Anda di halaman 1dari 14

Kisah Nyata Kejujuran Seorang Gadis

Penjual Susu

Kisah Kejujuran Seorang Gadis Penjual Susu. Menemukan teman atau seorang pekerja yang
jujur di zaman saat ini mungkin terasa sulit, mengingat kondisi bangsa saat ini sedang carut
marut terutama dalam masalah korupsi yang tak kunjung habisnya, tapi sahabat jangan salah
karena sebenarnya juga masih banyak orang orang yang jujur yang teguh dengan
kejujurannya. Nah berbicara tentang kejujuran, yuk kita simak kisah berikut ini semoga dapat
menjadi inspirasi pembaca sekalian.

Kisah Kejujuran Seorang Gadis Penjual Susu

Khalifah Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang malam ia
memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah
Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang
berbisik-bisik.
Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka
bicarakan. Dari balik bilik Kalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak
perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.

Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini, kata anak perempuan itu.

Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.

Benar anakku, kata ibunya.

Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk.
Kita bisa memerah susu sangat banyak, harap anaknya.

Hmmm.., sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke
hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan, kata ibunya.

Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi
susu.

Nak, bisik ibunya seraya mendekat. Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya
penghasilan kita cepat bertambah.

Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah itu begitu
lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu
besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.

Tidak, bu! katanya cepat.

Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air. Ia teringat sanksi
yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.

Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan
berubah kalau tidak melakukan sesuatu, gerutu ibunya kesal.

Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada
pembeli?

Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam begini tak
ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita, kata ibunya tetap
memaksa.

Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!

Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu
dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apa
pun kita menyembunyikannya, tegas anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang.

Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun,jauh di
lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.
Aku tidak mau melakukan ketidakjujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin Allah
tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,kata anak itu.

Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya


menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.

Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.

Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah! gumam khalifah Umar. Khalifah Umar


beranjak meniggalkan gubuk itu. Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.

***

Keesokan paginya, khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Di ceritakannya
tentang gadis jujur penjual susu itu.

Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya, kata khalifah Umar.
Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada
manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat.

Ashim bin Umar menyetujuinya.

***

Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak

perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan ditangkap
karena suatu kesalahan.

Tuan, saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan
jangan tangkap kami., sahut ibu tua ketakutan.

Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak


menyunting anak gadisnya.

Bagaimana mungkin?

Tuan adalah seorang putra khalifah , tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti
anakku? tanya seorang ibu dengan perasaan ragu.

Khalifah adalah orang yang tidak ,membedakan manusia. Sebab, hanya ketawakalanlah
yang meninggikan derajad seseorang disisi Allah, kata Ashim sambil tersenyum.

Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur, kata Khalifah Umar. Anak gadis itu saling
berpandangan dengan ibunya. Bagaimana khalifah tahu? Bukankah selama ini ia belum
pernah mengenal mereka.

Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar
pembicaraan kalian, jelas khalifah Umar.
Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan
dari kekayaan tapi dari kejujurannya.

***

Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya
membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa tahun kemudian mereka
dikaruniai anak dan cucu yang kelak akan menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab,
yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Hikmah dari kisah

Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Akan
tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh
pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara
yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun
muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli,
utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.

Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat
jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah
jujur kepada Allah, jujur dengan sesama dan jujur kepada diri sendiri. Sebagaimana yang
terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Rasulullah bersabda,

Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan,
dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk
selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah
kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa
ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis
di sisi Allah sebagai seorang pendusta.

Rasulullah menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan


mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut,
sebagaimana dijelaskan oleh beliau, Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.
Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan
berbuat bajik kepada sesama.

Sifat jujur merupakan alamat keislaman, timbangan keimanan, dasar agama, dan juga tanda
kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Baginya kedudukan yang tinggi di dunia dan
akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia
dan selamat dari segala keburukan.

Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana disitir dalam hadist yang


diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Rasulullah, beliau bersabda, Penjual dan pembeli
diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta
membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah
dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-
apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus
keberkahannya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan
orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, orang lain berlomba-lomba datang untuk
bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemulian
dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akherat.

Tidaklah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya, memujinya.
Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya
sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan
seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.

