Anda di halaman 1dari 4

UJIAN AKHIR SEMESTER II

MATA KULIAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN 84

DEMOKRASI DALAM PELAYANAN KESEHATAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan 84

Dosen Pembimbing: Drs. Arief Rijadi, M.Si., M. Pd.

oleh
Sholihatus Shofiah
NIM 162310101287

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2017
Demokrasi Dalam Pelayanan Kesehatan

Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia.


Karena hal itu, semua manusia berusaha untuk sehat. Kondisi tubuh yang sehat
merupakan harapan dan keinginan bagi setiap manusia. Bahkan bagi suatu bangsa,
kesehatan rakyatnya adalah hal yang diutamakan dalam mencapai cita-cita bangsa
tersebut. karena hal tersebut, peningkatan derajat kesehatan harus terus-menerus
diupayakan untuk memenuhi hidup sehat. Pelayanan kesehatan dapat dilakukan
pada 5 upaya, yaitu: (1) upaya promotif; (2) upaya preventif; (3) upaya kuratif; (4)
upaya dissability limitation; dan (5) upaya rehabilitatif. Namun, dalam perjalanan
sejarah pembangunan kesehatan di indonesia, banyak sekali kendala yang
dirasakan seperti adanya keterbatasan ekonomi, rendahnya pendidikan, jauhnya
dari sarana pelayanan kesehatan. Menurut Masykuri Abdillah (1999), mengatakan
bahwa dalam menambah kualitas pelayanan kesehatan yang optimal, maka perlu
dilakukanlah gerakan perubahan dengan melakukan demokratisasi. Meski
demokratisasi lebih terkenal di perdamaian dalam perselisihan yang tujuannya
untuk menjamin terlaksananya perubahan yang alami secara signifikan dalam
suatu masyarakat.
Sejak runtuhnya orde baru tahun 1998, sudah diperoleh kesimpulan bahwa
terdapat perubahan yang lebih baik terutama dalam rangka upaya pemerataan dan
keadilan bagi seluruh rakyat, meningkatkan supremasi hukum dan transparansi
serta memberantas korupsi yang banyak menyengsarakan rakyat. Dalam hal
pelayanan kesehatan demokratisasi ditujukan untuk meletakkan dasar-dasar
perikemanusiaan, adil dan merata, pemberdayaan kemandirian masyarakat, dan
pengutaman manfaat. Dalam hal inilah kajian demokratisasi pelayanan kesehatan
jelas sangat sekali diperlukan oleh masyarakat dalam mencipta pelayanan
kesehatan yang baik. Regulasi pelayanan kesehatan sebenarnnya sudah sangat
jelas melakukan pemihakan pada hak asasi manusia. Namun dalam prakteknya
belum konsisten. Praktek kesewenang-wenangan tenaga kesehatan dan rumah
sakit banyak menempatkan kaum marginal sebagai pengguna fasilitas pelayanan
kesehatan yang menjadi korban (Sukron Kamil, 2002).
Menurut Rahmanur, dkk (2012) mengatakan bahwa pada konteks
demokratisasi dalam pelayanan kesehatan sesungguhnya diharapkan adanya saling
mengisi atau sinergisitas antara pihak pemerintah, swasta dan masyarakat dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Dengan adanya kondisi sinergistas ini
maka tidaklah terjadi kecenderungan adanya pihak-pihak yang dilemahkan atau
berada dalam ketidakmampuan dalam pelayanan kesehatan. Karena itulah dalam
proses demokratisasi maka secara terus-menerus didorong lahirnya suatu program
kemitraan dalam pelayanan kesehatan. Pada hakekatnya sistem pelayanan
kesehatan merupakan sistem yang mengkoor-dinasikan semua kegiatan
sedemikian rupa sehingga menjamin setiap masyarakat memperoleh pelayanan
kesehatan yang dibutuhkannya. Sedangkan menurut tokoh keperawatan Dorothea
E. Orem, menjelaskan bahwa keperawatan ialah proses aksi dan interaksi antara
pasien dengan perawat untuk membantu individu dari berbagai kelompok umur
dalam memenuhi kebutuhannya dan menangani status kesehatan mereka pada saat
tertentu dalam suatu siklus kehidupan. Dalam upaya pemberian pelayanan
kesehatan bisa dalam satu bentuk tertentu atau dengan bentuk gabungan. Satu
bentuk tertentu seperti misalnya dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar di
puskesmas terhadap penderita Tb Paru, tetapi juga sekaligus diberikan pelayanan
konseling untuk meningkatkan kesehatannya sehingga dapat mempercepat
kesembuhannya. Sesungguhnya kedepan masyarakat Indonesia diharapkan dapat
hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan
untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata,
serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya pada
mulanya berupa upaya penyembuhan penyakit, kemudian secara berangsur-angsur
berkembang ke arah keterpaduan upaya kesehatan untuk seluruh masyarakat
dengan mengikutsertakan masyarakat secara luas yang mencakup upaya promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang bersifat menyeluruh terpadu dan
berkesinambungan, dalam tanda kutip membutuhkan bantuan para teknisi
kesehatan yang sebelumnya telah melakukan proses demokrasi atau berdiskusi
dalam rangka mencapai kesehatan dan kesejahteraan pasien. Seiring dengan hal
tersebut, saat ini setiap kegiatan dan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip non
diskriminatif, partisipatif, perlindungan, dan berkelanjutan yang sangat penting
artinya bagi pembentukan sumber daya manusia Indonesia, peningkatan
ketahanan dan daya saing bangsa, serta pembangunan nasional di Indonesia.
(Depkes, 2009).
DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, Masykuri. 1999. Demokrasi di Persimpangan Makna. Yogyakarta: Tiara


Wacana.
Kamil, S. 2002. Islam dan Demokrasi: Telaah Konseptual Dan Historis.
Jakarta: Gaya Media.
Meyer, T. 2002. Demokrasi, Sebuah Pengantar untuk Penerapan. Jakarta:
Friedrich-Ebert-Stiftung
Rahmanur, dkk. 2012. Jaringan Pelayanan Publik yang Demokratis (Studi Kasus
Pelayanan Kesehatan Berbasis Jaringan Pada Forum Desa Siaga Di
Kabupaten Donggala). Palu: FSIP Unismuh. Diakses dari
(http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/3aff5f789247f2f33c6102fde96e73ac.pd
f) diakses pada 18 Mei 2017