Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Apoteker Indonesia merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang
dianugerahi bekal ilmu pengetahuan dan teknologi serta keahlian di bidang
kefarmasian, yang dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemanusiaan,
peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengembangan pribadi warga negara
Republik Indonesia, untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur,
berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
Disiplin Apoteker merupakan tampilan kesanggupan Apoteker untuk
menaati kewajiban dan menghindari larangan sesuai dengan yang ditetapkan
dalam peraturan perundang-undangan dan/atau peraturan praktik yang apabila
tidak ditaati atau dilanggar dapat dijatuhi hukuman disiplin. Adanya Pedoman
disiplin Apoteker bisa bekerja sesuai profesi berdasarkan ketentuan pedoman,
sehingga dapat menghindari dari kesalahan dalam melakukan pekerjaan profesi
Apoteker.
Kode etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan
manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya
melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Etika membantu manusia untuk
mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada
akhirnya membantu untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu
lakukan dan yang perlu pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam
segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi
menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.
Kode etika itu sendiri landasan dalam melaksanakan pekerjaan profesi
agar sesuai norma - norma dalam berprilaku terhadap teman sejawat, teman
sejawat petugas lainnya. Kode etik terkandung kewajiban dan sanksi apabila
melanggar baik disengaja maupun tidak disengaja oleh seorang profesi apoteker.
Seorang Apoteker bersungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan kode etik

1
Apoteker Indonesia dalam menjalankan tugas kefarmasiannya sehari-hari. Tugas
kefarmasian dalam berprilaku terhadap pasien, teman sejawat dan teman sejawat
kesehatan lainnya (dokter, perawat dan lain lain).
Pada tahun 1992 Farmasi Federasi Internasional (FIP) yang dikembangkan
standar untuk pelayanan farmasi di bawah judul "farmasi Baik praktek dalam
pengaturan masyarakat dan farmasi rumah sakit ".suatu teks pada baik praktik
farmasi juga disampaikan kepada Komite WHO Ahli Spesifikasi Sediaan Farmasi
di 1994.Following yang rekomendasi dari Komite Ahli WHO dan dukungan dari
Dewan FIP pada tahun 1997, FIP / WHO dokumen bersama di apotek yang baik
Praktek (GPP) diterbitkan pada tahun 1999 dalam laporan puluh lima WHO
Komite Pakar Spesifikasi Sediaan Farmasi (WHO Technical Report Series,
No.885).
Tujuan keseluruhan meningkatkan standar dan praktek distribusi dan
Penggunaan obat-obatan, menggunakan pedoman FIP / WHO untuk GPP sebagai
kerangka kerja, FIP mengambil inisiatif untuk mengeksplorasi kemungkinan untuk
menyediakan teknis bantuan kepada yang Organizations Anggota di Kamboja,
Moldova, Mongolia, Paraguay, Thailand, Uruguay, dan Viet Nam, dalam
mengembangkan standar nasional untuk GPP dalam studi percontohan dari tahun
2005 sampai 2007.In 2007 "Bangkok deklarasi pada praktik farmasi yang baik
dalam pengaturan farmasi komunitas "di Asia Tenggara Region diadopsi oleh
Farmasi FIP Asia Tenggara Forum dan menetapkan komitmen Asosiasi Anggota
menuju meningkatkan standar pelayanan farmasi dan praktek profesional.

B. Rumusan Masalah

2
1. Bagaimanakah perbandingan pedoman disiplin ilmu dan kode etik IAI dengan
pedoman disiplin dan kode etik Apoteker di negara maju dan di negara
berkembang ?

C. Tujuan Makalah

1. Untuk mengetahui perbandingan pedoman disiplin ilmu dank ode etik IAI
dengan pedoman disiplin dan kode etik Apoteker di negara maju dan di negara
berkembang.

