Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS BESAR

SEORANG WANITA 43 TAHUN DENGAN


ATIGMATISMA MYOPIA COMPOSITUS

Diajukan Guna Memenuhi Tugas Kepaniteraan Senior

Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Penguji kasus : Dr. dr. Fifin L Rahmi, MS, Sp.M (K)

Pembimbing : dr. Kartika Cindy

Dibacakan oleh : Ihwanu Sholeh / 22010115210012

Dibacakan tanggal : 6 Februari 2017

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2017
HALAMAN PENGESAHAN

Melaporkan kasus seorang wanita 43 tahun dengan Astigmatisma Myopia


Compositus

Penguji kasus : Dr.dr. Fifin L Rahmi, MS, Sp.M (K)

Pembimbing : dr. Kartika Cindy

Dibacakan oleh : Ihwanu Sholeh / 22010115210012

Dibacakan tanggal : 6 Februari 2017

Diajukan guna memenuhi tugas kepaniteraan senior di bagian Ilmu Kesehatan


Mata Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Semarang, 6 Februari 2017

Mengetahui,

Penguji Kasus, Pembimbing,

Dr.dr. Fifin L Rahmi, MS, Sp.M (K) dr. Kartika Cindy


I. PENDAHULUAN
Tajam penglihatan dipengaruhi oleh refraksi, kejernihan media refrakta
dan saraf. Bila terdapat kelainan/gangguan pada komponen tersebut, akan
dapat mengakibatkan penurunan tajam penglihatan. Hasil pembiasan sinar
pada mata ditentukan oleh media refrakta yang terdiri atas kornea, cairan
mata, lensa, badan kaca, dan panjang bola mata. Pada orang normal susunan
pembiasan oleh media penglihatan dan panjangnya bola mata seimbang
sehingga setelah melalui media refrakta dibiaskan tepat di daerah macula
lutea.1
Mata yang normal disebut dengan emetropia dan mata yang tidak bisa
membiaskan cahaya tepat sampai macula lutea disebut ametropia. Salah
satunya dari kelainan refraksi adalah mata dengan miopia yang dikarenakan
axial length yang panjang melebihi normal, indeks refraksi yang meningkat,
kelainan dari kurvatura kornea dan lensa. Miopia termasuk ke dalam kelainan
refraksi yaitu suatu keadaan mata dimana sinar-sinar sejajar dari jarak tak
terhingga (tanpa akomodasi) dibiaskan didepan retina. 1,2,3
Organisasi kesehatan dunia WHO menyebutkan setidaknya 45 juta
penduduk dunia buta (3/60) dan 135 juta penduduk dunia low vision (6/18).
Berdasarkan riset kesehatan dasar 2007, prevalensi nasional kebutaan di
Indonesia yaitu sebesar 0,9% dimana gangguan refraksi menempati urutan
ke-3 setelah katarak dan glaukoma. 4

II. IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. CG
Umur : 43 tahun
Agama : Khatolik
Alamat : Jl. Lempong Sari I No 96, Semarang
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
No. CM : C183679

III. ANAMNESIS
(Anamnesis dilakukan dengan autoanamnesis pada tanggal 31 Januari 2017 di
poli mata RSDK)
Keluhan utama : Penglihatan kedua mata kabur

Riwayat Penyakit Sekarang :


Sejak 1 tahun yang lalu pasien mengeluh pandangan kabur,
terutama saat melihat jauh dan saat membaca terlihat membayang,
pandangan kabur dirasakan terjadi sepanjang hari, makin lama penglihatan
makin kabur. Pasien juga merasakan sering pusing jika membaca terlalu
lama. Pandangan kabur seperti tertutup kabut (-), melihat kilatan cahaya (-),
melihat bintik-bintik hitam (-). Mata merah (-), nyeri/cekot-cekot (-), nrocos
(-), silau (-), kotoran mata (-), bengkak (-). Saat ini karena keluhan dirasakan
semakin mengganggu aktivitas pasien periksa ke poli mata RSDK.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat memakai kacamata sebelumnya disangkal
Riwayat trauma pada mata disangkal
Riwayat sakit kencing manis disangkal
Riwayat sakit tekanan darah tinggi disangkal
Riwayat penyakit mata 1 tahun terakhir disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :


