Anda di halaman 1dari 11

Nama : Choiru Ummatin Nisa

NIM : 931325514
Smt/ Kelas : 5/G

ISLAMIC PHILANTHROPY SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN


MASYARAKAT INDONESIA YANG MADANI1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Filantropi atau kedermawanan bukan hal baru dalam
sejarah Islam. Masalah filantropi menjadi salah satu bagian
terpenting dari ajaran atau doktrin Islam yang diterima oleh
Nabi Muhammad SAW. Banyak ayat al-Quran maupun hadits
yang menegaskan pentingnya berderma kepada sesama
manusia. Dalam beberapa ayat al-Quran dan al-Hadits kita
juga dapat temukan berbagai bentuk filantropi, karena
memang filantropi Islam memiliki cakupan yang sangat luas,
mulai masalah wakaf, infaq, shadaqah hingga zakat. Lalu
bagaimana cara Islamic Philanthropy untuk mewujudkan
masyarakat madani di Indonesia? Untuk itu dalam makalah
ini akan dibahas bagaimana upaya Islamic Philanthropy
dalam mewujudkan masyarakat indonesia yang madani

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Islamic Philanthropy?
2. Apakah yang dimaksud dengan masyarakat madani itu?
3. Apa saja permasalahan yang dihadapi Indonesia saat ini?
4. Bagaimanakah Islamic Philanthropy sebagai Solusi?
5. Bagaimana cara Islamic Philantropy di Indonesia untuk
mewujudkan masyarakat yang madani?

1 Tugas UTS mata kulian Makro Ekonomi Islam, Dosen pengampu: Arif
Zunaidi, Rabu 2 Nopember 2016.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Islamic Philanthropy
Secara etimologis, kata filantropi (philanthropy) berasal
dari bahasa Yunani philos yang berarti cinta dan anthropos
yang artinya manusia. Gabungan dari kedua kata tersebut
menghasilkan makna Mencintai atau cinta kasih kepada
manusia. Kata philanthropy sendiri sering dimaknai sebagai
ungkapan cinta kasih kepada sesama manusia. Kamus
Webster tidak memberi batasan pengungkapan cinta kasih ini
dalam bentuk uang atau barang, melainkan pekerjaan atau
upaya yang dimaksudkan untuk meningkatkan rasa cinta
pada sesama dan kemanusiaan. Sementara Kamus Besar
Bahasa Indonesia memadankan kata dermawan dengan kata
filantropi, yang diserap dari kosakata bahasa Inggris
philanthropy, yang berarti cinta kasih atau kedermawanan
sosial terhadap sesama. Dari dua definisi kamus dan
etimologis di atas, kedermawanan bisa dimaknai sebagai
tindakan sukarela yang bertujuan untuk kepentingan umum
atau perbaikan kondisi manusia. Oleh karena itu philanthropy
juga dapat diartikan sebagai sikap dermawan untuk
membebaskan manusia dari segala masalahnya.2
Istilah filantropi juga dipahami masyarakat sebagai
organisasi non-profit dengan tujuan-tujuan mulia seperti mencintai
(sesama umat manusia) dengan memberikan bantuan kepada yang
membutuhkan dan menaruh perhatian terhadap orang lain atas
kemanusiaan. Tujuan dari aktifitas filantropi setidaknya terdiri dari
empat spektrum pendekatan:
1. Pendekatan kesejahteraan (welfare)
2. Pendekatan pembangunan (developmentalis)
3. Pendekatan pemberdayaan (empowerment)
4. Pendekatan transformatif (transformasi sosial)3

2 Saprin, Pengentasan Kemiskinan Melalui Filantropi (Perspektif Islam


dalam Pemberdayaan Zakat Maal), Jurnal Pengembangan Masyarakat
Islam, Vol. 7 No. 2,(Desember 2015), 139-140.

