Anda di halaman 1dari 8

SEBERKAS CAHAYA DI KAMPUNG BIRU

CERPEN
Kampung Biru, adalah salah satu kampung terkecil dan terasing
SEBERKAS CAHAYA DI KAMPUNG BIRU di daerah pedalaman Kepulauan Ubud, Desa Waerobo, Provinsi
Nusa Tenggara Timur. Di sebuah perkampungan yang kecil,
berdirilah aku, seorang anak nelayan yang sedang menatap
kearah pantai. Dengan raut wajah kusam dan penuh tanda tanya.
Aku, menatap dengan lurursnya, dan sembari tersenyum tipis.
Sungguh malang keadaan kampungku. Jangankan tersentuh
dengan kemajuan teknologi, anak-anak di kampungku tidak
sama sekali tersentuh dengan namanya dunia pendidikan. Dari
arah belakang, berjalan dengan perlahan dan pelan-pelan
menuju kearahku yang sedang berdiri di tepi bibir pantai, dia
Di Susun Oleh : adalah sahabatku Dewi.

Nama : Nurkasibah Kurniawati Karina, apa yang kamu pikirkan?. Apakah ada sesuatu yang
kamu pikirkan?.
Kelas : XI IPA 1
Aku menoleh ke arah sahabatku, dan kemudian kembali
Tugas : Bahasa Indonesia menatap pinggiran pantai,

Aku berpikir Dewi, andaikan saja jika di kampung kita ada


sebuah sekolah. Dimana, di dalamnya terdapat seorang guru
yang mengajari kita, bagaimana cara membaca dan bagaimana
cara menulis. Sungguh, aku begitu rindu dengan suasana
bersekolah. Apalagi, sudah 2 tahun lamanya aku tidak
SMANEGERI 3 MASOHI merasakan bagaimana indahnya bersekolah itu. Mengenyam
TAHUN AJARAN pendidikan bersama teman-teman. Jika saja, saat ini kita masih
bersekolah, aku yakin pasti kita sudah duduk di kelas 3 SMA
2016/2017 Wi. Namun, apa daya, jalan dari kampung kita ke sekolah yang
ada di kota, sungguh sangat jauh, dan sangat tidak layak pakai.
Aku berpikir, bagaimana keadaan kampung kita dimasa yang

1
akan datang nanti?. Apakah akan terus seperti ini keadaannya?. sangat bahagia. Akhirnya, saya bisa menginjakkan kaki saya di
Aku kembali tertunduk dan membayangkan keadaan Kampung Biru ini. Ya, benar, saya adalah Merita. Saya adalah
kampungku. guru kalian disini. Dan mulai sekarang, hingga sampai nanti,
saya yang akan mengajar untuk kalian sampai kalian bisa
Kamu benar Rin, aku juga rindu suasana indahnya bersekolah menjadi seorang sarjana. Saya janji.
dan mengenyam pendidikan. Namun apa daya, inilah keadaan Menjadi Sarjana?. Betulkah itu bu?, aku bertanya dengan
kita yang sekarang. Sudah 2 tahun, anak-anak di kampung kita nada kegirangan. Kemudian, Ibu Merita mengangguk iya.
tidak tersentuh dengan dunia pendidikan. Aku dan Dewi saling
memandang. Tiba-tiba, dari arah jauh, berlari dengan cekatan Tidak terasa, 3 tahun berlalu.
seorang temanku yang dengan tampak terburu-buru, dengan
napas tersedak-sedak sembari menunjukkan wajahnya yang SMA Kampung Biru. Begitulah orang-orang menyebut
begitu sumringah. Aku menatapnya, dan kemudian bertanya, sekolahku. Sekolah yang sangat jauh dari keramaian dan cukup
Ada apa Din?. keterbelakang. Walaupun hanya ada 10 murid di sekolahku,
namun, tidak akan ada satu pun seseorang yang dapat
Karina, ada sesuatu yang sangat menyenangkan untuk hari ini memutuskan semangatku dan teman-temanku untuk bersekolah
dan untuk selamanya, di kampung kita. dan memiliki mimpi. Benar memang, hidup itu seperti roda
yang dapat berubah. Walaupun, sekolahku sangat jauh dari kota,
Apa itu?. tetapi tuhan telah mengirimkan seorang guru cantik kepadaku
dan teman-temanku di Kampung Biru. Ibu Merita, adalah
Kita kedatangan seorang pahlawan. Kamu tahu, pahlawan itu pahlawan untuk kami. Yang senantiasa membantu kami
pasti adalah jawaban dari doa kita anak-anak di Kampung Biru. bagaimana cara membaca dengan baik, menulis dengan
Aku yakin, dia pasti seseorang yang dikirm oleh tuhan untuk sempurna, berbagi ilmu pengetahuan, mengajarkan kepada kami
kampung kita. Aku dan Dina serta Dewi berjalan ke arah arti hidup dan bersungguh-sungguh di dalam mengejar mimpi.
rumahku. Dan sungguh, ini sangat mengejutkan untukku, Dina Jikalau aku melihat guruku, dia bagaikan malaikat yang
dan Dewi. Dari arah jauh, di dekat pintu rumahku, aku melihat sempurna. Karenanya, lambat laun, SMA Kampung Biru mulai
seorang perempuan separuh baya mengenakan kerudung merah dikenal oleh beberapa SMA yang ada di Kota. Tapi sayang,
marun dan sebuah kacamata berdiri di dekat sisi pintu rumahku, karena dimakan usia, dengan bangunan yang seadanya, tampak
sembari memberikan sebuah senyum. ruangan kelas mengalami kerusakan.