Adik kandung pasien menggunakan kacamata.
Riwayat Sosial Ekonomi :
Pasien seorang Ibu Rumah Tangga.
Suami pasien seorang pegawai swasta.
Memiliki 2 orang anak yang masih sekolah.
Biaya pengobatan ditanggung sendiri.
Kesan sosial ekonomi cukup.
IV. PEMERIKSAAN
PEMERIKSAAN FISIK (Tanggal 31 Januari 2017)
Status Presen :
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Kompos mentis, GCS 15
Tanda vital : Tekanan darah : 130/80 mmHg suhu : 36,8
Nadi : 92x/menit RR : 22x/menit
Pemeriksaan fisik : Kepala : mesosefal
Thoraks : cor : tidak ada kelainan
paru : tidak ada kelainan
Abdomen : tidak ada kelainan
Ekstremitas : tidak ada kelainan
Status oftalmologi :

Pemeriksaan Oculus Dextra (OD) Oculus Sinistra(OS)


Visus dasar 6/40 6/10
Visus koreksi S -1,50 C-0,75 x90o S -0,75 C-0,50 x90o
6/6 6/6
Binokuler Alternating Cover Test : vision balance (+)
Distorsi (-), Pusing (-)
Duke Elder test (-)
Addisi S+1,50 D Jaeger II
Gerak bola mata Bebas ke segala arah Bebas ke segala arah
Supercilia Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
Palpebra superior Edema (-), spasme (-) Edema (-), spasme(-)
Palpebra inferior Edema (-), spasme (-) Edema (-), spasme(-)
Konjungtiva palpebralis Hiperemis (-), sekret(-) Hiperemis (-), sekret(-)
Konjungtiva forniks Hiperemis (-), sekret(-) Hiperemis (-), sekret(-)
Konjungtiva bulbi Injeksi (-), sekret (-) Injeksi (-), sekret (-)
Sklera Tak ada kelainan Tak ada kelainan
Kornea Jernih Jernih
COA Kedalaman cukup, Kedalaman cukup,
tyndal effect (-) tyndal effect (-)
Iris Kripte (+), sinekia (-) Kripte (+), sinekia (-)
Pupil Bulat, sentral, reguler, Bulat, sentral, reguler,
diameter 3 mm, refleks diameter 3 mm, refleks
pupil (+) N pupil (+) N
Lensa Jernih Jernih
Fundus refleks (+) Cemerlang (+) Cemerlang
Tekanan Intraokuler T(digital) normal T(digital) normal
TIO (Shioetz) 15,9 mmHg 13,4 mmHg
Funduscopy Dalam batas normal Dalam batas normal

V. RESUME
Seorang wanita berusia 43 tahun datang ke poliklinik mata dengan
penurunan visus sejak 1 tahun, terutama saat melihat jauh, semakin
memberat. Pasien juga merasakan sering pusing jika membaca terlalu lama,
kedua mata tenang.
Pemeriksaan fisik : status praesens dan pemeriksaan fisik dalam batas
normal.

Status oftalmologi :

Oculus Dexter Oculus Sinister


6/40 VISUS DASAR 6/10
S -1,5 C-0,75 x90o 6/6 VISUS KOREKSI S -0,75 C-0,5 x90o 6/6
Visus Binoculer Binoculer : 6/6
Aflternating Cover Test : Vision balance (+)
Distorsi (-), Pusing (-)
Duke Elder Test (-)
Add + 1,5 D Jaeger II
ODS Segmen anterior Tenang

VI. DIAGNOSIS

DIAGNOSIS KERJA
- ODS. Astigmatisma Miopia Compositus
- ODS Presbiopia
VII. PROGNOSIS
OD OS
Quo ad visam Ad bonam Ad bonam
Quo ad sanam Dubia ad bonam Dubia ad bonam
Quo ad vitam Ad bonam Ad bonam
Quo ad cosmeticam Ad bonam Ad bonam

VIII. PENATALAKSANAAN
- Pemberian kacamata sesuai dengan koreksi
- Kontrol 3 6 bulan untuk evaluasi status ophtalmologi

IX. EDUKASI
Menjelaskan kepada pasien bahwa pasien menderita rabun jauh dan
astigmatisma di kedua mata derajat ringan, dengan pemberian
kacamata penglihatan dapat membaik secara sempurna.
Menjelaskan kepada pasien tentang pemeriksaan yang dilakukan,
rencana terapi serta prognosisnya.
Meminta pasien untuk kontrol 3 - 6 bulan kemudian apabila keluhan
pusing dan penglihatan kabur masih dirasakan, dan tidak membaik
dengan kacamata
Menjelaskan kepada pasien tidak boleh membaca sambil tiduran, tidak
boleh membaca ditempat remang-remang/cahaya kurang.

