Anda di halaman 1dari 12

Tugas kimia anorganik fisik

Kimia organologam

Oleh:

Nama : srinita mene

Npm : 03291411028

Smester : vi

Kelas :c

Program study pendidikan kimia

Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas


khairun

ternate

2017

A. Struktur Kimia
Senyawa organologam ialah senyawa yang karbonnya terikat langsung ke
suatu atom logam (seperti raksa, seng, timbal, magnesium atau litium) atau ke
metalloid-metaloid tertentu (seperti silicon, arsen atau selen). Berikut merupakan
sedikit penjelasan dari senyawa-senyawa organologam:
1. Lithium
Salah satu senyawa oragologam yang memiliki unsur lithium adalah metihil
litiuhium (CH3Li)4. Organologamyang mengandung lithium mempunyai rumus
molekul sebagai berikut Rli (LiX)1-6. Bentuk molekul dari Metillithium adalah
tetrahedral dengan Li4 dengan gugus CH3 terletak secara simetris di atas setiap
bidang tetrahedron. Berikut merupakan bentuk molekul dari Metillithium

2. Magnesium
Senyawa yang terbentuk antara karbon dan magnesium dapat membentuk
rumus molekul seperti berikut RMgX. Dengan R merupakan alkil dan X
merupakan halide (F, Br, dan I) contohnya pada pereaksi Grignard. Atom Mg
biasanya terkoordinasi tetrahedral.
Dalam kebanyakan senyawa organik karbon tidak bermuatan . Dalam senyawa
organologam karbon kaya akan elektron dan bermuatan negatif. Hal tersebut
dikarenakan karbon dalam senyawa organologam terikat pada suatu unsur
elektropositif yang berarti karbon tersebut akan berfungsi sebagai basa atau nukleofil
dan karena itu karbon tersebut bermuatan negatif.
CH3CH2-Br + Mg CH3CH2-Mg-Br
Pada umumnya memang karbon lebih elektronegatif dan bermuatan negatif
jika atom itu terikat pada suatu atom logam, suatu ion dengan atom karbon bermuatan
negatif disebut karbanion. Oleh karena itu karbon yang terikat pada sebuah atom
logam mempunyai karakter karbanion.
Senyawa karbonil logam yang terdiri atas logam dan ligan CO biasanya
dipreparasi dengan reaksi langsung serbuk logam yang kereaktifannya tinggi dengan
karbon monoksida, atau dengan reduksi garam logam ke valensi nol diikuti dengan
reaksi dengan karbon monoksida tekanan tinggi. Namun, tetrakarbonilnikel,
ditemukan pertamakali di akhir abad 19, terbentuk dengan reaksi logam nikel dan
karbon monoksida pada suhu kamar dan tekanan atmosfer. Preparasi senyawa
karbonil logam yang lain, di pihak lain memerlukan suhu dan tekanan tinggi.

Senyawa karbonil logam mononuklir memiliki struktur koordinasi polihedral


yang bersimetri tinggi. Kromium, molibdenum, dan tungsten heksakarbonil, M(CO) 6,
mempunyai struktur oktahedral reguler, penta-koordinat pentakarbonilbesi, Fe(CO)5,
berstruktur segitiga bipiramid, dan tetrakarbonilnikel, Ni(CO)4, memiliki koordinasi
tetrahedral reguler (Gambar 6.14). Atom karbon ligan karbonil berkoordinasi dengan
logam, dan lingkungan CO berorientasi searah dengan sumbu logam-karbon. Karbonil
logam binuklir Mn2(CO)10 memiliki ikatan Mn-Mn yang menghubungkan dua
piramida bujur sangkar Mn(CO)5. Dalam Fe2(CO)9, dua sub satuan Fe(CO)3
dijembatani tiga ligan CO, dan dalam Co2(CO)8, dua satuan Co(CO)3 digubungkan
dengan tiga jembatan CO dan sebuah ikatan Co-Co.

Ada sejumlah senyawa karbonil logam dengan ikatan logam-logam yang


menghubungkan tiga atau lebih logam, dan CO terminal, -CO (jembatan di antara
dua logam), dan -CO (jembatan yang menutupi tiga logam) berkoordinasi dengan
kerangka logam (lihat bagian 6.3 (f)). Banyak karbonil kluster yang dibentuk dengan
reaksi senyawa karbonil mononuklir dan karbonil binuklir. Senyawa karbonil logam
khas dan sifatnya diberikan di Tabel 6.4.