Orang yang jujur diberi amanah baik berupa harta, hak-hak dan juga rahasia-rahasia. Kalau
kemudian melakukan kesalahan atau kekeliruan, kejujurannya -dengan izin Allah- akan dapat
menyelamatkannya. Sementara pendusta, sebiji sawipun tidak akan dipercaya. Jikapun
terkadang diharapkan kejujurannya itupun tidak mendatangkan ketenangan dan kepercayaan.
Dengan kejujuran maka sah-lah perjanjian dan tenanglah hati. Barang siapa jujur dalam
berbicara, menjawab, memerintah (kepada yang maruf), melarang (dari yang mungkar),
membaca, berdzikir, memberi, mengambil, maka ia disisi Allah dan sekalian manusia
dikatakan sebagai orang yang jujur, dicintai, dihormati dan dipercaya.

Kesaksiaannya merupakan kebenaran, hukumnya adil, muamalahnya mendatangkan manfaat,


majlisnya memberikan barakah karena jauh dari riya mencari nama. Tidak berharap dengan
perbuatannya melainkan kepada Allah, baik dalam shalatnya, zakatnya, puasanya, hajinya,
diamnya, dan pembicaraannya semuanya hanya untuk Allah semata, tidak menghendaki
dengan kebaikannya tipu daya ataupun khiyanat. Tidak menuntut balasan ataupun rasa terima
kasih kecuali kepada Allah.

Menyampaikan kebenaran walaupun pahit dan tidak mempedulikan celaan para pencela
dalam kejujurannya. Dan tidaklah seseorang bergaul dengannya melainkan merasa aman dan
percaya pada dirinya, terhadap hartanya dan keluarganya. Maka dia adalah penjaga amanah
bagi orang yang masih hidup, pemegang wasiat bagi orang yang sudah meninggal dan
sebagai pemelihara harta simpanan yang akan ditunaikan kepada orang yang berhak.

Seorang yang beriman dan jujur, tidak berdusta dan tidak mengucapkan kecuali kebaikan.
Berapa banyak ayat dan hadist yang menganjurkan untuk jujur dan benar, sebagaimana
firman-firman Allah yang berikut,

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang benar. (QS. at-Taubah: 119)

Apabila kita sekalian mengamalkan sikap jujur dan benar dalam setiap ikhtiar kita, niscaya
tidak akan ada kasus tabung gas meledak setiap hari, yang merenggut banyak nyawa orang-
orang tak berdosa, insya Allah, wallahu alam.
Kisah Nyata Tentang Air Mata Untuk Keadilan

Saya Thoyyibah seorang Ibu dengan 3 orang anak, 2 usia sekolah 1 masih bayi. Saya ingin
bercerita menumpahkan rasa dalam hati saya sebagai seorang istri juga seorang Ibu yang
sudah menjadi korban ketidak adilan di negara hukum Indonesia ini.

Hidup memang penuh dengan ujian, ini


bukan sebuah kesimpulan, namun demikianlah kenyataan yang saya alami. Kini saya harus
berjuang sendiri menghadapi persoalaan hidup semenjak suami tercinta menjalani hari-
harinya di dalam penjara, bukan karena tindakan kriminal yang dia lakukan, tetapi sebuah
dugaan yang sampai detik ini tidak ada bukti-bukti yang meyakinkan kalau dia bersalah.

Sebagai seorang Ibu rumah tangga, tentu kenyataan ini terasa begitu berat, apalagi ketika
kasus suami saya bergulir, anak ketiga kami baru lahir. Dapat dibayangkan, betapa beratnya
beban derita yang harus saya tanggung, di mana kondisi tubuh belum pulih, sementara
pikiran tercurah pada suami. Ya Allah begitu berat cobaan yang engkau berikan, di saat-saat
bahagia dengan kehadiran buah hati tercinta Engkau jauhkan dia dari sentuhan kasih sayang
Ayahnya

Saya tidak menyesal jika semua itu merupakan keadilan dari Tuhan, karena di balik musibah
yang dialami tentu ada hikmah yang dapat mengisi hati. Saya sadar, bahwa pada prinsipnya
semua itu dari Tuhan. Tapi, yang membuat saya tidak terima, pengadilan yang dilakukan oleh
manusia yang tidak mensugesti keadilan Tuhan. Dengan kekuasaan dan jabatannya, mereka
memperlakukan lain sesuai dengan kemauannya, apakah kekuasaan Tuhan sudah berpindah
tangan? Apakah dengan itu manusia dapat memperlakukan manusia lain sekehendak hatinya?
Bukankah manuisa hanya sebagai kholifah (pemimpin) di dunia dan bukan sebagai
PENGUASA yang dapat menghukumi nasib seseorang berdasarkan kehendaknya?
Ini yang membuat hari-hari saya menguras air mata, mengingat nasib kami yang didholimi
oleh penguasa, oleh pengadilan yang semena-mena, oleh oknum yang buta terhadap nilai-
nilai yang ada. Suami saya pun menjadi korban atas dugaan penyelewengan dana hibah
Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) yang digulirkan Gubernur Jawa
Timur pada tahun 2008.