X. DISKUSI
Secara keseluruhan status refraksi mata ditentukan oleh :9
1. Kekuatan kornea ( 40 D)
2. Kedalaman camera oculi anterior ( 3,4 mm)
3. Kekuatan lensa kristalina ( 20 D)
4. Panjang aksial (rata-rata 24 mm)
Kelainan refraksi adalah keadaan di mana bayangan tegas tidak
terbentuk pada retina (macula lutea). Pada kelainan refraksi terjadi
ketidakseimbangan sistem optik pada mata sehingga menghasilkan bayangan
yang kabur. Pada mata normal, kornea dan lensa akan membelokkan sinar
pada titik fokus yang tepat pada sentral retina. Keadaan ini memerlukan
susunan kornea dan lensa yang sesuai dengan panjang bola mata. Pada
kelainan refraksi , sinar dibiaskan di depan (myopia) atau di belakang macula
lutea (hipermetropia).2
Ametropia adalah keadaan di mana pembiasan mata dengan panjang
bola mata yang tidak seimbang. Ametropia dapat disebabkan kelengkungan
kornea atau lensa yang tidak normal (ametropia kurvatur) atau indeks bias
abnormal di dalam mata (ametropia indeks). Ametropia dapat ditemukan
dalam bentuk kelainan miopia, hipermetropia, dan astigmatisme. Bentuk-
bentuk ametropia :
1. Ametropia aksial
Ametropia yang terjadi akibat sumbu optik bola mata lebih panjang atau
lebih pendek sehingga bayangan benda difokuskan di depan atau di
belakang retina. Pada miopia aksial fokus akan terletak di depan retina
karena bola mata lebih panjang dan pada hipermetropia aksial fokus
bayangan terletak di belakang retina.1
2. Ametropia refraktif
Ametropia akibat kelainan sistem pembiasan sinar di dalam mata. Bila
daya bias kuat, maka bayangan benda terletak di depan retina (miopia
refraktif) atau bila daya bias kurang maka bayangan benda akan terletak di
belakang retina (hipermetropia refraktif).1
3. Ametropia kurvatura
Ametropia yang terjadi karena kecembungan kornea atau lensa yang tidak
normal. Pada miopia kurvatura kornea bertambah kelengkungannya seperti
pada keratokonus. Sedangkan pada hipermetropia kurvatura lensa dan
kornea lebih kecil dari kondisi normal.1
Terdapat tiga tipe kelainan refraksi yaitu:
a. Myopia
b. Hipermetropia
c. Astigmatisma
Kelainan refraksi bisa diketahui dengan melakukan pemeriksaan tajam
penglihatan atau visus. Terdapat 2 metode pemeriksaan tajam penglihatan yaitu
secara subjektif dengan trial and error dan secara objektif dengan
autorefraktometer

10.1 Pemeriksaan visus subjektif dengan optotipe Snellen.


Tujuannya adalah melakukan pemeriksaan refraksi secara subyektif. Pemeriksaan
refraksi secara subyektif adalah suatu tindakan untuk memperbaiki penglihatan
seseorang dengan bantuan lensa yang ditempatkan didepan bola mata. Pada kasus
ini dilakukan koreksi secara trial and error
Alat-alat yang digunakan:
- Optotipe Snellen
- Trial lens set
Prosedur pemeriksaan terdiri dari dua langkah :
1. Langkah pertama : Pemeriksaan visus dasar
2. Langkah kedua : Koreksi visus