Maaf, apakah ibu adalah seorang guru?, aku mencoba Namun, hal itu, tidak pernah melarutkan semangatku dan
bertanya. Tiba-tiba saja, seorang perempuan tersebut beberapa teman-temanku di SMA Kampung Biru, kami terus
memelukku dan kedua temanku dengan hangatnya. Saya berusaha dan berjuang untuk belajar dan menuntu ilmu. Dan, itu

2 3
semua telah terbukti, ketika aku telah berhasil memenangkan Sedangkan kita tidak punya uang untuk membelinya?. Tanya
Juara 1 Olimpiade Sejarah di tingkat Provinsi membawa nama Dewi kepada Ibu Merita. Sungguh, jelas terlihat, Ibu Merita
SMA ku. Sungguh, ini adalah kebanggan yang luar biasa bagiku sedih dan bingung harus berbuat apa. Hem, kalian semua
dan Ibu Merita, untuk bisa mengharumkan nama sekolahku. tenang aja, kita pasti bisa mempersiapkannya. Dan, masalah
biaya, biar ibu yang memikirkan. Dan besok, kita akan mulai
Ketika sedang bersantai di dalam kelas, tiba-tiba Ibu Merita menghias sekolah kita ini. Kemudian, ibu Merita pergi
menyapaku, Dewi, Dina, dan ketujuh temanku yang mana kami meniggalkan aku dan kesembilan temanku. Bagaimanapun,
sedang asyik bercengkrama membicarakan soal-soal yang akan kita tidak boleh diam, kita harus membantu ibu Merita.
keluar di Ujian Nasional, yang akan berlangsung sebentar lagi. Bukankah kita ingin, sekolah kita juga dikenal oleh sekolah-
sekolah yang ada di kota?. Kita juga inginkan, membuktikan
Anak-anak, apa yang sedang kalian bicarakan?. kepada mereka, jika kita yang ada di Kampung Biru juga sama
Kami sedang membicarakan mengenai soal-soal apa saja yang dengan mereka, aku memberikan semangat kepada kesembilan
kira-kira akan keluar ketika Ujian Nasional bu. teman-temanku. Dengan sepakat, aku dan kesembilan temanku
Wah, ibu sangat bangga dengan kalian. Namun, ada sesuatu pergi ke hutan dan mencari beberapa bambu untuk dijual di
yang ingin ibu sampaikan kepada kalian. Dimana, pasar dekat kampung seberang. Dengan semangat dan
alhamdulillah, teman ibu yang da di kota, mengirimkan surat menggebu-gebu, Aku, Dewi, Dina dan kesembilan temanku,
undangan untuk kita, bahwasannya kita diajak untuk ikut serta memilah-milah bambu mana yang bagus dan memiliki harga
di dalam perlombaan Sekolah Tercantik, dalam memperingati yang mahal dan laku di pasar. Akhirnya, dengan waktu 1 jam,
hari kemerdekaan Indonesia, tepatnya di tanggal 17 Agustus, kami mendapatkan 5 bilah bambu dan kemudian menjualnya ke
hari Minggu besok. pasar di kampung seberang.
Serius bu?. Kalau begitu, berarti kita semua harus menyiapkan
bersama-sama, ide kreatif apa saja yang akan kita pakai di Alhamdulilah ya. Dengan semangat dan kerja keras, akhirnya 5
perlombaan ini. Kataku dengan nada semangat. bilah bambu yang kita tebang dari hutan laku Rp. 20.000. Dan
uang ini, bisa kita pakai untuk membeli cat. Kata Dewi dengan
Bagaimana, jika temanya Merah Putih?. Bukankah itu semangat.
melambangkan Kemerdekaan dan Persatuan?. Jika temanya
Merah Putih, maka itu menggambarkan bahwa kita cinta tanah Tapi, bagaimana dengan benderanya, bukankah bendera itu
air. Ibu Merita memberikan usulan, dan dengan sepakat, kami mahal?. Dina bertanya kepadaku, dan kesembilan temanku.
semua siswa SMA Kampung Biru menyetujuinya. Aku berpikir sejenak, bagaimana cara mendapatkan sebuah
bendera merah puti, Hah, kita tidak perlu bendera. Tetapi, yang
Tapi, bagaiman dengan biayanya bu?. Bukankah, untuk kita butuhkan sekarang adalah sehelai kain putih dan sehelai
mempersiapkan cat, dan bendera kita membutuhkan biaya?. kain merah, apakah di antara teman-teman ada yang punya?,