B. Tatanama
Senyawa organologam ialah senyawa yang karbonnya terikat langsung ke suatu
atom logam (seperti raksa, seng, timbal, magnesium atau litium) atau ke metalloid-
metaloid tertentu (seperti silicon, arsen atau selen).
CH3CH2CH2CH2Li (CH3)4Si CH3ONa
n-butillitium tertrametisilana (TMS) natrium metoksida
organologam organologam tidak dianggap sebagai organologam

(tak ada ikatan karbon-logam)

Senyawa organologam biasanya dinamakan sebagai logam diganti,alkil logam


atau logam alkil halida. Senyawa oragano magnesium umumnya disebut sebagai
pereaksi grinard. Contoh: CH3Li = Litihium metil CH3MgBr = metil magnesium
bromida.
Cara penamaan organologam yang diterima umum adalah sebagai berikut:
Gunakan nama kumpulan organk R, sebagai awalan kepada nama logam.
Contoh: C2H5Na: etitnatrium
1. Jika terdapat lebih dari satu kumpulan R,tambahkan awalan seperti di-,tri-,atau
bis,tris,bagi kumpulan kompleks dan di cantumkan pada nama di atas.
Contoh: (C2H5)2Mg: dietilmagnesium
2. Jika kumpulan yang terikat pada logam,sebagian tersebut dinamakan dengan
menyebut nama kumpulan tersebut mengikuti susunan abjad.
Contoh: (C6H5)2Sn(CH3)2: difenildimetiltimah
3. Jika kumpulan anion yang lain seperti H,X,OOCR,OR atau NR2 berikatan dengan
logam,nama kumpulan ini yang diakhiri dengan ida diletakkan setelah nama
logam..
Contoh: (C2H5)2SnCl2: dietiltimah diklorida
4. Kita juga boeh menambahkan anion itu sebagai awalan bagi nama sebagian tetapi
awalan yang berakhir dengan O hendaklah di sambungkan kepada kumpulan R
Yanga lain mengikuti susunan abjad seperti hibrido,kloro,nitride,okso,dan
sebagainya..
Contoh:(C2H5)2SnCl2: dietildiklorotimah
5. Senyawa silikon dan beberapa metaloid lainnya diberi nama sebagai turunan
(derivat) dari hidridanya dengan suku kata
Contoh: SiH4 silana
(CH3)2SiH2 dimetilsilana
(C6H5)2Si(CH3)2 difenildimetilsilana

C. Sifat Fisik dan Sifat Kimia


1. Senyawaan ionik dari logam elektropositif
Senyawaan organo dari logam yang sangat elektropositif biasanya ionic, tidak
larut dalam pelarut hidrokarbon, dan sangat reaktif terhadap udara, air, dan sejenisnya.
Kestabilan dan kereaktifan senyawaan ionic ditentukan dalam satu bagian oleh
kestabilan ion karbon. Senyawaan yang mengandung anion tidak stabil (misalnya
CnH2n+1-) umumnya sangat reaktif dan seringkali tidak stabil dan sulit diisolasi. Garam
logam ion-ion karbon yang kestabilannya diperkuat oleh delokalisasi rapatan electron
lebih stabil meskipun tetap sangat reaktif ; contohnya adalah (C6H5)3C-Na+ dan
(C5H5-)2Ca2+.

2. Senyawaan terikat-
Senyawaan organo dimana sisa organiknya terikat pada suatu atom logam
dengan suatu ikatan kovalen normal 2-elektron (sekalipun dalam beberapa kasus
dengan sifat ionic yang dapat diterima) dibentuk oleh kebanyakan logam dengan
keelektropositifan rendah dan tentu saja oleh unsure-unsur nonlogam. Hokum valensi
normal diterapkan dalam kasus-kasus ini, dan terjadi substitusi parsial halide,
hidroksida, dan sebagainya. Dalam kebanyakan senyawaan ini, ikatan terutama adalah
kovalen dan kimiawinya dari kimiawi karbon sehubungan dengan factor-faktor
berikut :
a. Kemungkinan penggunaan orbital d yang lebih tinggi seperti dalam contoh, SiR 4
yang tidak tampak pada CR4.
b. Kemampuan donor alkil atau aril dengan pasangan electron menyendiri seperti
dalam Pet3, SMe2, dan sebagainya.
c. Keasaman Lewis sehubungan dengan kulit valensi yang tidak penuh seperti dalam
ZnR2.
d. Pengaruh perbedaan keelektronegatifan antara ikatan-ikatan M-C atau C-C

Logam transisi dapat membentuk alkil sederhana atau aril, namun hal ini biasanya
kurang stabil daripada senyawaan-senyawaannya dengan unsure-unsur golongan
utama. Terdapat banyak senyawaan dimana terdapat ligan tambahan seperti CO atau
PR3.

3. Senyawaan yang terikat secara nonklasik

Dalam banyak senyawaan organologam terdapat suatu jenis ikatan logam pada
karbon yang tidak dapat dijelaskan dalam bentuk ikatan ionic atau pasangan
elektron. Salah satu kelas alkil terdiri atas Li, Be, dan Al yang mempunyai gugus-
gugus alkil berjembatan. Di sini, terdapat kekurangan elektron seperti dalam bor
hidrida, dan ikatannya mirip jenis yang berpusat banyak. Kelas kedua yang jauh
lebih besar terdiri atas senyawaan logam-logam transisi dengan alkena, alkuna,
benzene, dan system cincin lainnya seperti C 5H5-. Mula-mula akan diperlihatkan
senyawaan organo dari unsure-unsur golongan utama, termasuk yang berikatan
nonklasik, dan kemudian pada senyawaan logam transisi.