Gambar 2. Pinhole gambar 1. Optotipe snellen

Gambar 3. Trial frame


Langkah pertama.
Pasien duduk dengan jarak 6 meter dari optotipe Snellen, salah satu mata
pasien ditutup kemudian disuruh membaca huruf terbesar sampai huruf
terkecil.
Bila huruf terbesar tidak terbaca maka pasien diperiksa dengan hitung jari.
Contoh : visus = 1/60 (artinya pasien bisa membaca optotipe Snellen pada
jakar 1 meter sedangkan orang normal bisa membaca optotipe Snellen
pada jarak 60 meter)
Bila hitung jari tidak bisa, maka pasien diperiksa dengan lambaian tangan
pada jarak 1 m. Pasien disuruh menyebutkan arah lambaian tangan.
Hasilnya visus = 1/300
Bila lambaian tangan tidak bisa maka pasien diperiksa dengan
menggunakan sinar, untuk membedakan gelap-terang dan arah datangnya
sinar. Hasilnya visus = 1/~ LP(light projection) baik/buruk
Bila tidak bisa membedakan gelap dan terang, maka visus = 0. Pastikan
dengan reflek pupil direk dan indirek.
Langkah kedua.
Koreksi visus dilakukan jika pasien dapat membaca huruf Snellen.
Pemeriksaan dilakukan dengan tehnik trial and error.
Pasang trial frame. Koreksi dilakukan bergantian, dengan cara menutup
salah satu mata.
Pasang lensa sferis +0,5D. Setelah diberi lensa sferis +0,5D visus
membaik, berarti hipermetrop.
Koreksi dilanjutkan dengan cara menambah atau mengurangi lensa sferis
sampai didapatkan visus 6/6.
Koreksi yang diberikan pada hipermetrope adalah koreksi lensa sferis
positif terbesar yang memberikan visus sebaik-baiknya.
Jika diberi lensa sferis positif bertambah kabur, berarti miopia. Maka lensa
diganti dengan lensa sferis negatif.
Koreksi dilanjutkan dengan cara menambah atau mengurangi lensa sferis
sampai didapatkan visus 6/6
Koreksi yang diberikan pada miopia adalah koreksi lensa sferis negatif
terkecil yang memberikan visus sebaik-baiknya.
Jika visus tidak bisa mencapai 6/6, maka dicoba dengan memakai pinhole
Bila visus membaik setelah diberi pinhole, berarti terdapat astigmatisma
maka dilanjutkan dengan koreksi astigmatisma.
Setelah visus menjadi 6/6, kemudian dilakukan pemeriksaan
binokularitas :
10.2 MIOPIA
Miopia atau rabun jauh adalah kelainan refraksi suatu keadaan mata dimana
sinar-sinar sejajar dari jarak tak terhingga (tanpa akomodasi) dibiaskan
didepan retina.2
Tipe dari myopia:
1. Miopia aksial
Bertambah panjangnya diameter antero-posterior bola mata dari normal.
Pada orang dewasa penambahan panjang aksial bola mata 1 mm akan
menimbulkan perubahan refraksi sebesar 3 dioptri.
Myopia aksial disebabkan oleh beberapa faktor seperti :
1. Menurut Plempius (1632), memanjangnya sumbu bolamata tersebut
disebabkan oleh adanya kelainan anatomis.
2. Menurut Donders (1864), memanjangnya tekanan otot pada saat
konvergensi.6

Gambar4. Diameter bola mata pada miopia dan bayang jatuh di depan retina.5

2. Miopia refraktif
Bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak
intumensen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan
lebih kuat.
pada miopia refraktif, menurut Albert E. Sloane dapat terjadi karena
beberapa macam sebab, antara lain :
1. Kornea terlalu cembung (<7,7 mm)
2. Terjadinya hydrasi/penyerapan cairan pada lensa kristalina sehingga
bentuk lensa kristalina menjadi lebih cembung dan daya biasnya
meningkat. Hal ini biasanya terjadi pada pasien katarak stadium awal
(imatur)
3. Terjadi peningkatan indeks bias pada cairan bolamata (biasanya terjadi
pada pasien diabetes melitus).6
Menurut derajat beratnya miopia dibagi dalam :
a. Miopia ringan, dimana myopia kecil daripada < 3 dioptri
b. Miopia sedang, dimana myopia lebih antara 3-6 dioptri
c. Miopia berat atau tinggi, dimana miopia lebih besar dari 6 dioptri
Klasifikasi miopia berdasarkan umur :
1. Congenital (sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak)
2. Youth-onset miopia (<20 tahun)
3. Early adult-onset miopia (20-40 tahun)
4. Late adult-onset miopia (>40 tahun). (Sidarta,2007)