4 5
tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul di dalam otakku. 4 tahun kemudian
Kemudian, Dewi, Dina, dan ketujuh temanku yang lainnya
saling memandang. Rin, aku punya sehelai kain putih dan Dengan wajah semangat dan bahagia, aku mencium togaku,
sehelai kain merah. Namun, bagaimana menyatukannya?, Febi, sebagai tanda bahwa aku telah menjadi seorang sarjana.
salah satu teman kelasku bertanya kepadaku. Tenang saja, kita Sungguh, tidak pernah aku melupakan jasa-jasa yang sangat
bisa menjahitkan?. Jadi, kedua kain itu akan kita jahit. Semua berharga dari guruku tercinta Ibu Merita, sosok pahlawan yang
setuju dengan usulanku, dan kami mengerjakannya bersama- senantiasa membimbingku hingga aku bisa pergi ke Jakarta dan
sama dengan semangat. mengenyam pendidikan menjadi seorang sarjan Matematika.
Dan, tidak pernah aku melupakan kesembilan teman
Di sore harinya, Ibu Merita dengan wajah tersenyum, namun, seperjuanganku, yang saat ini juga telah menjadi seseorang yang
tampak lesu datang menemui aku dan kesembilan temanku yang sukses, dan menjadi seorang sarjana. Teringat, 3 bulan
sedang duduk sembari menjahit kedua kain yang akan kami menjelang Ujian Nasional, aku dan kesembilan temanku telah
jadikan sebagai bendera Merah Putih. berhasil membawa SMA ku menjadi juara 3 sekolah tercantik di
perlombaan 17 Agustus tingkat Kabupaten. Selain itu, ada satu
Apakah yang sedang kalian kerjakan disini nak?. Ibu Merita cerita yang tidak akan pernah aku lupakan. Dimana ketika Ujian
bertanya kepadaku dan kesembilan temanku. Nasional, aku bersama kesembilan temanku, dengan didampingi
oleh ibu Merita, berjuang bersama-sama menju ke kota untuk
Kami sedang menjahit dua kain ini untuk dijadikan sebagai mengikuti Ujian Nasional tingkat SMA. Awalnya aku sangat
bendera Merah Putih di hari perlombaan 17 Agustus nanti bu, sedih, mengapa aku dan kesembilan temanku, tidak bisa
aku mencoba menjelaskan secara rinci kepada guruku, ibu mengerjakan Ujian Nasional di sekolahku sendiri. Namun, hal
Merita. Sungguh, tiba-tiba Ibu merita terduduk di atas kursi dan ini tidak membuat aku dan kesembilan temanku pupus dan terus
kemudian menangis melihatku dan kesembilan temanku. berjuang hingga akhirnya aku, yang merupakan perwakilan dari
Maafkan ibu, karena ibu tidak bisa membelikan kalian sebuah sekolahku mendapat juara 1 Ujian Nasional terbaik di tingkat
bendera. Bu, dengan ibu sudah mau datang kekampung kami, Provinsi.
dan kemudian memberikan kami ilmu hingga membuat kami
menjadi seseorang yang pintar, mengetahui aneka macam ilmu Keeseokan harinya, dari Jakarta, aku bergerak menuju ke
pengetahuan, pendidikan, kami sangat bahagia. Dan kami sangat kampungku, Kampung Biru. Ada rasa rindu yang tertanam di
sayang dengan ibu. Kami janji, jika suatu hari kami menjadi hatiku terhadap kampung kelahiranku. Sungguh, tidak akan
seorang sarjana, kami akan kembali ke kampung ini, dan akan pernah kulupakan janjiku kepada kampungku, bahwa jika aku
membangun SMA kita, dan kampung kita ini, menjadi lebih kembali ke kampungku, aku akan membangun SMA ku dan
baik lagi dan maju lagi. Aku dan kesembilan temanku, Kampung Biru, menjadi lebih baik lagi, dan maju lagi.
memeluk dan mencium ibu Merita dengan hangat.