2
Filantropi dalam sejarah kelahirannya berkembang
dalam dua varian besar yakni filantropi tradisional dan
filantropi keadilan sosial. Hal ini pula di tegaskan oleh Allien
Shaw bahwa filantropi bukanlah sekedar beramal, akan tetapi
lebih pada pendampingan yang bersifat pemberdayaan
berdampak jangka panjang(Latief, 2010). Universalitas dari
konsep filantropi tidak dapat dipungkiri berdampak pada
praktik-praktik filantropi yang ada dimasyarakat. Begitupun
dengan pemahaman filantropi dalam perspektif agama yang
kemudian menambah dimensi baru implementasi filantropi
keagamaan.4
B. Masyarakat Madani
Dalam bahasa Arab konsep masyarakat Madani dikenal
dengan istilah al-mujtama al-madani, dalam bahasa Inggris
disebut dengan istilah Societas Civilis dalam filsafat politiknya yang
berarti komunitas politik yang beradap, dan didalamnya termasuk
masyarakat kota yang memiliki kode hukum tersendiri. Masyarakat
madani merupakan konsep yang merujuk pada masyarakat yang
pernah berkembang di madinah pada zaman Nabi Muhammad
SAW, yaitu masyarakat yang mengacu pada nilai-nilai kebijakan
umum, yang disebut al-khair. Secara umum masyarakat madani
atau civil society dapat diartikan sebagai suatu corak kehidupan
masyarakat yang terorganisir, mempunyai sifat kesukarelaan,
keswadayaan, kemandirian namun mempunyai kesadaran hukum
yang tinggi.5

3 Mahfud Achyar, Islamic Philanthropy Sebagai Upaya Mewujudkan


Masyarakat Indonesia yang Madani, Kompasiana.com,
http://www.kompasiana.com/mahfud.achyar/islamic-philanthropy-
sebagai-upaya-mewujudkan-masyarakat-indonesia-yang-
madani_5583ceebef7e6182048b4567, diakses 29 Oktober 2016.

4 Zaenal Abidin, Manifestasi dan Latensi Lembaga Filantropi Islam


dalam Praktik Pemberdayaan Masyarakat: Suatu studi di Rumah Zakat
Kota Malang, Jurnal Studi Masyarakat Islam, Vol.15 No. (2 Desember
2012), 200.

3
Sedangkan dalam perspektif Islam, masyrakat madani
mengacu pada penciptaan peradaban yang berasal dari kata al-din
yang umumnya diterjemahkan sebagai agama, berkaitan dengan
makna at-tamaddun, atau peradaban (Rahardjo, 1999), keduanya
menyatu kedalam pengertian madinah (mufrad) atau al-madain
(jamak) artinya kota yang terkandung pengertian perubahan dan
kebudayaan (Husein, 2000). Sementara menurut Rahardjo,
masyarakat madani memiliki pengertian yang luas sesuai cita-cita
Islam yaitu menciptakan masyarakat yang etis dan progresif
menuju kepada terbentuknya peradaban yang unggul yaitu khaira
ummah.6
1. Masyarakat Madani di Indonesia
Masyarakat Indonesia mempunyai karakteristik yang
berbeda dengan negara lainnya. Karakteristik tersebut
diantaranya adalah:
a. Pluralistik atau keberagaman
b. Sikap saling pengertian diantara sesama anggota
masyarakat
c. Toleransi yang tinngi, dan
d. Memiliki sanksi moral
Karakteristik-karakteristik tersebut diharapkan
senantiasa mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia
nantinya. Keberadaan masyarakat Indonesia dapatdicermati
melalui perjalanan bangsa Indonesia, dari zamanorde lama
sampai era reformasi saat ini, permasalahan perwujudan
masyarakat madani di Indonesia selalu menunjukkan hal
yang sama. Beberapa permasalahan yang bisa menjadi
hambatan sekaligus tantangan dalam mewujudkan
masyarakat madani model Indonesia, yaitu sebagai berikut:
a. Semakin berkembangnya orang miskin dan orang
yang merasa miskin.

5Suroto, Konsep Masyarakat Madani di Indonesia dalam Masa


Postmodern (Sebuah Analitis Kritis), Jurnal Pendidikan
Kewarganegaraan, Vol. 5 No. 9,(Mei 2015), 666

6 Samsinas, Masyarakat Madani dalam Islam, Jurnal Hunafa, Vol. 3


No. 1 (Maret 2006),68.