Menurut perjalanan miopia dikenal bentuk :


a. Miopia stasioner, miopia yang menetap setelah dewasa
b. Miopia progresif, myopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat
bertmbah panjangnya bola mata.
c. Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan
ablasi retina dan kebutaan atau sama dengan miopia pernisiosa = miopia
maligna = miopia degeneratif.
Miopia degeneratif atau myopia maligna bila miopia lebih dari 6 dioptri
disertai kelainan pada fundus okuli terbentuk stafiloma, dan pada bagian
temporal papil terdapat atrofi korioretina. Atrofi retina berjalan kemudian
setelah terjadinya atrofi sklera dan kadang-kadang terjadi ruptur membran
Bruch yang dapat menimbulkan rangsangan untuk terjadinya neovaskularisasi
subretina.2
Miopia berdasarkan klinis :
1. Myopia simpleks, dengan syarat:
a. Tidak dijumpai kelainan patologis pada mata
b. Progresifitas mulai berkurang pada saat masa pubertas dan stabil
usia 20 tahun
c. Derajat myopia tidak lebih dari (-6 D)
d. Visusnya dengan koreksi dapat mencapai penuh
2. Myopia patologis
a. Bila myopia masih progresif
b. Dijumpai tanda tanda degeneratif pada vitreous, makula, dan
retina
c. Gambaran klinisnya antara lain:
i. Secara keseluruhan, bola mata lebih besar dan terjadi
pemanjangan hampir seluruhnya ke arah polus posterior.
ii. Curvatura lebih flat
iii. COA lebih dalam
iv. Pupil lebih lebar
v. Sclera lebih tipis
vi. Pada fundus okuli dapat dijumpai papil N.II myopic
crescent yakni bintik yang melebar karena bola mata
membesar dan bertambah panjang. Dijumpai juga vasa
choroid yang tampak jelas, choroid yang atrofi, dan retina
tigroid, yakni keadaan di mana retina lebih tipis akibat
kehilangan banyak pigmen sehingga retina tampak
gambaran kuning hitam.
vii. Pada makula, dapat dijumpai atrofi, gambaran mirip
perdarahan di dekat macula, ataupun foster-fuchs fleck
viii. Pada derajat myopia yang sangat tinggi, dapat dijumpai
posterior stafiloma, yakni seluruh polus posterior herniasi
ke belakang.
Komplikasi Miopia :
- Ablatio Retina
- Glukoma sudut terbuka
Beberapa hal yang mempengaruhi resiko terjadinya miopia, antara lain:
1. Keturunan. Orang tua yang mempunyai sumbu bolamata yang lebih
panjang dari normal akan melahirkan keturunan yang memiliki sumbu
bolamata yang lebih panjang dari normal pula.
2. Ras/etnis. Ternyata, orang Asia memiliki kecenderungan miopia yang lebih
besar (70%-90%) dari pada orang Eropa dan Amerika (30%-40%). Paling
kecil adalah Afrika (10%-20%).
3. Perilaku. Kebiasaan melihat jarak dekat secara terus menerus dapat
memperbesar resiko miopi. Demikian juga kebiasaan membaca dengan
penerangan yang kurang memadai.6