BAB II

3
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Kode Etik Profesi


Kode adalah tanda-tanda atau simbol-simbol yang berupa kata-kata,
tulisanatau benda yang disepakati untuk maksud-maksud tertentu, misalnya
untuk menjamin suatu berita, keputusan atau kesepakatan suatu organisasi. Kode
juga berarti kumpulan peraturan yang sistematis. Kata etik (etika) berasal dari kata
Ethos (bahasa Yunani) yang berartikarakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai
suatu subjek, etika akan berkaitandengan konsep yang dimiliki individu ataupun
sekelompok untuk menilai apakahtindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu
salah atau benar, buruk atau baik.
Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok
untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. Kode
etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan
dalammelaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari. Kode etik profesi
dapatmenjadi penyeimbang segi-segi negatif dari suatu profesi, sehingga kode
etik ibarat kompas yang menunjukan arah moral bagi suatu profesi.
Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai the discpline which
can act as the performance index or reference for our control system. Dengan
demikian, etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan
mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya
yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian
dirupakan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja
dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan
akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang
secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik.
Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan self control,
karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan
kelompok sosial (profesi) itu sendiri. Selanjutnya, karena kelompok profesional

4
merupakan kelompok yang berkeahlian dan berkemahiran yang diperoleh melalui
proses pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam
menerapkan semua keahlian dan kemahirannya yang tinggi itu hanya dapat
dikontrol dan dinilai dari dalam oleh rekan sejawat, sesama profesi sendiri.
Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat built-in mechanism berupa kode
etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta
kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk
penyimpangan maupun penyalah-gunaan kehlian (Wignjosoebroto, 1999). Oleh
karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat memperoleh
kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada
kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan
jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya. Tanpa etika
profesi, apa yang semua dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan
segera jatuh terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa
(okupasi) yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-
ujungnya akan berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas
diberikan kepada para elite profesional ini.
B. Pengertian Profesi
Profesi adalah kelompok terbatas dari orang-orang yang mempunyai
keahlian khusus yang diperoleh dari pendidikan tinggi atau pengalaman yang
khusus dan dengan keahlian itu mereka dapat berfungsi dalam masyarakat untuk
berperilaku atau pelayanan yang lebih baik dibandingkan dengan warga masyarakat lain
pada umumnya. Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal
yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan
keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan
keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi.
Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan
hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek. Kita tidak hanya mengenal
istilah profesi untuk bidang-bidang pekerjaan seperti kedokteran, guru, militer,

5
pengacara, dan semacamnya, tetapi meluas sampai mencakup pula bidang seperti
manajer, wartawan, pelukis, penyanyi, artis, sekretaris dan sebagainya.
C. Peranan Etika Dalam Profesi
Nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan
orang saja, tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang
paling kecil yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa. Dengan nilai-nilai etika
tersebut, suatu kelompok diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan
bersama. Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi
landasan dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya
maupun dengan sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini
sering menjadi pusat perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan tertuang secara
tertulis (yaitu kode etik profesi) dan diharapkan menjadi pegangan para anggotanya.
Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku
sebagian para anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan
yang telah disepakati bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi
kemerosotan etik pada masyarakat profesi tersebut. Sebagai contohnya adalah
pada profesi hukum dikenal adanya mafia peradilan, demikian juga pada profesi
dokter dengan pendirian klinik super spesialis di daerah mewah, sehingga masyarakat
miskin tidak mungkin menjamahnya.
D. Kode Etik Farmasis Indonesia
Bahwasanya seorang apoteker didalam menjalankan tugas kewajibannya
serta didalam mengamalkan keahliannya harus senantiasa mengharapkan
bimbingan dan keridhaan Tuhan Yang Maha Esa. Seorang apoteker didalam
pengabdiannya kepada nusa dan bangsa serta didalam mengamalkan keahliannya
selalu berpegang kepada sumpah/janji apoteker. Menyadari akan hal tersebut,
apoteker didalam pengabdian profesinya berpedoman pada satu ikatan moral,
yaitu: kode etik Apoteker Indonesia.