6 7
1 Jam di perjalanan
CERPEN
Karina?. Tanpa kuduga, orang-orang kampung telah
menyambutku dengan hangat, begitu juga tampak ibu Merita
menyambutku. Aku memeluk ibu Merita. Saya rindu sekali Lembaran Putih
dengan ibu. Dan lihat bu, sekarang saya telah menjadi sarjana
Matematika, aku kembali memeluk ibu Merita sekali lagi.
Ibu sangat bahagia, kamu dan kesembilan teman kamu
sekarang telah menjadi seorang sarjan dan menjadi seseorang
yang sukses. Selamat nak. Ibu Merita memberi selamat
kepadaku.
Saya juga berterimakasih kepada ibu. Mungkin, tanpa ibu, saya
dan kesembilan teman saya tidak mungkin bisa seperti ini
sekarang.
Di Susun Oleh :
Karina, mungkin ini adalah hari terkahir kita berjumpa.
Dikarenakan, masa kerja ibu telah selesai, dan ibu harus Nama : Halima S. Tuasikal
kembali lagi ke Jakarta. Jadi, ibu ingin kamulah yang
meneruskan perjuangan ibu ya, membangun SMA Kampung Kelas : XI IPA 1
biru dan juga Kampung ini, menjadi kampung yang lebih baik,
terutama di pendidikannya. Tugas : Bahasa Indonesia
Iya bu, saya janji, saya akan berjuang untuk Kampung Biru.
Aku memeluk ibu Merita.

Dan, 10 tahun kemudian, dengan semangat dan kerja kerasku


serta ilmu yang aku miliki selama ini, akhirnya, aku bisa
membangun Kampung Biru dan SMA Kampung Biru menjadi SMANEGERI 3 MASOHI
sebuah kampung dan sekolah yang maju dan terkenal di
Provinsi Nusa Tenggara Timur. TAHUN AJARAN
2016/2017
Tamat

7 1
saat bangunan itu akan runtuh. Saya melihat beberapa dari
Lembaran Putih mereka bermain bola. Tak terasa kini saya mulai mengajar di
kelas yang mirip seperti sebuah gubuk.
Siang ini saya disambut dengan hamparan debu yang menyiksa
penciuman, debu-debu itu seakan membuat saya sesak dengan selamat pagi anak-anak ucapku seraya meletakkan beberapa
aroma yang khas. Iya, kini saya telah sampai di sebuah pulau berkas di meja. Saya memperkenalkan diri dan mulai
terpencil. Tepatnya di selatan Indonesia, dan saya mengambil buku dari loker. Namun saya melihat tulisan disana
mendedikasikan diri menjadi seorang guru di tempat ini. tertera di cetak pada tahun 80an-90an, artinya mereka belum
Langkah demi langkah saya lalui dengan sambutan anak-anak menyentuh KTSP dan K13, buku itu benar-benar rusak, banyak
yang sedang bermain dengan sehelai kain lusuh. Mereka halaman yang hilang dan robek. kalian belajar dengan buku
memandang saya seakan melihat sesuatu yang belum mereka ini? Lalu dimana buku kurikulum 2013 nya? ucapanku
lihat, padahal saya hanya memakai pakaian biasa berselimut membuat suasana hening, salah satu anak laki-laki mengangkat
jaket biru kesayanganku dan sebuah ransel dan koper besar yang tangan kanannya maaf pak, kami hanya mempunyai buku itu.
saya tarik. Kurikulum itu apa pak? Kami belum tau, dan selama kami
sekolah di sini hanya ada satu guru itu pun bukunya juga
akhirnya kamu datang juga? wanita paruh baya itu memakai buku yang dipegang bapak saya merenung, kemudian
mengejutkanku saat saya melewati (sebuah) rumahnya. kamu saya berdiri di tengah kurikulum adalah suatu materi yang
pasti Rafly? ucapnya lagi, namun nadanya seakan mengajakku disusun secara apik. Dan kurikulum ini sama seperti buku
untuk berbicara lebih dalam lagi iya, saya Rafly? apa anda Ibu lainnya hanya saja sistem yang digunakan sedikit berbeda.
Asih? beliau hanya menjawab iya, kemarilah kau pasti sangat Maksudnya materi di dalamnya lebih mendalam kemudian
lelah akhirnya saya menaiki 5 anak tangga yang anak laki-laki itu berkata saya mau mencoba kurikulum,
menghubungkan ke teras. Saat itu saya sangat lelah, dan saya kenapa kami tidak pernah menerima buku baru sementara di
pun beliau adalah guru di pulau ini, iya.. beliau yang kota-kota besar sudah banyak yang menerima saya merasa
memperjuangkan kemerdekaan yang sederhana disini. Hari lemah mendengar perkataan itu, namun saya tetap menjelaskan
mulai larut malam, baterai smartphone saya akan habis tapi materi kurikulum agar mereka dapat merasakan apa itu
tidak ada aliran listrik disini. Saya mengambil sebuah jeruk dan kurikulum. Hari berganti sore, kini aku telah sampai di rumah
mengisi baterai smartphoneku dengan lempengan kawat yang Ibu Asih dan aku membuka klinik kecil disana. Saat waktu
kulilitkan disana, dan cara itu berhasil. magrib ada seorang anak kecil yang mengetuk pintu.