Gambar 2. Visus normal, mata Miopia, dan mata miopia yang sudah dikoreksi.6

Penanganan Miopia
Tujuan penanganan miopia adalah penglihatan binocular yang jelas,
nyaman, efisien, dan kesehatan mata yang baik bagi pasien.9 Pilihan cara yang
dapat mengatasi kelainan refraksi meliputi :
1. Kacamata koreksi
Pemilihan kacamata masih merupakan metode paling aman untuk
memperbaiki refraksi.2 Keuntungan penggunaan kacamata meliputi: lebih
murah, lebih aman bagi mata, dan membutuhkan akomodasi yang lebih
kecil daripada lensa kontak.10 Kerugian penggunaan kacamata meliputi:
menghalangi penglihatan perifer, membatasi kegiatan tertentu, dan
mengurangi kosmetik.2
2. Lensa kontak
Lensa kontak yang biasanya digunakan ada 2 jenis yaitu, lensa kontak
keras yang terbuat dari bahan plastik polimetilmetacrilat (PMMA) dan
lensa lunak. Keuntungan pemakaian lensa kontak adalah: memberikan
penglihatan yang lebih luas, tidak membatasi kegiatan, kosmetik lebih
baik. Kerugian penggunaan lensa kontak: sukar dalam perawatan, mata
dapat merah dan infeksi, tidak semua orang dapat memakainya (mata
alergi dan mata kering).2
3. Obat
Obat-obatan sikloplegik kadang digunakan untuk mengurangi respon
akomodasi terutama untuk mengatasi pseudomyopia. Beberapa penelitian
menyatakan bahwa atropin topikal dan cyclopentolate mengurangi
progresi miopia pada anak dengan youth onset-myopia. Namun dilatasi
pupil yang terjadi mengakibatkan silau. Selain itu terdapat reaksi alergi,
reaksi idiosinkrasi, dan toksisitas sistemik, serta pemakaian atropin jangka
panjang dapat mengakibatkan efek buruk pada retina.10
4. Orthokeratologi
Tindakan ini bertujuan untuk mendatarkan kornea perifer sehingga sama
datarnya dengan kornea sentral. Beberapa penelitian menunjukkan
orthokeratologi dapat menurunkan miopia hingga 3,00 D; dengan rata-rata
penurunan 0,75 1,00 D.10
5. Bedah refraktif
Pembedahan ini dilakukan untuk memperbaiki penglihatan akibat
gangguan pembiasan. Jenis pembedahan meliputi pembedahan di kornea
(radial keratotomi, keratektomi fotorefraktif/photorefractive
keratectomy/PRK, automated lamellar keratoplasti/ALK, LASIK) dan
lensa (implantasi lensa intra ocular, clear lens extraction).2

10.3 Astigmatisma
Astigmatisma adalah suatu keadaan di mana sinar yang masuk ke mata
tidak difokuskan pada satu titik. Keadaan ini dapat disebabkan oleh
a. Kongenital, yakni akibat kelainan pada kurvatura kornea ataupun
letak lensa yang sedikit oblique.
b. Akibat trauma, pasca bedah ekstraksi katarak ekstra kapsuler, atau
adanya pterigium
Tipe astigmatisma :
a. Astigmatisma ireguler
Terjadi akibat adanya iregularitas pada bidang median curvatura
sehingga tidak ada satupun bentuk geometri yang dianut. Sebagai
contoh, terjadi akibat sikatrik kornea.
b. Astigmatisma reguler
Terjadi apabila dijumpai dua bidang meridian utama yang saling
tegak lurus sehingga dapat dikoreksi
Astigmatisma reguler dibagi lagi menjadi :
1. Simpleks, yakni apabila satu garis fokus jatuh di retina
sedangkan yang lain di luar retina.
2. Compositus, yakni bila kedua fokus jatuh di luar retina
tetapi tidak pada satu titik / bidang.
3. Mixtus, yakni bila salah satu fokus jatuh di depan retina
dan yang lain di belakang retina.
Gejala dan tanda:
1. Penglihatan kabur, salah melihat huruf atau angka
2. Pusing dan sakit di sekitar mata
3. Kadang dijumpai head tilt
Terapi:
1. Koreksi optik yakni dengan memberikan lensa silindris
Dikenal adanya:
1. Astigmatisma with the rule, yakni bila meridian vertikal lebih curam,
koreksi silinder plus pada axis 90o (vertical) atau koreksi silinder
minus pada axis 180o.
2. Astigmatisma against the rule, yakni bila meridian horisontal lebih
curam, koreksi silinder plus pada axis 180o atau koreksi silinder minus
pada axis 90o.
Astigmatisma oblique, yakni astigmatisma reguler yang meridian utamanya tidak
pada 90o atau 180o.
10.4 Prebiopia
Presbiopia yaitu hilangnya daya akomodasi yang terjadi bersamaan dengan
proses penuaan pada semua orang. Seseorang dengan mata emetropik (tanpa
kesalahan refraksi) akan mulai merasakan ketidakmampuan membaca huruf kecil
atau membedakan benda-benda kecil yang terletak berdekatan pada usia sekitar
44-46 tahun. Hal ini semakin buruk pada cahaya yang temaram dan biasanya lebih
nyata pada pagi hari atau apabila subyek lelah. Banyak orang mengeluh
mengantuk apabila membaca. Gejala-gejala ini meningkat sampai usia 55 tahun,
kemudian stabil tetapi menetap
Pada pasien presbiopia ini diperlukan kacamata baca atau adisi untuk
membaca dekat yang berkekuatan tertentu, biasanya
+ 1 D untuk usia 40 tahun
+ 1.5 D untuk usia 45 tahun
+ 2 D untuk usia 50 tahun
+ 2.5 D untuk usia 55 tahun
+ 3 untuk usia 60 tahun
Reading test
Untuk pasien yang berusia 40 tahun atau lebih, perlu dilakukan test
penglihatan dekat. Diberi lensa sferis positif sesuai umur kemudian
membaca kartu jaeger
10.5 Pemeriksaan Visus Binokuler Akhir
- Duke elder test
Pasien disuruh melihat optotipe snellen dengan menggunakan lensa
koreksi, kemudian ditaruh lensa sferis +0,25D pada kedua mata. Jika
pasien merasa kabur berarti lensa koreksi sudah tepat, apabila menjadi
jelas berarti pasien masih berakomondasi.
- Alternating cover test
Dilakukan dengan cara menutup kedua mata secara bergantian. Pasien
membandingkan kedua mata mana yang paling jelas. Pada mata
miopia, mata yang paling jelas koreksinya dikurangi. Pada mata
hipermetrop, mata yang paling jelas koreksinya ditambah.
- Distortion test
Pasien disuruh berjalan sambil memakai lensa koreksi. Jika saat
berjalan lantai tidak goyang-goyang dan tidak merasa pusing maka
koreksi sudah tepat.

