pertama, bahasa

Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional sesuai dengan Sumpah Pemuda 1928;

kedua, bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa negara sesuai dengan Undang-

Undang Dasar 1945 (Arifin,1985:9).

2. Fungsi Bahasa Indonesia

Menurut Moeliono (1980:15-22), di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional,

bahasa Indonesia berfungsi sebagai :

Lambang kebanggaan kebangsaan

Sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai

sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita. Atas dasar kebanggaan ini, bahasa
Indonesia kita pelihara dan kita kembangkan serta rasa kebanggaan memakainya senantiasa

kita bina.

Lambang identitas nasional

Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia kita junjung di samping bendera

dan lambang negra kita. Di dalam melaksanakan fungsi ini bahasa Indonesia tentulah harus

memiliki identitasnya sendiri pula sehingga ia serasi dengan lambang kebangsaan kita yang

lain. Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya hanya apabila masyarakat pemakainya

membina dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bersih dari unsur-unsur bahasa

lain.

Alat perhubungan antar warga, antar daerah dan antar budaya

Berkat adanya bahasa nasional, kita dapat berhubungan satu dengan yang lain

sedemikian rupa sehingga kesalahpahaman sebagai akibat perbedaan latar belakang sosial

budaya dan bahasa tidak perlu dikhawatirkan. Kita dapat bepergian dari pelosok yag satu ke

pelosok yang lain di tanah air kita dengan hanya memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai

satu-satunya alat komunikasi.

Alat penyatuan berbagai suku bangsa

Alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang

sosial budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia

Di dalam hubungan ini, bahasa Indonesia memungkinkan berbagai suku bangsa itu

mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan

identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa
daerah yyang bersangkuatan. Lebih dari itu, dengan bahasa nasional itu kita dapat meletakkan

kepentingan daerah atau golongan.

Menurut moeliono (1980:22-31), di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara,

bahasa Indonesia berfungsi sebagai:

a. Bahasa resmi kenegaraan

Sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa Indonesia dipakai di dalam segala upacara,

peristiwa dan kegiatan kenegaraan, baik dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk tulisan.

Termasuk ke dalam kegiatan-kegiatan itu adalah penulisan dokumen-dokumen dan putusan-

putusan serta surat-surat yang dikeluarkan oleh pemerintah dan badan-badan kenegaraan

lainnya, serta pidato-pidato kenegaraan.

b. Bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan

Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan mulai

taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi di seluruh Indonesia, kecuali di daerah-

daerah seperti daerah Aceh, Batak, Sunda, Jawa, madura, Bali, dan Makassar yang

menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa pengantar sampai dengan tahun ketiga

pendidikan dasar.

c. Alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan

pelaksanaan pembangunan

Di dalam hubungan dengan fungsi ini, bahasa Indonesia dipakai bukan saja sebagai

alat komunikasi timbal balik antara pemerintah dan masyarakat luas, dan bukan saja sebagai

alat perhubungan antardaerah dan antarsuku, melainkan juga sebagai alat perhubungan di

dalam masyarakat yang sama latar belakang sosial budaya dan bahasanya.
d. Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi

Di dalam hubungan ini, bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat yang

memungkinkan kita membina dan mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa

sehingga ia memiliki ciri-ciri dan identitasnya sendiri, yang membedakannya dari

kebudayaan daerah. Pada waktu yang sama, bahasa Indonesia kita pergunakan sebagai alat

untuk menyatakan nilai-nilai sosial budaya nasional kita.

C. Ragam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dipakai dalam berbagai keperluan tentu

tidak seragam, tetapi akan berbeda-beda disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Keanekaragaman penggunaan bahasa Indonesia itulah yang

dinamakan ragam bahasa(Candrarosdianto.blogspot.com,2013).

1. Ragam Lisan dan Ragam Tulis

Bahasa Indonesia yang amat luas wilayah pemakainnya ini dan bermacam-macam

pula latar belakang penuturnya, mau tidak mau akan melahirkan sejumlah ragan bahasa.