Dalam kasus ini suami saya, Jumanto dianggap bersalah oleh pengadilan dengan bukti-bukti
yang dipaksakan. Saksi-saksi dalam persidangan juga mengakui bahwa pemotongan dana
hibah itu dilakukan oleh Pujiarto di Surabaya, bukan oleh Jumanto, suami saya. Tapi, suami
saya tetap ditahan tanpa sekalipun diperiksa sebagai saksi ataupun tersangka sebelumnya.
Apakah hal ini dibenarkan? Bukankah ini tidak prosedural dan melanggar HAM? Kecuali itu
saksi kunci, Pujiarto tidak pernah dihadirkan dalam persidangan. Untuk itulah kemudian
suami saya mengajukan gugatan pra peradilanpada Kejaksaan Negeri Lumajang di
Pengadilan Negeri Lumajang dengan nomor 02/Pid.Pra/2009, yang dimenangkan suami saya.
Dan, ini menjadi satu-satunya kasus korupsi yang memang pra peradilan di Indonesia.

Kemudian pada tanggal 29 September 2009, Kejaksaan Negeri Lumajang melalui Jaksa
Penuntut Umum kembali melakukan penahanan terhadap suami saya tanpa adanya izin
Gubernur atas nama Mentri Dalam Negeri, padahal waktu itu suami saya telah menjadi
anggota DPRD Kabupaten Probolinggo. Bukankah itu melanggar aturan? Dan lebih hebatnya
lagi, hakim dan jaksa yang menangani kasus suami saya jumlahnya sampai 5 orang, padahal
kasus korupsi Gayus Tambunan saja yang sifatnya Nasional hakimnya Cuma 3 orang, sama
dengan yang menimpa mantan Ketua KPK Antasari Azhar. Begitu hebatnya kasus suami saya
hingga melibatkan 5 orang hakim?

Dan masih banyak lagi cacat serta cela yang tidak masuk akal tentang penahanan yang
dilakukan kepada suami saya. Yang, semuanya nampak sekali adanya rekayasa oleh penguasa
daerah, atau oleh para oknum penentu kebijakan dalam kasus yang dihadapinya. Diantaranya
adalah:

- Berita surat penahanan penahanan suami saya tertanggal 29 September 2009 terdapat 2
lembar : 1). Penahanan atas Jumanto yang beralamat : Jl. Pakuniran Ds. Sogaan Kec.
Pakuniran Kab. Lumajang. 2). Penahanan atas Jumanto yang beralamat : Jl. Pakuniran Ds.
Sogaan Kec. Pakuniran Kab. Probolinggo.

- sejak tanggal 6 Oktober 2009 suami saya menjadi tahanan Majlis Hakim dan dalam surat
penetapannya saya ditahan selama 30 hari, berakhir pada tanggal 4 Nopember 2009. Akan
tetapi lagi-lagi terdapat kelalaian, yaitu Jaksa Penuntut Umum tidak menerbitkan Berita
Acara Pelaksanaan Penahanan. Padahal, suami saya meringkuk dalam tahanan, bagaimana ini
dapat terjadi? Apa suami saya ditahan oleh makhluk HALUS.?

Yang membuat saya semakin heran menghadapi kasus hukum suami saya ini adalah tidak ada
satu lembaga hukumpun yang meringankan hukuman suami saya semua sama. Padahal ketika
kami lihat di TV, baca di koran tuntutan Jaksa dan Putusan Hakim itu tidak sama lebih
Ringan dari tuntutan Jaksa tapi untuk kasus Jumanto itu tidak berlaku dari P.N, PT, MA,
semua sama, banding kami di PT dan kasasi di MA semua MENOLAK tapi dengan alasan
yang tidak jelas. Suami saya juga pernah hampir BEBAS DEMI HUKUM karena masa
penahanan HABIS tapi ketika suami saya akan melangkah PULANG tiba-tiba petugas
mengantarkan surat putusan FAX dari MA yang menyatakan bahwa kasasi suami saya di
TOLAK berarti suami saya tidak jadi BEBAS. Lagi-lagi .hukum ini telah
memperdayakan kami, memperlakukan kami semena-mena. Kenapa? keadilan tidak
berpihak pada kasus suami sayakenapa? ada apa.? kok tebang pilih yach?