6
Dalam Kode Etik Apoteker Indonesia antara lain diatur tentang kewajiban
apoteker terhadap masyarakat, teman sejawat dan terhadap sejawat petugas
kesehatan lainnya.
a. Kewajiban apoteker terhadap masyarakat
Seorang apoteker harus berbudi luhur dan memberikan contoh yang baik di
dalam lingkungan kerjanya;
Seorang apoteker dalam rangka pengabdian profesinya harus bersedia
menyumbangkan keahlian dan pengetahuannya;
Seorang apoteker selalu aktif mengikuti perkembangan peraturan perundang-
undangan di bidang kesehatan pada umumnya dan di bidang farmasi pada
khususnya;
Seorang apoteker hendaknya selalu melibatkan diri di dalam pembangunan
nasional, khususnya di bidang kesehatan;
Seorang apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesi
bagi masyarakat dalam rangka pelayanan dan pendidikan kesehatan;
Seorang apoteker hendaknya menjauhkan diri dari usaha-usaha untuk
mencari keuntungan dirinya semata-mata yang bertentangan dengan
martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.
b. Kewajiban Apoteker terhadap teman sejawatnya
Seorang apoteker harus selalu menganggap sejawat lainnya sebagai saudara
kandung yang selalu saling mengingatkan dan saling menasehati untuk
mematuhi ketentuan-ketentuan kode etik;
Seorang apoteker harus menjauhkan diri dari setiap tindakan yang dapat
merugikan teman sejawatnya baik moril maupun materiil;
Seorang apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk
meningkatkan kerjasama yang baik di dalam memelihara keluhuran martabat
jabatan kefarmasian, mempertebal rasa saling mempercayai di dalam
menunaikan tugasnya.

7
c. Kewajiban apoteker terhadap sejawat petugas kesehatan lainnya
Seorang apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk
meningkatkan hubungan profesi, saling mempercayai, menghargai dan
menghormati sejawat yang berkecimpung di bidang kesehatan;

Seorang apoteker hendaknya menjauhkan diri dari tindakan atau perbuatan


yang dapat mengakibatkan berkurangnya/.hilangnya kepercayaan
masyarakat kepada sejawat petugas kesehatan lainnya.
E. Fungsi Kode Etik
Kede etik berfungsi untuk memberikan arahan bagi suatu pekerjaan
profesi dan menjamin mutu moralitas profesi di mata masyarakat.
Adapun fungsi dari kode etik profesi adalah:
- Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip
profesionalitas yang digariskan.
- Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan3.
Mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang hubungan
etika dalam keanggotaan profesi. Etika profesi sangatlah dibutuhkan dlam
berbagai bidang.
F. Praktik Pelaksanaan Kode Etik
1. Kewajiban Umum . Sumpah apoteker
b. Kode etik
c. Menjalankan sesuai standar kompetensi.
d. Aktif mengikuti perkembangan dibidang kesehatan dan farmasi.
2. Di dalam melaksanakan praktik, apoteker menjauhkan diri dari usaha mencari
keuntungan semata bertentangan dengan martabat dan tradisi luhur
kefarmasian.
3. Apoteker harus berbudi luhur dan menjadi contoh baik bagi orang lain.
4. Tidak ada praktik kefarmasian dengan prinsip ekonomi (melalui usaha sekecil-
kecilnya namun mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya). Tetapi yang
terpenting patient safety dengan terapi yang rasionala dengan harga terjangkau.
5. Apoteker menjadi sumber informasi.

8
G. Sanksi Pelanggaran Kode Etik:
a. Sanksi moral.
b. Sanksi dikeluarkan dari organisasi.
Kasus-kasus pelanggaran kode etik akan ditindak dan dinilai oleh suatu
dewan kehormatan atau komisi yang dibentuk khusus untuk itu. Karena tujuannya adalah
mencegah terjadinya perilaku yang tidak etis, seringkali kode etik juga berisikan
ketentuan-ketentuan profesional, seperti kewajiban melapor jika ketahuan teman
sejawat melanggar kode etik. Ketentuan itu merupakan akibat logis dari self
regulation yang terwujud dalam kode etik; seperti kode ituberasal dari niat profesi
mengatur dirinya sendiri, demikian juga diharapkan kesediaan profesi untuk
menjalankan kontrol terhadap pelanggar. Namun demikian, dalam praktek sehari-
hari control ini tidak berjalan dengan mulus karena rasa solidaritas tertanam kuat
dalam anggota-anggota profesi, seorang profesional mudah merasa segan melaporkan
teman sejawat yang melakukan pelanggaran. Tetapi dengan perilaku semacam itu
solidaritas antar kolega ditempatkan di atas kode etik profesi dan dengan demikian
maka kode etik profesi itu tidak tercapai, karena tujuan yang sebenarnya adalah
menempatkan etika profesi di atas pertimbangan-pertimbangan lain. Lebih lanjut
masing-masing pelaksana profesi harus memahami betul tujuan kode etik profesi
baru kemudian dapat melaksanakannya.
Kode Etik Profesi merupakan bagian dari etika profesi. Kode etik profesi
merupakan lanjutan dari norma-norma yang lebih umum yang telah dibahas dan
dirumuskan dalam etika profesi. Kode etik ini lebih memperjelas, mempertegas
dan merinci norma-norma ke bentuk yang lebih sempurna walaupun sebenarnya
norma-norma tersebut sudah tersirat dalam etika profesi. Dengan demikian kode
etik profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan tegas
serta terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar dan apa yang
salah dan perbuatan apa yang dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang
profesional.
Kode etik yang ada dalam masyarakat Indonesia cukup banyak dan
bervariasi. Umumnya pemilik kode etik adalah organisasi kemasyarakatan yang

