Anda di halaman 1dari 2

BAB VI

PEMECAHAN MASALAH

Dari pembahasan hasil survey dan pengamatan langsung pada studi kasus
Pendataan Jamban Dan Perilaku Buang Air Besar di Desa Suwawal, Kecamatan
Mlonggo, Kabupaten Jepara tanggal 2 Januari 2017 5 Januari 2017, didapatkan
masalah berupa:
1 4 KK responden (1%) masyarakat Desa Suwawal Kecamatan Mlonggo
Kabupaten Jepara masih BABS
2 Sebanyak 61 KK responden (11,1%) belum memiliki jamban keluarga.

Analisis Penyebab Masalah


Dari hasil wawancara dan pengamatan langsung dapat ditarik kesimpulan
bahwa penyebab masalah-masalah tersebut diatas antara lain karena :
1. 4 KK responden (1%) masyarakat Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo,
Kabupaten Jepara masih BABS
- Berdasarkan wawancara langsung dengan responden, 50% responden
yang masih memiliki kebiasaan BABS mengaku bahwa mereka sudah
terbiasa dan merasa nyaman BAB di sungai sehingga apabila mereka
BAB di jamban tidak lancar.
2. Sebanyak 61 KK responden (11,1%) belum memiliki jamban keluarga.
- Berdasarkan wawancara langsung dengan responden, 90,16%
responden yang belum memiliki jamban keluarga mengaku bahwa
mereka memiliki keterbatasan dana dan kebutuhan lain yang harus
dipenuhi sehingga tidak berinisiatif untuk membangun jamban
keluarga dan memilih untuk menumpang jamban orang lain.

Pemecahan Masalah
35
36

Berdasarkan permasalahan yang ada dan dengan mempertimbangkan


faktor tenaga, dana, dan sarana yang tersedia, maka diajukan pemecahan masalah
yaitu:
1. Melakukan transect walk bersama masyarakat di Sungai Desa Suwawal.
Transect walk dilakukan dengan berjalan menyusuri sungai bersama
masayarakat dan menjelaskan mengenai proses air sungai yang
terkontaminasi tinja dan air sungai tersebut digunakan untuk mencuci
maupun mandi sehingga dapat memicu perasaan malu dan jijik
masyarakat. Menjelaskan juga proses penyebaran penyakit yang dapat
ditularkan melalui tinja dan air sungai yang terkontaminasi serta
menerangkan mengenai berapa jumlah tinja yang dibuang tiap hari dan
tiap bulannya. Maka dari itu, masyarakat dapat mengubah kebiasaan
BABS. Kemudian mengadakan diskusi forum masyarakat yang masih
BAB sembarangan dengan masyarakat sekitar rumahnya untuk
mengetahui tentang kesediaan masyarakat sekitar mempersilahkan
jambannya untuk digunakan agar tidak BAB sembarangan lagi. Selain itu
masyarakat yang belum memiliki jamban dapat mengunjungi dan bertukar
pikiran dengan masyarakat yang sudah memiliki jamban. Sehingga
diharapkan masyarakat yang belum memiliki jamban dapat termotivasi
untuk membangun jamban keluarga. Serta pembagian brosur serta
penjelasan mengenai jamban aman dan sehat sehingga masyarakat
mengetahui tentang pentingnya jamban aman dan sehat.
2. Pemberdayaan Kader kesehatan untuk berperan aktif dengan cara
pendekatan kepada masyarakat agar tidak lagi BAB sembarangan.
Pengecekan secara berkala dapat dilakukan kader untuk memastikan
masyarakat tidak BAB sembarangan kembali.