4
b. LSM dan partai politik muncul bagaikan jamur yang
tumbuh di musim penghujan sehingga memungkinkan
berbagai ketidak jelasan.
c. Pers berkembang pesat dan semakin canggih tetapi
justru fesimisme masyarakat yang terjadi.
d. Kaum cendekiawan semakin banyak tetapi cenderung
berorientasi pada kekuasaan.
e. Kurang percaya diri untuk bersaing dan senantiasa
merasa rendah diri.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
untuk menuju masyarakat madani Indonesia tidak ditempuh
melalui proses yang radikal dan cepat (revolusi), tetapi
proses yang sistematis dan berharap serta cenderung
lambat (evolusi), yaitu melalui upaya pemberdayaan
masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.
Ada beberapa prinsip khas yang perlu diperhatikan
dalam membangun masyarakat madani di Indonesia, prinsip-
prinsip tersebut ialah:
a. Kenyataan adanya keragaman budaya Indonesia
yang merupakan dasar pengembangan identitas
bangsa Indonesia dan kebudayaan nasional.
b. Pentingnya adanya saling pengertian antara
sesama anggota masyarakat.
c. Dibentuk melalui proses indoktrinasi
d. Perlunya suatu wadah kehidupan bersama yang
diwarnai oleh adanya kepastian hukum.
2. Tantangan Masyarakat Madani di Indonesia
Masyarakat madani merupakan suatu kondisi yang
senantiasa diidam-idamakan oleh semua lapisan masyarakat
di Indonesia. Untuk itu tantangan yang harus mampu
dilakukan oleh seluruh masyarakat supaya tercapai
kehidupan madani adalah:
a. Sikap demokratis
b. Sikap Toleran
c. Saling pengertian
d. Berakhlak tinggi, beriman dan bertaqwa
e. Manusia dan masyarakat yang berwawasan global 7

7 Suroto, Konsep Masyarakat Madani di Indonesia dalam Masa


Postmodern (Sebuah Analitis Kritis), hlm 666-670.

5
C. Permasalahan yang Dihadapi Indonesia Saat Ini
Berdasarkan survei dari salah satu televisi swasta nasional
setidaknya terdapat 10 masalah terbesar yang dihadapi Indonesia,
diantaranya yaitu:
1. Persoalan kestabilan 6. Pengangguran
ekonomi
2. Korupsi 7. Tingginya harga pangan
3. Kemiskinan 8. Bencana alam
4. Pengelolaan BBM 9. Kelaparan dan krisis
pangan
5. Sistem pendidikan 10. Krisis Kepemimipinan
Berbagai upaya tentu sudah ditempuh pemerintah untuk
mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang mampu berdiri sendiri
di atas kaki sendiri. Namun nyatanya, berbgai kajian yang
dilahirkan oleh berbagai pakar yang mumpuni di bidangnya sangat
sulit diimplementasikan. Banyak sekali faktor penghambat yang membuat
Indonesia seolah sulit untuk menjadi negara yang seperti diamanahkan dalam
Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.8
D. Islamic Philanthropy sebagai Solusi
Pemerintah jelas tidak akan sangggup untuk mengatasi berbagai
persoalan yang mendera bumi pertiwi. Untuk itu, partisipasi dari berbagai
pihak merupakan nadi yang terus membuat Indonesia tetap hidup dan mampu
memastikan bahwa setiap bayi yang lahir akan merasa bangga dan nyaman
menjadi orang yang memiliki darah Indonesia.
Salah satu upaya yang dapat membantu aspek akselerasi
pembangunan bangsa dari berbagai aspek yaitu peran dari Islamic
Philanthropy. Indonesia, sebagai mana diketahui adalah negara dengan
jumlah pemeluk agama islam terbanyak didunia. Islam sebagai agama
rahmatan lilalamin, agama bagi semua manusia. Artinya, islam hadir bukan
hanya untuk Muslim, namun juga untuk non-muslim, kecuali beberapa
perkara yang terbatas. Misalnya memeroleh perlindungan dari yang datang
dari eksterrnal.

8 Mahfud Achyar, Islamic Philanthropy Sebagai Upaya Mewujudkan


Masyarakat Indonesia yang Madani, Kompasiana.com, diakses 29
Oktober 2016.

6
Dalam pandangan islam, nilai-nilai sosial yaitu berperilaku baik
kepada sesama, dalam artian membantu orang yang sedang kesusahan. Hal ini
dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Maidah: 2 yang berbunyi,.. dan tolongl
menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan
tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah
kamu kepada Allah, sesungguhny Allah amat berat siksa-Nya.
Nilai sosial dalam islam dapat diwujudkan melalui aktifitas Islamic
Philanthropy yang memiliki jangkauan kebermanfaatan yang jauh lebih luas.
Dalam konteks kehidupan manusia modern, filantropi dikategorikan sebagai
sektor ketiga setelah sektor negara (state) dan pasar (market). Ketiga sektor
tersebut memiliki peran yang berbeda-beda dalam menyokong cita-cita suatu
negara.
Dunia filantropi di Indonesia berkembang pesat pasca reformasi.
Selanjutnya, organisasi filantropi semakin diramaikan dengan kehadiran
filantropi yang berbasis keagamaan, salah satunya kehadiran Islamic
Philanthropy yang mulai concern pada pengelolaan zakat sebesar Rp 1,73
triliun pada tahub 2012.9
E. Islamic Philantropy di Indonesia untuk Mewujudkan Masyarakat yang
Madani
Di Indonesia perkembangan Islamic Philanthropy menurut Dr. Amelia
Fauza dalam bukunya yang berjudul Fait and the State: A History of Islamic
Philanthropy dalam Azyumardi Azra (Republika Online, 16 Mei 2013),
sudah ada sejak awal islamisasi nusantara pada abad ke-13, termasuk pada
masa kontemporer.
Islamic Philanthropy di Indonesia dalam bentuk ZISWAF (Zakat,
Infak, Sedekah, Wakaf).10 Zakat sendiri mempunyai arti mengeluarkan
sebagian harta dengan persyaratan tertentu untuk diberikan kepada kelompok
tertentu (mustahik) dengan persyaratan tertentu pula.(Hafidhuddin, 2002).11
Sedangkan infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan

9 Ibid.,

10 Ibid.,

7
atau penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan agama Islam. 12
Sedekah adalah pemberian dari seorang muslimsecara sukarela tanpa dibatasi
waktu dan jumlah haul dan nisab sebagai kebaikan dengan mengahrap ridha
Allah.13 Dan wakaf, wakaf adalah penahanan harta yang dapat diambil
manfaatnya tanpa musnah seketika dan untuk penggunaan yang mubah serta
14
dimaksudkan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Empat instrumen diatas
memiliki potensi yang sangat besar. Berbagai kalangan memperkirakan
potensi ZISWAF Indonesia mencapai sekitar Rp 217 triliun setiap tahun.
Namun serapan dana ZISWAF yang dikumpulkan oleh Organisasi Pengelola
Zakat (OPZ) baru berkisar pada angka 2,7 triliun. Artinya potensi ZISWAF
di Indonesia masih sangat besar. Artinya potensi ZISWAF di Indonesia masih
sangat besar. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi OPZ untuk terus
berupaya memberikan edukasi masyarakat mengenai kesadaran menunaikan
ZISWAF dan juga menyalurkan dana ZISWAF untuk program-program yang
mendorong kemandirian masyarakat.
Kehadiran Islamic Philanthropy menawarkan solusi dari berbagai
permasalahan yang melanda negeri ini. sebab, pemerintah akan kesulitan
untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Namun bukan berarti
peran dari Islamic Philanthropy menjadi saingan pemerintah dalam
mengentaskan persoalan bangsa. Melainkan sebagai mitra pemerintah dalam
melayani seluruh masyarakat dalam rangka menciptakan keadilan dan
kesejahteraan sosial.

11 Irfan Syauqi Beik, Analisis Peran Zakat dalam Mengurangi


Kemiskinan: Studi Kasus Dompet Dhuafa Republika,Jurnal Pemikiran
dan Gagasan, Vol II ,(2009).

12 Muhammad Sanusi, The Power of Sedekah, (Yogyakarta: Pustaka


Insan Madani, 2009), 12.

13 M. Irfan el-Firdausy, Dahsyatnya Sedekah Meraih Berkah dari


Sedekah, (Yogyakarta: Cemerlang Publishing, 2009), 14.

14 Farid Wadjdy dan Mursyid, Wakaf dan Kesejahteraan Umat


(Filantropi Islam yang Hampir Terlupakan), (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2007), 29.

8
Beberapa lembaga Islamic Philanthropy yang ada di Indonesia,
diantaranya yaitu Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, LazizNU, LazizMU,
Dewan Dawah Infaq Club, BSMI, PKPU. Lembaga-lembaga tersebut
bergerak dalam aktifitas kemanusiaan dengan cakupan sektor yang lebih luas,
baik sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan kebencanaan. Akan
tetapi, keberadaan lembaga-lembaga tersebut rasanya belum memberikan
perubahan yang signifikan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang
madani. Pemerintah perlu menggandeng lembaga-lembaga Islamic
Philanthropy untuk berkolaborasi membahas bersama.
Selain kolaborasi dan sinergis untuk perubahan, lembaga-lembaga
Islamic Philanthropy juga harus memiliki indikator yang terukur dalam
menjalankan program-program kemanusiaan. Salah satunya adalah mengenai
Quality of Live (QoL) para penerima manfaat program.15