Setelah semua pemeriksaan selesai maka dibuatkan resep kaca mata


dimana sebelumnya telah diukur PD (pupil distance) dengan penggaris.
ANALISA KASUS
Pada kasus ini didapatkan diagnosis ODS Astigmatisma miopia
compositus dan prebiospia berdasarkan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik
yang mengarah pada diagnosis tersebut.
Anamnesis
- Pasien perempuan berusia 43 tahun
- Penglihatan kedua mata kabur apabila membaca jauh, perlahan-lahan
semakin kabur, tidak merah, tidak keluar sekret, tidak nyeri, tidak
silau.

Pemeriksaan oftalmologis
Dari Pemeriksaan oftalmologis, tidak didapatkan kelainan di segmen
anterior, terutama di media refrakta, yaitu kornea, akuous humor, dan lensa.
Pada segmen posterior juga tidak didapatkan kelainan. Pemeriksaan funduskopi
mata kanan dan kiri dalam batas normal.
- Visus VOD = 6/40 VOS = 6/10
- Koreksi visus OD 6/40 S 1,5 C-0,75 6/6 dan OS 6/10 S-0,75 C-0,5 6/6.
Pemeriksaan Binokularitas :
- Alternating Cover Test vision balance (+)
- Distorsi (-)
- Duke Elder test (-)
- Addisi S +1,50
Penatalaksanaan
Terapi yang diberikan kepada pasien dengan pemberian kacamata sesuai
dengan hasil koreksi, pasien diberikan edukasi tentang cara membaca yang benar.
Pemeriksaan visus setiap 3 - 6 bulan juga disarankan kepada pasien untuk
memantau progresi dari miopia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan DG, Taylor A, Paul R. Oftalmologi umum edisi 14. Jakarta : Widya
Medika,2000
2. Ilyas S. Kelainan refraksi. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai penerbit
FK UI,2004
3. Iiyas S. Optik dan refraksi. Dalam : Ilmu Penyakit Mata untuk dokter umum
dan mahasiswa kedokteran. Jakarta: Balai penerbit Sagung Seto,2002
4. www.wartamedika.com
5. Univ. Sumatra Utara [repository] 2008. Avalaible from:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3438/1/09E01854.pdf
6. Univ. Sumatra Utara [repository] 2008. Avalaible from:
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/.../4/Chapter%20II. pdf
7. Univ. Sumatra Utara [repository] 2008. Avalaible from:
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/.../3/Chapter%20II. pdf
8. http://www.healthylifeessex.co.uk/pages/wellbeing/myopia_article_pg.html
9. Siregar, NH. Kelainan Refraksi yang Menyebabkan Glaukoma. [referat
Repository USU]. 2008. [cited 1 Februari 2017]. Available from :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3438/1/09E01854.pdf
10. Goss, DA, et al. Care of the Patient with Myopia. [American Optometric
Association]. 2010. [cited 1 Februari 2017]. Available from :
http://www.aoa.org/documents/CPG-15.pdf

Lampiran
Gambar 5. Oculus Dexter gambar 6. Oculus Sinister

Gambar 7. Pasien sebelum pemeriksaan