Adanya bermacam-macam ragam bahasa ini sesuai dengan fungsi, kedudukan serta

lingkungan yang berbeda-beda. Ragam bahasa ini pada pokoknya dapat dibagi dalam dua

bagian yaitu ragam lisan dan ragam tulis. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ragam tulis

adalah pengalihan ragam lisan ke dalam ragam tulis (huruf). Pendapat ini tidak dapat

dibenarkan seratus persen sebab tidak semua ragam lisan dapat dituliskan; sebaliknya, tidak

semua ragam tulis dapat dilisankan. Kaidah yang berlaku bagi ragam lisan belum tentu

berlaku bagi ragam tulis (Arifin,1985:15).

Menurut Arifin (1985:15-17), Perbedaan kedua ragam ini adalah sebagai berikut:
Ragam lisan menghendaki adanya orang kedua, teman berbicara yang berada di depan

pembicara, sedangkan ragam tulis tidak mengharuskan adanya teman bicara berada di

depan.
Di dalam ragam lisan unsur-unsur fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat, dan objek

tidak selalu dinyatakan. Unsur-unsur itu kadang-kadang dapat ditinggalkan. Hal ini

disebabkan oleh bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak, mimik, pandangan,

anggukan, atau intonasi.

Contoh:

Orang yang berbelanja di pasar.

Bu, berapa cabenya?

Tiga Puluh.

Bisa Kurang?

dua lima saja, Nak.

Ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap daripada ragam lisan. Fungsi-fungsi

gramatikal harus nyata karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada di depan

pembicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang diajak bicara mengerti

isi tulisan itu. Contoh ragam tulis ialah tulisan-tulisan dalam buku, majallah dan surat kabar.

c. Ragam lisan sangat terikat pada kondisi , situasi, ruang dan waktu . Apa yang

dibicarakan secara lisan di dalam sebuah ruang kuliah, hanya akan berarti dan berlaku

untuk waktu itu saja. Apa yang diperbincangkan dalam suatu ruang diskusi susasstra

belum tentu dapat dimengerti oleh orang yang berada di luar ruang itu. Ragam tulis tidak

terikat oleh situasi, kondisi, ruang dan waktu. Suatu tulisan dalam sebuah buku yang di

tulis oleh seorang penulis di indonesia dapat dipahami oleh orang yang berada di amerika

atau Inggris. Sebuah buku yang ditulis pada tahun 1985 akan dapat dipahami dan dibaca

oleh orang yang hidup pada tahun 2000 dan seterusnya. Hal itu dimungkinkan oleh

kelengkapan unsur-unsur dalam ragam tulis.


d. Ragam lisan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara,

sedangkan ragam tulis dilengkapi dengan tanda baca, huruf besar dan huruf miring.

2. Ragam Baku dan Tidak Baku

Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga

masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa

dalam penggunaannya. Sedangkan, ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan

dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku (Arifin,1985:18).

Menurut Arifin (1985:19-20), ragam baku itu mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

a. Kemantapan dinamis

Mantap artinya sesuai dengan kaidah bahasa. Kalau kata rasa dibubuhi awalan pe-,

akan terbentuk kata perasa. Kata raba dibubhi pe-, akan terbentuk kata peraba. Oleh karena

itu, menurut kemantapan bahasa, kata rajin dibubuhi pe- akan menjadi perajin, bukan

pengrajin. Kalau kita berpegang pada sifat mantap, kata pengrajin tidak dapat kita terima.

Bentuk-bentuk lepas tangan, lepas pantai, dan lepas landas merupakan contoh kemantapan

kaidah bahasa baku.

Dinamis artinya tidak statis, tidak kaku. Bahasa baku tidak menghendaki adanya

bentuk mati . kata langganan mempunyai makna ganda, yaitu orang yang berlangganan dan

toko tempat berlangganan. Dalam hal ini, tokonya disebut langganan dan orang yang

berlangganan itu disebut pelanggan.

b. Cendekia

Ragam baku bersifat cendekia karena ragam baku dipakai pada tempat-tempat resmi.