Dalam berita di media cetak (Jawa Pos 6/6/09) suami saya dituduh sebagai BROKER /
MAKELAR P2sem. Menurut berita tersebut KASI INTEL Lumajang berkomentar bahwa ada
3 tersangka BROKER P2sem di Lumajang, tapi kenapa..? kok Cuma suami
saya saja yang ditahan, kenapa Pak Jaksa? sedangkan suami saya pada
waktu itu bukan sebagai pejabat yang mempunyai hubungan struktural dengan pemerintah
provinsi bukan juga PNS, bukan penerima dana hibah P2SEM, juga bukan pengelola. Namun
seperti apapun suami saya berbicara dan melakukan pembelaan di depan Hakim dan Jaksa
suamiku tetap mendapat Fonis Penjara 6 tahun dengan denda 300 juta dan pengembalian
uang Negara sebesar 469 juta atau subsider kurungan penjara 1 tahun.

Itu berarti hukuman yang harus dijalani suamiku adalah 7 tahun. Sebuah hukuman yang
sangat.sangat..sangat Berat Sekali, apalagi dengan kehidupan sekarang ini.
Hidup dengan 3 orang anak tanpa penghasilan hanya sebagai seorang Guru R.A.
Wah..BEGITU INDAH HIDUP INI!!!!!!!!!.

Padahal begitu banyak para koruptor dengan pasal yang sama hanya di Fonis Ringan seperti
Sahril Johan, Gayus Tambunan, dan masih banyak yang lain. Ada juga kasus P2sem
Lumajang (P.N yang sama) hanya di Fonis 1 tahun juga, bila dibandingkan dengan Bapak
Pujiarto (sekwan DPRD Provinsi Jawa Timur) yang mempunyai peran di P2sem ini hanya
diganjar 3,6 tahun penjara dengan denda 50 juta subsider 4 bulan. Sedangkan didakwaan dan
tuntutan suami saya dianggap telah membantu Bapak Pujiarto tapi, kok ..malah lebih
Ringan dia daripada suami saya. Ada apa dengan hukum kita ini yach..? mungkinkah
hukum di Negara kita sudah terbalik. Mungkin benar apa yang banyak orang bilang bahwa
hukum Negara kita ini bukanlah milik kami orang-orang kecil dan lemah.

Saya tidak tahu harus berbuat apalagi sedangkan tenaga dan harta sudah habis terkuras demi
mencari keadilan buat suami saya. Saya tahu air mata sebanyak apapun tak akan mampu
mengeluarkan suami saya dari penjara, tapi itulah kenyataannya.saya tidak tahu harus
mengadu ke mana lagi, karena hampir semua lembaga yang berkaitan dengan hukum di
Negara ini telah kami tembusi, namun tidak juga ada tanggapan, mungkinkah masih ada
solusi atau jalan untuk suami saya mendapatkan keadilan. Akhirnya saya coba mengetuk hati
melalui Email ini untuk meminta dukungan anda, teman, sahabat, saudara, ataupun para
penegak hukum, saya butuh dukungan untuk mendapatkan keadilan bagi suami saya, saya
tahu Negara kita ini Negara hukum tapi kenapa keadilan para aparat penegak hukum begitu
sulit kami dapatkanapakah karena suami saya pernah menang Pra Peradilan terhadap
kejaksaan atau apa ada yang MEMESAN supaya suami saya ditahan dengan Fonis paling
Berat atau.atau.atau.apakah karena mereka mempunyai jabatan dan
wewenang hingga bisa dapat mempermainkan dan memperlakukan kami yang Kecil, Lemah
dan Tidak Berdaya.??? lelah rasanya diri ini tapi saya tidak akan pernah menyerah, saya
akan terus berjuan untuk mendapatkan KEADILAN untuk suami saya dan KEBAHAGIAAN
untuk Anak-anak saya.

TERIMA KASIH . . . . . . . . . . . . . . !!!!!!!!!!!!


Keadilan Allah untuk Seorang
Penggembala

Seorang pemuda yang masih belia tampak begitu kelelahan dan kehausan. Maka tatkala tiba
di disuatu oase yang bening airnya dengan tanaman rindang disekelilingnya, Penunggang
Kuda itu menghentikan kudanya dan turun ditempat tersebut. Ia berbaring, lalu meletakkan
sebuah bungkusan disampingnya.