9
bersifat nasional, misalnya Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), kode etik Ikatan Penasehat
HUKUM Indonesia, Kode Etik Jurnalistik Indonesia, Kode Etik Advokasi
Indonesia dan lain-lain. Ada sekitar tiga puluh organisasi kemasyarakatan yang
telah memiliki kode etik.
Suatu gejala baru adalah bahwa sekarang ini perusahaan-perusahan swasta
cenderung membuat kode etik sendiri. Rasanya dengan itu mereka ingin
memamerkan mutu etisnya dan sekaligus meningkatkan kredibilitasnya dan karena
itu pada prinsipnya patut dinilai positif.

BAB III
PEMBAHASAN

Disiplin apoteker merupakan tampilan kesanggupan apoteker


untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan sesuai dengan
yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan dan/atau
peraturan praktik yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dapat
dijatuhi hukuman disiplin, dimana dalam pelaksanaan pelayanan
apoteker harus mengikuti serta menegakkan aturan-aturan yang
tercatat dalam pedoman disiplin apoteker.
Apoteker harus memberikan pelayanan yang profesional serta informasi

10
pelayanan yang akurat dan terkini untuk memenuhi syarat dari kode etik maupun
disiplin ikatan apoteker dalam ruang lingkup prakteknya. Apoteker juga harus
mempertahankan standar tertinggi profesional dalam layanan profesional kepada
masyarakat. Apoteker juga harus mematuhi pedoman disiplin dan kode etik, standar
dan kebijakan profesi baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Apoteker tidak
membenarkan pelanggaran dari peraturan hukum, standar atau kebijakan oleh rekan
kerja atau pemilik apotek dan melaporkan tanpa rasa takut terhadap pelanggaran
tersebut.
Etika kefarmasian juga sangat berhubungan dengan hukum.
Hampir di semua negara ada hukum yang secara khusus mengatur
bagaimana apoteker harus bertindak berhubungan dengan masalah
etika dalam perawatan pasien dan penelitian. Badan yang
mengatur dan memberikan ijin praktek apoteker di setiap negara
bisa dan memang menghukum apoteker yang melanggar etika.
Sumpah dan kode etik beragam di setiap negara bahkan
dalam satu negara, namun ada persamaan, termasuk janji bahwa
apoteker akan mempertimbangkan kepentingan pasien diatas
kepentingannya sendiri, tidak akan melakukan deskriminasi
terhadap pasien karena ras, agama, atau hak asasi menusia yang
lain, akan menjaga kerahasiaan informasi pasien, dan akan
memberikan pertolongan darurat terhadap siapapun yang
membutuhkan.
Apoteker di negara kita cukup yakin bahwa mereka tidak akan
ditekan oleh pemerintah untuk melakukan sesuatu yang tidak etis,
namun di negara berkembang lain mungkin akan sulit bagi mereka
memenuhi kewajiban etis, seperti menjaga kerahasiaan pasien jika
berhadapan dengan polisi atau angkatan bersenjata untuk
melaporkan adanya jejak atau luka yang mencurigakan pada