Pewujud ragam baku ini adalah orang-orang yang terpelajar. Hal ini dimungkinkan oleh

pembinaan dan pengembangan bahasa yang lebih banyak melalui jalur pendidikan formal

(sekolah).
Di samping itu, ragam baku dapat dengan tepat memberikan gambaran apa yang ada

dalam otak pembicara atau penulis. Selanjutnya ragam baku dapat memberikan gambaran

yang jelas dalam otak pendengar atau pembaca. Contoh kalimat yang tidak cendekia adalah

sebagai berikut:

Rumah jutawan yang aneh akan dijual

Frasa rumah sang jutawan yang aneh mengandung konsep ganda, yaitu rumahnya

yang aneh atau sang jutawan yang aneh. Dengan demikian, kalimat itu tidak memberikan

informasi yang jelas. Agar menjadi cendeki kalimat tersebut harus diperbaiki sebagai berikut:

Rumah aneh milik sang jutawan akan dijual

Rumah milik sang jutawan aneh akan dijual

c. Seragam

Ragam baku bersifat seragam. Pada hakikatnya, proses pembakuan bahasa ialah

proses penyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian titik-

titik keseragaman .Pelayan kapal terbang dianjurkan untuk memakai istilah pramugara dan

pramugari. Andaikan ada orang yang mengsulkan bahwa pelayan kapal terbang disebut

steward dan stewardes dan penyerapan itu seragam, kata itu menjadi ragam baku. Akan

tetapi, kata steward dan stewardes sampai dengan saat ini tidak disepakati untuk di pakai.

Yang timbul dalam masyarakat ialah pramugara dan pramugari.


d. Ragam Baku Tulis dan Ragam Baku Lisan

Dalam kehidupan berbahasa, kita sudah mengenal ragam lisan dan ragam tulis, ragam

baku dam ragam tidak baku. Oleh sebab itu, muncul ragam baku tulis dan ragam baku lisan.

Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran dan

buku-buku ilmiah lainnya. Pemerintah sekarang mendahulukan ragam baku tulis secara

nasional. Usaha itu dilakukan dengan menerbitkan dan menertibkan masalah ejaan bahasa

indonesia, yang tercantum dalam buku Pedoman Umm Ejaan Bahasa Indonesia yang

Disempurnakan. Bagaimana dengan masaah ragam baku lisan? Ukuran dan nilai ragam baku

lisan bergantung pada besar atau kecilnya ragam daerah yang terdengar dalam ucapan.

Seseorang dapat dikatakan berbahasa lisan yang baku kalau dalam pembicaraanya tidak

terlalu menonjol pengaruh logat atau dialek daerahnya (Arifin,1985:20).

e. Ragam Sosial dan Ragam Fungsional

Baik ragam lisan maupun ragam tulis bahasa Indonesia ditandai pula oleh adanya

ragam sosial, yaitu ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas

kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat. Ragam

bahasa yamg digunakan dalam keluarga atau persahabatan dua orang yang akrab dapat

merupakan sosial tersendiri. Selain itu, ragam sosial tidak jarang dihubungkan dengan tinggi

atau rendahnya status kemasyarakatan lingkungan sosial yang bersangkutan. Dalam hal ini,

ragam baku nasional dapat pula berfungsi sebagai ragam sosial yang tinggi, sedangkan ragam

baku daerah atau ragam sosial yang lain merupakan ragam sosial dengan nilai

kemasyarakatan yang rendah. Ragam fungsional yang kadang-kadang disebut juga ragam

profesional adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja

atau kegiatan tertentu lainnya. Ragam fungsional juga dikaitkan dengan keresmian keadaan

penggunaannya. Dalam kenyataaanya, ragam fungsional menjelma sebagai bahasa negara


dan bahasa keprofesian, seperti bahasa dalam lingkungan keilmuan/tekhnologi, kedokteran,

dan keagamaan (Arifin,1985:21).