Matahari sangat terik, namun disitu amat teduh, sehingga tanpa sengaja ia tertidur pulas
setelah memuaskan dahaganya dengan meminum air bening di oase tadi.

Ketika ia terjaga, matahari mulai condong. Ia sedang mengejar waktu karena ibunya sakit
keras. Tampaknya ia anak seorang yang kaya raya, terlihat dari pakaiannya yang mewah dan
kudanya yang mahal. Dengan tergesa-gesa ia melompat ke punggung kuda dan
bungkusannya tertinggal karena ia hanya berpikir untuk segera tiba dirumah menunggui
ibunya yang sedang sekarat. Bapaknya sudah meninggal dibunuh orang beberapa tahun yang
lalu.
Tidak lama setelah ia meninggalkan tempat tersebut, seorang penggembala lewat ditempat
tersebut. ia terkesima melihat ada sebuah bungkusan kain tergeletak dibawah pohon.
Diambilnya bungkusan itu, lalu dibawanya pulang kegubuknya yang buruk.

Alangkah gembiranya hati si anak gembala tersebut tatkala melihat bungkusan tersebut
ternyata isinya emas dan perak yang sangat berharga. Ia yatim piatu dan masih kecil sehingga
penemuan itu di anggapnya merupakan hadiah baginya.

Tak berapa lama, seorang kakek yang sudah bungkuk berjalan terseok-seok melalui oase tadi.
Karena kelelahan ia beristirahat di bawah pohon yang rimbun. Belum sempat ia

melepas lelah, anak muda penunggang kuda yang tertidur sebelumnya dibawah pohon tadi
datang hendak mengambil bungkusan yang tertinggal.

Tatkala ia sampai, alangkah terkejutnya pemuda tersebut melihat bahwa dipohon tersebut
tidak lagi menemukan bungkusan kain. Yang nampak hanyalah seorang kakek. Maka

pemuda itu dengan suara keras bertanya kepada si kakek, "Mana bungkusan yang tadi
disini ?"

"Saya tidak tahu," jawab kakek dengan gemetar.

"Jangan bohong !" bentak si Pemuda.

"Sungguh, waktu saya tiba disini, tidak ada apa-apa kecuali kotoran kambing". jawab si
kakek.

"Kurang ajar ! Kamu mau mempermainkan aku ? Pasti engkau yang mengambil
bungkusanku dan menyembunyikan di suatu tempat .. Ayo kembalikan !"

"Bungkusan itu baru kuambil dari kawan ayahku sebagai warisan yang telah dititipkan
ayahku kepadanya untuk diserahkan kepadaku kalau aku sudah dewasa, yaitu sekarang

ini. Kembalikan !" lanjut si Pemuda

"Sumpah tuan, saya tidak tahu," sahut kakek tersebut makin ketakutan.

"Kurang ajar ! Bohong ! Ayo serahkan kembali. Bila tidak ,tahu rasa nanti" hardik Pemuda
tadi.

Karena kakek itu tidak tahu apa-apa, maka ia tetap bersikeras tidak melihat bungkusan
tersebut. Si Pemuda tidak bisa dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Dicabutnya

pedang pendek dari pinggangnya dan akhirnya kakek tadi di bunuhnya. Setelah itu ia mencari
kesana-kemari mencari bungkusan yang ia tinggalkan. Akan tetapi tidak ditemukan. Setelah
itu ia naik ke punggung kuda dan memacunya ke rumahnya dengan perasaan marah dan
kecewa.

Berita ini ditanyakan kepada Nabi Musa oleh salah seorang muridnya. "Wahai Nabiyullah,
bukankah cerita tersebut justru menunjukan ketidak adilan Allah ?"
"Maksudmu ?" tanya Nabi Musa.

"Kakek itu tidak berdosa tetapi menanggung malapetaka yang tidak patut diterimanya.
Sedangkan si anak gembala yang mengantungi harta tadi malah bebas tidak mendapatkan
balasan yang setimpal".

"Menurutmu Tuhan tidak adil ?" ucap Nabi Musa terbelalak.

"Masya Allah. Dengarkan baik-baik latar belakang ceritanya". Kemudian Nabi Musa pun
bercerita.