11
pasien.
Adapun pedoman disiplin dan kode etik di negara maju, salah satunya negara
Amerika Serikat yang mempunyai 5 (lima) komponen untuk misi ini yang tersedia
untuk pasien dengan atau tanpa janji;
Mengidentifikasi dan mengelola atau mendahulukan masalah yang berhubungan
dengan kesehatan;
Promosi kesehatan;
Menjamin efektivitas obat-obatan;
Mencegah bahaya dari obat-obatan; dan
Memanfaatkan bertanggung jawab sumber daya yang terbatas perawatan
kesehatan.
Dalam melayanai masyarakat, apoteker harus diakui sebagai peduli kesehatan
profesional yang pasien dapat berkonsultasi untuk masalah yang berhubungan dengan
kesehatan. Karena produk dan layanan-layanan kesehatan yang tersedia dari apoteker,
beberapa masalah dapat dikelola pada saat ini menjaga. Masalah yang membutuhkan
tambahan diagnostik keterampilan atau perawatan tidak tersedia dari apoteker dapat
disebut yang sesuai profesional kesehatan atau situs perawatan, seperti rumah sakit.
Hal ini harus dilakukan di baik kolaborasi antara penyedia layanan kesehatan.
Untuk meningkatkan penggunaan obat-obatan, apoteker memiliki tanggung
jawab untuk banyak aspek dari proses obat-obatan menggunakan masing-masing
yang penting untuk mencapai hasil yang baik dari pengobatan. Ini dimulai dengan
integritas dan rantai pasokan obat-obatan, termasuk mendeteksi palsu / palsu
berlabel / dipalsukan palsu obat-obatan, memastikan penyimpanan yang tepat dari
obat-obatan dan persiapan mutu obat bila diperlukan. Termasuk menjamin resep yang
tepat dari obat-obatan sehingga rejimen dosis dan bentuk sediaan yang sesuai;
petunjuk penggunaan yang jelas; Obat-obat dan interaksi obat-makanan dicegah;
diketahui dan diprediksi obat yang merugikan reaksi, termasuk alergi dan
kontraindikasi lainnya, dihindari; yang tidak perlu perawatan diminimalkan dan
biaya obat-obatan dianggap.

12
Pengertian Praktek Apoteker yang baik
Praktek Apoteker yang baik (good pharmacy practice) adalah praktek farmasi
yang merespon kebutuhan orang-orang yang menggunakan layanan apoteker 'untuk
memberikan yang optimal, perawatan berbasis bukti. Untuk mendukung praktek ini
adalah penting bahwa ada kerangka nasional yang didirikan standar kualitas dan
pedoman.
d. GPP (good pharmacy practice) mengharuskan perhatian pertama apoteker di
semua pengaturan adalah kesejahteraan pasien.
e. GPP (good pharmacy practice) mensyaratkan bahwa inti dari kegiatan farmasi
adalah untuk membantu pasien membuat yang terbaik menggunakan obat-obatan.
fungsi dasar meliputi persediaan obat dan lainnya produk perawatan kesehatan
yang terjamin kualitasnya, penyediaan informasi yang tepat dan saran kepada
pasien, pemberian obat, jika diperlukan, dan pemantauan efek penggunaan obat.
f. GPP (good pharmacy practice) mensyaratkan bahwa bagian integral dari
kontribusi apoteker adalah promosi dari resep rasional dan ekonomi, serta
pengeluaran.
g. GPP (good pharmacy practice) mensyaratkan bahwa tujuan dari setiap elemen
layanan farmasi relevan dengan pasien, jelas didefinisikan dan secara efektif
dikomunikasikan kepada semua pihak yang terlibat. kolaborasi multidisiplin
kalangan profesional perawatan kesehatan adalah faktor kunci untuk berhasil
meningkatkan keselamatan pasien
Dalam memenuhi persyaratan tersebut, kondisi berikut ini diperlukan:
- Kesejahteraan pasien harus filosofi utama yang mendasari praktik, bahkan
meskipun diterima bahwa faktor etika dan ekonomi juga penting;
- Apoteker harus memiliki masukan ke keputusan tentang penggunaan obat-
obatan. Sebuah sistem harus ada yang memungkinkan apoteker untuk
melaporkan dan untuk mendapatkan umpan balik tentang efek samping,
masalah terkait obat-, kesalahan pengobatan, penyalahgunaan atau obat
penyalahgunaan, cacat pada kualitas produk atau deteksi produk palsu.
pelaporan ini dapat mencakup informasi tentang penggunaan obat yang