Menurut Candrarosdianto (2013), ragam bahasa berdasarkan penutur terdiri atas:

Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah (logat/dialek)

Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa

Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa

Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing

memilikiciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah

tampak padapelafalan/b/pada posisiawal saat melafalkan namanama kota seperti Bogor,

Bandung, Banyuwangi, dll. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan /t/

seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.

Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur

Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan

berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari

bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak

berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm,

pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa,

misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata

dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.

contoh:

a) Ira mau nulis surat Ira mau menulis surat

b) Saya akan ceritakan tentang Kancil Saya akan menceritakan tentang Kancil.

c. Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur

Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan)

atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan
santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga

mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau

petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan

bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku.

Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat

kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin

rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia sebagaimana disebutkan

dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, pasal 36bahasa Negara adalah bahasa Indonesia.

Sejarah bahasa Indonesia telah tumbuh dan berkembang sekitar abad ke VII dari bahasa

Melayu yang sejak zaman dahulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan. Bukan

hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga di seluruh Asia Tenggara.

Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah

Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, diumumkanlah penggunaan Bahasa Indonesia

sebagai bahasa untuk Negara Indonesia pascakemerdekaan. Secara yuridis, baru tanggal 18

Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya dan ditetapkan dalam

UUD 1945 pasal 36.

Ada beberapa ejaan yang pernah diguankan di Indonesia, antara lain ejaan van

ophuijsen, ejaan republik, dan ejaan yang masih digunakan sampai sekarang yaitu ejaan yang

disempurnakan atau biasa disingkat EYD.

Kedudukan sebagai Bahasa Nasional :

1. Lambang kebanggaan Nasional

2. Lambang Identitas Nasional.

3. Alat pemersatu

4. Alat penghubung antarbudaya

Kedudukan sebagai Bahasa Negara :


1. Bahasa resmi kenegaraan

2. Bahasa pengantar resmi lembaga pendidikan

3. Bahasa resmi di dalam perhubungan dan pembangunan

4. Bahasa resmi kebudayaan dan IPTEK

Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dipakai dalam berbagai keperluan tentu

tidak seragam, tetapi akan berbeda-beda disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Keanekaragaman penggunaan bahasa Indonesia itulah yang dinamakan ragam bahasa.

B. Saran

Bahasa adalah alat komunikasi bagi manusia, baik secara lisan maupun tertulis. Hal

ini merupakan fungsi dasar bahasa yang tidak dihubungkan dengan status dan nilai-nilai

sosial. Setelah dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari yang di dalamnya selalu ada nilai-

nilai dan status bahasa tidak dapat ditinggalkan.

Setelah mengetahui fungsi bahasa Indonesia dalam pembahasan diatas maka kita

harus mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari apalagi dilingkungan yang berbeda

kita harus pandai menyesuaikan diri, agar kita dapat dipandang baik oleh orang lain,

disamping itu sebagai calon seorang guru kita harus lebih tau tentang fungsi bahasa itu untuk

bekal mengajar peserta didik agar kemampuan berbahasa mereka lebih matang dan untuk

menumbuhkansikap positif dalam berbahasa Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zaenal dan Amran Tasai. 1985. Cermat Berbasa Indonesia untuk Perguruan
Tinggi. Jakarta: Akademika Presindo

http://fungsibahasaindonesia22bandit33oran.blogspot.com/2013/01/makalah-fungsi-
bahasa-indonesia.html

Halim, Amran. 1983. Politik Bahasa Nasional 2. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa
http://candrarosdianto.blogspot.com/2013/10/ragam-bahasa-indonesia_7424.html
http://laporannurainisolihat.blogspot.com/2014/08/makalah-bahasa- indonesia fungsi-
dan.html
https://nurulhidayatullahb.wordpress.com/2013/12/15/contoh-makalah-tentang-
sejarah-kedudukan-dan-fungsi-bahasa-indonesia/

Moeliono, Anton M. 1980. Bahasa Indonesia dan Ragam-ragamnya. Jakarta: Bharatara.


Munirah. 2014. Bahan Ajar Bahasa Indonesia. Makassar : Universitas Muhammadiyah
Makassar.