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah diatas adalah:
1. Filantropi (philanthropy) atau sikap kedermawanan
merupakan tindakan sukarela yang bertujuan untuk
kepentingan umum atau perbaikan kondisi manusia.
2. Secara umum masyarakat madani atau civil society dapat
diartikan sebagai suatu corak kehidupan masyarakat yang
terorganisir, mempunyai sifat kesukarelaan, keswadayaan,
kemandirian namun mempunyai kesadaran hukum yang tinggi.
Masyarakat Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda
dengan negara lainnya. Karakteristik tersebut diantaranya
adalah: Pluralistik atau keberagaman, Sikap saling pengertian
diantara sesama anggota masyarakat, Toleransi yang tinngi
dan, Memiliki sanksi moral
3. Berdasarkan survei dari salah satu televisi swasta nasional
setidaknya terdapat 10 masalah terbesar yang dihadapi

15 Mahfud Achyar, Islamic Philanthropy Sebagai Upaya Mewujudkan


Masyarakat Indonesia yang Madani, Kompasiana.com, diakses 29
Oktober 2016.

9
Indonesia, diantaranya yaitu: Persoalan kestabilan ekonomi,
Korupsi, Kemiskinan, Pengelolaan BBM, Sistem pendidikan,
Pengangguran, Tingginya harga pangan, Bencana alam,
Kelaparan dan krisis pangan, Krisis Kepemimipinan
4. Salah satu upaya yang dapat membantu aspek akselerasi pembangunan
bangsa dari berbagai aspek yaitu peran dari Islamic Philanthropy. Nilai
sosial dalam islam dapat diwujudkan melalui aktifitas Islamic
Philanthropy yang memiliki jangkauan kebermanfaatan yang jauh lebih
luas. Dalam konteks kehidupan manusia modern, filantropi dikategorikan
sebagai sektor ketiga setelah sektor negara (state) dan pasar (market)
5. Bentuk Islamic Philanthropy di Indonesia adalah ZISWAF (Zakat, Infak,
Sedekah, Wakaf). Untuk mewujudkan masyarakat yang
Madani di Indonesia empat instrumen diatas memiliki potensi yang
sangat besar. Yang menjadi tantangan bagi OPZ adalah untuk terus
berupaya memberikan edukasi masyarakat mengenai kesadaran
menunaikan dan juga menyalurkan dana ZISWAF. Islamic Philanthropy
dapat menjadi mitra pemerintah dalam melayani seluruh masyarakat
dalam rangka menciptakan keadilan dan kesejahteraan sosial. Selain
kolaborasi dan sinergis untuk perubahan dari berbagai pihak untuk
menciptakan masyarakat yang madani, lembaga-lembaga Islamic
Philanthropy juga harus memiliki indikator yang terukur dalam
menjalankan program-program kemanusiaan. Salah satunya adalah
mengenai Quality of Live (QoL) para penerima manfaat program

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zaenal. Manifestasi dan Latensi Lembaga Filantropi Islam
dalam Praktik Pemberdayaan Masyarakat: Suatu studi di
Rumah Zakat Kota Malang. Jurnal Studi Masyarakat Islam.
Vol.15 No. (2 Desember 2012).
Achyar, Mahfud. Islamic Philanthropy Sebagai Upaya
Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Madani.
Kompasiana.com (online).
(http://www.kompasiana.com/mahfud.achyar/islamic-
philanthropy-sebagai-upaya-mewujudkan-masyarakat-
indonesia-yang-madani_5583ceebef7e6182048b4567,
diakses 29 Oktober 2016).

10
Beik, Irfan Syauqi. Analisis Peran Zakat dalam Mengurangi
Kemiskinan: Studi Kasus Dompet Dhuafa Republika. Jurnal
Pemikiran dan Gagasan. Vol II .(2009).
El-Firdausy, M. Irfan. Dahsyatnya Sedekah Meraih Berkah dari
Sedekah, (Yogyakarta: Cemerlang Publishing, 2009).
Samsinas. Masyarakat Madani dalam Islam. Jurnal Hunafa, Vol.
3 No. 1 .(Maret 2006).
Sanusi, Muhammad. The Power of Sedekah. (Yogyakarta: Pustaka
Insan Madani, 2009).
Saprin. Pengentasan Kemiskinan Melalui Filantropi (Perspektif
Islam dalam Pemberdayaan Zakat Maal). Jurnal
Pengembangan Masyarakat Islam. Vol. 7 No. 2.(Desember
2015).
Suroto. Konsep Masyarakat Madani di Indonesia dalam Masa
Postmodern (Sebuah Analitis Kritis). Jurnal Pendidikan
Kewarganegaraan. Vol. 5 No. 9.(Mei 2015).
Wadjdy, Farid dan Mursyid. Wakaf dan Kesejahteraan Umat
(Filantropi Islam yang Hampir Terlupakan). (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2007).

11