Pagi menjelang, kini langkahku memasuki daerah sekolah. Dan


kulihat ini seperti bukan sekolah, papan tipis yang digunakan
mulai rapuh, atap-atap seakan ingin memakan mangsa dan suatu
anda pasti pak Rafly, guru baru dari kota itu kan? gadis itu tulisan itu terpampang jelas di depanku kamu jaga klinik dulu,
menunjukan sebuah tulisan di genggamannya iya saya Rafly, saya mau mengajar Marcus ia hanya menganggukan kepala
dan kenapa kamu menulis di selembar kertas putih ini? dia dan melukis senyum.
menatap bibirku seakan ia membacanya, kemudian anak kecil
itu menulis lagi saya Qifa, maaf pak saya tuli dan bisu.. tapi pak, saya tidak yakin akan lolos ucapnya (Marcus) pelan ini
saya ingin belajar dengan anda, 2 saya ingin menjadi dokter kesempatan kamu, kamu buktikan kalau3 kamu bisa. Kita di sini
belum 3 hari saya disini, tapi air mata saya sangat lancar ketika bertemu dengan berbagai macam masalah ucapku tapi pak,
melihat hal seperti ini. ayo masuk, saya punya sebuah pudding saya tidak percaya diri terangnya kamu masih muda, kamu
coklat dia duduk di sampingku, dia ingin menggapai pandai di bidang sains. Kesempatan tidak akan datang dua kali
impiannya tapi buku pun tidak ada. Ia memulai curhatnya Marcus hanya diam, kini aku mulai menjelaskan beberapa
betapa ia ingin menjadi dokter dan sekolah. ibu dan ayahku materi untuknya. Hari itu kondisi saya sedikit memburuk uhuk-
tidak pernah menemaniku, hanya ada nenek yang selalu di uhuk.. uhuk pak Rafly kenapa? Apa anda baik-baik saja?
sampingku. Orangtuaku terlalu sibuk sampai mereka tidak tanya Marcus, mungkin paru-paruku kambuh lagi -dalam hati
menemaniku ia membicarakan semua penderitaannya. tidak, saya baik. Belajarnya sampai di sini dulu, besok kita
sambung ya ia menuruti saya, dan segera pulang begitupun
Hari berganti siang, aku menghungi temanku. Aku ingin ia Qifa. Saat ini saya berada di atas tempat tidur dan memikirkan
mengumpulkan buku sebanyak mungkin agar aku dapat sesuatu saya harus yakin kalau Marcus bisa, tapi buku-buku ini
membagikannya pada anak-anak disini. Beberapa hari berganti serasa kurang
minggu. Saat ini setiap hari sabtu sore saya berkeliling dengan
membawa buku dari temanku itu dan menunggangi kuda, 3 bulan setelah itu, Marcus semakin pandai. Ia membuat suatu
terkadang saya terharu melihat saat mereka membaca. 27 tahun rumus baru, berbekal buku sumbangan dari teman-teman saya,
usia saya sekarang, dan saat ini ada sebuah olimpiade Marcus sangat bersemangat untuk semua ini. Namun kondisi
internasional yang diselenggarakan di Beijing. Dan saya saya memburuk, tapi semangat saya untuk memberi tahu
memutuskan untuk memilih Marcus untuk mengikuti tes di semua orang di dunia ini, kalau anak dari daerah terpencil juga
Jakarta, karena ia sangat lihai di bidang sains. Dan saya sangat pandai.
mencoba menghubungi dinas terkait agar ia yakin kepada saya
kalau Marcus bisa maju ke internasional. Setiap sore ia datang Ibu Asih juga demikian, beliau membantu saya dalam banyak
ke rumah saya sedangkan Qifa membantuku untuk merawat hal. Dan beberapa hari yang lalu, saya dan Ibu Asih membuat