"Ketahuilah, dahulu ada seorang petani hartawan dirampok semua perhiasan harta benda
miliknya oleh dua orang bandit yang kejam. setelah berhasil merampok, harta itu dibagi dua
oleh perampok tersebut. Dalam pembagian harta rampokan tersebut terjadi kecurangan oleh
salah seorang bandit yang tamak sehingga harta rampokkan tersebut dikuasainya sendiri
setelah membunuh kawannya. Bandit yang tamak itu adalah kakek yang di bunuh oleh
pemuda tadi. Sedangkan bandit yang dibunuh oleh kakek itu adalah ayah dari pemuda yang
membunuh kakek tadi. Disini berarti nyawa di bayar nyawa. Sedangkan petani yang hartawan
itu adalah ayah dari si pemuda gembala tadi yang mengambil bungkusan kain tadi. Itulah
keadilan Tuhan. Harta kekayaan telah kembali kepada yang berhak dan kejahatan dua bandit
tadi telah memperoleh balasan yang setimpal. Meskipun peristiwanya tidak berlangsung tepat
pada masanya".

Refleksi Hikmah :

Marilah kita melihat sejenak ke belakang. Ke masa lalu. Apakah kita pernah melakukan
sebuah kesalahan ? Minta maaf lah. dan carilah ridho dari orang yang pernah kita dzalimi.
Mungkin bukan kita yang akan merasakan dampak buruk kesalahan kita. bisa jadi anak kita
ataupun cucu cucu kita.

Apapun yang sudah kita lakukan entah itu adalah sebuah kebaikan ataupun sebuah
keburukan. Pasti akan ada balasan yang setimpal bagi para pelakunya.k

KISAH NYATA TENTANG KEJUJURAN

Kisah Kejujuran Dua Bocah Penjual Tisu di Pinggir Jalan


Written By maskolis on Sunday, 16 October 2011 | 06:02
Kejujuran sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang langka dan sangat
mahal harganya. Memang ketika kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar,
mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit, tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran
yang kita pegang berbenturan dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap
memegangnya, atau kita biarkan tergilas oleh keadaan. Sebuah kisah kejujuran yang sangat
menyentuh hati, dua orang anak kecil menjajakan tisu di pinggir jalan. Membuat kita mesti
belajar banyak tentang arti sebuah kejujuran.

Siang ini, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk-makhluk kecil,
kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setia Budi, dua
sosok kecil berumur kira-kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik
hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung
jembatan,dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-
lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan, Terima
kasih Oom!

Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum
seraya mengangguk ke arah mereka.

Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa seorang laki laki lain
dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki-laki itu pun menolak
dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima
kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap
teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan
kearah dalam kantong itu, dua pertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah
mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah
memecah mendung yang sedang menggayuti langit Jakarta.

Terima kasih ya mbak semuanya dua ribu lima ratus rupiah! tukas mereka, tak lama si
wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

Maaf, nggak ada kembaliannya ada uang pas nggak mbak? mereka menyodorkan
kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih
kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan? suaranya mengingatkan kepada anak
lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya
menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah. Nggak punya!,
tukas saya.

Lalu tak lama si wanita berkata Ambil saja kembaliannya, dik! sambil berbalik badan dan
meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang
sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti,
lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita
kaget, setengah berteriak ia bilang Sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja!,
namun mereka
berkeras mengembalikan uang tersebut. Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat
sini lagi saya kembalikan !
Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya.
Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan
sepenuhnya milik saya.
Mereka menghampiri saya dan berujar Om, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar
uang ke tukang ojek! Eeh nggak usah nggak usah biar aja nih! saya kasih
uang itu ke si kecil, ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga
yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi
dihentikan oleh anak yang satunya, Nanti dulu Om, biar ditukar dulu sebentar.

Nggak apa apa, itu buat kalian lanjut saya. Jangan jangan oom, itu uang oom sama
mbak yang tadi juga anak itu bersikeras. Sudah saya ikhlas, mbak tadi juga pasti
ikhlas !, saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke
ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat.

Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya. Ini deh om,
kalau kelamaan, maaf ... Ia memberi saya delapan pack tissue. Buat apa?, saya terbengong
Habis teman saya lama sih oom, maaf, tukar pakai tissue aja dulu. Walau dikembalikan ia
tetap menolak.

Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap
kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana,
sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil
tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

Terima kasih Om!..mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup sayup terdengar
percakapan, Duit mbak tadi gimana ..? suara kecil yang lain menyahut, Lu hafal kan
orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin ..

Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribu
perasaan. Tuhan, hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka
menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan
kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha
tak meminta minta dengan berdagang tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum balig, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu
belia.

Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Apa yang bukan milik kita, pantang
untuk kita ambil.