13
diberikan oleh pasien atau kesehatan profesional, baik secara langsung atau
melalui apoteker;
- Hubungan dengan profesional kesehatan lainnya, khususnya dokter, harus
didirikan sebagai kemitraan kolaboratif terapi yang melibatkan saling percaya
dan kepercayaan dalam semua hal yang berkaitan dengan farmakoterapi;
- Hubungan antara apoteker harus menjadi salah satu rekan yang ingin
meningkatkan pelayanan farmasi, bukan sebagai pesaing;
- Dalam kenyataannya, organisasi, praktik kelompok dan manajer farmasi harus
menerima share dari tanggung jawab atas definisi, evaluasi dan peningkatan
kualitas;
- Apoteker harus menyadari penting medis dan farmasi informasi (diagnosis
yaitu, hasil tes laboratorium dan riwayat medis) tentang setiap sabar.
Memperoleh informasi tersebut menjadi lebih mudah jika pasien memilih
untuk hanya menggunakan satu farmasi atau jika profil pasien obat tersedia;
- Apoteker kebutuhan berbasis bukti, berisi, komprehensif, objektif dan
informasi terkini tentang terapi, obat-obatan dan produk perawatan kesehatan
lainnya di menggunakan, termasuk potensi bahaya lingkungan yang
disebabkan oleh pembuangan limbah obat;
- Apoteker di setiap pengaturan praktek harus menerima tanggung jawab
pribadi untuk memelihara dan menilai kompetensi mereka sendiri sepanjang
profesional mereka masa kerja. Sementara pemantauan diri adalah penting,
unsur penilaian dan pemantauan oleh farmasi nasional organisasi profesi juga
akan relevan dalam memastikan bahwa apoteker mempertahankan standar dan
mematuhi persyaratan untuk pengembangan profesional berkelanjutan;
- Program pendidikan untuk masuk ke profesi harus tepat alamat perubahan
baik saat ini dan yang akan datang dalam praktik farmasi; dan
- Standar nasional GPP harus ditentukan dan harus dipatuhi oleh praktisi

14
BAB IV
KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Dari hasil pembahasan dapat ditarik kesimpulan yakni pedoman disiplin


Apoteker di Indonesia maupun di Negara maju pada umumnya sama dimana
mengatur tentang kesanggupan apoteker untuk menaati kewajiban dan
menghindari larangan sesuai dengan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-
undangan dan/atau peraturan praktik yang apabila tidak ditaati atau dilanggar
dapat dijatuhi hukuman disiplin. Sedangkan pedoman Kode Etik Apoteker

15
mengatur tentang pembinaan terhadap anggota serta pedoman anggota dalam
melaksanakan pengabdian profesinya sebagai Apoteker.

Indonesia, Malaysia, India merupakan beberapa Negara berkembang yang


ada di dunia yang di Negara tersebut memiliki tenaga kesehatan salah satunya
adalah Apoteker. Dimana dalam pelayanan kefarmasiannya harus berdasarkan
pedoman disiplin serta kode etik Apoteker di negaranya.

B. Saran

Disarankan kepada para pembaca makalah (calon Apoteker) agar tidak


hanya membaca tapi juga harus memahami agar dapat menerapkannya dalam
pelayanan kefarmasiannya dalam masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

IAI. 2009. Kode Etik Apoteker Indonesia dan Implementasi Jabaran Kode Etik.
Jakarta.

IAI. 2014. Pedoman Disiplin Apoteker Indonesia. Jakarta.

WHO. 2011. Joint FIP/WHO Guidelines On Good Pharmacy Practice: Standards


For Quality of Pharmacy Services. WHO Techincal Report Series, No. 961, 2011

16
Anonym. Makalah Etika Profesi Dan Ilmu Komunikasi Kelompok 8.
https://id.scribd.com/doc/138643667/Makalah-Etika-Profesi-Dan-Ilmu-
Komunikasi-Kelompok-8

Anonym. Penerapan Kode Etik Dan Disiplin Apoteker Dalam Praktek.


http://id.scribe.com/files.iaisulut.com/penerapan-kode-etik-dan-displin-
apoteker-dalam-praktek

Kurniawan, Hadi. 2012. Kumpulan Materi Etika Kefarmasian, Kasus dan Kode Etik
Serta Implementasinya. Yogyakarta: Program Studi Profesi Apoteker, Universitas
Islam Indonesia.

Putri, Pramita., et al. 2014. Kode Etik Farmasis. Palu. Program Studi Farmasi Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam: Universitas Tadulako.

Muhgini, Agus Imam. 2010. Kode Etik Farmasi Malaysia. Jakarta:


https://id.scribd.com/doc/78606377/Kode-Etik-Farmasi-Malaysia

17