Anda di halaman 1dari 4

KERAJAAN HINDU BUDDHA DI INDONESIA

Kerajaan Kutai (Abad ke-4)

Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu di


Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua. Berdiri sekitar
abad ke-4. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan
Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai
diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat
ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan
tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan
nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang
dapat diperoleh.

Kerajaan Tarumanagara (358-669 M.)


Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah
kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat
pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M.
Taruma merupakan salah satu kerajaan tertua di
Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah.
Dalam catatan sejarah dan peninggalan artefak di
sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu
Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu.
Ibu kota kerajaan Tarumanegara adalah Sundapura. Memakai bahasa Sunda dan
Sansekerta. Agama yang dianut adalah ada yang Hindu, ada yang Budha, ada yang Sunda
Wiwitan. Bentuk pemerintahannya adalah Monarki.

Kerajaan Sriwijaya (Abad ke-6 s/d. Ke-11)


Sriwijaya (atau juga disebut Srivijaya; Thai: atau "r wichy")
adalah salah satu kemaharajaan bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatera
dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan
membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera,
Jawa, dan pesisir Kalimantan. Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti "bercahaya"
atau "gemilang", dan wijaya berarti "kemenangan" atau "kejayaan", maka nama
Sriwijaya bermakna "kemenangan yang gilang-gemilang". Bukti awal mengenai
keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I
Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6
bulan. Selanjutnya prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya juga berada
pada abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682.
Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut
dikarenakan beberapa peperangan di antaranya serangan dari raja
Dharmawangsa Teguh dari Jawa di tahun
990, dan tahun 1025 serangan Rajendra
Chola I dari Koromandel, selanjutnya tahun
1183 kekuasaan Sriwijaya di bawah kendali
kerajaan Dharmasraya.

Kerajaan Sailendra
ailendravama atau wangsa sailendra
adalah nama wangsa atau dinasti raja-raja yang
berkuasa di Sriwijaya, pulau Sumatera; dan
di Mda (Kerajaan Medang), Jawa Tengah sejak
tahun 752. Sebagian besar raja-rajanya adalah
penganut dan pelindung agama Buddha Mahayana. Meskipun peninggalan dan manifestasi
wangsa ini kebanyakan terdapat di dataran Kedu, Jawa Tengah, asal-usul wangsa ini masih
diperdebatkan. Disamping berasal dari Jawa, daerah lain seperti Sumatera atau bahkan India
dan Kamboja, sempat diajukan sebagai asal mula wangsa ini.

Kerajaan Sunda (932-1579)


Kerajaan Sunda adalah kerajaan yang pernah ada antara tahun 932 dan 1579 Masehi
di bagian Barat pulau Jawa (provinsi Banten, Jakarta, dan Jawa Barat sekarang). Di kerajaan
ini agama yang berkembang adalah Hindu, Budha, dan Sunda Wiwitan.

Ibu kota kerajaan Sunda adalah Banten Girang


kemudian pindah ke Pakuan Pajajaran. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Sunda, Jawa dan
Melayu. Agama yang dipeluk adalah Hindu, Budha dan Sunda wiwitan. Bentuk
pemerintahannya adalah Monarki.

Kerajaan Kediri (1042-1222)


Kerajaan Kediri atau Kerajaan Panjalu, adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa
Timur antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar
Kota Kediri sekarang. Agama yang berkembang pada saat itu adalah Hindu dan Buddha.
Sejarah Kediri dibagi pada tahun 1042 dari Kahuripan, kemudian bergabung lagi
dengan Janggala antara tahun 1116-1135. Kemudian runtuh oleh pemberontakan Ken Arok.
Kerajaan Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkanKerajaan
Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang (1135), yaitu Panjalu Jayati,
atau Panjalu Menang.
Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah, Kerajaan Panjalu mengalami masa
kejayaannya. Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau diNusantara, bahkan
sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.

Ibu kotanya di Daha, Dahanapura. Memakai bahasa Jawa


Kuno. Agama yang dipeluk masyarakat adalah Hindu dan Budha. Bentuk pemerintahannya adalah
Monarki.

Kerajaan Indrapura (abad ke-16-18)

Kerajaan Inderapura merupakan sebuah kerajaan yang


berada di wilayah kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat sekarang, berbatasan
dengan Provinsi Bengkulu dan Jambi. Secara resmi kerajaan ini pernah menjadi bawahan
(vazal) Kerajaan Pagaruyung. Walau pada prakteknya kerajaan ini berdiri sendiri serta bebas
mengatur urusan dalam dan luar negerinya. Agama yang berkembang pada masa ini adalah
agama Buddha, kemudian pindah menjadi Islam.

Kerajaan Singhasari (1222-1292)


Kerajaan Singhasari atau sering pula ditulis Singasari atau Singosari, adalah sebuah
kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Lokasi kerajaan ini
sekarang diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang. Agama yang berkembang adalah
agama Siwa-Budha.
Berdasarkan prasasti Kudadu, nama resmi Kerajaan Singhasari yang sesungguhnya
ialah Kerajaan Tumapel. Menurut Nagarakretagama, ketika pertama kali didirikan tahun
1222, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja.
Pada tahun 1222 terjadi perseteruan antara Kertajaya raja Kadiri melawan kaum
brahmana. Para brahmana lalu menggabungkan diri dengan Ken Arok yang mengangkat
dirinya menjadi raja pertama Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Perang
melawan Kadiri meletus di desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel.
Kerajaan Majapahit (1293-1527)
Majapahit adalah sebuah kerajaan di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun
1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya dan menjadi Kemaharajaan
raya yang menguasai wilayah yang luas pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa
dari tahun 1350 hingga 1389.
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai
Nusantara dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia.
Kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga
Indonesia timur, meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan
Ketika itu, Jayakatwang, adipati Kediri, sudah membunuh Kertanagara. Atas saran
Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu
Kertanegara, yang datang menyerahkan diri. Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia
membuka hutan itu dan membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya
diambil dari buah maja, dan rasa "pahit" dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongol tiba,
Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk bertempur melawan Jayakatwang. Raden
Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang
kembali pasukannya secara kalang-kabut karena mereka berada di teritori asing. Saat itu juga
merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar dapat pulang,
atau mereka harus terpaksa menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.

Ibu Kotanya adalah Wilwatikta. Bahasa yang dipakai


adalah Jawa Kuno dan Sansekerta. Agama yang dipeluk masyarakat adalah Siwa-Budha,
Kejawen dan Animisme. Bentuk pemerintahannya adalah Monarki.