4. Organologam biasanya disimpan dalam larutan dalam pelarut organik


karena memiliki reaktivitas yang sangat tinggi (terutama dengan H 2 O, O 2

dll)

5. Carbon-Metal (C-M) dari Organolithium dan organomagnesium (pereaksi


Grignard memiliki ikatan antara atom C dan logam, ikatan tersebut
sangat polar, dan memiliki ikatan kovalen karena logam tersebut
elektropositif.

6. Pereaksi Grignardmerupakan basa kuat karena memilki muatan negatif


pada karbon.
Senyawa Organologam SIFAT FISIK SIFAT KIMIA

Berupa cairan atau


padatan bertitik leleh Lebih reaktif
rendah, dan berupa dibandingkan pereaksi
kristal putih grignard;
(metillithium);
Organolithium Bereaksi cepat dengan
Larut dalam senyawa oksigen, biasanya secara
hidrokarbon dan spontan menyala dalam
cairan nonpolar; udara, dengan cairan air,
Tingkat penguapan dan dengan uap air.
tinggi.

Organonatrium Tidak larut dalam


Sangat reaktif;
senyawa
dan hidrokarbon; Terhidrolisis kuat dalam
Organokalium air.
Mudah menguap.

Reaktif;

Mudah teroksidasi oleh


Organomagnesium Berupa kristal
udara;

Mudah terhidrolisis.
Senyawa Organologam SIFAT FISIK SIFAT KIMIA

Organomerkuri Berupa padatan Zat kovalen


kristal; nonpolar;

Lebih larut dalam Tidak reaktif


cairan organik terhadap udara dan
daripada air; air;

Pada alkil atau aril


cairan nonpolar,
mudah menguap,
beracun, tidak
berwarna, padatan
bertitik leleh rendah;

Organoaluminium Berupa cairan Reaktif;

Tidak menyala
dalam udara dan
tidak meledak
dalam air;

D. Reaksi-reaksi Senyawa Organologam

Reaksi Pembuatan Senyawa Organologam

Terdapat banyak cara untuk membentuk ikatan-ikatan logam antara karbon


dengan logam transisi dan nontransisi. Beberapa yang penting adalah sebagai
berikut:

1. Reaksi logam langsung (Frankland, 1848)

Mg + CH3I CH3MgI

eter

2. Penggunaan zat pengalkilasi


PCl3 + 3C6H5MgCl P(C6H5)3 + 3MgCl2

VOCl3 + 3(CH3)SiCH2MgCl VO(CH2SiMe3)3 + 3MgCl2

PtCl2(Pet
3 )2 +
CH3MgCl

PtCl(CH3)(Pet2)2 + MgCl2

3. Interaksi hidrida logam atau nonlogam dengan alkena atau alkuna

1/2 B2H6 + 3 C=C B-(C=C)3

4. Reaksi oksidasiAdidi

Dimana alkil atau aril halida ditambahkan kepada senyawa logam transisi
terkoordinasi tidak jenuh menghasilkan ikatan logam karbon.

RhCl(PPh3)3 + CH3I RhClI(CH3)(PPh3)2 + PPh3

5. Reaksi Inseri

Reaksi-reaksi senyawa organologam


Bagan 1. reaksi senyawa organologam dengan senyawa karbonil

Bagan2. Reaksi senyawa organologam

1. Substitusi

Reaksi penggantian suatu ugus dengan gugus lain


2. Eliminasi

Reaksi penggantian ikatan, dari ikatan tunggal menjadi rangkap.

3. Oksidasi

4. Adisi

Reaksi
adisi
adalah
reaksi
pengubahan senyawa yang berikatan rangkap (tak jenuh) menjadi senyawa yang
berikatan tunggal (jenuh) dengan cara menambahkan atom dari senyawa lain.
Reaksi adisi hanya dapat terjadi pada senyawa yang memiliki ikatan rangkap.
Atau dengan kata lain reaksi adisi adalah reaksi penambahan suatu atom atau
gugus atom kedalam senyawa.

E. Kegunaan Senyawa Organologam

Kegunaan senyawa organologam diantaranya untuk mensintesis senyawa-


senyawa hidrokarbon seperti alcohol dan asama karboksilat dengan mereaksikan
senyawa aldehid dan keton menggunakan regensia Grignard.

Selain itu, senyawa organologam juga berfungsi sebagai katalis, salah satu
katalis yang paling terkenal adalah katalis Ziegler-Natta.
Katalis Ziegler-Natta ditemukaan poleh Ziegler pada tahun 1953 yang digunakan
untuk polimerisasi etana, yang selanjutnya pada tahun 1955 Natta
menggunakan katalis tersebut untuk polimerisasi propena dan monomer jenuh
lainnya. Katalis Ziegler-Natta dapat dibuat dengan mencampurkan alkil atau aril
dari unsur golongan 11-13 pada susunan berkala, dengan halida sebagai unsur
transisi.
Saat ini katalis Ziegler-Natta digunakan untuk produksi masal polietilen dan
polipropilen. Polietilen dan polipropilen digunakan untuk memproduksi plastik.

Struktur molekul polietilen Rumus kimia polipropilen