pasien yang sedang sakit, saya sudah memberi pengarahan hidroponik sederhana di sekolah. Meski saya sakit, saya tidak
kepadanya bagaimana menyusun obat dan memeriksa setiap akan menyerah.
orang, Qifa benar-benar sangat cerdas dalam hal kesehatan.
Qifa sapaku ada apa pak Rafly? Qifa salah memberi obat?
Singkat cerita, saya dan Marcus di Jakarta. Saat itu, wajah saya nada gembira uhuk uhuk semoga kamu sukses disana, saya
tidak bisa lagi segar dan saya sangat lemas. Dan saya setiap hari dan teman-temanmu yang lain akan mendukungmu suara saya
harus merogoh kocek cukup dalam untuk menghubungi Ibu lemas saat itu bapak sakit? tidak, ingat pesan saya Marcus.
Asih, agar beliau dapat memberi kabar pada orangtua Marcus. 1 Kita tidak bisa membuat gedung pencakar langit, tapi kita bisa
minggu berlalu, kini pengumuman tes telah di bacakan. Dan membuat prestasi yang melebihi ketinggian gedung pencakar
Marcus lolos dalam tes dan peraih nilai terbaik. Olimpiade langit itu saya terus asyik mengobrol dengannya. Sampai saat
mulai 2 bulan lagi, saya meninggalkan Marcus di asrama karena nya, kami melihat Marcus kembali dengan piala dan medali
saya harus kembali mengajar di4sekolah. emas, serta senyumnya yang manis. 5 Sekaligus melihat Qifa
telah menolong sesamanya yang sedang sakit meski ia hanya
Singkat cerita, kini telah kembali mengajar di sekolah dan membaca gerak bibir. Setiap hari saya hanya memakan 3 sendok
semua siswa menanyakan Marcus, itu membuat saya terasa nasi dan sebuah jeruk, serta membagikan apa yang saya punya.
termotivasi untuk memajukan anak-anak ini. Dengan kondisi
saya yang sekarang, saya tetap belajar dan memberi materi, Saat Marcus mulai bersekolah kembali, ia merasa sedih. Saya
berkeliling untuk menjadi pembawa buku, membuka klinik, tidak mengajar di sekolah, karena saya telah meninggalkan
dan membuka ekstrakurikuler lingkungan hidup. Saya tidak mereka karena sakit. Saya menghembuskan nafas terakhir saat
menginginkan bayaran untuk semua ini, saya tidak ingin dipuji saya membaca sebuah ayat. Ketika saya sembahyang Tahajjud
banyak pihak, tapi saya ingin memajukan negeri ini. di rumah Ibu Asih. Namun, kemenangannya membuat teman-
temannya tersenyum dan termotivasi. Akhirnya kini mereka
3 hari sebelum Marcus berangkat ke Beijing, saya sakit dan adalah anak-anak yang pandai, dan mereka sering mengikuti
tidak berdaya. Qifa yang merawat saya sekarang begitu juga Ibu olimpiade tingat provinsi maupun nasional. Saya berhasil
Asih, badan saya sangat panas bahkan untuk berdiri saya mual membuat mereka pandai melalui Marcus dan Qifa yang pandai
bahkan muntah. Namun saya tetap mengajar dengan cara di bidang kesehatan.
mengoreksi tugas dari anak-anak, saya tidak mau karena saya
sakit, mereka tidak bisa memahami materi. Kita tidak bisa membuat gedung pencakar langit, tapi kita bisa
membuat prestasi yang melebihi ketinggian gedung pencakar
halo? Pak Rafly? Saya mengangkat telepon dari Marcus langit itu
halo, bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah siap? tanyaku
saya siap, saya belajar banyak disini. Saya bertemu dengan Sekian & terima kasih!!
guru-guru yang sangat baik seperti Pak Rafly? ujarnya dengan